|
| INFID Publication Page | |
| Edi Cahyono's Page | |
| Pendahuluan | |
| Bruce Rich: Judul asli: Mortgaging the Earth: The World Bank, Environmental Impoverishment and the Crisis of Development. Penerbit: Beacon Press Boston, Massachusetts, USA Tahun: 1994 Tebal: 376 + ix Edisi Indonesia diterbitkan oleh INFID Cetakan 1, 1999
Untuk Paul John Rich, Jr. dan Doris Miller Rich
| BUKU ini adalah usaha seseorang yang berupaya memahami dunia kita, yaitu sejak sejarah abad ke-20 ditorehkan sampai dengan ujung akhirnya. Buku ini mengedepankan tema Bank Dunia yang telah benar-benar menjadi sebuah institusi global, teristimewa sejak negara-negara blok komunis sekarat. Secara khusus, sejarah Bank Dunia merupakan studi kasus instruktif dalam dimensi kekinian serta dalam asumsi-asumsi filosofis, politis, dan ekonomis, yang kesemuanya itu telah membentuk dunia modern -- serta bagaimana mereka juga menjadi serba salah dalam tindakannya. Dimensi kekinian dan asumsi-asumsi tersebut dapat diringkas dalam satu kata: pembangunan. Sekarang, pembangunan ekonomi telah menjadi prinsip-prinsip pengorganisasian bagi hampir setiap masyarakat dan bangsa di planet kita. Tetapi, tidak beralasan bila kita serta merta mengasumsikan bahwa pembangunan merupakan usaha penaklukan dunia yang dilakukan bangsa Eropa Barat sejak abad ke-19 sampai tiga abad sesudahnya. Max Weber mengamati, transformasi besar tersebut (baca: pembangunan) dipacu oleh dua kecenderungan universal yang sering muncul bersamaan -- dan dalam ketegangan yang tidak sepele satu sama lain -- yaitu birokratisasi dan demokratisasi. Sekarang kita mendapati bahwa pembangunan ekonomi menuntut tanggung jawab ketiga, yaitu sebuah bangunan krisis ekologi dunia. Sebuah frasa yang telah lama didengung-dengungkan lebih dari satu dekade silam ternyata tidak mampu mengatasi krisis perusakan lingkungan global. Frasa itu adalah pembangunan berkelanjutan. Demikianlah, krisis tersebut tidak kunjung tertanggulangi, dan barangkali kita perlu memikirkan ulang tentang masyarakat dan umat manusia yang mana yang benar-benar memerlukan pembangunan, kesinambungan, atau lainnya. Dalam usaha membangun dunia, kita mendapati kenyataan bahwa gagasan-gagasan modernitas ternyata terlalu menuntut pengorbanan dalam setiap relung kultural dan natural planet ini. Asumsi-asumsi dan metode-metode yang diidealkan sama sekali berlainan dengan apa yang dipraktekkan. Institusi universal yang terpusat seperti Bank Dunia tidak bekerja dengan baik, begitu juga negara-bangsa di seluruh bagian di dunia ini. Banyak negara-bangsa, pada saat yang bersamaan, tiba-tiba merasa terlalu besar atau terlalu kecil untuk menyepakati tantangan-tantangan baru, yakni perkembangbiakan persoalan-persoalan lokal sebagai akibat globalisasi. Tidak ada tempat di manapun yang bisa membuktikan krisis lingkungan selain di bumi. Rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga batu bara yang berpolusi di India, atau penjarahan cagar alam di Brazil adalah fenomena-fenomena lokal yang mempunyai dampak luas, sebagaimana tampak pada fenomena pemanasan iklim di bumi (global warming). Untuk itulah, di akhir abad ini dan awal abad yang akan datang dibutuhkan pendekatan berskala internasional yang lebih fleksibel, responsif, dan efektif untuk memecahkan persoalan-persoalan tersebut. Pada saat yang bersamaan, gerakan-gerakan swadaya masyarakat telah tumbuh subur dan berkembang di seluruh dunia, teristimewa di negara-negara sedang berkembang. Buku ini juga merefleksikan beberapa pengalaman saya ketika bersua dengan berbagai kelompok swadaya masyarakat tersebut beberapa dekade silam. Mereka mengedepankan pertanggungjawaban publik dan ekologis di depan institusi keuangan internasional seperti Bank Dunia. Di seluruh dunia, semua organisasi swadaya masyarakat mempertanyakan dampak dari upaya-upaya pembangunan yang merugikan lingkungan dan menimbulkan konsekuensi sosial. Mereka juga mencari pemecahan alternatif dalam skala lokal, nasional, dan internasional. Semua kejadian yang ditimbulkan pembangunan itu merupakan hal yang tak patut dijadikan teladan dalam sejarah. Buku Menggadaikan Bumi berbicara tentang semua isu-isu tentang pembangunan. Bank Dunia merupakan sorotan utama yang akan dibahas. Hal ini bukan karena ia adalah satu-satunya kekuatan modal terbesar di dunia, dan juga bukan karena dampak keberadaannya pada lingkungan global, tapi lebih dari semua itu, ia merupakan cerminan dari berbagai institusi dan nilai-nilai yang kita pakai pada sebuah babakan milenium baru planet bumi yang semakin tidak nyaman ini. Beberapa Patah Kata dalam Metode Buku Menggandaikan Bumi bukanlah analisis yang mendalam dan komprehensif mengenai Bank Dunia. Dalam beberapa hal, buku ini mengemukakan secara lebih luas, tapi juga bisa lebih sempit dalam perspektifnya. Saya telah mencoba mengeksplorasi tema-tema mendasar dalam dinamika institusional Bank Dunia untuk mencari kesinambungan antara evolusi berbagai kebijakan dan pendekatan birokratis di paruh terakhir abad ini. Untuk membuka tema, buku Menggadaikan Bumi menjelaskan keterkaitan antara Bank Dunia dan persoalan lingkungan. Pengantar ini benar-benar bisa membawa kita menuju jantung hati institusi yang paling penting di abad ke-20 ini. Selain itu, kita juga dibawa pada asumsi-asumsi yang menyertai budaya politik dan ekonomi yang mendominasi planet kita. Saya percaya bahwa saat ini seluruh aktivitas organisasi swadaya masyarakat di seluruh dunia terkonsentrasi pada persoalan lingkungan, baik secara personal maupun tidak, yang terlibat dalam pembangunan internasional. Kegagalan lingkungan atau kesuksesan mengembangkan publik adalah pertanyaan awal yang perlu dilontarkan dengan hati-hati, yakni apakah semua itu benar-benar berfaedah bagi para penyokong pajak (baca: masyarakat)? Dalam beberapa hal, akan terlihat perbedaan tajam antara karakterisasi yang saya berikan dan pandangan-pandangan lain mengenai Bank Dunia. Pasti banyak yang akan berargumentasi bahwa persoalan kebijakan lingkungan adalah tema usang dan telah menjadi isu kuno, sementara kita tengah dihadapkan pada persoalan lain yang mendesak untuk diselesaikan. Sesungguhnya saya sepakat dengan mereka. Dan saya menambahkan bahwa norma-norma birokrasi internasional perlu diubah. Sebagai tambahan, saya perlu menegaskan bahwa isu-isu tersebut tetap penting, dan memang menjadi persoalan kita bersama. Kita barangkali mendapatkan kesulitan bila mencoba mengevaluasi Bank Dunia pada landasan proses tindakannya ketimbang landasan substansinya. Adalah terlalu mudah bagi kita untuk menyalahkan produk yang dihasilkan perubahan-perubahan internal birokrasi (dan juga kesalahan kebijakan untuk memproduksi sesuatu itu). Kita juga terlalu gampang menerima apa saja yang dikatakan institusi-institusi yang terkait ketika mereka berkata bahwa hanya merekalah lembaga yang layak menjadi pengganti kedudukan LSM dalam mengevaluasi dampak keberadaan bank-bank lainnya terhadap dunia. Sebagai contoh, kita akan melakukan kesalahan bila hanya mengukur kualitas perusahaan mobil dari klaim-klaimnya tentang restrukturisasi jajaran kepegawaian, penyediaan staf-staf baru, membuat kebijakan-kebijakan baru bagi perusahaan, dan yang selalu mengiklankan bahwa kualitas adalah prioritas nomor satu perusahaan itu. Tapi, yang perlu kita lakukan adalah menanyai orang-orang yang membeli langsung produk perusahaan mobil tersebut, atau menanyai orang-orang yang terlibat dalam perusahaan itu, khususnya yang bekerja di bagian garasi, bengkel perbaikan, dan lain-lain. Kita tidak bisa seperti seorang pengunjung pameran mobil yang mau saja berlama-lama berputar-putar di showroom sambil disodori aneka macam brosur tentang model dan desain mobil terbaru oleh para petinggi perusahaan. Mirip perusahaan, Bank Dunia adalah produser sebuah produk yang disebut dengan pembangunan, yaitu proyek-proyek yang sudah dibuat dalam berbagai macam bentuk paket. Jalan terbaik yang perlu dilakukan adalah mendengar langsung dari orang-orang yang terlibat, yaitu komunitas atau organisasi-organisasi swadaya masyarakat yang terkena langsung dampak kebijakan Bank Dunia itu. Dalam konteks perusahaan mobil, kita sebaiknya mendengar langsung dari pegawai-pegawai "kasar" yang bekerja di bagian garasi atau di bengkel-bengkelnya. Hal itulah yang menjadi pertimbangan utama buku ini dalam melakukan pendekatan. Dalam kasus Bank Dunia, produk yang tidak berkualitas tidak akan muncul ke permukaan (bottom line). Walaupun pemerintah menjamin keuangannya, Bank Dunia tidak memiliki "garis permukaan" itu. Artinya, apapun yang dibuat pemerintah, Bank Dunia tetap merupakan institusi yang berbahaya, karena "garis permukaan" untuk mengukur kualitas produknya tidak kentara. Lagipula, misalnya satu persoalan terselesaikan, lahir seribu lainnya yang terus bermunculan. Suara-suara independen justru datang dari mereka yang mengalami langsung dampak aktivitas Bank Dunia. Bank Dunia selalu saja membuat informasi sepihak, di mana yang ditonjolkan hanya yang baik-baik saja, dan yang buruk disembunyikan. Kebanyakan, dampak negatif yang serius pada persoalan sosial dan lingkungan tidak dipublikasikan, karena hal itu terjadi di daerah-daerah pedalaman. Orang-orang yang paling sering terkena dampaknya adalah orang-orang miskin, pesakitan, tak mampu bersuara, dan yang tak punya kekuatan apa-apa di tengah masyarakat negaranya sendiri. Sementara itu, untuk bersuara secara independen tentang nasib mereka, sama saja dengan menyongsong mimpi buruk. Cerita mengenai Bank Dunia, saya percaya, analog dengan sebuah cerita yang mengisahkan tentang seorang nelayan pemabuk. Suatu saat, dia kehilangan dompet. "Menurutmu, di mana kamu kehilangan dompet?", tanya seseorang yang kebetulan lewat. "Beberapa mil dari sini," jawab nelayan. Nelayan itu menjelaskan, dia sengaja mencari dompetnya di sini, karena hanya tempat itulah yang diterangi lampu. Bila kita paralelkan dengan kisah tersebut, tampaklah hubungan antara Bank Dunia dan negara-negara anggotanya, di mana mereka hanya memutuskan tempat yang "terang" yang mesti ditangani. Ekspansi kegelapannya jauh lebih ekstensif ketimbang tempat-tempat yang nyata-nyata benderang kemiskinannya. Buku ini tidak hanya membahas lokalitas yang dicengkeram Bank Dunia, tapi juga daerah-daerah yang sering dibiarkan dalam ketidakjelasan. Dua bab pertama buku Menggadaikan Bumi mengantarkan pembaca untuk memahami Bank Dunia serta dampak-dampak kemanusiaan dan ekologis yang ditimbulkannya, juga mengenai protes-protes yang dialamatkan pada proyek-proyeknya. Apakah segala persoalan yang muncul itu merupakan persoalan setempat? Atau bisakah persoalan-persoalan tersebut disisakan bagi pertimbangan-pertimbangan yang lebih fundamental? Untuk mencari sejumlah jawaban, Bab 3 dan 4 akan mencoba menguak kembali sejarah Bank Dunia yang didirikan pada tahun 1944 di Bretton Woods sampai dengan akhir kekuasaan Robert McNamara pada tahun 1981. Bab 5 menjelaskan menjamurnya organisasi-organisasi swadaya masyarakat di tahun 1980-an yang mendesak Bank Dunia agar mereformasi kebijakan yang berdampak buruk terhadap lingkungan. Bab 6 menjelaskan kredibilitas hasil yang dicapai setelah reformasi digalakkan. Bab 7 akan membahas semua isu-isu yang telah dipaparkan pada bab-bab sebelumnya, dan juga menjelaskan kontradiksi tekanan-tekanan terhadap Bank Dunia dari sisi internal dan eksternal yang cukup membuat repot Bank Dunia dalam usahanya menjalankan komitmen dan kebijakan lingkungannya. Dapatkah seseorang sungguh-sungguh memahami sebuah institusi yang berperan sedemikian penting dalam melahirkan nilai-nilai budaya modern seperti Bank Dunia misalnya, bila pandangannya terbatas hanya dalam bank itu saja? Bab 8 menjelaskan secara lebih mendalam kekuatan-kekuatan sosial dan historis yang memungkinkan lahirnya nilai-nilai -- dan krisis-krisis yang ditimbulkan secara langsung -- yang tak terhindarkan, yaitu cita-cita pembangunan modern sejak abad ke-17: sebuah evolusi yang mungkin mendekati tahap akhir ketika kita berada di ambang masa pascamodern. Dengan perspektif yang diperdalam ini, Bab 9 akan mencoba membahas permasalahan-permasalahan yang mendapat perhatian dalam Pertemuan Tingkat Tinggi Bumi di Rio tahun 1992 (The 1992 Rio Earth Summit), dan peran penting Bank Dunia terhadap hasil-hasil pertemuan tersebut. Bab 10 mempertentangkan hasil-hasil di Rio -- manajemen lingkungan global terpusat -- dengan kekuatan-kekuatan penentangnya yang saya sebut dengan istilah "masyarakat sipil global" (global civil society), dan memberikan alternatif dan reformasi yang paling mungkin. Namun, Bank Dunia tidak dapat diubah tanpa tekanan publik yang lebih besar terhadap pemerintahnya untuk secara mendasar menemukan institusi baru atau menghentikan pendanaanya. Saya berharap, bahwa setelah membaca buku ini pembaca akan segera melakukan tekanan-tekanan politik melalui wakil-wakilnya di lembaga perwakilan dan pejabat-pejabat eksekutif pemerintah. Lebih dari satu dekade silam, seorang pejabat dari Program Lingkungan PBB (United Nation Environmental Programs-UNEP) mempertanyakan praktek-praktek pemberian dana dari Bank Dunia (dan institusi sejenis) yang merugikan lingkungan secara biologis. Setelah hampir 50 tahun praktek pemberian dana semacam itu berlangsung, Bank Dunia telah menggadaikan bumi. Semua itu harus kita bayar di masa-masa yang akan datang. Ucapan Terima Kasih Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada penerbit Beacon Press beserta seluruh stafnya yang dengan antusias sangat mendukung proyek ini sejak awal. Semua itu merupakan dukungan moral yang sangat besar bagi saya. Saya banyak berhutang budi kepada editor saya, Deanne Urmy, yang dengan saran-sarannya yang cermat banyak membantu menyempurnakan rancangan naskah asli. Terima kasih saya juga diberikan pada sikap profesionalisme, sensitivitas kebahasaan, serta obsesi-obsesi yang berhubungan dengan kualitas copy editor saya, Chris Kochansky. Pada Meredeth Bernstein yang telah mendukung saya dengan sangat antusias untuk menulis buku ini, saya mengucapkan banyak terima kasih. Dan kepada Dan Guttman, yang setelah mendengarkan percakapan saya tentang buku yang akan saya tulis, mendesak saya untuk membeli komputer laptop yang saya pergunakan untuk menulis, dan memungkinkan saya berhubungan dengan Meredeth. Secara intelektual, saya berhutang pemikiran kepada Marshall Berman yang banyak memberikan penjelasan mengenai modernitas dalam bukunya yang berjudul All That Is Solid Melt Into Air, yang banyak memberi inspirasi pada karya saya serta diskusi historis mengenai pembangunan (historical discussion of development). Kadang-kadang dalam mencari suatu gagasan, tak dinyana muncul berbagai macam keterangan yang secara kritis mempengaruhi evolusi pembuatan buku ini. Setelah saya banyak terlibat dalam percakapan dengan Gustavo Lins Ribero dari Fakultas Antropologi Universitas Brasilia, saya didesak untuk membaca karya Berman dan sumber-sumber lain yang tidak sedikit. Secara khusus, saya berterima kasih kepada sahabat-sahabat yang telah menghabiskan banyak waktu untuk membaca manuskrip ini secara keseluruhan maupun sebagian. Mereka adalah Luiz Fernando Allegreti, Pat Aufderheide, Don Babai, Chip Barber, David Barker, Anne Bichsel, Scott Hajost, Kevin Healy, Korrina Horta, Mimi Kleiner, Howard Kreps, Juliet Majot, Ray Mikesell, Patty Petesch, Paul Rich, Ann Danaiya Usher, Peter Van Tuijl, Ken Walsh. Masukan-masukan kritis mereka telah membuat buku ini menjadi jauh lebih sempurna dari aslinya. Terima kasih yang tak terhingga saya berikan kepada anggota-anggota staf Bank Dunia yang telah memberikan ulasan terhadap manuskrip saya. Para staf yang bersama-sama bekerja dalam beberapa divisi Bank Dunia itu mempunyai pengalaman sangat banyak, bahkan melebihi pengalaman kumulatif operasi Bank Dunia selama satu abad. Bantuan mereka sangatlah berharga. Bantuan dan saran-saran orang-orang yang sebut tadi sangat berarti bagi saya. Namun, secara pribadi sayalah yang bertanggung jawab terhadap isi buku ini serta kesalahan-kesalahan yang ada di dalamnya. Saya banyak berterima kasih pada The Environmental Defense Fund (EDF), sebuah lembaga yang telah mengizinkan saya bekerja di sana dan memberi kesempatan bagi saya untuk melakukan penelitian dan menyelesaikan proyek ini. EDF merupakan lembaga yang sangat kreatif, serta mempunyai toleransi dan fleksibiltas yang sulit dicari di lembaga lain. Saya ingin menegaskan bahwa opini dan pandangan yang tercermin dalam buku Menggadaikan Bumi adalah pendapat saya pribadi, dan sama sekali tidak mewakili EDF, staf-staf, keanggotaan nasional, pendukung-pendukung, dan dewan direkturnya. EDF adalah organisasi yang bersifat majemuk, dan di antara individu-individu di dalamnya kita dapat menemukan beragam pandangan terhadap bermacam-macam persoalan, termasuk persoalan yang ada dalam buku ini. Washington DC, Juni 1993
|
| | Top | Analisis Sejarah Indonesia Page | Anti-Imperialisme Page | Inside Factory | Snapshots | Essays | Selected-Works Page | Library | Art of Liberation | Histomat Page | Child in Time | 1965 Coup in Indonesia | Tempo-Doeloe Page | | |