|
5
Kelompok-kelompok Hijau Menyanyikan Serangan kepada Istana Kristal
|
Kemudian -- seperti semua yang Anda katakan – relasi-relasi ekonomi baru itu akan terbentuk, seluruhnya akan menjadi siap-pakai dan berjalan dengan kepastian matematis, sehingga setiap persoalan yang mungkin timbul akan hilang dalam sekejap mata. Semua begitu sederhana karena setiap jawaban untuk persoalan tersebut telah tersedia. Lalu, "Istana Kristal" pun berdiri.1 -- Fyodor Dostoyevsky, Notes fromUnderground |
Pada permulaan tahun 1980-an, bangunan besar itu tampak komplit. Dalam sebuah dunia yang memandang bahwa nilai-nilai politik yang tersebar secara luas sangat bermanfaat bagi pertumbuhan ekonomi, Bank Dunia muncul sebagai Vatikan-nya pembangunan. Bank Dunia juga muncul sebagai sebuah rumah besar intelektual yang selama 40 tahun berada dalam suatu proses membangun sebuah istana kristal -- tetapi dengan banyak keaslian sejarah yang lebih mendalam -- yang mengisyaratkan kebanyakan negara-negara di bumi ini adalah masih berkembang.
Istana Kristal adalah lebih dari sekadar kiasan. Istana Kristal merupakan sebuah bangunan historis, di Hyde Park, London, yang didirikan dalam waktu sepuluh bulan sebagai rumah pameran dunia pertama, the Great Internasional Exposition 1851. Istana Kristal dibangun dari bahan-bahan industri yang revolusioner, besi dan kaca. Bangunan itu menjadi salah satu keajaiban dunia terbesar pada masa itu. Dostoyevsky mengunjunginya pada tahun 1862. Istana Kristal mempunyai apa yang disebut sosiolog Marshall Berman sebagai "dampak fisik yang luar biasa" bagi para pemikir Rusia, yang menyimbolkan "hantu modernisasi yang menghantui sebuah negara yang menderita karena keterbelakangan."2
Bagi beberapa pemikir Rusia, yang dihantui nasib negara terbelakang pada abad ke-19, Istana Kristal mewujudkan janji kemajuan teknologi dan pembangunan. Sedang bagi Dostoyevsky, Istana Kristal menandai sebuah tatanan sosial dan politik baru yang menggolongkan kebebasan manusia kepada proyek tunggal yaitu: proyek rasionalisasi pengorganisasian sosial yang bersifat absolut untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.3 Dostoyevsky merasa ngeri berhadapan dengan pandangan dunia yang cenderung mengabadikan, bukannya mempersoalkan apa yang di dalam Notes from Underground disebutnya sebagai "kegemaran manusia pada sistem dan deduksi abstrak". Kegemaran itu begitu kuat pada diri manusia, sehingga manusia "siap untuk mengubah kebenaran ataupun mengingkari bukti-bukti yang masuk akal hanya untuk membenarkan logikanya."4
Dostoyevsky takut bahwa proyek pembangunan ekonomi Barat tidak hanya menindas kebebasan atas nama akal dan kemajuan, tetapi juga mengakhiri sejarah keberadaan manusia.
a) Protes-protes bawah-tanahnya yang terkesan tidak heroik selalu menentang "istana yang terbuat dari kristal dan tidak pernah rusak... Mungkin karena itu, saya jadi takut pada gedung-gedung yang megah."5 Namun yang terjadi malah sebaliknya, sejarah sedangkan memainkan sebuah skenario berupa pembangunan manusia. Di dalam skenario itu, pilihan bebas baik dari komunitas maupun individu menjadi faktor yang menentukan dan pertaruhan utama.Nabi lain dari dunia baru yang digembar-gemborkan oleh Istana Kristal adalah Max Weber, seorang ilmuwan sosial Jerman terbesar pada abad peralihan. Sebagian besar hidup Weber dihabiskan untuk menganalisa apa yang dilihatnya sebagai proses rasionalisasi dan birokratisasi masyarakat Barat dalam kaitannya dengan teknologi dan pertumbuhan ekonomi. Dengan rasa pesimistis yang besar, Weber membayangkan masa depan sebagai sebuah "sangkar besi" yang di dalamnya setiap aktivitas manusia semakin ditaklukkan oleh sebuah dominasi yang bersifat instrumental dan rasional berupa birokrasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara fundamental.6
Baik Dostoyevsky maupun Weber menyadari, kejayaan teknologi dan keterpusatan pertumbuhan material dan ekonomi -- sebagai dasar semua masyarakat modern -- menciptakan sebuah cara berpikir yang unik bagi bentuk baru dominasi politik dan sosial. Menurut keduanya, proyek pembangunan modern mengembangkan sebuah paradoks yang selalu mengancam di dalam dirinya sendiri, yaitu peningkatan rasionalitas yang justru disertai oleh irasionalitas dan pengingkaran kemanusiaan.
Dibutuhkan Sejumlah Kepercayaan
|
Sebagaimana pernah ditegaskan Keynes, jika para kapitalis dapat melihat ketidakberesan di daerah-daerah yang akan diinvestasi, mereka mungkin tidak akan berinvestasi di daerah itu. Sejak Bank Dunia menggunakan uang orang lain....maka yang dibutuhkan adalah adanya kepercayaan mengenai masa depan pembangunan di sebuah negara – sebuah kepercayaan yang melebihi harapan-harapan pada proyek-proyek tertentu.7 -- Edward Mason dan Robert Asher |
Ketika A.W. "Tom" Clausn, mantan Presiden Bank Amerika, menggantikan McNamara sebagai presiden Bank Dunia, dia dengan sangat yakin membual bahwa Bank Dunia sudah "menjadi institusi pembangunan yang terbesar dan paling berpengaruh di muka bumi ini."8 Memang tidak ada yang mempersoalkan pernyataannya bahwa Bank Dunia telah dihargai secara luas untuk kualitas kerja-kerjanya karena standar-standarnya yang diberlakukan untuk mengindentifikasi, menyiapkan, menaksir, menerapkan dan mengawasi proyek-proyek pembangunan diakui sebagai salah satu standar yang paling teliti dan tepat di dunia ini.9 Bank Dunia ini hanya memberi sedikit perhatian pada laporan-laporan audit proyek internal yang menyangkal pernyataannya mengenai pengurangan kemiskinan dan kesuksesan pembangunan. Dan, lembaga keuangan itu lebih sedikit lagi memperhatikan studi-studi kasus yang disusun pada setiap periode pembangunan yang mencatat akibat-akibat lingkungan dan sosial dari proyek-proyek Bank Dunia. Akibat-akibat tersebut sering kali tidak tercatat dalam indikator-indikator kuantitatif yang disusun oleh para teolog pembangunan, sehingga di dalam laporannya yang terlihat hanyalah kemajuan-kemajuan proyek tersebut.
b)Bank Dunia menghadapi tantangan baru pada permulaan tahun 1980-an. Ancaman net negative transfer yang sukar di atasi -- yang telah berlangsung selama dua dekade -- jatuh sekedar merupakan mikrokosmos dari hubungan antara negara-negara berkembang dengan para kreditor swasta dan publik negara-negara industri. Sebagai contoh, menjelang tahun 1976 pengeluaran kotor dari semua debitor publik dan swasta di Amerika Latin berjumlah 31,387 miliar dolar AS, dan hampir separonya, yakni sebanyak 15,194 miliar dolar AS, ditransfer kembali untuk membayar utang-utang sebelumnya. Menjelang tahun 1981, tiga perempat dari pinjaman sekitar 72 miliar dolar AS untuk negara-negara di Amerika Latin telah dibayar kembali ke Utara dalam waktu yang cukup singkat. Tahun berikutnya, ketika terjadi krisis utang dengan adanya ancaman kegagalan Mexico untuk membayar utangnya di bulan Agustus 1982, negara-negara di Amerika Latin hanya meminjam 49,63 miliar dolar AS, tetapi menyetor ke Utara sebanyak 66,811 miliar dolar AS. Itu berarti net negative transfer melebihi 17 miliar dolar AS.10
Sepanjang dekade 1970-an bank-bank internasional swasta -- dengan Bank Amerika-nya Clausen di garis depan -- menganjurkan negara-negara yang utangnya besar seperti Meksiko, Brasil, Argentina dan Negeria untuk mengambil pinjaman yang luar biasa besarnya. Pendekatan Bank Dunia menjadi salah satu penyebab timbulnya masalah tersebut. Dalam dekade 1970-an, Bank Dunia melobi negara-negara donornya untuk memperbesar kapitalnya, dan (sebagaimana yang kita lihat) Bank Dunia kemudian meningkatkan pemberian pinjamannya hingga lebih dari 10 kali lipat. Dalam jangka pendek, hal ini memang menaikkan neraca penerimaan devisa (foreign exchange balances) banyak negara debitor, tetapi sekaligus menyebabkan negara-negara itu terjerembab ke dalam krisis yang lebih parah pada awal dekade 1980-an.
Kini, ketika negara-negara yang utangnya besar saling bersusulan terancam gagal membayar utang-utangnya seperti sederetan kartu domino yang berjatuhan, bank-bank swasta enggan memberi pinjaman lagi. Departemen Keuangan Amerika Serikat dan departemen keuangan negara-negara donor lain menekan Bank Dunia dan IMF supaya sebanyak mungkin mengurangi kelonggaran dalam setiap pemberian pinjaman. Bahkan yangg lebih parah, dengan alasan krisis tersebut, Bank Dunia dan IMF diminta untuk menekan negara-negara debitor supaya mengurangi impor dan belanja domestik, kemudian meningkatkan ekspor sehingga penerimaan devisa bertambah dan dapat meneruskan pembayaran utang. Pendekatan baru tersebut disebut sebagai "penyesuaian struktural".
Pinjaman-pinjaman penyesuaian struktural Bank Dunia dikucurkan untuk menghindari penghapusan utang. Pinjaman-pinjaman itu merupakan pinjaman besar (100 sampai 500 miliar dolar AS) dan dalam status cepat cair, yang memberikan pajak-pajak yang cepat lagi mendesak dari devisa. Pemberian pinjaman tersebut bukan untuk membiayai proyek-proyek tertentu (Dewan Eksekutif Bank Dunia memutuskan akan mengucurkan pinjaman 25 persen per tahun untuk apa yang kemudian disebut pinjaman penyesuaian struktural non-proyek. Dan, keputusan itu tidak melanggar Anggaran Dasar Bank Dunia).
c) Tetapi dalam pertukaran mata uang itu, negara penerima pinjaman penyesuaian struktural harus mengikis beberapa bagian penting kedaulatan negaranya, yang pada dasarnya berarti setuju untuk mengubah perekonomian menjadi perekonomian yang mengejar devisa, mesin-mesin berorientasi-ekspor, bahkan sering juga sampai merusak kebutuhan-kebutuhan sosial dan lingkungan di dalam negeri dalam jangka panjang.d)Pinjaman penyesuaian struktural sendiri tidaklah cukup untuk menghentikan krisis. Dalam awal dekade 1980-an, Clausen juga mengusulkan sebuah "Program Aksi Khusus" yang mempercepat pencairan pinjaman Bank Dunia untuk negara-negara debitor utama seperti Brasil dan Mexico, tanpa mempedulikan masalah kualitas atau masalah-masalah yang muncul pada tingkat pelaksanaan proyek-proyek tersebut. Dan Clausen meminta -- terkabul pada tahun 1982 -- penggandaan modal Bank Dunia, yang berarti sebuah penambahan lebih dari 30 miliar dolar AS dalam bentuk tunai dan bergaransi.
Jadi, tekanan untuk meminjamkan uang telah naik secara berlipat-lipat sejak awal era McNamara. Masalah lama berupa ketiadaan proyek yang layak dibiayai dan ancaman net negative transfer Bank Dunia menjadi lebih besar daripada sebelumnya. Kriteria efisiensi ekonomi yang paling dasar sering diabaikan: banyak pinjaman Bank Dunia yang mendukung program-program pemerintah berskala besar di sektor energi dan pertanian ternyata lebih merupakan subsidi yang sangat mubazir bagi para pemakai air, pembangkit listrik, dan bahan-bahan kimia pertanian. Tetapi pinjaman pembangunan, sebagaimana dinyatakan oleh Edward Mason dan Robert Asher dalam sejarah Bank Dunia yang disusun di bawah komisi McNamara, hanyalah sebuah tindakan yang berdasarkan pada anggapan semata. Apa yang dipersoalkan dalam penilaian proyek Bank Dunia adalah kesetiaan teologis kepada aturan dan kredo, bukan berdasarkan pengamatan pada kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, di luar pagar istana kristal yang dibangun dari tumpukan utang dan dikelola oleh birokrasi yang tertutup, para aktivis lingkungan mulai mencurigai Bank Dunia yang kini bagaikan sang kaisar yang kehilangan baju "hijau"-nya
Pertanyaan dan Keraguan
|
Selama satu dekade ini, sebagai bagian dari evaluasi proyek, Bank Dunia mensyaratkan agar setiap proyek diperiksa oleh sebuah unit lingkungan.... Hampir dua pertiga dari proyek yang diperiksa menampakkan tidak ada masalah kesehatan dan lingkungan yang serius. Dan, dengan rasa bangga, saya katakan bahwa semua itu bisa terjadi karena kita melakukan tindakan-tindakan perlindungan pada seluruh proyek yang kita biayai sejak dekade yang silam.11 -- A.W. Clausen, November 12, 1981. |
Pernyataan tersebut, yang dikatakan berulang kali oleh dua presiden Bank Dunia selama satu dekade, sama sekali tidak mengandung kebenaran. Memang sulit untuk menilai apakah Robert McNamara dan A.W Clausen dengan sengaja berdusta, atau apakah mereka berdua dan manajemen Bank Dunia telah begitu mudah ditipu mengenai realitas proyek-proyek Bank Dunia sehingga mereka merasa yakin bahwa apa yang dikatakan telah sesuai dengan kenyataan?
Beberapa kelompok lingkungan di Washington, yang bekerja dengan kelompok-kelompok seperti Natural Resource Defense Council, Enviromental Policy Institute, dan National Wildlife Federatione) heran bahwa hanya ada sedikit bukti untuk mendukung pernyataan Bank Dunia tersebut. Kelompok-kelompok yang membela hak asasi manusia dan hak budaya masyarakat adat, seperti Survival International yang berkantor di London dan Washington dan Cultural Survival di Boston, telah mengritik kerusakan budaya masyarakat adat yang disebabkan oleh proyek-proyek yang dibiayai Bank Dunia selama beberapa tahun. Namun, kritik itu kurang menimbulkan dampak politik.
Pada awal tahun 1983, para pembela lingkungan mulai melakukan penyelidikan. Kantor Urusan Ilmu Pengetahuan dan Lingkungan dari Bank Dunia, yang menurut Clausen bertugas memeriksa setiap proyek, ternyata hanya memiliki enam orang staf. Padahal jumlah keseluruhan staf Bank Dunia mencapai 6.000 orang, dan 3.500 di antaranya tergolong profesional. Ketika di Stockholm pada tahun 1972 McNamara pertama-tama menyatakan bahwa pejabat lingkungan Bank Dunia mengevaluasi setiap proyek dan melakukan "studi-studi in-house yang teliti" sebelum "setiap sampel" tindakan perlindungan lingkungan dirundingkan dan diterapkan, maka pejabat yang dimaksud itu sebenarnya hanya terdiri atas satu orang.
Kepala kantor lingkungan Bank Dunia pada tahun 1983 adalah seorang dokter yang tidak suka berpergian ke negara-negara berkembang, walaupun salah satu kepentingan profesionalnya yang utama adalah penyakit diare yang dialami para pelancong. Tiga dari staf kantor lingkungan dibebankan pada kerja-kerja penelitian tidak jelas, hubungan masyarakat, dan pelatihan-pelatihan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Pekerjaan-pekerjaan seperti itu dihapuskan pada pertengahan dekade 1980-an.
Dengan demikian, kantor lingkungan itu tinggal memiliki tiga orang staf, yang harus mengevaluasi sekitar 3000 pemberian pinjaman baru yang secara keseluruhan berjumlah 12 miliar dolar AS per tahun. Bukan hanya itu, mereka juga harus mengawasi ratusan proyek yang sedang dikerjakan yang nilai totalnya mencapai puluhan miliar dolar AS. Hanya satu orang yang benar-benar diberi waktu khusus untuk memeriksa sektor-sektor pinjaman Bank Dunia yang dianggap paling rawan terhadap dampak lingkungan, yaitu pertanian, energi dan transportasi. Dan itu sama saja dengan memeriksa lebih dari separo jumlah komitmen pinjaman yang dibuat Bank Dunia.
Memang, banyaknya jumlah staf pun belum tentu menghasilkan penilaian yang cermat. Sebab, kantor lingkungan tersebut secara resmi baru mendapat informasi pada saat proyek tersebut sudah memasuki tahap penilaian, atau tahap terakhir. Padahal, tahap pengembangan proyek tersebut secara khusus memakan waktu dua tahun sejak sebuah proposal investasi diidentifikasikan dan memasuki tahap persiapan. Dengan jatah kerja pada tahap terakhir itu, kantor lingkungan tidak mungkin dapat mengubah atau menghentikan sebuah proyek. Dengan begitu, kantor lingkungan terpaksa menerima kondisi birokratis yang menyudutkannya sehingga hanya bisa menyetujui pemberian pinjaman-pinjaman Bank Dunia.
Kendati begitu, Bank Dunia memuji-muji pedoman, daftar uji dan prosedur lingkungannya yang terbit dalam bentuk dua bendel tebal bersampul biru. Padahal segala patokan penilaian itu hanya menjadi alas tumpukan debu di kantor staf lingkungan hidup, yang baru dibuka ketika ada orang luarmenanyakannya. Di sebuah lembaga yang begitu rajin menjaga kerahasiaan dokumen pekerjaannya, hal semacam itu bukanlah sesuatu yang aneh. Enam ribu pegawai Bank Dunia bukan hanya "tidak perlu" menggunakan pedoman lingkungan itu dalam menyiapkan proyek, sebagian besar di antaranya bahkan mungkin sama sekali tidak mengetahui pedoman lingkungan tersebut. Dan agaknya kurang masuk akal mengharapkan sebagian besar staf Bank Dunia menggunakan pedoman lingkungan itu. Sebab, pedoman lingkungan tersebut difokuskan untuk menilai kegiatan industri dan pengolahan bahan mentah. Padahal sektor industri terlalu kecil jika dibandingkan dengan sektor pertanian, irigasi, bendungan dan jalan, yang (anehnya) sama sekali tidak mempunyai pedoman apapun. Dan sebenarnya, sebagian besar daftar uji dan prosedur penilaian itu diambil dari berbagai sumber dan disusun sekadar untuk mengisi waktu luang salah seorang staf lingkungan, yakni seorang ahli polusi industri dari Belgia yang hampir pensiun.
Jika Anda datang ke kantor lingkungan Bank Dunia pada sore hari, sambil bertanya kepada staf lingkungan dan membaca pedoman lingkungan itu, Anda akan menemui keadaan seperti yang digambarkan di atas. Dan memang selama lebih dari satu dekade ini, tidak seorang pun melakukannya. Begitulah, para staf Bank Dunia terikat oleh perjanjian yang mengharuskan mereka tidak menyebutkan perincian dokumen, apalagi membeberkannya kepada khalayak umum, ketika seseorang menanyakannya. Informasi yang diberikan Bank Dunia kepada khalayak telah disensor terlebih dulu demi menghindari kontroversi atau menjadi masalah bagi pihak manajemen Bank Dunia. Seperti dikeluhkan mantan Senator. Earnest Gruening pada sidang Kongres tentang bantuan asing, "Terbitan-terbitan organisasi internasional benar-benar tidak berguna. Semuanya dipenuhi efumisme demi tidak menyakitkan hati seseorang. Terbitan-terbitan itu menjadi begitu lunak, membingungkan, dan tidak dapat dipahami."12
Banyak kalangan akademisi dan peneliti yang mengkhususkan diri pada pembangunan internasional, biasanya terikat kerja sama dengan Bank Dunia -- sebagian di antaranya bahkan menyandarkan penghasilannya pada lembaga keuangan raksasa itu atau lembaga donor internasional lain. Jika tidak demikian, mereka menjadikan lembaga-lembaga itu sebagai tempat kerja impian di suatu saat kelak. Dari sedikit laporan penelitian yang kritis, satu di antaranya, yaitu The World Bank and the Poor yang disusun oleh ahli ekonomi Belanda Aart Van de Laar, mengupas secara mendalam dampak-dampak buruk sistem patronase yang dipraktikkan Bank Dunia. Ahli ekonomi itu menandaskan, "Yang sangat disesalkan, sistem patronase itu telah merembes ke dalam dunia akademis."13 Ahli-ahli pembangunan dan dewan-dewan penelitian masalah internasional akan menjadi orang yang terakhir untuk melakukan reformasi terhadap "gereja" (baca: Bank Dunia dan lembaga donor lainnya), yang selama ini selalu mengabulkan segala permintaan mereka.
f)Dimulainya Dengar Pendapat
Pada awal tahun 1983, para aktivis lingkungan di Washington menuntut Subkomisi Majelis Rendah mengenai Lembaga Keuangan dan Pembangunan Internasional untuk mengadakan dengar pendapat mengenai bank-bank pembangunan multilateral (Multilateral Development Banks -- MDBs) dan masalah lingkungan.14 Pada tanggal 28 dan 29 Juni 1983, dengar pendapat di Kongres selama dua hari hanya berisi serangkaian kisah pembangunan yang membosankan.
Pada hari pertama, para aktivis lingkungan Amerika Serikat menceritakan temuan mereka. Dikatakan, kantor lingkungan Bank Dunia, walaupun dipegang oleh orang-orang yang berdedikasi, ternyata hanya menjadi lembaga papan nama untuk kepentingan humas. Sementara bank-bank pembangunan lain bahkan tidak mau bersusah-payah membentuk kantor lingkungan. Kesaksian itu menceritakan kasus demi kasus bencana lingkungan dan sosial yang dibiayai Bank Dunia dan intitusi-intitusi sejenis. Bendungan-bendungan yang memindahkan masyarakat adat, proyek irigasi yang merusak dan menyebarkan wabah penyakit yang berkaitan dengan air seperti malaria dan schistosomiasis, pengembangan ranch yang merusak hutan tropis, dan proyek pemukiman paksa, termasuk program Polonoroeste di Brasil dan Transmigrasi di Indonesia, yang mendapat bantuan ratusan juta dolar AS dari Bank Dunia.
Hari berikutnya, giliran wakil-wakil kelompok hak asasi masyarakat adat yang berbicara. Mereka menandaskan, banyak pembangunan yang dibiayai Bank Dunia dengan mengatasnamakan orang-orang miskin ternyata menjadi malapetaka bagi masyarakat adat di bumi ini, yang pada banyak kasus mirip dengan pembantaian suku. Rudolph Ryser dari Kongres Nasional Indian Amerika menyatakan bahwa "kebijakan ekonomi dan pembangunan Amerika Serikat... dan lembaga perbankan internasional seperti Bank Dunia... sering kali mengakibatkan kerusakan pada kehidupan yang damai lebih dari 500 juta masyarakat adat di seluruh dunia." Dia menyebutkan contoh-contoh proyek bendungan yang didanai Bank Dunia di Kosta Rika dan Filipina yang mengancam kehidupan masyarakat adat.15
Laporan yang paling menggangu adalah apa yang diungkapkan antropolog David Price yang berkegiatan di Cornell. Dia telah bekerja sebagai konsultan Bank Dunia pada tahun 1980 saat persiapan pinjaman Polonoroeste. Price merupakan ahli utama mengenai suku Indian di daerah proyek Polonoroeste, terutama suku Nambiquara di negara bagian Mato Grosso. Price pernah tinggal dan melakukan penelitian mengenai suku itu guna melengkapi tesisnya di Universitas Chicago. Suku Nambiquara, yang terdiri atas 20.000 orang pada awal abad ini, telah berkurang menjadi sekitar 650 orang saat Bank Dunia melakukan penilaian terhadap proyek Polonoroeste pada tahun 1980. Pada tahun 1968, pemerintah Brasil secara paksa mengusir sebagian besar orang Nambiquara dari kampung halamannya di Lembah Guapore -- sebuah daerah yang relatif subur di Amazon. Mereka kemudian dipindahkan ke daerah perbatasan yang sebagian besar tidak subur dan berpasir.
Pada tahun 1970-an, banyak warga suku Nambiquara yang masih bertahan hidup -- terutama anak-anak -- terbunuh karena terjangkiti influenza, cacar air, dan disentri. Wabah disentri terutama disebabkan oleh pencemaran sungai di daerah itu akibat pemakaian Tordon 155-Br (zat kimia yang sangat beracun dan biasanya digunakan untuk merontokkan daun) oleh para penebang kayu dan penambang, untuk membuka hutan di lembah Guapore. Pada pertengahan 1970-an, sebuah kelompok dokter dari Palang Merah Internasional mengunjungi Nambiquara dan mengungkapkan adanya pembantaian suku secara bertahap. "Kenyataan yang harus diterima suku Indian itu merupakan sebuah perendahan martabat manusia, tidak hanya bagi bangsa Brasil, tapi seluruh umat manusia."16
Price menyatakan, Bank Dunia baru mempekerjakan dirinya setelah empat antropolog lainnya yang kurang mengenal daerah itu menolak tawaran Bank Dunia. Beakangan dia tahu, empat antropolog itu mengatakan kepada Bank Dunia bahwa Price sangat mengenal daerah tersebut. Dalam laporannya, Price memperingatkan Bank Dunia bahwa FUNAI, sebuah lembaga pemerintah Brasil yang mengurus suku India, sangat lemah dan korup.
g) Lembaga itu menyetujui proyek kolonisasi di Polonoroeste yang mengancam tidak hanya kesejahteraan tapi juga kehidupan pelbagai suku di daerah itu, teruatama di Nambiquara. Laporan Price mengungkapkan bahwa informasi mengenai lokasi masyarakat adat, pantas-tidaknya tanah di daerah itu untuk pertanian, dan distribusi pengusaan tanah tidak ada atau sangat kurang baik. "Tampaknya, informasi yang tidak memadai untuk memutuskan kelayakan proyek Polonoroeste akan terus berlanjut."17Menurut Price, Bank Dunia dengan sengaja menyembunyikan dan menyimpangkan isi laporannya. "di dalam laporan itu, saya sebutkan bahwa salah seorang pejabat penting FUNAI diduga pernah melakukan penganiayaan politik. Namun, Bank Dunia hanya menyatakan bahwa FUNAI perlu untuk menaikkan citranya," demikian Price.18 Oleh karena itu, penyebutan nama pejabat penting tersebut kemudian dihilangkan oleh Bank Dunia. Di depan sidang Kongres Amerika Serikat, Price mengatakan, "Bank Dunia memiliki kecenderungan suka berahasia dan monolitik -- yakni menerapkan "hukum"-nya sendiri. Jika saja seluruh sisi dunia ini dapat melihat apa yang terjadi di dalam Bank Dunia, maka Bank Dunia mungkin akan melakukan bisnisnya dengan lebih cermat."19
Setelah Price dan antropolog lain menyimpulkan pernyataan mereka, sidang Kongres menanyakan bukti-bukti. Jerry Patterson, anggota Partai Demokrat dari Kalifornia sekaligus ketua Subkomisi Kongres bidang Pembangunan Internasional, menyimpulkan dengar pendapat selama dua hari itu sangat mengagetkan. Dia mengekspresikan kepeduliannya dengan ungkapan yang sinis, "Dari rangkaian kesaksian ini, saya tidak mendengar satu pun dukungan bagi proyek Bank Dunia."20
Douglas Bereuter, seorang anggota Partai Republik dari Nebraska yang moderat dan bersimpati kepada alasan-alasan pemberian bantuan asing, menanggapinya dengan kasar. "Pemberian bantuan itu hampir tidak dapat dielakkan, " ujarnya. Dia menyatakan, "Komentar dan tanggapan ini akan dipakai oleh para lawan di rapat pleno nanti untuk menentang pemberian dana bagi bank-bank pembangunan multilateral." Dia mempersoalkan dengar-pendapat yang telah memberi kesan "proyek-proyek bank pembangunan multilateral lebih jahat daripada praktik sebenarnya."21 Dan Patterson menambahkan, "proyek-proyek itu secara umum disetujui oleh masing-masing negara asal," sehingga negara-negara itu sendiri yang harus bertanggung jawab.22
Tentu saja kesaksian itu mengupayakan solusi yang baik, jika memang terbukti "baik" akan dilakukan. Namun itu tidaklah "baik" bagi lingkungan atau masyarakat adat di dunia ini. "Baik" dalam pengertian bank-bank pembangunan multilateral adalah sesuatu yang disebut pembangunan. Tetapi pembangunan macam apakah itu yang secara marak merusak dasar sumber alam tempat aktivitas seluruh manusia -- ekonomi dan lain-lainnya – dan menjadi tempat bergantung manusia?
h) Kesaksian-kesaksian selama dua hari dengar-pendapat pada bulan Juli 1983 tersebut memperkenalkan bahwa isu lingkungan dan masyarakat adat bukanlah sekadar pelengkap atau "sisi luar" bidang ekonomi dalam pembangunan peradaban manusia. Isu-isu tersebut merupakan sesuatu yang pokok, apapun tingkatan kita sebagai makhluk di bumi ini. Sebagai tanggapan atas argumen yang demikian, para ahli ekonomi bank pembangunan multilateral sering berkilah bahwa dalam pembangunan memang memerlukan pengorbanan. Tetapi apa yang dikorbankan di sini adalah masa depan umat manusia.Memang benar apa yang dikatakan Patterson, bahwa negara-negara peminjam adalah pihak yang pertama harus bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan dan sosial akibat proyek-proyek tertentu. Tetapi, peranan Bank Dunia sangat menentukan karena Bank Dunia selalu berkeinginan mengucurkan pinjaman. Dan Bank Dunia selalu dapat melihat jalan lain ketika syarat-syarat dan kebijakan pinjamannya diperketat. Anggota Kongres yang lain, Mike Lowry, anggota Partai Demokrat yang berasal dari Washington (yang kemudian terpilih menjadi gubernur negara bagian), mengecam kolega-koleganya karena bersikap terlalu defensif terhadap bank-bank multilateral tersebut. "Setiap lembaga mempunyai cara kerjanya sendiri," demikian katanya. Mungkin demikian itu tidak benar bagi MDBs, tetapi "terdapat suatu mentalitas… yang akan mempererat Grand Canyon seandainya mereka membenarkan Bank Dunia mendapatkan berbagai pekerjaan luar di luar itu, sebagai kontraktor, bank, dan perusahan almunium.Dan siapapun yang mengatakan bahwa seperti itu tidaklah eksis, saya ingin dengan jujur tidak setuju dengannya."23
Kecurigaan Lowry, paling tidak sebagian, dapat dibenarkan. Kita sudah melihat bahwa sejak tahun 1950-an, Bank Dunia telah kekurangan proyek "yang layak dibiayai" yang suatu saat dapat membuat keberadaan lembaga itu tidak lagi relevan kecuali ada tindakan agresif. Lebih dari beberapa dekade Bank Dunia mempromosikan pinjaman bagi proyek-proyek besar dengan menciptakan badan-badan pelaksana proyek yang otonom, mengadakan "dialog kebijakan", dan membujuk para pejabat kementerian yang "berorientasikan pembangunan". Semua itu berarti penciptaan sebuah sistem ketergantungan keuangan secara global. Bank Dunia telah membiayai, dengan syarat-syarat tertentu, berbagai sektor usaha swasta yang tak-menarik. Banyak proyek yang didanai Bank Dunia, menurut siapapun juga, merupakan proyek-proyek yang tidak mendesak dibutuhkan oleh warga negara-negara berkembang.
Jawaban yang lebih mendasar bagi pertanyaan-pertanyaan anggota Kongres adalah bahwa pendekatan bank pembangunan multilateral tersebut mengabaikan realitas ekologi dan sosial yang lebih dulu ada dan menjadi akar masyarakat dunia. Kenyataan-kenyataan tersebut ditutupi, atau disamarkan, oleh suprastruktur politik dan ekonomi negara–bangsa yang bersangkutan. Rudolph Ryser mengatakan kepada Patterson dan Bereuter:
|
Lihatlah pada dunia. Apa yang Anda lihat hanyalah hamparan selimut kapas yang dibagi dalam potongan-potongan yang kita sebut negara. Akan tetapi, dari sisi luar kita tidak melihat sebuah dunia yang sudah tua dan selama ribuan tahun ditutupi oleh selimut kapas itu dan, dalam kenyataannya, dibagi oleh potongan-potongan kecil dari benang yang disusun menjadi selimut. Di balik selimut itu hiduplah jutaan warga masyarakat adat yang masih mengembangkan peradaban kuno… Salah satu masalah yang sudah saya sampaikan kepada pemerintah-pemerintah negara bersangkutan, bank-bank multilateral, dan lembaga-lembaga multilateral adalah bahwa silimut-selimut ini, benang demi benang, lambat tetapi pasti akan terurai.24 |
Anggota Kongres memutuskan bahwa persoalan yang muncul selama dengar-pendapat itu, tidak seperti biasa, adalah penting dan harus dibahas lebih dalam. Mereka mendesak Departemen Keuangan secepat mungkin menyampaikan semua pernyataan yang muncul dari dengar pendapat itu kepada Bank Dunia dan lembaga-lembaga sejenis, sehingga lembaga-lembaga itu memberikan respons.
Dan Kampanye pun Semakin Marak
|
Presentasi… kesaksian pada dengar-pendapat itu, secara jujur, merupakan hal yang mengejutkan dan berbahaya. Saat kita mempunyai kesempatan untuk melakukan cross-check informasi yang disampaikan kepada komisi tersebut, kita semakin menguatkan kebenaran substansi informasi yang dipersembahkan oleh sebagian besar kesaksian tersebut.25 -- James Conrow, Asisten Menteri Keuangan Amerika Serikat |
Pada bulan Januari 1984, Departemen Keungan Amerika Serikat mengajukan bantahan terhadap bank-bank multilateral di depan sidang Subkomisi Majelis Rendah Amerika Serikat bidang Pembangunan dan Keuangan Internasional -- bantahan itu berisi lebih dari 1.000 halaman dengan spasi tunggal. Tentu saja itu merupakan respons yang paling komprehensif dari badan-badan international mengenai operasi-operasi mereka. Tetapi jawaban-jawaban itu hanya bersifat elakan dan menyesatkan. Sebagai contoh, dalam menanggapi tuduhan bahwa Kantor Urusan Lingkungan Bank Dunia kekurangan pegawai dan tidak mampu mengubah proyek, mereka hanya mengatakan kepada Departemen Keuangan Amerika Serikat bahwa "Bank Dunia, dengan Kantor Urusan Lingkungan, adalah lembaga yang paling tua, paling besar dan sangat berpengalaman dalam mengurusi isu-isu tersebut."26
Bank Dunia mengulangi pernyataannya bahwa "setiap usulan proyek selalu terlebih dahulu dikonsultasikan kepada kantor lingkungan sesuai dengan tahapan proyek." Mereka juga menegaskan bahwa menjelang tahap penilaian akhir "penyusunan AMDAL proyek hampir selesai."27
Arsip-arsip intern Bank Dunia memperlihatkan bahwa tak lama setelah membuat pernyataan kepada pemerintah negara-negara donor tersebut, beberapa pejabat tingginya malah mengungkapkan kenyataan sebaliknya. Pada tanggal 9 Maret 1984, "Subkomisi Kebijakan Operasional" Bank Dunia bertemu dan mendiskusikan, di antara isu-isu yang lain, "aspek-aspek lingkungan dari pelaksanaan proyek" Diketuai oleh Ernest Stern, wakil presiden senior Divisi Operasi, pertemuan itu dihadiri oleh empat wakil presiden Bank Dunia yang lain, direktur-direktur peringkat atas yang memimpin kegiatan lembaga keuangan itu di Amerika Latin dan Asia, dan James Lee, kepala kantor lingkungan Bank Dunia.
i) Sebuah memorandum resmi yang dikeluarkan pada 30 Maret 1984 menyebutkan bahwa Stern bertanya kepada peserta pertemuan:|
Apakah staf Bank Dunia sadar bahwa mereka mempunyai sebuah tanggung jawab untuk mempertimbangkan masalah-masalah lingkungan pada setiap proyek, dan apakah pihak manajemen melihat masalah itu? Dampak lingkungan tidak dipertimbangkan sebagai sesuatu yang rutin, tetapi itu muncul dari contoh-contoh kasus ketika diungkap oleh penasehat lingkungan Bank Dunia, pers, atau kelompok-kelompok kepentingan di negara-negara bersangkutan.28 |
Dengan kata lain, ketika sebuah skandal diungkap oleh pers atau kelompok oposisi lokal yang kuat dan mewakili rakyat yang terkena proyek, maka Bank Dunia baru meminta seorang atau dua orang ahli lingkungan untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Dalam tanggapannya terhadap Kongres, Bank Dunia menyatakan bahwa hampir seluruh proyek yang disebutkan oleh LSM-LSM itu telah disiapkan secara seksama beberapa tahun sebelumnya. Karena itu, tuduhan LSM-LSM bisa memunculkan anggapan yang menyesatkan jika dikatakan bahwa Bank Dunia masih mempraktikkan kebiasaan lama.29
Namun pernyataan tersebut tidak akurat, karena program transmigrasi di Indonesia dan proyek Polonoroeste di Brasil merupakan program-program yang dibiayai dengan pinjaman besar yang membebani kedua negara tersebut. Mengenai program transmigrasi, Bank Dunia menyatakan, "program itu bukan semata-mata (atau bahkan terutama) dirancang untuk mengurangi ledakan penduduk di Jawa, melainkan juga untuk membangun sumber-sumber daya alam yang, jika tidak dilakukan program ini, akan terbuang percuma."30 Sedangkan Polonoresto, menurut Bank Dunia, merupakan "sebuah kesempatan untuk membangun pertanian yang berkelanjutan" di wilayah-wilayah yang "tanahnya relatif lebih baik" dan sudah mempunyai permukiman.31
Tentang David Price, mereka menyatakan: "sebagian besar kesaksian Dr. Price hanya berupa penafsiran sepihak mengenai kenyataan dan peristiwa di sekitar masyarakat adat yang terkena dampak proyek pembangunan pedesaan yang dibiayai Bank Dunia di Brasil."32 Maka proyek Polonoroeste sangat perlu dibiayai karena merupakan "alternatif yang tak dapat dihindari untuk membebaskan wilayah itu dari peladangan berpindah dan degradasi tanah yang terus berlanjut."33
Di sini Bank Dunia sedang mengulangi pembenaran standarnya bagi banyak proyek kontroversial: bahwa jika tanpa investasi miliaran dolar AS pada proyek pembangunan seperti Polonoroeste dan Transmigrasi, keadaan akan menjadi lebih buruk. "Jika perhatian terpusat pada soal biaya kemanusiaan dan ekologi, proyek itu tidak berjalan," tegas Bank Dunia.34 Jawaban lain yang diulang-ulang para pejabat Bank Dunia adalah bahwa pemerintah-pemerintah yang bersangkutan telah memutuskan untuk meneruskan proyek-proyek tersebut dengan atau tanpa bantuan pendanaan Bank Dunia. Sedangkan keterlibatan Bank Dunia justru untuk menjamin akan ada lebih banyak perhatian terhadap isu-isu lingkungan dan masyarakat adat. Seperti komentar salah seorang pejabat Departemen Keuangan Amerika Serikat kepada penulis di tahun 1983, "Apa yang mereka katakan adalah bahwa tidak ada proyek yang begitu banyak makan korban dan merusak, yang membuat Bank Dunia tidak ingin mengucurkan ratusan juta dolar AS ke dalamnya."35 Dalam kenyatannya, alasan tersebut mengungkapkan secara tidak langsung bahwa semakin banyak proyek yang merusak, semakin besar pembenaran bagi keterlibatan Bank Dunia.
Subkomisi Majelis Rendah bidang Lembaga Pembangunan dan Keuangan Internasional mengangkat staf khusus untuk mengevaluasi jawaban-jawaban bank pembangunan multilateral, dan untuk menyiapkan -- dengan berkonsultasi kepada LSM-LSM -- serangkaian rekomendasi Kongres bagi reformasi lingkungan bank-bank multilateral. Rancangan rekomendasi-rekomendasi itu diteliti ulang pada dengar pendapat berikutnya di bulan September 1984,36 dan diumumkan pada bulan Desember. Seluruh rekomendasi Kongres tersebut berjumlah 19, dan di antaranya meminta Amerika Serikat untuk mendesak Bank Dunia dan intitusi-instusi sejenis menambah jumlah staf lingkungan, berkonsultasi dengan menteri-menteri lingkungan dan kesehatan dalam menyiapkan proyek, melibatkan dan menyaring informasi dari LSM dan kemudian membiayai dengan proporsi yang lebih besar pada proyek-proyek berskala kecil, yang memperhatikan lingkungan.37 Departemen Keuangan Amerika Serikat menyetujui sebagian besar arahan rekomendasi tersebut dan merancang penambahan jumlah serta pemenuhan posisi-posisi staf di Kantor Bank-bank Multilateral untuk meneliti aspek-aspek lingkungan setiap usulan pinjaman pada bank multilateral.
Rekomendasi itu tampaknya menjadi terobosan yang luar biasa. Dalam suasana yang sangat terpengaruh politik dan ideologi Reagen, pemerintah dan Majelis Rendah yang didominasi Partai Demokrat menyetujui sebuah kebijakan lingkungan yang menyokong partisipasi Amerika Serikat di Bank Dunia dan institusi-institusi sejenis. Pada akhir tahun 1985, berkat upaya anggota Kongres David Obey, yang sekaligus menjabat sebagai ketua Subkomisi Majelis Rendah bidang Pemberi Bantuan untuk Operasi Luar negeri, sebagian besar rekomendasi-rekomendasi itu akan disahkan sebagai undang-undang.
Amerika Serikat merupakan pemegang saham terbesar, meskipun hanya mengontrol seperlima suara di Bank Dunia. Apakah pengaruhnya memadai untuk mengusulkan reformasi lingkungan? Para pembela lingkungan Washingthon mulai memperluas kontak mereka kepada kelompok-kelompok di Inggris, Jerman, Belanda, dan Skandinavia dengan harapan untuk mempromosikan tekanan serupa kepada pemerintah-pemerintah yang lain yang menguasai suara cukup besar di Dewan Eksekutif Bank Dunia bagi reformasi lingkungan.
Meskipun demikian, para pembela lingkungan yang berbasis di Washington mengira sudah meraih kemenangan yang menentukan. Mereka percaya -- secara naif dalam peninjauan ulang -- jika Bank Dunia dipertentangkan dengan fakta-fakta dari masalah-masalah sistematis proyek-proyeknya di depan umum, Bank Dunia akan mengambil tindakan untuk mengatasi itu. Jauh dari yang mereka duga, sebenarnya pertempuran baru saja dimulai.
Pertarungan di Rondonia
Polonoroeste menjadi ujian pertama. Melewati musim panas 1984, penulis dan saorang antropolog Universitas Chicago yang baru-baru ini kembali dari Brasil, Steve Schwartman, mengumpulkan informasi mengenai pembangunan jalan raya raksasa dan program kolonisasi hutan tropis yang mengancam kesejahteraan 10.000 orang suku Indian dan keselarasan wilayah hutan tropis yang masih murni dengan luas mencapai tiga perempat negara Prancis. Pada saat yang hampir bersamaan, kelompok-kelompok lingkungan dan hak asasi di Brasil mengembangkan kontak internasional mereka guna menekan pemerintah Brasil untuk melindungi hak asasi suku-suku Indian yang terancam dan menghentikan penebangan hutan Amazon. Pada musim panas itu, kerja sama penelitian antara pencinta lingkungan Washington dan LSM-LSM Brasil dimulai, dan segera mengundang reaksi politik internasional.
Ironisnya, pada awal 1980-an Bank Dunia memuji Polonoroeste sebagai sebuah model proyek ekologis. Lembaga keuangan internasional itu menyatakan bahwa ini adalah kali pertama pertimbangan lingkungan memainkan peran penting dalam program pembangunan pedesaan yang berskala luas dan terpadu. Mereka mensyaratkan 457 juta dolar AS dari dana pinjaman proyek Polonoroeste dipergunakan untuk pengembangan dan perlindungan 15 cagar alam Indian, dan implementasi program kesehatan untuk melindungi suku tersebut. Bank Dunia menyediakan dana bagi pemeliharaan dua cadangan biologis, satu taman nasional, dan empat pusat ekologi (yang juga akan menjadi daerah suaka alam), dan wilayah hutan nasional. Apalagi, salah satu persetujuan antara Bank Dunia dan pemerintah Brasil menyebutkan ketentuan tertentu yang mengharuskan pemerintah Brasil menjamin proyek pemukiman Polonoroeste tidak akan menggunakan tanah yang tidak cocok atau tanah dengan kualitas yang belum jelas, ataupun mengancam sejumlah wilayah suaka alam.
Tetapi penelitian LSM-LSM itu menguatkan peringatan-peringatan para antropolog seperti David Price, bahwa pemerintah Brasil kurang mampu dan bahkan sama sekali tidak berkemauan politik untuk benar-benar memberikan perlindungan terhadap suku Indian dan memasukkan unsur-unsur lingkungan dalam proyek tersebut. Mereka mencatat, proyek Polonoroeste secara keseluruhan telah lepas kendali, sehingga meningkatkan migrasi, pengundulan hutan, bencana dan tindak kekerasan.
Beriringan dengan penyempurnaan penelitian itu, para pembela lingkungan Washington membujuk subkomisi Kongres yang lain -- salah satunya adalah subkomisi yang membidangi penelitian pertanian dan lingkungan, yang dipimpin oleh James H. Scheuer, seorang anggota Partai Demokrat dari Queens -- untuk menyelenggarakan dengar pendapat khusus mengenai proyek Polonoroeste. Mereka kemudian membiayai penerbangan Jose Lutzenberger ke Washington. Lutzenberger adalah seorang ahli argonomi dan aktivis lingkungan Brasil yang sangat terkenal. Lutzenberger telah memimpin kampanye-kampanye yang sukses di bagian selatan-tengah Brasil pada tahun 1970-an untuk mempromosikan undang-undang yang memperketat penggunaan pestisida. Dalam suasana yang penuh tekanan dari rezim militer Brasil, dia telah menjadi salah seorang dari sedikit orang di negeri itu yang tidak takut mengritik pemerintah. Kesaksian Lutzenberger di depan Subkomisi Scheuer pada pagi 19 September 1994 direkam televisi nasional Brasil untuk siaran nasional pada malam hari itu juga.
Kesaksian Lutzenberger dimulai dengan menunjukkan bahwa tujuan proyek itu adalah memindahkan buruh tani dari wilayah pertanian yang kaya terutama di bagian tengah-selatan Brasil ke wilayah hutan tropis yang bertanah relatif tidak subur. Berbeda dari wilayah timur laut yang feodalistik, buruh tani yang tersebar di Brasil bagian tenggara merupakan sebuah fenomena yang relatif baru. Fenomena tersebut disebabkan oleh konsentrasi pengolahan lahan besar-besaran, yang dipacu oleh kebijakan pemerintah untuk mengubah pertanian Brasil dari produksi makanan domestik berskala kecil menjadi model pertanian berorientasi ekspor dan padat modal. Imigran ini keturunan Jerman, Italia, dan Polandia… orang-orang yang telah menciptakan pola pertanian yang berkelanjutan dan relatif sehat sejak abad lalu yang kini terus berkembang memasuki 50 tahun abad ini."38 Jutaan orang telah tercerabut dari daerah asalnya selama lebih 25 tahun lalu untuk menyiapkan lahan penanaman kedelai dan jeruk yang berorientasi ekspor besar. Dan memang Brasil menjadi ekportir terbesar dunia untuk biji kedelai dan buah jeruk; kebanyakan sirup jeruk yang dikonsumsi di Amerika Utara dan Eropa berasal dari hutan Brasil, yang produksinya, meski sudah ditambah dengan biaya transportasi, masih lebih murah dibandingkan dengan produksi yang sama dari Florida dan Spanyol.
Pemerintah militer Brasil, menurut Lutzenberger, memandang massa yang tercerabut dan tak bertanah itu, bila tetap dibiarkan akan berkembang menjadi ancaman politik yang serius, dan karena itu pemerintah menawarkan migrasi ke Rondonia sebagai alternatif bagi reformasi tanah. Di hadapan subkomisi itu, ilmuwan yang kurus tapi serius itu meminta pemerintah menghentikan iklan penawaran migrasi itu. Pamflet yang mengkilap itu, yang beredar luas di kota-kota Brasil bagian selatan, disebarkan oleh mobil-mobil aparat keamanan Brasil tanpa pengenal kesatuan yang jelas pada aksi-aksi protes yang memprotes ketiadaan tanah; pamflet-pamflet itu menganjurkan migrasi ke Rondonia, yang memiliki "lahan yang cukup bagus bagi siapapun."39
Lutzenberger melaporkan kerusakan budaya "yang parah" bahkan sekaligus kerusakan fisik penduduk Indian di daerah barat daya. Dia mengajukan alasan-alasan logis bagi perlindungan semua kehidupan tradisional hutan tropis -- termasuk caboclos (petani gurem di sekitar hutan) dan seringueiros (penyadap karet), yang pandangan hidupnya cocok dengan cara bertahan hidup di hutan. "Mengapa kita tidak dapat membiarkan Amazon untuk orang-orang Amazon?" dia bertanya.40
Kemudian, di hadapan jutaan pemirsa televisi di Brasil, Lutzenberger mengritik Bank Dunia, tidak hanya karena Bank Dunia mengabaikan ketidakpatuhan pemerintah Brasil dalam menaati syarat-syarat pinjaman untuk proyek Polonoroeste, tetapi juga karena Bank Dunia bersekongkol dalam menerapkan strategi pertanian di balik proyek tersebut.41 Yang juga penting, menurut aktivis lingkungan itu, ada kekuatan politik baru yang perlu diperhitungkan dalam bidang pendanaan pembangunan internasional yang tertutup itu, yaitu "gerakan lingkungan Brasil" dan "kelompok-kelompok masyarakat" di seluruh dunia.
Beberapa minggu setelah dengar pendapat tersebut, pada tanggal 15 Oktober 1984, Scheuer, anggota Kongres, menulis surat kepada Menteri Keuangan Amerika Serikat, Donald Regan. Dalam surat itu Scheuer mendesak Menteri Keuangan untuk menekan Bank Dunia agar segera mengatasi masalah perusakan hutan dan ancaman terhadap penduduk Indian di sekitar lokasi proyek Polonoroeste. Tiga hari sebelumnya, 32 LSM dari sebelas negara mengirimkan sebuah surat mengenai proyek Polonoroeste kepada Presiden Bank Dunia, Clausen. Surat itu berisikan ringkasan catatan penelitian ektensif mengenai proyek tersebut yang disusun oleh penulis (Bruce Rich) dan Steve Schwartzman. Penanda tangan surat tersebut meliputi Jose Lutzenberger, ketua-ketua asosiasi antropolog Amerika dan Brasil, ketua Asosiasi Bar Brasil sektor Rio de Janeiro, sebelas anggota Bundestag Jerman, dan sejumlah kelompok hak asasi masyrakat adat dan kelompok lingkungan di Brasil, Amerika Serikat, dan Eropa. Surat itu meminta Bank Dunia untuk memperketat syarat-syarat pinjamannya bagi pemerintah Brasil dengan cara segera menahan pencairan dana untuk proyek Polonoroeste. Selain itu, dalam surat itu Bank Dunia juga didesak untuk menyiapkan bersama pemerintah Brasil sebuah program perlindungan lingkungan dan tanah Indian untuk mengatasi situasi yang semakin memburuk. Dalam surat itu juga disebutkan kegagalan proyek Polonoroeste sebagai sebuah contoh tentang keharusan Bank untuk "melakukan tindakan-tindakan konkrit dan melengkapi sumber dayanya, seperti menambah staf yang terlatih dan lebih profesional, sehingga dapat memperbaiki rancangan proyek yang ekologis dan meneliti ulang proyek-proyeknya."42
Sekitar satu bulan kemudian, atas nama presiden Bank Dunia Clausen, kepala divisi Bank Dunia untuk Brasil mengirimkan tanggapan yang sangat pendek (tidak lebih dari satu paragraf) terhadap 32 penanda tangan surat tersebut:
|
Sebagaimana Anda sadari, Polonoroeste adalah sebuah program pembangunan regional yang dirancang dengan seksama, yang berusaha memantapkan dan memaksimalkan pembangunan ekonomi di wilayah tersebut dengan memperkecil risiko terhadap ekologi dan populasi Indian-Amerika.... Bank Dunia terus menerus memantau perkembangan proyek itu secara seksama, dan perhatian Anda akan dipertimbangkan sebagai bahan pemantauan proyek Polonoroeste.43 |
Senator Republik, James Bond, dan Casanova
Tidak hanya proyek Polonoroeste, tetapi Bank Dunia itu sendiri juga tampaknya lepas kendali dan lepas tanggung jawab. Selama satu setengah tahun sudah berlangung 6 kali dengar pendapat Kongres Amerika Serikat yang bersifat khusus, 19 rekomendasi Kongres untuk reformasi lingkungan, sebuah surat dari ketua subkomisi Kongres, yang semuanya mendokumentasi catatan-catatan bencana Polonoroeste yang disusun oleh LSM-LSM Amerika dan Brasil, serta anggota-anggota parlemen dan para akademisi dari 12 negara. Dan, anehnya, semuanya itu tidak berarti apapun bagi Bank Dunia kecuali membuatnya memperketat syarat-syarat pinjaman pada sebuah proyek yang sangat merusak.
Hampir putus asa, pada bulan Januari 1985 para pencinta lingkungan Washington kemudian berpaling ke Senat yang dikuasai oleh orang-orang Republik. Kelompok-kelompok lingkungan nyaris tidak mampu lagi berharap mendapatkan dukungan yang kuat, karena banyaknya orang-orang Republik pendukung Reagan yang menduduki Senat pada tahun 1980. Meskipun demikian, ada satu orang yaitu Senator Robert Kasten dari Wisconsin yang tampaknya simpatik ketika di musim semi 1984 penulis memberikan kesaksian di hadapan Subkomisi Penilaian Senat untuk Operasi Luar Negeri, yang diketuai Kasten. Ketika Kasten dan stafnya, Alex Echols dan James Bond, melihat surat-surat yang membahas proyek Polonoroeste, mereka menjadi marah. Surat-surat itu agaknya menguatkan kecurigaan mereka mengenai arogansi dan ketiadaan tanggung jawab lembaga-lembaga multilateral. Kasten mengirim sebuah surat pendek kepada Clausen, yang menyebut tanggapan Bank Dunia tersebut sebagai sebuah "penolakan" dan "pelecehan".
"Sebagaimana Anda ketahui lebih baik daripada siapapun," tulis Kasten mengecam Clausen,
"Untuk mengamankan kontribusi Amerika Serikat untuk lembaga-lembaga pembangunan multilateral adalah sesuatu yang sangat sulit. Jika Bank Dunia menanggapi kelompok-kelompok dan individu-individu -- yang sebenarnya justru mendukung program-program mereka -- dengan sikap yang angkuh seperti itu jelas merupakan tindakan yang sulit dimengerti.
Masalah-masalah yang diajukan dalam surat pencinta lingkungan tersebut adalah sah dan pantas mendapat jawaban yang kredibel dan responsif. Karena itu, saya menanyakan segala persoalan dan keprihatinan tersebut kepada Anda, dan meminta Anda untuk menanggapinya kepada saya selaku Ketua Subkomisi Penilaian Operasi Luar Negeri."44
Kasten mengirimkan sebuah surat yang kasar kepada Menteri Keuangan Donald Regan. "Don, respons Bank tersebut merupakan sebuah penolakan," tulis Kasten. Itu merupakan "sikap yang kasar", yang menguatkan anggapan "bahwa banyak organisasi internasional seperti Bank Dunia adalah sombong dan tidak mau menerima kritik yang membangun." Dia meminta Regan untuk menangani persoalan itu, dan menyebutkan lagi bahwa sikap Bank Dunia tersebut jelas-jelas menjadi perhatian kami di Divisi Pemberian Bantuan Luar Negeri Senat.45
Tidak sampai 24 jam setelah surat Kasten diberikan kepada Clausen, penulis mendapat telepon dari James Burnham, Direktur Ekskutif Bank Dunia untuk Amerika Serikat. Dia mengajak makan siang bersama, dan kalau dapat, sesegera mungkin. Pada hari berikutnya Direktur Ekskutif Inter-American Development Bank (IDB), seorang keturunan Amerika-Kuba bernama Jose Casanova menelepon saya dan mengatakan bahwa dia ingin hadir dalam makan siang itu. Saat makan siang, Burnham berbicara panjang lebar mengenai seluruh fungsi penting Bank Dunia dan lembaga-lembaga multilateral sejenis. Mengapa demikian, padahal baru beberapa jam sebelumnya dia berbicara di telepon dengan menteri-menteri keuangan di Eropa untuk mendiskusikan bagaimana Bank Dunia dapat memainkan perannya dalam menyalurkan uang ke Brasil untuk mengatasi krisis utang. Lingkungan adalah penting, dan Bank Dunia akan memberikan perhatian lebih banyak pada masalah itu, tetapi Bank Dunia mempunyai masalah lain yang "lebih mendesak". Apakah akan menjadi baik bagi lingkungan global atau bidang apapun jika seluruh sistem finansial internasional runtuh?
Jelaslah, Burnham dibuat bingung oleh pemikiran senator Kasten, ketua subkomisi yang menyediakan dana Amerika Serikat bagi bank-bank multilateral setiap tahun. Kasten mempunyai posisi yang berkuasa penuh untuk menahan seperlima dana Bank Dunia. Politisi dari Wisconsin ini mungkin melakukan sesuatu yang tidak pernah diduga – menyumbat kucuran dana untuk Bank Dunia dengan dalih untuk melindungi hutan tropis dan nasib beberapa ribu orang Indian Amazon yang terkena dampak proyek tertentu. Burnham dan Casanova menutup makan siang itu dengan menyatakan kesungguhannya untuk mengangkat masalah-masalah lingkungan secara lebih sering dan serius pada pertemuan-pertemuan dewan dua bank multilateral. Betapa kuatnya Kasten, sehingga tanpa dia, Anda seolah tidak dapat berbuat apapun.
Gagasan aliansi antara senator kubu Reagen dan sekelompok pencinta lingkungan dan antropolog untuk mendesak Bank Dunia agar lebih bertanggung jawab diganggu oleh beberapa pihak. Para penggangu itu meliputi staf Bank Dunia sendiri yang memandang dirinya sendiri sebagai "masyarakat besar" liberalis ala 1960-an, asisten-asisten Kongres, kelompok-kelompok lingkungan lain, dan sejumlah orang yang bekerja pada lembaga yang mempromosikan -- dan kadang-kadang tergantung pada -- bantuan asing. Mereka menyatakan, Kasten sebenarnya tidak peduli pada lingkungan dan kaum miskin di Dunia Ketiga, atau masyarakat adat di Amazon. Dia -- tampaknya mendapat sebuah julukan yang buruk sekali – hanyalah seorang "penampar Bank Dunia" yang, seperti sejumlah koleganya yang reaksioner, melawan bantuan luar-negeri dan sedang mencari dalih untuk memotong jalur bantuan itu. Para pencinta lingkungan, dalam kenaifannya, menyerahkan dan mempercayakan masalah Bank Dunia kepadanya.
Dalam kenyataannya, kepentingan dan komitmen pribadi Kasten terhadap perlindungan hutan dan nasib masyarakat adat memang tetap kuat sampai beberapa tahun kemudian.
j) Tetapi ini sama sekali bukan sebuah prestasi. Dugaan bahwa senator Kasten sedang mencari dalih untuk memotong jalur dana untuk Bank Dunia membuat semua acaman menjadi lebih efektif. Para pencinta lingkungan Washington menyatakan bahwa jika memang senator Kasten hendak memotong jalur dana untuk Bank Dunia, dan sedang mencari alasan untuk melakukannya, maka satu-satunya solusi bagi Bank Dunia adalah membersihkan tindakan lingkungannya secepat mungkin. Dengan begitu, Kasten akan kehilangan alasan.Sengketa Polonoroeste
Beberapa minggu kemudian, bulan Maret 1985, pembantu-pembantu Clausen mengatakan pada Kasten bahwa para pencinta lingkungan akan mendapat tanggapan yang memadai atas surat mereka tertanggal 12 Oktober 1984. Sebuah pertemuan dengan presiden Bank Dunia serta seluruh manajer seniornya -- di mana para aktivis lingkungan Washington memaksa agar diperbolehkan hadir -- akan diadakan untuk mendiskusikan apa yang akan dilakukan Bank Dunia pada Polonoroeste.
Para pencinta lingkungan pernah sekali bertemu Clausen sebelum itu, pada musim semi tahun 1984. Mereka meminta diadakan pertemuan itu sebelum beberapa di antara mereka memberikan kesaksian di Senat guna membahas pemberian fasilitas "pinjaman lunak" Bank Dunia dan IDA. Pertemuan itu dinilai gagal. Saat para pencinta lingkungan baru membacakan tiga sampai lima kesaksian, presiden Bank Dunia menginterupsi sebelum mereka menyelesaikan presentasinya. "Jangan menyandera kontribusi untuk IDA dengan alasan lingkungan," serunya. "Pikirkan orang-orang miskin" -- seolah-olah pemeliharaan sumber daya alam dan membantu orang miskin merupakan dua tujuan yang kontradiktif. Dia mengatakan bahwa permasalahan muncul karena kekeliruan persepsi terhadap laporan lingkungan Bank Dunia, dan bahwa dia tidak akan menambah jumlah staf lingkungan Bank Dunia. Ketika para pencinta lingkungan menjawab bahwa mereka hanya ingin memperoleh informasi lebih banyak sehingga mereka dapat memberikan kesaksian lebih akurat atas nama lebih dari lima juta anggotanya, maka Clausen menjawab balik, "Saya benci dengan kekuasaan" -- sebuah pernyataan luar biasa bagi seorang pemimpin lembaga yang mempunyai kekuasaan yang sangat kuat melalui syarat-syarat pinjamannya.
Dalam pertemuan kedua dengan Clausen, ada sedikit pengaruh yang membuat suasana berbeda. Pertemuan itu diadakan pada sore 22 Mei 1985, dalam ruang pertemuan yang luas terbuat dari kayu dekat kantor Clausen. Selain para pecinta lingkungan,
k) ikut hadir Senator Kasten dan pembantunya Alex Echols, serta David Maybury Lewis, mantan ketua jurusan antropologi Harvad dan pembela hak-hak asasi masyarakat adat. Clausen, duduk di meja ketua, membuka pertemuan itu dengan pernyataan yang bersifat menenangkan semua pihak. Dia mengatakan bahwa semua yang hadir memberikan sumbangan yang sama serta saling melengkapi demi tercapainya pembangunan yang berkelanjutan dan konservasi lingkungan. Dia mengatakan bahwa masalah hari ini adalah poryek Polonoroeste, tetapi sebelum itu, manajer senior Bank Dunia ingin menyampaikan beberapa kata. Di sebelah kanan Clausen adalah Ernest Stern -- wakil presiden senior bagi operasi-operasi dan eksekutif tingkat kedua dalam hirarki Bank Dunia. Stern, orang Amerika yang pernah bekerja di USAID sebelum bekerja untuk Bank Dunia selama lebih dari satu dekade, merupakan ahli sihir Bank Dunia, birokrat yang brilian, dan manajer yang sangat berkuasa. Bagi banyak orang sudah jelas bahwa Stern -- dengan pengetahuan luas mengenai sejarah dan peran Bank Dunia, dan jaringan orang dalam yang sangat berkuasa -- seorang yang sangat tepat ditempatnya. Dia jarang berbicara di depan publik, dan itu segera saja menimbulkan pertanyaan mengapa.Stern berbicara dalam nada monoton, menguliahi peserta tentang evolusi Bank Dunia yang terakhir, yaitu perubahan di awal 1980-an dengan mencurahkan seperempat pinjamanya bagi program penyesuaian struktural. Ceramah Stern tidak berhubungan dengan pokok pembicaraan dan berlebih-lebihan bagi siapapun yang mengikuti perkembangan Bank Dunia secara intens. Tampak jelas, usaha kampanye sedang dilakukan. Senator Kasten menjadi semakin tidak sabar, dia berpaling pada Clausen yang duduk di depannya dan membisikkan sesuatu di telinganya. Clausen tiba-tiba menginterupsi Stern dan memberikan forum itu kepada para pecinta lingkungan yang segera mengajukan tuntutan-tuntutan tertentu.
Maka, delapan bulan setelah surat mereka, sebuah jawaban mengatakan: pada bulan Maret Bank Dunia akan menghentikan pencairan sisa pinjaman untuk proyek Polonoroeste -- jumlahnya lebih dari seperempat miliar dolar AS -- sampai ada persiapan dan pelaksanaan tindakan pemulihan lingkungan dan tanah-tanah Indian oleh pemerintah Brasil. Pemerintah Brasil telah menyetujui untuk menghentikan kampanye nasional yang bertujuan menarik minat para pemukim baru. Pemerintah Brasil akan melakukan tindakan-tindakan baru untuk mengembangkan dan menguatkan perlindungan terhadap sumber daya alam dan tanah Indian. Bank Dunia dan pemerintah Brasil sedang melakukan kebanyakan tuntutan yang diminta oleh para pecinta alam di dalam surat mereka. Dalam sisi lain, pertemuan itu merupakan formalitas belaka, sebuah sandiwara politik, karena para pencinta lingkungan sudah mengetahui informasi ini dua bulan sebelumnya. Di sini staf Bank Dunia tampak telah berkhayal. Ini karena mereka tidak berniat untuk menghentikan pemberian dana itu tetapi ternyata pemerintah Brasil justru meminta Bank Dunia untuk tidak mencairkan, selama periode terbatas, sisa dana pinjaman proyek Polonoroeste.
Masih saja ada dua preseden yang luar biasa : Pertama, Bank Dunia dipaksa untuk bertanggung jawab selain pada LSM-LSM asing dan parlemen negara-negara anggota atas dampak lingkungan dan sosial dari program-program yang didanainya. Kedua, lembaga keuangan internasional publik harus menghentikan pencairan pinjamannya karena alasan-alasan lingkungan.
Tetapi Polonoroeste hanyalah satu proyek -- bagaimana dengan yang lain? Penulis bertanya kepada Ernest Stern bagaimana Bank Dunia dapat menyiapkan ratusan juta dolar AS pinjaman baru bagi program transmigrasi di Indonesia, sementara proyek Polonoroeste dihentikan karena menimbulkan bencana lingkungan. Mengapa Bank Dunia terus menerus membiayai program kolonisasi hutan yang meragukan – apakah benar-benar tidak berisiko dan secara ekonomi dapat meningkatkan investasi? Stern menjawab dengan keterusterangan yang luar biasa namun tak mengenakkan. Dia mengatakan, "Jika kita ingin, kita bisa hanya membiayai proyek-proyek kesehatan dan pendidikan. Namun dengan begitu kita akan mengingkari tanggung jawab sebagai lembaga pembangunan."46 Dia menyatakan, bagi pemerintah Indonesia, transmigrasi merupakan sebuah prioritas nasional, sebuah proyek yang tetap diteruskan meskipun tanpa dukungan dari Bank Dunia. Karena itu penting bagi Bank Dunia untuk mendukung program-program seperti transmigrasi Indonesia sehingga ia dapat mengendalikan program-program itu dan terus menerus memegang kendali utama pada pembangunan di negara-negara peminjam. Inilah peran nyata Bank Dunia, bukan sekadar pengamat di luar garis.
Pejabat Bank Dunia hanya menjelaskan pandangannya tentang pembenaran keberadaan Bank Dunia, sesuatu yang kurang sekali mendasarkan pada perhitungan ekonomi dan analisa untung-rugi yang cermat (tidak untuk membicarakan mengenai bantuan terhadap kaum miskin atau perlindungan lingkungan) tetapi banyak didasarkan kepada kekuatan politik dalam skala global.
Penyadap Karet dan Pencinta Lingkungan Bergandeng Tangan
|
Kita begitu saja menjadi pencinta lingkungan tanpa tahu apa arti kata itu.47 -- Chico Mendesl) |
Hanya karena Bank Dunia menunda pencairan pinjaman untuk Polonoroeste pada awal 1985, maka Inter-American Development Bank menyetujui pinjaman-pinjaman yang jumlah keseluruhannya 58,5 miliar dolar AS untuk pengaspalan lebih dari 200 mil jalan negara menuju Polonoroeste, dikenal dengan BR-364. Jalan itu terbentang dari Porto Velho, di Rondonia, sampai Rio Branco, ibu kota negara bagian Acre. Acre adalah negara bagian seluas Maryland yang terletak di sudut paling tenggara Brasil, berbatasan dengan Bolivia. Acre dan wilayah-wilayah sekitarnya yang terkena proyek pembangunan jalan di negara bagian Amazon adalah hutan tropis yang masih asli, yang dihuni oleh 10.000 Indian dengan 39 kelompok etnik berbeda. Wilayah ini juga dihuni oleh 40.000 penyadap karet (seringueiros), penghuni hutan yang tergantung pada penyadapan karet liar, kacang Brasil, dan hasil hutan lain.
Pada saat ini sesuatu yang tak terduga terjadi: informasi yang dikumpulkan oleh para pencinta lingkungan di Washington tentang bencana proyek Rondonia yang didanai Bank Dunia telah menyakinkan Departemen Keuangan Amerika Serikat untuk bersikap abstain pada persetujuan pinjaman Acre dari IDB bagi proyek BR-364. Ini untuk kali pertama Amerika Serikat tidak menyetujui suatu pinjaman untuk Brasil sejak pendirian IDB tahun 1960.m) Abstainnya Amerika Serikat mendorong manajemen IDB untuk menunda seluruh pencairan pinjaman sampai pemerintah Brasil menyetujui dan mulai melaksanakan rencana perlindungan lingkungan dan tanah-tanah Indian bagi proyek tersebut, yang disebut dengan "PMACI" (Programa de Protecao do Meio Ambiente e as Comunidades Indigenas).
Terdapat 350 000 penyadap karet di Amazon. Mereka adalah keturunan ribuan pekerja yang masuk ke hutan dalam booming karet akhir abad ke-19. Booming itu berakhir menjelang Perang Dunia I, ketika Inggris dengan sukses mulai mengekspor karet dari perkebunan-perkebunan di Malaysia. Para penyadap karet di Amazon tetap bertahan, tetapi selama beberapa dekade mereka menjadi sasaran utang dari para majikan karet. Setelah pertengahan abad 19, lebih banyak para penyadap karet bekerja secara mandiri, tetapi mereka sering kali tidak dapat mempertahankan hak kepemilikan tanahnya. Mereka sering berkonflik dengan para pemilik ranch dan tuan tanah. Pada tahun 1970-an, para penyadap karet mulai membentuk kelompok-kelompok lokal dengan bantuan gereja Katolik. Para penyadap karet di Acre merupakan kelompok yang paling terorganisasi dengan baik dibandingkan dengan kelompok di wilayah Amazon.
Lobi aktivis Washington akhirnya terdengar di Acre, tempat para penyadap karet mempunyai seorang pemimpin yang berbicara lembut -- Chico Mendes. Mendes adalah seorang pemimpin yang muncul tidak dari elite kota, terdidik dan modern sebagaimana yang sering dibayangkan oleh para diplomat, kelompok-kelompok konservatif dan para pemikir di Amerika Utara dan Eropa. Mendes berasal dari keluarga miskin pedesaan yang hidup tergantung pada sumber-sumber alam sekitarnya. Dia bekerja sepanjang hari sebagai pemanen latek di hutan sejak umur sebelas tahun. Mendes memimpin para penyadap karet di Acre untuk mempertahankan hak milik tanah mereka dan juga untuk melindungi hutan sebagai sumber produksi alam.
Mendes dan koleganya telah melihat bagaimana kesalahan Polonoroeste telah menghancurkan kehidupan banyak penyadap karet di kawasan Rondonia. Para pengungsi yang tak pernah dibayangkan, maupun para spekulan tanah, membanjiri Acre selama perluasan jalan BR-364 yang sedang diaspal. Para penyadap karet secara sungguh-sungguh melakukan perlawanan tanpa kekerasan dengan bentuk yang unik, yang disebut empate, terhadap penggundulan hutan yang mereka mulai sejak pertengahan 1970-an. Empate secara harfiah bermakna "jalan buntu", yakni sebuah cara bertahan dengan berdiri berkeliling dan dengan cara damai menghadang para buruh sewaan tuan tanah untuk menebang hutan. Seperti para aktivis Chipko, yaitu gerakan wanita yang berbasis di pedesaan untuk menyelamatkan hutan Himalaya
(lihat Bab 10), para penyadap karet secara langsung menempatkan tubuhnya di antara pohon dan kapak-kapak ataupun gergaji yang hendak menumbangkan pohon.Pada bulan Oktober 1985, 120 pemimpin penyadap karet dari seluruh lembah Amazon mengadakan pertemuan nasional yang pertama di Brasilia. Pada waktu itu hadir juga para aktivis lingkungan, peneliti dan tiga orang yang kemudian memainkan peran kunci dalam membantu para penyadap karet membentuk aliansi baik di dalam maupun di luar Brasil dengan kelompok-kelompok lain. Tiga orang tersebut adalah Steve Schwartzman, Mary Helena Allegretti dan Tony Gross. Steve Schwartzman berasal dari The Environmental Defense Fund. Mary Helena Allegretti adalah pendiri The Institute for Amazon Studies yang mengampanyekan pemanfaatan sumber daya alam Amazon Brasil secara berkelanjutan. Tony Gross adalah seorang berkebangsaan Inggris yang sudah bekerja dengan Oxfam di Brasil sejak tahun 1980. Pertemuan itu merupakan langkah yang menentukan.
Para penyadap karet membentuk sebuah organisasi nasional yaitu The National Council of Rubber Tappers. Mereka menyatakan akan menghentikan proyek-proyek kolonisasi pertanian di hutan-hutan yang masih murni dan hendak melindungi hutan-hutan yang mereka tempati. Mereka mendesakkan bahwa kebutuhan-kebutuhan dan pengetahuan lokal harus dimasukkan dalam perhitungan proyek-proyek pembangunan masa depan di Amazon. Mereka menyatakan bersedia berkonsultasi dan berpartisipasi dalam perencanaan proyek-proyek yang menyangkut nasib mereka secara langsung. Dan mereka mengusulkan sebuah model baru bagi perlindungan hutan Amazon. Mereka mengusulkan penyisihan area yang luas dari hutan sebagai "cagar alam" yang dilindungi dengan pengaturan oleh komunitas penyadap karet lokal. Pada hutan cagar alam itu, para penyadap karet yakin bahwa hutan tersebut tidak hanya akan terlindungi tetapi juga akan memberikan hasil memadai secara berkelanjutan. Para penyadap karet secara rutin mengumpulkan dan menjual lebih dari selusin hasil hutan selain karet alam dan kacang Brasil.
Tidak lama setelah pertemuan nasional pertama, para penyadap karet membentuk aliansi dengan Perhimpunan Masyarakat Adat (The Union of Indigenous Peoples), sebuah organisasi induk yang mewakili sebagian besar suku Indian di Brasil. Mereka menamakan koalisi baru itu sebagai The Amazonian Alliance of the Peoples of the Forest. Ini baru pertama kali terjadi. Indian dan para penyadap karet sering terlibat perselisihan dalam konflik-konflik tanah di Amazon, tetapi sekarang mereka bersatu melawan ancaman yang makin berkembang terhadap hutan yang menjadi rumah mereka. Aliansi tersebut memprotes pemerintah Brasil dan Bank Dunia karena merusak hutan yang akibat proyek Polonoroeste. Mereka menyerukan agar kebijakan pembangunan Amazon yang baru didasarkan pada prinsip: "Amazon untuk orang Amazon".48
Sebuah kerja sama yang sangat efektif melibatkan para penyadap karet, pendukung mereka di Brasil (kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan organisasi-organisasi HAM dan LSM-LSM seperti Institute for Amazon Studies-nya Mary Allegretti) dan aktivis-aktivis lingkungan di luar Brasil, khususnya kelompok-kelompok lingkungan di Washington dan Kanada. Tiga tahun kemudian, Mendes dan aktivis Brasil lain seperti Mary Allegretti dan Ailton Krenak, pemimpin Perhimpunan Masyarakat Adat, pergi ke Washington untuk melobi para pejabat Bank Dunia dan IDB. Mendes bertemu Senator Kasten dan anggota Kongres serta para staf mereka. Mendes pergi ke Miami di tahun 1987 untuk melobi gubernur dan direktur eksekutif IDB pada pertemuan tahunan. Mendes menerima dua penghargaan lingkungan internasional, salah satunya dari the United Nations Environment Program (UNEP).
Sebelum Natal 1988, Chico Mendes dibunuh, sebuah kematian yang tak terlupakan. Pemilik ranch lokal yang dikelola secara patriakal pernah mengancam akan membunuh Mendes setahun sebelumnya. Beberapa pendahulunya, yaitu para pemimpin perserikatan di Acre, juga telah dibunuh. Hingga awal tahun 1990-an pembunuhan itu masih berlanjut, sebagai bagian dari dinamika kekerasan yang semakin menaik di pedesaan Amazon. Dinamika ini diperparah oleh ketegangan sosial akibat proyek-proyek pembangunan raksasa yang didanai secara internasional pada tahun 1980-an.
Menjelang akhir 1986, tekanan publik yang lebih intens dari kelompok-kelompok lingkungan Amerika Serikat terhadap Bank Dunia dan IDB menciptakan kesempatan yang unik: bank-bank multilateral jadi ingin sekali memperlihatkan bahwa mereka juga mempertimbangkan alternatif lain bagi proyek mereka di bagian barat daya Brasil. Sepanjang tahun itu, Steve Schwartzman dan Mary Allegretti menyiapkan sebuah studi kelayakan penetapan hutan cagar alam di Amazon Brasil dari sisi ekonomi, hukum, dan keuangan. Pada awal 1987, EDF (Enviromental Defense Fund) menyampaikan sebuah laporan kepada Departemen Keuangan Amerika Serikat, yang juga diedarkan kepada Bank Dunia dan IDB. Dalam sebuah memo kepada direktur Bank Dunia tertanggal 2 April 1987, Ernest Stern menulis:
|
Kita sungguh-sungguh memberikan rekomendasi mengenai laporan tersebut bagi penetapan cagar alam di wilayah Amazon. Sekarang ini, cagar alam tersebut merupakan alternatif paling diinginkan untuk program pembukaan hutan dan kolonisasi tanah, yang masih sering dipersoalkan dari sisi lingkungan. Penetapan cagar alam tersebut secara bersamaan akan melahirkan konservasi hutan dan pengembangan ekonomi di hutan-hutan utama wilayah Amazon, dan dengan memperhatikan pada kebutuhan para penyadap karet yang telah lama diabaikan, maka akan sekaligus menghasilkan manfaat sosial.49 |
Memo Stern merupakan langkah yang luar biasa. Meskipun demikian, Bank Dunia selama dua dekade terlanjur menjadi lembaga donor internasional yang membiayai program-program pembukaan hutan dan kolonisasi, yang tidak hanya dilakukan di Brasil. Setiap tahun, Washington membuat ratusan sampai ribuan halaman laporan mengenai bantuan asing, pembangunan internasional, dan lingkungan global. Kendati demikian, sebagian besar laporan itu jarang dibaca bahkan oleh staf yang mengeluarkan laporan itu sendiri. Jika seseorang mengambil begitu saja memo Stern, maka dia akan tahu bahwa sebuah rancangan laporan singkat akan dapat menyakinkan kepala divisi operasi dari lembaga yang memiliki banyak karyawan ini (yang terdiri atas ahli-ahli ekonomi pembangunan) bahwa pandangannya salah.
Dalam kenyataannya, tekanan publik dan Kongres semakin meningkat dan media massa mulai mulai memandang Bank Dunia sebagai monster lingkungan. Pandangan yang demikian menghancurkan pekerjaan-pekerjaan hubungan masyarakat Bank Dunia selama 15 tahun terakhir. Sebagaimana dinyatakan Samuel Jhonson, tidak ada yang dapat sedemikian efektif memusatkan akal manusia kecuali masalah masa depan kehidupan, sehingga boleh dikatakan bahwa perhatian birokrasi terhadap usulan-usulan dari luar yang telah mengubah pandangannya sangat erat berkaitan dengan ancaman kontribusi dana mereka.
Mengikuti memo Stern, Bank Dunia dan IDB mulai mempertimbangkan merancang ulang sebagian pencairan pinjaman yang masih tersisa bagi proyek Polonoroeste dan pembangunan jalan raya Acre guna mendukung penetapan cagar alam. Dua lembaga keuangan juga merancang ulang proyek-proyeknya untuk meningkatkan perlindungan bagi tanah-tanah Indian. Pola pemberian dana yang tertutup, khususnya dari IDB -- dengan Senator Kasten dan ketua Subkomisi Senat yang baru untuk Operasi-operasi Luar Negeri, Daniel Inouye dari Partai Demokrat, Hawai-- terus menjadi bahan dan fokus kritikan terhadap kedua institusi itu. The National Council of Rubber Tappers dan Institute for Amazon Studies-nya Mary Allegretti akan membantu otorita Brasil menyusun aturan baru yang akan mengizinkan komunitas penyadap karet untuk mengambil alih dan mengelola program-program pengunaan lahan yang baru dibuka. Hingga tahun 1992, pemerintah Brasil menetapkan 19 cagar alam baru di empat negara bagian di Amazon, yang meliputi areal hutan tropis seluas hampir tiga juta hektare.
Siklus Semakin Mendekat
Bersamaan dengan pengorganisasian secara nasional kelompok-kelompok HAM dan LSM membentuk untuk pertama kalinya, yang disusul kerja sama dengan aktivis lingkungan Washington, para penyadap karet mulai merapatkan siklus antara tingkatan tertinggi lembaga keuangan internasional, pemerintah nasional Brasil dan pemerintah setempat. Ini merupakan bentuk tindakan politik internasional yang baru, yaitu melibatkan warga negara yang dulu terisolasi. Sekali Bank dunia dan IDB mulai mendukung penetapan cagar alam di Acre, maka keseimbangan kekuatan politik di negara bagian itu pun berubah. Para penyadap karet kini bekerja sama dengan LSM-LSM yang mampu melakukan tekanan politik baik nasional maupun internasional, dan yang lebih penting, membantu menyalurkan bantuan internasional ke Acre dan negara bagian yang lain di Amazon untuk mendukung konservasi hutan.
Dalam kasus-kasus tertentu, pendekatan top-down pada pembangunan internasional berskala besar tampaknya akan diubah. Kelompok-kelompok lokal sedang mengusulkan alternatif pembangunan yang berbasis pada realitas ekologi dan sosial. Dan paling tidak sebagian orang di bank-bank multilateral, pemerintah Brasil, dan pemerintah negara bagian Acre mau mendengarkan serta memberikan respons.
n)Kampanye isu lingkungan secara internasional merupakan senjata pamungkas dalam perkembangan gerakan sosial dan komunitas di negara-negara sedang berkembang pada tahun 1980-an. Memang baru sedikit yang mengetahui bahwa menjelang pertengahan dekade tersebut terdapat ratusan LSM di Brasil yang peduli dengan lingkungan. Beberapa di antaranya -- seperti AGAPAN-nya Jose Lutzenberger -- lebih dulu muncul di tahun 1970-an, saat Brasil mengalami masa-masa yang buruk, mengalami pemerintahan militer yang represif, yang selalu mengancam keselamatan fisik para pengritiknya. Selain itu, ada juga OIKOS di Sao Paulo, yang memimpin oposisi lokal untuk menolak proyek-proyek infrastrukur di perkotaan. OIKOS, bekerja sama dengan EDF Washington, menuntut IDB untuk melakukan dengar-pendapat publik yang berakibat pada pembatalan IDB dalam pendanaan proyek pembangunan jalan raya yang merusak sebuah areal taman alam yang tersisa di Sao Paulo. Beberapa kelompok, seperti CEDI (The Ecumenicial Council for Documentation and Information) dan NDI (The Nucleus for Indigenous Rights), yang mengembangkan penelitian yang luar biasa dan jaringan kerja yang menyatukan banyak organisasi di negara-negara berkembang -- semuanya bersatu di bawah kondisi keuangan dan politik yang tak menentu yang juga terjadi di berbagai negara tetangga seperti di Amerika Utara ataupun Eropa.
Siklus yang lain pun mulai mendekat, seperti terjadi di Indonesia, India dan di tempat lain. Tidak hanya di Brasil kelompok-kelompok aksi sosial dan lingkungan berkembang biak, tetapi juga di seluruh negara sedang berkembang. Banyak di antara LSM itu sudah aktif sejak akhir tahun 1970-an atau awal 1980-an, ketika keberadaan LSM-LSM mulai dikenal di negara-negara industri di Utara. Kemunculan LSM-LSM itu merupakan sebuah konsekuensi dari berbagai kecenderungan global.
Liberalisasi dan atau kematian rezim-rezim militer atau diktator di Amerika Latin dan Asia membuka ruang politik bagi kelompok-kelompok tersebut. Pada saat yang sama, kegagalan ideologi marxis dan gerakan sosialis menciptakan sebuah tuntutan baru berupa alternatif ideologi dan strategi baru di antara banyak negara yang sedang mengorganisasi diri untuk mengubah masyarakat.
Integrasi berbagai masyarakat ke dalam ekonomi pasar global ternyata dibarengi dengan meningkatnya masalah ketakseimbangan dan masalah ekologi yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah. Kecenderungan ini kemudian menciptakan kebutuhan mendesak untuk memperbincangkan cara-cara alternatif dan praktis untuk menghadapinya. Menjelang akhir 1980-an, perkembangan teknologi komunikasi melalui jaringan komputer, faksimili dan e-mail memungkinkan kelompok yang berkepentingan sama di seluruh dunia untuk saling menukar informasi secara cepat, terutama informasi mengenai krisis, dan untuk meningkatkan kampanye-kampanye tertulis serta lobi-lobi yang semuanya bisa dilakukan dalam hitungan jam.
Kerja sama para penyadap karet dan kelompok-kelompok Brasil yang lain dengan pencinta lingkungan di Washington merupakan salah satu contoh dari jaringan kerja global antara kelompok masyarakat di negara-negara berkembang dengan aktivis dan pembela lingkungan di Utara. Sering kali Bank Dunia atau lembaga donor lain yang membiayai proyek-proyek berdampak destruktif justru menjadi pemicu yang menciptakan jaringan kerja itu.
Di Malaysia, sejak akhir tahun 1970-an kelompok-kelompok seperti Sahabat Alam Malaysia (SAM) dan Consumers Assosiation of Penang sudah sangat aktif dalam melakukan penelitian dan lobi-lobi untuk melakukan perubahan di negara dan wilayah mereka. Di tahun 1986, SAM mengoordinasikan pendirian dua jaringan aktivis lingkungan internasional yang menghimpun sejumlah besar kelompok-kelompok lingkungan di seluruh dunia: the Asia-Pasific Peoples Enviromental Network dan the World Rainforest Movement. Pada awal tahun 1987, jaringan ini menjadi berperan penting dalam melahirkan dukungan internasional bagi kelompok-kelompok masyarakat adat di Serawak (salah satu negara bagian Malaysia di Kalimantan Utara) yang sedang melakukan aksi blokade tanpa kekerasan terhadap pembangunan jalan-jalan yang didanai dengan bantuan Jepang.
Di bulan Oktober 1987, pemerintah Malaysia menerapkan sebuah tindakan keras secara nasional terhadap orang yang menentang pendapatnya. Bahkan pemerintah menangkapi warga masyarakat adat di Serawak yang sedang melakukan aksi protes serta para aktivis lingkungan dan hak asasi sipil terkemuka, termasuk Harrison Ngau, aktivis SAM dan pemimpin masyarakat adat Penan di Serawak, dan juga Meenakshi Roman, seorang pengacara lingkungan terkemuka dari SAM.
Di Indonesia -- negara dengan penduduk terbesar ke-5 -- kelompok-kelompok aksi lingkungan dari seluruh negeri membentuk WALHI, sebuah forum lingkungan Indonesia, pada tahun 1980. Menjelang tahun 1983, lembaga itu telah mempunyai lebih dari 320 organisasi yang mendukungnya. Pada bulan Oktober 1982, lebih dari selusin organisasi lain membentuk SKEPHI, sebuah gerakan yang menentang perusakan hutan.50
Namun, di Indonesia, kelompok-kelompok lingkungan dan hak asasi manusia melakukan aktivitasnya dalam suasana yang berbahaya. Rezim militer Jenderal Soeharto memang mengizinkan keberadaan mereka, tetapi setiap pengritik yang menentang pemerintah dengan penuh keberanian dicap sebagai anggota sebuah organisasi terlarang. Atau, kadang-kadang anggota-anggotanya ditangkapi, bahkan bisa mengalami kejadian yang lebih buruk lagi. Dalam suasana politik yang demikian, para pengritik manca negara terhadap proyek-proyek yang dibiayai Bank Dunia memberikan kepada kelompok-kelompok seperti WALHI dan SKEPHI sebuah kesempatan untuk bekerja sama dalam usaha-usaha untuk mengritik program-program pembangunan yang destruktif seperti transmigrasi dengan tanpa menyerang langsung kepada pemerintah. Pada tahun 1986 dan 1987, WALHI, SKEPHI, YLBHI, dan kelompok-kelompok Indonesia yang lain mengirimkan surat-surat dan dokumen-dokumen, bersama lebih dari 50 LSM di sepuluh negara lain, kepada Bank Dunia. Di dalam surat itu mereka meminta Bank menghentikan pembiayaan pembukaan lokasi transmigrasi baru di hutan-hutan tropis yang masih murni.51 Namun, meskipun masih dihantui Polonoroeste yang belum lama terjadi, pada bulan Desember 1986, Bank Dunia tetap meneruskan kucuran pinjaman baru untuk program transmigrasi di Indonesia. Memang, kali ini Bank Dunia hanya akan mengkonsolidasikan daerah permukiman yang sudah ada,
o) bukan membuka daerah baru.52 Tampaknya, setelah belajar kasus demi kasus, sebagai respons terhadap tekanan internasional, Bank Dunia mulai menghindari bisnis kolonisasi hutan.Pesatnya perrtumbuhan jaringan internasional antara LSM-LSM Indonesia dan LSM-LSM luar negeri ternyata juga membantu menciptakan ruang politik bagi kebebasan berekspresi yang lebih besar dan pembangunan masyarakat sipil di dalam sebuah rezim yang sangat reperesif. Maka tercipta pula sebuah kebutuhan untuk memperlebar ruang politik dalam membahas pencairan bantuan internasional di Indonesia. LSM-LSM Indonesia membangun jaringan dengan kelompok-kelompok di Eropa dan Amerika Utara
p) untuk melakukan lobi pada pertemuan tahunan di Den Haag yang dihadiri oleh lembaga-lembaga donor internasional dan pejabat-pejabat Indonesia guna mengoordinasikan bantuan pembangunan tahun berikutnya. LSM-LSM itu berupaya memengaruhi kebijakan dengan menyiapkan dan mengedarkan tulisan-tulisan mengenai masalah-masalah seperti hak asasi, kebutuhan perlindungan lingkungan, dan peranan kaum perempuan dalam proses pembangunan. Namun lembaga-lembaga donor, dipimpin oleh Bank Dunia, tidak mengizinkan LSM-LSM itu hadir dalam pertemuan, dan tetap merahasiakan sebagian besar informasi mengenai pencairan pinjaman dan keputusan-keputusan yang lain.Dalam soal perkembangan LSM, tidak ada yang lebih mengesankan dibandingkan dengan perkembangan LSM di India. Pada akhir dekade 1970-an dan awal 1980-an, sejumlah LSM India melakukan kampanye nasional yang berhasil menghentikan pembangunan bendungan yang mengancam salah satu dari daerah subur dan satu-satunya hutan tropis yang masih sangat murni di negara itu, yaitu Lembah Silent di sebelah barat laut negara bagian Kerala. Berkat kampanye itu, keselamatan Lembah Silent pun menjadi masalah nasional di India, sehingga Perdana Menteri Indira Ghandi terpaksa turun tangan untuk menghentikan proyek itu pada tahun 1983.53
Kampanye Lembah Silent menjadi kemenangan pertama gerakan "hijau" yang berkembang di India. Pada puncaknya, para pencinta lingkungan India membentuk aliansi dengan masyarakat lokal untuk memprotes kerusakan lingkungan hidup dan budaya akibat mega proyek yang dipromosikan oleh pemerintah, yang sering kali dibiayai oleh Bank Dunia. Sebagaimana terjadi di Thailand beberapa tahun kemudian, petani kecil dan masyarakat adat yang tak bertanah juga memprotes penanaman eucalyptus berskala besar demi kepentingan bagi hutan komersial, yang sebagian besar dibiayai oleh Bank Dunia dan lembaga donor internasional lain. Lembaga-lembaga donor menamakan proyek tersebut sebagai "Hutan Sosial", karena hutan-hutan tersebut dimaksudkan paling tidak sebagian untuk kayu bakar dan kebutuhan mendasar yang lain bagi kaum miskin. Padahal, lembaga donor internasional sebenarnya bermaksud selain mendukung program penanaman pohon-pohon komersial yang kelola oleh badan-badan kehutanan negara bersangkutan, juga memberikan keuntungan kepada pemilik-pemilik tanah yang sudah lebih makmur. Pertanian monokultur eucalyptus berskala luas sering kali membuat tanah tidak bisa dimanfaatkan untuk keperluan-keperluan lain, serta cepat memerosotkan kesuburan tanah dan menghabiskan cadangan air bagi daerah-daerah kering.
Di banyak negara industri, LSM-LSM meningkatkan koordinasi lobi dengan rekan-rekan mereka di negara-negara berkembang. Kelompok-kelompok di Inggris, Jerman, Skandinavia, Belanda, Italia, Kanada dan Australia meluncurkan kampanye-kampanye untuk menekan pemerintah-pemerintah mereka agar mendesak bank multilateral melakukan reformasi lingkungan. Sejumlah pemeriksaan dan dengar-pendapat di parlemen diadakan, dan dokumen-dokumen penelitian pun disiapkan. Kelompok-kelompok di Finlandia, misalnya, menyiapkan kritik yang tajam untuk proyek-proyek hutan sosial yang dibiayai Bank Dunia yang menjadi sasaran sebagian besar protes di India. Yang luar biasa, beberapa pejabat pemerintahan yang berurusan dengan pembangunan internasional di berbagai negara, terutama di Eropa Utara, mulai terang-terangan membantu LSM-LSM dengan membocorkan informasi dan dokumen-dokumen, yang sebenarnya dapat dapat membahayakan diri mereka.
Dalam beberapa kasus tertentu seperti Polonoroeste dan program transmigrasi, Bank Dunia memang tampak berubah. Namun, secara keseluruhan lembaga itu masih belum berubah. Dan "kereta raksasa" itu, yang digerakkan oleh tabiat bebal, masih saja suka mengucurkan uang dalam jumlah besar dan cepat cair, seperti tidak peduli akan akibat-akibatnya.
Banyak Kebodohan Masih Dilakukan di Amazon
Pinjaman Bank Dunia untuk bendungan-bendungan raksasa di Brasil memacu perlawanan yang lebih terorganisir. Dua proyek yang dibiayai Bank Dunia yang selesai pada awal tahun 1980-an di timur laut dan tenggara Brasil, yakni bendungan Sobradinho dan Machadinho, telah menggusur 70.000 orang miskin desa tanpa konsultasi dan ganti rugi yang seimbang. Pengalaman tersebut melahirkan kepahitan dan kecurigaan yang luas. Menjelang tahun 1986, Bank Dunia berencana membiayai penyelesaian bendungan raksasa yang lain di Itaparica, di sebelah timur laut Brasil, yang dijalankan tanpa rencana yang memadai dalam hal memukimkan dan merehabilitasi 40.000 orang yang akan digusur. Namun dalam kasus ini, sebagian besar kaum tergusur itu bekerja sama dengan serikat-serikat pedesaan yang disponsori oleh gereja dan organisasi-organisasi buruh untuk melakukan protes dan mempertahankan hak asasinya. Sekali lagi, sebuah koalisi internasional pun tercipta, yang meliputi EDF dan Oxfam (yang telah melakukan kerja lapangan di Itaparica).
Bank Dunia sedang menyiapkan pinjaman "Sektor Pembangkit Listrik Brasil" sebesar 500 juta dolar AS untuk menyelesaikan tidak hanya proyek Itaparica, tetapi juga sejumlah bendungan besar lain. Dan pinjaman itu dimaksudkan hanya untuk yang pertama dari berbagai pinjaman -- yang akan dikucurkan masing-masing dalam jumlah setengah miliar dolar AS -- untuk pemasok listrik nasional Brasil, yakni Electrobras. Pinjaman ini dimaksudkan untuk mendukung rencana investasi pembangkit listrik berskala sangat besar yang disebut The Plan 2010. The Plan 2010 merupakan rencana pembangunan 136 bendungan dalam periode 20 tahun, 79 di antaranya berada di hutan tropis. Pembangunan itu diperkirakan akan merusak integritas ekologi dan budaya di lembah Amazon. Pinjaman sektor pembangkit listrik Brasil yang pertama akan digunakan untuk menyelesaikan dan atau memulai 25 pembangunan bendungan pertama, yang akan membanjiri areal seluas wilayah Connecticut dan mengusir lebih dari 90 ribu orang, termasuk 40 ribu orang di Itaparica. Sementara pinjaman itu disiapkan, Departemen Energi Bank Dunia sedang menyempurnakan sebuah studi -- yang sebagian besar kesimpulannya diabaikan lembaga keuangan itu sendiri -- yang mengusulkan bahwa di negara-negara yang luas seperti Brasil dan India, seandainya tidak terdapat proyek-proyek pembangkit listrik yang direncanakan untuk 20 tahun yang mendatang, dapat digantikan dengan investasi dalam penghematan dan konservasi energi yang habis sekali pakai.54
Namun hal itu tampaknya sulit dilakukan. Dalam sebuah pertemuan dewan eksekutif Bank Dunia pada tanggal 18 Juni 1986 yang membicarakan pemberian pinjaman sektor energi Brasil, Direktur Eksekutif Amerika Serikat Hugh Foster dan beberapa direktur eksekutif lain memberikan perhatian serius terhadap proyek-proyek pembangunan bendungan tersebut. Direktur Bank Dunia untuk Kanada, dengan menggunakan informasi dari Oxfam, mendesak agar sebuah ketetapan pinjaman juga harus menjamin pemukiman dan rehabilitasi penduduk yang terancam di Itaparica. Jika tidak, dia mengancam tidak akan menyetujui pinjaman tersebut. Namun Foster merasa lebih pesimistis: "sangat jelas terlihat bahwa tidak mungkin program pemukiman di Itaparica akan dilakukan tanpa mengakibatkan penderitaan manusia luas dan perselisihan."55 Yang menyedihkan, anggapan Foster itu ternyata benar-benar terjadi.
Dengan menggunakan informasi yang sebagian disediakan oleh EDF, Foster memberikan sebuah hujatan yang tajam terhadap pijaman tersebut di hadapan manajemen dan dewan eksekutif Bank Dunia:
|
Bank Dunia sudah terlibat dalam rencana pembangunan regional di Rondonia paling tidak selama sepuluh tahun. Mengingat keterlibatan yang cukup lama itu, tak heran jika orang berharap agar kebijakan Bank Dunia mengenai masyarakat adat dapat benar-benar melindungi suku Indian di negara bagian itu. Terlebih lagi jika kita belajar dari pengalaman buruk dalam proyek Polonoroeste. Namun ternyata kita menemukan kenyataan sebaliknya. Sebuah proposal yang meliputi pemberian pinjaman untuk membangun Bendungan Gi-Parana di Rondonia ternyata sama sekali tidak memperhatikan kebutuhan-kebutuhan penduduk Indian-Amerika atau kebutuhan akan perlindungan lingkungan di sekitar bendungan. Yang lebih buruk, bendungan itu justru akan menenggelamkan sejumlah cagar alam Indian yang dulu berusaha ditetapkan dan dipelihara dengan pendanaan Bank Dunia. Ini benar-benar tindakan bodoh.56 |
Wakil dari Amerika Serikat itu menyalahkan Bank Dunia karena membantu menyelesaikan proyek yang merusak, seperti "Bendungan Tucurui yang tidak terungkap di dunia internasional". Selain itu, dia melanjutkan, "program investasi yang meliputi pendanaan bagi apa yang disebut oleh Laporan Perkiraaan pinjaman sebagai ‘Bendungan Balbina yang kondang keburukannya’ hanya menambah jumlah tindakan bodoh yang dilakukan Bank Dunia." Dia secara langsung mempersoalkan kredibilitas usaha-usaha staf Bank Dunia dalam memberi penilaian lingkungan terhadap pinjaman tersebut melalui "Environmental Master Plan", semacam rencana induk lingkungan, untuk mendukung konservasi lingkungan pada proyek-proyek Eletrobras di masa mendatang. Lalu dia bertanya, "Bagaimana kita bisa yakin, program itu akan dijalankan dengan seksama jika pada saat bersamaan lembaga pelaksana proyek (pemerintah Brasil) masih saja melakukan serangkaian perusakan lingkungan?"57
Pada tanggal 19 Juni 1998, mayoritas Dewan Eksekutif Bank Dunia menyetujui pemberian pinjaman itu, tetapi Amerika Serikat menolaknya. Kejadian itu memang pertama kalinya anggota-anggota Bank Dunia menolak pemberian pinjaman dengan alasan lingkungan. Namun itu bukan yang terakhir.
Menjelang akhir 1986, beberapa negara, termasuk Jerman, Swedia, Belanda dan Australia mengirimkan peringatan kepada para direktur eksekutif Bank Dunia untuk masing-masing wilayah mereka supaya menekankan reformasi lingkungan yang telah disuarakan oleh Amerika Serikat. Di Amerika Serikat, kelompok-kelompok yang lain memobilisasi aksi di tingkat akar rumput terhadap pembangunan internasional dan Bank Dunia. Randy Hayes, aktivis lingkungan yang berbasis di San Fransisco, mendukung penciptaan Rainforest Action Network, sebuah kelompok yang dapat memobilisasi puluhan ribu surat protes kepada Bank Dunia sebagai bentuk solidaritas terhadap kampanye LSM-LSM di negara-negara berkembang. The International Rivers Network, yang juga berbasis di San Francisco, mengkhususkan diri dalam menentang pembangunan bendungan di seluruh dunia dan memobilisasi jaringan kerja mereka sendiri baik di luar negeri maupun di Amerika Serikat sendiri. Beberapa kelompok radikal, seperti Greenpeace dan Earth First!, juga mengarahkan perhatiannya kepada Bank Dunia.
Ketika berlangsung pertemuan tahunan Bank Dunia/IMF di Washington pada bulan September 1986, LSM-LSM di Amerika Serikat mengoordinasikan pertemuan tandingan kelompok lingkungan, pembangunan, dan hak asasi manusia dari seluruh dunia yang pertama kalinya untuk memprotes kebijakan-kebijakan dan proyek-proyek yang berasal dari lembaga-lembaga raksasa Bretton Woods. Seorang aktivis Amerika Serikat bernama Chad Dobson membantu mengorganisasi pertemuan tandingan tersebut, dan dia melanjutkan mendirikan LSM-nya sendiri, the Bank Information Center semacam pusat informasi mengenai Bank Dunia, yang mengkhususkan diri dalam memyebarkan dokumen-dokumen rahasia Bank Dunia kepada berbagai kelompok di seluruh dunia.
Menjelang akhir tahun 1986, Bank Dunia menjadi mirip sebuah benteng yang terkepung. Pada tanggal 30 Sepetember, bertepatan dengan pertemuan tahunan Bank Dunia di Washington, para aktivis Greenpeace, Earth First! dan Rainforest Action Network, dengan keahlian panjat tebing, menaiki atap gedung Bank Dunia di siang hari dan menggantungkan tulisan besar yang mencolok: "Bank Dunia Perusak Hutan Tropis", sebuah citra yang diabadikan dan disebarluaskan oleh wartawan foto dari seluruh dunia.
Dikepung
Di Amerika Serikat, dengar pendapat Kongres diteruskan -- lebih dari 20 kali hingga tahun 1987 -- yang diselenggarakan oleh 10 subkomisi Senat maupun Majelis Rendah Amerika Serikat. Robert Kasten menyebutkan sebuah dengar pendapat Senat khusus di bulan Mei 1987 diadakan untuk mencatat kritik-kritik internasional yang luas terhadap bank-bank multilateral karena sikap yang mengabaikan lingkungan. Di antara pemberi kesaksian adalah wakil LSM dari Brasil, Indonesia, Kanada, dan Belanda. David Obey, seorang anggota Partai Demokrat yang berpengaruh di Majelis Rendah Amerika Serikat yang berasal dari Wisconsin, memainkan peran penting dalam lembaga legislatif itu karena dia mengetuai Subkomisi Majelis Rendah untuk Operasi Luar Negeri yang memberi persetujuan dana untuk Bank Dunia. Ironisnya, Obey dan Kasten tidak suka satu sama lain baik secara ideologi maupun personal. Masing-masing merasa jengkel jika salah seorang di antaranya memperoleh pengakuan media massa atas kemampuannya menyelesaikan masalah lingkungan internasional sementara yang seorang tidak mendapatkan publikasi itu. Antagonisme ini memacu persaingan di antara mereka berdua, sehingga setiap tahun masing-masing saling mengajukan peraturan reformasi lingkungan yang lebih kuat terhadap Bank Dunia. Seperti proses antipati kimia yang menghasilkan sebuah zat kimia baru, dua musuh politik tersebut bekerja jauh lebih efektif dalam memperhatikan masalah lingkungan internasional dibandingkan jika keduanya bersatu dan berteman.
Di kalangan media massa, tekanan juga semakin naik. Pada tahun 1986 dan 1987, baik New York Times maupun Wall Street Journal memuat kampanye para pencinta lingkungan Washington terhadap Bank Dunia di halaman muka dan, mungkin untuk lebih mempermalukan staf Bank Dunia, jurnal-jurnal ilmu pengetahuan ternama seperti Nature dan Science menyajikan artikel-artikel baru yang sangat skeptis terhadap laporan lingkungan Bank Dunia.
Dua pembuat film dokumenter Inggris memainkan peran yang unik dalam memancing pendapat publik internasional mengenai peranan bank multilateral di Brasil dan negara-negara tropis lain. Salah satunya, produser Inggris Adrian Cowel, berkunjung ke hutan Amazon dan menulis tentang hutan dan para penghuninya sejak dia lulus dari Cambridge pada pertengahan 1950-an. Pada tahun 1980, dia bertemu dengan Britain’s Central Independent Television Company yang selalu membuat iri setiap produser film-film dokumenter di seluruh dunia. Sampai dekade berikutnya, perusahaan siaran televisi itu telah membuat sebuah film seri mengenai nasib hutan Amazon yang diproduksi dan disutradarai oleh Cowell. Cowell berkata kepada direktur perusahaan siaran televisi itu, "Bayangkan jika saja sudah ada kamera pada tahun 1870-an dan 1880-an barangkali orang akan merekam pergeseran nasib Daerah Barat Amerika. Nah, kali ini, Anda mempunyai kesempatan untuk merekam tiap pergeseran nasib hutan Amazon." Daerah yang dipilih Cowel adalah Rondonia. Lebih dari dua tahun di dalam epik sinematografi, Cowell menyatakan bahwa nasib Rondonia sebagian besar diputuskan di Washington, di dalam kantor Bank Dunia. Begitu juga Brasil.
Menjelang tahun 1984, dia mulai banyak bekerja dengan aktivis lingkungan di Washington -- Barbara Bramble, Steve Schwartzman, dan penulis. Dia memfilmkan beberapa dengar pendapat dalam Kongres, dan banyak bekerja bersama Chicho Mendes, Jose Lutzenberger dan aktivis Brasil lain. Baik pembuatan maupun pertunjukan seri-seri film itu kemudian menjadi senjata yang penting dalam perang melindungi hutan tropis yang masih tersisa di Brasil bagian tenggara, dan membantu aktivis Brasil dalam mempererat hubungan mereka dengan LSM-LSM dan simpatisan-simpatisan di luar negeri. Akhir tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an, film lima jam Cowell, The Decade of Detruction, dipertunjukkan di lebih selusin negara, termasuk penyebarannya secara nasional melalui jaringan PBS di Amerika Serikat pada Oktober 1990.
q)Salah satu pembantu Cowell dalam pembuatan episode pertama The Decade of Destruction, Nicholas Claxton, adalah seorang pembuat film dokumenter yang handal di bidangnya. Dia telah memenangkan Emmy Award di tahun 1984 untuk Seeds of Despair, film BBC yang mendokumentasikan kelaparan di Ethiopia. Film ini kemudian memacu gerakan Bantuan Kemanusiaan (Live Aid) berupa konser-konser rock internasional untuk membantu Afrika. Claxton menemui tema-tema mengenai pembangunan internasional berskala besar, masalah lingkungan, dan bank-bank multilateral yang mendorongnya untuk memfilmkannya. Dia memutuskan membuat film sendiri mengenai masalah itu dengan judul "Harga Sebuah Kemajuan" (the Price of Progress).
Film itu merupakan kritik tajam dan kegelisahan mendalam dengan menyoroti lokasi-lokasi di Brasil, India, Washington, Indonesia dan Afrika. Indonesia dan Afrika mendapat sorotan yang lebih panjang di film itu. Film itu menggambarkan program pembangunan raksasa yang kurang terencana dan merusak lingkungan serta budaya masyarakat adat, yang semuanya dibiayai oleh Bank Dunia dan bank-bank pembangunan internasional yang lain. Claxton mewawancarai aktivis-aktivis lokal di negara-negara berkembang, kalangan akademisi, dan eksekutif Bank Dunia. Perbedaan cara pandang yang muncul di antara mereka cukup mengkhawatirkan.
Salah satu yang diwawancarai adalah Thayer Scudder, seorang antropolog di Institut Teknologi California. Dia memberikan gambaran menyedihkan mengenai keterlibatan ilmuwan terkemuka di dunia ini dalam proyek relokasi penduduk yang terkena proyek pembangunan berskala besar. Sebagian besar pengalamannya diperoleh selama 20 tahun lebih menjadi konsultan Bank Dunia. Pernyataannya dalam film Claxton adalah bijaksana. Thayer tidak dapat menunjukkan satu proyek pun, yang dibiayai Bank Dunia atau lembaga donor lain, yang berhasil melaksanakan program rehabilitasi pada penduduk yang tergusur. Menurut Thayer, sebagian besar dari mereka adalah masyarakat adat atau tradisional. Akibat penghilangan akar kehidupan mereka secara total dan cepat adalah disintegrasi sosial, ketiadaan bantuan secara ekonomi, dan sering kali kenaikan angka kematian secara luar biasa. Dia menyimpulkan, "Relokasi yang dipaksakan adalah sebuah tindakan terburuk yang dapat Anda lakukan, yang akan membunuh mereka."
Film itu menunjukkan sebuah permintaan wajar dari Medha Patkar, pemimpin karismatik dari puluhan ribu masyarakat adat di India, yang memprotes penggusuran yang akan terjadi akibat pembangunan bendungan Sardar Sarovar yang dibiayai oleh Bank Dunia. Kemudian, film itu menampilkan David Hopper, saat itu menjabat sebagai wakil presiden Bank Dunia untuk wilayah Asia Selatan. Dengan retorika khas pejabat Bank Dunia, Hopper bicara soal membantu kaum miskin. "Anda tidak dapat membangun tanpa seseorang terlukai," dia memulai. "Kita bekerja seperti seorang tukang kayu baru dan agaknya merusak pekerjaan pertamanya. Tetapi kita akan belajar," ungkap Hopper ketika ditanya apakah penduduk tersebut dapat direhabilitasi setelah mereka dipaksa pindah oleh proyek-proyek Bank Dunia. "Suku-suku itu sendiri, mereka yang terusir, akan belajar," dia menambahkan, seolah-olah pengertian "belajar" bagi petani Indian yang terusir dapat diperbandingkan dengan staf Bank Dunia yang setiap malam pulang ke rumahnya yang hangat di perkotaan. Padahal, di tahun-tahun awal, para staf disubsidi oleh Bank Dunia dengan pinjaman berbunga rendah. Film The Price of Progress disiarkan pada telivisi nasional di Inggris dan beberapa negara lain (meskipun tidak di Amerika Serikat), dan ditayangkan di hadapan beberapa parlemen nasional, termasuk Swedia, Norwegia dan Senat Amerika Serikat.
Pada Minggu Paskah, 1987, Bank Dunia dan kegagalan Polonoroeste menjadi sasaran dari "60 Minutes", sebuah program berita yang ditonton secara luas di Amerika Serikat. Polonoroeste merupakan sebuah kebodohan: koresponden Diane Sawyer mempersembahkan klips yang dramatis tentang penggundulan hutan, migrasi, kematian akibat malaria dan laporan-laporan tentang tindakan Bank Dunia yang disusun oleh Jose Lutzenberger dan David Price. Dia mewancarai wakil presiden Bank Dunia bidang hubungan masyarakat, Jose Botafago. Ketika Sawyer bertanya bagaimana Bank Dunia dapat meneruskan sebuah proyek yang demikian, Botafago menjawab bahwa meskipun Bank Dunia tahu di sana ada risiko, Bank Dunia telah memutuskan, karena mengerti apa yang harus dilakukan pada waktu itu, bahwa jika Bank Dunia menyetujuinya maka itu akan lebih baik bagi lingkungan, suku Indian, dan migran yang datang ke wilayah itu. Lalu, di hadapan lebih dari 20 juta pemirsa televisi, Sawyer mengeluarkan tumpukan laporan singkat dari dokumen internal Bank Dunia. Dalam laporan itu, staf Bank Dunia sendiri, antara tahun 1979 dan 1983, secara terus-menerus dan konsisten mengingatkan kepada manajemen Bank Dunia bahwa proyek-proyeknya telah merusak, mulai dari konsepsinya. Laporan itu juga memprediksikan terjadinya penggundulan hutan yang tidak terkendali dan kepunahan suku Indian jika proyek tersebut diteruskan.
Birokrasi Perusakan
|
Manajemen kantor modern didasarkan pada dokumen-dokumen tertulis ("arsip"), yang dijaga dalam bentuk atau konsepnya yang asli.58 -- Max Weber, Wirtschaft und Gesellschaft (Ekonomi dan Masyarakat) |
Dokumen yang ditampilkan dalam acara "60 Minutes" itu memperlihakan sebuah sikap tak acuh manajemen Bank Dunia terhadap peringatan-peringatan dari ahli-ahli dan konsultannya sendiri. Dalam dokumen itu, para ahli dan konsultan sudah memperingatkan bahwa proyek tersebut hampir pasti menimbulkan bencana pada umat manusia dan ekologi. Pada tanggal 8 Januari 1980, misalnya, sekitar dua tahun sebelum pemberian pinjaman untuk proyek Polonoroeste yang pertama disetujui, kepala Kantor Urusan Lingkungan yang sangat kurus dari Bank Dunia memperingatkan V. Rajagopalan -- belakangan dia menjadi direktur departemen Bank Dunia yang sangat berkuasa -- bahwa penggunaan teknologi yang tidak tepat bagi pemukiman pertanian yang kondisi tanahnya sangat buruk akan berisiko tinggi dan menimbulkan bencana bagi para pemukim itu sendiri."59 Dan itu memang terjadi. Pada tanggal 25 Febuari 1980, J.C. Collins, seorang ahli pertanian senior di Bank Dunia, mengirim surat kepada kantor lingkungan bahwa pemberian dana untuk "komponen lingkungan" proyek Polonoroeste (yaitu melindungi areal hutan, pusat penelitian ekologi, dan sebagainya) tidak mungkin dapat mengimbangi dampak merusak proyek tersebut -- penebangan hutan, terutama pada tanah-tanah yang tidak cocok untuk pertanian berkelanjutan, penggunaan sistem produksi pertanian yang tidak berkelanjutan, dan pendudukan cagar alam masyarakat adat.60
Pada tanggal 20 Mei 1980, D.C. Pickering, asisten direktur pertanian dari staf kebijakan negara anggota dan James Lee, kepala pengawas lingkungan Bank Dunia menulis sebuah memorandum untuk kepala ahli ekonomi yang merumuskan proyek Polonoroeste, D.J. Mahar. Dalam memo itu keduanya mempersoalkan "perkiraan yang terlalu optimistik mengenai potensi pertanian di areal tersebut". Dinyatakan juga, "Pada saat ini sifat dasar dan kandungan tanah di areal tersebut tidak diketahui secara pasti," dan, "tidak mungkin untuk secara luas mengidentifikasikan tipe dan lokasi lahan utama." Mereka menyimpulkan, "Tentunya ada suatu kesempatan yang baik untuk meningkatkan produktivitas pertanian di daerah lain, tetapi alternatif yang demikian tidak dipertimbangkan dalam laporan tersebut."61
Pada tanggal 9 Juli 1980, Collins menulis lagi sepucuk surat untuk Mahar yang memperingatkan bahwa "sangat sedikit sekali diketahui tentang daya dukung tanah di areal itu." Surat itu juga menyatakan, "Secara keseluruhan, tanah-tanah di Amazon kurang subur, lagi pula mudah berubah. Tidak ada bukti bahwa tanah di daerah timur laut tidak mudah berubah, meskipun mungkin proporsi tanahnya agak lebih tinggi dengan sedikit batasan bagi pertanian." (Tanah-tanah itu kebanyakannya sudah dipenuhi oleh pengusaha ranch dan tuan tanah menjelang akhir tahun 1970-an). "Keseluruhan optimisme itu," Collins memperingatkan, "tampaknya tidak dapat dijamin kebenarannya." Proyek Polonoroeste akan gagal dari sisi ekonomi, dan Collin memprotes:
|
Tampaknya sulit dipastikan, pada saat ini, bahwa Wilayah Timur Laut akan terbukti mampu menyokong berbagai volume ekspor utama dari wilayah itu ataupun memberikan kehidupan yang berkelanjutan yang dapat mengantisipasi persoalan sejumlah besar pemukim miskin tanpa harus mendapat subsidi yang besar dari pemerintah.62 |
Pada bulan November 1980, Lee dan Pickering menulis lagi kepada Rajagopalan, Robert Skillings, kepala divisi Brasil, dan Dennis Mahar, ahli ekonomi yang merumuskan proyek Polonoroeste. Dalam surat itu dinyatakan, "Secara keseluruhan, daerah sekitar proyek pembangunan ini hampir-hampir tidak menjanjikan."63
Meskipun peringatan-peringatan dari Lee, Pickering dan Collins tampak tidak berpengaruh pada proyek, di sisi lain manajemen Bank Dunia sangat memperhatikan David Price, orang yang mulai mempublikasikan keprihatinannya mengenai dampak pemusnahan suku dari proyek Polonoroeste bagi sejumlah suku Indian.
Pada tanggal 9 Desember 1980, direktur departemen negara untuk Brasil, Enrique Lerdau, menulis memo tiga halaman mengenai Price, yang kemudian dikirimkan juga kepada Rajagopalan, Skilings, dan pejabat yang lain. Dia mengatakan:
|
Masalah kita yang paling serius akibat adanya laporan Mr. Price adalah laporan itu penuh dengan serangan-serangan dan pernyataan-pernyataan tentang penjabat-pejabat Brasil yang tentunya dapat mengganggu hubungan kita dengan negara dan pejabat-pejabat yang bersangkutan. Berikut ini adalah beberapa contoh di antaranya... |
Lerdau kemudian mulai mengutip laporan Price:
|
"...Saya mendapat kabar, selama rezim Medici, [seorang pejabat tinggi FUNAI, sebuah badan pemerintah Brasil yang mengurusi suku Indian] mempunyai Burnier Squadron, sebuah pasukan khusus, yang bereputasi membersihkan mereka yang dituduh komunis dengan membuangnya ke laut. Seorang anggota pasukan itu yang tertangkap mengaku bahwa dirinya memang seorang penyiksa. "Jika kesejahteraan mereka (orang Indian) dipercayakan sepenuhnya kepada FUNAI seperti sekarang ini, itu sama saja dengan suatu tindakan kriminal." |
Dalam memo yang sama, Lerdau memperingatkan:
|
Kampanye permusuhan terhadap Brasil dan Bank Dunia yang didalangi oleh Price sepenuhnya tidak memberikan kepastian bagi kita... Price mengingatkan kita pada sebuah resolusi kritis terhadap Brasil dan Bank Dunia yang diajukan pada pertemuan Asosiasi Antropolog Amerika pada tanggal 5 Desember 1980. Pada pertemuan itu, Price mengatakan setuju dengan resolusi itu. Kita sebaiknya siap menghadapi pernyataan berikutnya yang sangat merugikan dari Price dan para antropolog pengkutnya... Skillings telah diminta untuk memperingatkan secara terbuka penguasa Brasil agar menentang segala aktivitas Price.64 |
Sementara itu, Lee, dengan sia-sia menulis sejumlah memo mengenai arsip-arsip tersebut. Sebuah memo bertanggal 19 Desember 1980 yang mencatat percakapan telepon mengenai nasib suku Indian dengan Skillings, orang yang sukses menghantam proyek itu di samping keberatan-keberatan Lee.
|
Mr. Skillings mengindikasikan bahwa dia berharap FUNAI memahami dengan lebih baik kebutuhan dan adat istiadat masyarakat adat di areal yang akan terkena dampak proyek yang diusulkan itu, dan melakukan tindakan-tindakan yang responsif terhadap lembaga-lembaga adat. Dia kemudian menyatakan bahwa Bank Dunia lebih dari lembaga pembangunan ekonomi lainnya dan seharunya tidak akan menyetujui atau "mengambil" suatu alasan yang belum pasti. Dia menyebut obat-obatan, kejahatan kota, dan sebagainya, sebagai penyebab yang juga pantas mendapatkan perhatian Bank Dunia.65 |
Menjelang tahun 1981, peringatan-peringatan dari staf pertanian dan lingkungan Bank Dunia menjadi lebih penting. Namun peringatan-peringatan itu diabaikan. Sebuah contoh dari peringatan yang diabaikan dapat ditemukan pada memorandum tertanggal 9 Juni 1981 yang dikirim oleh Lee kepada Wakil Presiden Bank Dunia, Warren C. Baum, melalui atasannya, Rajagopalan. Memo itu memperingatkan sekali lagi risiko-risiko berbagai proyek, dan menyebutkan laporan konsultan lain yang "semakin meragukan kemampuan proyek tersebut untuk memenuhi harapan baik pemerintah maupun Bank Dunia." Lee menyatakan bahwa setidak-tidaknya Bank Dunia akan memaksakan syarat-syarat pinjaman yang lebih keras yang dimaksudkan untuk melindungi suku-suku Indian dan lingkungan.66 Lee hanya bisa berteriak karena tidak memiliki kekuasaan. Hanya komitmen atasannya -- Baum atau Rajagopalan -- yang dapat menentukan kebijakan.
Memo itu dikembalikan lagi kepada Lee hari itu juga, dengan sebuah coretan tangan oleh Rajagopalan: "Tuan Baum tidak menginginkan hal tersebut didiskusikan pada tingkat wakil presiden -- dia percaya bahwa Anda dapat mengatasi masalah tersebut secara langsung di tingkat pelaksana."67
Pada tanggal 21 Juli 1981, ahli pertanian Bank Dunia J.C. Collins menerima memo yang lain, kali ini dari W.B. Peters, yang juga mengomentari penilaian Bank Dunia tentang daya dukung tanah di wilayah Polonoroeste. "Data uji tentang kandungan tanah di areal tersebut menyatakan bahwa lapisan bawah tanah tersebut tidak mengandung sesuatu pun.... Menurut saya, penyelidikan lahan tersebut sekarang ini belum memadai untuk membenarkan pelaksanaan program ini."68
Bukan hanya tidak melihat memo-memo tersebut, bahkan manajemen Bank Dunia menghalangi Dewan Direktur Eksekutif Bank Dunia untuk mengakses memo-memo tersebut. Kekritisan Lee, Collins, Pickering dan lain-lain (bukan hanya David Price) dihilangkan atau dikurangi untuk menyamarkan hal yang sebenarnya dari "risiko yang dapat terjadi" dalam dokumen penilaian.
Jadi, pada tanggal 1 Desember 1981, Dewan Eksekutif Bank Dunia dengan suara bulat menyetujui tiga pinjaman untuk proyek Polonoroeste yang pertama senilai 320 juta dolar AS. Kenyataannya, bagi direktur eksekutif dan presiden Bank Dunia, Polonoroeste adalah sebuah proyek model, salah satu yang terbaik saat ini. Dewan eksekutif menggambarkan antusiame mereka:
|
Beberapa direktur eksekutif memberi ucapan selamat kepada staf Bank Dunia dan pemerintah Brasil atas konsep dan rancang bangun proyek tersebut. Juga pembicara (direktur eksekutif) dan Ketua (presiden Bank Dunia) mengomentari kegemilangan presentasi proyek-proyek tersebut kepada Dewan... Sebagian besar pembicara (para direktur eksekutif) yang mendukung proyek tersebut menunjukkan bahwa proyek tersebut telah menerapkan suatu pendekatan komprehensif terhadap pembangunan dengan memadukan pertimbangan lingkungan di dalamnya. Proyek tersebut juga memperhitungkan keseimbangan antara infrastruktur, pertanian, kesehatan, dan bahkan ekologi serta kesejahteraan suku Amerindian.69 |
Bank Dunia menyetujui lebih dari 200 juta dolar AS pada pinjaman selanjutnya bagi proyek Polonoroeste di tahun 1982 dan 1983. Pinjaman tahun 1983 mendukung pembukaan lahan pertanian baru walaupun terdapat bukti yang pasti bahwa proyek itu mengakibatkan bencana lingkungan dan kerugian secara ekonomi.
Collins dan Lee terus melakukan protes, meski sia-sia. Sebuah memo tertanggal 29 Juli 1983 dikirim dari Collins untuk Shahid Husain, wakil presiden senior bidang kebijakan dan penelitian dan orang ketiga dalam hierarki Bank Dunia. Keduanya memperingatkan Husain bahwa pinjaman Polonoroeste Tahap III bagi pembukaan lahan pertanian baru yang segera dipresentasikan kepada dewan eksekutif juga tampaknya akan membawa bencana. Memo itu mengungkapkan "keraguan-keraguan... apakah proyek Tahap III yang sedang diusulkan itu akan lebih sukses dalam mendukung pola pertanian yang berwawasan lingkungan berkelanjutan dan meningkatkan pendapatan dibandingkan dengan pinjaman-pinjaman sebelumnya?"70 Lee mengirim memo yang sama kepada Rajagopalan pada tanggal 5 Agustus 1983.71
Pada kenyataannya, seiring pinjaman baru dipersiapkan, Bank Dunia mengirimkan telegram-telegram penting kepada kabinet Brasil pada bulan Maret 1983, yang isinya memprotes bahwa "Penetapan cagar-cagar alam Indian-Amerika hanya mengalami sedikit kemajuan, terutama di wilayah Nambiquara tersebut"-- wilayah yang sangat diperhatikan David Price.72
Pada tanggal 27 Oktober 1983, sebuah siaran pers Bank Dunia mengumumkan persetujuan pinjaman Polonoroeste Tahap III sebesar 65,2 juta dolar AS. Karena Bank Dunia menggunakan pengaruh keuangannya pada pemerintah Brasil untuk menghentikan ancaman yang semakin besar terhadap lingkungan dan suku Indian, pernyataan berikut berbicara tentang persoalan tersebut:
|
Sebagai bagian Program Aksi Khusus Bank Dunia, maka pada dua tahun fiskal pertama pencairan dana pinjaman untuk implementasi proyek akan dipercepat. Program Aksi Khusus diusulkan oleh Bank Dunia pada bulan Febuari 1983, untuk membantu negara-negara berkembang mempertahankan semangat ekonominya dalam menghadapi krisis ekonomi internasional yang sedang berlangsung.73 |
"Menghijaukan" Bank Dunia?
Segala sesuatu harus berganti, dan itu tengah berlangsung pada Bank Dunia. Pada bulan Juli 1986, A.W. Clausen digantikan oleh Barber Conable sebagai presiden Bank Dunia. Conable, anggota Kongres dari Partai Republik yang berasal dari New York bagian timur, telah bekerja di House Ways and Means Committee selama 20 tahun lebih dan telah memperoleh penghargaan universal atas integritas dan kesungguhannya. James Baker, menteri keuangan selama pemerintahan Reagen yang kedua, memilih Conable dengan harapan dia akan lebih sukses dibandingkan para pendahulunya dalam membujuk Kongres untuk memberikan kontribusi keuangan Amerika Serikat kepada Bank Dunia. Tidak diragukan, lingkungan telah menjadi masalah hubungan masyarakat yang paling pelik. Para anggota Partai Republik seperti Senator Kasten dan James Conrow, ketua Kantor Bank-bank Pembangunan Multilateral di Departemen Keuangan, mulai bersuara seperti agitator jalanan yang radikal bila sedang mempersoalkan suatu masalah. "Ketika orang sudah tahu apa yang sedang terjadi," ungkap Kasten di tahun 1986, "Anda akan lihat, orang-orang akan turun ke jalan dan mengatakan ‘Astaga, tidakkah kau baca informasi ini. Mengapa dolar-dolar kita digunakan untuk mendanai perusakan seperti itu?" Tidak bermaksud membantah, pada waktu yang kira-kira sama, Conrow mengatakan kepada Nicholas Claxton mengomentari kegagalan Bank Dunia dalam berkonsultasi dengan orang-orang yang terkena proyek-proyeknya, "Saya kira itu merupakan bencana, itu suatu kesalahan, dan itu terus berlangsung selama bertahun-tahun."74
Conable tidak merasa terikat dengan kesalahan-kesalahan Bank Dunia di masa lalu. Dia memang lebih bersimpati kepada masalah lingkungan daripada Clausen. Begitu pula masalah-masalah seperti KB dan peranan wanita dalam pembangunan. Dia bertemu dengan pencinta-pencinta lingkungan yang berbasis di Washington pada musim dingin 1986 dan mengatakan kepada mereka bahwa dia sedang merencanakan reformasi lingkungan di Bank Dunia yang lebih berjangka panjang. Tidak ada yang membantah maksud baik Conable, namun pada saat dia tampak kikuk, pada awal pertemuan dengan aktivis lingkungan itu, dia menceritakan tentang segala sesuatu yang dapat dan tidak dapat dilakukan oleh manajemen senior Bank Dunia. Demikian pula, pada saat dia menggambarkan tentang orang-orang yang menjalankan lembaga keuangan yang dipimpinnya.
Pada tanggal 5 Mei 1987, di ruang sidang Hotel Sheraton-Carleton, yang terletak di pusat kota Washington, Conable membeberkan serangkaian masalah yang akan diselesaikan melalui kebijakan reformasi lingkungan. Pertemuan itu dihadiri banyak kalangan aktivis lingkungan, pejabat-pejabat Departemen Keuangan, dan Senator Kasten. Pertemuan itu direkam oleh Adrian Cowell. Dalam pertemuan itu, Conable mengungkapkan, "Pada saat ini, Bank Dunia telah menjadi bagian dari problem-problem yang tercipta di masa lalu", yang menyangkut soal lingkungan, problem-problem yang bertentangan dengan pernyataan yang diucapkan Robert McNamara, A.W. Clausen, dan para pejabat Bank Dunia serta orang-orang yang duduk di bagian hubungan masyarakat selama 15 tahun lalu. Untuk kasus Polonoroeste, menurut Conable, "Bank Dunia telah keliru membaca kondisi manusia, kelembagaan, dan realitas-realitas fisik yang lain."75
Tidak seperti presiden-presiden Bank Dunia yang lain, Conable menggariskan sebuah rencana aksi lingkungan yang kongkrit, yang bukan semata pernyataan retorik. Pertama, Bank Dunia memperbanyak jumlah staf lingkungannya untuk ditempatkan di Departemen Lingkungan yang baru, dan membentuk empat unit lingkungan yang akan mengawasi setiap proyek yang diusulkan Bank Dunia untuk empat kawasan operasi, yaitu Asia, Afrika, Amerika Latin dan Karibia, serta Eropa dan Timur Tengah. Jumlah total jabatan staf lingkungan akan mencapai sekitar 100 -- itu berarti, jumlahnya telah meningkat 16 kali lipat. Bank Dunia juga akan menerbitkan serangkaian kertas kerja dan rencana aksi lingkungan yang bertujuan memantau dan menyelesaikan masalah-masalah lingkungan di negara-negara berkembang yang paling rawan terhadap masalah tersebut. Conable juga menyetujui agar Bank Dunia mendanai pelbagai program lingkungan baru. Dan yang paling penting, Bank Dunia juga akan mendanai program untuk mengurangi perusakan hutan akibat meningkatnya kucuran pinjaman untuk sektor kehutanan. Yang terakhir, Conable mengajak berbagai kelompok swadaya masyarakat, baik di negara pemberi pinjaman maupun negara peminjam, untuk terlibat secara aktif dalam setiap operasi Bank Dunia.76
Di satu sisi, reformasi lingkungan Conable mencerminkan sebagian besar pokok persoalan yang menjadi pusat perhatian aktivis lingkungan. Dan pokok persoalan yang mengedepan di dalam reformasi lingkungan Conable ternyata selaras dengan rancangan peraturan yang disusun oleh anggota Kongres Obey dan Senator Kasten. Dan memang banyak pihak optimis dengan program reformasi lingkungan itu. Ketua World resources Institute (WRI), sebuah think tank lingkungan yang setiap tahun mengadakan acara makan malam di mana Conable memberikan pidatonya, menyatakan, "sebuah perjanjian telah dibuat dan menjadi lembaran baru dalam perjalanan Bank Dunia."77
Namun pidato kedua Conable terasa kurang meyakinkan. Memang benar, Conable telah mengakui bahwa Bank Dunia melakukan kekeliruan dalam pelaksanaan proyek Polonoroeste, namun menurut Conable, "Proyek tersebut pada awalnya merupakan upaya yang secara lingkungan cukup baik."78
Lalu, sebuah visi yang mengingatkan pada suatu kebanggaan kosong di masa lalu pun diungkapkan: "Sudah menjadi kebenaran mendasar bahwa pembangunan tidak bisa dihentikan, hanya bisa diarahkan. Dan Bank Dunia tidak dapat mempengaruhi kemajuan-kemajuan dari pinggiran. Lembaga itu harus ikut bertindak. Bersama-sama dengan negara berkembang, kita harus belajar sambil mengerjakannya."79
*****
Catatan:
|
![]()