|
Membongkar Praktek 666 Sumber Kisdi : http://www.kisdi.com/ambon/ambon1.html
6old - 6lory - 6ospel
The Moslem Cleansing di Ambon
Kaum Muslim di Ambon :
Dibantai, Diburu dan DiusirLebih dari 40 orang telah disalatkan sebagai syuhada Islam di Ambon. Selain saudara-saudara kita dibunuh, pemukiman-pemukiman dan pasar-pasar dibakar oleh kaum Kristen. Perang Kristen-Islam benar-benar telah terjadi.
"Penyerang dari desa-desa Kristen berdatangan, lalu mulai terdengar ledakan bom molotov secara sporadis. Pembakaran-pembakaran rumah juga terjadi beberapa tempat. Ini memancing reaksi dari Kampun Ahuru dan Kampung Rinjani Kecamatan Sirimau Kotamadya Ambon untuk menghalau serangan tersebut. Para penyerrang itu berlarian, bersamaan dengan itu orang Muslim dari kampung Ahuru dan Rinjani yang menghalau penyerang itu dihadang oleh beberapa orang aparat keamanan. Aparat keamanan memerintahkan orang Islam itu untuk kembali. Perintah ini dituruti, oleh Imam Masjid al Huda, Husein Toisuta massa Islam ditenangkan. Namun, bersamaan dengan itu menyalak senjata dari polisi-polisi tersebut. Massa pun berlarian." Itulah sepenggal kisah pertempuran kelompok Kristen-Islam di Ambon bulan Januari lalu.
Kisah mirip pembasmian Muslim di Bosnia itu, kini berulang lagi di bulan Juli ini. Situasinya mirip dulu. Yaitu perkampungan, pasar-pasar dan perumahan penduduk dibakar oleh kaum Merah (sebutan kaum Muslim Ambon untuk kelompok Kristen). Kini puluhan korban, bahkan ada yang menyebutkan seratus orang, telah menjadi syuhada. Sumber investigasi DPD Partai Keadilan di Ambon menyebutkan terdapat korban 40 orang syuhada, di luar keluarga yang belum ditemukan.
"Kerusuhan yang kembali membara itu merupakan rencana untuk menghancurkan umat Islam di Maluku,"demikian bunyi siaran pers Gerakan Ukhuwah Islamiyah Maluku (GUIM). Pernyataan kepada pers itu ditandatangani oleh Ketua Umum GUIM, Drs Faisal Salampessy, SH dan Sekjennya Drs. A Wahab Naim Tualeka.
Peristiwa ‘etnic cleansing’ Muslim Ambon, sepertinya dilaksanakan sistematis dan kekejamannya sangat sadis. Salah satu sumber Abadi di Ambon menceritakan : "Kaum Nashara menghancurkan beberapa rumah warga Muslim Latta, dengan biadabnya mereka memperkosa dua orang wanita muslimah Latta. Banyaknya pelaku ini belum teridentifikasi. Setelah muslimah Latta ini diperkosa, 2 muslimah Latta ini dibantai dengan dipotong-potong hingga tewas.
Pembakaran perumahan Muslim di Ambon itu ditulis oleh Posko Keadilan: Kamis (29/7), jam 12.00 WIT warga Kristen Ahuru dibantu oleh warga Kristen Galala menyerang dusun Air Besar dan Kompleks Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Ambon. Pada jam 11.00 WIT Pasukan Islam yang dikirim sebelum peristiwa penyerangan di Air Besar dari Masjid Al Fatah Ambon sebanyak 40 orang memperkuat posisi umat Islam Air Besar. Satu jam berikutnya 40 orang pasukan Muslim dikirim lagi ke Air Besar. Warga Kristen ini berhasil membakar dan merusak beberapa rumah milik umat Islam..
Rekaman kaset-kaset video peristiwa Ambon Januari lalu –yang mirip dengan kejadian saat ini-- dan pengungsiannya, sekarang beredar luas di Jakarta. Di kaset itu terlihat bagaimana puluhan ribu para pengungsi –yang banyak terdiri dari ibu-ibu dan anak-anak, naik kapal berdesak-desakkan meninggalkan Ambon menuju Makasar. Di Makasar, mereka menempati gubuk-gubuk sederhana di lapangan, dengan kondisi kesehatan dan makanan yang buruk. Di kaset video itu, kita juga bisa melihat dan membayangkan kepedihan ribuan pengungsi yang penuh sesak menjejali Masjid Al Fatah, Ambon. Tergambar juga situasi ketika kelompok Islam yang menggunakan kain-kain putih, yang lagi ‘berhadap-hadapan’ dengan kelompok Kristen yang menggunakan atribut kain merah.
Sayangnya pihak PGI (Persekutuan-persekutuan Gereja Indonesia) tidak ‘mengakui’ adanya pengusiran besar-besaran dan pembunuhan kaum Muslimin di Maluku itu. Karena, menurut mereka hal yang sama terjadi juga di pihak Kristen. Tentang pengungsian puluhan ribu Muslim misalnya, beberapa orang PGI mengatakan kepada Abadi bahwa di kalangan Kristen juga terjadi pengungsian. Cuma, kepada Abadi mereka tidak berani mengklaim jumlah pengungsinya.
Meledaknya kembali kerusuhan Ambon, juga diperkirakan akibat ketidakpuasan kelompok Kristen atas hasil dari Pemilu tanggal 9 Juni 1997. "Bahkan ada yang mengatakan kalau di Jawa, PDI Perjuangan menumpahkan darah jempol, disini mereka menumpahkan darah kaum Muslimin dengan membantai kita. Ini dikuatkan dengan kesaksian beberapa anggota Tim Investigasi Posko Keadilan yang menyaksikan para penyerang itu menggunakan simbol-simbol PDI-P," tutur M. Kasuba, Koordinator Posko Keadilan Ambon kepada Abadi.
Peristiwa memilukan minoritas Muslim di Ambon itu, kini memicu kegeraman Muslim di luar Ambon. " Apa yang dilakukan Kristen Ambon sudah diluar batas kesabaran dan kewajaran. Saya memberikan waktu satu minggu kepada aparat. Jika tidak ada penyelesaian yang jelas, tidak ada penegakan hukum, jangan salahkan kami untuk melakukan aksi Jihad di sini untuk memberikan peringatan kepada para pemimpin Kristen,"kata Ustadz Bambang Pribadi, Komandan Mujahidin FKGMI (Forum Komunikasi Generasi Muda Islam), Bekasi.
Bambang juga menyatakan kesiapan Muslim yang tergabung dalam FKGMI untuk berjihad membela hak dan martabat Islam. "Mereka siap untuk membela Islam dan Umat Islam, kalau tidak bisa ke Ambon, mungkin mereka akan melakukan shock therapy kepada pemimpin-pemimpin Kristen di Jakarta ini,"kata Bambang dengan tekanan tinggi. "Mereka, para pendeta itu, semestinya bisa mengatur umatnya,"tegas laki-laki ini.
Komentar yang hampir senada juga disampaikan Askodar SH, Ketua Umum Gerakan Pemuda Islam (GPI). Askodar mengaku telah mengirimkan 50 mujahidnya untuk berjuang di Ambon. Ia mengaku kepada Abadi, dalam waktu dekat ini akan mengirimkan sekitar 100 hingga 200 orang ke Ambon.
Sedangkan Ketua Pelaksana Harian KISDI, Ahmad Sumargono menyatakan bahwa apa yang terjadi di Ambon sudah benar-benar merupakan suatu perang agama. Sumargono meminta kepada pers dan pemerintah agar transparan di dalam memberitakan kejadian Ambon, bahwa telah terjadi perang agama. "Korban dari kaum Muslim di Ambon, sudah diperlakukan sebagai syahid, sebagaimana layaknya pejuang Muslim yang gugur di medan perang,"kata Sumargono kepada Abadi.
Sedangkan Ketua Umum MUI, KH Ali Yafie melihat adanya campur tangan asing dalam peristiwa Ambon itu. Sekretaris Umum MUI Maluku, Sulaiman D Rahman kepada Abadi menyatakan bahwa memang ada oknum-oknum Gereja yang mendukung pihak Kristen Ambon.
Ulama asal Maluku, KH Sulaiman Zachawerus, menyatakan saat ini fardu ain bagi orang yang tinggal di Ambon untuk berjuang membela Islam. "Fardu kifayah bagi Muslim di luar Ambon,"kata Sulaiman kepada Abadi. Perang Ambon, bagi kiyai yang tinggal di pinggiran Jakarta ini, adalah kelanjutan dari Perang Salib. "Ini kelanjutan perang Salib, targetnya menjadikan Ambon Kota Nasrani. Mereka harap Kota Ambon atau Maluku secara umum bebas atau bersih dari orang Islam,"tegas Sulaiman.
Tapi, menurut Sulaiman, ternyata kemenangan mudah yang mereka perkirakan, tidak menjadi kenyataan. Orang Islam melawan dan di beberapa tempat dan mendapatkan kemenangan. *komar/nuim.