|
9
SIAPA YANG AKAN MENGATUR DUNIA -- DAN BAGAIMANA?
Dalam musim semi 1992, hanya enam bulan sesudah pertemuan Bank Dunia/IMF di Bangkok, pemerintah negara berkembang lainnya segera bergegas menyelesaikan persiapan-persiapan bagi konferensi internasional besar. "KTT Bumi" di Rio Janeiro yang merupakan pertemuan diplomatik terluas dalam sejarah. Tiga puluh ribu orang hadir pada puncak acara, yang secara resmi dikenal dengan "Konferensi PBB untuk Lingkungan dan Pembangunan (United Nations Conference on Enviroment and Development, UNCED), di bulan Juni. Sembilan ribu wartawan dan 118 kepala pemerintahan mengalir ke Rio untuk acara ekologi global itu. Sekali lagi, biaya yang dikeluarkan tak terbatas. Pemerintah Brasil menghabiskan 33 juta dolar Amerika untuk memperbaharui ruang pertemuan yang besar, Rio-Centro, tempat pertemuan resmi diselenggarakan.
1 Pemerintah Brasil juga membangun jalan raya khusus sepanjang tujuh kilometer untuk memuluskan perjalanan para kepala negara dari bandara udara ke hotel-hotel mewah mereka. Peraturan-peraturan lingkungan hidup Brasil, yang mensyaratkan analisa dampak lingkungan, dilewati saja guna mengejar target waktu pembangunan jalan itu.2Dalam usaha mengurangi resiko tindak kejahatan dari ratusan-ribuan penghuni rumah kumuh kota Brasil, ribuan tentara disiagakan selama dua minggu KTT Bumi, menjaga setiap jalan masuk hotel, jembatan dan sudut jalan dalam bagian-bagian kota yang ramai dan makmur, tempat para delegasi berkumpul. Pada tanggal 11 dan 12 Juni, 1992, ketika kebanyakan kepala negara berada di kota, radius lima kilometer dari jalan kota dinyatakan terlarang dimasuki bagi semua orang kecuali yang VIP. Baru saja di Bangkok tahun 1991, seluruh pejabat pemerintah tersebut diberi dua hari libur khusus untuk mengurangi keramaian lalu lintas. Pada sebuah catatan yang lebih sinis, wartawan-wartawan melaporkan bahwa sepasukan polisi khusus meningkatkan pembunuhan sistematik terhadap anak-anak jalanan dan tunawismaa) (yang dianggap sebagai sumber banyak tindakan kejahatan ringan) dalam minggu-minggu sebelum acara puncak, sebagai bagian dari gerakan pembersihan untuk mempersembahkan wajah Rio terbaik pada para politisi dan aktivis lingkungan dari seluruh planet bumi ini.
3UNCED diselenggarakan pada peringatan ke-20 dari Konferensi Stockholm PBB untuk Lingkungan Hidup (United Nations Stockholm Conference on Human Enviroment), pertemuan internasional pertama yang membahas masalah-masalah lingkungan global. Terlepas dari pemusatan opini publik internasional tentang lingkungan global, Konferensi Stockholm menghasilkan pendirian Program Lingkungan PBB (United Nations Enviroment Program, UNEP) dan mempercepat perundingan-perundingan sejumlah konvensi internasional untuk melindungi lingkungan laut. Tetapi pada Konferensi Stockholm, negara-negara berkembang, yang dipimpin oleh PBB, menjamin bahwa UNEP tidak akan diberi mandat atau dana untuk menyelesaikan begitu banyak program-programnya sendiri. Beroperasi dari markas besarnya di Nairobi, Kenya, peran utamanya adalah untuk membujuk dan "mengkatalisasikan" badan-badan yang bergabung dengan PBB lainnya termasuk Bank Dunia dan negara-negara di dunia untuk melakukan komitmen-komitmen dan tindakan-tindakan lingkungan. Sampai pada 1990, anggarannya tidak pernah berjumlah lebih banyak dari 40 juta setahun, satu jumlah yang lebih kecil dibanding biaya dari kebanyakan proyek-proyek individual Bank Dunia.
Dua puluh tahun dari kemerosotan lingkungan yang luas dan terus-menerus dan peningkatan kekhawatiran publik banyak memunculkan taruhan-taruhan. Perubahan iklim, penipisan lapisan ozon bumi dan ledakan biologis yang diikuti oleh penggundulan hutan tropis telah menjadi masalah-masalah global yang tidak dapat diprediksikan. Sejak 1988, dalam sebuah pertemuan internasional, Montreal Protocol, telah diputuskan untuk menghapuskan secara bertahap emisi-emisi yang meluas dari CFC (chlorofluorocarbons), bahan kimia yang merusak lapisan ozon. Diharapkan bahwa pokok utama pembahasan pada KTT Bumi adalah penandatanganan tiga konvensi baru. Pertama, perjanjian iklim global untuk mengurangi emisi-emisi (gas-gas berbahaya/sisa) dari karbon dioksida, methana dan gas-gas lain yang menimbulkan pemanasan global. Kedua, perjanjian untuk melindungi keanekaragaman hayati melalui komi tmen-komitmen untuk melindungi habitat-habitat dan species-species yang terancam. Dan ketiga, sebuah konvensi untuk melindungi hutan-hutan dunia. Brasil setuju menjadi tuan rumah pertemuan puncak lingkungan global itu sebagai prakarsa diplomatik untuk membersihkan kesan kepada dunia internasional terhadap masalah lingkungannya yang sudah ternoda, yang masih terasa akibat dari pembunuhan terhadap Chico Mendes, dan dekade percepatan penggundulan hutan Amazon.
Tetapi ada hal lainnya dari penandatanganan perjanjian-perjanjian lingkungan baru yang dipertaruhkan pada KTT Bumi. Yaitu, negara-negara berkembang menuntut beramai-ramai uang dari Utara tidak seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Setelah tiga puluh tahun bantuan-bantuan pembangunan internasional yang berskala besar, jurang pemisah antara negara kaya dan negara miskin makin berlipat: pada tahun 1960, 20 persen dari populasi dunia tinggal di negara-negara termiskin, dan hanya mempunyai pendapatan sebanyak sepertigapuluh dari 20 persen mereka-mereka yang tergolong paling kaya di dunia. Sedangkan di tahun 1990, 20 persen yang termiskin di dunia mempunyai pemasukan seperenampuluh dari mereka yang 20 persen terkaya di dunia.
4 Bagi banyak negara, tahun 1980-an menjadi semacam dekade yang hilang dalam pemasukan nasionalnya, dan khususnya pendapatan riil orang-orang miskin, jatuh secara dramatis: di Amerika Latin, upah non-pertanian terendah turun 41 persen pada tahun 1981-1987; di Meksiko, upah pabrik jatuh sampai melebihi 50 persen dalam pengertian yang sebenarnya.5 Indikasi-indikasi dari kesejahteraan sosial seperti gizi dan akses ke dokter sangat rendah di sejumlah negara-negara Afrika dibanding saat mereka masih berada di bawah penjajahan. Bahkan India, salah satu dari 'anak emas’ Bank Dunia selama tiga dekade, memasuki tahun 1990-an dengan krisis besar pada neraca pembayarannya, dan menyerahkan pada program penyesuaian struktural utama yang diformulasikan oleh Bank Dunia dan IMF.Pemerintah-pemerintah Selatan menyatakan bahwa masalah-masalah lingkungan hampir tidak dapat dipisahkan dari kesengsarangan ekonomi dan sosial yang menyerang negara-negara mereka, tempat 90 persen dari penduduku dunia hidup. Dua puluh tahun sebelumnya, di Stockholm, Indira Gandhi telah menyatakan bahwa "kemiskinan adalah pencemar utama," dan ini agaknya sesuatu yang lebih benar dibanding yang biasanya. Tetapi catatan hitam tentang mega proyek yang gagal yang hanya menguntungkan kepentingan-kepentingan tertentu dan elit-elit yang berkuasa (yang secara jitu digambarkan oleh wartawan Brasil sebagai "pharaonic" dalam keinginan dan kegagalan mereka) dan mengenai korupsi yang menyebar ke mana-mana membuat banyak negara Selatan memiliki bermacam-macam masalah kemiskinan sebanyak solusinya. Bantuan luar negeri dari Utara kepada Selatan berjumlah 55 miliar dolar AS pertahun dalam tahun-tahun terakhir; ini kira-kira sama dengan jumlah yang harus dibayarkan oleh negara-negara miskin kepada Utara sebagai bunga maupun utang pokok dari pinjaman-pinjaman yang belum lunas. Meskipun demikian, bagian terbesar dari bantuan ini kembali lagi ke Utara dalam bentuk kontrak-kontrak dan pembelian-pembelian usaha. Di tahun 1992, negara-negara peminjam dana Bank dunia membayar lebih dari 198 juta dolar AS kepada negara-negara kaya, negara-negara berkembang tadi, untuk menutupi kebutuhan pangan dan jasa meminjam kepada IDA dan IBRD, yang mereka sebut sebagai pencairan pinjaman bersih.
b) Maka hal ini dapat disebut, dengan tidak bermaksud sembrono dan sinis, bahwa si miskin dalam negara berkembang dapat lebih baik jika semua bantuan luar-negeri dihapuskan dan utang-utang luar-negeri Selatan dihapuskan.Sekarang, setidak-tidaknya, pemerintah negara-negara berkembang mempunyai sedikit posisi tawar: tanpa kerja sama mereka, maka tak akan ada di sana "tawar-menawar global" untuk mengurangi emisi karbon dioksida atau perlindungan terhadap keanekaragaman hayati dan hutan-hutan dunia. Harga dari kerjasama itu adalah berupa uang –berjumlah amat banyak— yang tidak hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi pembangunan, "pembangunan yang berkelanjutan," tentu saja.
Dalam tanggapan terhadap perhatian ini, para diplomat telah mengusulkan sebuah rencana bagi UNCED yang bermaksud mengemukakan prinsip-prinsip dan program-program yang dibutuhkan untuk membangun, pembangunan berkelanjutan, di seluruh planet bumi ini-- Agenda 21, demikian ia disebut, karena ia direncanakan akan menjadi agenda global sejak pemulaan abad keduapuluh satu. Rancangan setebal 800 halaman yang dikirim ke Rio bagi negoisasi akhir, penuh dengan nasehat yang muluk-muluk yang akan menjadi sulit untuk tidak disetujui dan bahkan lebih sulit lagi untuk melaksanakannya. Yang ditekankan Agenda 21, bagaimanapun juga, adalah agenda yang berat: Agenda 21 menyebutkan negara-negara industri supaya mendukung penanaman modal yang besar di negara-negara berkembang dalam berbagai proyek lingkungan dalam pengertian yang luas, termasuk kesehatan, sanitasi, konservasi, pendidikan, bantuan teknik dan lain-lain. Anggarannya: 600 miliar dolar AS per tahun, dan dari Utara diharapkan akan mensuplai 125 miliar dolar AS per tahun. Negara-negara industri harus memberi dua kali lipat lebih banyak dari bantuan pembangunannya, sementara negara-negara Selatan bagaimanapun juga akan menerima sejumlah 475 miliar dolar AS sisanya tersebut per tahun dalam bentuk dana penyesuaian. Banyak yang menanggap Agenda 21 sebagai sebuah program untuk menyelamatkan planet ini. Sementara yang lainnya, setelah melihat rencana-rencana aksi PBB yang menyala-nyala lalu habis seperti kerdip sinar bintang, melihat Agenda 21 sekadar sebagai permainan kata yang sinis dan unik, walaupun dengan standar kerja PBB, menuntut kesadaran penuh dari hampir semua pemerintahan nasional yang terlibat, karena mereka akan kesulitan dan nyaris tidak mampu melaksanakan komitmen tersebut.
Sebagaimana dibuktikan oleh sidang-sidang persiapan bagi UNCED, terlihat bahwa kebanyakan uang yang mengalir keluar untuk KTT Bumi diatur oleh Bank Dunia, dengan mengesampingkan keberatan-keberatan dari Selatan, karena Bank Dunia dikontrol oleh negara-negara industri yang menjadi donaturnya. Dan Bank Dunia telah mempersiapkan: dalam tempo kurang dari setahun sejak pendirian GEF telah mengucurkan ratusan juta dolar bagi proyek-proyek lingkungan global, yang oleh pihak menejemen Bank Dunia dinyatakan sebagai suatu kesuksesan dan meyakinkan bahwa modalnya akan berlipat tiga atau empat. Memang, pada pertemuan persiapan yang terakhir dari UNCED, pada April 1992, Maurice Strong, sekretaris jendral konferensi itu yang berasal dari Kanada, tidak hanya menyebut penambahan tiga miliar dolar untuk GEF, tetapi juga mendesak negara-negara industri untuk menambah pula bonus lima miliar dolar yang dilekatkan pada fasilitas pinjaman yang berbunga rendah dari Bank Dunia, yakni fasilitas IDA. Strong menamakan penambahan 5 miliar yang diusulkan itu sebagai "bonus untuk bumi" (earth increment) untuk ditambahkan pada 18 miliar yang tengah diajukan kepada Bank Dunia, karena ia dapat dipakai untuk mendanai item-item pada daftar panjang Agenda 21.
6Sebagaimana Bank Dunia sanggup bertanggung jawab atas hasil-hasil KTT Bumi dan akibat buruknya, tiga peristiwa --bocornya memo internal dari kepala bagian ekonomi Bank Dunia, isi laporan komisi independen untuk bendungan Sardar Sarovar Sungai Narmada di India, dan selesainya studi internal tingkat tinggi mengenai kualitas proyek-proyek Bank Dunia yang memburuk-- memunculkan pertanyaan-pertanyaan serius mengenai integritas dan kompetensi Bank Dunia untuk mengatur pembiayaan proyek-proyek untuk tujuan-tujuan lingkungan. Cukup kuat, meskipun Presiden Bank Dunia dan Dewan Eksekutif dinilai dari setiap peristiwa, tiga kecelakan itu sebagai bukti, meskipun terlihat dalam wlayah yang terpisah-pisah dan berbeda-beda, seolah-olah hal-hal tersebut terjadi dalam tiga institusi yang berbeda sementara yang keempat pergi ke Rio untuk meminta duit lebih banyak lagi.
"Sederhananya Memang Masuk Akal, Tetapi Jelas Lebih dari Gila"
|
Adalah hampir suatu kejutan yang menyenangkan bagi saya untuk membaca laporan-laporan dalam makalah-makalah kita dan kemudian menerima (sebuah) salinan dari memorandum yang mendukung ekspor polutan ke negara-negara Dunia Ketiga lengkap dengan argumen-argumen yang Anda berikan untuk membenarkannya. Pemikiran Anda adalah benar-benar logis tetapi secara total (keseluruhannya) sakit jiwa. Itu menekankan apa yang saya baru saja tulis dalam sebuah bab mengenai kemustahilan banyak hal yang sedang berlaku dalam "pemikiran ekonomi" sekarang ini, sebagai bagian dari sebuah buku yang akan dipresentasikan pada Konferensi Rio-92. Pemikiran Anda akan dikutip secara penuh... sebagai sebuah contoh kongkrit keterasingan yang tak dapat dipercayai, pemikiran yang merusak, kezaliman sosial, keangkuhan, dan penyepelean terhadap banyak "ekonom" konvensional yang memperhatikan alam dunia tempat kita hidup.7 -- Jose Lutzenberger, surat kepada Lawrence Summers, Febuary 1992. |
Pada awal 1992, Larry Summers -- bintang muda dari jurusan ekonomi Universitas Harvad, penasehat ekonomi pada kampanye kepresidenan Michael Dukakis di tahun 1988, dan sekarang ekonom kepala pada Bank Dunia -- memimpin usaha-usaha Bank Dunia untuk membentuk kerangka kerja secara intelektual dan idiologis terhadap isu-isu lingkungan yang akan dibahas dalam konferensi di Rio. Dia mengepalai penulisan World Development Report, sebuah terbitan tahunan yang prestisius dan dibaca secara luas. Tema untuk tahun 1992 adalah "Pembangunan dan Lingkungan", dan Summers bersama para ekonom Bank Dunia beserta para penulis lainnya bekerja keras menyelesaikan laporan, sehingga laporan itu bisa disebarkan ke seluruh dunia beberapa minggu sebelum KTT Bumi. (Laporan itu merupakan usaha untuk membuktikan bahwa produksi ekonomi dunia dapat meningkat tiga setengah kali lipat dalam waktu kurang dari 40 tahun tanpa terjadi kerusakan lingkungan).
8Tidak ada yang meragukan bahwa Summers adalah seorang ekonom cemerlang, calon penerima Hadiah Nobel menurut beberapa koleganya. Sayangnya, ketajaman pemikirannya menjadi hilang karena tenggelam dalam penulisan dokumen yang birokratis seperti The World Development Report. Kendati begitu, kita dapat melihat sebuah analisa instrumental yang teliti dan jujur tentang pasar dan lingkungan tanggal 12 Desamber 1991 pada memorandum yang dibuat oleh Summers. Memorandum, yang, sempat dibocorkan dan difaksimilkan ke berbagai negara oleh Greenpeace yang berkantor di Washington, D.C. Segera ekonom kepala Bank Dunia itu mendapatkan publisitas yang tak tertandingi para pendahulunya, dan publisitas itu didapat berkat penulisannya dalam World Development Report tahun 1992.
Memorandum itu berisikan serangkaian komentar editorial mengenai rancangan laporan lain yang ditulis oleh ekonom-ekonom Bank Dunia (berjudul "Global Economic Prospects"). Di pertengahan memo, pada bagian yang diberi judul "Dirty Industries", Summers menyatakan sungguh ironis bahwa ekonom-ekonom Bank Dunia tidak mengajukan rekomendasi kebijakan yang serius. Dengan pernyataan itu, Summers berusaha mengajak beberapa staf Bank Dunia untuk mencari suatu kebijakan ekonomi yang lebih arif. "Ini hanya antara Anda dan saya," tulisnya di dalam memo, "bukankah Bank Dunia sudah tidak perlu lagi mendukung upaya pemindahan industri-industri yang berpolusi ke negara-negara kurang berkembang?"
Dia menyebutkan tiga alasan. Pertama, ukuran ekonomi konvensional mengenai ongkos-ongkos pencemaran bagi kesehatan publik dihitung berdasarkan pendapatan yang hilang akibat kematian dan penyakit yang menimpa para pencari nafkah. Jelasnya, kehilangan pendapatan dan GNP akibat kematian pada orang Mexiko dan Ethopia adalah sangat rendah dibandingkan dengan kematian seorang pekerja Amerika Serikat atau Swiss. Jadi, "logika ekonomi dibalik kebijakan dumping limbah beracun ke negara-negara berupah rendah adalah tidak tercela dan kita harus berani menanggung risikonya."
9Yang kedua, Summers meneruskan logika yang sama: negara-negara yang tak tercemar secara kelingkungan merupakan tempat yang logis untuk membuang polusi dan sampah karena biaya-biaya sampingan dan tambahan untuk membuang limbah di daerah yang sudah sangat tercemar adalah sangat tinggi. "Saya kira, negara-negara yang berpenduduk jarang di Afrika tergolong daerah yang sangat tidak tercemar, kualitas udaranya mungkin lebih baik dibandingkan dengan Los Angles atau Mexico City," ungkap sang ekonom kepala. Sayangnya, "perdagangan polusi udara dan sampah, meskipun itu meningkatkan kesejahteraan dunia" -- yaitu, memindahkan limbah dari Los Angeles ke Zaire dalam sebuah transaksi pasar "peningkatan kemakmuran" yang klasik -- dihambat oleh hukum fisika. Akhirnya, Summers menyebutkan, "tuntutan adanya suatu lingkungan yang bersih bagi alasan yang estetik dan sehat agaknya mempengaruhi elastisitas pendapatan yang sangat tinggi" -- yaitu, si miskin akan hidup dalam lingkungan yang kotor dan beracun yang mempercepat kematian mereka. ("Perhatian terhadap sebuah zat yang menyebabkan kanker prostat – yang kemungkinannya hanya satu banding satu juta – ternyata lebih banyak dicurahkan di negara yang penduduknya dapat bertahan hidup [lebih lama]").
Ada argumen lain yang membenarkan pembuangan limbah ke negara miskin. Secara implisit Summers menyatakan, udara bersih adalah barang mewah atau sekadar masalah "estetika", yang belum dibutuhkan oleh mereka yang miskin ("sebagian besar perhatian mengenai limbah industri berkutat pada pengaruh-pengaruhnya di masa mendatang... Dan dampak langsung limbah tersebut terhadap kesehatan mungkin sangat sedikit").
10 Pada kenyataannya, orang hanya perlu mengamati data statistik tentang penyakit radang saluran tenggorokan, asma dan pneumonia pada anak-anak di negara miskin yang sangat tercemar seperti Mexico City dan Sao Paulo untuk membuktikan dampak limbah tersebut. Walaupun bagi sebagian pelancong, limbah atmosfir itu tampak "estetik"; namun bagi sebagian besar orang yang mudah terserang penyakit, limbah itu menjadi ancaman terhadap hidup mereka sendiri.Kata-kata Summers di dalam memo itu menjadi headlines di berbagai media massa, dan banyak pula yang dimuat di halaman depan. Begitu pula pada sebuah surat kabar terkemuka Brasil, dan itu merupakan kesialan bagi Bank Dunia mengingat Brasil menjadi negara tuan rumah UNCED. Isi memo tersebut dimuat sepenuhnya di The Economist, dan Financial Times, London, dengan judul yang mencolok "Penyelamatan Planet Bumi menurut Para Ekonom."
11 Bagi Bank Dunia, itu merupakan bencana bidang hubungan masyarakat. Pada saat memo yang bocor itu mengemparkan dunia, Pesiden Lewis Preston terbang melintasi Atlantik untuk kunjungan resmi pertamanya ke Afrika. Sesampainya di Harare, Zimbabwe, di lapangan udara, Preston dihujani pertanyaan mengenai apakah kebijakan lingkungan baru Bank Dunia mempertimbangkan pembuangan limbah beracun ke Afrika. Menteri Lingkungan Hidup Brasil, Jose Lutzenberger, dibuat marah sekali. Suratnya kepada Summers, yang sebagian dikutip di awal subjudul ini, menyebut pandangan Summers sebagai "penghinaan terhadap pemikiran semua orang di seluruh dunia." Jika Bank Dunia tetap mempertahankan Summers sebagai wakil presiden, Lutzenberger mengomel, "itu akan membenarkan apa yang saya sering katakan selaku aktivis lingkungan, beberapa tahun lalu, yang menentang "proyek-proyek pembangunan" Bank Dunia yang merusak lingkungan dan menimbulkan kekacauan sosial. Hal terbaik yang dapat terjadi adalah sebaiknya Bank Dunia menghapuskan proyek-proyek itu."12Tetapi penghinaan moral yang diarahkan secara personal kepada Summers oleh Lutzenberger dan kelompok-kelompok lingkungan seluruh dunia itu, serta kolega-kolega Summers sendiri di Bank Dunia, ternyata tidak berpengaruh apa-apa. Kesalahan besar Summers adalah menulis secara jujur dan teliti implikasi-implikasi dari pemikiran ekonomi neoklasik yang dicampuri dengan berbagai nilai yang tak ada hubungannya. Memang sulit untuk menemukan bukti yang lebih instruktif atau murni mengenai bahaya pemikiran instrumental yang mengerikan berupa "pembingkaian" umat manusia dan alam sebagai "cadangan siap pakai", sebagai bahan mentah untuk peningkatan produksi materi. Ekonom kepala Bank Dunia itu menebarkan ajarannya dan mendidik "murid-murid"-nya di berbagai birokrasi dan pemerintahan di seluruh dunia untuk memeluk pemikiran teknokratis yang membenarkan tindakan mereka.
Namun bagian yang paling mencolok dan menarik dari memo Summers justru terlupakan oleh banyak pengritiknya:
Masalah yang berkaitan dengan alasan menentang usulan pembuangan limbah ke negara-negara kurang berkembang (yaitu adanya hak untuk mendapatkan barang-barang tertentu, pertimbangan moral, kepedulian sosial, ketiadaan pasar yang memadai untuk sampah-sampah itu, dll.) [semua alasan itu] kurang lebih dimanfaatkan untuk menentang setiap proposal liberalisasi (ekonomi) dari Bank Dunia. [Cetak miring bukan dari teks aslinya]
13Ironisnya, Summers bukan hanya berhasil mewujudkan mimpi-mimpinya yang liar dalam memo itu, melainkan juga mampu mengklarifikasi pemikiran mengenai isu-isu lingkungan dan ekonomi internasional. Dia menunjukkan kebutuhan untuk selalu menciptakan ruang politik dan sosial di tingkat lokal, nasional, dan global yang menjadikan nilai-nilai seperti "hak untuk memperoleh barang-barang tertentu, pertimbangan moral, dan kepedulian sosial" sebagai tolok ukur dalam pengambilan keputusan yang mempengaruhi pembangunan umat manusia.
Kenakalan yang Kotor
|
Bank Dunia, dalam keterbatasan kita terhadap rujukan, mengundang rekomendasi-rekomendasi khusus.... Jika data essensial telah tersedia, jika dampak-dampak telah dikenali, jika langkah mendasar telah dilakukan, maka adalah suatu keniscayaan untuk mengetahui rekomendasi-rekomendasi apa yang harus dibuat. Tetapi kita tak dapat meletakkan secara bersama-sama dalam satu daftar rekomendasi-rekomendasi untuk memperbaiki program relokasi dan rehabilitasi atau untuk mengurangi dampak lingkungan, apabila dalam banyak hal tidak ada tolok ukur penerapan atau bahkan kalaupun ada, berada dibawah ambang acuan.14 --Bradford Morse dan Thomas R. Berger, Juni 1992 |
Di akhir Mei 1992, hanya beberapa hari sebelum pembukaan KTT Bumi, kantor cabang Bank Dunia untuk India berada dalam keadaan panik. Hasil penelitian badan pemeriksa independen untuk bendungan Sardar Sarovar tengah dicetak, dengan memuat berita yang seluruhnya jelek. Pemeriksaan yang indipenden, yang dilakukan untuk pertama kalinya oleh orang-orang luar, terhadap proyek Bank Dunia itu mendokumentasikan hal-hal yang terjadi selama hampir satu dekade, berupa penyalahgunaan jabatan oleh birokrasi, penyembunyian informasi yang disengaja dari manajemen Bank Dunia dan Dewan Direktur Eksekutif, ketidakterkaitan yang tajam dan kurang ajar. Wewenang badan pemeriksa independen tersebut diberikan kepada sekelompok ahli dari luar Bank Dunia yang telah diizinkan sepenuhnya untuk mengakses arsip-arsip rahasia dari Bank Dunia --arsip-arsip yang bukan untuk komsumsi publik bahkan Dewan Eksekutif Bank Dunia sendiri.
Pembentukan badan pemeriksa independen merupakan sebuah akibat dari protes dan tekanan internasional pada Bank Dunia untuk menghentikan pembiayaan proyek-proyeknya. Setelah pembicaraan di Kongres AS pada Oktober 1989 mengenai Bendungan Sardar Sarovar, lebih dari selusin anggota Kongres dan senator menulis kepada Bank Dunia guna memintanya untuk memikirkan kembali dukungannya; ratusan anggota parlemen Jepang, Finlandia dan Swedia menunjukkan surat-surat yang senada, sementara Parlemen Eropa membuat resolusi yang mendesak Bank Dunia untuk menarik diri. Barber Conable makin mencurigai staf Bank Dunia untuk India, yang telah memberinya laporan-laporan tentang kemajuan dan harapan mengenai masalah-masalah lingkungan dan pemukiman kembali dalam proyek tersebut. Akhirnya, dalam bulan-bulan terakhir masa jabatannya di tahun 1991, dia bertanya kepada teman lamanya Bradford Morse, yang sekarang menjadi anggota Kongres, staf Sekretaris Jenderal PBB, dan direktur UNDP, untuk melakukan penelitian yang bebas dan berbeda dengan lainnya terhadap aspek-aspek lingkungan dan penempatan kembali dari proyek tersebut. Kantor cabang Bank Dunia untuk India keberatan dengan pemeriksaan itu, tapi sia-sia.
Anggota-anggota badan pemeriksa independen --atau Komisi Morse, begitulah ia diesbut kemudian-- telah digemparkan oleh apa yang mereka temukan. Laporan mereka, disiarkan pada sebuah konferensi pers di Washington pada tanggal 18 Juni, 1992. Laporan itu tidak hanya mengkonfirmasikan dengan sebenar-benarnya semua kritik yang dibuat oleh LSM-LSM India maupun internasional, tapi juga menunjukkan sebuah pola kelalain dan kenakalan kotor pada sebagian staf Bank Dunia dan pemerintah India. Dan pola tersebut adalah yang paling buruk dibandingkan yang pernah dibayangkan oleh siapapun.
Pertama-tama, laporan itu menemukan fakta bahwa bendungan Sardar Sarovar tidak pernah dinilai secara memadai, tidak hanya yang berkenaan dengan persoalan-persoalan lingkungan dan pemukiman kembali, tetapi juga bahkan yang berkaitan dengan ketahanan tekniknya. Komisi Morse menyewa ahli hidrologi sendiri untuk menguji aliran-aliran air yang berasal dari sistem irigasi bendungan dan komponen-komponen pembangkit listriknya; dan disimpulkan bahwa "terdapat alasan yang baik untuk mempercayai bahwa proyek-proyek itu tidak dibuat sebagaimana yang direncanakan."
15 Laporan itu memperkirakan bahwa bendungan berikut kanal-kanal yang menyatu dengannya mungkin akan membuat 240.000 orang kehilangan tempat tinggal, bukan 90.000 atau 100.000 seperti yang tadinya dibayangkan; juga sekitar 100.000 orang yang sudah ditransmigrasikan akibat proyek bendungan Sardar Sarovar, sistem pengkanalan air yang besar dalam daerah jangkauan bendungan itu juga secara paksa akan memindah sebanyak 140.000 orang lainnya --sebuah kenyataan yang tidak pernah dibahas dalam laporan penilaian Bank Dunia mengenai bendungan dan kanal-kanal pecahannya itu. Badan pemeriksa independen menyimpulkan bahwa pemukiman kembali, bagi banyak orang yang terkena dampak proyek merupakan sebuah penyederhanaan kemustahilan."Telah terjadi suatu ketidakpekaan institusional," lanjut laporan itu, "pada Bank Dunia dan pada pemerintah India terhadap persoalan-persoalan lingkungan," "terhadap daftar kelalaian-kelalaian, terhadap tenggat waktu yang tak dipenuhi dan terhadap revisi-revisi yang bukan dari kondisi sebenarnya (ex post facto.)" Semuanya itu disimpulkan oleh Komisi Morse sebagai hal-hal yang berarti "kejahatan kotor".
16 Mengutip sebuah studi dari konsultan Bank Dunia --yang tidak pernah punya peluang untuk mengakses arsip-arsip Bank Dunia-- badan pemeriksa independen itu menyimpulkan bahwa seluruh skema Narmada "nampak telah direncanakan, dirancang, dan dilaksanakan tanpa mencantumkan syarat-syarat perlindungan kesehatan. Konsultan itu menggambarkan berbagai macam bagian dari proyek-proyek itu sebagai "jebakan yang mematikan" dan sebagai "penyebar malaria kepada penduduk desa."17 "Korban-korban telah berjatuhan. Namun laporan-laporan Bank Dunia dengan mudah mengatakan bahwa ukuran-ukuran preventif (bagi kesehatan) yang dituntut oleh persetujuan (pinjaman) formal tujuh tahun yang lalu itu adalah ‘belum saatnya dilakukan’."18Kenyataannya, Bank Dunia dan pemerintah India menjadi begitu ketat dalam menyediakan informasi-informasi dasar yang dibutuhkan untuk mengevaluasi proyek, sehingga Komisi Morse menolak untuk memberikan rekomendasi bagi perbaikan pelaksanaan proyek, sebagaimana yang disetujui oleh Bank Dunia. Di samping itu, hal itu medorong Bank Dunia dan pemerintah India untuk melaksanakan studi-studi penilaian dampak lingkungan dan kemanusiaan yang fundamental yang seharusnya telah lengkap sebelum proyek itu dimulai sepuluh tahun sebelumnya. Badan pemeriksa independen memperingatkan bahwa permusuhan kecil-kecilan dari puluhan ribu orang di Lembah Narmada pada proyek itu membuat kemajuan "semakin... menjadi tak mungkin, kecuali dengan penggunaan cara-cara yang tak dapat diterima."
19Bagaimanapun juga, Komisi itu menunjukkan sebuah birokrasi yang tidak hanya jahat, tetapi juga penuh dengan apa yang hanya dapat dicirikan sebagai korupsi dan ketidakjujuran intelektual. Hal itu menggambarkan bagaimana staf Bank Dunia dan pejabat pemerintah India tertentu dengan sengaja mengabaikan --dan pada berbagai kesempatan antara 1983 dan 1989 mencoba untuk mencegah pengumpulan informasi mengenai-- dampak-dampak pemukiman kembali dari proyek tersebut.
20 Komisi Morse dengan cara yang sama menuduh kantor cabang Bank Dunia untuk India telah menggelapkan dan mendistorsi pengamatan-pengamatan dan kesimpulan-kesimpulan dari para ahli hukum Bank Dunia pada sebuah misi di bulan April 1987. Misi itu bertujuan untuk mengetahui dengan pasti apakah benar sejumlah orang yang dipindah oleh Bendungan Sardar Sarovar adalah masyarakat adat dan karenanya tunduk terhadap kebijakan perlakuan khusus di bawah kebijakan operasional Bank Dunia terhadap masyarakat suku itu. Itu adalah "sebuah contoh yang menyolok", laporan itu mengingatkan, tetapi tampaknya hampir-hampir merupakan sesuatu yang tidak dilihat, "dan bagaimana realita lapangan tidak bersentuhan dengan dan gagal mewarnai manajemen."21Pola pengelolaan informasi yang tertutup masih dilakukan. Bendungan Sardar Sarovar bukan hanya tidak direncanakan dengan teliti, melainkan juga tidak layak sebagai sebuah proyek tunggal yang berdiri sendiri. Daya tahan tekonologi dan ekonominya sangat bergantung pada sebuah bendungan besar yang lain, yaitu Narmada Sagar (yang akan mengatur arus air), serta pada dua bendungan berukuran menengah yang terkait dengan Narmada Sagar, yaitu Omkareshwar dan Maheshwar.
c) Komisi tersebut mengutip isi memo internal Bank Dunia Januari 1992, bahwa tanpa bendungan Narmada Sagar, produksi listrik Sardar Sarovar akan berkurang sampai 25 persen dan wilayah yang tercakup irigasi berkurang sampai 30 persen.22 Untuk alasan yang sama Narmada Water Disputes Tribunal Award pada tahun 1979 --suatu persetujuan resmi yang menyelesaikan sengketa hak menggunakan air bagi tiga negara bagian India di sekitar lokasi bendungan-bendungan itu -- menetapkan bahwa bendungan Narmada Sagar diselesaikan sebelum atau, paling lambat, bersamaan dengan bendungan Sardar Sarovar.23Tetapi pembiayaan proyek Narmada Sagar dapat menjadi semahal atau bahkan lebih mahal daripada proyek Sardar Sarovar, yang menurut Bank Dunia, "salah satu proyek pembangunan sumberdaya air yang paling ambisius."
24 Narmada Sagar juga akan menggusur paksa lebih dari 100.000 orang desa yang miskin, dan menenggelamkan hutan perawan yang luas. Oleh karena itu Bank Dunia menilai Sardar Sarovar sebagai sebuah proyek terpisah yang memiliki kekhasan pola teknologi, ekonomi, dan ekologi. Para direktur eksekutif Bank Dunia, ketika menyetujui pemberian dana pinjaman sebesar 450 juta dolar AS bagi proyek Sardar Sarovar di tahun 1985, tidak menyadari bahwa dengan menyetujui proyek itu berarti di masa mendatang harus juga menyetujui pinjaman untuk paling tidak tiga bendungan lain yang akan memakan biaya miliaran dolar. Selain itu, pembangunan bendungan-bendungan sebelum proyek Narmada Sagar juga bertentangan dengan Narmada Water Disputes Tribunal Award.Pola penipuan ini berlanjut terus sampai tahun 1992, sebagaimana tampak ketika staf kantor cabang Bank Dunia untuk India menyiapkan sebuah proyek Pembangunan Bendungan Sungai Narmada senilai 90 juta dolar AS. Komisi Morse menuduh staf Bank Dunia berbohong untuk mempertahankan proyek Narmada Sagar dengan mengusulkan "sebuah proyek lingkungan yang berdiri sendiri" yang dalam kenyataannya merupakan sebuah rencana untuk secara tersembunyi membiayai program relokasi dan pengurangan dampak lingkungan yang sebenarnya baru bisa dilaksanakan jika Narmada Sagar sudah selesai.
25d)Akhirnya, Komisi Morse menuduh bahwa penyalahgunaan dalam proyek Sardar Sarovar bukanlah kasus terakhir, terutama yang berkenaan dengan tindakan salah-urus terhadap ratusan ribu orang miskin desa yang terpaksa digusur: "Maslah-masalah yang menimpa proyek Sardar Sarovar lebih merupakan kebiasaan, bukan keanehan. Terlebih lagi soal pelaksanaan relokasi yang didukung oleh kantor cabang Bank Dunia di India."
26 Di India sendiri, lebih dari 12 tahun, tepatnya sejak 1978 sampai 1990, Bank Dunia membiayai 32 proyek terpisah yang menggusur lebih dari 600.000 orang miskin.Laporan itu menguatkan tuduhan-tuduhan yang lebih ekstrim dari LSM India:
Proyek Upper Krisna I... selesai pada tahun 1986 dengan korban penggusuran 100.000 orang... Upper Krisna II, sebuah proyek yang menggusur 250,000 orang, tidak pernah dipantau selama pelaksanaannya.... Proyek Irigasi Gujarat Medium II, yang menggusur sekelompok masyarakat adat yang juga menjadi korban penggusuran dari Proyek Sardar Sarovar, disetujui pada tahun 1984 tanpa rencana relokasi khusus, padahal mereka mempunyai catatan tentang kegalan relokasi pada Proyek Irigasi Gujarat Medium I. Pengawasan yang dilakukan kemudian mengungkapkan kegagalan besar dalam merehabilitasi sekitar 90.000 orang yang digusur demi proyek bendungan tersebut.
27Ketika Bank Dunia menyadari kekeliruannya dalam program relokasi di India, "masalah itu sudah menjadi begitu sulit untuk diselesaikan. Berbagai pelanggaran terhadap kesepakatan resmi sering tidak mendapat sanksi, dan kemudian dilupakan begitu saja. Berbagai persyaratan proyek memang dibuat, tetapi ketika debitur gagal memenuhinya, syarat-syarat itu justru dilunakkan atau tenggat waktunya ditunda."
28Mengapa itu bisa terjadi dan terus berlanjut? Komisi Morse menyatakan bahwa pemeriksaannya yang komprehensif terhadap arsip-arsip Bank Dunia dan hasil diskusi-diskusi dengan banyak pejabat pemerintah India, menyimpulkan bahwa "Bank Dunia cenderung mengakomodasi permintaan dari negara peminjamnya ketimbang menerapkan kebijakan-kebijakannya sendiri."
29Pola penyalahgunaan, penipuan dan kesimpangsiuran informasi telah menjadi sebuah dinamika yang melekat, yaitu tetap mengucurkan utang, berapapun besarnya, ke peminjam terbesar Bank Dunia, yang mencapai 15 persen lebih dari total portofolionya.
e) Kenyataannya, dalam rentang beberapa dekade ratusan keputusan birokratis yang menimbulkan kegagalan proyek Narmada Sagar merupakan contoh nyata dari pengabaian moral, yang diciptakan oleh rasionalitas formal dan instrumental dari sebuah organisasi birokrasi modern, sebagaimana telah didiskusikan pada bab sebelumnya. Intinya ialah bahwa dengan setiap tambahan aturan birokratis, pemurnian dan penghalusan kebijakan disahkan (dan lebih keras untuk menantang) dan dengan cepat meluncur jatuh di bawah ambang tanggungjawab etik. Demikian juga, dampak utama dari rangkaian keputusan yang menentukan nasib umat manusia juga menguap bersama hilangnya moralitas.f)Tetapi pada 23 Juni 1992, lima hari setelah siaran laporan Komisi Morse, Bank Dunia dalam sebuah tanggapan resmi mengumumkan kesungguhannya untuk meneruskan dukungan keuangan bagi proyek bendungan Sardar Sarovar. Bank Dunia menyetujui kebanyakan kritik yang ada dalam laporan itu, tetapi tidak setuju dengan rekomendasi utamanya untuk "mengambil langkah balik". Selain itu, manajemen Bank Dunia bersikeras meneruskan pendanaan yang dirangkaikan dengan "pendekatan tambahan" –dengan penambahan syarat-syarat dan tenggat waktu yang diperpanjang-- yang dituduh oleh Komisi Morse sebagai kegagalan yang memalukan. Untuk mendukung isinya, Bank Dunia menyatakan bahwa "sejak tahun 1987, proyek Sardar Sarovar telah menerima lebih banyak penyeliaan Bank Dunia daripada proyek-proyek Bank Dunia lainnya di India." Memang pada akhirnya, "input pengawasan di proyek SSP menjadi 10 kali di atas rata-rata standar Bank Dunia." Meskipun terdapat kesulitan di tingkat penerapan, Bank Dunia menyatakan bahwa lebih baik tetap terlibat dan tidak membatasi pinjamannya untuk negara-negara "dengan track record yang patut dicontoh," karena dalam praktiknya, hal ini secara potensial membuka peluang untuk perubahan yang penting. Sementara keputusan Bank Dunia untuk tidak terlibat dengan maksud bahwa proyek yang digugat tetap dijalankan walaupun di bawah berbagai keadaan-keadaan yang kurang baik.
30Di dalam tubuh Bank Dunia sendiri, beredar desas-desus yang menyatakan bahwa ada alasan lain mengapa manajemen tetap mempertahankan proyek itu. Sebagai nasabah terbesar Bank Dunia, pemerintah India memainkan pertaruhan keuangan yang berbahaya: yang telah mengejutkan karena menjadi beban bagi keseimbangan neraca pembayaran, yang menimbulkan gelombang kritik di dalam negeri karena program penyesuaian yang dirancang Bank Dunia dan IMF sangat tidak merakyat, dan semua itu merupakan ancaman terhadap keberadaan dan fungsi Bank Dunia jika Bank Dunia menghentikan dukungannya pada proyek bendungan Sardar Sarovar.
31"Pertimbangkan Sekali Lagi!"
Di musim semi 1992 --ketika kepala bidang ekonomi Bank Dunia Lawrence Summers, menjadi pejabat pertama Bank Dunia yang dikisahkan dalam majalah People (dalam edisi khusus Hari Bumi, sebagai salah satu dari delapan "musuh bumi"),
32 dan ketika Komisi Morse menyusun laporan akhirnya-- seorang pejabat tinggi Bank Dunia mempersiapkan dakwaan lain terhadap Bank Dunia. Pada bulan Febuari 1992, presiden Bank Dunia Lewis Preston telah meminta penasehat khususnya dan wakil presiden, Willi Wapenhans, untuk menelaah kualitas proyek Bank Dunia, sebuah isu yang menjadi perhatian Preston secara mendalam. Preston dilaporkan telah menyatakan, dia heran ketika mendapati Bank Dunia, sebelum masa kepemimpinannya, telah mengucurkan pinjaman pada proyek yang dengan tingkatan rata-rata.33Apa yang Wapenhans dan tim khususnya, yang disebut Gugus Tugas Manajemen, ditemukan dan diperlihatkan bahwa penemuan-penemuan laporan Komisi Morse hanya merupakan puncak gunung es. Karena dinilai berdasarkan indikator-indikator standar seperti mengaitkan pertumbuhan tingkat ekonomi dengan pemenuhan syarat-syarat pemberian pinjaman, maka kualitas pemberian pinjaman Bank Dunia --mencapai 140 miliar dolar AS yang bertujuan membantu pendanaan proyek-proyek dan program-program yang total biayanya mendekati tiga triliun dolar AS-- tengah memburuk pada tingkat yang mengkhawatirkan.
34 Meskipun demikian, pembusukan telah menjadi "kokoh dan meresap,"35 semakin memburuk setiap tahun selama lebih dari satu dekade, dengan tidak ada tindakan untuk mengubah kecenderungan tersebut oleh manajemen Bank Dunia atau Dewan Direktur Eksekutif."Pertimbangkan sekali lagi!" demikian Wapenhans menyimpulkan pada sebuah presentasi di bulan Juni 1992 di hadapan anggota Dewan Bank Dunia.
36 Pernyataan ini merupakan sebuah statemen yang nyaris tanpa arti. Statistik mengatakan pada dirinya sendiri. Pemeriksaan tahunan terhadap proyek-proyek yang telah selesai yang dipimpin oleh Depatemen Evaluasi Operasi Bank memperlihatkan sebuah kenaikan yang kuat dalam proyek-proyek yang tak memuaskan dari 15 persen di tahun 1981, menjadi 30,5 persen di tahun 1989 dan 37,5 persen di 1991.37 Dalam berbagai sektor, seperti penyedian air dan pertanian, 42 persen dari proyek-proyek yang sedang berlangsung tengah mengalami masalah-masalah yang serius di tahun-tahun terakhir dari penerapannya.38 Ini merupkan berita yang mengkhawatirkan memang, khususnya karena banyak proyek yang Bank Dunia klaim akan menjadi sukses adalah gagal baik dari pengentasan kemiskinan mapun sudut pandang lingkungan.Tetapi ada hal yang lebih buruk lagi. "Pemenuhan persyaratan para peminjam terhadap perjanjian-perjanjian resmi --khususnya yang bersifat keuangan," adalah "sangat rendah."
39 Berdasarkan sebuah studi internal Bank Dunia, Wapenhans menemukan, "hanya 22 persen syarat penjanjian yang dipenuhi."40 Salah satu dari empat wilayah operasi Bank Duniag) "sebuah penelitian terhadap pemenuhan persyaratan perjanjian keuangan dalam hal pembayaran cicilan memperlihatkan hanya 15 persen yang dipenuhi."41Kredibilitas dari proses penilaian Bank Dunia, menurut gugus tugas Wapenhans, "berada di bawah tekanan"
42--pernyataan lain yang meremehkan. Lebih blak-blakan lagi, laporan itu menambahkan, "Banyak staf Bank merasa bahwa penaksiran itu hanyalah muslihat pemasaran untuk mengamankan pemberian pinjaman (dan meraih pengakuan pribadi). Agen-agen pendanaan lainnya merasakan sebuah "budaya persetujuan" sehingga penilaian menjadi pembelaan.43 Gambaran mengenai siklus proyek yang membahayakan dari laporan itu hampir-hampir merupakan karikatur. Setelah staf Bank Dunia memaparkan penilaiannya, kemudian memasuki tahap negoisasi pemberian pinjaman: "Tahap Negosasi dari siklus proyek dilihat oleh banyak peminjam sebagai sebuah metode yang memaksa yang didesain untuk "memperdayakan" filosofi Bank Dunia dan untuk mengesahkan penggunaan metode pendekatan promosional terhadap Penilaian."44 Survei rahasia dari staf Bank Dunia memperlihatkan bahwa tekanan untuk memutarkan uang secepat mungkin dan menemukan sasaran negara-negara pengutang menenggelamkan seluruh pertimbangan yang lainnya: "Hanya 17 persen dari staf yang diwawancarai merasa bahwa kerja analisa yang dilakukan selama persiapan proyek adalah setara dengan pencapaian kualitas proyek". Banyak orang percaya bahwa "penyelesaian proyek tepat pada waktunya lebih disukai daripada kualitas proyek"45Jadi, masalah lingkungan adalah daerah yang paling tidak rapi dan yang paling salah urus dalam operasi Bank Dunia --padahal ia bisa menjadi yang terbaik, dengan jalan diadakannya penelitian yang cermat dari orang luar dan adanya tekanan yang konstan dari lembaga-lembaga advokasi. Laporan Wapenhans mengindikasikan bahwa Bank Dunia terus menghamburkan uang dengan bebas, meskipun ada indikasi-indikasi yang menunjukkan bahwa empat per lima dari syarat pemberian pinjamannya tak berharga sama sekali. Benar-benar masalah yang buruk dalam manajemen keuangan dan penilaian ekonomi.
Tetapi bukankah dengan demikian Bank Dunia menjadi mempunyai reputasi tinggi sebagai institusi keuangan? Bukankah lebih dari 97 persen dari pinjaman-pinjamannya dibayar kembali dengan tepat? Dan bagaimana halnya dengan staf-staf profesionalnya yang berkualifikasi tinggi, termasuk juga para doktor ekonomi-nya yang berasal dari universitas-universitas nomor satu, dibandingkan dengan institusi-institusi lainnya di bumi ini? Menyebut kembali situasi unik Bank Dunia dalam sistem internasional: pinjaman dan kredit Bank Dunia didukung oleh kontribuisi dan garansi langsung para pembayar pajak di negara-negara industri, dan para peminjam adalah negara-negara yang membayar pinjamannya kepada Bank Dunia dengan devisa negara yang digali dari rakyat dan para pembayar pajak mereka. Selain itu, negara-negara pengutang selalu mencoba untuk membayar utangnya kepada Bank Dunia terlebih dahulu, karena akses mereka pada kredit swasta internasioinal bergantung pada ketaatan terhadap kewajiban-kewajiban mereka pada Bank Dunia. Dengan situasi demikian, maka menjadi bukan persoalan apakah proyek-proyek yang didanai oleh Bank Dunia berjalan dan dikelola secara baikatau tidak, atau apakah sebagian atau bahkan semua dari uang tersebut menguap begitu saja (atau tidak). Sejumlah 24 miliar dolar per tahun dari pinjaman dan kredit Bank Dunia dapat dikubur dalam sebuah lubang, atau dibakar, dan pemerintah akan meneruskan untuk membayar kembali dengan tepat dan Bank Dunia akan meneruskan memberikan pinjaman selanjutnya. Kenyataannya, untuk sebagian besar proyek, banyak yang menyatakan bahwa rakyat, ekologi dan ekonomi dari negara-negara peminjam akan menjadi lebih baik jika uang Bank telah dikubur dalam sebuah lubang atau dibakar.
h)Salahkanlah Rio
Lewis Preston hanyalah salah seorang dari selebritis dunia yang hadir di Rio, dan salah seorang yang kurang terkenal. Shirley Maclaine, Dalai Lama, John Denver, Ted Turner, Jane Fonda, George Bush, Fidel Castro, Olivia Newton-John, Bella Abzug dan Al Gore semuanya mengadakan ‘pertunjukannya’ masing-masing --untuk sekedar menyebutkan beberapa nama. Jose Lutzenberger tidak menyambut ramah sebagian tamu-tamunya yang berasal dari seluruh dunia sebagai sekretaris lingkungan Brasil. Lutzenberger mudah mendapat serangan-serangan yang melumpuhkan dari keterusterangan dan kejujurannya yang tidak diplomatis; tiga bulan sebelum pertemuan UNCED dia memberikan pidatonya di PBB di mana dia menyatakan bahwa, negara-negara industri lebih baik tidak memberikan uang lagi bagi negara-negara berkembang untuk tujuan-tujuan lingkungan, karena banyak darinya mungkin akan menguap dikorupsi.
46 Bagi pemerintah Brasil, menyadari bahwa pertemuan itu adalah peluang terakhir untuk mendapatkan lebih banyak utang, maka Lutzenberger, ilmuwan yang lekas marah itu, mendadak dipecat.Preston menghadiri KTT Bumi di hari pertamanya. Karena dia akan menyampaikan pidato yang menurutnya adalah penting. Pidatonya itu merupakan medium penyampai misinya untuk menyakinkan negara-negara kaya supaya mendukung proyek "bonus untuk bumi"-nya IDA dan supaya menambah perlengkapan bagi GEF. Di hadapan utusan-utusan lebih dari seratus negara dia membuat pernyataan yang tegas, yang terus menjadi tradisi Bank Dunia, tentang klaim-klaim lingkungan yang meragukan: "GEF telah mendemonstrasikan kemampuannya.... untuk menerapkan program-program dan proyek-proyek yang dirancang dengan baik dalam sebuah cara yang efektif."
47 Namun tak satupun proyek GEF yang mendekati kesimpulan seperti yang dikatakan Preston itu. (Kondisi terakhir proyek-proyek tersebut sudah ditelaah kembali oleh negara-negara anggotanya hanya empat belas bulan sebelumnya; hanya sedikit saja dari proyek-proyek tersebut yang mempunyai aktivitas-aktiviitas aktual bahkan ada yang hanya baru mulai untuk diimplementasikan, apalagi yang sudah sempurna, atau apalagi yang menjadi sasaran untuk berbagai macam evaluasi independen, sama sekali tidak ada.). Satu-satunya kesuksesan yang pasti dari GEF adalah pengucuran ratusan juta dolar dalam waktu sekejap yang ditujukan kepada proyek-proyek yang menurut para ilmuwan dan LSM --dalam banyak kasus-- dirancang terlalu tergesa-gesa, dan dikerjakan dengan cepat melalui staf Bank Dunia yang berada di bawah tekanan manejemen yang lebih senior. Hanya empat hari setelah pidato Preston, administrator Bank Dunia untuk GEF mengakui dalam sebuah briefing di hadapan LSM-LSM bahwa memang proyek-proyek GEF "belum dapat dievaluasi," karena "GEF memang masih sangat muda."48Amerika Serikat memainkan perannya sebagai perusak di Rio. Meskipun AS memperlemah perjanjian perubahan iklim dan menolak untuk menandatangani perjanjian keanekaragaman hayati,i) namun kebanyakan negara-negara di muka bumi ini menandatangani keduanya. Konvensi perubahan iklim mengatur target-target atau jadwal-jadwal yang secara resmi tak dapat ditawar untuk mengurangi emisi gas CO2 atau gas-gas lain yang menjadi penyebab terjadinya pemanasan global. Sedangkan perjanjian keanekaragaman hayati terlalu samar (negara-negara berjanji pada diri mereka secara umum untuk mengadakan inventarisasi biologi, memapankan daerah-daerah yang dilindungi, dan menerapkan AMDAL untuk proyek-proyek pembangunannya) karena tidak terdapat kreteria yang resmi guna menentukan apakah dipenuhi atau tidak dipenuhinya perjanjian itu. Dua perjanjian itu memberikan dana-dana internasional yang terpisah untuk memberikan ganti rugi kepada negara-negara berkembang atas biaya-biaya pengurangan emisi karbon dioksida dan gas-gas lainnya yang menyebabkan efek rumah kaca, dan untuk menutup biaya-biaya yang pergunakan untuk memulai inventarisasi dan perlindungan kekayaan habitat dalam keanekaragaman hayati.
Dari perspektif Bank Dunia, persetujuan itu merupakan terobosan penting yang memperkuat peran Bank Dunia sebagai manajer keuangan bagi program lingkungan global. Menghadapi keberatan-keberatan dari beberapa negara Selatan seperti Malaysia, GEF dipilih sebagai mekanisme pendanaan sementara bagi kedua konvensi itu. Mekanisme pendanaan "sementara" itu sama sekali tidak memuaskan mereka yang masih skeptis; delegasi Malaysia menganggap bahwa Bank Dunia tak ubahnya seperti sesosok tamu, yang bila sudah masuk ke dalam rumah menjadi sangat sulit ke luar. Debat yang sama mengenai instrumen-instrumen pendanaan terjadi pada diskusi-diskusi terakhir tentang Agenda 21. Sebagai sebuah kelonggaran bagi Selatan, seksi keuangan Agenda 21 mengizinkan sejumlah mekanisme, bilateral dan multilateral, untuk mendanai sederet proyek-proyek "cuci tangan" berskala besar. Tetapi sekali lagi, seluruh dokumen persetujuan itu secara resmi tidak bersifat mengikat. Dan negara-negara yang ingin menyumbang harus mengacu dokumen itu sehingga dananya disalurkan melalui Bank Dunia, yang dapat dikontrol oleh negara itu, setidak-tidaknya dalam teori.
Beberapa hari kemudian, pada tanggal 11 dan 12 Juni, 54 kepala negara terbang dari satu penjuru dunia untuk bersama-sama dengan lebih dari 50 kepala negara lainnya ke Rio, menghadiri sidang paripurna penutupan UNCED. Pesawat-pesawat terbang isitimewa yang membawa pemimpin-peminpin dunia mendarat di bandar udara Rio, satu demi satu, hanya dalam interval beberapa menit. "Rio di bawah Kepungan" tulis berbagai surat kabar di halaman muka, tank-tank militer, kendaraan-kendaraan militer yang bersenjata mesin, dan ribuan tentara berpratoli di kota dalam operasi keamanan yang terbesar dalam sejarah.
49Pengerahan kekuatan militer yang luar biasa besar secara terang-terangan menjadi pemandangan yang menggangu bagi sebuah konferensi dunia yang bertujuan mengantarkan dunia kepada sebuah era baru pengelolaan lingkungan global. Apakah situasi pengepungan itu sesuatu yang asing, ataukah menampakkan dan melambangkan semua pendekatan dari UNCED? Itu merupakan pendekatan yang didasarkan pada konsep negara-bangsa sebagai satu-satunya kawan bicara yang sah dalam tata pergaulan internasional, suatu pendekatan yang berusaha mengatasi krisis lingkungan global melalui proyek-proyek yang dilaksanakan secara top-down, terpusat, dan global dari administrasi dan kontrol yang disetujui antara pemerintah nasional dan organisasi internasional, dengan Bank Dunia sebagai pelopornya.
Banyak orang di UNCED memandang operasi keamanan yang sangat besar bukan saja tidak wajar (menyaksikan tindakan pencegahan yang khas untuk menyambut seorang kepala negara utama itu), melainkan juga terlalu picik sehingga sama sekali tidak bernilai. Tetapi mungkin kita perlu untuk mempertimbangkan kembali apa yang kita telah terima sebagai kelaziman dan kenormalan sehari-hari. Sebuah pengepungan militer yang dilakukan untuk menyelenggarakan pertemuan semacam itu juga dapat dilihat sebagai alasan yang kuat mengenai tingkat kepercayaan dan keterbukaan yang ada di akhir abad ke-20 di antara sebagian besar pemerintah nasional dan birokrasi internasional di dunia ini, dan warga negara planet bumi ini. Jika jawaban terhadap masalah lingkungan global sudah dilaksanakan, dan harus didasarkan, pada partisipasi dan kepercayaan komunitas lokal di seluruh penjuru dunia, maka KTT Bumi akan menemukan lebih banyak pendekatan daripada satu pendekatan sosial politik yang ternyata malah membuat planet ini menjadi kacau.
Akan tetapi kelompok-kelompok warga negara dan LSM-LSM dari berbagai negara telah berusaha mempengaruhi pertemuan-pertemuan pendahuluan untuk membahas KTT Bumi yang diselenggarakan di PBB pada tahun-tahun sebelumnya. Mereka bahkan telah berhasil menyelipkan sejumlah frase yang samar tapi cukup menghibur yang berkaitan dengan organisasi-organisasi non-pemerintah dan masyarakat adat ke dalam Deklarasi Rio dan Agenda 21 yang bersifat tidak mengikat itu. Meskipun demikian, dua isi dokumen ini tergolong kurang bermakna karena ternyata mereka tidak bersepakat sedikitpun untuk melakukan sesuatu. Sebagian besar LSM memilih mengadakan sebuah acara mirip Woodstock yang disebut Forum Dunia (Global Forum), di Flamenggo Park di Rio, sekitar 30 mil dari gedung konferensi, Rio-Centro, sebuah bangunan modern yang dibangun dari semen asbes. Forum Dunia mengungkapkan angka yang fantastis: 5.000 LSM dari seluruh dunia hadir dalam acara itu, dan lebih dari 600 LSM mempunyai stand di halaman Forum Dunia, dan selama dua minggu lebih diadakan sekitar 400 pertemuan dan acara di tempat itu.
50Banyak sekali aksi protes. Yang pertama adalah pada tanggal 9 Juni di muka Rio-Centro. Sekitar 100 aktivis LSM dari berbagai negara menyusun diri mereka dalam bentuk hati manusia di luar pintu masuk utama, sambil membawa plakat-plakat dengan pesan-pesan seperti "Enyahkan Bendungan, Enyahkan Eucalyptus, Hilangkan Relokasi Paksa," "Tak Ada Kebijakan Lingkungan tanpa Demokrasi," dan "LSM dan Rakyat Thailand: Suara dari Kaum yang Tak Punya Hak Suara". Polisi dan militer segera menghalau para demonstran, dan helikopter berputar-putar. Ketika perwakilan LSM Venezuela baru mulai berpidato, "Kita di sini membawa suara yang telah diabaikan di dalam gedung itu!", seorang tentara segera memaksanya untuk berhenti.
51 Hari berikutnya 50.000 orang turun ke jalan-jalan di Rio dalam sebuah demonstrasi yang dikerahkan oleh serikat pekerja Brasil dan didukung oleh gereja Katolik. Mereka menyanyikan slogan-slogan dengan irama samba yang ditujukan kepada pemerintah setempat, Amerika Serikat, dan IMF. Salah satu lagu yang populer menuding ke UNCED: "Apa guna kebijakan ekologis jika rakyat ditekan dan dibantai?"52Wajah jelek UNCED tampak jelas pada hari berikutnya. Seorang wanita Kenya, Wagaki Mwangi, wakil dari organisasi pemuda Kenya, memberikan salah satu dari pidato mewakili beberapa LSM yang diizinkan mengikuti sidang paripurna di Rio-Centro itu. Dia mengritik KTT itu dengan menyatakan, "UNCED telah memperkuat dominasi orang-orang yang sudah sangat berkuasa," dan membeberkan sejumlah isu yang telah diabaikan selama konferensi itu, misalnya tentang komsumsi sumber daya alam yang tidak proposional oleh negara-negara Utara dan perusakan lingkungan yang disebabkan oleh militer. Untuk pertama kalinya selama dua minggu konferensi, mikrofon menjadi mati, penerjemahan pidato dihentikan, dan siaran jaringan televisi khusus yang biasa disimak utusan-utusan di ruangan lain tiba-tiba terputus. Sekitar 10 perwakilan LSM dari berbagai negara berkumpul di areal terbuka yang luas di dalam gedung konferensi dan melakukan aksi protes. Mereka menaikkan spanduk yang bertuliskan "UNCED adalah Pertunjukan Badut". Polisi keamanan PBB, yang diterbangkan dari New York untuk menjaga gedung konferensi, segera turun tangan dan mengusir para demonstran itu ke jalan, menggeledahi surat mandat mereka. Para delegat dan wartawan terbengong-bengong, dan sebuah pintu kaca hancur tatkala polisi keamanan PBB mencoba memaksa menutupnya untuk menghalangi kru televisi yang mencoba mendekat. Para demonstran mencela "semua tidak diperhatikan PBB, mulai dari kebebasan berbicara sampai kebebasan berserikat" pada sidang UNCED; seorang juru bicara wanita untuk PBB menyatakan bahwa "protes dan demonstrasi dilarang di wilayah PBB."
53Kekonyolan UNCED makin tampak ketika waktu bicara untuk setiap pemimpin negara dibatasi hanya lima menit sekadar untuk menyampaikan pidato pokoknya. Pidato-pidato itu menggema silih berganti di ruang sidang yang besar itu, jam demi jam sepanjang dua hari. Berbagai pemimpin dari negara-negara industri -- di antaranya Helmut Kohl dan John Major –menyatakan akan menyumbang tiga atau empat kali lipat untuk GEF, sebagaimana diinginkan Bank Dunia, tetapi "bonus untuk bumi" tidak mendapat dukungan sama sekali. George Bush menyatakan, dirinya "tidak datang ke Rio untuk berapologi", sedangkan Fidel Castro memberikan pidato tersingkat selama hidupnya, yaitu hanya empat setengah menit. Dan tampil dengan jenggot-berubannya yang menyentuh sederet medalinya, diktator Kuba yang suka melawan itu menyampaikan pidato terakhir untuk forum itu yang berapi-api, namun sama sekali tidak membangkitkan semangat apapun (bagi peserta sidang), seperti sisipan film Marx Brothers yang berlalu begitu saja. Selain kostumnya yang tampak angkuh, pidato Castro adalah salah satu pidato yang meledak-ledak: "Utang ekologi memang harus dibayar, tetapi bukan dengan membuat utang luar negeri" dia menyatakan, "kelaparan mungkin dapat dihilangkan, tetapi bukan dengan membunuh manusianya."
54Akibat gaya diplomasi Geroge Bush yang canggung, Amerika Serikat disiarkan oleh press sebagai penjahat KTT Bumi. Kenyataannya, Bush menyumbangkan pelayanan hubungan masyarakat yang besar bagi banyak delegasi negara lain, yaitu mereka yang sama-sama munafik dan sinis terhadap isu-isu yang kurang publikasi dibandingkan dengan isu konvensi iklim dan keanekaragaman hayati. Ketika Malaysia dan India, misalnya, mengritik GEF dan Bank Dunia sebagai "tidak demokratis", mereka mengartikan bahwa GEF dan Bank Dunia lebih menyukai mekanisme pendanaan di negara-negara yang mempunyai satu suara, dan pencairan uang dilakukan dengan persyaratan yang lebih longgar. Karena negara-negara berkembang terkemuka mensyaratkan "demokrasi" dalam tata pergaulan internasional, maka mereka berjuang untuk mempromosikan partisipasi yang besar dan akses memperoleh informasi bagi rakyat mereka sendiri dalam proses pembangunan. Pada musim panas di tahun 1992, direktur eksekutif Bank Dunia untuk India memimpin sebuah kampanye lobi dengan direktur-direktur eksekutif lainnya untuk menjamin agar hasil penilaian lingkungan tidak disiarkan kepada publik. India, didukung oleh negara-negara berkembang lain dan sebagian besar direktur eksekutif Bank Dunia dari negara-negara Eropa yang mewakili negara-negara yang dianggap maju, memukul keras sebagian usulan direktur eksekutif Amerika Serikat yang menghendaki agar hasil penilaian disediakan paling tidak untuk dikonsultasikan secara terbatas kepada kalangan akademisi dan LSM, yang dapat disaring oleh Bank Dunia.
j)Malaysia dan India juga menolak usulan-usulan mengenai sebuah konvensi ketiga yang, diharapkan, akan ditandatangani di Rio, yakni konvensi perlindungan hutan-hutan di bumi. Berkat penolakan mereka, seluruh isi konvensi yang muncul adalah sebuah pernyataan sikap yang tak mengikat dan tidak menyentuh masalah "prinsip-prinsip kehutanan." Dan para negosiator secara resmi menandainya sebagai "non-paper" (tidak termasuk dokumen). Kualitas pertemuan yang berlangsung berjam-jam itu mirip sebuah cerita Negeri Dongeng Alice walaupun dihadiri para diplomat dan ahli internasional dari 150 negara yang merumuskan kata-kata dan menyetujuinya sebagai "ketentuan resmi yang tidak mengikat". Tetapi sampai sekarang, sebagaimana kebanyakan masalah-masalah lainnya, kemunafikan dan ketidakjujuran melanda hampir pada seluruh sisi masalah tersebut.
Negara-negara Selatan dengan tepat menunjukkan bahwa para pendukung usulan konvensi perlindungan hutan dari negara-negara Utara menilai konservasi hutan tropis sebagai "bak pencuci karbon" untuk mengurangi pemanasan global akibat emisi CO2 dari negara mereka sendiri. Mengapa negara-negara berkembang harus berkorban menyediakan lahan-lahan hutannya yang luas untuk membantu mengurangi pemanasan global, padahal penyebab utama rumah kaca, yaitu Amerika Serikat, yang seharusnya bertanggung jawab atas seperempat emisi CO2 dunia, secara arogan menolak mengadakan beberapa kesepakatan untuk mengurangi pencemaran itu? Memang, Brasil menunjukkan bahwa Amerika Serikat turut andil dalam perusakan hutan-hutan di Pasifik Timur Laut, sementara Amerika Serikat berlagak suci mengusulkan konvensi perlindungan hutan. Pada pertemuan paripurna, Emir Kuwait mengumumkan bahwa negara-negara penghasil minyak "tidak akan kehabisan sumber-sumber minyak mereka" karena adanya usaha-usaha untuk menuntut pembangunan yang berkelanjutan di belahan dunia lainnya. Ketidakjujuran terjadi ketika Arab Saudi dan Kuwait bergabung dengan Amerika Serikat untuk menyerukan konvensi perlindungan hutan, tetapi negara-negara penghasil minyak lainnya menentang, sampai pukul 3.00 dini hari di malam terakhir konferensi tersebut, mereka bersidang untuk merumuskan berbagai rujukan bagi masalah energi yang tidak dapat diperbarui dalam Agenda 21.
55 (Dan Mereka kalah.)UNCED, dari awal sampai akhir, sangat bergantung pada uang, dan ketika semua kesepakatan sudah dituangkan (sebuah alasan kuat mengapa segala kesepakatan di Rio kurang dipraktikkan), tampak jelas negara-negara industri sangat sedikit memberi sumbangan, tidak seperti yang diharapkan negara-negara berkembang, dan sebagian besar dana itu disalurkan melalui Bank Dunia. Dana sekitar 125 miliar dolar per tahun yang disebutkan dalam Agenda 21 hanya khayalan. Dalam Agenda 21, negara-negara industri "menegaskan kembali " janji mereka yang dibuat di Stockholm pada tahun 1972 untuk memberikan sumbangan 0,7 persen dari GNP mereka bagi pendanaan luar negeri -- sebuah janji yang telah dicanangkan oleh lima negara, seluruhnya negara-negara Eropa pada 20 tahun lalu. Amerika Serikat merasa bangga menandatangani ketentuan Agenda 21 itu, karena Amerika Serikat merasa tidak pernah membuat janji apapun pada tahun 1972 yang perlu ditegaskan kembali.
Itu bukanlah satu-satunya langkah mundur UNCED. Deklarasi Rio, bagi sebagian besar negara di dunia yang menandatangani kesepakatan UNCED, semula diarahkan untuk menjadi sebuah pernyataan yang berani tentang prinsip dan cita-cita berbagai negara-bangsa di dunia yang peduli terhadap lingkungan dan masa depan dunia. Sayangnya, dalam berbagai aspek pernyataan itu tampak terlalu lemah dan hanya merupakan langkah mundur dari komitmen lingkungan dalam deklarasi Stockholm 1972.
56KTT Bumi disebut oleh majalah baru Jerman yang terkemuka Der Spiegel sebagai "Festival Kemunafikan"
57Yang Macet di UNCED
Prestasi sangat mengagumkan dari UNCED mungkin kesuksesannya dalam menggerakkan agenda resmi internasional mengenai masalah sangat mendasar dari nasib ekologi planet ini. Kependudukan, semula tidak menjadi isu dalam pertemuan-pertemuan resmi, namun karena tekanan dari Vatikan dan negara-negara berkembang, serta Amerika Serikat masalah itu diangkat kembali. Negara miskin dan kaya sama-sama mempunyai kepentingan dalam menyusuri masalah itu, karena ia berkaitan tidak hanya pada konsekuensi pertumbuhan demografi di negara-negara berkembang, tetapi juga dampak besar dari pertumbuhan penduduk di Utara terhadap sumber daya bumi. Setiap warga baru Amerika Serikat memberikan kontribusi pemanasan global enam kali lipat dibandingkan dengan pertambahan penduduk di Meksiko. Seorang Kanada kontribusinya sama dengan 190 orang Indonesia.
58Warisan kerusakan lingkungan dari aktivitas militer di dunia, semula tidak menjadi isu, demikian juga masalah-masalah rumit yang berkaitan dengan dampak lingkungan dari perusahaan transnasional semula hanya sedikit diperhatikan. Meskipun pertimbangan UNCED berkutat pada masalah bantuan luar negeri, namun hanya sedikit membahas dan membuat kebijakan mengenai kebutuhan peningkatan kualitas ekologi dan ekonomi dari bantuan tersebut, yang berjumlah sekitar 55 miliar dolar AS per tahun.k) Puluhan miliar dolar AS untuk negara-negara berkembang menguap setiap tahun karena hambatan perdagangan yang di sebagian negara industri bukan merupakan agenda. Juga tidak ada keinginan untuk memberikan pembebasan utang bagi negara berkembang, meskipun menjelang tahun 1990 mereka sudah mencicil lebih dari 50 miliar dolar AS per tahun kepada kreditor dalam bentuk neraca cicilan utang (net debt-related transfers) (baik bunga maupun cicilan pokok).
Yang terpenting, anggota resmi UNCED mendasarkan pertimbangan mereka, demikianlah yang ada, pada tiga premis yang dikecam keras oleh banyak LSM dan pengkritik--termasuk sekolompok kecil orang dalam Bank Dunia. David Korten, konsultan bepengalaman pada beberapa lembaga donor internasional, mantan tenaga ahli di Ford Fondation, dan pekerja lapangan pada kelompok LSM Philipina. menyimpulkan tiga premis tersebut dengan sangat ringkas: pertumbuhan adalah solusi (atau, tidak ada solusi tanpa pertumbuhan); Integrasi ekonomi global akan menyelesaikan masalah lingkungan global; bantuan dan investasi luar negeri akan membuat segalanya lebih baik.
59Tak perlu dikatakan, tiga premis tersebut merupakan batu landasan dari pandangan Bank Dunia terhadap dunia, yang juga diungkapkan pada KTT Bumi, sebagaimana tampak dalam World Development Report 1992 yang ditulis oleh Larry Summers pada bab "Pembangunan dan Lingkungan." Laporan ini memberikan penjelasan resmi mengenai berbagai masalah itu. Oleh karena itu, penting untuk menguji dengan lebih seksama, khususnya premis pertama, yaitu persyaratan ekologi dalam peningkatan produksi ekonomi global. Karena dampak perdagangan dunia dan bantuan luar negeri sangat bergantung pada bagaimana seseorang menafsirkan dampak-dampak pertumbuhan itu.
Laporan itu mengasumsikan pertumbuhan ekonomi di Utara dan Selatan tetap berlangsung, dan memang cepat, dengan kenaikan GNP dunia 3.5 kali lipat sebelum tahun 2030. Sungguhpun "seandainya pencemaran dan degradasi lingkungan meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi, maka hasilnya hanya menyisakan pencemaran dan kerusakan lingkungan." dan "puluhan juta orang akan sakit dan mati setiap tahun karena perusakan lingkungan." Laporan itu menyatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan "jika kebijakan lingkungan dan pengaturan institusional yang keras dijalankan."
60 Pertumbuhan ekonomi yang meningkat, digabungkan dengan pendekatan pasar akan meperbesar kesulitan baik dalam teknologi dan kebijakan maupun langkah-langkah pemulihan lingkungan. Premis mendasar itu menjadi kecerobohan atau judi yang buta: dengan cukup uang, manusia dapat membeli apapun keperluan mereka di masa depan untuk mengatasi segala masalah yang timbul.Laporan itu meramalkan kemungkinan bahaya dari kenyataan yang ada. Memang benar bahwa negara-negara maju telah mampu menghemat energi dan materi lebih dari 60 tahun lalu, untuk setiap unit produk domistik kotor. Di seluruh dunia terjadi kemerosotan harga pada sebagian besar komoditas pokok, yang menjadi bencana bagi negara-negara berkembang yang sangat tergantung pada ekspor bahan-bahan mentah (yang tidak tampak mempengaruhi strategi Bank Dunia dalam peningkatan produksi komoditi tersebut di banyak negara miskin.)
l) Proyeksi yang dipopulerkan oleh Klab Roma 20 tahun lalu, bahwa akan terjadi kekurangan logam dan minyak yang drastis di tahun 1990-an sangat bertentangan dengan kecenderungan penurunan harga dan peningkatan pasokan. Jadi, laporan itu menyimpulkan, masalah perusakan hutan, sumber-sumber air, dan atmosfir, tidak seperti masalah mineral dan energi. Kekurangan sumber-sumber ini tidak tercermin dalam harga pasar yang akan melepaskan "produk pengganti, kemajuan teknologi, dan perubahan struktur."61Tetapi fenomena utama perusakan lingkungan global-- perusakan lapisan ozon, pemanasan global, dan perusakan keanekaragaman hayati—tidak bersifat linier atau dapat diperbaharui, juga tidak dapat disubsitusi. Sangat mengherankan bahwa di akhir abad ke 20, kompleksitas interaksi ekologi dan fenomena biologi yang menopang kehidupan di bumi dipandang sebagai "bak cuci" untuk menyerap limbah. Juga dipandang sebagai "sumber" kehidupan untuk memenuhi tuntutan ekonomi manusia. Begitu pasar diciptakan dan harga ditentukan, produk pengganti akan di temukan. Inti analisa laporan itu menunjukkan adanya pertaruhan penuh risiko dari perangkat teknologi yang tidak pernah diimpikan akan secara menakjubkan menata dunia. Inilah hembusan nafas terakhir "perluasan" pendekatan Cartesian yang memandang dunia sebagai "cadangan siap pakai" yang homogen dan selalu dapat diubah dengan penerapan metode yang tepat.
Mari kita menengok salah satu sejarah sukses dalam abad ke-20, bagaimana pertumbuhan ekonomi menciptakan permintaan dan pasar, yang menghasilkan inovasi teknologi alternatif yang lebih irit bahan dan modal, dan secara struktural mengubah pola ekonomi industrial di bumi ini. Dalam World Development Report 1992 terlihat jelas bahwa Bank Dunia sangat mengandalkan pola tersebut sebagai paradigma pertumbuhan ekonomi modern. Dan memang, untuk beberapa dekade, kisah ini tampak menjadi model solusi yang saling menguntungkan bagi masalah ekologi dan ekonomi yang meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menaikkan kesejahteraan umat manusia, dan benar-benar mengurangi risiko lingkungan.
Dalam seperempat pertama abad ke-20 mesin pendingin menyebar-luas di Amerika Utara dan Eropa, menggantikan pemakaian es yang tidak efektif. Teknologi pendingin saat itu mengandalkan pada ekspansi cepat dari gas-gas yang ditekan, terutama amoniak, sulfur dioksida, dan metil klorida. Itu adalah teknologi yang boros, karena menggunakan kompressor besar dan bertekanan tinggi. Kecelakaan dan ledakan merupakan risiko tetap, dan gas-gas itu beracun bagi manusia. Jadi, sesuai dengan studi Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional Amerika Serikat, "risiko keracunan dan dibutuhkannya kompressor besar yang mahal membuat mesin itu sulit dipasarkan pada konsumen eceran, yang mewakili sebuah permintaan potensial."
62 The General Motors Frigidaire Division melihat Thomas Midgely, Jr. seorang ilmuwannya yang potensial telah menemukan terobosan teknologi di tahun 1931, ketika dia menemukan Freon 12.Tidak mudah terbakar, tidak mudah meledak, tidak berkarat dan tidak beracun, bentuk variasi dari gas Freon tampak merupakan solusi teknologi yang sempurna bagi permasalahan lingkungan dan keselamatan manusia. Gas Freon hanya membutuhkan sedikit tekanan, sehingga hanya membutuhkan kompresor kecil dan murah. Freon segera mendominasi pasaran mesin pendingin dan membuka pasar eceran baru karena syarat-syarat modalnya yang kecil.
63Transformasi struktur ekonomi dan sosial yang dipicu oleh penemuan Freon melenceng jauh dari yang dibayangkan orang di tahun 1931. Tidak hanya berhasil membuat mesin pendingin rumah tangga, tetapi juga air conditioning (pengatur udara, AC) dan memacu pertumbuhan ekonomi yang dahsyat di daerah "Sabuk Matahari" Amerika.
Setelah 54 tahun, tahun 1985, dampak global dari penggunaan gas Freon, biasa dikenal dengan chlorofluorocarbons (CFCs), baru terlihat. Para ilmuwan menemukan lubang ozon di atas Antartika semakin lebar. Secara ironis, Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional Amerika Serikat menyimpulkan, "Kita sekarang mengerti bahwa apa yang membuat kita nyaman ternyata merusak molekul-molekul ozon yang berakibat jauh ke masa depan walaupun kita mengakhiri produksi dan penggunaannya saat ini juga."
64Apakah ini sebuah kebetulan yang tidak mengenakkan -- atau sebuah akibat yang timbul karena terlalu percaya dengan perangkat teknologi? Satu hal yang jelas: semua penghuni planet ini tidak diperkenankan membuat terlalu banyak kejutan ekologi global dengan kepercayaan buta terhadap penemuan dan penggantian teknologi. Kita dapat mengutip peringatan Vaclav Havel, "akibat fatal dari teknologi itu seolah-olah merupakan kerusakan teknis yang dapat diperbaiki kembali oleh teknologi itu sendiri."
Pesan Bank Dunia di KTT Bumi, disambut oleh seluruh peserta dan menjadi pernyataan yang cukup terkenal, bahwa "pembicaraan lingkungan benar-benar mengubah perhatian dari batas-batas fisik pertumbuhan menjadi dukungan bagi tingkah laku manusia (human behavior) dan kebijakan-kebijakan yang mampu mengatasi kegagalan pasar dan kebijakan."
65 Namun tahun-tahun terakhir ini literatur yang berkembang di bidang "ekonomi ekologi" makin memfokuskan perbincangan pada permasalahan, yang diklaim Bank Dunia dapat diperdebatkan, batas-batas fisik pada pertumbuhan ekonomi. Sejumlah studi menunjukkan dengan jelas bahwa analisa ekonomi neoklasik telah menaksir terlalu tinggi seluruh kandungan energi yang disimpan sebagai pengganti (penggunaan proses produksi yang menyimpan energi oleh perusahaan-perusahan dalam ekonomi berbasis industri).m) Menurut pemenang Nobel bidang ekonomi Jan Tinbergen,n) "Degradasi lingkungan merupakan akibat dari pertumbuhan produksi... [dan] penyelamatan lingkungan sudah tentu akan menguji pertumbuhan produksi atau mungkin memerosotkan pendapatan nasional."66 Logika sederhana dari "kampanye pembangunan" sepanjang dekade 1950-an, menurut pemikiran Walt Rostow "pohon tidak tumbuh ke langit," akan menunjuk pada satu pertarungan antara manusia dan biosfer, jika tetap menempuh jalan mereka yang sekarang.Asumsi yang sangat optimistik bahwa kemampuan abadi teknologi dan subsitusi dapat mengendalikan pasar, meningkatkan kesejahteraan materi, dan mengurangi dampak materi, tampaknya tidak dapat bertahan. Peneliti Inggris Paul Ekins menunjukkan perkiraan demografi yang sangat optimistis bahwa penduduk dunia akan meningkat minimal 10 atau 12 miliar pada 50 tahun mendatang sebelum mencapai tingkatan penuh. Untuk memelihara perdamaian, produksi ekonomi dunia saat itu harus lebih dari dua kali lipat, dan kemajuan serta efisiensi teknologi harus mampu mengurangi separo dari dampak kerusakan fisik terhadap lingkungan supaya tekanan ekologi akibat aktivitas manusia tidak meningkat. Tetapi Brundtland di tahun 1987 melaporkan bahwa Bank Dunia, dan hampir semua politisi mengasumsikan bahwa pertumbuhan produksi ekonomi global sebesar 3 persen per tahun atau lebih diperlukan untuk menghilangkan kemiskinan di negara-negara miskin. Pada pertumbuhan 3 persen, produksi dan konsumsi berlipat dua kali setiap 23 tahun. Jadi. Ekins menunjukkan, dengan masih mengacu pada pengertian dampak ekologi setelah 46 tahun mendatang, "teknologi harus dapat mengurangi dampak lingkungan pada setiap unit konsumsi sampai 1,16 kali lipat dari tingkatannya yang sekarang... atau lebih dari 93%." Jika pertambahan penduduk stabil di pertengahan abad mendatang dan "pertumbuhan hijau" berlanjut sampai tahun 2100, maka "setiap unit dari konsumsi harus dibuat hanya 1,6 persen dari dampak lingkungan yang sekarang."
67Sayangnya, Ekins mencatat, untuk sektor penting seperti energi, tanda-tanda yang mengganggu bahwa efisiensinya tidak naik. The Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), yang mengumpulkan data statistik ekonomi negara-negara industri, meramalkan kenaikan penggunaan minyak bumi 1 sampai 2 persen per tahun bagi negara-negara anggotanya di awal abad mendatang.
68 Kendaraan dunia seperti mobil, truk, dan bus meningkat sekitar 5 persen per tahun, terutama di negara-negara berkembang, yang permintaannya sangat besar. Ekins mencatat, pada angka ini efisiensi minyak bumi harus dinaikkan dua kali lipat setiap 16 tahun untuk menjaga emisi kendaraan di seluruh dunia.69Serangan yang sangat menentukan terhadap kepercayaan bahwa ekologi dapat diselamatkan melalui pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, dipublikasikan oleh Bank Dunia. Setelah perjuangan yang pahit staf operasi bank dunia selama beberapa tahun, banyak pemikir yang sangat kreatif dan inovatif disingkirkan ke departemen lingkungan, yang membuat mereka tidak punya kesempatan lagi untuk menyuarakan keberatannya terhadap proyek-proyek dan pinjaman-pinjaman tertentu. Kendati demikian, mereka menjadi punya banyak waktu untuk menulis. Di musim panas 1991, ekonom Herman Daly dan ahli ekologi Robert Goodland menyunting dan menerbitkan sebuah "kertas-kerja lingkungan" Bank Dunia yang diberi judul Environmentally Sustainable Economic Development: Building on Brundtland.
70 Kumpulan esai ini menyatakan bahwa masyarakat manusia telah masuk pada masa peralihan sejarah dari ekonomi "dunia-kosong" ke ekonomi "dunia-penuh". Dua penerima Nobel di bidang ekonomi -- Jan Tinbergen (1969) dan Trygve Haavelmo (1989) -- menyumbangkan beberapa tulisan, dan dua menteri lingkungan, dari Indonesia dan Brasil (Emil Salim dan Jose Lutzenberger) "menyambut hangat pemikiran yang jelas" dalam buku ini.71Kesimpulan dari Building on Brundtland benar-benar satu hal yang tidak menyenangkan bagi para politisi dan pemerintah, khususnya di Utara--dalam kata-kata Tinbergen dan Roefie Hueting, "tidak ada lagi pertumbuhan ekonomi di negara-negara kaya."
72 Tiang penyokong teoritis sudut pandang ini adalah pertumbuhan ekonomi global yang makin meningkat membutuhkan penggunaan sumber daya alam dan energi secara menyeluruh (atau "throughtput"o), sekalipun penggunaan sumber daya alam itu menjadi lebih efisien, sebagaimana yang telah menjadi kecenderungan global. Goodland dan banyak yang lainnya menyatakan bahwa ekosistem global memperlihatkan tanda-tanda yang mengkhawatirkan karena telah mencapai ambang batas kritis dari tekanan ekologi yang tak dapat ditahan dan berpotensi runtuh --dengan perusakan lapisan ozon, pemanasan global, dan semakin banyaknya spesies yang punah, sebagai indikator-indikator utamanya.73Untuk memelihara kualitas hidup dan habitat planet ini di masa depan, lanjut argument itu, negara-negara Utara harus tidak membiasakan lagi nilai-nilai konsumtif yang boros dan harus mengubah pandangan bahwa pembangunan sosial tidak lagi dihubungkan dengan pertumbuhan materi. Pertumbuhan materi yang telah terjadi harus didistribusikan ke Selatan guna meningkatkan standar hidup minimum orang-orang miskin. Tekanan yang kuat untuk menyelaraskan teknologi yang lebih bersahabat dengan lingkungan dan lebih efisien secara ekonomi, dan kemudian mentransfernya ke Selatan, akan memainkan peran penting dalam transisi menuju perekonomi "negara yang kuat"
p) dengan populasi negara-kuat. Pencantuman sumber-sumber alam --yang mengubah perhitungan ekonomi nasional supaya memasukkan kerugian-kerugian yang disebabkan oleh kerusakan hutan. perikanan, dan sumber-sumber lainnya sebagai kerugian-kerugian kapital (sebagai ganti dari pencapaian ekonomi) -- juga akan memainkan peran kritis dalam perencaan ekonomi.q)Jika pertumbuhan ekonomi seperti terlihat pada kecenderungan mutakhir malah menimbulkan masalah, maka terdapat juga keraguan yang serius terhadap dua masalah lainnya -- perdagangan dan bantuan internasional. Menurut Trygve Haavelmo dan Stein Hansen, kecenderungan untuk menerapkan perdagangan yang lebih bebas dan integrasi perekonomian global -- sebuah tujuan pokok di balik pendirian Bank Dunia di Bretton Woods -- "sebagaimana telah kita ketahui, adalah sebuah akibat buruk dari sudut pandang pembangunan berkelanjutan," ini disebabkan "penerapan tatanan perdagangan bebas," negara-negara yang mencoba untuk memasukkan biaya ekologi nasionalnya -- kita belum membicarakan yang global – ke dalam biaya produksi kalah dengan negara-negara yang tidak mempunyai biaya ekologi.
74 Akhirnya, mengingat dari yang sudah terjadi, tidaklah keliru mengatakan bahwa bantuan-bantuan luar negeri, ala Bank Dunia, lebih merupakan suatu masalah daripada sebuah solusi bagi permasalahan ekologi global.Bahkan jika hanya sebagian saja dari apa yang dikatakan oleh ekonom, misalnya Tinbergen dan Haavelmo, tersebut adalah benar, maka akibat politik dan sosialnya sangat besar. Sungguh mengherankan, pesan resmi Bank Dunia pada KTT Bumi dengan mudah mengabaikan berbagai pandangan alternatif tersebut. Jika banyak pembicaraan resmi di KTT Bumi di Rio hanyalah sebuah "festifal kemunafikan", maka pertemuan itu juga merupakan "karnaval pengingkaran".
Meskipun pandangan-dunia "negara kuat" yang diungkapkan oleh Daly, Goodland, Tinbergen, Haavelmo, dan lainnya lebih dapat diterima secara teori sebagai pandangan yang memberi perhatian kepada bidang sosial dan ekologi lokal,r) namun pandangan itu juga membutuhkan, seperti model-model konvensional lainnya, sebuah visi global, sentralisasi manajemen lingkungan. Bank Dunia, yang berubah sesuai dengan prinsip-prinsip ekonomi negara-kuat, akan memainkan peran kunci dalam pendistribusian pertumbuhan materi dari Utara ke Selatan, dan dalam mentransfer teknologi yang lebih ramah lingkungan. Herman Daly menyatakan bahwa:
dalam era baru, nama resmi Bank Dunia, yaitu The International Bank for Reconstruction and Development, menekankan kata rekontruksi dan mendefinisikan ulang kata itu supaya merujuk kepada rekontruksi sumber daya alam yang dirusak oleh keserakahan pembangunan.
75GEF, tentu saja, meskipun tidak sempurna, adalah model "rekontruksi sumber daya alam" ini.
Siapa akan Mengatur Dunia --dan Bagaimana?
|
Rio hanya bicara soal pemerintahan-pemerintahan, bukan soal planet ini.76 --Komentar Duta Besar Malaysia untuk UNCED |
Dua hari sebelum berakhirnya KTT Bumi, sebuah debat terbuka mengenai apa yang sebenarnya diinginkan diselenggarakan oleh LSM-LSM dalam sebuah ballroom Hotel Gloria yang penuh sesak, bangunan abad peralihan yang sedikit kusam yang menjadi markas besar Forum LSM Global. Topik hari itu ialah memilih ‘taruhan’ yang lebih baik dari yang lainnya pada dan sesudah UNCED: "Siapakah yang akan mengatur dunia setelah KTT Rio --Institusi-institusi Bretton Woods (Bank Dunia), PBB, atau masyarakat?"
77Berat untuk tidak setuju dengan mereka yang menyatakan bahwa Bank Dunia akan masih mempunyai peran yang cukup berpengaruh dalam mengatur dunia. Penambahan anggota Bank Dunia dengan masuknya negara-negara bekas Uni Soviet di tahun 1992 mewujudkan mimpi Bretton Woods tentang sebuah institusi yang universal. Dan KTT Bumi makin mengokohkan keberadaan Bank Dunia sebagai institusi favorit untuk memikul proyek manajemen lingkungan global. Melalui GEF, Bank Dunia menyetujui pemberian bantuan bagi dua konvensi yang ditandatangani di konferensi itu, dan ia juga menjadi target utama sebagai penyandang dana yang mungkin disumbangkan oleh negara-negara industri untuk Agenda 21.
Satu hal yang kurang dipublikasikan dibandingkan dengan KTT Bumi atau proyek-proyek GEF, tetapi sama pentingnya, adalah usulan yang diutarakan oleh Kanselir Helmut Kohl dari Jerman pada pertemuan ekonomi tahunan negara-negara G7 yang diselenggarakan di Houston, Texas, pada tahun 1990.s) Kohl yang konservatif, hampir-hampir tidak diketahui sebelumnya mempunyai ketertarikan yang sungguh-sungguh pada persoalan keanekaragaman hayati atau hutan-hujan, mengusulkan di Houston bahwa negara-negara G7 supaya mendanai sebuah "proyek percontohan" untuk perlindungan hutan-hujan di Brasil. Ini merupakan suatu tanggapan yang penuh perhitungan politis untuk meyakinkan rakyat Jerman bahwa pemerintahan Kohl telah berbuat sesuatu berkaitan dengan penggundulan hutan tropis. Negara-negara G7 mempercayakan perumusan dan pelaksanaan proyek percontohan senilai 250 juta dolar AS terutama kepada Bank Dunia. Ringkasnya, Bank Dunia menyarankan penggabungan dana-dana itu ke dalam GEF, sebuah gaya khas para birokrat dalam menggunakan kekuasaannya secara sewenang-wenang yang disetujui negara-negara G7, hal ini menjelaskan bahwa proyek percontohan itu dilaksanakan tidak sesuai rencana.
Tetapi kekuasaan Bank Dunia yang sedang tumbuh tersebut secara langsung dihubungkan dengan kenyataan bahwa negara-negara kaya menyukai yang seperti itu -- karena mereka bisa mengontrolnya. Mereka sangat puas untuk terus-menerus menyalurkan dana ke Bank Dunia dengan asumsi bahwa bagaimanapun, dan di manapun, terdapat ahli-ahli yang, jika diberi cukup uang, akan memunculkan proyek-proyek dan solusi-solusi untuk menyelesaikan berbagai masalah. Helmut Kohl dan pemerintahan Jerman tidak mengetahui apa yang harus dilakukan untuk mengatasi, misalnya, penggundulan hutan di Amazon (kementerian bantuan Jerman, seperti yang lainnya di negara-negara dengan program-program bantuan yang besar, kekurangan tenaga untuk mengatasi beban kerja yang berlebihan) tetapi dengan yakin, dengan cukup uang, seseorang di Bank Dunia dapat memikirkan sebuah rencana. Atau demikian yang tampaknya terjadi di Bonn.
Sistem ekonomi global memiliki aturan-aturan yang sebagian besar ditentukan oleh negara-negara G7, dan aturan-aturan itu harus diadopsi begitu saja oleh Bank Dunia sebagai sebuah titah. Negara-negara G7 mengontrol 63,4 persen produksi ekonomi dunia dan lebih dari tiga perempat perdagangan dunia. Jerman tentu saja tidak akan menurunkan tingkat suku bunga, demikian pula Departemen Keuangan Amerika Serikat tidak akan mendorong bank-bank New York untuk menghapus utang-utang Dunia Ketiga, yang dengan mudah membuat kontradiksi-kontradiksi pola penyelesaian masalah yang dilakukan Bank Dunia terhadap negara-negara miskin. Dalam debat di Gloria Hotel, perwakilan LSM Brasil menyimpulkan bahwa "negara-negara G7 praktis mengontrol seluruh hidup kita."
78Kemampuan PBB untuk mengurusi tantangan lingkungan global kurang dapat diandalkan. Dapat dikatakan untuk satu hal, PBB dan badan-badan yang berafiliasi dengannya bahkan kurang bertanggung jawab dibandingkan dengan Bank Dunia. Institusi seperti FAO, UNDP beroperasi sebagai lembaga yang benar-benar otonom, praktis satu-satunya kesempatan untuk menilai kesalahan yang terjadi adalah pada pertemuan tahunan atau dua tahunan, saat negara-negara anggota umumnya menyetujui rencana anggaran dan kerja mereka.
t) Pengumpulan utusan-utusan pemerintah ini, dalam kata-kata pejabat tinggi PBB yang berbasis di Roma sebagaimana dikutip Washington Post, "pada dasarnya merupakan badan stempel belaka." "Tak ada pengawasan mingguan atau bulanan di berbagai badan otonom itu sebagaimana di pemerintahan Anda."79Pada tahun-tahun belakangan ini ditemukan penyelewengan dan korupsi yang hebat sekali di beberapa badan PBB -- dengan sedikit atau malah tidak sama sekali diambil tindakan perbaikan. Sebuah pemeriksaan internal UNDP --salah satu dari tiga badan GEF yang tergolong penting-- menggambarkan "sebuah kekosongan etika-dasar yang menyedihkan," dan "ketidakefisienan operasional dan.... kekeliruan manajemen pada sumber-sumber keuangan dan tenaga kerja."
80 Menurut Washington Post, laporan yang sama menyebutkan sejumlah kasus korupsi yang melibatkan UNDP "nilainya mencapai jutaan dolar AS."81 Menurut Bo Jerlstron, wakil direktur dari sebuah tim studi yang dibiayai oleh pemerintah Skandinavia (Proyek PBB Nordic), korupsi dan kekeliruan manajemen "adalah sebuah masalah sistematis bagi sebuah organisasi yang sangat besar. Kita mempunyai sebuah sistem pemerintahan di PBB yang tidak bertanggung jawab."82 Yang lebih buruk lagi, dalam pandangan masyarakat internasional, Bank Dunia mungkin merupakan institusi yang paling bertanggung jawab dan transparan.Kenyataan telah mengatakan, Agenda 21 menyebutkan pembuatan sebuah "Komisi Pembangunan Berkelanjutan" yang baru dari PBB. Komisi itu akan memonitor pemerintah-pemerintah dan lembaga-lembaga internasional seperti Bank Dunia, untuk mengawasi pemenuhan persyaratan mereka terhadap konvensi dan persetujuan di UNCED, dan pemenuhan mereka terhadap prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan secara umum, meskipun PBB memutuskan untuk membatasi pengertian tersebut. Tetapi pada sidang pembukaan Majelis Umum PBB bulan September dan Oktober 1992, muncul sebuah perbincangan yang seru mengenai fungsi-fungsi dari komisi yang diusulkan tersebut: negara-negara Selatan keberatan pada usulan-usulan Utara yang mengizinkan peran yang lebih luas bagi LSM-LSM, yang pada gilirannya dikhawatirkan akan menggunakan komisi itu sebagai forum untuk menekan pemerintah. Sejak Bank Dunia mengabaikan PBB, maka sulit untuk menuntut pertanggung jawaban terhadap komisi PBB. Orang hanya perlu menyebut dua hal berikut: Perjanjian 1947 antara Bank Dunia dan PBB, di mana Bank Dunia mempunyai hak untuk menyimpan berbagai informasi yang diinginkan, dan permohonan Sekjen PBB U Thant di pertengahan 1960-an agar Bank Dunia menghentikan pinjaman bagi Afrika Selatan dan Portugal karena pinjaman itu melanggar resolusi Majelis Umum serta piagam PBB itu sendiri. Tapi permohonan itu tidak digubris.
Paradoks utama dari KTT Bumi adalah karena ia diselenggarakan sebagai respons terhadap ketidakpuasaan di seluruh dunia dengan kerusakan ekologi di planet ini. Uang yang disediakan oleh negara-negara kaya untuk GEF merupakan sebuah reaksi dari meningkatnya tekanan rakyat dan politik untuk melakukan sesuatu. Pertemuan-pertemuan UNCED yang dihadiri 172 wakil seperti binatang besar yang lamban, dan mencerminkan ketiadaan upaya yang memadai dalam mengatasi krisis ekologi dunia yang sudah memasuki peradaban industri global. Yang lebih buruk lagi, UNCED mengesampingkan wakil dari ribuan kelompok-kelompok sosial. Tetapi bagi mereka yang mengritik UNCED, alternatif apakah yang dapat mereka ajukan? Sebab, UNCED memang hanya sebuah sandiwara yang berpanggungkan bumi.
Mendekati akhir sidang di Gloria Hotel yang membahas "siapa yang akan mengatur dunia", seorang lelaki tua berpenampilan nyentrik yang berasal dari India mendekat ke mikrofon. Dengan wajah penuh semangat dia menyatakan "persoalan sebenarnya bukan siapa yang akan mengatur, persoalannya adalah bagaimana mengaturnya. Dan jangan lupa, rakyatlah yang bisa menyebabkan para pejabat pemerintah itu sampai ke forum ini."
Manajemen Lingkungan Global
|
Kegagalan modernitas adalah kegagalan proyek jangka pendek yang memadukan teknologi dan ekonomi. Proyek itu malah menutup perkembangan dirinya sendiri karena ia "terlepas" dari realitas alam dan sosial. Modernitas telah bertentangan dengan kepentingan lokal dan nyata dari setiap masyarakat (walaupun melayani kepentingan pribadi yang besar) dan menentang kepentingan umum berjangka panjang dari planet ini sebagai keseluruhan maupun para penghuninya.83 --Jean Chesneaux |
KTT Bumi mendasarkan pada premis, bahwa manajemen lingkungan global bisa diterapkan. Proyek, yang muncul di Rio, mempunyai dua pendekatan pokok -- mewujudkan perjanjian lingkungan antar negara-bangsa, dan meningkatkan bantuan luar negeri bagi perlindungan dan manajemen lingkungan, serta meningkatkan penghapusan kemiskinan, yang disalurkan dan dikelola melalui (terutama) GEF dan badan pendanaan lainnya dari Bank Dunia. Visi KTT Bumi adalah visi modern-akhir yang paling murni, yang mendasarkan pada asumsi-asumsi dengan tiang penyokong yang goyah dan kontradiksi-kontradiksi yang lebih tampak dibanding sebelumnya. Visi itu mengandaikan sebuah dunia tempat para penyelidik dan pejabat dapat secara efisien mengumpulkan informasi, yang dimulai dengan ekosistem dan komunitas lokal yang dulu diabaikan. Selain itu, dengan visi itu juga berusaha disusun program dan aturan-aturan di tingkat lokal, nasional, dan internasional untuk mengelola biosfir. Negara-bangsa dijadikan unit terkecil dalam sistem manajemen lingkungan global tersebut, meski kekuasaan kunci pada tingkat global diletakkan pada birokrasi yang memiliki tangung jawab menjangkau seluruh dunia, seperti misalnya Bank Dunia. Pendek kata, manajemen lingkungan global mensyaratkan -- mengutip sebuah analisa dalam jurnal Inggris The Ecologist -- pengetahuan yang dapat diterapkan secara universal, penegakan aturan global secara efektif dan kultur politik dunia yang akan melandasi pengetahuan dan penegakan aturan tersebut.
84 Mari kita uji asumsi-asumsi tersebut.Persoalan pertama bersifat epistimologi, dan secara murni tidak dapat dipisahkan dari struktur politik dan pemerintahan yang mewujudkannya. Peningkatan pemberontakan pengetahuan lokal terhadap program pembangunan universal yang diseragamkan oleh Bank Dunia adalah contoh utama. Yang jelas, jika kegagalan pembangunan internasional selama beberapa dekade dapat dijadikan pelajaran, maka sungguh tolol bila proyek-proyek top-down masih dilaksanakan. Program tersebut mengabaikan dan sering merusak pengetahuan lokal dan organisasi sosial, yang seharusnya menjadi penjaga ekosistem serta dapat mengembangkan pola ekonomi yang cocok dengan keadaan lokal. Unsur-unsur terpenting dari pengetahuan lokal menjadi hilang jika penyeragaman dilakukan di tingkat nasional atau global. Pengetahuan lokal tidak dapat dipisahkan dari tempat ia tumbuh dan berkembang. Demikian juga adat istiadat, metode, dan keterampilan masyarakat lokal tidak dapat direkonstruksi secara artifisial melalui usaha-usaha administratif top-down.
Contoh yang paling spesifik adalah kasus muang phai, pola perlindungan cadangan air dan praktik konservasi sumber air yang biasa dilakukan di pedesaan Thailand. Bantuan luar negeri memaksa otorita irigasi pemerintah untuk membangun bendungan dan saluran baru yang lebih mahal, tanpa memperhatikan pengetahuan dan praktik lokal. Kontrol infrastruktur air modern itu diberikan kepada otorita irigasi pemerintah. Sudah diduga, sistem yang baru itu menjumpai masalah-masalah ekologi dan pemeliharaan yang tidak terduga, karena target sosialnya, yaitu petani-petani lokal, secara efektif dicabut hak miliknya dengan memagari sumber alam itu. Padahal semula mereka benar-benar mempunyai kontrol terhadap sumber alam itu. Usaha otorita irigasi pemerintah, yang dilakukan sesusai rekomendasi ahli pembangunan luar-negeri, untuk membentuk asosiasi pemakai air yang baru di antara para petani ternyata gagal. Terdapat dokumentasi yang luas mengenai masalah-masalah yang sama di banyak daerah pengaturan sumber-sumber alam lainnya, seperti penananam hutan; dan sekali lagi, proyek kehutanan Bank Dunia adalah sebuah paradigma yang gagal.
u) Kesimpulan para pejabat kehutanan India, yang menggambarkan kegagalan proyek reboisasi Bank Dunia di Himalaya yang tergantung pada keterlibatan masyarakat desa setempat, menyatakan: " Solusi tersebut tidak membutuhkan banyak uang, tetapi mereka membutuhkan perhatian yang terperinci dan komitmen. Itulah yang kurang. Ada pelajaran yang kita dapat bahwa Anda tidak dapat hanya menggunakan uang untuk menyelesaikan maslah itu."85Model "wacana kebijakan global" yang menjadi pola utama sepanjang dekade lalu terlalu umum sehingga tidak relevan bagi banyak tantangan sosial dan politik lokal. Wawasan pokok yang tidak terdapat pada wacana itu adalah heterogenitas dari lingkungan hayati yang begitu beragam di setiap tingkatan. Keanekaragaman ekosistem lokal dan regional secara langsung menjadi pendukung evolusioner dan historis bagi keanekaragaman sosial dan budaya dari setiap komunitas manusia. Tindakan sosial dan politik yang efektif harus didasarkan pada tingkatan yang sesuai dengan unsur-unsur dan batas-batas spesifik dari heterogenitas komunitas lokal.
Heterogenitas ekosistem dan masyarakat mempunyai dampak lain yang terkait dengan usaha untuk mengetahui, mengira, dan merencanakan serta mengelola krisis dan perubahan lingkungan global. Ada spekulasi yang semakin besar bahwa tingkah laku ekologi, ekonomi, dan sosial di tingkat regional dan global lebih cocok pada kaidah-kaidah teori yang matematis mengenai chaos dan kompleksitas, atau pada pola-pola biologi evolusioner, ketimbang pada model Certesian-Newtonian. Ahli manajemen Peter Drucker dan ahli matematika Prancis David Ruelle telah membuktikan pandangan ini berkaitan dengan sistem ekonomi global dan perekonomian nasional."
86Di Santa Fe Institute, New Mexico, sebuah perkumpulan ilmuwan dan pemikir merumuskan sebuah konsep yang sepenuhnya baru mengenai ekonomi dan ekologi sebagai "sistem penyesuaian diri yang kompleks" yang unit-unit dan strukturnya adalah entitas yang "megorganisasi-diri" dalam evolusi dan adaptasi yang berlangsung serempak dan terus-menerus. Seseorang dapat memikirkan mengenai sistem yang demikian sebagai jaringan besar dari berbagai "agen" -- apakah sel, neoron, species, atau rumah tangga -- yang beroperasi secara sejajar, bertindak dan bereaksi pada apa yang sedang dikerjakan agen lain. Evolusi dan perubahan secara terus-menerus berlangsung dari bawah ke atas, sementara konsep ekonomi neoklasik mengenai keseimbangan dan optimalisasi tidak berarti lagi karena keseluruhan sistem selalu berubah, yang secara lembut diseimbangkan antara keteraturan dan "tepi kesemerawutan".
87Gerak sistem yang ruwet ini tidak dapat diduga atau dikontrol, karena sistem tersebut mungkin diubah oleh faktor-faktor yang, secara statistik dikatakan, tidak penting. Jadi, Drucker menunjukkan, "sistem yang ruwet ini tidak dapat mengecualikan apapun sebagai "eksternal".
88 Fenomena ini, yang dikenal sebagai "ketergantungan yang sensitif pada kondisi awal" dan dipopulerkan dengan sebutan "efek kupu-kupu,"v) mungkin membuat usaha-usaha sentralisasi yang ambisius untuk merumuskan dan menemukan kebijakan global harus mendasarkan pada pengumpulan problematika data yang penting secara statistik. Informasi-informasi seperti itu diperlukan untuk melakukan penilaian terhadap apa yang sudah terjadi. Namun, informasi mengenai cuaca minggu lalu untuk mengetahui curah hujan, yang semula dianggap tidak penting, mungkin juga berguna bagi manajemen ekologi, ekonomi, dan sosial. Usaha yang ambisius pada peraturan nasional dan internasional mungkin tidak dapat dipercaya atau tidak berguna berkaitan dengan perubahan ekologi dan ekonomi global.w) Kelenturan dan kepekaan dibutuhkan untuk mengurusi sesuatu yang tidak dapat diprediksi seperti itu, dan mungkin hanya dapat diterapkan dalam suatu corak lokal, yang tidak terpusat.Ada satu perkiraan logis dari efek kupu-kupu bahwa peristiwa yang punya dampak global terhadap ekologi dan sosial bisa bermula dari peristiwa lokal yang tidak berbeda satu dengan lainnya. Selama akhir 1970-an dan 1980-an, ribuan aktivis sosial dibunuh secara misterius di Amazon, Brasil, sebagian di antaranya adalah penyadap karet yang berjuang untuk melindungi hutan tropis. Sebuah peristiwa pembunuhan di bulan Desember 1988 – yaitu kasus Chico Mendes -- dan berbagai usaha keras aktivis lingkungan di Brasil dan Amerika Serikat untuk tetap menjaga agar perjuangan Mendes tersebut tidak sia-sia, yang memicu perhatian internasional dan membuat krisis sosial dan ekologi di Amazon, Brasil, menjadi sebuah isu yang tidak dapat diabaikan oleh pemerintah Brasil dalam waktu yang lama. Mendes menjadi martir pertama bagi ekologi global. Kegemparan setelah kematiannya juga merupakan faktor yang mengarahkan pada lobi berikutnya agar pemerintah Brasil bersedia menjadi tuan rumah konferensi UNCED. Dan demikianlah, seorang aktivis serikat buruh Brasil yang tinggal di pedalaman Amazon justru telah berbuat banyak melalui kehidupan dan kematiannya untuk memicu kesadaran lingkungan global dibanding kebanyakan konferensi internasional dan program pendidikan lingkungan.
Kasus Mendes dan para penyadap karet Brasil menguatkan tesis peneliti Inggris Michael Redclift yang menyatakan bahwa manajemen lingkungan yang sukses harus beroperasi di antara "kelompok sosial yang tersingkir akibat proses pembangunan." "Usaha-usaha untuk ‘mengatur’ lingkungan secara internasional," dia menyimpulkan, "melalui perancangan "cadangan biosfir" di areal yang rawan, dan persetujuan internasional untuk membatasi akses "masyarakat kebayakan", hanya berakibat kegagalan."
89Kemandulan banyak perjanjian lingkungan internasional semakin menguatkan pengamatan Redclift, dan tidak memberikan alasan untuk mempercayai keefektifan banyak konvensi berikutnya jika tidak ada perubahan. Kebanyakan perjanjian lingkungan tidak efektif di tingkat pelaksanaan, dan sedikit sekali data menunjukkan terpenuhinya syarat perjanjian.
90 Norwegia menempati posisi teratas dalam hal menjalankan komitmen lingkungan domestik maupun internasional. Akan tetapi hasil penelitian sebuah LSM Norwegia, Bellona, menyimpulkan bahwa Norwegia gagal untuk memenuhi 12 dari 27 persetujuan lingkungan internasional yang ditandatanganinya.91 Sejarah panjang dari pengaturan penangkapan ikan paus di bawah Internasional Whaling Comission (IWC), misalnya, telah menjadi kisah sedih mengenai eksploitasi banyak spesies langka oleh negara-negara yang diduga peduli dalam masalah perlindungan sumber daya alam untuk generasi mendatang. Selama beberapa tahun, komisi itu secara konsisten menyetujui kuota untuk satwa langka yang boleh diburu -- beberapa di antaranya tidak dapat diperbaharui lagi. Di tahun 1992 dan 1993, Islandia menarik diri dari IWC, sementara Norwegia merekomendasikan penangkapan ikan paus di tengah-tengah protes internasional.92Salah satu fungsi UNEP sejak pendiriannya pada tahun 1972 telah menjadi pemicu kampanye persetujuan lingkungan internasional. Sebelum penandatanganan Montreal Protocol (1987) untuk mengatur emisi-emisi CFC yang merusak ozon, prestasi yang patut dibanggakan dari UNEP adalah program Meditarranean Action Plan (MAP) 1975, yang berhasil menyetujui 10 rencana aksi untuk membersihkan laut dunia. Hal terpenting dari rencana itu adalah Konvensi Barcelona (1978), yang disetujui 18 negara di Mediterania untuk melakukan tindakan keras guna mengurangi dan membersihkan limbah kimia di daerah pantai.
Meskipun MAP merupakan kesuksesan diplomatik yang besar --mampu membawa Albania, Libya, dan Israel duduk di satu meja untuk menyetujui kerja sama lingkungan -- tetapi ia merupakan kegagalan lingkungan. MAP seperti laut mati. Setelah ekspedisi besar, hanya 30 persen limbah di laut Mediterania menerima berbagai perawatan.93 Dalam pelanggaran yang mencolok terhadap konvensi internasional lain yang dianggap mampu mengatur limbah minyak bumi (the MARPOL Protocol), kapal-kapal melangsir 650.000 ton minyak dan hidrokarbon lain per tahun di Mediterania, sama dengan 17 ton minyak Exxon Valdez tumpah setiap tahun.
94 Sumber utama polusi -- sampah pertanian dan limbah kimia yang mengalir dari selokan ke setiap sungai di Medetarian -- tidak berasal dari yang biasa disebut titik sumber daya di pantai, dan tidak tercantum secara memadai dalam the "Land-Based Sources Protocol" (1980) pada Konvensi Bercelona. Pola pertanian "revolusi hijau" yang banyak menggunakan pupuk kimia dan pestisida dan mendapat subsidi dari kebijakan pertanian Masyarakat Eropa, secara drastis meningkatkan polusi ‘tidak di titik sumber daya ’ selama 20 tahun lalu.Penilaian optimistik dari keefektifan MAP yang bersifat lingkungan menyatakan bahwa kualitas air seluruhnya tidak terkena dampak buruk sejak ada MAP di tahun 1975. Itu merupakan prestasi besar karena populasi dan produksi telah meningkat di kawasan Mediterania selama periode tersebut. Namun itu sama seperti bualan seorang dokter yang mengatakan bahwa perawatan pasien kanker yang mematikan telah berhasil, karena pasien itu sekurang-kurangnya tidak segera mati. Bahkan, menurut ahli ilmu politik Peter M. Haas, pernyataan yang sopan ini mirip anekdot karena "tidak ada data mengenai kualitas air Mediterania, tidak juga ada data yang dikumpulkan berdasarkan urutan waktu."
95Optimisme yang berkaitan dengan efektivitas perjanjian lingkungan internasional selalu menyebutkan keberhasilan Montreal Protocol (MP). Ditandatangani pada tahun 1987, MP merupakan kesuksesan diplomatik dan teknologi; di tahun 1990 negara-negara industri dan berkembang merivisinya dan menyetujui penghapusan secara total produksi CFC yang merusak ozon menjelang tahun 2000.
x) Sayangnya, berkenaan dengan pengertian masalah-masalah lingkungan global, kesuksesan diplomatik, dan jalan-keluar teknologi saja sebagian besar mungkin tidak relevan dengan zamannya. Sayangnya, keseimbangan biosfir tidak selalu direspons dengan baik, bahkan ketika (dalam kasus yang jarang terjadi seperti penghapusan CFC) negara-negara di dunia menjadi cukup peduli untuk menyetujui dan melaksanakan sesuatu dengan jujur. Satu hal lagi yang mendorong aksi internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya adalah ‘kesetiaan’ CFC untuk merusak ozon di atmosfir jika gas itu dilepaskan. Ini berarti, lubang ozon tetap membesar selama beberapa tahun dan mungkin beberapa dekade setelah produksi dan pemakaian CFC dihentikan. Oleh karena itu, sebagaimana diperingatkan oleh sebuah studi dari Nasional Academy of Sciences tentang perubahan lingkungan global:tidak ada jaminan bahwa zat kimia yang dikembangan sebagai pengganti CFC akan ramah lingkungan (CFC sendiri dulu diduga mempunyai unsur ideal ketika gas itu diperkenalkan pada tahun 1930-an). Karbonhidrokloroflur (HCFC) dan karbonhidrohalo (HFC), yang mencolok di antara calon pengganti CFC, sudah menimbulkan protes dari mereka yang peduli pada efek rumah kaca.
96Studi yang sama mengkhawatirkan kemungkinan MP menjadi ‘presiden’ untuk mengatasi perubahan lingkungan global. MP memang tidak menuntut perubahan nyata dalam tingkah-laku sosial-ekonomi di tingkat global dan nasional; tetapi ia hanya menghilangkan sebuah dilema teknologi dan menggantinya dengan dilema lain,
y) yang diharapkan lebih ramah secara lingkungan (sebuah bualan usang). Untuk mengarahkan dengan benar masalah lingkungan global lainnya -- penggundulan hutan tropis dan perubahan iklim, misalnya -- mungkin membutuhkan perubahan dimensi sejarah, yang melibatkan jutaan atau bahkan ratusan juta pelaku dan menimbulkan persoalan keadilan yang pelik di negara atau antar-negara.97Manajemen lingkungan yang resmi dan terpusat telah gagal di tingkat nasional di sebagian besar negara berkembang. Kosta Rika adalah satu contoh yang jelas karena ia sering disebut sebagai model negera berkembang yang mampu mengatur dan melindungi hutannya dan sumber alam lain dalam proporsi yang lebih luas dibandingkan dengan Amerika Serikat. Kosta Rika berhasil di tingkat asistensi lingkungan internasional yang lebih intens daripada hampir semua negara lainnya, melalui LSM yang berorientasi proyek seperti the World Wildlife Fund dan lembaga-lembaga bilateral maupun multilateral lainnya. Dan Kosta Rika merupakan sasaran dari salah satu pinjaman "utang-untuk-bumi" yang besar.
z) Sesungguhnya, secara parsial dikarenakan perhatian internasional ini, sebuah birokrasi lingkungan yang besar sekali telah berkembang pesat di Kosta Rika selama 15 tahun lalu. Sebuah studi tahun 1988 mengidentifikasi 27 seksi, divisi, unit, kelompok, lembaga, utusan, dan kantor, yang sering bekerja dengan tujuan yang berganti-ganti dan hampir tidak pernah melakukan kerja sama satu dengan lainnya. Unsur-unsur itu memikul tanggung jawab berupa penerapan satu aspek kebijakan lingkungan atau lebih."98 Kosta Rika mempunyai lebih dari 1.500 aturan dan kebijakan lingkungan yang masih berlaku. Banyak di antaranya saling tidak cocok satu dengan lainnya,99 sesuatu yang tidak menjadi masalah tampaknya, bila beberapa aturan ditegakkan.Namun beberapa tahun belakangan ini, Kosta Rika juga tergolong tinggi dalam penggundulan hutan dibandingkan dengan negara lain. Penggundulan hutan rata-rata 4 persen per tahun pada dekade 1980-an.
100 Menjelang tahun 1985, 25 persen cagar alam yang dilindungi secara resmi telah dihapus, dan banyak taman nasional yang terkenal di negara itu terancam keberadaannya atau sebagian di antaranya sudah tidak difungsikan sebagai hutan lagi.101 Sebagian besar penggundulan hutanaa) terus berlangsung melalui sebuah siklus: dimulai dengan penebangan, diikuti dengan penggarapan tanah hutan selama tiga atau lima tahun oleh petani-petani tak bertanah, dan akhirnya dijadikan padang rumput penggembalaan. Penyebab yang lebih parah bersifat struktural yang sesudah solusi UNCED berupa kebijakan manajemen lingkungan global, seperti konvensi keanekaragaman hayati dan meningkatnya bantuan bagi proyek-proyek lingkungan, yang sama sekali tidak mampu diselesaikan. Akibatnya munculah sistem penggunaan tanah yang tidak adil, pertumbuhan penduduk 2,7 persen per tahun, krisis ekonomi yang menyedihkan, penurunan devisa dari ekspor komoditi, dan kenaikan beban utang luar-negeri.Menjelang pertengahan 1980-an, Kosta Rika telah mempunyai utang luar negeri per kapita yang tertinggi di antara negera-negara berkembang, yaiut 1.500 dolar AS untuk setiap penduduk. Empat puluh persen dari pendapatan devisa Kosta Rika digunakan untuk melunasi utang tersebut, dan tiga per empat dari seluruh utang yang baru habis untuk membayar utang.
102 Kosta Rika diwajibkan untuk mengikuti syarat-ayarat progam penyesuaian struktural Bank Dunia-IMF. Akibatnya, pemerintah negara itu terpaksa melakukan pemotongan anggaran yang tidak proporsional bagi Jawatan Taman Nasional dan Direktorat Kehutanan dan menekan rakyat miskin dan tak bertanah untuk direlokasi ke lahan-lahan di hutan dan daerah-daerah yang termasuk cagar alam.103 Memang ada alasan yang masuk akal bahwa dampak buruk lingkungan dari progam penyesuaian Bank Dunia jauh lebih besar dibandingkan dengan keuntungan lingkungan marginal yang diperoleh negara itu dari bantuan beberapa juta dolar untuk proyek lingkungan yang mungkin diterima melalui GEF.Jadi, proyek manajemen lingkungan global saja tidak mungkin berhasil, bila berbagai negara-bangsa dan lembaga multilateral tetap mempraktikkan sistem politik internasional seperti sekarang.
bb) "Dalam globalisasi yang makin cepat," sosiolog Anthony Giddens melihat, "negara-bangsa menjadi ‘terlalu kecil untuk menghadapi problem kehidupan yang demikian besar. Namun ia juga menjadi terlalu besar untuk menghadapi problem kehidupan yang kecil.’"104 Berbagai organisasi internasional mencerminkan sistem pembagi terendah di antara negara-bangsa. Dan, organisasi internasional sering kali malah mencerminkan sebuah mimpi buruk Weberian tentang kebiasaan birokratis yang tidak dapat diketahui penyebabnya. Sebagian besar aturan lingkungan internasional tidak ditegakkan dan mustahil dapat ditegakkan. Negara-bangsa dan organisasi internasional tampak semakin kesulitan untuk menyingkap rahasia sistem ekologi dan ekonomi yang ruwet dan luas, yang geraknya dapat berubah secara radikal hanya karena peristiwa yang tidak penting secara statistik. Dan organisasi-organisasi sering kali kekurangan daya dukung dan keluwesan ketika menghadapi heterogenitas dan sifat suka berubah-ubah dari ekosistem lokal, pengetahuan lokal, dan komunitas lokal – atau sama saja dengan tidak mampu menghadapi realitas yang sebenarnya.Akhirnya, negara-bangsa dan organisasi multilateral, ketika bertindak efektif, cenderung untuk mencari solusi teknologi bagi masalah yang justru disebabkan oleh pengejaran kemajuan teknologi yang membabi-buta. Dan itulah sebuah pendekatan yang membuat keadaan menjadi lebih buruk. Seperti dikatakan Havel, "secara keseluruhan, krisis masyarakat teknologis dewasa ini mirip dengan krisis yang dilukiskan Heidegger sebagai tindakan bodoh manusia ketika mengetahui keampuhan teknologi."
105|
____________
Catatan:
|
![]()