6

Sang Kaisar Yang Tak Berbaju

Bila sudah sepenuhnya terbentuk, birokrasi akan menjadi struktur yang paling merusak di antara struktur sosial lain.1

-- Max Weber

Di lapangan, semua janji Bank Dunia, semua janji tertulis, tidak pernah terpenuhi. Pendek kata, semua itu omong kosong belaka. Bahkan, Bank Dunia tidak pernah berusaha mewujudkan cita-citanya.2

-- James Scheuer, Anggota Majelis Rendah, 1989 

 Janji Barber Conable untuk menghijaukan Bank Dunia menimbulkan harapan besar. Untuk kali pertama Bank Dunia mulai membiayai sejumlah pinjaman yang dinamakan pinjaman siaga (free-standing loan) untuk program lingkungan:a) Proyek perlindungan dan penelitian lingkungan nasional senilai 117 juta dolar AS, contohnya untuk memperkuat badan-badan lingkungan Brasil dan proyek manajemen lingkungan nasional senilai 18 juta dolar AS untuk Polandia.3 Memang, sampai tahun 1989 Conable dapat menyatakan bahwa lebih dari sepertiga proyek-proyek Bank Dunia memiliki "unsur lingkungan yang signifikan", yang oleh literatur Bank Dunia proporsinya dinyatakan naik hingga 50 persen pada tahun berikutnya.4

Akan tetapi banyak di antara proyek-proyek yang saat ini mengandung "unsur lingkungan" tersebut menyebabkan kerusakan lingkungan yang begitu parah, sehingga Bank Dunia terpaksa mengambil beberapa langkah untuk memperbaikinya. Namun sayang, langkah tersebut tidak efektif dan pelaksanaannya buruk.

Sudah terlihat jelas kegagalan-kegagalan pada dasawarsa lalu, seperti pada program Polonoroeste dan transmigrasi di Indonesia, dan ternyata justru menjadi pelopor perusakan lingkungan. Pasalnya, kedua program itu merupakan program-program pertama Bank Dunia untuk mencoba langkah-langkah perbaikan lingkungan. Memang, sejak tahun 1990-an awal sudah tampak secara gamblang bahwa banyak proyek baru serta proyek yang sedang berjalan telah menyebabkan kerusakan lingkungan dan sosial yang tidak manusiawi, meskipun Bank Dunia menambah cukup banyak staf lingkungan dan kebijakan lingkungan yang baru. Walaupun sejumlah kecil pinjaman siaga untuk proyek lingkungan dilakukan sesuai dengan rancangan, jika diamati secara lebih cermat, banyak proyek lingkungan lainnya berubah menjadi proyek pembukaan hutan dan pertanian yang berorientasi pada peningkatan produksi. Proyek-proyek yang demikian di tengah-tengah persiapannya "dibaptis" sebagai "proyek manajemen sumber daya alam".

Di bawah misi mulia yang menurut para bankir adalah untuk kaum miskin, dan dengan baju baru berlabel "ramah lingkungan", Bank Dunia terus melakukan kebiasaannya: mengucurkan uang yang jumlahnya makin besar ke badan-badan pemerintah negara-negara sedang berkembang untuk proyek-proyek padat modal berorientasi ekspor. Salah satu inovasi nyata yang khas tahun 1980-an terus berlanjut: pinjaman besar dengan status cepat cair untuk mempercepat proses integrasi negara-negara peminjam ke dalam pasar global. Dengan demikian, negara-negara peminjam itu dapat memperoleh devisa yang semakin besar, yang diperlukan untuk mencicil utang-utangnya.

Tanda-tanda bahwa baju baru Sang Kaisar hanyalah merupakan polesan hijau mulai tampak pada September tahun 1989 ketika pertemuan tahunan Bank Dunia untuk yang ke empat kalinya diiringi pertemuan tandingan LSM-LSM dari seluruh dunia. Selama pertemuan tandingan itu, wakil-wakil LSM melakukan dengar pendapat khusus dengan Kaukus Hak Asasi Manusia Kongres Amerika Serikat. Dalam dengar pendapat itulah ditentukan sikap dan pendirian baru mengenai pelanggaran Bank Dunia terhadap kebijakan lingkungannnya sendiri dan terhadap standar hak-hak asasi manusia secara internasional.5

Salah satu contoh pelanggaran tersebut adalah pembangunan Bendungan Kedung Ombo di Jawa Tengah yang dibiayai dengan pinjaman Bank Dunia sebesar 156 juta dolar AS pada tahun 1985. Meskipun Bank Dunia menyatakan keluar dari urusan pengembangan transmigrasi Indonesia, toh proyek Kedung Ombo tetap merupakan salah satu di antara beberapa pembangunan bendungan yang dibiayai badan dunia tersebut. Pada proyek-proyek pembangunan bendungan itu, ribuan orang dipaksa pindah ke lokasi-lokasi transmigrasi.b) Kepada 20.000 penduduk desa yang bertani di sekitar lokasi bendungan, pemerintah Indonesia menyatakan bahwa satu-satunya alternatif dari transmigrasi adalah ganti rugi uang senilai sepersepuluh harga tanah di pasar di Jawa Tengah. Jeleknya, penduduk desa itu ditakut-takuti akan dipenjara. Sementara yang lainnya ditekan dengan ancaman, jika tidak mau bertransmigrasi maka kartu tanda penduduk (KTP) mereka akan dicap dengan kode ET, yang berarti eks tapol, bekas tahanan politik.6

Pada bulan Juni 1987, satu bulan setelah reformasi lingkungan Conable dicanangkan di Washington, enam penduduk Kedung Ombo pergi ke Jakarta untuk meminta pembelaan pada Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Lembaga bantuan hukum itu kemudian menyurati kantor Bank Dunia di Jakarta, menuntut agar Bank Dunia segera melakukan tindakan. Akan tetapi Bank Dunia mengabaikan surat tersebut, begitu juga dengan laporan-laporan pers Indonesia dan peringatan-peringatan seorang konsultan yang dikirimnya ke lokasi bendungan tersebut pada bulan Juni tahun 1988.

Pada tanggal 16 Januari tahun 1989, Bendungan Kedung Ombo mulai diisi air. Dan, terjadi pemandangan yang nyaris mirip Dantesque. Lebih dari 5.000 penduduk masih bertahan. Banyak yang bertahan di atas atap rumah-rumah mereka, berpegangan pada pepohonan, atau menunggu perahu yang menjemput dan membawa mereka ke tempat-tempat perlindungan di tepian bendungan. Sementara itu air bendungan makin tinggi. Kepada media massa setempat, mereka mengatakan akan tetap bertahan walaupun air semakin tinggi. Hal itu merupakan protes tanpa kekerasan penduduk terhadap pemerintah Indonesia dan Bank Dunia.

Mahasiswa dari pelbagai universitas di seluruh Jawa pun turun jalan dan memprotes kasus Kedung Ombo. Mereka mengadakan rapat-rapat umum di beberapa kota dan di dekat lokasi bendungan untuk mendukung aksi para penduduk desa-desa yang menjadi korban pembangunan bendungan tersebut. Militer mengelilingi wilayah itu dan mengawasi dengan ketat jalan masuk ke lokasi bendungan, memeriksa setiap orang luar, terutama wartawan. Ketika "danau baru" itu makin melebar, Bank Dunia menyatakan kepada kelompok pemerhati hak-hak asasi manusia dan lingkungan bahwa mereka sedang menekan pemerintah Indonesia untuk menyiapkan semacam rencana pemukiman di wilayah itu bagi mereka yang masih bertahan.7 Satu setengah tahun kemudian, 600 keluarga masih bertahan di sekitar lokasi bendungan dan daerah cadangan air, dan masih menuntut ganti rugi yang wajar.c)

Kesaksian wakil-wakil LSM di hadapan Kaukus Hak Asasi Manusia membuktikan kebenaran kasus-kasus lainnya. Proyek Hidroelektrik Regional Ruzizi II di Zaire dan Rwanda, salah satu wilayah termiskin di Afrika, telah mengakibatkan lebih dari 2.500 orang kehilangan tanah pertanian, dan mereka tidak menerima ganti rugi. Wakil-wakil LSM itu juga menyebutkan perlawanan yang tumbuh terhadap pembangunan Bendungan Sardar Sarovar di India yang dibiayai Bank Dunia.

Lebih dari proyek lainnya, proyek pembangunan Sardar Sarovar menunjukkan bahwa Bank Dunia memang belum berubah. Menjelang tahun 1989, penduduk lembah Sungai Narmada dan pelbagai tempat lainnya di India selama bertahun-tahun telah dininabobokkan oleh janji-janji pemerintah India dan Bank Dunia, yang telah gagal mewujudkan program lingkungan yang penting. Bahkan, sebuah program pemukiman telah memindahkan 90.000 penduduk miskin di pedesaan karena pembangunan cadangan air sepanjang 120 mil untuk bendungan itu. Sebagian besar penduduk yang terkena proyek tersebut adalah masyarakat adat, yang direndahkan dalam sistem kasta Hindu.

Para kepala kampung dan pemimpin desa mereka bersumpah lebih baik mati di kampung halaman mereka daripada pindah. Kaum miskin dan tak berdaya dari lembah Sungai Narmada menemukan seorang pemimpin dan pembela yang bersemangat bagi perkara mereka di Medha Patkar, seorang orator dan organisator yang berapi-api di kalangan pemangku masyarakat adat itu. Pada tahun 1989, Narmada Bachao Andalan (Gerakan Penyelamatan Narmada) diikuti oleh salah satu orang suci India, Baba Amte. Dia seorang tokoh karismatik berusia 70-an tahun yang mendirikan dan mengelola sebuah rumah sakit lepra bagi orang-orang miskin di negara bagian Bengal. Baba Amte pergi ke lembah Sungai Narmada dan dengan bersahaja mengatakan bahwa dia lebih baik mati di tepi sungai itu daripada pindah.

Hanya sepuluh hari sebelum dengar pendapat di Kaukus Hak Asasi Manusia, tepatnya tanggal 18 September 1989, 50.000 penduduk desa dan aktivis dari seluruh India berkumpul untuk melakukan protes di kota Harsud di lembah Sungai Narmada di negara bagian Madhya Pradesh. Harsud adalah sebuah kota kecil berpenduduk lebih dari 23.000 orang, yang direncanakan akan ditenggelamkan oleh pembangunan bendungan yang dibiayai Bank Dunia dalam Rencana Pembangunan Narmada -- Narmada Sagar Project. Semua proyek tersebut akan memindahkan 110.000 orang, selain 90.000 orang dari Sardar Sarvour. Medha Pathkar dan Baba Amte berbicara pada sebuah rapat akbar, dan kemudian seorang perempuan keriput yang masih bersemangat dari Rajashtan, Srinata Swaminadhan, mengatakan:

Saya datang dari Rajashtan sepenuhnya untuk mengatakan sesuatu kepada kalian. Mereka juga yang telah membangun bendungan di Rajashtan. Di sana mereka juga menjanjikan segala macam hal -- tanah diganti tanah, ganti rugi yang besar, dan segalanya. Maka rakyat pun patuh, menyerahkan segala yang mereka miliki. Tahukah kalian berada di mana rakyat itu sekarang? Kini mereka mengais-ngais di sekitar timbunan sampah kota-kota besar, berharap dapat memperoleh sebutir makanan untuk mengisi perut mereka yang lapar. Percayalah kepada saya, karena saya bekerja bersama orang-orang yang demikian. Itulah mengapa saya datang ke sini untuk mengatakan kepada kalian, jangan percaya kepada pemerintah. Jangan dengarkan janji-janji mereka. Yang terpenting, jangan biarkan air bendungan ini naik dan meluap hingga mengeluarkan kalian dari rumah-rumah kalian. Katakan kepada saya, akankah bendungan ini dibangun.

Lalu terdengar sahutan ribuan orang yang menggetarkan bumi, "Nahin, kabhi nahin (Tidak, tidak akan pernah)."8

Pada saat itu memang tampak sebuah kekontrasan yang aneh. Pejabat-pejabat tertinggi Bank Dunia telah sering kali mengakui "ketidakberdayaan" mereka sewaktu mendukung proyek-proyek seperti Narmada, dengan menyatakan "pembangunan tidak bisa dihentikan, hanya bisa diarahkan" dan Bank Dunia "harus menjadi bagian dari peristiwa yang demikian". Dan setengah tahun setelah Bank Dunia memoles dirinya dengan warna hijau, sehingga tampak ramah lingkungan, ribuan orang miskin di bumi yang diproyeksikan akan mendapat keuntungan dari kucuran pinjamannya malah benar-benar berniat mati sebagai bentuk penolakan mereka.

Rapat akbar Harsud merupakan titik yang menentukan sejarah. Rapat itu bukan hanya protes terhadap pembangunan Bendungan Narmada, melainkan juga "rapat akbar nasional menentang pembangunan yang merusak" sekaligus awal dari kampanye nasional gerakan lingkungan yang menjamur di India menentang pembangunan berskala besar, padat modal, dan boros secara ekonomi, yang tidak tepat dan tidak cocok untuk kondisi India. Rapat akbar tersebut dipenuhi oleh orang-orang yang terusir dari Singrauli, Subernarekha, dan banyak lagi daerah lain yang terkena bencana pembangunan yang dibiayai Bank Dunia. Hadir juga para aktivis dan pemimpin masyarakat adat dan kaum miskin yang sedang berjuang mempertahankan basis ekologis yang menjadi sumber penghidupan seluruh India. Di antaranya adalah Sunderlal Bahuguna, salah seorang tokoh terkenal gerakan Chipko di Himalaya, yang telah berjuang sejak tahun 1970-an ketika kaum perempuan masyarakat adat membentuk rantai manusia mengelilingi pepohonan untuk menghalangi para penebang kayu yang secara ilegal hendak membabati hutan adat.

Pada bulan Oktober 1989, Medha Patkar dan Garesh Patel, pengacara hak-hak asasi manusia yang mewakili penduduk Desa Narmada, mengadakan perjalanan ke Washington untuk memberikan kesaksian dalam dengar pendapat Kongres Amerika Serikat. Kali ini secara eksklusif dengar pendapat itu difokuskan pada kelanjutan skandal Sardar Sarovar. Dengar pendapat tersebut diadakan oleh anggota Majelis Rendah James Scheuer, Ketua Subkomisi Majelis Rendah untuk Penelitian Pertanian, Lingkungan, dan Sumber Daya Alam. Scheuer, seorang Demokrat dari Queens, adalah mantan kolega Conable di Kongres, dan ikut dalam dengar pendapat khusus pada tahun 1984 ketika Jose Lutzenberger membuktikan kerusakan yang disebabkan oleh proyek pembangunan Polonoroeste.

Patkar, Patel, dan Lori Udall dari Environmental Defense Fund mengungkapkan bahwa sejak permulaan proyek itu, Bank Dunia telah mengabaikan syarat-syarat pinjaman dan kebijakan-kebijakan lingkungannya sendiri serta kebijakan-kebijakan pemerintah India. Pada tahun 1985, Departemen Lingkungan dan Kehutanan India menolak memberikan izin untuk proyek Sardar Sarovar karena delapan penelitian lingkungan dan sosial -- yang berhubungan dengan persoalan kebutuhan penanaman hutan di sekitar daerah cadangan air, persoalan kesehatan publik, dan pemukiman – ternyata belum pernah diselesaikan. Padahal, Bank Dunia telah bernegosiasi dan menyetujui pinjaman-pinjaman tersebut. Segera sesudah pinjaman itu disetujui, pelbagai kelompok yang berkepentingan dengan masalah pertanian di negara bagian Gujarat dan akhirnya Perdana Menteri Rajiv Gandhi secara politis menekan Departemen Lingkungan dan Hutan India untuk memberikan "izin sementara" yang memperbolehkan pembangunan diteruskan meskipun penelitian-penelitiannya belum disiapkan. Sampai dengan tahun 1989, ketika pembangunan bendungan telah berjalan sepertiganya, penelitian itu masih belum selesai.d)

Kebijakan Bank Dunia mengenai pemukiman mensyaratkan badan dunia tersebut untuk memastikan agar rencana pemindahan dan rehabilitasi ekonomi menyeluruh, yang diterima oleh penduduk yang akan dipindahkan, telah disiapkan sebelum pinjaman disetujui. Akan tetapi ternyata tidak ada rencana pemindahan pemukiman ketika Bank Dunia menyetujui proyek Sardar Sarovar, dan rencana itu masih juga belum disusun setelah Barber Conable menyampaikan pidato lingkungan pada tahun 1987. Sementara itu, Bank Dunia melanjutkan pengucuran dana proyek tersebut. Antara bulan November 1988 dan Oktober 1989, Bank Dunia menetapkan beberapa deadline untuk mengatasi persoalan pemukiman dan lingkungan -- dengan persyaratan yang lebih ringan -- dan semuanya dilakukan dengan mengabaikan tolok ukur yang disyaratkan. Dan Bank Dunia terus mengucurkan uang untuk proyek tersebut.

Melihat semua bukti yang dikemukakan oleh wakil-wakil masyarakat dari India itu, Scheuer dikejutkan oleh catatan mengenai berlanjutnya pelanggaran hak asasi manusia, pelanggaran yang mencolok atas kebijakan-kebijakan lingkungan dan syarat-syarat pinjaman Bank Dunia, pemborosan biaya, dan perkiraan biaya yang terus-menerus membengkak. Dia bersama tujuh wakil dan senator Amerika Serikat lainnya kemudian menyurati Bank Dunia, meminta lembaga itu untuk mempertimbangkan kembali keterlibatannya.

Medha Patkar dan Garish Patel kemudian kembali ke India. Pada tahun 1989, di Bhopal, mereka bertemu dengan sejumlah aktivis lingkungan dan sosial dari seluruh India untuk membentuk gerakan yang menentang dan melawan proyek-proyek pembangunan yang merusak, yaitu Jan Vikas Andolan. Para pendirinya menyatakan:

Gerakan ini menentang paradigma pembangunan yang dipraktikkan di India pascakemerdekaan yang menguntungkan segelintir elite dan merugikan sejumlah besar penduduk yang dipinggirkan, terusir, dan dimiskinkan, serta mengakibatkan degradasi dan penjarahan berskala besar terhadap basis sumber daya alam kita. Gerakan ini tidak menentang pembangunan. Gerakan ini tetap berpendapat bahwa banyak di antara apa yang saat ini berjalan atas nama pembangunan bukanlah pembangunan yang asli, melainkan kekacauan sosial, biologis, penyeragaman genetis, dan perusakan lingkungan. Tuntutan Andolan adalah pembangunan yang nyata, yang bukan hanya menolak usaha-usaha memacu pertumbuhan yang tinggi tanpa memperhatikan kerugian pada manusia dan lingkungannya, melainkan juga pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar manusia dan penciptaan kondisi kehidupan yang adil dan manusiawi bagi seluruh penduduk.9

Keburukan Istana Kristal: Bank Dunia dan Modernitas Akhir

Para pejabat senior Bank Dunia tetap berpendapat bahwa masalah-masalah yang tidak ada henti-hentinya pada proyek-proyek seperti Sardar Sarovar dan Kedung Ombo bersifat "historis" (misalnya, berakar pada proyek-proyek yang dirancang dan disetujui beberapa tahun sebelum adanya kesadaran lingkungan pada Bank Dunia) atau "bersifat anekdot", dan tidak secara akurat mencerminkan sosok Bank Dunia secara keseluruhan. Akan tetapi para ahli lingkungan menggolongkan retorika Bank Dunia itu sebagai "Green Speak", suatu dialek Orwellian baru yang "membaptis" perusakan lingkungan dengan nama "manajemen sumber daya alam yang berkelanjutan".

Pengadaan pinjaman Bank Dunia yang cacat merupakan sebuah mikrokosmos dari krisis ekologis dan politis yang lebih besar. Krisis itu pada kenyataannya adalah krisis yang mendunia, yang berkaitan dengan ekspansi pola pembangunan global tunggal yang didasarkan pada ekonomi pasar. Pola-pola pembangunan saat ini memberikan tekanan-tekanan yang semakin tidak mampu didukung ekosistem lokal dan global. Ancaman-ancaman tersebut termasuk pemusnahan secara terus-menerus terhadap setengah dari jenis mahluk hidup di bumi ini melalui perusakan hutan tropis, proses pemerosotan alam, dan pemanasan global. Aspek politis dari krisis itu, yang menyebabkan penumpukan dilema ekologis, diakibatkan oleh pemujaan pembangunan ekonomi dan teknologi sebagai tuhan-tuhan sekuler, yang mengabaikan kebutuhan pertanggungjawaban, partisipasi demokratis, dan pengaruh masyarakat sipil. Inti dari keadaan politik yang sulit ini adalah ketidakmampuan birokrasi-birokrasi terpusat seperti Bank Dunia untuk mendamaikan kepentingan "rasionalitas kelembagaan" dengan tekanan politis eksternal dan dengan kebutuhan-kebutuhan ekologis dan sosial.

Rasionalitas kelembagaan yang dibicarakan adalah rasionalitas kelembagaan modernitas birokratis yang pertama kali digambarkan oleh Max Weber. Rasionalitas kelembagaan itu ditandai oleh dominannya pertimbangan instrumental serta memperlakukan unsur-unsur alam dan masyarakat sebagai objek manajemen dan administrasi sebuah birokrasi. Keterpisahan para pembuat keputusan dari akibat-akibat langsung tindakan mereka dan penggantian rasionalitas teknis dan kebenaran prosedural bagi tanggung jawab moral adalah ciri-ciri lainnya.

Inilah dunia -- dunia kita – yang telah mencapai kemajuan-kemajuan besar dalam organisasi alat-alat teknis yang ternyata telah sedemikian jauh menggeser cita-cita semula. Dunia yang demikian telah mendefinisikan cita-citanya dengan buruk sehingga cita-cita itu kehilangan makna. Perkembangan bidang kegiatan manusia yang terpecah semakin banyak, mengalami proses rasionalisasi yang demikian kuat, tetapi semakin kontras dengan meningkatnya kegiatan-kegiatan irasional. Belum lagi soal kekerasan dan hal-hal lain yang bersifat merusak akibat menumpuknya persoalan sosial dan ekologis kegiatan-kegiatan tersebut.

Jika usaha-usaha perbaikan lingkungan Bank Dunia pada akhir tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an diamati dengan lebih cermat, akan didapatkan sebuah studi kasus yang lebih jelas bagi permasalahan itu. Kegagalan perbaikan lingkungan Bank Dunia disebabkan oleh kontradiksi kelembagaan yang bersifat menyeluruh dan berakar, yang tidak terbatas pada kesalahan individual. Dalam banyak hal, kebingungan kebijakan lingkungan Bank Dunia merupakan sebuah perjalanan modernitas yang sedang memasuki schizophrenia politik dan budaya.

Pertama kita akan melihat tiga bidang dari kepentingan yang kritis: kesulitan-kesulitan Bank Dunia yang berlanjut sehubungan dengan pemukiman penduduk secara paksa akibat dijalankannya proyek-proyek pembangunan, baik di sektor kehutanan maupun sektor energi. Kebijakan Bank Dunia mengenai pemukiman penduduk adalah kebijakan lingkungan dan sosial yang paling usang, yang secara resmi dinyatakan oleh Bank Dunia jumlahnya mencapai 12 kebijakan hingga tahun 1992.e) Pinjaman kehutanan yang meningkat merupakan program berhiaskan reformasi lingkungan ala Conable yang mencolok, yang menandai proyek-proyek baru untuk melindungi lingkungan, sementara energi selama ini terus menjadi salah satu dari dua bidang pinjaman yang paling besar dari Bank Dunia. Kita kemudian akan beralih pada kemampuan Bank Dunia untuk belajar dari pengalaman masa lalu – yang dilembagakan dalam Operations Evaluation Department (OED) -- dan akhirnya pada peran barunya sebagai pusat gudang dana-dana lingkungan internasional melalui pendirian Global Environment Facility (GEF) pada tahun 1990.

Orang-orang Tak Berguna

Sebagian besar dari sejarah pembangunan ekonomi Barat juga merupakan sejarah produksi massal orang-orang tak berguna yang sangat berperan menciptakan kelas kaum miskin baru. Kaum miskin itu tercerabut dari setiap hubungan tradisional dengan tanah dan komunitas lokal. Rasionalisasi dan administrasi yang didorong mekanisme pasar di seluruh permukaan bumi dan pemanfaatan sumber daya alam untuk produksi ekonomi ternyata berakibat brutal. Pencerabutan dan perampasan hak milik penduduk desa secara besar-besaran dari budaya produksi yang dianggap kurang efisien. Pemagaran besar-besaran pada abad ke-17 dan ke-18 di Inggris adalah contoh awal dari proses ini pada skala nasional. Akan tetapi 30 tahun lalu proses tersebut dipercepat dengan intensitas yang sangat dahsyat.

Di Brasil, usaha-usaha yang direncanakan pemerintah untuk memodernisasi dan merasionalisasi pertanian berskala kecil yang memproduksi makanan untuk konsumsi domestik dilaksanakan dengan cara menerapkan pertanian bermesin yang berorientasi ekspor dan padat modal. Pergeseran itu ditujukan untuk memperbesar penerimaan devisa, yang akhirnya justru mengakibatkan tercerabutnya 28,4 juta penduduk selama tahun 1960-an sampai tahun 1980-an. Angka itu merupakan sebuah jumlah yang lebih besar dibandingkan dengan jumlah seluruh penduduk Argentina.10 Di India, proyek-proyek pembangunan berskala besar telah memindahkan secara paksa lebih dari 20 juta orang selama 40 tahun terakhir.11

Meskipun pertambahan penduduk dan kemiskinan sering disalahkan sebagai penyebab semakin banyaknya penduduk yang tercerabut di negara-negara sedang berkembang, toh banyak negara tetap mempraktikkan pembangunan ekonomi seperti itu sebagai salah satu cara untuk mengatasi kemiskinan. Analisis rahasia Bank Dunia pada tahun 1990 dengan tepat menggambarkan fenomena di Brasil:

Titik sentral yang harus dibuat di sini adalah meningkatkan kapitalisasi produksi pertanian dengan mengurangi ruang fisik dan sosial yang tersedia bagi produsen-produsen skala kecil dari semua tipe di Brasil tengah selatan.

Analis mengenai migrasi ke luar pedalaman yang luas selama beberapa dasawarsa lalu, menunjukkan bahwa fenomena ini bukanlah tanggapan terhadap tingkat kemiskinan relatif di pelbagai wilayah Brasil, karena fenomena ini merupakan cerminan dari pemilihan waktu dan irama modernisasi pertanian. Dalam hubungan ini, cukup signifikan untuk mengatakan bahwa pemindahan penduduk desa pada tahun 1970-an merupakan kejadian pertama kali dan paling intensif di wilayah-wilayah Sao Paulo yang lebih maju, seperti Parana dan Rio Grande do Soul, di mana teknologi pertanian modern paling merata.12 (Cetak miring merupakan tambahan dari penulis)

Tidak seimbangnya jumlah "pengungsi pembangunan" itu, demikian istilah yang diberikan oleh seorang ahli antropologi, Thayer Scudder, berasal dari orang-orang yang terpinggirkan dari bumi ini: kelompok-kelompok masyarakat adat, harijans (lapisan masyarakat yang tidak masuk dalam kasta Hindu) di India yang tidak memiliki tanah dan rumah -- mereka semakin dikesampingkan dari arus utama ekonomi pasar modern. Pandangan Jacques Attali mengenai sebuah planet yang dibanjiri gerombolan-gerombolan pengembara global bukan sekadar mimpi buruk, melainkan juga salah satu akibat yang mungkin terjadi dari proyek historis pembangunan Barat.

Bank Dunia tidak menyatakan bahwa pemindahan paksa jutaan kaum termiskin dan orang-orang paling terpinggirkan di bumi adalah akibat dari corak pembangunannya, walaupun masalah itu telah menjadi subyek perhatian lembaga keuangan tersebut selama bertahun-tahun. Kapasitas dan kemauan Bank Dunia untuk memaksakan kebijakan pemindahan penduduk menjadi inti dan misi pembangunan yang menurut lembaga keuangan itu adalah "untuk membantu kaum miskin". Kebijakan pemindahan penduduk merupakan pedoman lingkungan pertama yang mengikat secara intern, yang dikeluarkan pada tahun 1980, dan dipertegas pada tahun 1986 dan 1990. Intinya, seperti disebutkan di atas, adalah minimnya kesopanan manusia -- secara sederhana, pemerintah-pemerintah peminjam mempersiapkan dan melaksanakan rencana-rencana rehabilitasi yang tepat waktu bagi penduduk yang dipindahkan oleh proyek-proyek yang dibiayai Bank Dunia agar paling tidak keadaan mereka tidak lebih buruk dari sebelumnya.

Akan tetapi sampai bulan September tahun 1989, ketika Kaukus Hak Asasi Manusia Kongres Amerika Serikat mengadakan dengar pendapat mengenai permasalahan tersebut, Bank Dunia dan para pakar terkemuka tidak dapat menunjukkan satu proyek saja yang berjangka panjang dan berhasil merehabilitasi kelompok-kelompok yang terusir.13 Dengar pendapat itu mengungkapkan bahwa 1,5 juta orang sedang dipindahkan oleh proyek-proyek Bank Dunia yang sedang berjalan, dan 1,5 juta orang lainnya terancam oleh proyek-proyek serupa yang sedang dalam persiapan. Memang, selama lebih dari satu dasawarsa, laporan-laporan staf internal telah memperingatkan pihak manajemen Bank Dunia bahwa kebijakan itu tidak berhasil dalam pelaksanaannya -- tetapi hanya sedikit membantu.

Sebuah penelitian pada tahun 1986 yang disusun oleh Departemen Pembangunan Pertanian dan Pedesaan Bank Dunia menunjukkan bahwa tiga perempat dari proyek-proyek Bank Dunia yang melibatkan relokasi paksa bahkan tidak mengikutsertakan pakar-pakar pemindahan permukiman dalam kunjungan lapangan mereka.14 Dan jumlah penduduk yang dipindahkan dan dimiskinkan oleh proyek-proyek Bank Dunia terus bertambah (bahkan) setelah reformasi lingkungan Conable pada tahun 1987 menjangkau hampir dua juta orang pada tahun 1990-an awal.

Bahkan, pada sebagian kecil proyek-proyek yang diusahakan staf Bank Dunia agar benar-benar taat pada ketentuan yang sebenarnya, sifat memaksa dalam proses pemindahan penduduk yang secara tradisional terikat pada tanah tempat mereka tinggal membuat kebijakan rehabilitasi menjadi sebuah gagasan yang tidak masuk akal. Tidak seorang pun yang melebihi Thayer Scudder dalam menggambarkan tragedi ini (yang kita ingat, setelah 20 tahun berkonsultasi dengan Bank Dunia dia menjadi pakar terkemuka dunia dalam masalah ini):

Selama periode transisi yang mengikuti relokasi, Anda dapat memperkirakan bahwa angka kematian, (dan) jumlah orang sakit di antara orang-orang yang direlokasi akan naik, terutama kaum lanjut usia, yang sangat terikat pada tanahnya, dan sering juga kaum perempuan dan anak-anak. Ada serangkaian alasan untuk membenarkan hal ini. Ada tekanan psikologis. Anda dapat memecahkannya dalam dua komponen. (Salah satunya adalah) kegelisahan mengenai masa depan -- apa yang akan terjadi padaku? Terutama di tempat yang perencanaan pemerintahannya buruk. Anda telah memberikan sedikit uang, (akan tetapi) itu tidak cukup untuk membeli tanah. Apa yang akan terjadi? Dan ada kesedihan karena kehilangan.

Dan kemudian komponen ketiga adalah apa yang kita sebut tekanan sosial budaya. Ekonomi pangan orang-orang ini terikat pada habitat tertentu, tanah tertentu, dan pengetahuan mengenai sumber-sumber tertentu. Sebagian besar informasi itu tidak akan menjadi baik di masa depan. Di waktu yang sama, kepemimpinan orang-orang itu diruntuhkan. Jika para pemimpin berusaha menentang relokasi, biasanya mereka gagal, (dan) kehilangan kredibilitas. Jika mereka mendukung relokasi, mereka juga akan kehilangan kredibilitas karena sebagian besar penduduk pasti tidak ingin pindah. Sehingga pada saat penduduk berpindah, akhirnya Anda tidak lagi memiliki pemimpin-pemimpin yang baik. Jadi, ada serangkaian tekanan sosial budaya. Anda menempatkan semuanya bersama-sama (dan) ada sebuah sinergisme. Sebuah tekanan multidimensional menjadi sangat berarti.15

Yang pertama kali bertanggung jawab atas keadaan tersebut hampir selalu pemerintah peminjam. Pemerintah sering enggan meminjam uang untuk biaya pemindahan penduduk dan rehabilitasi, dan sebagian besar tampaknya memandang penduduk yang lebih miskin dan secara sosial terpinggirkan dapat dihabisi untuk mengejar keadaan ekonomi nasional yang kuat dan hebat. Terlalu sering badan-badan pemerintah secara aktif berusaha dengan segala cara menyembunyikan program pemindahan permukiman dari proses penilaian Bank Dunia. Ada pula badan-badan pemerintah yang terus-menerus keliru memperkirakan kemajuan mereka dalam mempersiapkan dan melaksanakan rencana pemindahan permukiman. Dan mereka sering menemukan kaki tangan yang liat pada staf Bank Dunia ambisius yang sangat bernafsu untuk meneruskan proyek.

Pada kasus lain, ketika pemerintah menyetujui rencana pemindahan permukiman dan meminjam uang, badan-badan pemerintah setempat malah melakukan penyalahgunaan wewenang dan korupsi. Dana pinjaman untuk pemindahan permukiman pada proyek Bendungan Itaparica di Brasil pada tahun 1980-an akhir merupakan salah contoh dari kasus yang demikian.

Ketika pembangunan bendungan itu hampir selesai, kita ingat, pada tahun 1986 Bank Dunia memberi pinjaman 500 juta dolar AS kepada perusahaan listrik nasional Brasil, Elektrobras, untuk membiayai penyelesaikan akhir proyek Itaparica dan sejumlah proyek lainnya dalam rencana investasi tenaga listrik jangka panjang Eletrobras, Rencana Pembangunan 2010.f) Beberapa direktur eksekutif Bank Dunia telah meminta agar lembaga keuangan dunia itu memasukkan sebuah syarat eksplisit dalam persyaratan-persyaratan pinjaman untuk memastikan rehabilitasi yang layak terhadap 40.000 orang yang akan dipindahkan. Bank Dunia selanjutnya menyetujui dua pinjaman tambahan senilai 132 juta dolar AS dan 100 juta dolar AS (pada tahun 1987 dan 1990) untuk membiayai program pemindahan permukiman dan rehabilitasi orang-orang yang direlokasi dalam proyek Itaparica. Seperti tertulis dalam evaluasi rahasia Bank Dunia mengenai proyek Itaparica pada tahun 1990, "untuk pertama kalinya dalam proyek-proyek Brasil, orang-orang yang akan dipindah ditawari pilihan tempat tinggal yang komprehensif dan tidak secara otomatis mengakibatkan bencana bagi sebagian besar mereka yang terkena proyek pembangunan".g)16 (Ini bukan karena kewaspadaan awal atau komitmen staf Bank Dunia atau pemerintah Brasil untuk melaksanakan kebijakan pemindahan permukiman pada tahun 1980, melainkan akibat protes-protes yang riuh dan diorganisasikan dengan baik oleh penduduk lokal. Protes-protes itu berlangsung mulai tahun 1979 dan mencapai puncaknya pada aksi duduk ribuan laki-laki, perempuan, dan anak-anak di lokasi bendungan pada tahun 1986 dan 1987).

Relokasi fisik berlangsung secara teratur pada tahun 1987-1988, tetapi sebagian besar dari 40.000 orang itu direlokasikan ke tanah yang mirip gurun sehingga tidak dapat didiami tanpa layanan irigasi dari bendungan -- yang seharusnya dibiayai oleh pinjaman Bank Dunia. Namun dana pinjaman dari Bank Dunia untuk program rehabilitasi ekonomi ternyata tidak pernah tampak, walaupun Bank Dunia mengaku telah mengeluarkan dana untuk program pemindahan permukiman itu sebesar 63.000 dolar AS per keluarga karena adanya pembengkakan biaya sebesar 350 persen.

Orang-orang yang direlokasikan mendapatkan nafkah dari dana kesejahteraan bulanan terendah yang diberikan oleh cabang Eletobras, CHESF (Perusahaan Hidroelektrik Sao Fransisco). Protes-protes pun merebak, seiring dengan bermunculannya masalah-masalah sosial seperti alkoholisme, penyiksaan anak, dan perceraian.17 Dalam keputusasaan, sejumlah keluarga kembali ke lokasi bendungan pada bulan Juni tahun 1991 dan mengadakan aksi duduk memprotes keadaan tersebut. Akan tetapi sebagian besar uang telah lenyap, dan Bank Dunia menunda pembayaran-pembayaran selanjutnya. Satu-satunya cara yang mungkin bisa mendorong pemerintah Brasil agar lebih bertanggung jawab adalah ancaman penundaan pencairan pinjaman Bank Dunia lain yang sedang berjalan terhadap Brasil -- sesuatu yang selama ini hanya menjadi omong kosong belaka.

Namun yang paling menyedihkan adalah nasib 190 keluarga Indian Tuxa, yang selama berabad-abad mata pencahariannya bergantung pada pengolahan pulau seluas 108 hektare yang sangat subur di tengah-tengah Sungai Sao Fransisco, yang pernah banjir akibat adanya Bendungan Itaparica.h) Pulau itu, Ilha de Viuva, menurut laporan evaluasi rahasia Bank Dunia, "mendapat pengairan dari sebuah terowongan air gabungan dan pompa diesel untuk menghasilkan panen yang berlimpah berupa bawang merah, padi, kacang, dan bawang putih, juga pelbagai jenis buah-buahan. Dengan demikian kebutuhan pangan kelompok itu terpenuhi dan dihasilkan surplus perdagangan".18

Program pemindahan permukiman Tuxa mewujudkan deskripsi Thayer Scudder tentang relokasi yang mengakibatkan kerusakan sosial. Pemindahan permukiman telah memperburuk perselisihan politik di antara suku Tuxa, karena membagi kelompok itu pada dua proyek pemindahan permukiman di lokasi yang berbeda. Menurut OED:

Meskipun telah berakulturasi, sistem kepercayaan religius mistis mereka yang kuno namun masih kuat telah menciptakan ikatan yang penting antara penduduk dan tanah mereka. Bila sudah pecah, proses disintegrasi sosial yang meningkat tampaknya bergerak terus…. Pertengkaran intern keluarga dan penyalahgunaan alkohol, yang sebelumnya jarang terjadi pada suku Tuxa, dilaporkan menjadi kejadian sehari-hari.19

Staf Bank Dunia untuk negara Brasil menanggapi kritik dari dalam itu dengan menyatakan,

Suku Tuxa sebenarnya telah menerima banyak sekali perhatian, sumber-sumber dan fasilitas melebihi kelompok-kelompok lain yang terkena proyek pembangunan. Masalah mereka pada dasarnya adalah sama dengan (masalah) masyarakat adat lainnya ditambah kesulitan-kesulitan umum yang mereka alami sebagai warga Indian di bawah jurisdiksi FUNAI (sebuah badan pemerintah Brasil yang mengurusi suku asli Indian).20

Proyek Itaparica mencerminkan apa yang menurut banyak orang adalah kesia-siaan. Program pemindahan permukiman dan rehabilitasi berskala besar dirancang secara birokratis. Daerah permukiman baru yang rusak dan ditinggalkan penduduk tergusur jauh lebih buruk daripada tempat tinggal sebelumnya hampir dalam segala hal -- dengan biaya per keluarga yang tergolong kecil bagi masyarakat Brasil timur laut. Lagi pula, karena pemeriksaan internasional yang sangat cermat, proyek Itaparica menerima perhatian dan sumber-sumber yang lebih banyak dari staf Bank Dunia melebihi hampir semua program pemindahan permukiman lainnya. Laporan penilaian Bank Dunia tahun 1990 mengenai tambahan pinjaman untuk program pemindahan permukiman Itaparica sebesar 100 juta dolar AS memperlihatkan bahwa perhatian yang luar biasa itu diperlukan karena kredibilitas kebijakan pemindahan permukiman Bank Dunia sedang dipertaruhkan.21

Meskipun biayanya sangat besar, OED menyimpulkan bahwa:

rencana pemindahan permukiman Itaparica masih dianggap sebagai cara penyelesaian berbiaya paling kecil untuk melaksanakan program pemindahan permukiman yang menyeluruh terhadap alam ini. Dan rencana itu juga menunjukkan akibat-akibat finansial bila badan-badan pelaksanaan dan pendanaan diminta untuk memenuhi semua kewajiban relokasi terhadap penduduk yang tergusur.22

Pengamatan terakhir ini mungkin merupakan kunci bagi kegagalan kebijakan pemindahan permukiman Bank Dunia: sebagian besar proyek Bank Dunia yang melibatkan relokasi paksa secara ekonomi tidak prospektif jika seluruh biaya pemindahan permukiman dan rehabilitasi ekonomi tidak menjangkau mereka yang tergusur. Pemerintah tidak mau berutang untuk mendanai proyek-proyek seperti itu, karena akan memperburuk kesulitan yang telah membayangi Bank Dunia berupa tidak adanya proyek yang layak dibiayai dan akan meningkatkan net negative transfer negara-negara peminjam yang mencicil utangnya ke Washington.i)

Menyelamatkan Hutan

Semua proyek kehutanan kini sangat berorientasi lingkungan.23

--Bank Dunia, laporan lingkungan tahunan yang pertama, September 1990

Kita telah mengerahkan segenap pikiran terbaik untuk menyelesaikan masalah ini.24

-- Staf Bank Dunia untuk Afrika, Maret 1990

Ketika Conable pada bulan Mei tahun 1987 berjanji Bank dunia akan menjadi lembaga donor lingkungan yang aktif, dia mengumumkan bahwa fokus terpenting dari pinjaman ramah lingkungan Bank Dunia yang baru adalah "program global untuk mendukung konservasi hutan tropis" -- Rencana Aksi Hutan Tropis.25 Untuk tujuan itu, Conable berjanji, Bank Dunia akan menaikkan pinjaman kehutanan selanjutnya hingga tiga kali lipat sejak tahun 1990-an.26

Inilah prioritas yang sangat dibutuhkan dan merupakan tindakan politik yang cerdik. Sampai akhir tahun 1980-an, segala perusakan hutan yang terjadi, menurut banyak ahli lingkungan dan ilmuwan di negara maju, telah menimbulkan krisis lingkungan yang luar biasa di negara-negara sedang berkembang. Dan kerusakan hutan tropis yang disebabkan oleh proyek Polonoroeste dan transmigrasi Indonesia telah menimbulkan malapetaka yang lebih bersifat internasional daripada aktivitas Bank Dunia lainnya.j)

Tropical Forest Action Plan (TFAP) disusun pada pertengahan tahun 1980-an oleh Bank Dunia, FAO, UNDP, dan World Resources Institue (WRI), sebuah think tank untuk kebijakan lingkungan yang berkantor pusat di Washington. TFAP mencoba mengurangi tekanan-tekanan yang menyebabkan penebangan hutan di negara-negara sedang berkembang dengan mengusulkan sumbangan delapan miliar dolar AS dari badan-badan donor multilateral dan bilateral selama periode lima tahun bagi berbagai kegiatan kehutanan dan pertanian. Sumbangan ini termasuk penguatan lembaga-lembaga kehutanan dan lingkungan, pasokan kebutuhan kayu bakar, konservasi daerah-daerah yang dilindungi dan daerah cadangan air yang rawan, serta dukungan bagi manajemen kehutanan untuk penggunaan industri.

Akan tetapi rencana itu sebagian besar dipersiapkan di balik pintu yang tertutup di Washington, New York, dan Roma (markas besar FAO), dengan sedikit masukan dari kelompok-kelompok LSM di negara-negara yang memiliki hutan tropis.k) WRI memainkan peran yang sangat mendua. Lembaga itu memperkenalkan diri sebagai sebuah organisasi semacam LSM dan lembaga penelitian yang independen. Namun, sebagian besar persiapan rencana itu dibiayai melalui uang dari lembaga-lembaga donor, termasuk Bank Dunia, yang mungkin menerima miliaran dolar AS dana tambahan jika Rencana Aksi Hutan Tropis dapat dijual kepada para pembayar pajak di negara-negara industri maju. Waktu mempersiapkan TFAP, WRI bekerja sama dengan Kepala Penasihat Kehutanan Bank Dunia, John Spears, yang mencari muslihat untuk menambah portofolio pinjaman Bank Dunia.

WRI menganggap pendekatan yang diterapkannya benar. WRI menyatakan sedang mengusahakan perubahan internal. Alasan itu merupakan alasan yang sudah lazim bagi think tank Washington -- bahwa penelitian kebijakan yang tampaknya apolitis dapat meyakinkan birokrasi-birokrasi besar seperti Bank Dunia mengenai kesalahan cara-cara mereka. Akan tetapi para pembela lingkungan merasa bahwa pendekatan ini, meskipun maksudnya baik, masih mencerminkan kombinasi kekonyolan dan kenaifan.

Lembaga-lembaga seperti Bank Dunia sering kali telah memiliki banyak informasi mengenai bagaimana seharusnya melakukan perubahan internal, dan sebagian besar informasi itu berasal dari staf-staf lembaga itu sendiri. Masalahnya bukanlah tidak adanya informasi, melainkan tidak adanya insentif untuk mengadakan perubahan tersebut.

Banyak di antara memorandum dan laporan internal yang diedarkan oleh para staf dan konsultan Bank Dunia menghujat catatan lingkungan lembaga keuangan dunia itu. Dan, pada kenyataannya, jauh lebih banyak kritik seperti itu daripada laporan penilaian yang disusun lembaga penelitian yang benar-benar independen, karena khawatir dapat menyinggung perasaan. Beberapa kelompok lingkungan dan think tank pembangunan berusaha agar dampak nyata dan buruk usaha mereka tampak "seimbang" dan "masuk akal" tanpa peduli bencana lingkungan -- dan, Bank Dunia mungkin membiayai kelompok-kelompok itu. Namun, langkah tersebut justru merusak upaya orang-orang Bank Dunia yang telah bertahun-tahun berjuang untuk membuat lembaga itu lebih bertanggung jawab.

Sampai dengan tahun 1986, sejumlah LSM Dunia Ketiga seperti Friends of Earth, Brasil, dan Asia Pasifik Peoples’ Environmental Network (APPEN) yang berkantor di Malaysia telah menyiarkan protes-protes yang menyatakan bahwa Rencana Aksi Hutan Tropis adalah penipuan. Mereka menyatakan rencana itu telah dipersiapkan tanpa konsultasi dan tidak melibatkan LSM-LSM serta komunitas-komunitas lokal di negara-negara yang mempunyai hutan tropis. Lebih buruk lagi, sebagian besar rencana tersebut tampaknya berusaha untuk mempromosikan investasi industri perkayuan tradisional berorientasi ekspor, dan dikemas dengan sedikit komponen lingkungan seperti konservasi dan pengelolaan cadangan air. LSM-LSM Dunia Ketiga merasa sakit hati, terutama karena mereka menduga rencana tersebut menuduh massa "kaum miskin" sebagai pelaku perusakan hutan-hutan tropis, sementara investasi yang berupa eksploitasi hutan demi tujuan ekspor dibaptis dengan nama "proyek kehutanan yang berkelanjutan".

Meski terlambat, WRI berusaha mengatasi kecaman-kecaman tersebut, dan akhirnya memisahkan diri sama sekali dari rencana itu. Namun tindakan tersebut sudah sangat terlambat. Setelah mendapat pengesahan dari Bank Dunia pada tahun 1987, Rencana Aksi Hutan Tropis, di bawah koordinasi FAO, mengumpulkan segala persiapan yang tampaknya tidak dapat dihentikan agar menjadi program bantuan lingkungan yang paling ambisius.

Sampai akhir tahun 1989, 62 negara sedang berkembang telah meminta bantuan sektor kehutanan dengan mengikuti rencana pembangunan tersebut. Sampai dengan tahun 1990, 21 negara telah menyelesaikan tinjauan proyek kehutanan di bawah pengawasan TFAP, dengan Bank Dunia sebagai pelopor atau partisipan utama di antara delapan lembaga donor lainnya. Rencana pembangunan tersebut tampaknya sedang berusaha mengerahkan miliaran dolar AS untuk proyek-proyek kehutanan di setiap negara yang masih memiliki hutan tropis.

Rencana aksi hutan nasional untuk Kamerun yang disiapkan FAO merupakan salah satu contoh yang menampakkan kebangkrutan sisi ekologis TFAP. Tujuan utama rencana tersebut adalah menjadikan Kamerun sebagai pengekspor produk hutan terbesar di Afrika pada abad ke-21. Untuk mengerjakan proyek itu akan dibutuhkan pembukaan hutan tropis asli hampir seluas 14 juta hektare (sama luasnya dengan Florida) di bagian tenggara Kamerun.

Dokumen FAO-TFAP mencermati bahwa untuk jaringan pengangkutan kayu dibutuhkan pembangunan sebuah jalan raya yang tembus sampai ke laut. Semua itu akan memakan biaya ratusan juta dolar AS. Akan tetapi dokumen TFAP hanya menyediakan 4,4 juta dolar AS untuk memenuhi tekanan domestik yang besar terhadap hutan tropis di negara tersebut -- yaitu permintaan kayu bakar. Yang lebih mengejutkan, TFAP menyarankan agar pemerintah Kamerun memberikan insentif dan subsidi pajak khusus untuk mendorong produksi kayu dalam rangka menghadapi persaingan ekspor kayu internasional yang ketat, terutama dari Indonesia.27

Ahli-ahli lingkungan di seluruh dunia begitu ketakutan melihat belenggu "monster Frankenstein" ekologis telah lepas. World Rainforest Movement (koalisi pelbagai LSM, sebagian besar dari Dunia Ketiga, yang berkantor di Malaysia) pada tahun 1990 menyiapkan sebuah penelitian yang mengkritik rencana-rencana TFAP nasional yang sudah selesai dikerjakan di sembilan negara, yaitu Peru, Guyang, Kamerun, Ghana, Tanzania, Papua Nugini, Nepal, Kolombia, dan Filipina. Menurut penelitian tersebut, pada empat kasus investasi kehutanan pertama akan mempercepat laju penebangan hutan karena meningkatnya industri kayu. Tidak ditemukan bukti bahwa investasi itu akan mengurangi penebangan hutan.28

Pangeran Charles di depan publik mengecam dukungan Inggris terhadap TFAP, yang dia katakan sedikit banyak sama saja dengan penebangan pohon-pohon. TFAP tampaknya mewujudkan setiap kesalahan pendekatan top-down, yang merusak sumber daya dan mengabaikan masyarakat. Pendekatan tersebut menjadi faktor utama penyebab kemiskinan selama 20 tahun belakangan ini, yang justru dihasilkan oleh bantuan pembangunan.

Kelompok-kelompok pencinta lingkungan dari seluruh dunia meningkatkan kritik-kritik mereka terhadap TFAP dalam sebuah kampanye yang makin terkoordinasi. Pada tahun 1989, 78 LSM Jerman Barat yang mencakup organisasi-organisasi lingkungan besar di negara itu menyerahkan sebuah "Memorandum Hutan Tropis" kepada pemerintah Jerman. Memorandum tersebut mengutuk dukungan pemerintah bagi TFAP. Selain itu, akibat kebijakan-kebijakan dan proyek-proyek Bank Dunia terhadap hutan tropis juga mendapat kecaman keras dari LSM-LSM tersebut.29 LSM-LSM Australia, yang terinspirasi oleh aksi LSM Jerman tersebut, juga menyiapkan pernyataan serupa, yakni "Memorandum Hutan Tropis Australia", pada tahun 1991.30

Pemerintah-pemerintah yang akan melunasi pembayaran untuk TFAP menjadi gugup. Mereka menolak menyumbang dana kecuali keseluruhan program TFAP dan rencana-rencana pembangunan nasional diperbaiki lagi. Dengan begitu, diharapkan akan ada kesempatan untuk benar-benar mempromosikan tujuan-tujuan TFAP, yaitu konservasi hutan dan keterlibatan penduduk lokal yang lebih besar pada tahap identifikasi dan pelaksanaan proyek.

Negara-negara donor, WRI, dan Bank Dunia melihat dominasi FAO sebagai penghambat utama dalam perumusan kembali TFAP. Namun, ternyata sulit sekali menggeser dominasi birokrasi PBB yang bermarkas di Roma tersebut. Selain itu, sulit pula untuk mempertahankan kepentingan lembaga donor dalam mendanai sebuah usaha yang terang-terangan melencengkan tujuan-tujuan yang dimaksudkan sebagai kemajuan. Sampai tahun 1991, ternyata TFAP tidak dapat mewujudkan segala macam tujuannya.

Walaupun TFAP telah gagal secara memalukan, Bank Dunia tetap menyiapkan pinjaman kehutanan yang pernah dijanjikan. Namun, Bank Dunia dengan cerdik menjauhkan diri dari TFAP. Lembaga keuangan internasional itu menghindari proyek-proyek kehutanannya. Bahkan, staf Bank Dunia dengan nada keras mengecam beberapa program TFAP nasional.

Pada awal tahun 1990, sebuah program pemberian pinjaman baru, untuk menunjukkan bahwa Bank Dunia dapat membantu menyelamatkan hutan tropis, diumumkan ke seluruh dunia. Pada saat itu proyek pertama yang sedang dalam penelitian adalah program kehutanan dan perikanan senilai 23 juta dolar AS untuk sebuah negara di Afrika Barat, Guinea. Beberapa hari sebelum proyek itu disetujui oleh Dewan Eksekutif Bank Dunia, World Wide Fund for Nature (WWF) menerima beberapa dokumen proyek yang mengizinkannya untuk mengadakan penilaian independen. Inti dari proyek itu, meminjam istilah staf Bank Dunia, adalah "pengelolaan dan perlindungan hutan". Namun, menurut analis WWF, proyek tersebut sama seperti rencana penebangan hutan lainnya.

Dalam proyek itu, dana pinjaman Bank Dunia akan digunakan untuk membantu pembangunan jalan sepanjang 75 kilometer di dalam dan di sekitar dua areal cagar alam yang luas seluruhnya 150.000 hektare, sekitar 106.000 hektare di antaranya masih merupakan hutan tropis murni. Lebih buruk lagi, di balik dokumen proyek Bank Dunia yang bertuliskan "pengelolaan dan perlindungan" terdapat sebuah tujuan yang sebenarnya, yaitu pembabatan dua pertiga dari 106.0000 hektare hutan tropis murni itu untuk produksi kayu gelondongan.

WWF mengirimkan kritikannya mengenai penggunaan pinjaman itu pada Dewan Eksekutif Bank Dunia, yang menimbulkan perdebatan hangat. Jika proyek tersebut bermanfaat bagi lingkungan seperti dinyatakan manajemen Bank, mengapa organisasi-organisasi lingkungan berusaha menghentikan atau mengubahnya? Staf Bank Dunia berpendapat bahwa tanpa proyek itu, penebangan kayu akan berlangsung jauh lebih besar. Dan, menurut staf tersebut, proyek Bank Dunia akan mengelola penebangan kayu menurut batas-batas yang "berkelanjutan" dengan menambah periode waktu (dan juga areal) konsesi penebangan kayu. Itulah satu-satunya harapan yang tersisa, alternatif tunggal terhadap penebangan hutan secara keseluruhan, demikian staf Bank Dunia. Inilah alasan yang selalu diulang dan digunakan oleh staf Bank Dunia untuk membenarkan sejumlah program pembangunan yang menimbulkan bencana di masa lalu. Dewan Eksekutif dengan suara bulat menyetujui proyek pembangunan di Guinea tersebut.

Dalam kenyataannya, sering kali penerimaan devisa yang besar, pesatnya pembangunan prasarana seperti jalan raya, dan stempel persetujuan internasional yang diberikan oleh Bank Dunia justru membuat program pembangunan pemerintah yang berakibat kerusakan lingkungan menjadi semakin cepat terwujud.

Di dekat wilayah proyek Guinea, sebuah rencana pembangunan kehutanan yang (bahkan) lebih besar sudah siap diajukan untuk mendapatkan persetujuan Dewan Eksekutif Bank Dunia. Rencana pembangunan tersebut diajukan pada pos dana pinjaman sektor kehutanan senilai 80 juta dolar AS. Dana sebesar itu akan dikucurkan untuk membuka hutan di Cote d’Ivoire, sebuah negara Afrika Barat lain yang hutannya telah banyak terkikis. Kelompok-kelompok pencinta lingkungan seperti Environmental Defense Fund dan WWF terkejut ketika pada bulan Januari tahun 1990 mereka memperoleh dokumen rahasia Bank Dunia mengenai rencana pemberian pinjaman untuk Cote d’Ivoire. Tujuan utama pemberian pinjaman itu adalah membiayai dan meningkatkan produksi kayu yang dihasilkan dari sekitar setengah juta hektare hutan tropis di bawah manajemen perusahaan penebangan kayu swasta. Dan, perusahaan itu pula yang menjadi pelaku utama perusakan hutan Cote d’Ivoire selama dua dekade sebelumnya.

Lebih menyedihkan lagi, di lokasi konsesi hutan itu terdapat lebih dari 200.000 orang yang selama ini bertempat tinggal dan hidupnya bergantung pada sumber daya hutan tersebut. Berkaitan dengan adanya program pembangunan tersebut, sebagian besar dari mereka akan direlokasikan secara paksa. Dan bertentangan dengan kebijakan Bank Dunia, pemerintah Cote d'Ivoire dan staf Bank Dunia untuk negara tersebut ternyata tidak menyiapkan atau membicarakan sebuah rencana pemindahan permukiman atau rehabilitasi bagi penduduk yang akan terusir. Pelbagai kelompok di Amerika Serikat meminta Direktur Eksekutif Bank Dunia untuk Amerika Serikat, E. Patrick Coady, agar bersiap-siap menyambut proyek Cote d'Ivoire. Dan pada bulan Januari tahun 1990 E. Patrick Coady meminta salinan rancangan laporan penilaian proyek Cote d'Ivoire. Dalam beberapa minggu, rancangan laporan tersebut dijadwalkan akan diajukan untuk mendapatkan persetujuan.

Namun, staf Bank Dunia untuk wilayah Afrika menolak permintaan Coady. Dikatakan, dia akan menerima dokumen mengenai proyek itu dua minggu sebelum pertemuan dewan eksekutif yang membahas proyek tersebut, sesuai dengan kebiasaan Bank Dunia. Keputusan itu didukung oleh Wakil Presiden Senior Bank Dunia untuk Divisi Operasi pada waktu itu, Moeen Qureshi. Kejadian itu merupakan bukti tidak adanya pertanggungjawaban mendasar pada Bank Dunia.

Pertemuan Dewan Eksekutif pada tanggal 3 April 1990 yang membahas-ulang proyek tersebut berlangsung sengit. Direktur Eksekutif dari Amerika Serikat tidak menyetujui pemberian pinjaman berdasarkan alasan lingkungan itu, karena tidak adanya strategi konservasi hutan yang meyakinkan ataupun ketentuan pemindahan permukiman bagi 200.000 orang yang mendiami lokasi proyek. Anggota-anggota dewan eksekutif lainnya menyetujui proyek tersebut, walaupun masih ragu mengenai kemampuan strategi kehutanan Bank Dunia. Sebagai upaya menuntut pertanggungjawaban, direktur eksekutif dari Amerika Serikat meminta agar pihak manajemen menghentikan semua pemberian pinjaman kehutanan sampai Bank Dunia menyusun kebijakan baru yang lebih ramah lingkungan.l)

Enam bulan setelah Barber Conable di Tokyo berjanji akan melipat tiga pinjaman untuk sektor kehutanan, Dewan Eksekutif yang biasanya keras kepala akhirnya mengakui bahwa dasar pemberian pinjaman lingkungan yang baru ternyata justru merupakan ancaman bagi lingkungan. Dan pengakuan itu, yang muncul akibat tekanan LSM-LSM, dinyatakan Dewan Eksekutif dengan malu-malu.

Reformasi Lingkungan yang Sudah Sangat Terlambat

Pada awal tahun 1990, masih ada lagi pendanaan proyek lingkungan Bank Dunia yang menjadi sumber persoalan internasional. Bank Dunia, sejak tahun 1988, telah mengucurkan 317 juta dolar AS pinjaman baru kepada Brasil. Dana itu dimaksudkan untuk mengembangkan program "pembentukan zona agroekologis" di areal proyek Polonoroeste yang berlangsung di dua wilayah: Rondonia dan Mato Grosso. Bank Dunia mengaku sudah belajar dari pengalaman, sehingga tidak akan menelantarkan segala kerusakan akibat proyek pembangunan itu. Bank Dunia berjanji akan bertanggung jawab. Namun semua itu ditanggapi dengan sinis oleh sebagian orang. Mereka mengira, semua bencana yang pernah diciptakan oleh setengah miliar dolar AS dalam bentuk pinjaman tahap pertama, kini akan muncul lagi seiring dengan mengucurnya sepertiga miliar dolar AS yang direncanakan untuk memulihkan alam yang rusak akibat proyek-proyek yang didanai Bank Dunia.

Proyek pengelolaan sumber daya alam di Rondonia dan Mato Grosso tidak diproyeksikan untuk mengejar laba ekonomi. Pinjaman dikucurkan dengan (hanya) memperhitungkan keuntungan sosial dan ekologis. Kebijakan yang tidak menekankan pada perhitungan ekonomi konvensional ini memang merupakan sebuah langkah maju. Sayangnya, tolok ukur untuk memonitor kinerja proyek ternyata kurang spesifik, ragam ukurannya lebih sedikit, tetapi substansinya lebih ambisius dibandingkan dengan tolok ukur Bank Dunia untuk proyek-proyek "konvensional". Tidak mengherankan jika pinjaman baru itu akhirnya menjadi "mangsa empuk" bagi birokrasi negara peminjam. Pinjaman tersebut dengan mudah dibelokkan untuk mendanai kegiatan-kegiatan politik.

Bank Dunia sangat membanggakan model pemberian pinjaman seperti itu. Menurutnya, pendekatan yang demikian cocok untuk pengelolaan ekosistem hutan tropis. Dan, kemungkinan pendekatan tersebut akan diterapkan di setiap negara anggota.31 Proyek-proyek "percontohan" itu di antaranya berupa penataan penggunaan tanah secara ilmiah untuk wilayah Rondonia dan belahan utara Mato Grosso, pengembangan cagar alam untuk petani karet dan perlindungan cagar alam milik suku Indian, serta taman nasional, hutan cagar alam, dan kawasan hutan lindung. Dan, pada awal tahun 1990, pinjaman pertama, yaitu untuk Rondonia, diusulkan untuk mendapat persetujuan dari dewan eksekutif Bank Dunia.

Pada tanggal 13 Oktober 1988, Bank Dunia memberikan pernyataan pers mengenai proyek Rondonia. Namun, sebenarnya ada hal yang tidak disebutkan dalam pernyataan itu, yaitu sepucuk surat Chico Mendes. Dalam surat kepada Presiden Bank Dunia -- Barber Conable -- itu, Mendes mengungkapkan penolakan para penyadap karet yang diduga merupakan penerima bantuan Bank Dunia. Mendes menegaskan, rencana proyek Polonoroeste II sudah disusun rapi oleh Bank Dunia dan pemerintah Brasil. Namun, rakyat yang bakal terkena proyek itu tidak banyak dilibatkan dalam penyusunan rencana tersebut. Dengan nada keras, Mendes menyatakan cara seperti itu adalah penipuan.

Kami kira, pengembangan cagar alam extractive yang tercakup dalam proyek Polonoroeste II semata-mata untuk kepentingan pemerintah. Program yang ekologis itu diusulkan kepada Bank Dunia hanyalah agar pemerintah dapat mencairkan dana pinjaman yang sangat besar itu. Dan apa yang diciptakan oleh proyek itu ternyata bukan cagar alam extractive. Proyek tersebut malah menciptakan kolonisasi permukiman berikut segala kecerobohannya yang menimbulkan bencana di Polonoroeste. Semuanya mirip dengan proyek sebelumnya. Dengan kata lain, uang yang banyak itu akan dihabiskan hanya untuk membangun infrastruktur yang tidak banyak berarti bagi rakyat di sekitar hutan itu. Kalau tidak demikian, uang itu akan digunakan untuk program pemeliharaan lingkungan, tetapi dengan praktik yang tidak berkelanjutan.32

Akan tetapi keluhan Mendes itu tidak pernah digubris Bank Dunia, demikian pula keluhan rekan-rekan Mendes. Padahal, selama dua tahun lebih mereka sudah menyerukan agar staf Bank Dunia menyelesaikan persoalan-persoalan yang timbul di sekitar lokasi proyek itu, yang telah mengakibatkan pembunuhan terhadap seringueiro -- petani penyadap karet.

Kekhawatian Mendes ternyata terbukti. Misalnya, proyek yang dimaksudkan untuk mendanai empat kawasan hutan lindung dan delapan cagar alam milik suku Indian ternyata tidak sepenuhnya dilindungi sebagaimana tertulis dalam syarat-syarat pinjaman untuk proyek Polonoroeste pada tahun 1981. Namun, proyek yang baru ini benar-benar lebih lemah pada tingkat ketentuan pelaksanaan dan pengawasan daripada proyek tahun 1981. Hal itu membuktikan Bank Dunia ternyata tidak pernah belajar apa pun. Dan kekhawatiran tentang penipuan itu juga terbukti. Desas-desus pun berkembang. Dikabarkan, Gubernur Rondonia, Jeronimo Santana, telah menyelewengkan dana pinjaman itu untuk kegiatan-kegiatan politik sebagai persiapannya menjelang pemilihan umum pada bulan Oktober 1990.

Pada tanggal 9 Januari 1990, 35 kelompok pencinta lingkungan dan pembela hak asasi manusia dari Brasil, Amerika Serikat, dan sepuluh negara lainnya melayangkan surat kepada Direktur Eksekutif Bank Dunia untuk Brasil. Mereka mendesak agar pelaksanaan proyek itu ditunda hingga ketentuan-ketentuan pelaksanaan dan pengawasannya disempurnakan.33 Bukannya menanggapi isi surat tersebut, staf Departemen Bank Dunia untuk Brasil malah memanggil sejumlah staf ke hadapan "departemen etik"m) Bank Dunia untuk menyelidiki kebocoran dokumen proyek itu. Pada bulan Februari, sebagian anggota eksekutif Bank Dunia yang peduli terhadap persoalan yang dikemukakan LSM menyerukan penundaan pinjaman untuk sementara waktu. Mereka melihat bahwa Presiden Brasil, Sarney, pada tanggal 30 Januari 1990 mengeluarkan keputusan berupa penghapusan cagar alam di tanah adat suku Indian, sewaktu menanggapi permintaan Gubernur Rondonia. Padahal, saat itu sebuah perundingan sedang dilakukan untuk menyetujui pinjaman baru bagi proyek Rondonia. Dan Presiden Sarney tetap mengeluarkan keputusan yang demikian, meskipun sebelumnya dalam salah satu syarat pinjaman untuk proyek Polonoroeste, telah disepakati untuk melaksanakan pengembangan cagar alam di tanah adat suku Indian, Uru-Eu-Wau-Wau.34

Anehnya, manajer Bank Dunia yang mengurusi pinjaman untuk proyek Rondonia bersikeras bahwa proyek itu harus segera disetujui. Alasannya, karena pemerintah negara bagian Rondonia mempunyai komitmen yang kuat terhadap perlindungan lingkungan. Pada bulan Maret 1990, Gubernur Rondonia, Santana, mengutus pejabatnya ke ibu kota Brasil untuk melobi Menteri Lingkungan Hidup, Jose Lutzenberger. Mereka mendesak agar menteri itu segera menyetujui pinjaman tersebut. Bukan hanya itu, mereka juga mendesak pemerintah Brasil untuk meminta pencairan seluruh dana pinjaman sebesar 167 juga dolar AS sebelum pemilu Oktober 1990.35 Didesak demikian, Lutzenberger pun menjadi kesal. Dia lalu mengirim surat kepada Presiden Bank Dunia agar menunda proyek itu sampai diadakan konsultasi yang lebih serius dengan LSM-LSM setempat. Dan surat itu mampu menyumbat keran pinjaman untuk tahun 1990.36 Jeronimo Santana kemudian dipersalahkan oleh anggota legislatif Rondonia atas semua kejahatannya, bahkan didepak dari jabatannya.37

Meskipun demikian, Departemen Bank Dunia untuk Brasil bersikeras meneruskan proyek tersebut, tanpa membenahi kelemahan-kelemahannya. Lalu pada musim semi tahun 1992, jajaran eksekutif Bank Dunia menyetujui Proyek Pengelolaan Sumber Daya Alam Rondonia. Kebijakan ini kemudian menimbulkan protes dari sejumlah LSM setempat dan Oxfam, yang kini juga melakukan kerja lapangan di Rondonia. Dalam surat protesnya, LSM-LSM Brasil dan Oxfam mengungkapkan bahwa pada saat Bank Dunia menyetujui pemberian pinjaman, sebuah badan yang mengurusi pertanahan di Brasil, yakni INCRA, sedang melakukan pemindahan 50.000 kolonis baru ke areal yang diduga menjadi hutan lindung dan cagar alam extractive bagi para penyadap karet. Semua itu merupakan pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan dalam persetujuan Bank Dunia, serta jelas-jelas melecehkan hukum Brasil yang mensyaratkan penyusunan AMDAL untuk setiap aktivitas pemindahan dan permukiman.38 Karena proyek tersebut tetap dilanjutkan, maka pada bulan April 1993, 12 LSM dari Rondonia menulis surat kepada Bank Dunia untuk mengimbau agar pencairan dana pinjaman untuk proyek tersebut dihentikan. 39

Listrik untuk Kaum Miskin yang Berbiaya Besar

Efisiensi energi merupakan salah satu sektor kerja Bank Dunia, yang menurut istilah Barber Conable "sektor yang memainkan peranan penting". 40 Dari semua sektor ekonomi, sektor energi memiliki pengaruh yang sangat penting bagi masa depan dunia secara ekonomi dan lingkungan. Dalam beberapa tahun terakhir, sektor energi menyedot dana pinjaman yang cukup besar, berkisar 14,3 persen sampai 18,6 persen dari pinjaman tahunan pada periode 1990-1993. 41 Dengan demikian, sektor ini paling tidak sudah menjadi sektor kedua terbesar dalam hal penggunaan dana pinjaman dari Bank Dunia.

Kita sudah tahu, pola pembangunan energi di negara-negara berkembang telah menimbulkan persoalan lingkungan global dan lokal. Begitu pula, pembangunan bendungan besar telah menyebabkan pemindahan penduduk desa secara paksa serta perusakan hutan dan lahan-lahan yang memanfaatkan air sungai. Meningkatnya penggunaan batu bara untuk menghasilkan tenaga listrik, seperti terjadi di Cina dan India, telah menjadikan negara-negara tersebut sebagai penghasil emisi CO2 dan gas-gas lainnya. Dan kita dapat menduga, jika saja tidak segera ditemukan alternatif sumber energi yang lain, emisi gas-gas tersebut akan menyebabkan pemanasan global pada bumi.

Pengadaan proyek-proyek energi berbiaya tinggi terus dilaksanakan. Di banyak negara berkembang, investasi negara untuk proyek-proyek itu kini mencapai sepertiga atau seperempat dari total modal yang ditanamkan. Tingginya biaya proyek energi ternyata harus dipenuhi dengan membelokkan sejumlah dana yang seharusnya diinvestasikan di bidang kesehatan, pendidikan, dan konservasi alam. Celakanya, pertumbuhan sektor energi kian besar, dan tidak pernah mampu memenuhi permintaan konsumen. Kita lihat saja peningkatan sektor energi yang terjadi di India. Di negara ini, investasi untuk membangun fasilitas sektor energi telah meningkat, semula 20 persen menjadi 31 persen, dari anggaran nasional pada tahun 1980-an.42

Jawaban untuk menyelesaikan keruwetan sektor energi ini, baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi, sebenarnya sudah pernah diusulkan beberapa tahun lalu. Menurut para pakar energi untuk negara-negara Dunia Ketigan) -- serta menurut studi-studi Bank Dunia pada pertengahan dekade 1980-ano) -- negara-negara berkembang seperti Brasil, India, Cina, dan Kosta Rika bisa memangkas pertumbuhan kapasitas pembangkit listriknya sampai 50 persen. Hal itu bisa terjadi jika negara-negara tersebut mau melakukan investasi untuk mengembangkan alat-alat industri, sistem penerangan, AC, dan peralatan elektrik lainnya yang bersifat menghemat pemakaian listrik.p) Biaya investasi untuk program end-use efficiency itu sering kali hanya sepertiga atau seperempat dari biaya pembangunan pembangkit listrik atau bendungan baru. Beberapa negara berkembang telah membuktikan efektivitas program tersebut, dan di beberapa negara industri -- termasuk Amerika Serikat -- program end-use conservation berskala besar pun telah teruji keberhasilannya.q)

Hingga tahun 1990-an awal, Bank Dunia masih enggan mendukung program end-use efficiency atau end-use conservation, dan tetap melaksanakan pembangunan proyek bendungan atau pembangkit listrik panas bumi. Padahal, sudah banyak studi yang membeberkan kelemahan proyek-proyek semacam itu.43 Pada akhir tahun 1991, sebuah kajian EPA tentang proyek-proyek Bank Dunia yang disusun oleh International Institute for Energy Conservation menyimpulkan bahwa untuk program end use efficiency dan end use conservation, Bank Dunia hanya mengalokasikan dana pinjaman kurang dari satu persen. Proporsi ini sebenarnya mulai merosot pada tahun 1980-an akhir.44 Hal ini bukan hanya tidak memedulikan jaminan yang diberikan Barber Conable, tetapi juga mengabaikan para penyumbang utama Bank Dunia.

Dalam Donor’s Agreement pada tahun 1990, yang disusun bersamaan dengan pengisian kembali ke-9 dana IDA, Bank Dunia telah diimbau agar "meningkatkan upaya-upayanya untuk menyusun program end use energy efficiency dan program pengembangan energi yang dapat diperbarui, serta mendorong tersusunnya rencana pembangunan yang berbiaya rendah untuk negara-negara peminjam".45 Sejak tahun 1985, Kongres Amerika Serikat telah mendesak Direktur Eksekutif Bank Dunia untuk mendukung program end use efficiency dan end use conservation.r)

Untuk melihat dengan lebih jernih persoalan energi ini, kita dapat mencermati sebuah studi proposal yang memperkirakan implikasi-implikasi ekonomi yang terjadi pada negara-negara berkembang apabila metode end-use efficiency tetap diabaikan:

Diperkirakan, jika pemakaian energi untuk sektor komersial di negara berkembang bisa dihemat sampai 20 persen, maka total penghematan bisa mencapai 30 miliar dolar AS per tahun atau sekitar 7,5 persen dari nilai total impor barang. Ini berarti penghematan sekitar 60 persen net flow negara berkembang untuk cicilan utang pada tahun 1988, dan sekitar dua pertiga bantuan pembangunan dari negara-negara anggota OPEC dan OECD pada tahun 1987. 46

OED

Ketika Bank Dunia memproyeksi gambaran lingkungan negara peminjam, lembaga keuangan itu tampaknya kurang belajar dari pengalaman. Sebagaimana dicanangkan oleh Conable dan pejabat lainnya, Bank Dunia selalu "belajar sambil berpraktik", karena lembaga itu kurang merenungi langkah-langkah yang sudah dilakukannya. Pada awalnya pola perilaku yang demikian tampak membingungkan. Sebab, sejak tahun 1970-an awal, Bank Dunia telah membentuk Departemen Evaluasi Operasi (OED) yang berfungsi untuk melakukan audit independen terhadap proyek-proyek Bank Dunia dan membuat rekomendasi-rekomendasi agar lembaga itu tidak mengulangi kesalahan. Laporan-laporan OED langsung ditembuskan kepada jajaran eksekutif Bank Dunia. Pada tahun-tahun belakangan ini, OED sudah mengevaluasi lebih dari 40 persen proyek yang sudah berjalan.s) Dalam studi-studinya, banyak penilaian OED yang menyalahkan kinerja Bank Dunia, meskipun OED dipandang sebagai divisi yang paling tidak berdaya di Bank Dunia. Penilaian yang demikian dianggap sebagai bentuk profesionalisme OED.

Ada beberapa alasan mengenai ketidakefektifan OED. Pertama, dari pengalaman bisa dilihat bahwa praktik kelembagaan Bank Dunia tidak pernah memprioritaskan pengawasan mutu proyek-proyek yang didanainya. OED lahir karena adanya tekanan dari Kongres Amerika Serikat pada tahun 1960-an akhir, dan pada tahun 1970-an awal. Kongres mendesak anggotanya yang menjadi pengurus organisasi internasional untuk membentuk divisi audit internal. Pada saat itu, suara Amerika Serikat terhadap Bank Dunia memang lebih kuat pengaruhnya dibandingkan dengan saat ini. Pimpinan OED, menurut seorang mantan pejabat Bank Dunia, "terpaksa mengeluarkan ancaman mengundurkan diri hampir setiap minggu ketika menjalankan wewenangnya untuk melakukan pemeriksaan". 47

Secara teoretis, direktur-direktur eksekutif Bank Dunia dapat lebih banyak melakukan campur tangan ke dalam OED -- namun secara historis, mereka malah mengurangi campur tangannya, tanggung jawab terhadap ketidakberhasilannya dalam mengawasi operasi-operasi Bank Dunia. Lagi pula, perhatian yang intens dalam melakukan kontrol mutu terhadap proyek-proyek Bank Dunia akan berbenturan dengan kepentingan resmi pemerintah yang mendapat pinjaman serta negara-negara maju. Negara-negara penerima pinjaman terbesar seperti India berkepentingan untuk mendapatkan jumlah pinjaman maksimum dengan syarat-syarat yang minimum. Dan negara berkembang lainnya selalu melobi untuk mendapatkan kedudukan seperti itu melalui pelbagai pertemuan internasional, bukan hanya kepada pejabat-pejabat Bank Dunia.

Pada tahun 1980-an, masuknya Bank Dunia dalam upaya-upaya penjadwalan pinjaman membuat manajemen Bank Dunia memandang bahwa pengucuran dana pinjaman secepat-cepatnya sangat penting dilakukan. Sebab, hal itu bisa memberi dana segar bagi negara-negara yang sedang mengalami masalah dalam neraca pembayarannya dan krisis dalam melunasi cicilan utang-utangnya.t) Mengikuti rekomendasi OED untuk memperbaiki mutu proyek hanyalah mengacaukan upaya-upaya departemen Bank Dunia yang mengurusi negara anggotanya untuk mempertanggungjawabkan pengeluaran uangnya.

Dan memang, baik sebelum maupun sesudah 1987, departemen Bank Dunia untuk negara anggota beroperasi dengan "otonomi" yang seluas-luasnya, tidak bertanggung jawab baik kepada staf lingkungan maupun OED. Salah satu contoh dokumen yang kebetulan bisa ditemukan adalah sebuah laporan khusus mengenai catatan lingkungan Bank Dunia, yang disusun bekerja sama dengan Menteri Perencanaan Pembangunan Brasil pada tahun 1989 sampai 1991.48 Studi itu membahas sejumlah proyek di Brasil yang dilakukan pada tahun 1980-an, termasuk Polonoroeste dan Carajas.u) Kesimpulan studi itu memperkuat pelbagai kritik pedas dari kalangan LSM selama dekade silam.

Laporan OED mengenai Polonoroeste mendakwa Bank Dunia tidak pernah melakukan penilaian secara tepat terhadap proyek-proyek yang dilaksanakannya. Survei tanah secara akurat yang diperlukan untuk melakukan program pemindahan penduduk ternyata tidak dilakukan sampai kini. Berbagai informasi dasar lainnya juga tidak ada. Seorang ilmuwan terkemuka, dalam sebuah penilaian mengenai Bank Dunia, mengatakan pelbagai kawasan perlindungan yang termasuk dalam kawasan proyek ternyata hanyalah "lelucon". Selain itu, sumber utama pertumbuhan ekonomi di wilayah itu adalah birokrasi pemerintah yang didanai lembaga donor internasional, pertambangan emas dan penebangan kayu yang merusak lingkungan, dan serangkaian spekulasi (jual-beli) tanah yang akhirnya mendorong inflasi.

Laporan OED juga mendakwa para pendukung proyek-proyek tersebut (baik Bank Dunia maupun pemerintah Brasil) telah berusaha keras menghalangi pelbagai kritik yang dapat melengkapi penilaian proyek. Selain itu, laporan OED menyimpulkan, jika menolak untuk mendanai Polonoroeste maka Bank Dunia akan dapat menyelamatkan hutan tropis dan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Selain itu, juga mengurangi kemungkinan munculnya program pemindahan penduduk untuk mengelola perkebunan atau hutan industri. 49

Cerita yang sama juga terjadi pada proyek Carajas. Staf Divisi Operasi dan pihak manajemen Bank Dunia telah menghalang-halangi staf divisi lingkungan untuk melakukan penilaian terhadap konsekuensi-konsekuensi lingkungan dan sosial yang buruk dari proyek Carajas.v) Akan tetapi, ketika berhadapan dengan pelbagai kritik keuangan terhadap proyek dan tingkat laba yang tidak prospektif, manajemn puncak Bank Dunia menyatakan proyek-proyek itu telah mengakibatkan keuntungan ganda yang dirasakan secara tidak langsung di wilayah-wilayah sekitar proyek.w) Seperti biasanya, laporan penilaian secara substansial terlalu tinggi menaksir kemungkinan harga bijih besi di masa datang sehingga memproyeksi tingkat laba setelah ditarik pajak mencapai 1,7 persen.50 Literatur resmi Bank Dunia terus-menerus menekankan bahwa pelabuhan, jaringan transportasi kereta api, dan pertambangan yang pembangunannya didanai Bank Dunia seharusnya tidak secara langsung dikaitkan dengan (atau harus bertanggung jawab atas) segala problem sosial dan lingkungan yang terjadi di kawasan proyek Carajas. Kendati begitu, OED menyimpulkan, pertimbangan dan pembenaran terhadap proyek-proyek Bank Dunia terletak pada peranannya dalam membangun infrastruktur yang berhasil mengubah perekonomian di wilayah tersebut. Konteks yang demikian secara eksplisit memang disebutkan dalam laporan penilaian dan dokumen-dokumen proyek.

Lebih jauh OED menyimpulkan, proyek-proyek Bank Dunia, selain memicu perusakan hutan yang begitu cepat, juga sangat berperan dalam pemusatan penguasaan tanah di tangan beberapa orang dan menciptakan kemiskinan.x) Masalah lainnya yang ditimbulkan proyek itu adalah masalah kesehatan masyarakat yang semakin luas, meningkatnya kekerasan terhadap penduduk desa, dan (anehnya justru setelah ada investasi miliaran dolar AS) semakin merosotnya jaminan pangan dan semakin tingginya kasus kekurangan gizi yang terjadi pada penduduk miskin:

Dampak yang signifikan yang mungkin muncul adalah perubahan keadaan gizi dan kesehatan penduduk desa yang tinggal di sekitar kawasan proyek Carajas. Dampak ini mungkin diakibatkan oleh lenyapnya jaminan pangan karena produksi pangan dan ternak dialihkan untuk tujuan ekspor, adanya monopoli tanah yang sebagian besar kemudian digunakan untuk tujuan yang tidak produktif, meningkatnya jumlah petani gurem yang "kehilangan tanahnya", dan naiknya jumlah buruh upahan. Pada sebagian besar wilayah yang terkena proyek Carajas, sudah ada bukti mengenai semakin tingginya kasus kekurangan pangan. Data kesehatan di tingkat kota madya memperlihatkan semakin banyak jenis penyakit di daerah-daerah yang sangat dekat dengan kawasan proyek Carajas. Di kota-kota seperti Maraba, Parauapebas, dan Tucurui, misalnya, muncul berbagai penyakit seperti malaria, lepra, TBC, penyakit kelamin, dan leishmaniaisis, serta pelbagai gangguan usus akibat infeksi parasit. 51

Yang terakhir, selain semua pertimbangan mengenai kualitas proyek, laporan OED juga menegaskan tentang sebuah faktor yang menekan Bank Dunia untuk selalu mengucurkan pinjaman bagi proyek-proyek besar seperti Polonoroeste dan Carajas.

Keinginan Bank Dunia untuk menaikkan pinjamannya kepada Brasil pada suatu saat muncul bila negara itu menghadapi masalah dalam neraca pembayarannya, dan ketika arus pinjaman dari Bank Dunia dipandang penting untuk mempertahankan keyakinan para pemimpin internasional lain di negara-negara menengah dan untuk mempertahankan prospek pembangunan jangka panjang. 52

Namun, masih ada harapan Bank Dunia akan memilah-milah implikasi berbagai analisis dari departemen pengawas mutunya sendiri. Celakanya, sebuah buklet yang disusun oleh Departemen Bank Dunia untuk Brasil yaitu Brazil and the World Bank: Into the Fifth Decade, mengungkapkan sebuah dongeng yang aneh dengan menyelipkan laporan-laporan palsu ke dalam arsip-arsip departemennya:

Program Polonoroeste yang didukung Bank Dunia dan Proyek Bijih Besi Carajas pada tahun 1982 juga mencakup perlindungan lingkungan. Kedua proyek itu telah memenuhi persyaratan lingkungan. Akan tetapi, ada kejadian-kejadian yang tidak terduga dan adanya ketidakmampuan untuk mengendalikan aktivitas spontan yang tidak berkaitan dengan proyek. Hal-hal inilah yang mengakibatkan dampak buruk terhadap lingkungan dan sosial. 53

Pada tahun 1992, sebuah buklet berjudul Environment and Development in Latin America: The Role of the World Bank, staf Bank Dunia untuk Amerika Latin menyimpulkan, "pengalaman proyek Carajas menunjukkan bahwa pemerintah setempat dan Bank Dunia masih belajar sambil berpraktik dalam melakukan penilaian lingkungan." 54

Global Environment Facility

Walaupun problem yang sudah bersifat sistemik di seluruh sektor kebijakan dan pinjaman Bank Dunia semakin bertambah, dan staf Divisi Operasi tetap mengabaikan laporan OED, Bank Dunia pada tahun 1990-an awal menjamin lebih dari satu miliar dolar AS untuk membentuk Global Environment Facility (GEF). Sampai akhir tahun 1992, GEF masih berjalan baik sebagai lembaga donor internasional yang memberikan bantuan untuk menyelesaikan masalah-masalah lingkungan global seperti perubahan iklim dan perusakan keanekaragaman hayati. Asal mula GEF terutama terlihat sejak lembaga itu diarahkan oleh departemen finansial Bank Dunia yang dipimpin Ernest Stern, bukan oleh staf lingkungannya yang hanya memberikan sedikit masukan pada saat awal pembentukan GEF. Ada sejumlah fungsi tersembunyi GEF bagi Bank Dunia, yaitu memperhalus istilah yang dilekatkan pada paket pinjaman berskala besar. Dengan demikian, diharapkan bisa menyelesaikan masalah pokok Bank Dunia, yaitu kurangnya proyek-proyek yang layak dibiayai dan semakin besarnya ancaman net negative transfer negara-negara berkembang.y) (Kita akan kembali membahas persoalan ini pada Bab 7)

Pada saat pertemuan tahunan Bank Dunia di musim gugur 1989, ketika pelbagai LSM di seluruh dunia mencela pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia dan ekologis akibat proyek-proyek Bank Dunia, pemerintah Prancis dan Jerman menyatakan keinginannya untuk menyumbang ratusan juta franc dan mark untuk mendanai proyek-proyek lingkungan Bank Dunia. Bersama-sama dengan negara-negara lainnya, kedua negara itu mendesak manajemen Bank Dunia untuk mengkaji-ulang kemungkinan mekanisme "dana hijau".55 Departemen Keuangan Bank Dunia menanggapi desakan tersebut dengan kesigapan yang mengesankan.

Menjelang Februari tahun 1990, Bank Dunia telah menyusun dan mengajukan proposalnya mengenai GEF kepada negara-negara industri. Dan jika proposal itu disetujui, diharapkan jaminan komitmen pencairan dana bisa dilangsungkan pada bulan Maret, dan proposal tersebut bisa dioperasikan pada permulaan tahun fiskal 1991, yakni 1 Juli 1991. Demikianlah, sebuah "tangan baru" Bank Dunia yang menggenggam jutaan dolar AS telah tercipta dan segera beroperasi dalam kurun waktu kurang dari sembilan bulan.

Proposal GEF itu telah mengandung sejumlah unsur penting mengenai bangunan dasarnya. Dalam teori, proposal itu bisa didukung melalui kerja sama antara Bank Dunia, UNEP, dan UNDP, kemudian mengucurkan hibah kepada negara-negara berkembang untuk menjalankan proyek-proyek yang termasuk empat wilayah kerja utama di sektor lingkungan, yaitu melestarikan keanekaragaman hayati, pengurangan emisi CO2 dan gas-gas lain yang menimbulkan pemanasan global, melindungi lapisan ozon, dan membersihkan lingkungan perairan di seluruh dunia. Secara implisit, proposal itu, meski tidak disebutkan secara gamblang, mengungkapkan sejumlah masalah lain: semua investasi proyek GEF akan disiapkan dan dijalankan oleh Bank Dunia,z) dan proyek-proyek GEF Bank Dunia yang lebih dari 10 juta dolar AS akan dikaitkan dengan komponen paket pinjaman Bank Dunia lainnya yang lebih besar, yang catatan lingkungannya tergolong buruk seperti sektor kehutanan dan energi.

Proposal GEF selama ini dipersiapkan secara tertutup dan rahasia. Kalangan LSM, anggota Kongres Amerika Serikat, dan anggota parlemen lain tidak dapat mengetahuinya. Bahkan, staf lingkungan Bank Dunia pada awalnya hanya mendapat sedikit informasi mengenai proposal tersebut. Bank Dunia secara resmi mengajukan GEF kepada negara-negara industri maju untuk mendapatkan persetujuan pada pertemuan bulan Maret 1990 di Paris. Namun para delegat pemerintah sangat kekurangan informasi dan pelbagai persiapan lainnya untuk membahas proposal tersebut. Selain itu, saat hendak menyiapkan sikap dan pendirian terhadap proposal itu, para delegat yang terdiri atas menteri keuangan, menteri lingkungan, dan menteri luar negeri juga hanya memiliki sedikit waktu untuk berkoordinasi. Tidak mengherankan jika kemudian antara menteri yang satu dan lainnya mengeluarkan pernyataan sikap yang berbeda dan (terkadang) saling bertentangan.

Pelaksanaan GEF akhirnya mengalami penundaan, meskipun Bank Dunia telah "mendidik" negara-negara donor utama mengenai pentingnya negara-negara tersebut menyumbangkan ratusan juta dolar bagi pelaksanaan proyek GEF. Pada bulan November 1990, pemerintah negara-negara donor memberikan sekitar 1,3 miliar dolar AS untuk program awal GEF yang akan dijalankan selama tiga tahun. Pada tahap akhir program tersebut, kesuksesan dan kegagalannya akan dievaluasi untuk melihat apakah program itu diteruskan, ditunda, ataukah diperluas.

Rumusan GEF merupakan sebuah pola bisnis yang sangat disukai Bank Dunia: tertutup, dijalankan dari atas ke bawah, meremehkan partisipasi masyarakat, memperkecil akses informasi, mengurangi keterlibatan anggota legislatif yang terpilih secara demokratis, dan mencegah kemungkinan diskusi alternatif.aa) Lebih buruk lagi, tindakan yang demikian merupakan kemunduran. Tindakan tersebut membuat proses penilaian standar pinjaman Bank Dunia seperti latihan demokrasi di tingkat akar rumput. Negara-negara anggota GEF akan bertemu dua kali setahun untuk membahas "program yang telah dijalankan", namun proses identifikasi seluruh siklus proyek itu sepenuhnya berada di tangan Bank Dunia. Pihak manajemen senior Bank Dunia memegang sepenuhnya kebijakan untuk mengucurkan dana proyek Bank Dunia yang kurang dari sepuluh juta dolar AS, sedangkan pinjaman yang lainnya akan diajukan kepada Dewan Eksekutif -- yang selama 46 tahun terakhir belum pernah menyetujui satu proyek pun.

UNEP menyusun sebuah prosedur standar yang ilmiah dan teknis yang dapat digunakan sebagai pedoman untuk menyeleksi proyek. Namun prosedur standar itu tidak membahas tentang empat wilayah kerja utama GEF yang disebutkan di atas, begitu pula proyek-proyek yang bersifat individual. Sayangnya prosedur standar itu akhirnya tidak berguna. Pada putaran pertama, Bank Dunia telah meluncurkan proyek GEF, yang nilainya mencapai 193 juta dolar AS, dan segera mendapat persetujuan dari negara-negara anggota GEF sebelum prosedur standar itu selesai memeriksa proyek tersebut.

Pada tahun 1980-an, gerakan lingkungan merebak mulai dari Rusia sampai Brasil, dari India sampai Amerika Serikat, dan menyerukan tema-tema seperti partisipasi masyarakat, akses untuk mendapat informasi, dan mekanisme demokratis sebagai unsur terpenting dalam pengambilan keputusan mengenai kebijakan lingkungan. Undang-undang (tentang) AMDAL di pelbagai negara (dimulai dari Amerika Serikat) mencatumkan prinsip-prinsip tersebut. Bahkan, di negara-negara berkembang, undang-undang ini pun dibuat, meskipun masih lemah dari segi penegakan hukumnya. Pemerintah-pemerintah di Eropa mengungkapkan keingingannya untuk menyumbangkan dana bagi proyek lingkungan global itu. Keinginan tersebut terutama sebagai respons terhadap sejumlah tekanan gerakan lingkungan di negaranya. Namun apa yang didapat bumi sebagai imbalannya hanyalah sebuah parodi. Lebih dari satu miliar dolar AS dikucurkan untuk proyek lingkungan setelah 24 miliar dolar AS pinjaman Bank Dunia dikeluarkan untuk proyek-proyek yang sangat tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Sekali proposal GEF itu menjadi sebuah keadaan yang harus diterima, maka sejumlah kritik dari jaringan LSM di beberapa negara pun menekan Bank Dunia untuk mengadakan pertemuan dengan LSM. Pertemuan itu, yang oleh Bank Dunia digembar-gemborkan sebagai model konsultasi dan forum berbagi informasi, pada akhirnya hanya menjadi forum untuk menginformasikan keputusan-keputusan Bank Dunia yang telah dibuat. Staf Bank Dunia dengan hati-hati mengelak dari tuduhan mengenai masalah yang menyangkut pemerintahan dan kurangnya "transparansi", yakni "keterbukaan". Namun, Bank Dunia bukan satu-satunya pelaku kejahatan. Sebab, Bank Dunia menuding beberapa negara anggota GEF (khususnya Prancis) yang meminta agar LSM tidak diikutsertakan dalam sejumlah pertemuan resmi GEF. Padahal, Bank Dunia sendiri tidak keberatan terhadap kehadiran LSM dalam pertemuan tersebut. Demikian pengakuan Bank Dunia.

Data Bank Dunia mengenai proyek GEF yang diajukan disusun dalam bentuk yang ringkas. Umumnya hanya satu halaman "gambaran singkat", yang jelas sangat tidak memadai untuk mendapat penilaian. LSM dan pemerintah yang berpartisipasi tidak mempunyai akses untuk mengetahui dokumen-dokumen dan memo intern lain mengenai proyek GEF, begitu pula informasi terperinci mengenai pinjaman berskala besar yang berkaitan dengan proyek GEF. Pejabat dari dua badan PBB yang mendukung program GEF, yaitu UNDP dan UNEP, secara pribadi mengeluh bahwa Bank Dunia telah memotong akses mereka untuk mengetahui dokumen-dokumen Bank Dunia.

Konsekuensi dari pendekatan Bank Dunia terhadap manajemen lingkungan dapat dilihat pada sebuah proyek "percontohan"ab), yaitu Proyek Manajemen dan Perlindungan Cagar Alam Kongo dari GEF yang bernilai 10 juta dolar AS. Proyek ini menjadi sebuah masalah yang kontroversial pada awal tahun 1992. Dari gambaran singkat yang disediakan Bank Dunia untuk LSM dan negara donor pada tahun 1991, rencana itu tampak sebagai sebuah proyek yang patut diteladani. Digambarkan, bahwa proyek tersebut merupakan proyek yang didanai oleh pinjaman siaga untuk melindungi keanekaragaman hayati di hutan tropis Nouabele di bagian utara Republik Kongo.

Namun pada saat yang sama, Bank Dunia juga telah mengucurkan pinjaman untuk proyek pembukaan hutan di Kongo. Sekalipun akibat merebaknya skandal mengenai dana pinjaman untuk Papua Nugini dan Cote d'Ivore pada awal tahun 1990 segera menunda pengajuan proyek pembukaan hutan kepada Dewan Eksekutif hingga Bank Dunia menyiapkan kebijakan kehutanan yang baru, persiapan proyek pembukaan hutan tidak juga dihentikan. Pinjaman Bank Dunia untuk Kongo tetap diproses, dan untuk menjaga citra "hijau" Bank Dunia, maka proyek itu dibaptis dengan nama "Proyek Manajemen Sumber Daya Alam Kongo". Namun, satu hal yang tetap tertutup bagi pemerintah negara donor GEF (seperti juga negara anggota lainnya, yang tidak memiliki akses untuk mengetahui dokumen-dokumen proyek Bank Dunia) adalah tujuan utama dari Proyek Manajemen Sumber Daya Alam Kongo. Seperti tercantum dalam dokumen persiapan Bank Dunia, tujuan utama proyek tersebut adalah "menghidupkan kembali pola eksploitasi hutan" sehingga pola itu bisa meraih tempatnya yang dulu sebagai penghasil devisa terbesar bagi Kongo. Pinjaman yang diajukan untuk mendanai pembangunan infrastruktur, jalan raya, dan dukungan teknis untuk mengubah kemacetan transportasi, dengan tujuan meningkatkan ekspor kayu hutan.

Meskipun demikian, Kongo memiliki masalah mengenai utangnya dengan badan-badan internasional lain. Kongo merupakan salah satu negara yang rasio utang luar negeri per kapitanya paling tinggi. Memang, laporan UNDP sangat kritis terhadap proyek GEF. Laporan itu menilai Bank Dunia bertanggung jawab atas keengganan pemerintah Kongo meminjam uang untuk proyek kehutanan baru.56 Memo Bank Dunia sendiri menyatakan bahwa sebuah program GEF berupa Proyek Manajemen Sumber Daya Alam Kongo merupakan syarat pinjaman yang harus disetujui oleh Kongo untuk mendapat pinjaman lainnya.ac) Selain itu juga dinyatakan bahwa proyek berskala besar dirancang untuk mengerahkan pemberian dana "dalam bentuk pinjaman lunak".57 Maksud Bank Dunia adalah menggunakan proyek GEF sebagai batu loncatan finansial untuk sejumlah besar proyek yang berorientasi meningkatkan ekspor kayu hutan.

Namun, semua itu bersifat rahasia. EDF dan kelompok masyarakat lainnya tidak bisa memperoleh dokumen intern Bank Dunia pada musim gugur 1991. Mitra yang diharapkan Bank Dunia dalam GEF dengan pedas mengkritik proyek GEF. UNDP, sang mitra tersebut, menyalahkan proposal Bank Dunia sebagai sesuatu yang menjadikan hutan tropis sebagai areal penebangan hutan dan tekanan perusakan lainnya, dengan berpura-pura menjalankan program perlindungan hutan.58

Menurut UNDP, proyek GEF itu sangat meragukan, karena tidak tergambar dalam gambaran singkat proyek yang hanya satu halaman itu. Proyek GEF tersebut akan mendanai pembangunan jalan raya sepanjang 25 kilometer di areal hutan Nouabele, yang akan mengikutsertakan paling tidak 250 orang sebagai pekerja proyek. Selain itu, proyek tersebut juga akan membentuk taman safari di salah satu bagian cagar alam, sementara bagian lainnya akan dibuka sebagai lahan konsesi penebangan kayu. Rekomendasi UNDP adalah membiarkan hutan tropis di bagian utara Kongo tetap murni dan memberikan dana GEF untuk melindungi areal lain di selatan yang berpenduduk lebih padat karena terancam kerusakan lingkungan. Menurut UNDP, ancaman utama bagi Cagar Alam Nouabele dan daerah sekitarnya di masa mendatang, ironisnya, adalah proyek GEF itu sendiri. Sebab, proyek tersebut mengusulkan pembangunan jalan raya, taman safari untuk kepentingan wisata, dan konsesi penebangan kayu hutan.59

Salah satu aspek yang paling aneh dari proyek GEF di Kongo adalah penyusunan AMDAL. Lembaga konsultan U.S. Fish and Wildlife Service, yang ditugaskan untuk melakukan studi AMDAL itu, menyusunnya dari kantornya di Nebraska karena Bank Dunia menolak untuk mendanai kunjungan lapangan ke lokasi yang seharusnya diteliti. Padahal, pada saat yang sama Bank Dunia mendanai perjalanan LSM (yang juga berkantor di New York) ke lokasi tersebut, karena Bank Dunia menggaji LSM itu ikut melaksanakan program GEF.

Bank Dunia juga menolak memberikan akses informasi kepada lembaga konsultan tersebut mengenai dokumen-dokumen Proyek Manajemen Sumber Daya Alam Kongo, serta salinan-salinan memo dan koresponden kritis antara Bank Dunia dan UNDP serta World Conservation Union mengenai proposal GEF. Namun, akhirnya lembaga konsultan itu mendapatkan segala informasi mengenai hal tersebut dari EDF. Lembaga konsultan itu kemudian mengajukan sebuah proposal kepada staf Bank Dunia: di masa mendatang studi AMDAL tersebut mungkin sangat "berguna" jika saja para penyusunnya diizinkan untuk mengunjungi lokasi proyek, mendapat akses informasi untuk mengetahui arsip-arsip Bank Dunia, dan jika saja AMDAL itu sendiri boleh dibaca oleh masyarakat.60ad)

Proyek GEF Kongo merupakan contoh awal dari tindakan lingkungan Bank Dunia yang negatif. Kemampuan Bank Dunia yang luar biasa dalam mengajukan proposal yang mendesakkan konversi dan perusakan sebagian ekosistem seolah-olah merupakan uji coba perlindungan lingkungan. Sekali lagi, akar masalahnya terletak pada kontrol yang ketat terhadap informasi, kurangnya diskusi bersama masyarakat mengenai alternatif lain, adanya dinamika yang bertentangan di balik semua tekanan yang memaksa Bank Dunia untuk selalu mengucurkan pinjaman.

Salah satu ironi GEF adalah semakin besarnya birokrasi yang "membela" lingkungan di dalam organisasi Bank Dunia (meskipun masih terhitung kecil, ternyata terus membesar setelah dicanangkannya reformasi Conable pada tahun 1987) justru GEF semakin tidak mempunyai harapan untuk melakukan reformasi terhadap pinjaman Bank Dunia dan untuk mendesak direktur eksekutif yang beroperasi di negara anggota agar lebih serius membuat kebijakan-kebijakan lingkungan. Alasannya diawali dengan pengakuan bahwa daerah tersebut pada dasarnya diarahkan untuk pemindahan sejumlah uang: para direktur eksekutif dan pejabat proyek (yang dikenal sebagai task manager) tidak menjalankan kebijakan sosial dan lingkungan karena hanya ada sedikit insentif dari kebijakan yang demikian. Orang-orang di Divisi Operasi terpikat oleh insentif uang, terutama pada program-program hibah yang bisa digabungkan dengan pinjaman Bank Dunia lain agar menjadi paket pinjaman yang menarik, atau dikemas agar tampak lebih ramah lingkungan. Sementara Departemen Bank Dunia untuk negara anggota akan mendapat imbalan jika dapat melaksanakan kebijakan-kebijakan lingkungan Bank Dunia. Berkaitan dengan itu, GEF dijadikan pelicin yang akan semakin memudahkan negara anggota untuk mendapatkan pinjaman. Lompatan keyakinan yang digariskan pada daya nalar yang diyakini benar itu memang luar biasa: sikap skepstis berkembang dan mengajukan pertanyaan apakah staf Bank Dunia bisa mendapatkan seekor anjing sekaligus kibasan ekornya dengan dana pinjaman tersebut.

Dalam kenyataannya, kontroversi mengenai GEF memunculkan kontradiksi pada sistem politik internasional yang menghalang-halangi pendekatan yang konsisten secara lingkungan, terbuka secara politik, dan demokratis dalam mengatasi problem lingkungan. Seperti Bank Dunia itu sendiri, GEF merupakan sebuah masalah bagi negara-negara bangsa. Sebagian besar masalah itu berkaitan dengan kebebasan untuk memperoleh informasi dan partisipasi publik dalam pengambilan keputusan internasional, termasuk masalah-masalah lingkungan global. Seperti Bank Dunia, negara-negara industri maju dan negara berkembang senang melihat krisis lingkungan dijadikan sebuah masalah yang diatasi dengan membuat proyek-proyek bantuan asing lagi. Dan kali ini dengan "wawasan lingkungan" sebagai labelnya.

Masih banyak kasus yang tidak terungkap mengenai semakin besarnya keperluan untuk mereformasi bukan hanya pinjaman Bank Dunia melainkan juga seluruh arus bantuan pembangunan dari Utara ke Selatan, yang jumlahnya sekitar 55 sampai 60 juta dolar AS per tahun. Sebagian besar bantuan itu tergolong tidak ramah secara lingkungan. Dan bantuan asing hanya merupakan komponen kecil (tetapi sangat berpengaruh) dari seluruh aktivitas ekonomi internasional. Tidak ada negara, baik di Utara maupun Selatan, yang ingin berhadapan dengan kendala finansial dan sosial berupa restrukturisasi perekonomiannya sendiri hanya karena mendukung program konservasi keanekaragaman hayati, pengurangan rumah kaca, dan tujuan-tujuan lingkungan global lainnya.ae) Begitu pula menteri keuangan dan menteri luar negeri dari pelbagai negara cenderung bersikap waspada terhadap seruan kelompok pencinta lingkungan mengenai pendekatan yang lebih terbuka dan partisipatoris di dalam pengambilan keputusan tingkat internasional.

*****

_____________

  1. Misalnya pinjaman untuk proyek-proyek yang (diduga) tujuan utamanya adalah perlindungan lingkungan dan konservasi alam.
  2. Seorang pakar lingkungan Indonesia, Dr. Otto Soemarwoto, mengungkapkan bahwa mayoritas penduduk desa jadi terusir akibat proyek pembangunan Bendungan Cirata dan Saguling yang dibiayai Bank Dunia di Jawa. Para penduduk desa itu memprotes tindakan pemerintah yang menjadikan mereka sebagai transmigran. Proyek Saguling didanai dari pinjaman Bank Dunia tahap ke-10 untuk program pembangunan pembangkit listrik di Indonesia yang disetujui pada tahun 1981. Sedangkan Proyek Cirata didanai dari pinjaman tahap ke-13, dan disetujui pada tahun 1983. Aktivis-aktivis hak asasi manusia juga menentang pemindahan paksa terhadap penduduk desa di tujuh lokasi pembangunan bendungan lainnya di Jawa. ("Land Dispute in Kedung Ombo", TAPOL Bulletin [buletin dari Indonesia Human Rights Campaign, yang diterbitkan oleh TAPOL, Thornton Heath, Croydon, Surrey, Inggris], no. 84 [Desember 1987], 24).
  3. Pada tanggal 6 April 1991, lima minggu sebelum peresmian Bendungan Kedung Ombo, sekitar 20 penduduk desa bertemu dengan pejabat Bank Dunia di kantor Bank Dunia di Jakarta. Mereka mengajukan protes karena hanya mendapatkan ganti rugi senilai satu per sembilan belas dari harga pasaran tanah. Mereka menuntut agar Bank Dunia menunda peresmian proyek itu sampai nasib mereka diperbaiki. Namun sekali lagi, Bank Dunia hanya berjanji akan melihat dulu keadaannya dan menghubungi pejabat pemerintah Indonesia. Dan peresmian itu tetap tidak ditunda. Pada tanggal 8 Mei 1991, di bawah pengamanan militer yang ketat, Presiden Indonesia Soeharto, Panglima ABRI, para anggota kabinet, pejabat Bank Dunia, dan duta besar Jepang menghadiri peresmian Bendungan Kedung Ombo. Soeharto mengingatkan kepada penduduk desa yang menolak meninggalkan lokasi bendungan dan cadangan air. Dia mengatakan, "Mereka tidak lagi mempunyai masa depan." Meskipun demikian, para penduduk desa itu masih tetap bertahan. ("Farmers Meet with the Banks, But the Inauguration Goes On…"¸ Setiakawan [diterbitkan oleh SKEPHI, sebuah jaringan LSM untuk konservasi Hutan di Indonesia], no. 6 [Juli 1991], 40-41).
  4. Tetapi syarat-syarat pinjaman dari Bank Dunia bagi proyek Sardar Sarovar menghendaki agar beberapa laporan ini -- contohnya mengenai kesehatan masyarakat dan hutan dan margasatwa -- diselesaikan sebelum Desember tahun 1985, bersama dengan jadwal pelaksanaan rencana aksi yang didasarkan pada penelitian yang belum ada. Hingga tanggal ini (Juni 1993) laporan itu belum selesai.
  5. Yang lainnya mengenai permasalahan lingkungan dan sosial yang kritis seperti perlakuan terhadap masyarakat adat (pernyataan kebijakan resmi tertanggal 1982, direvisi 1991); konservasi tanah hutan (keragaman hayati, 1986); bendungan dan penampungan air (irigasi dan perairan, 1989); dan AMDAL (1989, direvisi 1991). (Robert J.A. Goodland, "Environmental Conservation", Vol. 19, no. 1 (Spring, 1992), 9-12; tabel 3, hal. 11).
  6. Lihat bahasan mengenai pinjaman sektor pembangkit tenaga listrik Brasil pada Bab 5. Sebagian besar tenaga listrik sebesar 2.500 megawatt dari Bendungan Itaparica diperuntukkan bagi industri-industri berorientasi ekspor yang padat energi seperti aluminium, besi gubal, soda api, semen, dan petrokimia. Industri-industri ini kebanyakan mendapat keuntungan dari pembebasan pajak besar-besaran dan tarif tenaga yang dibuat rendah karena disubsidi oleh pemerintah Brasil (lihat Taccian Portella, "Itaparica : A Dor de Um Povo Gerando Energia" (Petrolandia, Brazil; Centrode Defesa dos Direitos Humanos do Sub Medio Sao Fransisco Petrolandia, Pernambuco, 1992), 10-12).
  7. Jelas ini merupakan komentar yang patut disayangkan mengenai catatan-catatan pemerintah Brasil dan Bank Dunia sampai saat itu. Laporan yang sama, yang dipersiapkan oleh Departemen Evaluasi Operasi, menuntut catatan Bank Dunia pada tiga proyek 1970-an -- Paulo Alfonson IV (Sobradinho) Hydropower Project, Lower Sao Fransisco Polders, dan Second SaoFransisco Irrigation Project -- yang mencabut dan merusak mata pencaharian 130.000 orang miskin tanpa ganti rugi yang memadai. Proyek-proyek itu menyebabkan masalah-masalah besar, yaitu kerusakan hilir pada pertanian dataran banjir dan polusi hulu dari penggunaan pestisida dan pupuk yang tidak terkendali, juga peracunan persediaan air rumah tangga, ikan, dan hasil pertanian. Manajemen irigasi yang buruk menambah penyebaran perembesan air garam tanah. Proyek-proyek ini merupakan contoh-contoh terpenting mengenai strategi kemiskinan McNamara di Brasil, dan bahkan dalam hal ini mereka gagal: evaluasi OED menyimpulkan bahwa proyek-proyek itu tidak memberikan keuntungan pada penduduk miskin, tetapi pada pemilik tanah yang jumlahnya relatif sedikit, mengonsentrasikan saham besar, mempromosikan pertanian teririgasi berorientasi ekspor yang padat modal yang "mungkin dampaknya merugikan terhadap tingkat kemiskinan lokal dan jaringan, sementara juga menambah perkembangan pemukiman penghuni liar kota yang sangat cepat." (OED, Sao Fransisco Draft Report [lihat catatan akhir 16], V, IX, X).
  8. Nasib suku Tuxa merupakan studi kasus mengenai gagalnya pelaksanaan dua kebijakan lingkungan dan sosial Bank -- pemindahan tempat tinggal dan masyrakat adat dalam proyek-proyek yang dibiayai Bank Dunia (World Bank Operational Manual Statement No. 2. 34, Februari 1982, direvisi pada September 1991 sebagai Operational Directive 44, 20). Kebijakan tahun 1982 (yang berlaku selama persiapan dan pelaksanaan proyek pemindahan permukiman Itaparica) menyatakan bahwa "Sasaran tengah dari petunjuk ini adalah untuk memastikan bahwa penduduk pribumi tidak mendapat pengaruh yang merugikan selama proses pembangunan, terutama dari proyek-proyek yang dibiayai Bank Dunia, dan agar mereka menerima keuntungan-keuntungan sosial dan ekonomi yang sesuai dengan budaya" (World Bank Directiv 4, 20 hal 1-2).
  9. Staf Bank masih terus menyatakan bahwa Bank Dunia dapat mencapai sukses dalam mengelola pemindahan permukiman dengan menutut agar kebijakan-kebijakan yang diumumkannya dihormati. Untuk proyek Bendungan Zimapan dan Aqua Milpa di Meksiko barat laut, Bank Dunia menyatakan bahwa 4.000 orang memiliki kesempatan bagus untuk mendapat rehabilitasi berkat konsultasi dan patisipasi lokal yang luas dalam perluasan rencana pemindahan pemukiman (lihat Scot Guggerheim, "Salvaging the Daammned", The Bank’s World, vol.10 no.2 (Februari 1991), 14-15).
  10. Menarik untuk dicatat persamaan antara fokus Conable pada hutan tropis dan maklumat George Bush (pada KTT Bumi di Rio de Jenairo) pada Juni tahun 1992 mengenai penambahan bantuan bilateral Amerika Serikat untuk mengonservasi hutan hujan sebagai alat mengalihkan perhatian dari penolakan Amerika Serikat untuk menandatangani konvensi internasional yang keras mengenai perlindungan keanekaragaman hayati dan perubahan iklim. Dalam setiap kasus, Bank Dunia dan Presiden Amerika Serikat mengumumkan tindakan lingkungan yang tanggung untuk menangkis kecaman-kecaman internasional mengenai keseluruhan catatan lingkungan dari birokrasi-birokrasi yang mereka pimpin.
  11. Segera sesudah TFAP menjadi sebuah pendekatan dasar yang harus diterima, lembaga-lembaga donor secara aktif mencari dukungan kelompok-kelompok LSM, sehingga TFAP dapat lebih dipercaya dan membujuk pemerintah negara donor untuk mendanainya.
  12. Kebijakan kehutanan yang baru selesai dirumuskan pada bulan Juli 1991. Kebijakan itu merupakan langkah maju bagi Bank Dunia. Selain mendapat masukan dari kalangan LSM, kebijakan baru itu juga merumuskan bahwa Bank Dunia tidak akan mendanai proyek penebangan kayu untuk hutan primer yang masih murni. Namun banyak pihak masih ragu terhadap komitmen Bank Dunia. Hal ini mengingat adanya kegemaran staf Bank Dunia untuk mengabaikan kebijakan-kebijakan yang "lunak" saat menyiapkan dan melaksanakan proyek. Pada musim gugur 1991, pakar-pakar sosiologi Bank Dunia tetap memprotes proyek Cote d'Ivoire melalui memo-memo internal. Dalam protes itu dinyatakan bahwa proyek tersebut akan menjadi "proyek pemindahan paksa yang terbesar sepanjang sejarah kiprah Bank Dunia di Afrika". Kemungkingan proyek itu akan mengusir ratusan ribu orang dari hutan tropis tersebut. Padahal hidup mereka begitu tergantung pada sumber daya hutan, dan mereka tidak dapat mengolah sumber daya di areal pertanian." (Keith Bradsher, "Rainforest Project in Africa Stirs Debate at World Bank", New York Times, 14 Oktober 1991). Pada tanggal 7 Januari 1992, direktur eksekutif dari Amerika Serikat mengeluh di depan Dewan Eksekutif Bank Dunia bahwa "meskipun data penilaian rencana pemindahan permukiman masih sedikit, kontrak penebangan kayu (untuk perusahaan swasta) tetap diproses lebih cepat". Maka tidak heran, jika "hal itu akan menyebabkan proses penebangan kayu yang gila-gilaan, membabat kayu hutan sebanyak mungkin" (pernyataan E. Patrick Coady, Direktur Eksekutif untuk Amerika Serikat, di hadapan Dewan Ekekutif Bank Dunia, pada tanggal 7 Januari 1992 [data Departemen Keuangan Amerika Serikat].
  13. Departemen Etik Bank Dunia merupakan bagian dari Bagian Personalia. Salah satu fungsinya adalah melacak staf yang diduga membocorkan dokumen. Konsepsi Bank Dunia tentang Departemen Etika sangat terpusat, berkaitan dengan pemenuhan aturan-aturan intern yang berlaku bagi para staf dan lembaga tersebut (korupsi kecil-kecilan dan pelecehan terhadap staf lain merupakan masalah-masalah yang khas dibahas di dalam departemen itu. Namun, anehnya, sikap mengabaikan kebijakan lingkungan dan kebijakan sosial Bank Dunia yang mengakibatkan bencana bagi seluruh ekosistem dan ratusan ribu penduduk miskin di negara berkembang tidak menjadi pokok persoalan bagi Departemen Etik.
  14. Lihat, misalnya, Amulua K.N. Reddy dan Jose Goldemberg, "Energy for the Developing World", Scientific American, September 1990, hal. 111-118. Reddy merupakan Wakil Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Negara Bagian Karnataka, India. Presiden Brasil menunjuk Goldemberg sebagai menteri lingkungan hidup pada bulan April 1992.
  15. Departemen Energi Bank Dunia menerbitkan sebuah studi yang bagus pada tahun 1986 yang secara khusus menegaskan tentang investasi efisiensi di bidang listrik. Namun, studi ini diabaikan dalam pelaksanaan pemberian pinjaman Bank Dunia. (Howard Geller, "End-Use Electricity Conservation: Options for Developing Countries", Makalah Departemen Energi Bank Dunia No. 32 (Washinton, D.C.: Departemen Energi Bank Dunia, Oktober 1986).
  16. Untuk menyebut sebuah contoh -- di antara sekian banyak contoh -- pada tahun 1988, Howard Geller dan para peneliti Brasil lainnya menyimpulkan bahwa tindakan efisiensi energi yang layak secara ekonomi dan teknologi akan memperkecil kebutuhan untuk membangun pembangkit tenaga listrik berkapasitas 19.000 megawatt, atau dua pertiga dari kapasitas pembangkit listrik yang dibutuhkan untuk Brasil dan dipasok oleh Electrobras yaitu sebesar 28.000 megawatt. Diperkirakan, untuk memenuhi kebutuhan itu diperlukan pembangunan pembangkit listrik mulai dari tahun 1985 sampai dengan tahun 2000. (Howard Geller, "Electricity Conservation in Brazil: Potential and Progress", Energy 13, no. 6 [1988], 469-483, dikutip dari Jullie Van Domelen, Power to Spare: The World Bank and Electricity Conservation [Washington, D.C.: Osborn Center, A Joint Program of World Wildlife Fund and the Conservation Foundation, 1988], 14-18).
  17. Sebagian penggunaan listrik Amerika Serikat, yang dipasok oleh Pasific Gas and Electric, pemasok listrik terbesar di California, telah meningkatkan kapasitasnya untuk memenuhi permintaan listrik selama lebih dari satu dekade terakhir. Penambahan kapasitas itu didanai dengan investasi listrik bermetode efisiensi dan konservasi pada pihak konsumen dan perusahaan. Investasi tersebut berbiaya jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan pola investasi yang dilakukan negara-negara peminjam.
  18. Bank Dunia menyatakan sudah mendukung program efisiensi melalui investasi pada sistem transmisi, distribusi, dan generator, serta melalui kebijakan menaikkan tarif listrik. Tindakan-tindakan tersebut memang penting dan perlu dilakukan. Namun, masih ada beberapa persoalan mendasar lain yang perlu ditindaklanjuti, yaitu persoalan-persoalan yang sudah dibahas pada beberapa studi independen: perlunya perencanaan energi yang berbiaya kecil. Jawaban terhadap persoalan mendasar tersebut akan memberikan pilihan investasi yang dapat memenuhi permintaan tenaga listrik serta infrastruktur pembangkit tenaga listrik. Pendekatan yang demikian akan segera memperlihatkan bahwa Bank Dunia selama ini telah mengabaikan investasi untuk end use efficiency dan end use conservation.
  19. Proporsi proyek Bank Dunia yang ditinjau ulang oleh OED semakin merosot sejak tahun 1970-an. Padahal, saat itu OED benar-benar melakukan audit yang independen terhadap proyek-proyek Bank Dunia.
  20. Misalnya, Program Aksi Khusus yang dicanangkan Presiden Clausen, yang mempercepat pengucuran pinjaman untuk proyek Polonoroeste dan proyek-proyek lainnya, yang digunakan untuk meredakan krisis utang Brasil.
  21. Laporan OED mengenai beberapa proyek yang menimbulkan bencana lingkungan dan sosial telah dibahas dalam bab-bab sebelumnya.
  22. "Ketika melakukan kunjungan lapangan pada bulan Februari 1981, staf Divisi Operasi Bank Dunia tidak mengikutsertakan ahli lingkungan ataupun menyertakan daftar persoalan lingkungan ketika tim kunjungan lapangan itu menyusun laporan singkat mengenai proyek tersebut. Padahal, mereka menyatakan sangat peduli terhadap dampak-dampak lingkungan yang bisa ditimbulkan oleh proyek tersebut. Hanya seorang pegawai Divisi Lingkungan yang turut dalam kunjungan lapangan tersebut. Demikian laporan OED mengenai Rancangan Proyek Carajas (lihat endnote 50), halaman 60-61. Laporan OED itu mengungkapkan, "namun kerangka acuan pegawai Divisi Lingkungan untuk melakukan analisis lingkungan sangat dibatasi, sehingga hanya menganalisis proyek-proyek di luar Greater Carajas Program." (Ibid., 24, hal. 61).
  23. "Seorang penasihat senior dengan keras menentang pelaksanaan proyek tersebut. Alasannya, pada tingkat pelaksanaan, proyek itu menjadi sangat berisiko karena terjadi pengurangan biaya hingga menjadi 4,5 miliar dolar AS. Sebagai respons terhadap pengamatan ini, dinyatakan bahwa sekalipun kemungkinan risiko dari pelaksanaan proyek tersebut telah dapat dibuktikan dengan jelas pada laporan penilaian, seharusnya dokumen itu juga mengungkapkan mengapa risiko yang demikian diambil. Dan, seharusnya dokumen itu juga lebih menekankan pada manfaat dan dampak proyek itu di masa datang bagi pembangunan di wilayah tersebut." (Laporan OED mengenai Rancangan Proyek Carajas [lihat endnote 50], 66). Kutipan dan pernyataan tersebut diambil, menurut OED, dari sebuah memorandum tangal 10 Juni 1982, yang mengungkapkan komentar-komentar manajemen puncak Bank Dunia mengenai laporan penilaian proyek. (ibid., endnote 38, hal. 66).
  24. "Di daerah-daerah yang berbatasan dengan rel kereta api Carajas, dua per tiga dari sekitar 100.000 keluarga petani tidak memiliki lahan untuk digarap. Dan semakin banyak dari mereka yang akhirnya bekerja sebagai buruh upahan, petani penggarap (dengan sistem bagi hasil), dan buruh tani. Lagi pula, sebagian besar petani itu tidak lagi diizinkan untuk menetap di daerah lahan yang mereka tanami. Kini mereka bertempat tinggal di perkampungan miskin yang menjamur di pinggiran kota seperti Acailandia dan Maraba. Sebagian lainnya cenderung bertahan di kawasan sekitar proyek yang lahannya semakin menciut." (Laporan OED mengenai Rancangan Proyek Carajas [lihat endnote 50], 169).
  25. Pinjaman lunak dan hibah yang dikucurkan Bank Dunia merupakan salah satu cara untuk membantu meredakan problem net negative transfer negara peminjamnya. Pada kenyataannya, Mason dan Asher menulis pada tahun 1973, perlunya meningkatkan bantuan IDA untuk menghindari problem net negative transfer sejumlah negara berkembang yang menjadi anggota Bank Dunia pada tahun 1970-an akhir.
  26. UNDP hanya akan menjadi lembaga pelaksana bagi sejumlah kecil proyek bantuan teknis, terutama proyek-proyek riset dan studi kelayakan.
  27. Dalam sebuah surat yang dialamatkan kepada Barber Conable pada 9 Maret 1990, beberapa organisasi lingkungan utama Amerika Serikat serta Woods Hole Research Institute dan Union of Concerned Scientists menyatakan, "Kami sangat terkejut dan cemas melihat Bank Dunia tetap menolak partisipasi masyarakat saat merumuskan dan mendiskusikan proposal tersebut. Padahal ada sejumlah LSM dan anggota masyarakat yang sangat berkepentingan dengan masalah lingkungan dan pembangunan. Bank Dunia berulang kali menolak permintaan LSM untuk meninjau ulang proposal tersebut, untuk berpartisipasi secara formal dalam proses perumusan, dan bahkan untuk bertemu dengan staf Bank Dunia guna membicarakan masalah tersebut." (Natural Resources Defences Council, surat kepada Presiden Bank Dunia,Barber Conable, 9 Maret 1990).
  28. Bahkan masalah ini sempat menjadi laporan utama di majalah Time (Eugene Linden, "The Last Eden", Time, 13 Juli 1992, hal. 62).
  29. Ironisnya, kebijakan cagar alam Bank Dunia, yang diumumkan pada tahun 1986, mensyaratkan Bank Dunia untuk mendanai program perlindungan areal hutan atau lahan kayu lainnya pada saat sebuah dana pinjaman Bank Dunia -- seperti untuk Proyek Manajemen Sumber Daya Alam Kongo -- mengakibatkan pengubahan ekosistem yang masih murni. GEF secara teoretis dilarang mendanai aktivitas yang akan didanai dari sumber keuangan lain. Namun kebijakan cagar alam menjadi sulit dilaksanakan karena staf Bank Dunia memandangnya sebagai hambatan utama untuk menjalankan proyek-proyek pembangunannya dan menghambat pemerintah negara anggota untuk menerima pinjaman. Akibatnya, GEF membuka sejumlah celah yang bisa diterobos oleh staf Bank Dunia untuk menghindari kebijakan lingkungannya sendiri. Caranya adalah menggabungkan paket pinjaman Bank Dunia dengan proyek-proyek GEF. Dengan cara demikian, proyek GEF akan dijadikan pijakan "perlindugan lingkungan" bagi proyek Bank Dunia lainnya yang memerlukan pendanaan.
  30. Posisi Bank Dunia adalah untuk mendesak pemerintah-pemerintah itu menginformasikan dokumen AMDAL kepada masyarakat, yang merupakan hak milik negara yang berutang itu. Selain itu, Bank Dunia juga mengambil sikap tidak akan menyiarkan dokumen AMDAL itu kepada masyarakat tanpa seizin pemerintah yang bersangkutan.
  31. Hanya sebuah ancaman terhadap nyawa yang tampaknya bisa secara efektif mengerahkan masyarakat internasional untuk melakukan persetujuan dan tindakan lingkungan. Diperlukan bukti-bukti ilmiah berupa ancaman langsung terhadap kesejahteraan umat manusia yang disebabkan oleh rusaknya lapisan ozon -- termasuk kemungkinan meningkatnya kasus kanker kulit di negara-negara industri -- yang dapat memacu pelbagai negara untuk menciptakan sebuah persetujuan yang bersifat mengikat secara internasional mengenai pengurangan perusakan ozon chlorofluorcarbons (CFCs) pada tahun 1988, Montreal Protocol. Bahkan, dalam hal ini, negara-negara berkembang seperti India dan Cina menolak untuk menandatangani proyek tersebut kecuali telah menyetujui untuk mentransferkan sumber daya teknis dan finansial untuk negara-negara berkembang sehingga meringankan beban ekonomi negara.

Catatan:

  1. Max Weber, "Bureaucracy" dalam From Max Weber: Essays in Sociology, H. H. Gerth dan C. Wright Mills (New York: Oxford University Press, 1946), 228.
  2. Pemaparan James H. Scheuer, dalam dengar pendapat di House Committee on Science, Space, and Technology, Subcommittee on Natural Resources, Agriculture Research, and Environment, Sardar Sarovar Dam Project, 101 Sidang Cong ke-101, sesi I, 24 Oktober 1989, 96.
  3. Bank Dunia, The World Bank and the Environment: First Annual Report, Fiscal 1990 (Washington, D.C.: World Bank, 1990), 52-53.
  4. Barber B. Conabel, Presiden Bank Dunia, "Remarks at the Conference on Global Environment and Human Response Toward Sustainable Development, Tokyo, Japan, September 11, 1989" [versi tercetak dari pidato itu disiarkan ke media massa], 6; The World Bank and the Environment, 1990, 6.
  5. Kaukus Hak Asasi Manusia, Kongres Amerika Serikat, Briefing on Forced Resettlement by Development Projects, 27 September 1989.
  6. Ringkasan mengenai sejarah Kedung Ombo bisa dibaca pada "Statement of Peter Van Tuijl on Behalf of the International NGO Forum on Indonesia, Concerning the Consequences of Forced Resettlement in the World Bank Financed Kedung Ombo Dam in Indonesia" yang dibacakan di depan Kaukus Hak Asasi Manusia, Kongres Amerika Serikat, pada tanggal 27 September 1989 (tidak diterbitkan, hanya bisa didapat di Kaukus Hak Asasi Manusia atau Environmental Defense Fund, Washington, D.C.). Sumber lainnya adalah Tapol Bulletin (buletin tentang Kampanye Hak Asasi Manusia di Indonesia, yang diterbitkan oleh TAPOL, Thorton Heath, Croydon, Surrey, Inggris), no. 82 dan 83 (edisi Agustus dan September 1987); dan Setiakawan (diterbitkan oleh SKEPHI, sebuah jaringan LSM yang peduli terhadap masalah konservasi hutan di Indonesia, berkantor di Jakarta).
  7. Pembelaan Bank Dunia mengenai peranannya dalam kasus Kedung Ombo tampak dalam surat Direktur Eksekutif Bank Dunia untuk Indonesia, Russell J. Cheetam, pada tanggal 5 Mei 1989, yang dialamatkan kepada International NGO Forum on Indonesia (INFID). Bank Dunia menegaskan, berbeda dari apa yang dituduhkan oleh kalangan wartawan dan LSM, "pengawasan Bank Dunia yang berupa kunjungan lapangan dilakukan secara teratur dan telah mengawasi pelaksanaan proyek tersebut sejak tahap awal. Kami juga telah meninjau ulang perkembangan program pemindahan permukiman selama melakukan pengawasan kunjungan lapangan tersebut". Surat itu tetap menyangkal tuduhan yang menyatakan Bank Dunia tidak menjamin program pemindahan permukiman dan program lingkungan pada saat pelaksanaan proyek pembangunan bendungan tersebut. Menurut Bank Dunia, penduduk setempat telah diajak untuk membicarakan proyek bendungan tersebut, dan Bank Dunia tidak mengabaikan persoalan-persoalan yang disodorkan oleh lembaga konsultannya. Jadi, semua tuduhan itu tidak benar. Menyangkut tuduhan mengenai kekerasan, Bank Dunia menjawab, "pemerintah Indonesia telah mempunyai kebijakan yang jelas yaitu ‘tidak ada kekerasan’ dalam mengatasi masalah tersebut." Namun surat tersebut kemudian menyatakan bahwa Bank Dunia telah menyampaikan tuduhan tindak kekerasan itu kepada pemerintah Indonesia, dan "dapat memahami pemerintah Indonesia mengambil tindakan seperti itu dalam mengatasi masalah tersebut". Dialog dengan beberapa penduduk yang masih bertahan, menurut surat tersebut, "talah berlangsung sengit karena ada kelompok yang bersikap menentang pemerintah Indonesia". Surat sepanjang enam halaman yang diketik satu spasi itu kemudian menyimpulkan,"program pemindahan penduduk pada kasus Kedung Ombo tampaknya mengalami masalah. Pemerintah, dengan bantuan Bank Dunia, sedang berusaha menyelesaikan masalah tersebut".
  8. Pembahasan mengenai pawai massa Harsud, dan kutipan dari Srilata Swaminadhan, bisa dibaca pada Rusi Engieer, "The Sardar Sarovar Controversy: Are the Critic Right?" Business India, 30 Oktober-12 November 1989, 90-104.
  9. Lokayan Bulletin, vol. 8, no. 1 (1990), 69-73.
  10. Bank Dunia, OED, "Environment Aspects of Selected Bank Supported Projects in Brazil: Environmental Aspects and Consequences of the Polonoroeste Program" (rancangan laporan yang bersifat rahasia, dan diketik), 26 November 1990, 14-15 (selanjutnya disebut OED, Polonoroeste Draft Report).
  11. Clarence Maloney, "Environmental and Project Displacement of Population in India, Part I: Development and Deracination", University Field Staff International, laporan kunjungan lapangan pada tahun 1990-1991, no. 14 (Indianapolis, Ind.: University Field Staff International), 1.
  12. OED, Polonoroeste Draft Report, 15.
  13. Lori Udall, "Statement on Behalf on the Environmental Defense Fund Concerning the Social Impact of Forced Resettlement in World Bank – Financed Development Project", dibacakan di depan Kaukus Hak Asasi Manusia, Kongres Amerika Serikat pada tanggal 27 September 1989 (data itu hanya bisa ditemui pada Environmental Defense Fund, Washington D.C.), 4.
  14. Bank Dunia, Departemen Pembangunan Desa dan Pertanian "Involuntary Resettlement in Bank-Assisted Project: A Review of the Application of Bank Policies and Procedures in FY 79-85 Projects" (dokumen internal), Februari 1986, hal. 42.
  15. Thayer Scudder, kutipan Nicholas Calxton, produser dan direktur, The Price of Progress, film dokumenter (London: Central Independent Television, 1987).
  16. Bank Dunia, OED, "Environmental Aspects and Consequences of Bank-Assisted Projwect in the Middle and Lower Sao Francisco Valley" (rancangan laporan yang bersifat rahasia), 1990, hal. 90 (selanjutnya disebut OED, Sao Francisco Valley Draft Report).
  17. Ibid., 95.
  18. Ibid., 93.
  19. Ibid., 94.
  20. Ibid., catatan kaki 50, hal. 93-94, mengutip memorandum intern Bank Dunia pada tanggal 24 Juli 1990.
  21. Ibid., 52.
  22. Ibid., vii.
  23. The World Bank and the Environment, 1990, 6.
  24. Kevin Cleaver, Kepala Departemen Negara untuk Afrika, Divisi Pertanian 1, Bank Dunia, bersikeras menyetujui pinjaman untuk proyek Cote d’Ivoire, demikian tertulis dalam sebuah memorandum resmi Bank Dunia yang dialamatkan kepada Direktur Eksekutif, Andre Milongo, 26 Maret 1990, hal. 3.
  25. Surat Barber Conable, Presiden Bank Dunia dan International Finance Corporation kepada World Resources Institute pada tanggal 5 Mei 1987 (versi tercetak dari surat tersebut disiarkan ke media massa), 4.
  26. Barber B. Conable, "Remarks at Tokyo, Japan, September 11, 1989", 10.
  27. EDF, "Memorandum: The Tropical Forest Action Plan for Cameroon, 1990", (naskah ketikan); lihat juga Karinna Horta, "The Last Big Rush for the Green Gold: The Plundering of Cameroon’s Rainforest", Ecologist, vol. 21, no. 3 (Mei/Juni 1991), 142-147.
  28. 0Marcus Colchester dan Larry Lohman, The Tropical Forest Action Plan: What Progress? (Penang, Malaysia dan London, Inggris: World Rainforest Movement, 1990).
  29. ARA (Working Group on Rainforesets and Species Consevation) dan INFOE (Institute for Ecology and Action Anthropology), "Memorandum on the Responsibility of the Federal Republic of Germany for Destruction of Tropical Rainforests and Her Obligation to Take Action for Their Protection" (Bielefeld, Germany: ARA, 1989).
  30. Rainforest Information Centre, "Memorandum on Australia’s Responsibility for Destruction of the World’s Rainforests and Its Obligation to Take Action for Their Protection" (Lismore, New South Wales, Australia: Rainforest Information Centre, Inc., 1991).
  31. Lihat, misalnya, Bank Dunia, Amerika Latin dan Karibia, Environment and Development in Latin America and the Caribbean: The Role of the World Bank (Washington, D.C.: Bank Dunia, 1992), 17-20.
  32. Francisco Alves Mendes Filho (Chico Mendes), surat untuk Barber Conabel, 13 Oktober 1988 (terjemahan dan aslinya ada pada EDF, Washington D.C.).
  33. Bruce Rich, Environmental Defense Fund, Osmarino Amancio Rodrigues, Dewan Nasional Penyadap Karet, surat untuk E. Patrick Coady, Direktur Eksekutif Bank Dunia, Amerika Serikat, 9 Januari 1990.
  34. Steve Schwartzman, EDF, surat untuk E. Patrick Coady, Direktur Eksekutif Bank Dunia, Amerika Serikat, 1 Februari 1990; Jeronimo Garcia de Santana, Gubernur Rondonia, surat untuk Jose Sarney, Presiden Brasil, 14 September 1988.
  35. Percakapan telepon dengan Jose Lutzenberger, Maret 1990; percakapan telepon dengan Adrian Cowell, Maret 1990.
  36. Jose A. Lutzenberger, Menteri Lingkungan Hidup Brasil, surat untuk Barber Conable, Presiden Bank Dunia, 22 Maret 1990.
  37. Juan de Onis, The Green Cathedral: Suistainable Development of the Amazon (The York: Oxford University Press, 1992), 217.
  38. Delapan belas LSM di Rondonia melayangkan surat terbuka kepada Direktur Eksekutif Bank Dunia pada tanggal 12 Maret 1992. Mereka meminta agar proyek Rondonia Natural Resources ditunda sampai segala masalah dan kekacauan akibat proyek itu dibenahi. ("Carta Abierta do Forum das Organizacones Nao-Governamentais de Rondonia, Brasil para Directores Executivos do Banco Mundial, Porto Velho, Rondonia, 12 de Marco de 1992"). Kepedulian mereka – yang meliputi persoalan proyek pemindahan permukiman yang dirancang INCRA – dilanjutkan dalam sebuah memorandum yang dikirim pada tanggal 12 Mei 1992, kepada Luis Coirolo, manajer untuk proyek tersebut. Sebagian besar kelompok itu juga menulis surat kepada Presiden Brasil, Fernando Collor de Mello, pada tanggal 29 Mei 1992, yang isinya mengungkapkan keprihatinan terhadap proyek tersebut, khususnya program kolonisasi INCRA yang sebenarnya bertentangan dengan hukum. Salinan surat itu dikirimkan kepada Lewis Preston, Presiden Bank Dunia, serta Menteri Lingkungan Hidup Brasil yang baru, Jose Goldemberg, dan sejumlah pejabat Brasil lainnya.
  39. Articulation of Indigenous Peoples of Rondonia and Northern Mato Grosso (APIR), surat untuk Lewis Preston, Presiden Bank Dunia, 29 april 1993.
  40. Barber B. Conable, "Remark at Tokyo, Japan, September 11, 1989", 5.
  41. Bank Dunia, Laporan Tahunan 1992 (Washington, D.C.: Bank Dunia, 1992), 193; Bank Dunia, Laporan Tahunan 1993, 165.
  42. Angka mengenai investasi energi di India didapat dari lampiran intern Bank Dunia yang ditulis oleh Peter Miller (yang belakangan ini bergabung dengan Natural Resources Defense Council di San Francisco), ahli energi, yang bekerja untuk Environmental Defense Fund, "Energy Efficiency and the World Bank in India", 1990.
  43. Selain studi-studi yang dikutip dalam catatan kaki dan catatan akhir (endnote) bagian ini, lihat juga Horward S. Geller, Efficient Electricity Use: A Development Strategy for Brazil (Washington, D.C. dan Berkeley: American Council for an Energy-Efficient Economy, 1991). Geller memperkirakan, sebuah alternatif rancangan investasi energi untuk Brasil, yang belakangan ini sering digunakan dan berteknologi yang terjangkau secara ekonomi, akan bisa menggantikan proyek pembangunan kapasitas pembangkit listrik sebesar antara 26.000 dan 33.000 megawatt menjelang tahun 2010. Dia memperkirakan, biaya pembangunan bendungan untuk pembangkit listrik berkapasitas 26.000 megawatt dan pembangunan pembangkit listrik batu bara mencapai 52 miliar dolar AS, sedangkan biaya maksimal dari investasi efisiensi energi hanya mencapai 20 miliar dolar AS. Berarti menghemat 32 miliar dolar AS. (Geller, op.cit., 120-124). Lihat juga Jose Goldemberg, Energy for Development (Washington, D.C.: World Resources Institute, September 1987).
  44. Michael Philips, The Least-Cost Energy Path for Developing Countries: Energy-Efficiency Investments for the Multilateral Banks (Washington, D.C.: International Institute for Energy Conservation, September 1991).
  45. Bank Dunia, IDA, "Additions to IDA Resources: Ninth Replenishment" (dokumen rahasia yang disiapkan hanya untuk pertemuan para direktur eksekutif, Kamis 23 Januari 1990) 5 Januari 1990, alinea 18, hal. 6.
  46. "Implementing Energy Efficiency Activities in Developing Countries, A Cross-Country Examination of Energy and Environmental Issues, Constrains and Options" Program Bantuan Sektor Pengelolaan Energi Bank Dunia, ringkasan kegiatan awal April 1990, 3-4.
  47. Art Van de Laar, The World Bank and the Poor (Boston, The Hague, and London: Martinus Nijhoff Publishing, 1980), hal. 208, catatan kaki 33.
  48. Untuk kerangka acuan studi OED, lihat OED, Bank Dunia, "Approach Paper: The Bank’s Role in Environmental Issues in Brazil" (Washington, D.C.: World Bank Joint Audit Committee, 2 Juni 1989, memorandum intern).
  49. OED Polonoroeste Draft Report. Lihat khususnya bagian "Ringkasan" dan "Kesimpulan", hal. v-xxxi.
  50. Bank Dunia, OED, "Environmental Aspects of Selected Bank-Supported Projects in Brazil; Environmental Aspects and Consequences of the Carajas Iron ore Project" (rancangan laporan yang bersifat rahasia, diketik), 21 Maret 1990, hal. Xiv (selanjutnya disebut OED, Carajas Draft Report).
  51. Ibid., 173.
  52. OED Polonoroeste Draft Report, hal. 55.
  53. Bank Dunia, "Brazil and the World Bank: Into the Fifth Decade" (Washington, D.C.: Bank Dunia, 1990), 17.
  54. Bank Dunia Amerika Latin dan Karibia, Environment and Development in Latin America and the Caribbean: The Role of the World Bank (Washington, D.C.: Bank Dunia, 1992), 30.
  55. Lihat Bank Dunia, "Funding for the Global Environment" (makalah diskusi, Februari 1990), 1-2.
  56. UNDP, "Fonds Pour l’Environnement Global (Global Environment Facility –GEF), Project d’Amenagement et de Gestion des Aires Protegees du Congo, Commentaires Techniques du Consultant PNUD, New York, Septembre, 1991", hal. 7.
  57. M. Balcet, memorandum Bank Dunia, 13 Juni 1991.
  58. UNDP, "GEF, Project d’Amenagement", 3.
  59. Ibid.
  60. John G. Sidle, U.S. Fish and Wildlife Services, berkantor di Nebraska/Kansas, Grand Island, Nebraska, surat untuk Jean-Claude Balcet, Departemen Lingkungan Bank Dunia, Washington, D.C., 12 Mei 1992; John G. Sidle, surat untuk Dr. Walt Reid, World Resources Institute, Washington, D.C., 17 Juni 1992.