10

APA YANG MESTI DILAKUKAN UNTUK BUMI?

Kita tahu bahwa saat ini, situasi, perilaku sosial, dan masalah-masalah sosial terlalu rumit untuk menerima suatu "jawaban benar" yang sederhana. Jika dapat terpecahkan juga, ada beberapa penyelesaian -- dan tidak satupun sungguh-sungguh benar.… Hingga kita menemukan diri kita di penghujung dua abad sejarah Barat.1

-- Peter Drucker

Sebenarnya di mana-mana di dunia, kantong-kantong perlawanan terhadap kelakuan buruk modernitas sedang tumbuh.2

-- Jean Chesneaux 

Tahun 1994 merupakan peringatan ke-50 Konferensi Bretton Woods. Cita-cita Konferensi Bretton Woods terutama adalah kebebasan dan kedamaian yang meliputi seluruh dunia. Dan Bank Dunia didirikan sebagai alat untuk mencapai tujuan tersebut. Akan tetapi, selama hampir setengah abad, Bank Dunia sering menjadi kaki tangan utama dalam perang dingin melawan keragaman budaya dan keragaman hayati di planet kita, pendukung sosial dan biologis masa depan umat manusia. Peperangan itu bukanlah perang yang disengaja, paling tidak selama dasawarsa-dasawarsa pertama. Dan penting untuk menekankan kata-kata "kaki tangan", karena Bank Dunia seringkali bersikap setengah hati dalam melakukan perangnya sebagai alat modernisasi, terlebih-lebih hanya menjadi pembantu bagi megalomania modernisasi ribuan birokrasi pemerintah yang pada awalnya bertujuan baik. Akan tetapi Bank Dunia kian menjadi agen itu sendiri, dengan membentuk birokrasi-birokrasi baru dan menetapkan lebih banyak lagi agenda.

Beberapa orang mungkin bertanya mengapa sebuah lembaga seperti Bank Dunia, yang didorong oleh tujuan-tujuan mulia seperti itu, dapat menjadi begitu korup secara intelektual dan rendah nilainya secara kelembagaan. Akan tetapi dengan adanya dasar pemikiran didirikannya Bank Dunia, hal itu tidak dihindarkan. Sejak abad ke-17, proyek pembangunan merupakan salah satu bentuk penaklukan terhadap alam dan manusia yang belum pernah ada sebelumnya. Pemusatan kekuasaan seperti itu mengakibatkan malapetaka. Ketika melihat keruntuhan pemerintahan totaliter abad ke-20, kita menyadari bahwa pemerintahan semacam itu cenderung menimbulkan kesengsaraan umat manusia. Akibatnya, kita sulit percaya kepada sistem yang menempatkan nasib ratusan juta manusia di tangan segelintir orang yang tidak bertanggung jawab dan mengklaim bahwa segala keputusan yang mereka lakukan, ditentukan berdasarkan sistem pemikiran yang objektif. Sistem itu adalah ideologi. Pembangunan, juga, merupakan suatu ideologi: ideologi modern. Kita harus berhenti mencari penyelesaian-penyelesaian objektif terhadap krisis objektivitas. Jika kita menganggap politik telah dibuang dari lembaga-lembaga yang memiliki kekuasaan besar untuk mempengaruhi nasib manusia, politik akhirnya menjadi kamuflase, korup, dan tidak dapat dipertanggung-jawabkan.

Pada tubuh Bank Dunia kita melihat mimpi modernitas yang tenggelam, kegagalan sebuah lembaga universal yang akan berusaha memperkirakan, merangsang, dan melaksanakan pembangunan global. Kekacauan Bank Dunia mungkin hanyalah salah satu tanda diantara tanda-tanda lain dari senjakala era modern: keruntuhan atau melemahnya negara-negara multibangsa seperti Uni Soviet, Yugoslavia, India, dan Kanada; tumbuhnya semangat kesukuan dan kedaerahan, beberapa di antaranya dikhawatirkan atavistik; meningkatnya daya tarik fundamentalisme religius tidak hanya di dunia muslim -- di mana sebagian besar janji pembangunan sama sekali gagal diwujudkan -- tetapi juga di negara-negara industri.

Di beberapa negara tumbuh ketidakpercayaan terhadap kekuasaan lembaga-lembaga multilateral, yang sering dipandang sebagai kemunduran sejarah dalam hal pertanggungjawaban dan transparansi politik, serta nilai-nilai yang ada dalam prosedur demokratis. Itu berarti, kemunduran dari segala yang diperjuangkan dengan susah payah di Barat selama ratusan tahun. Usaha-usaha para birokrat Masyarakat Eropa untuk meneruskan peralihan kekuatan-kekuatan demokratis ke dalam birokrasi yang terpusat di Brussel mendapatkan perlawanan di seluruh benua tersebut.

Para pengamat menyebut fenomena sosial dan politik yang bertentangan itu sebagai pertanda "postmodernitas", sebagai konsekuensi dari puncak modernitas pasar global dan budaya komunikasi yang secara berlawanan melepaskan kekuatan-kekuatan pluralistik dan gerakan-gerakan dari intensitas yang tidak terduga-duga.3 Persepsi yang tumbuh bahwa sistem ekonomi lokal dan ekologi global ataupun lokal tidak dapat diperkirakan dari sudut negara, menunjukkan bahwa dunia tidak dapat dikelola melalui proyek-proyek administrasi dan pengawasan terpusat yang konvensional. Peter Drucker menyebut kenyataan itu "tidak ada lagi keselamatan melalui masyarakat",4 dan David Korten menyebutnya "akhir dari negara dominan".5

Dunia postmodern tampaknya menjadi fenomena ke saling-ketergantungan global yang merambah ke mana-mana, di bawah pengaruh perubahan yang tanpa disengaja. Kita dihadapkan pada akhir dari narasi besar universal (pembangunan internasional gaya Bank Dunia adalah salah satu yang terbesar), dengan ketidakmutlakan ilmu pengetahuan, dan dengan kematian masyarakat tertutup, yang semuanya bermula dari Descartes dan Bacon. Seperti dikatakan Drucker dan para peneliti yang lain, tidak ada kebenaran tunggal untuk menjawab masalah sosial tertentu. Akan tetapi sering kali ada beberapa jawaban, masing-masing berguna untuk situasi tertentu. Sebagai pengganti proyek modern yang universal, kita menghadapi kemajemukan postmodernitas yang tidak dapat dimungkiri lagi dan agak mengancam karena tidak dapat dikontrol.6

Bahaya dan krisis politik masyarakat modern yang bertumpu pada teknologi kini bersifat global. Bahaya itu terlihat pada penciptaan teknologi mandiri yang tidak terkendali, dan pada usaha-usaha yang menjadikan bumi sebagai arena berbagai eksperimen. Kecenderungan itu tidak mengarah pada terciptanya keadilan ekonomi dan keadilan sosial, tetapi malah meningkatkan ketidakstabilan ekologi, kekacauan, dan kekerasan. Namun, yang paling utama, krisis politik tersebut adalah soal tidak adanya tanggung jawab, kepekaan, dan keterbukaan pada lembaga-lembaga negara ataupun swasta, yang menjadi pengelola teknologi yang mengingkari eksistensi manusia dan alam. Semakin keras usaha lembaga-lembaga itu untuk memetakan masa depan dunia, mengatur gerak dan mengendalikannya, justru kekacauan dan kekerasan kian meningkat.

Ketika sistem negara-bangsa dan sistem internasional gagal, seperti kita lihat, kita pun dibenturkan pada kenyataan untuk ikut memikirkan persoalan Somalia, Bosnia, Haiti, atau Kashmir. Kita akan melihat lebih banyak lagi masalah jika tidak dapat merumuskan kembali arah dan haluan lembaga-lembaga internasional dan nasional serta menemukan alternatif lain untuk menghadapi tantangan ekonomi, politik, dan lingkungan yang merupakan persoalan bersama pada era postmodern.

Persoalan lingkungan global merupakan dilema-dilema postmodern, tetapi mungkin juga menunjuk pada persoalan-persoalan yang lebih mengancam. Itu merupakan teka-teki yang tidak dapat dijawab oleh lembaga-lembaga internasional. Ancaman-ancaman itu semakin mendunia, bertumpuk, dan menyeluruh. Akan tetapi di mana pun di atas planet ini, penyelesaiannya harus berlangsung pada tingkat lokal. Memang teori bahwa pertumbuhan ekonomi harus dibatasi dan perlunya disusun sistem ekonomi yang stabil tidak sepenuhnya salah. Namun, untuk menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut, perilaku sosial dan perilaku ekonomi sebagian besar penduduk dunia harus diubah secara radikal.

Apa yang harus dilakukan untuk bumi?

Masyarakat Sipil Global

Selama bertahun-tahun, walaupun berada jauh diluar hutan, ternyata kita mendapati diri kita dikepung gergaji-gergaji mesin milik pembabat hutan dan pohon-pohon yang bertumbangan. Kenyataan itu telah mengubah pandangan hidup kita. Sekarang kita mendapati kenyataan yang sama di sini, di kota ini, pada dengar pendapat ini, dengan hukum berpihak pada kita?7

-- Julio Barbosa, 1990

Karena itulah, Aliansi Iklim Kota-kota Eropa dan rakyat Amazon akan mengupayakan kontak-kontak langsung antara penguasa lokal di Eropa dan di wilayah Amazon… Mereka (penghuni hutan hujan Amazon) pantas khawatir kalau proyek-proyek perlindungan lingkungan yang perencanaannya terpusat dan berskala besar akan mengabaikan mereka dan tidak mempedulikan persyaratan yang mereka ajukan. Pengalaman menunjukkan bahwa program pengembangan permukiman atau cagar alam biasanya hanya akan merampas otonomi mereka, sementara perusakan hutan berlangsung tanpa henti. Aliansi Iklim ingin menciptakan hubungan kerja sama dengan mitra yang menghargai bentuk-bentuk ilmu pengetahuan dan cara-cara pembelajaran yang lain, misalnya eksistensi sosial.8

-- Aliansi Iklim Kota-kota Eropa, kertas kerja, 1990

Marilah sekali lagi kita mencermati KTT Bumi di Rio de Janeiro. Dari semua yang mengecewakan dan kemunafikannya, ada fakta yang sangat mencolok. KTT itu berlangsung karena negara-negara dan organisasi-organisasi internasional dipaksa untuk menanggapi -- walaupun janggal dan tidak berguna -- tekanan-tekanan masyarakat sipil di seluruh dunia. KTT itu akan segera terlupakan, mungkin jauh lebih cepat daripada perkiraan para kepala negara yang hadir. Sementara itu, arus sosial dan politik dunia yang semakin kuat dan tidak terhindarkan terus berlangsung. Arus sosial dan politik ini, serta gerakan-gerakan swadaya masyarakat yang dilahirkannya, menjadi penekan untuk melakukan peremajaan kembali lembaga-lembaga nasional dan internasional, juga penciptaan struktur kelembagaan internasional yang baru. Dan, kata-kata lelaki Indian pada debat terakhir di Hotel Gloria itu benar: bagaimanapun juga, rakyatlah yang membawa pemerintah dan para pemimpin dunia ke Rio.

Kita telah melihat pada dasawarsa lalu dan tahun-tahun sebelumnya, di seluruh dunia dan khususnya negara-negara berkembang, penduduk asli yang sudah lama terpinggirkan dari narasi besar sejarah modern sedang berjuang untuk mempertahankan keseimbangan ekologi dan melawan perusakan sumber-sumber kehidupan mereka. Di negara-negara berkembang terdapat ratusan bahkan ribuan LSM dengan keseluruhan anggota lebih dari 100 juta orang.9 Pada buku ini kami hanya menyebutkan kegiatan-kegiatan beberapa LSM di negara-negara berkembang antara lain Thailand, Brasil, Indonesia, dan India. Di negara yang tidak kami teliti, yaitu Filipina, lebih dari lima juta orang menjadi anggota sekitar 16.000 LSM, mungkin 4.000 LSM di antaranya yang memfokuskan perhatian pada masalah-masalah pembangunan dan lingkungan.10 Beberapa LSM di negara berkembang ini kemudian menjadi anggota koalisi-koalisi nasional yang lebih luas, dan koalisi-koalisi itu menjadi kian vokal dan efektif. Aktivis lingkungan, keadilan sosial, dan hak-hak asasi manusia di seluruh dunia sudah merintis jaringan kerja yang intens, fleksibel, dan kaya informasi, serta membangun sistem organisasi yang memiliki dinamika evolusioner.

Gerakan-gerakan akar rumput ini, dengan segala keterbatasannya, muncul sebagai penjaga budaya dan politik dari bahaya teknologi dan birokrasi yang tidak dapat dipertanggunjawabkan. Gerakan-gerakan itu menjelma menjadi kekuatan penyelamat pada saat ada bahaya besar – sebagai wujud tanggung jawab terhadap bumi, yang berakar pada keprihatinan lokal. Kapasitas politik yang konkret untuk menghubungkan lokal dengan global itu merupakan landasan dari masyarakat sipil global yang sedang tumbuh dan berkembang. Itu merupakan fenomena baru dalam sejarah.

Mari kita lihat beberapa contoh lagi untuk mengidentifikasi ciri-ciri lain masyarakat sipil global. Pertama, pada tingkat lokal, fenomena ini tidaklah sebaru dengan yang mungkin tampak. Beberapa gerakan sosial di negara-negara berkembang berwujud dalam bentuk protes rakyat terhadap ketidakadilan dan eksploitasi yang sebenarnya berakar dari tradisi lama. Gerakan Chipko di India dimulai pada tahun 1973 dengan keterlibatan kaum perempuan desa di pegunungan Himalaya untuk melindungi hutan lokal dari jarahan perusahaan penebang kayu yang telah diberi izin untuk membabat hutan oleh departemen kehutanan.a) Meskipun umumnya dikira sebagai suatu gerakan lingkungan, atau sebagai gerakan feminis, sebenarnya Chipko adalah kelanjutan dari pemberontakan dan gerakan petani India selama lebih dari satu abad menentang penguasaan dan penebangan kayu di hutan-hutan rakyat oleh departemen kehutanan, pertama terjadi pada masa penjajahan Inggris, kemudian setelah tahun 1947 saat India merdeka.11 Memang, beberapa penulis berpendapat bahwa asal mula Chipko yang populer dapat ditelusuri dari sebuah aksi protes yang terkenal pada tahun 1763 di Rajasthan, ketika anggota-anggota sebuah sekte Hindu mengorbankan jiwa untuk mencegah penebangan pohon yang diperintahkan oleh Maharaja Jodhpur.12

Chipko dan gerakan penyadap karet di Brasil paling terkenal di antara banyak kisah perlawanan penduduk di sekitar hutan lokal yang berorganisasi untuk melindungi sumber daya alam. Di hutan-hutan pinus Honduras, lebih dari 6.000 keluarga menggantungkan hidup pada penyadapan damar. Pada awal tahun 1970-an, penduduk desa melakukan blokade penebangan kayu dan membentuk koperasi-koperasi untuk memperoleh konsesi hutan atas penyadapan damar guna melindungi pohon-pohon pinus yang menjadi sumber penghidupan mereka. Kini, penduduk desa meronda hutan dan menghalangi jalan masuk bagi penebang kayu dan pelanggar batas pertanian. Dalam dua kesempatan mereka menemui kepala departemen kehutanan untuk menuntut agar penebangan kayu dan pelanggaran batas pertanian dihentikan. Ironisnya, ancaman terbesar terhadap hutan pinus Honduras saat ini mungkin adalah proposal proyek untuk mengalihkan hutan pada perusahaan-perusahaan penebang kayu, dengan alasan sumber-sumber milik umum tidak dapat dilindungi.13

Cerita yang sama terjadi di pegunungan Sierra de Juarez yang berhutan lebat, di Meksiko Selatan, pada tahun 1980, ketika 13 komunitas membentuk organisasi untuk menjaga sumber-sumber alam dan pembangunan sosial Sierra de Juarez.b) Pada tahun 1981, mereka mengadakan pertemuan tingkat nasional organisasi-organisasi komunitas hutan yang pertama kali di Meksiko. Setelah mengadakan perlawanan yang sengit, komunitas-komunitas itu memenangi perjuangan lewat jalur hukum pada tahun 1982, dan mendapatkan hak mereka atas pengawasan wilayah hutan yang berdekatan dengan pegunungan tempat mereka tinggal.14 Sementara itu, di belahan lain dunia tepatnya di bagian selatan Pulau Mindanao yang besar di Filipina, gerakan akar-rumput juga tumbuh pada akhir tahun 1980-an. Perjuangan tersebut berupa blokade penebangan kayu oleh penduduk desa setempat yang kemudian berkembang menjadi protes-protes pada tingkat regional dan nasional. Perlawanan sengit mereka akhirnya memaksa pemerintah menyetujui pelarangan penebangan hutan di seluruh Mindanao, Provinsi Bukidnon. 15

Ciri khas utama gerakan-gerakan itu adalah berusaha memperoleh kembali pengelolaan dan pengawasan oleh masyarakat setempat terhadap sumber-sumber umum yang terancam oleh eksploitasi yang tidak berwawasan lingkungan. Banyak literatur memperlihatkan sebagian perencana dan ahli ekonomi pembangunan bersepakat bahwa pemberdayaan hak-hak milik swasta merupakan satu-satunya cara untuk melindungi "sumber daya milik umum" seperti hutan dan sumber air.16 Tanpa kepemilikan swasta, menurut tesis tersebut, sumber-sumber milik umum hanya akan diporakporandakan atas dasar kebiasaan "yang datang pertamalah yang dilayani lebih dulu", karena tidak seorang pun memiliki kepentingan jangka panjang untuk melestarikan sumber daya alam yang bukan miliknya. Akan tetapi, kenyataan sosial dan ekonomi di beberapa negara yang lebih miskin justru sering terjadi sebaliknya. Kepemilikan swasta dan atau pengelolaan sumber daya alam oleh pemerintah sering kali mengakibatkan eksploitasi berlebihan, sementara beberapa komunitas lokal telah mengembangkan sistem pengelolaan berwawasan lingkungan terhadap alam tempat menggantungkan hidup, bahkan sekalipun mereka tidak lagi memilikinya secara legal.c)

Memang, wilayah pertanahan nasional yang dikelola oleh pemerintah di beberapa negara berkembang ternyata proporsinya tinggi. Di India, hampir sepertiga tanah dimiliki oleh pemerintah, 22 persen di antaranya oleh departemen kehutanan. Sementara itu, di Thailand, 7.000 pegawai departemen kehutanan berusaha mengelola 40 persen tanah, yang didiami jutaan petani yang di muka hukum adalah penghuni liar. Sedangkan di Filipina, 55 persen wilayah pertanahan dikuasai oleh departemen kehutanan, yang telah didiami 18 juta orang. Dan di Indonesia, 74 persen tanah, yang didiami antara 39 dan 40 juta orang, termasuk dalam penguasaan departemen kehutanan.

Beberapa gerakan lingkungan berbasis lokal di negara-negara berkembang pada dasarnya adalah gerakan untuk mengembalikan penguasaan atas tanah oleh negara kepada masyarakat. Banyak sistem ilmu pengetahuan dan pengelolaan lingkungan yang berbasis komunitas menjadi sebuah proses perubahan serempak antara ekosistem lokal tertentu dan kebudayaan manusia yang beragam. Beberapa peneliti berpendapat, sejak pertama masyarakat menjadi subsistem dari ekosistem sampai dengan saat ini, masyarakat di seluruh dunia telah memiliki kemampuan mengorganisasi diri yang koheren untuk mengelola ekosistem lokal dengan cara yang berwawasan lingkungan, untuk mengembalikan hak milik bersama yang telah dikuasai oleh negara:

Contoh-contoh itu termasuk penguasaan tanah komunal di padang-padang rumput dan hutan-hutan di Torbel, Swiss; pengelolaan tanah milik bersama di Hirano dan desa-desa di Jepang; sistem irigasi huerta di Valencia dan tempat-tempat lain di Spanyol.

Pola-pola kepemilikan bersama ini ditemukan pada semua jenis sumber alam, banyak di antara pola-pola itu bersifat nontradisional, meliputi jarak wilayah dan budaya yang luas di seluruh dunia. Lembaga-lembaga khusus dapat berdiri dalam waktu kurang dari sepuluh tahun, dan mungkin bertahan hingga berabad-abad (tetapi terus-menerus bangkit).17

Contoh-contoh tersebut menggambarkan konsep yang kritis: masyarakat dan perekonomian manusia yang dikelola secara lokal -- walaupun melekat pada sistem sosial dan ekologis yang lebih besar -- dapat dianggap sebagai sistem adaptif yang rumit dalam kebenaran mereka sendiri, dengan membangkitkan dan menciptakan syarat-syarat sendiri, di dalam lingkungan mereka berupa tatanan, feedback, dan adaptasi.d) Lagi pula kemampuan mengorganisasi diri yang secara luas menyebar pada masyarakat (yang saling berhubungan mulai dari tingkat lokal, regional, nasional, sampai internasional) mengimplikasikan kemungkinan adanya satu tatanan global alternatif -- atau beberapa tatanan -- terhadap tatanan yang didasarkan secara eksklusif pada berbagai negara-bangsa, organisasi-organisasi multilateral seperti Bank Dunia, dan perusahaan-perusahaan transnasional, yang dikelola secara tersentralisasi.

Internasionalisasi konflik-konflik ekologi dan sosial di Brasil selama tahun 1980-an adalah kasus bagus yang tepat untuk melihat hubungan antara masyarakat sipil nasional yang sedang bangkit dan negara. Kasus ini mungkin juga menggambarkan sifat-sifat yang muncul dari masyarakat sipil global yang baru lahir. Sebagaimana gerakan Chipko, protes-protes para penyadap karet dan suku Indian memiliki akar historis yang dalam. Perlawanan para penyadap karet sudah muncul selama hampir satu abad, dan perlawanan suku Indian sudah timbul sejak permulaan zaman modern, yang bagi suku asli atau masyarakat adat dimulai dengan mimpi buruk penguasaan lahan, perampasan hak milik, dan pembunuhan yang terus berlanjut. Bagi ahli antropologi Brasil, Eduardo Viveiros de Castro, kemunculan tidak terduga gerakan lingkungan lokal, nasional, dan internasional tidak hanya mengubah politik di Amazon, tetapi juga keseluruhan alam dan ruang kebijakan sosial dan ekonomi internasional.

Pada tahun 1980-an LSM-LSM mulai mengartikulasikan kepentingan-kepentingan sosial dan lingkungan lokal di tingkat internasional, dan menjadi "lawan" yang tidak terduga bagi pelaksanaan kepentingan-kepentingan ekonomi transnasional yang tidak terkendali dan intrik geopolitik negara-bangsa. Dengan menentukan konteks baru antara lokal dan global, regional dan tingkat dunia, dengan mempertanyakan penyalahgunaan perwakilan politik pada tingkat nasional dan internasional, kelompok-kelompok ini membentuk tidak lebih dari suatu "antibirokrasi" global.18

Menurut peneliti Amazon yang terkenal, Marianne Schmink, ide mengenai cagar alam, "seperti banyak inisiatif lain yang diajukan oleh para petani, penyadap karet, dan kelompok-kelompok Indian… tidak berasal dari kantor perencanaan, tetapi dari perjuangan selama lebih dari satu dasawarsa dalam lingkungan politik yang sedang berubah."19 Ide mengenai cagar alam itu merupakan pemecahan paling inovatif atas dilema konservasi hutan tropis. Tekanan-tekanan dari LSM-LSM Brasil menyebabkan diterapkannya beberapa ketentuan kritis yang menetapkan hak-hak suku Indian atas tanah mereka dan hak-hak rakyat atas lingkungan yang baik dan sehat di dalam konstitusi yang baru pada tahun 1988. Wartawan masalah lingkungan Brasil yang terkenal, Ricardo Arnt, mengutip sekitar 15 contoh pada tahun 1980-an, menunjukkan tekanan-tekanan yang diorganisasi secara internasional oleh orang-orang Brasil dan LSM-LSM asing tidak hanya mempengaruhi keputusan pemberian pinjaman Bank Dunia dan Bank Pembangunan Inter-Amerika, tetapi juga menyebabkan perubahan-perubahan tertentu dalam kebijakan pemerintah Brasil.20 Perubahan-perubahan itu termasuk prosedur-prosedur penyusunan AMDAL yang memberikan partisipasi dan akses terhadap informasi bagi publik, dan (lebih merupakan berkat atau kutukan) berdirinya sejumlah badan pemerintah yang mengurusi konservasi alam.21 Meluasnya aliansi dan kampanye yang melibatkan organisasi-organisasi penghuni hutan lokal di Amazon, kelompok-kelompok nasional Brasil, dan LSM-LSM luar negeri telah memberdayakan kelompok-kelompok lokal dengan sumber-sumber daya manusia dan kredibilitas politik yang tidak pernah mereka miliki sebelumnya.22

Dengan bersenjatakan laptop, faksimile, dan modem, LSM-LSM di Amazon membentuk jaringan kuat yang responsif dengan kelompok-kelompok nasional di Sao Paulo dan Rio de Jenairo, juga LSM-LSM internasional di Washington, Berlin, dan Tokyo. Mereka tidak hanya telah mempengaruhi -- dan masih terus mempengaruhi -- kebijakan pemerintah Brasil, tetapi juga arus keuangan publik internasional, melalui sejenis "polis" elektronik global.23 Dan jaringan LSM-LSM itu hanyalah salah satu contoh betapa penyebaran teknologi informasi yang kuat telah memberikan sumbangan terhadap pemberdayaan dan jaringan kerja pada organisasi-organisasi akar-rumput di negara-negara berkembang di seluruh dunia.24 Berbagai negara-bangsa dan organisasi internasional kini terkejut: politik dan kebijakan internasional saat ini tidak hanya harus berhadapan dengan negosiasi dan konflik antarpemerintah, tetapi juga antara LSM dan negara.

Prestasi gerakan-gerakan lingkungan dan LSM Brasil selama tahun 1980-an adalah mengembangkan cagar-cagar alam yang baru, mendesak pemerintah untuk membuat undang-undang mengenai AMDAL dan membentuk badan-badan yang mengurusi lingkungan. Prestasi itu tidak mungkin tercapai bila dilaksanakan dalam semangat pengelolaan lingkungan global, yang hanya memperlakukan rakyat dan tempat-tempat sekitarnya sebagai objek bagi pelaksanaan alasan instrumental dan kekuasaan yang terpusat. Efektivitas reformasi pemerintahan dan hukum seperti itu bergantung pada tanggapan pemerintah terhadap kebutuhan masyarakat sipil, dan keterlibatan serta partisipasi penuh masyarakat sipil. Memang, AMDAL dapat menjadi kontraproduktif jika dilaksanakan tanpa konsultasi publik yang nyata dan mempertimbangkan alternatif-alternatif lain. Sebab, AMDAL bisa saja hanya mengesahkan proyek-proyek yang dipertimbangkan dengan buruk dan tidak sehat.

Undang-undang AMDAL Brasil yang relatif baru (tahun 1986) merupakan sebuah kasus yang tepat.25 Undang-undang Brasil tidak hanya meminta AMDAL untuk jenis-jenis proyek tertentu. Undang-undang itu merekomendasikan agar AMDAL ditulis dalam bahasa yang dapat dipahami masyarakat dan mensyaratkan pemeriksaan publik untuk meninjau kembali penelitian tersebut. Selama empat tahun pertama, undang-undang itu diabaikan tidak hanya oleh pemerintah Brasil, tetapi juga oleh Bank Dunia dan Bank Pembangunan Inter-Amerika. Undang-undang ini hanyalah salah satu dari puluhan atau bahkan ribuan undang-undang dan peraturan yang tidak dilaksanakan dan tidak dapat dijalankan, yang dibuat dan diberlakukan, namun cepat dilupakan. Dan itu tidak hanya terjadi pada negara-negara yang sedang berkembang.

Akan tetapi di negara bagian Acre, Brasil, kesadaran dan mobilisasi masyarakat membuat undang-undang itu dapat dilaksanakan, karena mereka memang menuntut agar undang-undang itu dilaksanakan. Pada tanggal 11 Mei 1990, 450 orang berkumpul di Balai Kota Rio Branco, Acre, untuk dengar pendapat mengenai usulan proyek pembukaan hutan untuk kali pertama di Amazon. Sebuah konsorsium pengusaha peternakan meminta lisensi kepada pemerintah negara bagian Acre untuk membuka 14.300 akre hutan tropis untuk perluasan padang rumput. Dewan Nasional Penyadap Karet, dengan bantuan ahli-ahli hukum dan ilmuwan yang bersimpati mempersiapkan bantahan terperinci terhadap AMDAL yang diajukan oleh para pengusaha peternakan itu. Para pengusaha tersebut berpendapat bahwa penebangan hutan dan perluasan padang rumput akan lebih memajukan ekonomi seluruh Acre -- dengan mengimplikasikan bahwa persoalan mendasarnya adalah pertukaran antara "pertumbuhan" dan "perlindungan".26 Dengar pendapat berlangsung selama lebih dari tiga jam. Dan sorak sorai terdengar ketika aktivis Gumercindo Rodriguis menyatakan,

Kami menginkan penundaan pembukaan hutan karena kami tahu bahwa bagi kami penduduk lokal, penggunaan sumber-sumber hutan secara terus-menerus lebih baik daripada pengusahaan ternak. Inilah usulan politis kami bagi seluruh Amazon.27

Beberapa hari kemudian, perwakilan badan lingkungan pemerintah menolak usulan proyek penebangan hutan tersebut.

Empat belas bulan kemudian, sebuah dengar pendapat yang lebih besar, yang dihadiri oleh hampir seribu orang, dilakukan di kota Laranjal do Jari, negara bagian Amapa, di bagian timur laut lembah Sungai Amazon. Negara bagian Amapa bermaksud membangun jalan sepanjang 125 kilometer menembus wilayah hutan yang telah dirancang sebagai cagar alam bagi para penyadap karet. Kota Laranjal do Jari semula hanya dapat dicapai dengan perjalanan menggunakan perahu, dan jalan tersebut akan menghubungkan kota itu dengan ibu kota negara bagian Amapa.

Para penyadap karet tidak menentang rencana pembangunan jalan itu. Akan tetapi mereka berpikir wilayah hutan tempat mereka tingal perlu sekali diberi batas dan dilindungi secara sah sebagai cagar alam sebelum pembangunan jalan itu dimulai. Pengajuan tuntutan atas tanah yang bertentangan dengan kepentingan pengusaha-pengusaha peternakan juga perlu diselesaikan. Setelah dengar pendapat tersebut, gubernur negara bagian membentuk sebuah komisi khusus yang melibatkan komunitas-komunitas lokal dan LSM-LSM untuk memberi batas empat cagar alam. Negara bagian Amapa menghentikan penambangan emas ilegal, yang menyebabkan polusi merkuri, di wilayah-wilayah yang diberi batas. Selain itu, juga menyatakan setuju untuk mendukung pabrik pengolahan kacang Brasil yang dijalankan oleh para penyadap karet. Kacang Brasil adalah salah satu produk ekspor yang paling berharga dari hutan hujan negara itu.28

Kedua kasus tersebut merupakan contoh keberhasilan kelompok-kelompok terorganisasi yang memperoleh kembali penguasaan sumber alam lokal untuk penggunaan yang berwawasan lingkungan dan memastikan pelaksanakan kebijakan lingkungan nasional yang baru. Keduanya menunjukkan bahwa ada jalan keluar bagi perselisihan hak atas tanah di Amazon yang selama dua dasa warsa telah menjadi konflik bersenjata. Dengar pendapat dan debat publik merupakan jalan damai bagi penyelesaian perselisihan tanah antara masyrakat setempat dan para pengusaha peternakan. Pada kasus jalan raya di Amapa, pembangunan jalan di hutan tropis sebenarnya tidak perlu ada penebangan hutan yang tak terkendali dan berbagai tindak kekerasan, apabila hak-hak dan kepentingan penduduk lokal atas konservasi hutan diakui dan dijamin lebih dahulu.

Kemuculan masyarakat sipil global juga menimbulkan bentuk-bentuk baru bantuan internasional yang dihindari oleh negara-bangsa dan organisasi-organisasi multilateral yang tidak berdasarkan padanya. Beberapa upaya ini menghubungkan masyarakat lokal dan global dengan menyalurkan kesadaran publik internasional dan aktivitas warganya ke dalam tindakan-tindakan nyata yang secara bersamaan mengurangi konsumsi di daerah kaya dan membantu konservasi lingkungan di daerah miskin. Sebagai contoh, negara bagian Hessen, Jerman, sebagai tanggapan terhadap meluasnya tekanan publik dan gerakan LSM, telah melarang penggunaan kayu tropis pada proyek-proyek publik yang dibiayainya.29 Hessen adalah salah satu dari ribuan kota dan provinsi di Eropa yang mengambil langkah ini (di Jerman sendiri ada lebih dari 1200 kota). Hessen juga memberikan 250.000 dolar AS kepada sebuah LSM lokal di Rondonia, Instituto de Pre-Historia, Antropologia, e Ecologia (IPHAE), untuk merehabilitasi lahan-lahan hutan yang rusak. Menurut veteran wartawan Juan de Onis, IPHAE berhasil mengembangkan tiga kebun pembibitan pohon untuk menanam spesies-spesies lokal, yang membantu ratusan petani untuk mendapatkan hasil pohon itu pada tanah yang hutannya telah ditebangi. Program itu kemudian banyak diterapkan di seluruh negara tersebut, "Lembaga kehutanan negara mengeluarkan jutaan dolar AS yang disediakan oleh Proyek Polonoroeste Bank Dunia", de Onis mencatat, "dan menempatkan 800 orang pada daftar gajinya, Akan tetapi lembaga ini tidak pernah mampu mengorganisasi sebuah sistem pembibitan untuk diterapkan di seluruh negara.30

Contoh Hessen bukan satu-satunya contoh. Dalam kenyataannya, penggabungan tindakan lokal dan internasional untuk melindungi biosfer dalam sebuah jaringan kerja yang menjadi gerakan utama lembaga-lembaga nasional dan internasional bisa menjadi sebuah model baru bagi perubahan tindakan global dan bantuan asing di masa depan. Inisiatif paling ambisius dalam hal ini adalah Alliance of European Cities with Indigenous People of the Rainforests for the Preservation of the Earth’s Atmosphere, yang didirikan pada tahun 1990.

Sudah ada 217 kota di Jerman, Belanda, Austria, Italia, dan Swiss yang berjanji untuk mengurangi CO2 dan emisi-emisi gas rumah kaca lainnya di bawah ambang batas nasional, melarang penggunaan kayu tropis, dan secara simultan memberikan dukungan komunitas terhadap komunitas bagi daerah-daerah hutan tropis pada negara-negara berkembang. Aliansi Iklim telah membentuk kemitraan dengan organisasi payung regional bagi berbagai kelompok Indian di lembah Sungai Amazon, yaitu Koordinasi Organisasi-organisasi Indian Lembah Sungai Amazon (COICA). COICA yang didirikan pada tahun 1984 mencakup Uni Rakyat Pribumi Brasil (UNI), yang mewakili 300.000 Indian, yang termasuk ke dalam lebih dari 150 suku yang berbeda; Organisasi Indian Nasional Peruvia, Unifikasi Inter-Etnik untuk Pembangunan Hutan Peruvia (AIDESEP), dengan 300.000 anggota pada 60 lebih kelompok etnis; dan organisasi-organisasi Indian untuk Kolombia, Ekuador, dan Bolivia Timur. Aliansi Iklim sedang mempertimbangkan pembiayaan sejumlah usulan proyek COICA untuk mendukung pemberian batas wilayah-wilayah Indian, penghutanan kembali lahan-lahan hutan yang rusak, pendidikan dan pelayanan masyarakat.31

Aliansi Iklim dibentuk oleh para aktivis di Jerman sebagai reaksi khusus terhadap teka-teki politik global yang diajukan dari krisis lingkungan yang meliputi seluruh dunia -- bagaimana berpikir dan bertindak secara lokal dan global. Para ahli Aliansi Iklim menerangkan bahwa:

Sebagai akibat dari kerusakan-kerusakan lembaga-lembaga yang ada (adalah benar lembaga-lembaga itu tidak membuat masalah-masalah berskala besar seperti itu)… adalah penting untuk kembali kepada suatu tradisi yang memberikan impuls politik dan budaya tersendiri pada Eropa modern -- demokrasi kota. Meskipun publik dapat bertindak sebagai alat untuk mengetahui pikiran rakyat yang menjamin agar keputusan-keputusan praktis yang penting juga menyangkut perlindungan iklim, dimensi-dimensi masyarakat dan budaya dari penting untuk direorientasikan ternyata masih jauh dari kesadaran masyarakat ini. Perubahan yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari setiap warga negara tidak hanya memerlukan mayoritas politik yang besar…. Mereka juga (harus) memperhitungkan kesempatan partisipasi yang luas oleh publik.32

Kemitraan Aliansi Iklim dan COICA menggambarkan salah satu aspek dari masyarakat sipil global yang sedang bangkit: ledakan pertumbuhan jaringan kerja yang meliputi seluruh dunia di antara komunitas lokal dan LSM-LSM. Jaringan-jaringan kerja itu tidak lebih dari seluruh "proses pembelajaran berskala global",33 di mana evolusi sosial dan politik internasional dipercepat. Berbeda dari "belajar dengan bekerja"nya Bank Dunia, proses itu berjalan menuju penemuan bentuk-bentuk organisasi sosial, politik, dan ekonomi yang baru, dan kombinasi baru dari bentuk-bentuk lama (seperti peremajaan kembali demokrasi kota Eropa) yang tidak hanya akan menciptakan satu masa depan yang biasa, akan tetapi masa depan yang berkelanjutan. Hal itu merupakan evolusi global tanpa henti untuk menjaga pluralitas budaya, nilai-nilai sosial, narasi, dan nasib manusia-manusia yang terpisah, di hadapan kereta raksasa modernitas yang membinasakan.

Masyarakat sipil global terutama didasarkan pada generasi yang bebas dan pertukaran informasi, dengan keterbukaan dan partisipasi sebagai prasaratnya. Masyarakat sipil global merupakan pengakuan bahwa reaksi yang terdesentralisasi, fleksibel, dan berakar pada tingkat lokal sangat diperlukan jika peradaban dunia berharap bisa menghadapi krisis lingkungan global. Pengelolaan lingkungan global sendiri gagal karena tidak ada pemecahan global, hanya ada pemecahan lokal dengan pemahaman dan perspektif global.e) Pemahaman dan perspektif seperti itu paling baik dikomunikasikan melalui jaringan kerja, tidak melalui usaha-usaha prediksi dan pengawasan yang terpusat. Thomas Hines, penulis dari Philadelphia, secara mengesankan menulis mengenai persoalan-persoalan itu:

Berpikir pada skala global mungkin membuat permasalahan-permasalahan di wilayah geografis tertentu atau pada komunitas tertentu lebih mendesak untuk dipecahkan, tetapi mungkin tidak akan menunjukkan bagaimana memecahkan permasalahan-permasalahan itu. Jawaban-jawabannya lebih cenderung akan datang dari pemahaman mengenai perbedaan dan kompleksitas interaksi mereka daripada dari kefasihan globalisme.34

Gerakan dan jaringan kerja yang berkembang dari masyarakat sipil global juga mewujudkan prinsip lain yang dilupakan dalam teknorasi-teknorasi global -- bahwa ada batas-batas terhadap pelaksanaan dari alasan instrumental, jika mereka memang patut mendapatkan nama sebagai pembentuk nilai-nilai dan prinsip budaya yang nyata, masyarakat dan komunitas manusia bukanlah subjek pada "pertukaran" atau pada pembasmian karena mereka adalah kantung-kantung dari "kegagalan pasar". Dalam praktiknya, itu berarti menegaskan kembali keunggulan politik dalam pengertian pokok dari kata itu -- menegaskan kembali nilai-nilai komunitas, yaitu polis, daripada menyerahkannya kepada para pembuat keputusan teknoratis di luar proses yang demokratis. Kedudukan yang sah dari nilai-nilai dan pilihan-pilihan itu dapat ditentukan hanya dalam dengar pendapat dan perdebatan yang terbuka, partisipatif, dan demokratis. Sebab, masyarakat sipil global terpaksa meminta pertanggungjawaban langsung dari semua lembaga politik dan ekonomi, suatu hal yang menempatkannya pada posisi yang berhadapan dengan Bank Dunia dan organisasi-organisasi sejenis. Di hadapan pemerintah dan organisasi-organisasi internasional, penyelesaian keadaan yang sulit saat itu meminta lebih dari apa yang menyebabkannya: masyarakat sipil global tidak hanya meminta peringatan, tetapi juga perhatian. Evolusi masyarakat sipil global mungkin merupakan kesempatan terbaik untuk tujuan-tujuan pengelolaan lingkungan global -- konservasi keanekaragaman hayati dan penahanan penyebaran pemanasan global, contohnya -- didukung dan diakui sebagaimana seharusnya, tempat demi tempat, komunitas demi komunitas.

Ke Manakah Negara?

Hal itu bukanlah untuk menyatakan bahwa kita akan, atau dapat, hidup dalam sebuah dunia tanpa lembaga-lembaga nasional dan internasional yang besar. Maksud keseluruhannya adalah bahwa banyak dari institusi-institusi tersebut sedang mengalami kegagalan dan perlu diciptakan kembali atau diganti dengan alternatif-alternatif lain. Negara-bangsa, contohnya, sedang tertatih-tatih di beberapa bagian dunia yang sedang berkembang. Banyak pemerintahan yang korup, tidak efisien, dan tidak cakap, tetapi kita telah melihat bagaimana di negara-negara seperti Brasil, India, Thailand, dan Filipina, jaringan-jaringan kerja yang padat dan bersemangat dari LSM-LSM dan gerakan-gerakan komunitas yang mengorganisasi diri tetap berkembang. Dalam kasus demi kasus kita melihat potensi yang tumbuh dari LSM-LSM dan komunitas-komunitas lokal untuk mengubah undang-undang dan kebijakan, untuk menciptakan lembaga-lembaga dan proses-proses politik baru yang dapat beradaptasi dengan lebih baik, dan bahkan lebih penting lagi, guna memastikan efektivitas mereka.

Pada akhirnya kelangsungan hidup negara dan semangat masyarakat sipil itu saling bergantung. Maksud baik undang-undang, kebijakan-kebijakan, dan lembaga-lembaga tidak akan efektif tanpa partisipasi, keadilan, tanggung jawab, dan transparansi. Dengan dorongan dari negara, organisasi-organisasi masyarakat sipil dapat bangkit dan tumbuh subur, atau mereka dapat hancur karena ketidaktoleranan dan ketidakacuhan. Kuncinya adalah memelihara dan mendorong ketegangan yang sulit tetapi perlu, yang kadang-kadang merupakan hubungan yang berlawanan antara negara dan masyarakat sipil. Ketegangan dinamis itu membuka ruang antara ketertiban dan kekacauan karena memungkinkan komunitas manusia untuk bangkit, belajar, dan berkembang.

Dengan meringkas diskusi-diskusi mengenai penyelidikan sistem-sistem kompleks penyesuaian diri dengan ahli fisika Doyne Farmer dan ahli teori komputer Chris Langton, penulis ilmiah M. Mitchell Waldrop berspekulasi tentang implikasi-implikasi politis ini:

"Sesuatu" yang misterius yang memungkinkan adanya kehidupan dan akal adalah sejenis keseimbangan tertentu antara kekuatan keteraturan dan kekuatan ketidakteraturan…. Tepat di antara kedua ujung itu… ada sejenis transisi tahap abstrak yang disebut "tepi kekacauan", anda juga menemukan kompleksitas: suatu kelas perilaku di mana komponen-komponen dari sistem itu tidak pernah benar-benar terkunci di tempatnya, tetapi juga tidak pernah larut ke dalam pergolakan. Ini merupakan sistem yang cukup stabil untuk menyimpan informasi, tidak juga cukup mantap untuk menyebarkannya.

Akal sehat, belum lagi pengalaman politik akhir-akhir ini, menunjukkan bahwa ekonomi sehat dan masyarakat sehat yang serupa harus menjaga ketertiban dan kekacauan agar seimbang -- dan juga bukan hanya sejenis keseimbangan yang plin-plan, biasa saja, dan moderat. Seperti sebuah sel hidup, mereka harus mengatur diri mereka dengan jaringan umpan balik dan peraturan yang padat, pada saat mereka meninggalkan banyak ruang bagi kreativitas, perubahan, dan respons terhadap kondisi yang baru. "Evolusi berkembang dengan cepat dalam sistem organisasi dari bawah ke atas, evolusi harus menyalurkan pendekatan dari bawah ke atas dengan cara yang tidak merusak organisasi."35

Memang, Sheldon Annis dari Universitas Boston telah mengamati bahwa kemampuan dan efisiensi negara sering lebih kuat di tempat-tempat yang sektor non-pemerintahnya lebih subur dan giat. Negara-negara seperti Kostarika dan Meksiko, dengan seluruh problem mereka, memiliki pemerintahan ataupun gerakan sosial akar rumput yang diorganisasi dengan lebih baik, lebih demokratis, dan lebih efektif daripada yang ada di Benin atau Paraguay. Semakin berkembang suatu negara, semakin besar kepadatan dan kompleksitas organisasionalnya di semua tingkatan. Sementara LSM-LSM berusaha mengubah kebijakan-kebijakan dan lembaga-lembaga negara tertentu agar lebih tanggap terhadap kebutuhan-kebutuhan lokal dan nasional. Negara yang berhasil akan mencoba menyesuaikan dan menanggapinya melalui sistem pengumpulan informasi dan pemerintahan yang lebih selaras, lebih fleksibel, dan efisien.36 Jika gagasan pembangunan memiliki arti, hal itu harus dimulai dengan membantu perkembangan tatanan sosial, ekonomi, dan politik yang tepat, suatu gagasan yang memungkinkan kepadatan dan kompleksitas organisasional masyarakat bangkit dengan kebebasan dan kekuatan terbesar.

Ada beberapa kebijakan tertentu yang dapat dipromosikan oleh negara dan organisasi-organisasi pembangunan internasional, yang lebih mendorong daripada melumpuhkan evolusi organisasi-organisasi akar-rumput dan pemberdayaan masyarakat. Partisipasi dan akses terhadap informasi mengenai rencana-rencana dan keputusan-keputusan pembangunan berada di bagian paling atas dalam daftar. Kerangka kerja legal yang melegitimasi LSM-LSM, serikat-serikat buruh, dan kelompok-kelompok akar rumput ada bersama-sama dengan land reform dan pemberian hak atas tanah; sistem-sistem yang didasarkan pada komunitas dalam bidang kesehatan, keluarga berencana, dan gizi; pendidikan bagi perempuan; kredit pertanian dan perdagangan yang benar-benar akan sampai pada orang-orang yang tidak memiliki tanah dan orang-orang miskin -- daftar tersebut, yang dapat dikumpulkan sedikit demi sedikit dari banyak literatur pembangunan, terus-menerus berlanjut. Melaksanakan tindakan seperti itu memerlukan kemitraan aktif antara masyarakat sipil dan negara agar tercipta suatu "lingkaran suci" yang akan memperkuat masyarakat dan pemerintah di negara-negara yang lebih miskin.37 Adalah penting untuk mempromosikan kebijakan-kebijakan pada bangsa-bangsa yang lebih miskin itu, dan Annis percaya hal ini seharusnya menjadi peran Bank Dunia.

Bank Dunia seharusnya didorong. Namun sayang, sekalipun hanya retorika, sebagian besar staf Bank Dunia tidak cakap dan sering menjadi penghalang utama realisasi langkah-langkah yang membantu perkembangan pembangunan masyarakat sipil. Bahkan, ketika pemerintah dan badan-badan donor berhasil melaksanakan kebijakan-kebijakan atas dasar sedikit demi sedikit seperti itu, efektivitas jangka panjang mereka sering berkurang karena adanya tekanan ekonomi yang sangat besar dari integrasi global dan sifat-sifat penting teknologi yang tampak menarik dari modernitas telah jauh pergi. Contohnya, di banyak wilayah miskin, termasuk Cina, India, Afrika, dan dunia Islam, integrasi ekonomi global yang meningkat selama dasawarsa lalu telah mengakibatkan kemunduran yang mengkhawatirkan pada status hubungan keluarga, kebebasan, dan kesejahteraan perempuan -- meskipun ada usaha-usaha dari beberapa badan donor untuk memberikan suatu penekanan khusus guna membantu perempuan.38

Kita dihadapkan lagi pada kesulitan-kesulitan klasik sistem global yang saling berhubungan: terhadap apa saja yang berubah di mana saja, segala sesuatu harus mulai berubah di mana-mana. Ini bukan sekadar penegasan kepercayaan atau harapan sederhana, melainkan suatu pengamatan empiris bahwa fenomena yang telah kita identifikasi dalam masyarakat sipil global adalah tanda bahwa perubahan ini mulai muncul sebagai tanggapan, dan hampir sebagai fungsi, terhadap bahaya yang sesungguhnya lebih dekat yang berasal dari sistem dunia saat ini.

Inti dari perubahan ini adalah evolusi dalam suatu cara di mana umat manusia dan lembaga-lembaganya, baik kecil maupun besar, berpikir tentang dunia dan berhubungan dengannya. Hal itu merupakan peralihan terhadap dualisme Cartesian yang mengatasi dan pujian berlebihan yang berbarengan dari alasan-alasan instrumental yang masih berkuasa atas seluruh dunia kita. Ini merupakan suatu peralihan yang dimulai pada ilmu-ilmu fisika pada awal abad ini, tetapi juga masih harus menempuh seluruh wacana budaya.

Sekali lagi, mari kita ambil sebuah contoh khusus mengenai bagaimana beberapa pemikir merasakan perubahan ini. Dalam sebuah seminar yang diselenggarakan oleh Institut Santa Fe pada tahun 1989, ahli ekonomi dari Stanford, Brian Arthur, menguraikan tiga tahapan analisis yang mungkin digunakan oleh para ahli pembuat kebijakan dalam pemerintahan dan lembaga-lembaga untuk memikirkan nasib lingkungan ekonomi hutan hujan Amazon. Tahapan pertama adalah penghitungan keuntungan pokok tradisional, meskipun, menurut Arthur (seperti dikutip oleh Waldrop), "terlalu sering objektivitas nyata analisis keuntungan pokok merupakan hasil dari angka-angka yang ditentukan secara serampangan dalam penilaian yang subjektif, dan kemudian menetapkan nilai nol sehingga tidak ada yang tahu bagaimana mengevaluasinya."39 Tahapan analisa yang kedua adalah politis dan kelembagaan, dengan melihat para pelaku sosial dan politik sebagai bagian dari sistem ini. Itu merupakan pendekatan para ahli antropologi, sosiologi, dan sejarah. Tahapan analisa ketiga, menurut Arthur, adalah analisa mengenai gagasan-gagasan baru tentang kompleksitas, yang menolak dualitas pencerahan Cartesian antara seorang aktor dan lingkungan aktor itu:

Tidak ada pembagian antara pelaku dan yang dilakukan, karena kita semua adalah bagian dari jaringan kerja yang berpautan ini. Jika kita sebagai manusia berusaha mengambil tindakan sesuka kita tanpa mengetahui bagaimana keseluruhan sistem akan beradaptasi -- seperti menebangi hutan hujan -- kita membuat bergerak serentetan kejadian yang cenderung akan kembali dan membentuk suatu pola yang berbeda bagi kita untuk menyesuaikannya, seperti perubahan iklim global.40

Kita melihat bahwa sistem kompleks di mana kita adalah salah satu bagiannya, secara tetap berubah terus-menerus, dan dalam suatu pengertian mungkin tidak diketahui secara mendasar: kita telah mengembangkan metode-metode dan teknik-teknik untuk memahami dan menerangkannya, tetapi perkiraan dan pengawasan itu tidak berjalan dengan baik. Tidak ada artinya, kata Arthur, membicarakan "optimasi manfaat atau pilihan" jika sistem atau jaringan kerja itu merupakan suatu unit. Hal ini akan mirip pembicaraan orang tua mengenai optimasi manfaat dan pilihan terhadap anak-anak mereka. Sama sekali tidak ada gunanya jika gagasan itu digunakan untuk berpikir dan bertindak untuk menjaga kebaikan keluarga. Akomodasi, koadaptasi, tanggung jawab, dan fleksibilitas adalah tujuan yang penting, bukan memperkirakan dan mengawasi kejadian-kejadian untuk memaksimalkan keuntungan bagi seorang aktor tunggal atau sekelompok aktor.41 "Jadi, pertanyaannya adalah," Arthur menyimpulkan,

bagaimana Anda mengatur siasat dalam dunia seperti itu. Dan jawabannya adalah Anda menginginkan sebanyak mungkin pilihan terbuka. Anda mengejar kelangsungan hidup, sesuatu yang dapat dikerjakan, lebih dari apa yang "optimal". Banyak orang mengatakan mengenai itu, "Tidakkah Anda kemudian menerima yang terbaik kedua?" Tidak, Anda tidak menerima, karena optimalisasi tidak lagi terdefinisikan dengan baik. Apa yang Anda coba lakukan adalah memaksimalkan kekuatan, atau kemampuan bertahan hidup di hadapan masa depan yang terdefinisi dengan buruk.42

Akhir dualitas Cartesian, kemudian berarti meninggalkan "optimalisasi" sebagai nilai sasaran yang berlebihan -- dengan kata lain, akhir dari dunia di mana alasan instrumental totaliter dapat merajalela. Kita berada di tengah peralihan sejarah yang menentukan di mana dunia yang telah kita ciptakan sepanjang tiga abad modernitas saat ini, begitu berubah sehingga memaksa kita meninggalkan asumsi-asumsi epistemologis, budaya, dan politik. Pada periode perubahan dan tidak ketidakpastian seperti itu, nilai-nilai seperti menjaga pilihan dan keragaman di masa depan, serta melindungi kekuatan ekosistem, komunitas lokal, dan lembaga-lembaga menjadi sangat penting. Ini merupakan pendekatan-pendekatan dan nilai-nilai sebenarnya, yang kita lihat, muncul dari masyarakat sipil global, dalam perlawanan-perlawanan dan usulan-usulan jaringan kerja LSM dan kelompok akar-rumput yang tumbuh di seluruh dunia. Masyarakat yang akan berhasil adalah masyarakat yang negara dan masyarakat sipilnya mengakui kesalingtergantungan mereka dan peran bersama mereka seperti proses pembangkitan, pembelajaran, dan koadaptasi dalam sistem yang lebih besar, suatu sistem di mana masyarakat dan alam saling menjalin dengan erat dalam rangkulan kehidupan-atau kematian.

Ke Manakah Lembaga-Lembaga Besar?

Universalisme Cartesian diakui secara ekonomis dalam perusahaan-perusahaan raksasa… semuanya, kecuali menjinakkan masa depan melalui perencanaan dan sumber-sumber modal. Namun, pasar raksasa yang pernah menjadi ladang subur bagi produksi pasar sedang menghilang… (Untuk bertahan) struktur hierarkis mereka yang kaku mengalah pada hierarki yang lebih merata dan bentuk-bentuk organisasi yang lebih fleksibel dan terdesentralisasi.43

-- Albert Borgman

Jaringan kerja adalah paradigma, bukan gereja Katolik atau militer.44

-- John Sculley, Direktur Utama Apple Computer

Kemunculan masyarakat sipil global selama dasawarsa lalu berhubungan dengan perubahan ekonomi dan sosial jangka panjang lain yang harus diadaptasikan oleh semua lembaga besar. Perubahan-perubahan ini merupakan unsur-unsur dari apa yang dapat digolongkan sebagai ekonomi politik postmodern global yang sedang bangkit. Beberapa di antaranya telah kita sebutkan: kegagalan pengelolaan dan perencanaan terpusat yang berlebihan, ditinggalkannya "keselamatan melalui masyarakat"; pengakuan bahwa ada banyak jalan yang berbeda untuk memecahkan masalah-masalah sosial, bukan pendekatan universal tunggal; dan kecurigaan bahwa ekonomi dan masyarakat berlaku seperti sistem kompleks dalam matematika, tidak dapat diperkirakan dengan statistik dan terputus-putus. Semua itu artinya kita tinggal dalam dunia yang tidak lagi, dan memang tidak pernah benar-benar, menerima pandangan-pandangan totaliter Cartesain mengenai ilmu pengetahuan, perkiraan, dan pengawasan. Planet "kenyataan-kenyataan baru" postmodern ini,f) bisa jadi berada dalam galaksi yang berbeda, terpisah jutaan tahun cahaya dari galaksi Robert McNamara yang dia pikir didiaminya pada saat dia menjalankan Bank Dunia.

Salah satu kenyataan baru ini adalah metamorfosis ekonomi global tanpa henti yang digolongkan sebagai peralihan dari "Fordisme" menuju "Akumulasi Fleksibel"45 atau "Spesialisasi Fleksibel".46 Dalam evolusi ini, modal benar-benar menjadi transnasional dan transaksi ekonomi mengalami peningkatan kompresi waktu dan ruang melalui teknologi komunikasi global. Arus uang internasional, dengan dinamika baru mereka sendiri, telah menggantikan pertukaran barang dan jasa sebagai faktor pemadu yang dominan dalam sistem ekonomi global.47 Wilayah subnasional dan supranasional menyaingi negara bangsa sebagai unit ekonomi utama. Fleksibilitas, kemampuan beradaptasi dan kecepatan dalam memberikan tanggapan menjadi faktor-faktor penting bagi keberhasilan perusahaan-perusahaan besar, dan firma pengelolaan serta perencanaannya terpusat dihadapkan pada kematian dalam persaingan jika tidak dapat merestrukturisasi dan mendesentralisasikan agar memenuhi permintaan-permintaan ini.48

Implikasi kecenderungan-kecenderungan ini terhadap lembaga-lembaga ekonomi dan politik besar telah menjadi amat penting. Keruntuhan Uni Soviet dan krisis pada IBM, General Motors, Sears, sistem sekolah kota New York,g) mungkin bukan tidak terhubungkan. Menurut John Sculley dari Apple Computer, "model komando dan pengawasan dalam menjalankan organisasi besar tidak lagi berhasil". Perusahaan yang berhasil adalah perusahaan yang melakukan desentralisasi dan dekat kepada para pelanggannya, dengan sistem penyesuaian umpan balik lokal.49 Michael Rothchild dalam tulisannya di Forbes, mencatat bahwa, "Perusahaan-perusahaan penyimpan informasi yang berhasil seperti Johnson & Johnson dan Dow Corning merupakan jaringan kerja yang dirapatkan dari organisasi-organisasi kecil, independen dengan saham dan andil yang lebih kecil dari rekening bank dan logo perusahaan."50 Kuncinya, sekali lagi, adalah sifat dasar dari pembelajaran dan evolusi mengorganisasi diri dalam sistem kompleks. Seperti yang dicatat oleh Rothchild, kecerdasan, apakah pada manusia, mesin, atau organisasi, "muncul dari komunikasi di antara pemroses-pemroses yang diatur dalam jaringan kerja paralel raksasa", apakah prosesnya itu neutron, mikrokomputer, atau kelompok-kelompok dan komunitas-komunitas kecil.51 Dalam perkembangan lembaga dan informasi lingkungan global yang sedang bangkit dengan cepat, Bank Dunia amat menyerupai kerangka komputer berkarat yang ditaruh pada abad tabung kosong.

Perekonomian yang berhasil, sedang menjadi "masyarakat ilmu pengetahuan"52 sehingga bahan-bahan dan energinya makin kurang intensif. Faktor-faktor ini sedang digantikan dengan informasi dan keterampilan yang dipesan sesuai dengan situasi dan masalah lokal khusus. Kecenderungan-kecenderungan ini bersifat mendorong, karena menunjuk pada kebutuhan dan humanisasi-humanisasi dan naturalisasi teknologi, bukannya teknologisasi umat manusia dan bumi. Pendekatan seperti itu membuat teknologi menjadi adaptif, lokal, dan terpecah-belah, dengan lebih bergantung pada informasi pengorganisasian sebagai jawaban terhadap kebutuhan-kebutuhan khusus manusia dan lingkungan daripada pengembangan intervensi ekologi besar-besaran dan perangkat keras yang mengalami standarisasi.h)

Banyak pendekatan alternatif yang dibela oleh para pengecam pembangunan konvensional seperti memasukkan karakteristik, contohnya jalan energi "lembut" untuk efisiensi pengguna terakhir dan pelestarian alam,53 dan pendekatan pertanian alternatif yang baru dan manajemen hama terpadu (yang tidak begitu baru). Menurut penyelidikan Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional Amerika Serikat mengenai pertanian alternatif, pendekatan-pendekatan ini bukanlah suatu sistem tunggal, akan tetapi gabungan dari sistem dan praktek yang secara halus diselaraskan dengan keadaan ekologis lokal untuk menggantikan masukan modal dan energi dengan "lebih banyak informasi, buruh terlatih, waktu, dan keterampilan manajemen dalam tiap unit produksi daripada dalam pertanian konvensional".54

Manajemen pestisida terpadu (IPM), contohnya, menggantikan penggunaan pestisida yang intensif dengan pemantauan kondisi ekologis khusus secara terus-menerus yang mendorong perkembangbiakan hama pada daerah pertanian tertentu. Fleksibilitas dan penentuan waktu merupakan hal yang kritis. Praktik penyiapan tanah yang cermat, pendorongan penggunaan pemangsa hama alami dan penggunaan pestisida dalam jumlah lebih sedikit secara bijaksana pada tahap kritis dari siklus hama adalah unsur-unsur yang penting. IPM lebih mengintensifkan ilmu pengetahuan dan pendapatan buruh, tetapi bila berhasil diterapkan akan mengurangi penggunaan (dan biaya) pestisida secara drastis dan meningkatkan produksi. Yang paradoks, meskipun banyak dari pendekatan ini yang bangkit di utara, dan khususnya di Amerika Serikat, pendekatan ini tampaknya sesuai untuk negara-negara berkembang, yang kaya sumber daya manusia, waktu, juga adanya ilmu pengetahuan lokal atau memiliki potensi, dan kekurangan anggaran biaya.i)

Pemerintah dan badan-badan yang besar memiliki peran yang diperlukan dalam penyebaran teknologi baru ini, tetapi untuk melakukannya mereka harus mempelajari fleksibilitas dan respons yang baru. Bank Dunia, dengan sentralisasi, pendekatan seragam, yang didominasi oleh tekanan yang besar pada pinjaman, telah menunjukkan bahwa di sebagian besar kasus ternyata institusi yang ditunjuk untuk mempromosikan hal ini adalah lembaga yang tidak tepat.j)

Beberapa pengamatan dari petugas lembaga-lembaga pembangunan internasional baru sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang sama bahwa sektor swasta dan beberapa LSM mendapatkannya dalam praktik. Stephen B. Cox, yang memimpin Acceso, sebuah LSM yang bergerak di Amerika Tengah, dan Direktur Perencanaan Institut Administrasi Bisnis Amerika Tengah di San Jose, Kosta Rika, menyatakan bahwa inilah saatnya untuk menerapkan kerangka epistemologi pembangunan yang lebih sederhana. Tantangan kompleks dalam mempromosikan pembangunan yang efektif memerlukan pengetahuan lebih lengkap mengenai susunan variabel yang lebih luas, daripada suatu organisasi yang diharapkan dapat diperintah." Lembaga-lembaga pembangunan perlu menekankan "umpan balik, insentif, partisipasi" dan "hubungan yang dapat dipertanggungjawabkan", yang semuanya digolongkan oleh Cox sebagai kebutuhan untuk beralih dari "kekakuan dalam rancangan" kepada "kekerasan dalam proses".55

Pada sektor swasta, evolusi lembaga-lembaga ekonomi berjalan dalam skenario yang lebih besar daripada yang ada pada pemangsa-pemangsa internasional untuk bantuan pembangunan yang disubsidi pemerintah. Raksasa-raksasa yang baru satu dasawarsa ini berhasil dihadapkan pada kelangkaan jika mereka tidak dapat menemukan diri mereka kembali, dan dalam jangka waktu yang lebih panjang akan lebih banyak gagalnya daripada berhasil. Sementara itu, keragaman alternatif muncul dan tumbuh subur; Microsoft yang dulu kecil, saat ini memiliki kapitalisasi pasar yang lebih besar, dan banyak yang memperkirakan masa depannya lebih cerah daripada IBM.

Apa yang Harus Dilakukan pada Bank Dunia?

Urgensi terhadap penemuan kembali Bank Dunia --atau penghentiannya-- tidak pernah menjadi sejelas ini sebelum ada desakan terus-menerus selama awal tahun 1993 untuk melanjutkan pembiayaan Bendungan Sardar Sarovar di India. Pada bulan-bulan terakhir keterlibatan Bank Dunia dalam proyek Sardar Sarovar terungkaplah krisis pertanggungjawaban dan kredibilitas total pada tingkat tertinggi.

Manajemen Bank Dunia, yang kita ingat, menganjurkan diteruskannya pembiayaan, meskipun ada desakan dari Komisi Morse agar Bank Dunia mundur. Pada 13 Oktober 1992, Morse menyurati Presiden Lewis Preston, dengan salinannya dikirim pada semua direktur eksekutif, dia menuduh manajemen Bank Dunia "mengabaikan dan keliru dalam menggambarkan penemuan-penemuan pokok dari pemeriksaan kami". Preston membalasnya dengan sangkalan tertutup yang pedas bahwa dia tidak berkenan menanggapi contoh-contoh khusus apapun mengenai kekeliruan penggambaran yang disebutkan satu demi satu oleh Morse. Dalam keadaan kesehatan yang mundur, Morse yang pada akhir karier suksesnya selama puluhan tahun di Kongres Amerika Serikat dan menjadi pejabat tinggi PBB, terbang ke Washington untuk meminta dengan sangat kepada para direktur eksekutif agar tidak menandatangani proposal manajemen Bank Dunia untuk mencurahkan lebih banyak dana ke dalam proyek itu.56

Pada 23 Oktober 1992 siang, di ruang megah Dewan Eksekutif Bank Dunia yang berpanel kayu, para direktur bertemu untuk mengambil suara mengenai nasib proyek itu. Bersama dengan Preston, staf departemen pedesaan India, dan sejumlah pejabat tinggi Bank Dunia yang hadir. Direktur Eksekutif Bank Dunia untuk Belanda secara tajam mengingatkan kepada semua yang hadir bahwa Dewan Eksekutif telah meminta untuk dibentuk sebuah komisi independen, karena mereka tidak dapat mempercayai staf Bank Dunia.k) Wakil dari Austria, selain mencerca manajemen Bank Dunia atas lobi tangan besi para direktur dimasa lalu agar proyek terus berjalan, juga mengungkapkan keraguannya terhadap kelayakan manajemen untuk dipercaya. Kemudian Direktur Eksekutif Bank Dunia untuk Amerika Serikat, E. Patrick Coady, berdiri dan menuduh manajemen "tertutup", dengan catatan bahwa "yang menjadi taruhan adalah kredibilitas Bank Dunia." Dia mengamati bahwa jika Dewan Eksekutif mengizinkan manajemen Bank Dunia untuk meneruskan proyek tersebut "itu merupakan isyarat bahwa betapapun buruknya situasi, betapapun cacatnya proyek itu, betapapun banyaknya kebijakan yang dilanggar, dan betapapun jelasnya obat yang diresepkan, Bank Dunia akan maju ke depan dengan syarat-syaratnya sendiri". Meskipun wakil-wakil dari Kanada, Australia, Jerman, Jepang, dan negara-negara Nordik bergabung dengan Coady untuk menentang diteruskannya pembiayaan, mereka mewakili kurang dari mayoritas pada pemungutan suara, kira-kira 42 persen. Bank Dunia akan meneruskan pendanaan proyek Sardar Sarovar paling tidak selama enam bulan lagi. Tiba di India, berita itu menyebarkan gelombang keputusasaan yang bergerak cepat pada puluhan ribu rakyat suku asli di lembah Sungai Narmada.57

Pada akhir Maret 1993, Dewan Eksekutif harus bertemu lagi untuk memberikan pertimbangan terhadap proyek Sardar Sarovar. Tampaknya kali ini kemungkinan besar para direktur yang memegang mayoritas suara akan meminta Bank Dunia untuk menghentikan pendanaan. Sebagai penyelamat muka bagi Bank Dunia ataupun pemerintah India, beberapa hari sebelum pertemuan itu para pejabat India mengumumkan bahwa mereka tidak akan meminta pembayaran lagi kepada Bank Dunia. Pada konferensi pers mengenai penarikan diri Bank Dunia, para pejabat Departemen Pedesaan India terus memuji-muji kebaikan-kebaikan bendungan itu.

Apa yang harus dilakukan pada Bank Dunia pertama-tama adalah pertanyaan mengenai bagaimana caranya memperbaiki pemenuhan kebutuhan penduduk terutama penduduk miskin, di negara-negara berkembang. Pada saat ini bangsa-bangsa itu mencakup banyak negara bekas blok Soviet dan juga apa yang dulu dianggap sebagai Dunia Ketiga. Sebagian tugas ini mungkin memerlukan lembaga-lembaga internasional berskala besar, tetapi lembaga-lembaga yang akan berhasil adalah lembaga yang semakin menggunakan jaringan kerja terdesentralisasi sebagai pola kerjanya. Jelaslah, jika Bank Dunia akan "diperbaiki", perbaikan itu harus begitu luas sehingga akan berlaku sebagai sebuah lembaga baru. Perubahan demikian akan memerlukan banyak sekali mobilisasi pendapat dan tekanan kritis publik negara-negara donor utama Bank Dunia. Perusahaan-perusahaan swasta besar, karena dihadapkan pada keharusan kompetitif yang brutal untuk berubah atau binasa, kadang-kadang mencapai perubahan seperti itu, tetapi sering kali mereka digantikan oleh pesaing-pesaing baru yang lebih gesit. Salah satu permasalahannya adalah Bank Dunia tidak merasakan ketatnya persaingan (IBRD lebih merupakan hasil kloning dan kaki tangan yunior daripada pesaing). Kuasi monopoli Bank Dunia adalah monopoli buatan yang diberikan oleh para donor utamanya, yang paling akhir di Rio dengan peran yang mereka tugaskan pada GEF.

Langkah pertama adalah menghentikan sumber permasalahan, yakni uang, yang bagaimanapun juga adalah sumber pokok dari tekanan untuk memberi pinjaman. Jika Bank Dunia tidak dapat diperbaiki (kita akan segera kembali pada unsur-unsur tertentu dari beberapa perbaikan), mengurangi pembiayaannya akan membatasi pengaruhnya, jika memang demikian, pengalaman menunjukkan bahwa ancaman-ancaman yang dapat dipercayai terhadap pendanaan merupakan jalan terakhir, dan jalan paling efektif memaksa birokrasi-biorkrasi yang keras kepala untuk menemukan diri mereka kembali. Akan tetapi justru yang lebih penting lagi, publik seharusnya menekan pemerintah-pemerintah anggota Bank Dunia untuk mendorong dan mendukung keragaman lembaga dan saluran alternatif untuk bantuan asing yang kemungkinan besar mau membantu rakyat dan lingkungan. Keragaman dan persaingan yang lebih besar benar-benar dibutuhkan untuk menghasilkan struktur dan jaringan kerja alternatif, untuk menciptakan sistem internasional yang fleksibel, efektif, dan responsif, sistem yang dapat menghadapi masalah-masalah global pada tingkat lokal.

Sebagai contoh, model baru bagi aksi berbasis komunitas dari Aliansi Iklim Eropa yang terus berkembang pada skala yang lebih luas. Untuk mengatasi masalah pemanasan global, Aliansi Iklim mengakui perlunya perubahan yang simultan di Utara dan Selatan, dan berusaha mempraktikkannya dalam cara terdesentralisasi dengan menghubungkan aksi-aksi lokal untuk mengubah perilaku ekonomi di Utara dengan bantuan bagi komunitas di Selatan. Pendekatan klasik dari badan-badan bantuan supranasional terpusat adalah melemparkan uang pada pemerintah-pemerintah di Selatan, walaupun gagal memenuhi kebutuhan akan perubahan di Utara. Hubungan dan pertukaran antara kota-kota Eropa dan LSM-LSM di Selatan yang mencirikan Aliansi Iklim, jauh lebih dekat pada model manajemen yang telah kita diskusikan lebih awal mengenai jaringan kerja profesional mikro (atau sistem informasi dan kecerdasan terorganisasi lain, apabila itu syarat atau kelompok sosial) yang bekerja secara paralel, sebagai lawan terhadap sistem pengoperasian pusat atau komputer mainframe tunggal. Jika tujuan-tujuan dari manajemen lingkungan global hendak dicapai, dan jika bantuan asing harus ditemukan ulang, itu dapat dimulai dengan mendukung dan menciptakan jaringan kerja, seperti Aliansi Iklim, yang mewujudkan kepentingan-kepentingan umum dan berbagi tanggung jawab terhadap komunitas-komunitas nyata di Utara dan Selatan.

Ada juga badan-badan pembangunan internasional yang menggunakan pendekatan alternatif terhadap pendekatan Bank Dunia, pendekatan yang lebih sesuai dengan masyarakat sipil dan keadaan lokal. Pendekatan mereka berfokus pada pemberian bantuan teknis dan bantuan keuangan dan pinjaman yang kecil (biasanya kurang dari $AS 500.000) kepada komunitas lokal, usaha kecil, petani, wiraswasta, kelompok-kelompok swadaya masyarakat dan koperasi di negara-negara berkembang. Ini merupakan suatu strategi yang menunjukkan kapasitas untuk mempromosikan pembangunan ekonomi yang cenderung lebih berwawasan lingkungan berkelanjutan dan sesuai dengan budaya, dan untuk membantu rakyat miskin.58 Tiga organisasi seperti itu yang berpusat di Amerika Serikat adalah Yayasan Inter-Amerika dan Pembangunan Afrika, dan Appropriate Technology International (ATI) yang didirikan dari keputusan Kongres berturut-turut pada tahun 1960, 1980, dan 1976. Lembaga-lembaga ini citranya hampir berlawanan dengan Bank Dunia: mereka disusun untuk menghindari kementerian-kementerian yang besar dan mendukung proyek-proyek kecil di tingkat lokal.

Yayasan Inter-Amerika (IAF) dan Yayasan Pembangunan Afrika (ADF) memiliki proporsi ahli antropologi dan ahli sosiologi yang tinggi pada stafnya, demikian juga dengan ahli ekonominya. Proyek yang khas itu menyangkut bantuan keuangan yang kecil pada koperasi-koperasi perempuan dan petani untuk mengembangkan perusahaan bisnis, atau pada organisasi komunitas lokal untuk penanaman hutan. Seperti yang ditunjukkan dari namanya, IAF dan ADF mendukung proyek-proyek di Amerika Latin, Karibia, dan Afrika. IAF secara langsung membantu organisasi penyadap karet di Brasil bagian barat laut, dan memainkan peran penting dalam pembiayaan dan dukungan pada koperasi-koperasi penyadap damar di Honduras dan pada organisasi-organisasi kehutanan komunitas di Meksiko yang telah kita bahas lebih awal. ATI memiliki tugas menyediakan teknologi yang ramah lingkungan, akses terhadap modal, dan bantuan pemasaran pada perusahaan berskala kecil dan petani di negara-negara berkembang.

Prototipe lain adalah organisasi swasta sukarela Inggris, Oxfam, yang saat ini beroperasi di seluruh dunia. Di Afrika, contohnya, Oxfam bekerja di 25 negara dan berkantor di sebagian besar negara-negara itu. Pada tahun 1992, ratusan staf Oxfam, bekerja di seluruh Afrika mengelola 36 juta dolar AS bantuan keuangan untuk mendukung sekitar 1.200 proyek yang berbasis pada masyarakat.59

Anggaran tahunan lembaga-lembaga seperti itu lebih kecil daripada anggaran sebagian besar proyek tunggal Bank Dunia: untuk Yayasan Inter-Amerika pertahunnya sekitar 30 juta dolar AS, 10 juta dolar AS untuk ADF, dan kurang dari 5 juta dolar AS pertahun untuk ATI. Pendanaan dan operasi mereka seharusnya diperluas, dan pendirian organisasi serupa seharusnya didorong. Baik Belanda maupun Norwegia telah mendirikan yayasan publik yang hampir sama untuk yang berorientasi untuk memberikan bantuan pada komunitas asing.

Adalah benar, dengan peningkatan pendanaan yang besar sekalipun, jumlah uang yang dapat dialihkan dari Utara ke Selatan melalui bantuan asing yang berorientasi pada komunitas seperti itu hanyalah sedikit dibandingkan dengan yang dapat dipinjamkan oleh Bank Dunia dan lembaga-lembaga anggotanya. Akan tetapi jika pemeriksaan kita pada Bank Dunia memang mengungkapkan sesuatu hal itu adalah bantuan asing, terutama yang berbentuk proyek-proyek besar, merupakan cara yang sangat berlawanan dan kontraproduktif terhadap pergerakan uang untuk mengurangi tekanan ekonomi yang sangat nyata dan mendesak pada bangsa-bangsa sedang berkembang. Tekanan-tekanan ini sebaiknya dikurangi melalui pembebasan utang dan pengenduran diskriminasi perdagangan terhadap bangsa-bangsa yang lebih miskin di dunia, suatu alternatif yang nanti kita bahas.

Kesempatan untuk memperbaiki Bank Dunia sebagian besar dikaitkan dengan menjadikan negara-negara anggotanya lebih mampu menyokong dan tanggap. Kampanye internasional LSM-LSM untuk perbaikan lingkungan pada dasawarsa lalu memperlihatkan bahwa aktivitas LSM yang dimobilisasi dapat mempengaruhi pemerintah, dan dalam beberapa hal bank pembangunan multilateral, tetapi kita hanya melakukan perubahan birokratis, bukan substansif. Pemerintah-pemerintah pemegang saham utama Bank Dunia memang berkehendak menentang proyek-proyek dan kebijakan-kebijakan individu, tetapi bukan masalah kelembagaan yang berakar lebih dalam. Namun, kita seharusnya ingat bahwa beberapa perubahan yang didorong oleh kampanye itu adalah mengenai arti penting lingkungan dan sosial. Karena satu hal, Bank Dunia keluar dari urusan pendanaan skema kolonisasi pertanian di hutan-hutan hujan perawan. Kita tidak akan melihat lagi Polonoroeste dan transmigrasi yang dibiayai Bank Dunia.

Ketika semuanya dikatakan dan dilakukan, jelaslah bahwa pemerintah-pemerintah anggota Bank Dunia melihat bahwa Bank Dunia mengabdi pada kepentingan tujuan-tujuan politis yang meragukan dan tidak jujur, tujuan-tujuan yang lebih penting daripada akibat-akibat dari proyek-proyek individu itu. Memang, banyak di antara mereka diam-diam mendukung suatu situasi di mana manajemen dan staf Bank Dunia bekerja secara semi otonom sepanjang tahun, dengan menyembunyikan informasi dari Dewan Eksekutif dan kadang-kadang menyesatkan dan menipu para direktur. Bagi negara-negara di Utara, kita melihat bahwa Bank Dunia adalah alat politis dan keuangan yang tepat di dalam usaha menutupi kontradiksi-kontradiksi hubungan ekonomi Utara dan Selatan yang tidak adil dan memberi alasan untuk menghindari urusan yang banyak berhubungan dengan penghapusan utang. Baru-baru ini Bank Dunia berpura-pura mendukung terhadap tekanan publik sehubungan dengan krisis ekologi global dengan melakukan suatu tindakan kosmetis. Sebagai sebuah lembaga, Bank Dunia tidak cocok untuk mengatasi masalah-masalah ini atau memecahkannya, tetapi melayani pemerintah sebagai alibi curang yang berbahaya dan selanjutnya menjadi ilusi bahwa sesuatu sedang dilakukan sementara masalah-masalahnya makin memburuk.

Walaupun para menteri dan pejabat pemerintah Selatan memprotes struktur pengambilan suara Bank Dunia yang didominasi Utara dan taktik bernegosiasinya yang arogan, mereka menjadi kecanduan pada pinjamannya. Pinjaman tahunan Bank Dunia dunia sebesar 24 miliar dolar AS tidaklah lebih daripada mesin perlindungan politis global tanpa ada sesuatu yang bisa dijadikan teladan dalam sejarah dunia, sesuatu yang melumasi alat-alat birokrasi keuangan, perencanaan, energi, dan pertanian -- dan ambisi kader-kader mereka – di seluruh dunia berkembang.

Dalam waktu dekat, Bank Dunia akan terus menempati ruang politik internasional yang unik, sejenis dengan pendapat Archimides bahwa pengaruh yang kuat dapat digunakan pada tempat-tempat tertentu di bumi pada waktu tertentu. Dalam jangka waktu yang lama, daya tariknya bagi pemerintah tidak ada hubungannya dengan apa yang sedang dikerjakan atau dikembangkannya pada saat tertentu, dan segalanya berhubungan dengan maksud politis di tempat dia beroperasi. Pengaruh yang dapat digunakan dari maksud ini, ketika digunakan secara tidak benar, telah memasukkan kehidupan ke dalam skema-skema bencana yang tidak terhitung, yaitu kalau tidak kematian yang wajar karena tidak cukupnya biaya, adalah terbagi-baginya dukungan domestik. Dapatkah pengaruh ini digunakan untuk membantu membuka lapangan bagi masyarakat sipil global yang berhadapan dengan pemerintah, untuk mengembangkan koevolusi dan koadaptasi yang diperlukan antara pemerintah, gerakan-gerakan sosial dan lingkungan? Dapatkah Bank Dunia secara radikal direstrukturisasi agar mencerminkan nilai-nilai masyarakat sipil global yaitu bertanggung jawab, fleksibel, transparan, kebebasan, dan kepedulian.

Meskipun ada dasar-dasar yang tak terhitung bagi pesimisme, merestrukturisasi Bank Dunia bukanlah kemustahilan, tetapi menjadi pertanyaan bagi kebijakan politik internasional. Mari kita meringkas beberapa prasyarat bagi perubahan seperti itu.

Soal kemampuan mendukung adalah yang terpenting, seluruh perubahan bergantung padanya. Kemampuan mendukung tidak dapat ada tanpa transparansi. Kita mungkin ingat analisis Max Weber mengenai kekuasaan birokratis yang dia pandang didasarkan terutama pada penguasaan informasi mengenai "rahasia resmi". Kebebasan penuh dalam informasi adalah sebuah prasyarat bagi lembaga publik apapun yang patut mendapat nama internasional. Ini berarti akses publik pada dokumen-dokumen Bank Dunia, terutama pada tahap awal persiapan proyek. Tanggapan Bank Dunia yang standar terhadap tantangan ini adalah meminta kedaulatan nasional para peminjamnya. Ironisnya, mungkin merupakan satu-satunya contoh di mana dalam praktiknya Bank Dunia secara konsisten menghormati prinsip ini. Kedaulatan nasional juga merupakan sebuah konsep pencerahan, konsep yang bertambah kuat selama 500 tahun, hingga pertengahan abad ke-20, tetapi makin ditentang oleh kenyataan-kenyataan ekonomi, sosial, dan ekologi global yang baru.60 Dan kedaulatan tidaklah mutlak, tetapi mendapat legitimasinya dari persetujuan yang diberi informasi dan partisipasi dari yang diperintah.61

Menurut Deklarasi Hak-hak Asasi Manusia PBB, "Kehendak rakyat akan menjadi basis dari kekuasaan pemerintah".62 Banyaknya gerakan masyarakat sipil global menunjukkan bahwa pemerintah tidak lagi dapat berjalan dengan menyembunyikan informasi mengenai proyek-proyek pembangunan dari rakyat yang terkena pengaruhnya, dan dalam kasus Bank Dunia, dari warga negara pembayar pajak yang mendanai dan menjamin proyek-proyek Bank Dunia. Inti dari proses AMDAL adalah melibatkan akses publik terhadap informasi dan partisipasi dalam dengar pendapat yang sungguh-sungguh terbuka untuk mempertimbangkan alternatif-alternatif yang ada sebelum keputusan-keputusan pembangunan berjalan.63 Bank Dunia terlambat melembagakan prosedur AMDAL pada awal tahun 1990-an, dan saat ini mendesak pemerintah untuk memasyarakatkannya.

Namun, sekalipun seluruh AMDAL dimasyarakatkan, toh sebagian besar informasi yang diperlukan mengenai proyek-proyek Bank Dunia masih menjadi rahasia. Ancaman-ancaman baru dari Kongres Amerika Serikat untuk tidak memberikan pendanaan, mendorong Bank Dunia untuk mengeluarkan kebijakan informasi yang baru pada bulan September 1993. Akan tetapi sedikit yang baru: pada tahap krisis yang menuju pada persetujuan pinjaman. Semua dokumen Bank Dunia masih rahasia, dengan sedikit perkecualian, dua atau tiga halaman "dokumen informasi proyek" yang telah dibuat bersih. Thomas Jefferson pernah menulis, "Seandainya aku harus memutuskan apakah kita sebaiknya memiliki pemerintahan tanpa surat kabar, atau surat kabar tanpa pemerintahan, aku tidak akan ragu-ragu lagi untuk memilih yang terakhir."64 Tidak memiliki Bank Dunia adalah lebih baik daripada memiliki Bank Dunia yang beroperasi tanpa kebebasan informasi.

Pada praktiknya, kemampuan mendukung dalam sebuah lembaga seperti Bank Dunia akan memperlihatkan lebih dari sekadar akses publik yang penuh terhadap informasi. Max Weber menekankan pentingnya fungsi peninjauan dan penyelidikan parlemen, dengan kekuasaan investigatif penuh yang "bebas dari maksud baik para pejabat". Bagi Bank Dunia, Komisi Morse hanyalah sesosok mayat, sebuah kejadian yang sebelumnya tidak pernah terjadi dalam sejarah lembaga-lembaga internasional. Efektivitasnya sebagai penyelidik yang benar-benar independen didasarkan pada akses penuhnya terhadap berkas-berkas internal Departemen Pedesaan India dan kebebasan mutlak dari administrasi Bank Dunia. Tetapi syarat-syarat referensinya dibatasi, dan pengabaian rekomendasi-rekomendasinya oleh manajemen Bank Dunia menimbulkan ketakutan di seluruh dunia.

Sebuah bank Dunia yang telah diperbaiki harus diawasi oleh sejenis Komisi Morse yang permanen, komisi yang dapat disusun oleh wakil-wakil masyarakat sipil di seluruh dunia, termasuk ahli-ahli lingkungan, akademisi, rohaniwan, kelompok hak asasi manusia, kelompok keadilan sosial, dan lain-lainnya. Suatu "komisi banding independen"l) seperti itu akan memiliki kekuasaan penuh untuk menyelidiki keluhan-keluhan tertentu mengenai pelanggaran hak-hak asasi manusia dan lingkungan pada operasi-operasi Bank Dunia, dan akan memiliki akses penuh terhadap berkas-berkas Bank Dunia. Pada musim gugur tahun 1993, Bank Dunia mempersiapkan --sekali lagi sebagai tanggapan terhadap kecaman internasional yang meningkat-- sebuah proposal bagi sebuah "panel pemeriksa" yang lebih lemah kemandirian serta sumber daya manusianya daripada OED. Rekomendasi "panel pemeriksa" tidak akan memiliki kekuatan, dan laporan-laporannya mengenai masalah-masalah dalam proyek-proyek yang sedang berjalan tidak akan diterbitkan sampai manajemen dan para Direktur Eksekutif telah memutuskan tindakan yang akan diambil. Pemerintah-pemerintah pemegang saham utama Bank Dunia seharusnya ditekan agar memerintahkan Dewan Eksekutif untuk mengubah anggaran rumah tangga guna membentuk komisi banding yang benar-benar independen sehingga dapat mengharuskan manajemen untuk mengikuti petunjuk-petunjuknya.

Aspek lain dari akuntabilitas menyangkut tanggung jawab staf Bank Dunia terhadap pelaksanaan proyek. Betapapun buruk rancangan dan pelaksanaan proyek itu, betapapun tragisnya akibat yang ditanggung manusia dan lingkungan, betapapun mencolok dan sinisnya pelanggaran terhadap kebijakan dan perjanjian bank, tak ada seorang pun yang bertanggung jawab. Sekarang, banyak di antara anggota staf Bank Dunia yang terlibat secara mendalam pada proses perencanaan dan pelaksanaan proyek yang menimbulkan kegagalan terbesar di bidang sosial dan ekologis selama dasawarsa lalu telah dipromosikan, bahkan laporan-laporan intern Bank Dunia mendokumentasikan penindasan pandangan-pandangan penolakan mereka dan suatu pola menyesatkan di tingkat manajemen senior dan Dewan Eksekutif.

Mengutip dua contoh yang tidak khas: orang yang bertanggung jawab terhadap usaha-usaha hubungan masyarakat Bank Dunia untuk mengecilkan permasalahan-permasalahan dalam program Polonoroeste selama pertengahan tahun 1980-an dipromosikan sebagai petugas lingkungan pada Departemen Pedesaan India Bank Dunia pada akhir tahun 1980-an. Dia kemudian berhasil mempromosikan diteruskannya dukungan Bank Dunia terhadap proyek Bendungan Sardar Sarovar di hadapan kecaman internal yang berkembang dari staf lingkungan Bank Dunia dan protes rakyat yang berkembang di India dan di seluruh dunia. Dia memainkan peranan penting dalam membantu merancang tanggapan-tanggapan manajemen Bank Dunia yang menentang rekomendasi dari laporan Komisi Morse. Pada akhir tahun 1992, Bank Dunia mempromosikannya untuk mengepalai suatu divisi lingkungan yang mengawasi pinjaman Bank Dunia pada delapan republik bekas Uni Soviet. Direktur Pedesaan Bank Dunia untuk Brasil pada akhir tahun 1980-an memainkan peran sentral dalam pelaksanaan proyek Carajas, Dia adalah staf terpenting Bank Dunia yang ditugaskan untuk mencoba mendesak melalui pinjaman sektor pembangkit tenaga listrik Brasil yang kedua pada tahun 1987-1988, dan juga proyek Manajemen Sumber Daya Alam Rondonia pada tahun 1990. Pada Oktober 1992 dia ditunjuk untuk menduduki jabatan yang baru saja dibuat, sebagai wakil presiden untuk sumber daya manusia, sebuah promosi yang semakin mendemoralisasi staf lingkungan Bank Dunia dengan keseringannya mengabaikan peringatan dari Departemen Pedesaan Brasil.

Di samping kekurangan kemampuan mendukung, kita telah melihat dan menganalisa bagaimana sepanjang keberadaannya Bank Dunia diganggu oleh dosa kedua --tekanan untuk meminjam, yang dari awal didorong oleh kekurangan "proyek-proyek yang layak dibiayai", dan pada tahun-tahun berikutnya diperburuk oleh kesulitan pengalihan keuntungan negatif yang khas dari Bank Dunia, yang diajukan oleh kelompok terbatas peminjam dari negara berkembang. Pada tahun 1992 laporan Wapenhans yang telah kita bahas pada bab terdahulu, mengungkapkan gambaran kegagalan sebuah lembaga yang benar-benar di luar pengawasan, di mana tekanan untuk memberikan pinjaman telah menenggelamkan seluruh pertimbangan lain.

Ada tanda--tanda baru bahwa tekanan untuk memberikan pinjaman mungkin mengakar begitu dalam pada budaya kelembagaan Bank Dunia. Tanggapan pertama Bank Dunia terhadap laporan Wapenhans bukannya memperkuat kebijakan-kebijakan yang ada untuk menjalin kualitas proyek (lebih awal telah kita lihat, kebijakan-kebijakan itu dikenal sebagai "petunjuk-petunjuk operasional" atau ODS), tetapi menyimpulkan bahwa kebijakan-kebijakan itu terlalu rumit dan sulit dilaksanakan. Akibatnya, pada awal tahun 1993 manajemen Bank Dunia mengumumkan kepada stafnya bahwa manajemen akan mengeluarkan kembali semua ODS utama -- contohnya mengenai perpindahan paksa, AMDAL, perlindungan masyarakat adat sebagai "kebijakan operasional" baru yang disederhanakan dan kurang spesifik sebagai suatu "kebijakan operasional."

Diperlukan hampir satu tahun bagi manajemen Bank Dunia untuk merumuskan rencana tindakan yang lebih menyeluruh, untuk mengatasi masalah-masalah yang digambarkan Wapenhans. Tindakan yang diusulkan, yang diajukan pada musim semi tahun 1993 kepada para direktur eksekutif dalam sebuah dokumen berjudul "Langkah-langkah Berikutnya", begitu tidak memadainya sehingga eksekutif mengembalikan dokumen itu dan meminta untuk direvisi total. Pada pertemuan dewan pengurus di awal Mei tahun 1993, direktur eksekutif Amerika Serikat mengeluh bahwa tindakan-tindakan yang diharapkan tidak cukup konkret untuk dapat dipantau. Dia memperingatkan, "mereka yang memusuhi Bank Dunia," akan menggunakan "Langkah-langkah Berikutnya" sebagai bentuk tanggapan Bank Dunia yang tidak serius terhadap kritik masalah-masalah pelaksanaan proyek.65 Di bawah kisaran dan pusaran kebijakan-kebijakan baru dan rencana-rencana aksi yang menarik perhatian dari para pengamat luar, arus penggerak yang terpendam pada birokrasi Bank Dunia diam-diam mengalir dengan kontinuitas yang tidak dapat ditawar-tawar. Menurut salah satu direktur eksekutif yang dikutip dalam the Economist, "Langkah-langkah Berikutnya" penuh sidik jari Ernie (Stern’s).66

Tekanan untuk memberikan pinjaman, kita ingat, berasal dari dalam ataupun luar: tekanan datang dari negara-negara anggota Bank Dunia, dan betul-betul diperkuat oleh kecenderungan alam lembaga-lembaga terhadap pembesaran birokrasi. Tekanan ini tidak akan berkurang tanpa perintah-perintah yang kuat dan jelas dari negara-negara pemegang saham utama Bank Dunia. Bahkan, yang lebih penting, negara-negara ini harus mengambil tindakan untuk mengurangi paksaan ekonomi yang sangat besar di negara-negara yang lebih miskin --paksaan-paksaan yang memberikan alibi terhadap pinjaman Bank Dunia. Tujuan Bank Dunia terutama memberikan pinjaman untuk proyek-proyek, tetapi selama dasawarsa lalu negara-negara industri, yang dipimpin oleh Amerika Serikat mendorong Bank Dunia untuk meningkatkan pinjaman sebagai alternatif terhadap pengampunan bagian utang swasta yang besar. Komponen devisa dari proyek-proyek besar digunakan untuk membantu menghindarkan kelalaian pada bank-bank internasional dan pemerintah, suatu tujuan, yang kita lihat, sama sekali menumbangkan semua pertimbangan kualitas proyek.

Bank Dunia seharusnya tidak lagi digunakan sebagai mesin penggerak uang untuk mengatasi ketidakseimbangan makroekonomi global yang penyelesaian nyatanya terletak pada persetujuan ekonomi global baru antara Utara dan Selatan. Unsur penting dari persetujuan ini termasuk penghapusan utang dan menurunkan rintangan-rintangan protektif terhadap ekspor dari negara-negara berkembang. Dua tindakan ini saja tiap tahunnya akan mentransfer kembali 10 miliar dolar AS ke Selatan. Transfer keuntungan negatif ke Utara yang berhubungan dengan utang jumlahnya lebih dari 50 miliar dolar AS tiap tahun, dan tarif serta pembatasan perdagangan lainnya menghilangkan pendapatan ekspor negara-negara berkembang paling tidak 60 miliar dolar AS lagi tiap tahunnya. Rintangan perdagangan terhadap ekspor tekstil negara berkembang saja membebani kira-kira 24 miliar dolar AS per tahun.67

Walaupun tanpa penghapusan utang dan perbaikan perdagangan besar-besaran, transfer keuntungan negatif kepada Bank Dunia tidak akan menjadi masalah bagi para peminjam jika pinjaman itu benar-benar membantu mereka untuk "berkembang". Agaknya, proyek Bank Dunia tidak akan lebih daripada memperoleh kembali dana yang telah dikucurkan. Tetapi ketergesaan Bank Dunia dalam memberikan pinjaman menunjukkan bahwa kualitas-kualitas proyek yang dibiayai telah menurun selama bertahun-tahun. Kita telah melihat, bahkan dalam hubungan ekonomi yang murni konvensional, proyek-proyek yang mengalami kegagalan ini jumlahnya mengkhawatirkan, belum lagi kerusakan besar di bidang ekologi dan sosial yang ditimbulkan. Akan adil jika saja Bank Dunia membebaskan utang yang dipinjam oleh banyak negara yang mengalami masalah transfer keuntungan negatif ini, terutama karena banyak dari negara-negara ini -- seperti Brasil -- juga merupakan tempat kegagalan pembiayaan Bank Dunia yang terburuk. Mencatat pinjaman dan kredit bank di Afrika juga tepat, jika kepentingan rakyat miskin benar-benar merupakan prioritas. Di Afrika, pinjaman dari Bank Dunia dan IMF nilainya 36 persen dari total utang luar negeri. Uganda meminjam 62 persen utangnya hanya pada Bank Dunia. Utang itu menghabiskan lebih dari sepuluh persen pendapatan ekspor delapan negara Sub-Sahara, dan lebih dari sepertiga pendapatan Zambia dan Uganda.68

Bank Dunia dengan penuh nafsu menentang pembebasan utang apa pun dari pihaknya sendiri, dengan menunjukkan bahwa peringkat kredit IBRD akan menurun, dan biaya pinjamannya pada pasar modal internasional akan meningkat --sesuatu yang diklaimnya akan berjalan secara langsung pada para peminjam di masa depan. Tetapi peringkat kredit Bank Dunia tidak bergantung pada pembayaran kembali semua pinjamannya oleh anggota-anggota yang sedang berkembang; peringkat kredit Bank Dunia bergantung pada jaminan (modal yang dapat ditarik kembali) dari anggota-anggota negara industrinya untuk menyokong setiap dolar yang dipinjam kalau ada kelalaian atau pembebasan utang.

Pada kenyataannya, Bank Dunia dapat membayarkan miliaran dolar AS utang negara peminjam tanpa menyentuh modal yang dapat ditarik kembali dari Kelompok Tujuh. Bank Dunia memiliki 18,5 miliar dolar AS cadangan cair yang dikelolanya dalam dana investasi semipermanen, yang ditempatkan pada obligasi pemerintah dan perusahaan kelas tinggi. Bunga yang diperoleh Bank Dunia dari portofolio saja jumlahnya sekitar 1,13 miliar dolar AS pada tahun 1993.69 Dana ini ada selama berpuluh-puluh tahun, dan sejak tahun 1985 tidak pernah berada di bawah 17 miliar dolar AS. Bank Dunia adalah investor obligasi kelembagaan tunggal terbesar di bumi, seorang Midas global tanpa tandingan.

Negara-negara pemegang saham utama Bank Dunia dapat dengan mudah memerintahkannya memberikan 10 miliar dolar AS dana ini kepada peminjam-peminjamnya yang termiskin dan terlilit kesulitan ekonomi untuk meringankan beban utang mereka.m) Memang, Oxfam telah mengusulkan hal ini bagi Afrika, setelah secara langsung menyaksikan kerusakan sosial yang ditimbulkan oleh program-program penyesuaian Bank Dunia-IMF.70

Semua permasalahan ini -- kebutuhan akan mutu proyek pada bantuan yang ada, dan kebutuhan akan perjanjian yang adil bagi negara-negara berkembang dalam hal perdagangan dan keringanan utang -- merupakan hal-hal yang harus dipaksakan oleh opini publik dan masyarakat sipil global kepada Kelompok Tujuh agar menghadapinya dan bukan mengabaikannya seperti pada kasus di KTT Bumi.

Jika Bank Dunia berfokus pada mutu proyek, dengan konsultasi, partisipasi, dan akses terhadap informasi yang penuh dari publik, pinjaman akan jauh lebih sedikit, dan lebih kecil, tetapi lebih baik. Bank Dunia akan menjadi lembaga yang jauh lebih sederhana, tetapi mungkin mampu membuat perbedaan yang nyata melalui teladannya. Kita telah melihat bahwa pendekatan-pendekatan teknologi yang lebih berwawasan lingkungan -- contohnya efisiensi energi pengguna akhir dan pertanian alternatif, sebagai contoh-- semuanya melibatkan lebih banyak masukan informasi, staf kerja yang terampil, dan keselarasan dengan keadaan lokal, serta lebih sedikit uang untuk energi dan modal. Semua ini berarti pembalikan perspektif yang sederhana tapi total: meskipun Bank Dunia berfokus pada kebutuhan-kebutuhannya sendiri dalam mencari kemungkinan "keuntungan komparatif" dari pinjaman besar dengan kerja staf yang paling sedikit, prioritasnya harus diidentifikasi menurut kebutuhan-kebutuhan nyata komunitas lokal dan ekosistem pada negara-negara berkembang. Bagian inti yang kecil dari pinjaman Bank Dunia yang digunakan untuk program-program pendidikan, kesehatan, dan kependudukan pada tahun-tahun terakhir ini --kira-kira 13 persen pada tahun 1992-- seharusnya tetap dipertahankan. Akan tetapi pinjaman ini bahkan dikecam karena pendekatan atas-bawahnya dan kurang sensitif terhadap kebutuhan-kebutuhan lokal, serta pendekatan dasarnya perlu ditinjau kembali.

Masih akan ada sebuah peran bagi pinjaman kebijakan nonproyek, demikian juga bagi pinjaman penyesuaian, tetapi sekali lagi perspektifnya harus dibalik. Kebijakan-kabijakan ini seharusnya mendorong anggaran yang seimbang dan penyusunan prioritas dan kebijakan internasional untuk menciptakan kemitraan yang konstruktif dan saling membangkitkan antara negara dan masyarakat sipil --bukannya membalikkan perekonomian sehingga kembali menjadikan mereka sebagai mesin ekspor untuk melayani utang dengan akibat kerusakan pada lingkungan, pelayanan sosial, dan hak-hak warga negara.

Dapatkah bank-bank pembangunan multilateral menjadi efektif dalam pendekatan seperti itu? Ada beberapa mekanisme dan sesuatu yang bisa dijadikan contoh. Beberapa tahun setelah dibentuknya Yayasan Inter-Amerika, Bank Pembangunan Inter-Amerika mendirikan fasilitas proyek kecil untuk menunjukkan bahwa bank tersebut juga sanggup menangani proyek-proyek untuk entitas swadaya masyarakat. Selama lebih dari 20 tahun, fasilitas proyek kecil itu telah mengeluarkan 10 juta dolar AS tiap tahun untuk membiayai kira-kira 20 proyek kecil milik LSM, perusahaan kecil, dan koperasi. Bekas Kepala Penasihat Legal Bank Inter-Amerika, Jerome Levinson, mencatat bahwa Bank Dunia dan MDB-MDB lain telah memiliki sebuah mekanisme pada penentuan mereka, yang dinamakan pinjaman global, yang memungkinkan mereka memberi kan pinjaman "pada lembaga keuangan parantara yang kemudian meminjamkan sumber-sumber itu kepada pengguna terakhir, contohnya perusahaan industri atau pertanian kecil."71 (Jelas pinjaman seperti itu memerlukan persiapan dan pengawasan yang cermat, dan dimasa lalu beberapa di antaranya -- seperti pinjaman besar pada lembaga kredit pertanian -- lebih memperburuk masalah ekologi dan ketidakadilan sosial daripada meringankannya.)

Tidak ada lagi alasan mengapa Bank Dunia dan lembaga-lembaga anggotanya tidak dapat membuat efisiensi end-use dan konservasi sebagai prioritas dalan negoisasi dengan kementerian energi, atau prioritas pemberdayaan pertanian alternatif dan petani lokal ketika berusan dengan kementerian pertanian. Pejabat-pejabat Bank Dunia mungkin takut jika permintaan pinjaman akan menurun drastis jika pendekatan ini diambil dan pinjaman yang disetujui lebih sedikit dan melibatkan lebih banyak kerja staf. Dan bila hal ini menjadi kasus, jelas sekali bahwa kepentingan jangka panjang ekologi global dan masyarakat sipil global secara langsung berselisih dengan insentif dan prioritas kelembagaan Bank Dunia pada saat ini.n)

Hal itu membawa kita pada GEF. Ironisnya, pada saat ini, ketika bentuk-bentuk perencanaan dan manajemen lain yang terpusat secara berlebihan sedang jatuh atau dalam krisis di seluruh dunia, negara-negara industri hanya mendukung pendekatan seperti itu melalui GEF. Kita telah melihat bagaimana GEF sejak awal telah tumbang sebagai alat untuk "menyempurnakan" tugas utama Bank Dunia sebagai pemberi hutang. Sebagai "keturunan" Bank Dunia yang termuda, tetapi tumbuh dengan bersemangat, tampaknya GEF sejauh ini telah mewarisi dengan sepenuh hati gen "orang tuanya" untuk menggerakkan uang dengan cepat dan mengabaikan mutu, untuk menyembunyikan informasi, dan kekurangan kemampuan mendukung dalam pembuatan keputusan.o)

Bahkan, dalam konteks konvensi internasional, pemecahan-pemecahan khusus terhadap masalah-masalah lingkungan paling baik dapat bangkit, diuji, dan diadaptasikan, dalam konteks lokal yang lebih fleksibel. Sebuah contoh yang tepat yang diajukan kelompok-kelompok swadaya masyarakat pada pertemuan Beijing, Mei tahun 1993, merupakan indikasi berlanjutnya masalah-masalah yang berakar pada pendekatan GEF yang cacat. Proyek keanekaragaman hayati yang diajukan GEF untuk melindungi spesies primata yang terancam di sepanjang Sungai Tana di Kenya timur laut, pada saat yang sama, mempertimbangkan pemaksaan pemukiman kembali penduduk lokal di wilayah itu. Dalam mempersiapkan proyek itu, Bank Dunia mengabaikan penelitian Masyarakat Hidupanliar Afrika Timur yang memperlihatkan bahwa primata-primata terancam hidup dalam simbiosa dengan penduduk lokal, dan jumlahnya lebih banyak di sekitar pemukiman manusia. Memang, menurut Masyarakat Hidupanliar Afrika Timur, konstruksi hulu dari bendungan dan skema irigasi memperbesar degradasi ekosistem dan habitat primata Sungai Tana. Beberapa proyek ini dibiayai oleh Bank Dunia. Proyek primata GEF ini akan dihubungkan dengan pinjaman pertanian Bank Dunia yang baru.72

Sekali lagi, kita melihat bahwa kelangsungan hidup GEF berhubungan dengan kebutuhan akan perbaikan yang luas pada Bank Dunia secara keseluruhan, juga pada badan-badan bantuan pembangunan internasional lainnya. Saat ini GEF membantu menyebarkan kekeliruan besar, yaitu bahwa masalah-masalah lingkungan global adalah persoalan negara-negara industri yang menyumbang tambahan beberapa miliar dolar AS untuk proyek-proyek yang lainnya (dalam hal ini proyek-proyek "hijau"), sementara yang 60 miliar dolar AS tiap tahunnya (pada tahun 1993) untuk bantuan pembangunan resmi terus dilanjutkan. Seluruh pendekatan lebih banyak uang untuk lebih banyak proyek merupakan pendekatan yang sama sekali berlawanan dari sudut keseimbangan ekologi. Apa yang dibutuhkan bukanlah "lebih banyak", melainkan "berbeda" – suatu pendekatan yang berbeda terhadap pembangunan ekonomi di Selatan dan Utara yang menekankan ekologi dan komunitas lokal, yang makin menggantikan bahan-bahan mentah modal fisik dan energi dengan modal manusia: yaitu, informasi, keterampilan, dan pendekatan yang selaras secara lokal dan fleksibel.

Pendekatan seperti ini masih meluas, sekalipun lebih lambat, bagaimanapun ada tingkat mutlak tekanan ekologi global dan ada batas-batas nyata terhadap pertumbuhan material tanpa akhir. Perdebatan yang utama tampaknya adalah apakah kita memiliki waktu beberapa dasawarsa ataukah satu abad sebelum kita mencapainya atau melampauinya.p) Kemungkinan bahwa penilaian ekologis yang lebih pesimistis ini sebagian, bahkan mencapai sasaran menegaskan dibutuhkannya penghentian penolakan bersama terhadap kesulitan global kita oleh pemerintah dan organisasi-organisasi internasional. Penolakan ini didasarkan pada kepercayaan asing bahwa masa depan akan selalu menyediakan lubang-lubang jalan keluar secara teknologis, asalkan ada cukup uang untuk membayar seseorang untuk membongkar lubang itu agar terbuka.

Akhirnya untuk menciptakan kembali Bank Dunia sebagai lembaga yang mampu mendukung dan bertanggung jawab, diperlukan perubahan anggaran dasar untuk memasukkan tujuan-tujuan dan nilai-nilai lainnya, yaitu yang sepadan dengan nilai-nilai masyarakat sipil global. Jerome Levinson menyarankan anggaran dasar Bank Dunia dan lembaga keuangan multilateral lainnya diubah agar mereka terlibat pada promosi nilai-nilai demokrasi, hak asasi manusia, dan keadilan sosial, dan juga kesejahteraan ekonomi.73 Keseimbangan ekologi dan pelestarian bentuk-bentuk kehidupan lain yang berbagi planet ini dengan kita, seharusnya juga ditambahkan sebagai komitmen penuntun. Anggaran dasar Bank Eropa untuk Rekonstruksi dan Pembangunan (EBRD), sebuah bank multilateral yang didirikan pada tahun 1990 untuk membiayai rekonstruksi Eropa Timur dan republik-republik bekas Uni Soviet, mengikat EBRD pada "prinsip-prinsip dasar demokrasi multipartai, pemerintahan berdasarkan hukum, penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia dan pasar bebas," dan khusus sebagai salah satu fungsi utamanya (sedang) menyuarakan persoalan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan."74

Namun, ada beberapa keberatan di sini. Memperbarui anggaran dasar Bank Dunia agar memasukkan tujuan-tujuan ini akan menjadi satu-satunya langkah pertama yang diperlukan dan sama sekali tidak memadai untuk memasukkan nilai-nilai masyarakat sipil global. Mengubah anggaran dasar Bank Dunia bukanlah tugas yang mudah. Mengamandemen pasal-pasal pada Piagam Persetujuan memerlukan 85 persen suara dan tiga perlima anggota.

Yang lebih menyulitkan, dalam praktiknya EBRD telah menjadi yang terburuk di antara model-model yang tepat bagi perbaikan bank multilateral. Meskipun anggaran dasarnya progresif, birokrasinya menolak untuk memasukkan langkah-langkah praktis bagi partisipasi publik dan kebebasan mengakses informasi. Hanya dua tahun setelah mendirikan lembaga itu, negara-negara anggotanya sudah mengeluh tentang kurangnya keterbukaan dan pertanggungjawaban.75 Dan saudara muda terbaru Bank Dunia ini telah menjadi subjek skandal dan hal-hal yang memalukan. Presiden pertamanya, Jacquea Attali, dan manajemen menghamburkan sekitar 300 juta dolar AS untuk kemewahan staf yang suka pamer, termasuk jet pribadi untuk Attali, pesta-pesta Natal mewah, instalasi karya seni mewah, dan patung marmer berkualitas dalam sebuah bangunan yang renovasinya menelan biaya 80 juta dolar AS, meskipun sebenarnya masih dapat dipergunakan untuk hal lain. Biaya itu dua kali lipat dari jumlah uang yang telah dipinjamkan selama riwayat singkatnya.76

Di manakah hal ini meninggalkan kita? Apakah Bank Dunia begitu cacat pada konsepsi dasarnya, begitu tidak tanggap terhadap tekanan-tekanan bagi perubahan dari luar, begitu koyak oleh kontradiksi-kontradiksi pada organisasi pokoknya, sehingga usaha merestrukturisasinya secara radikal mungkin mustahil dan hanya membuang-buang tenaga? Riwayat Bank Dunia selama ini menunjuk pada kesimpulan ini, tetapi proses tekanan publik internasional bagi perubahan yang lebih terorganisasi menunjukkan bahwa hal itu tidak terhindarkan. Untuk saat ini, strategi yang paling mungkin dilakukan tampaknya adalah strategi bercabang tiga untuk mengurangi pendanaan Bank Dunia, mendukung berbagai lembaga dan jaringan kerja lain yang fleksibel, dan meminta pemerintah-pemerintah di dunia agar memenuhi agenda yang telah ditekankan pada KTT Bumi -- persetujuan global baru mengenai keringanan utang dan perdagangan yang adil antara Utara dan Selatan. Pemangkasan pada pendanaan akan menjadi pemicu terbesar reformasi. Inilah satu-satunya tekanan eksternal yang tampaknya akan diterima dengan sungguh-sungguh oleh manajemen Bank Dunia.

Pertengahan tahun 1990-an menandai sejumlah peringatan 50 tahun yang penting dalam sejarah seluruh sistem lembaga-lembaga publik internasional yang di dirikan setelah Perang Dunia II. Kita seharusnya ingat bahwa sistem ini diciptakan dengan harapan-harapan besar pada puing-puing bencana alam terbesar yang pernah dibuat manusia dalam sejarah. Tetapi sistem ini mengalami kegagalan. Inilah kesempatan yang tepat untuk mengadakan kampanye warga dunia untuk menilai kembali dan mengubah Bank Dunia. Jika perbaikan itu mungkin, setiap usaha harus dilakukan untuk menekan pemerintah agar menyalurkan sumber-sumber yang secara permanen jauh dari Bank Dunia ke dalam investasi alternatif, domestik, dan internasional. Tidak ada pilihan lain. Sistem dunia yang berkelanjutan akan mungkin hanya jika sistem itu mengakui dan didasarkan pada persoalan ekologi lokal dan persoalan sosial.

Pembangunan, Kebebasan, Kepedulian

Mungkin belum pernah lebih penting daripada sekarang untuk mengatakan apa yang mitos katakan: bahwa humanisme yang teratur tidaklah dimulai dari dirinya sendiri, tetapi mengembalikan hal-hal pada tempatnya. Dia menempatkan dunia di depan kehidupan, kehidupan di depan manusia, dan penghormatan pada yang lain di depan cinta diri. Inilah pelajaran yang oleh orang-orang yang kita sebut "Orang biadab" ajarkan kepada kita: pelajaran tentang kerendahan hati, kesopanan dan kebijaksanaan di hadapan dunia yang mendahului spesies kita dan akan mempertahankan kehidupannya.77

--Claude Levi-Strauss, 1972

Ada 5.100 bahasa yang digunakan di bumi. Dalam satu generasi kira-kira hampir seratus bahasa mungkin punah.78 "Bahasa adalah dunia," tulis Wittgenstein, dan adalah kebanggaan gila zaman kita yang menjadi kaki tangan dari pembasmian kejam terhadap hampir semua dunia manusia yang pernah ada. Inilah sekarat hebat dari ribuan kebudayaan dan sejarah jutaan pemikiran, perasaan, dan cara mengada di dunia yang telah kita ciptakan dan berada dalam ruang sosial bahasa-bahasa dan masyarakat-masyarakat yang melahirkan mereka. Tidak terhitung spesies makhluk hidup yang dinamakan hanya dalam lidah pribumi juga akan mati, spesies yang tidak teridentifikasi oleh ilmu dan akan hilang selamanya, seluruh dunia alam yang banyak melahirkan ribuan bahasa dan masyarakat ini. Sungguh, menurut E.O. Wilson dari Hardvard, 20 persen spesies yang ada di bumi mungkin musnah dalam satu generasi, dan merupakan "50 persen atau lebih," pemusnahan massal terbesar sejak kepunahan Cretaceos, 65 juta tahun lalu.79 Kita hampir tidak menyadari bahwa planet ini, sekarang diselimuti oleh sekarat besar manusia dan alam dunia, bagaimanapun, soal kematian pada awalnya hanya bagi mereka yang mati.

Di negara bagian Mato Grosso do Sul di Brasil, ada suku Indian Kaiowa, yang anggota-anggotanya, terutama yang muda, melakukan bunuh diri karena keputusan mutlak, mereka tercabut dari hutan yang bukan lagi dunia alam dan budaya mereka karena telah di musnahkan. Di penampungan Dourados, yang ditempati 7.200 orang Kaiowa, 20 orang bunuh diri pada tahun 1992, dan lebih dari 100 orang bunuh diri sejak tahun 1980-an; mereka menggantung diri atau minum racun. Baru beberapa tahun lalu mereka menganggap diri mereka sebagai keturunan matahari, seperti kata-kata salah seorang pemimpin mereka, "hutan-hutan telah ditebangi, burung-burung terbang jauh, dan ikan-ikan mati."80 Tampaknya mereka tidak banyak memiliki kepercayaan pada kekuatan-kekuatan substitusi dan perubahan struktural yang didorong pasar.

Sebagian besar dari yang lenyap itu tidak segera kelihatan memiliki banyak kegunaan bagi kebanyakan dunia yang diorganisasikan seperti saat ini. Kita telah melihat bahwa bentuk organisasi ini memandang seluruh planet ini sebagai bahan mentah, dapat dihabiskan untuk transformasi, substitusi, dan pertukaran. Kita menghadapi dunia ini seakan-akan berada dalam jaring kekuatan impersonal aneh; "teknologi otonomi" atau sebuah proses "pembangunan (yang) tidak dapat dihentikan" yang meliputi seluruh dunia. Menggambarkan keadaan dari hal yang secara historis tidak biasa ini sebagai "penyusun" yang menyertakan dan mengubah semua makhluk ke dalam "cadangan tetap," seperti yang dilakukan Heidegger, membuat kita berpikir tentang apa yang sedang terjadi dengan cara yang lebih asli, tetapi kelihatannya tidak menawarkan pemecahan apa pun.

Banyak wacana mengenai pembangunan, yang dapat mendukung atau sebaliknya, difokuskan hampir secara eksklusif pada cara, seolah-olah tujuan-tujuannya telah dipahami. Tetapi tujuan-tujuan yang dipertimbangkan dengan benar akan menuntun kita menuju cara yang tepat. Tujuan akhir itu adalah kebebasan, tidak hanya untuk bertahan hidup tetapi juga untuk membuka dan menyadari potensi-potensi manusia untuk hidup dalam pengertian yang paling lengkap mengenai dunia. Program Pembangunan PBB, dalam laporan pembangunan manusia pertamanya pada tahun 1990 mendefinisikan pembangunan sebagai, "proses yang memungkinkan penduduk mempunyai pilihan yang lebih beragam".81 H.W. Arndt pada kesimpulan dari risalahnya mengenai sejarah gagasan pembangunan, mengutip ucapan "ahli-ahli ekonomi pembangunan terbijak" bahwa "alasan bagi pertumbuhan ekonomi adalah bahwa dia memberi manusia pengawasan yang lebih besar terhadap lingkungannya, dan dengan demikian meningkatkan kebebasannya."82 dan di sinilah letak kekeliruan fatal tersebut.

Sebenarnya proyek pertumbuhan ekonomi pembangunan seperti yang dipraktikkan hingga saat ini adalah pengendalian yang lebih besar dan tentu saja pada akhirnya total terhadap lingkungan, satu proyek modernitas. Tetapi yang paradoks, semakin kita mengejar pengendalian dengan cara ini, kita semakin menemui bukti bahwa kita kehilangan pengendalian itu, apakah dalam indikator-indikator krisis ekologi global yang mengkhawatirkan, atau dalam ledakan-ledakan kekerasan politik dan sosial abad ke-20 yang menakutkan -- kekerasan yang sering 100 kali lipat lebih mematikan daripada episode-episode sebelumnya dalam sejarah, akibat dilaksanakannya efisiensi instrumental pada teknologi dan birokrasi modern.

Masalahnya terletak pada pengejaran kebebasan melalui proses yang merusak kemungkinannya. Pertumbuhan ekonomi dalam bentuknya saat ini telah mencapai titik di mana pertumbuhan itu telah melepaskan ikatan pemiskinan besar yang hampir tak terbayangkan melalui perusakan dalam waktu singkat terhadap sebagian besar dunia manusia dan terhadap sebagian bentuk kehidupan yang telah berkembang dan bertahan hidup di bumi. Konkretnya, peningkatan kebebasan umat manusia memerlukan pengekalan dan penciptaan kemungkinan-kemungkinan bagi individu dan masyarakat untuk memilih di antara masa depan yang berbeda-beda; artinya hidup dan bekerja di saat ini dengan cara seperti itu maksudnya untuk mengekalkan dan menciptakan pilihan masa depan sebanyak mungkin.

Memungkinkan adanya masa depan yang berbeda-beda, mendukung dan membangun keadaan nyata di mana kemungkinan-kemungkinan kemanusiaan dapat tumbuh subur, harus mulai dengan didasarkan pada pengawetan dan perbaikan keanekaragaman alam dan sosial yang ada. Jika kita merusak keanekaragamanhayati yang diberikan masa lalu kepada kita, kita juga merusak masa depan dan menciptakan masa sekarang yang sedikit lebih baik daripada penjara. Bagi orang-orang yang dunianya berada dalam puing-puing, seperti suku Kaiowa, perasaan terpenjara, perasaan tidak bermasa depan, secara menyeluruh, adalah sebuah sentimen yang semakin membusuk pada ruang sosial lain yang tergilas dan dibuang oleh ekonomi global, seperti gheto-gheto urban di negara-negara industri Utara.

Dan demikian juga paradoks: usaha sosial apapun yang menjamin dan mengembangkan pilihan-pilihan dan kebebasan manusia dimasa depan, jika mau berhasil, harus melindungi dan menjamin sebanyak mungkin kekayaan dan keragamanhayati dari apa yang sudah ada, yaitu masa lalu. Pendekatan seperti itu menciptakan kekayaan akan kemungkinan dan pilihan konkret pada saat ini. Melindungi keanekaragamanhayati itu penting bukan karena keanekaragaman hayati mungkin berguna atau menguntungkan (meskipun dalam beberapa hal memang demikian), melainkan karena dalam tindakan melindungi kita akan mulai menyelamatkan diri kita dari apa yang telah menjadi pengingkaran global yang menelan semuanya, pengingkaran yang pada akhirnya mengancam umat manusia sendiri. Pelestarian bukan hanya berkisar pada melindungi spesies yang berbeda atau melindungi budaya manusia yang berbeda, melainkan juga memungkinkan adanya masa-masa depan yang berbeda dan dunia-dunia yang berbeda. Inilah tindakan mendasar dari kebebasan bagi diri kita dan makhluk-makhluk lain.

Yang melindungi dan memungkinkan kebebasan ini adalah kepedulian-kepedulian sebagai suatu sikap dan cara berada di dunia yang menyimpan masa lalu alam dan manusia, dengan demikian menjamin masa depan dari bermacam-macam kemungkinan. Kepedulian seperti itu mewujudkan suatu pendekatan terhadap teknologi dan pembangunan yang melebihi dualisme Cartesian, yang mendasarkan praktik sosial dan ekonomi pada ketergantungan dan kesalingterkaitan manusia dengan ekosistem dan sistem sosial, dan mengimplikasikan pendekatan yang kurang agresif, lebih halus dan betul-betul dipertimbangkan terhadap intervensi manusia terhadap biosfer. Pendekatan ini lebih melihat pada ilmu pengetahuan sebagai sumber pemahaman, pengertian, dan adaptasi, daripada pada gagasan tidak masuk akal mengenai perkiraan dan pengawasan universal.

Goethe, ketika menuliskan bagian ke dua dari Faust, terinspirasi oleh sebuah mitos Latin kuno mengenai penciptaan umat manusia oleh Care.83 Suatu hari ketika menyeberangi sebuah sungai, Care (Cura) melihat tanah liat dan mengambilnya sedikit dan mulai membentuknya. Saat itu Jupiter lewat, dan Care memintanya untuk menghidupkan tanah itu dengan jiwa. Jupiter pun mengabulkan permintaan itu. Jupiter dan Care ingin memberi nama sendiri-sendiri pada makhluk baru itu, ketika Earth ikut campur dan menuntut agar makhluk itu dinamai menurut dia. Untuk menyelesaikan perselisihan itu, ketiga dewa itu akhirnya meminta nasihat pada Saturn, Dewa Waktu, yang merupakan dewa paling bijaksana dan penentu terakhir nasib semua makhluk. Saturn menyatakan bahwa Jupiter akan menerima jiwa saat kematian karena dia yang memberi jiwa pada makhluk itu; dari Earth-lah tubuh berasal, kepada Earth-lah tubuh akan kembali, dan dia akan dinamai Homo, manusia, karena dia dekat pada humus (bumi). "Tetapi," Saturn menyimpulkan, "Karena Care yang pertama membentuk makhluk ini, dialah yang akan memilikinya selama hidupnya."84

Care mempunyai dua perasaan primordial, yang artinya tidak tak berhubungan: kegelisahan, kesusahan, dan keprihatinan; juga perhatian, kesetiaan, perhatian penuh dalam arti tanggung jawab, pengawasan, dan perlindungan. Dalam kenyataannya, arti yang pertama, jika ditafsirkan dengan tepat, menimbulkan yang kedua. Bagaian kedua dari Faust, kita ingat, antara lain adalah sebuah parabel mengenai tragedi pembangunan modern. Care menghadap pada Faust; Faust menghinakannya, dan Faust dibutakan. Dia terus mengatur apa yang dia kira pekerjaan pembangunan raksasa, sedangkan dalam kenyataannya dia mengawasi penggalian kuburnya sendiri.

Pada kemunculan masyarakat sipil global ada sebuah teriakan secara serempak pada tingkat lokal dan global, teriakan meminta transformasi panjang dalam sikap-sikap dan perbuatan-perbuatan manusia. Evolusi ini memberi harapan, tetapi bukan kepastian, bahwa krisis pertanggungjawaban pada peradaban teknologi dunia dapat diatasi, bahwa batang-batang besi alasan instrumental tidak perlu menjadi kurungan yang mengikat nasib manusia, behwa penyerahan kolektif umat manusia pada anthropophagus technophilia dapat dihadapi dan diatasi.

Proyek dari masyarakat sipil global adalah kebebasan, kebebasan yang secara nyata berakar dalam ribuan kampanye untuk menyelamatkan warisan biologi dan budaya planet ini, kebebasan terhadap informasi dan pilihan diantara alternatif-alternatif, sebuah proyek untuk melindungi dan menciptakan pilihan-pilihan bagi mereka yang akan mewarisi bumi ini. Kebebasan ini, bagaimanapun juga, merupakan tujuan nyata dari apa yang umat manusia kejar melalui pembangunan. Dan kebebasan ini dijamin melalui tindakan-tindakan yang diilhami oleh kepedulian-kepedulian itu, ditunjukkan pada suatu hari di bulan November 1973 ketika para perempuan Desa Reni di Garwahl, Himalaya, India, berbaris menuju hutan, di hadapan pengusaha-pengusaha kayu, untuk memeluk pohon-pohon dan melindunginya.

*****

  ____________

  1. Para perempuan itu benar-benar melingkari pohon-pohon dengan tubuh mereka, memeluk pohon-pohon itu dalam sikap akhir melindunginya dan peduli-jadi "Chipko", yang berasal dari kata kerja bahasa Hindi artinya "memeluk". Protes-protes Chipko menyebar melewati Himalaya hingga ke wilayah-wilayah perbukitan berhutan di selatan India seperti Ghats Barat. Sebagai akibatnya, pada tahun 1981 Perdana Menteri India, Indira Gandhi, menyatakan pelarangan penebangan hutan selama 15 tahun di Garwahl Himalayas, wilayah tempat protes-protes Chipko berasal. Tetapi gerakan itu terus menyebar; aktivis Ghansian Sunderlal Bahuguna memimpin sebuah barisan yang berjalan kaki sepanjang 5.000 kilometer dari Khasmir ke Bhutan untuk menyebarkan pesan Chipko antara tahun 1981 dan 1983. Menurut Bahuguna, "Ekologi adalah ekonomi permanen" (Bahaguna, dikutip dalam Paul Ekins, A New World Order: Grassroot Movement for Global Change [London dan New York: Routledge, 1992,] 143). (Lihat Guha, The Uniquiet Woods [lihat catatan akhir II,] terutama hal. 152-84).
  2. Mereka berjuang menentang pembaruan konsesi hutan pada sebuah perusahaan kertas dan perkayuan besar, Fabricas de Papel Tuxtepec (FAPATUX). Mereka meluncurkan surat kabar mereka sendiri dan menyatakan dalam edisi pertamanya, "Kita tidak akan lagi mengizinkan sumber-sumber alam kita dibuang-buang, karena sumber-sumber alam itu adalah titipan dari anak-anak kita. Sumber-sumber hutan seharusnya berada di tangan komunitas kita." (David Barton Bray, "The Struggle for the Forest: Conservation and Development in the Sierra Juarez", Grassroots Development, vol. 15, no. 3 [1991], 15.)
  3. Kebutuhan kritis bagi keberhasilan jangka panjang dari sistem tanah milik umum adalah penjaminan secara hukum terhadap kedudukan tetap tanah dan hak-hak usufruct bagi komunitas-komunitas lokal. Lihat Stanley, "Demystifying the Tragedy of the Commons" (lihat catatan akhir), 35.
  4. Penting juga kiranya untuk mengingatkan kembali sejumlah contoh mengenai masyarakat yang keliru beradaptasi secara lingkungan dan ekonomi, di antara mereka cukup banyak yang "tradisional" atau "primitif". (Lihat Robert B. Edgerton, Sick Societies: Challenging the Myth of Primitive Harmony [New York: Free Press, 1992.] Maksudnya bukanlah bahwa masyarakat yang maju dalam industri harus maladaptif, dan masyarakat pedesaan atau pedalaman harus dalam keseimbangan dengan lingkungannya (keduanya dapat saja adaptif atau maladaptif), tetapi bahwa akibat-akibat maladaptasi dalam suatu budaya global tunggal mungkin menyebabkan bencana pada skala yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia.)
  5. Menurut aktifis India Vanda Shiva, "Global harus membungkuk pada lokal, karena lokal ada dalam alam, sedangkan ‘global’ hanya ada di kantor-kantor Bank Dunia dan IMF dan markas besar perusahaan-perusahaan multinasional. Lokal ada di mana-mana. Ruang ekologis dari ekologi global adalah integrasi dari seluruh lokal." (Vandana Shiva, "The Greening of Global Reach", The Ecologist vol 22. no. 6 [November/ Desember 1992], 258-259.)
  6. Istilah dalam konteks ini adalah milik Peter Drucker, dari buku dengan judul yang sama.
  7. Keluhan dari mantan Kepala Dewan Sekolah Negeri New York berikut ini bunyinya seperti sebuah metafora terperinci terhadap Bank Dunia. Gantilah ketua penanggung jawab dengan presiden, sekolah dan ruang kelas dengan program dan proyek, pengawas wilayah dengan direktur negara dan manajer tugas. Ketua penanggung jawab adalah eksekutif kepala dari birokrasi pusat byzantyne. Pertanyaan-pertanyaan tentang kualitas dan individualitas hilang di rawa-rawa. Birokrasi pusat tidak dapat berpikir secara kreatif. Dia sangat lamban beradaptasi dan berusaha mengawasi dan mengatur, bukannya memimpin dan mendukung. Pada waktu yang sama ketua penanggung jawab tidak memiliki otoritas langsung atas SD dan SLTP. Pengawas wilayah tidak melapor pada ketua penanggung jawab dan ketua penanggung jawab hanya memiliki sedikit alat yang tersedia untuk mengubah apa yang terjadi di tiap-tiap sekolah dan ruang kelas. Perubahan-perubahan kecil sepertinya menambah ukuran dewan pengurus pusat, atau menciptakan lebih banyak wilayah-wilayah lokal yang tidak akan menyelesaikan perbaikan nyata. Kita perlu belajar dari usaha-usaha restrukturisasi perusahaan, bahwa kurang diartikan menjadi lebih, sedangkan entitas monolitik tidak tanggap pada pelanggan ataupun berhasil di tingkat pasar….. kita butuh desentralisasi. (Anthony J. Alvarado, "No One Person Can Save New York City "Sosial Schools," New York Times, 20 Februari 1993, 19.)
  8. Thomas Hines menciptakan frase "kemajuan halus" untuk menggolongkan pendekatan ini. "kehalusan akan bergantung pada kecanggihan teknologi yang luas sekali, tetapi itu mungkin akan menjadi bagian yang mudah. Tugas yang berat tetapi penting sekali akan memerlukan banyak sekali mesin… masyarakat modern yang lepas dari pilot otomatis " (Hines, Facing Tomorrow [lihat catatan akhir 34], 240; lihat juga hal. 207-41.)
  9. Di Indonesia, sebuah program nasional IPM yang didukung oleh badan-badan bantuan bilateral dan FAO telah mengurangi pemakaian pestisida sebesar 50 persen antara tahun 1986 dan 1992, sementara produksi padi naik sebesar 14 persen. Subsidi insektisida tahunan sebesar 130 juta dolar AS dari Departemen Pertanian telah dihapus (Peter Kenmore, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, Manila, catatan pribadi, 23 Februari 1993). Baru pada tahun 1993 Bank Dunia mulai mendukung program ini.
  10. Bahkan, dalam kasus program IPM di Indonesia yang digambarkan pada catatan kaki sebelumnya, Bank Dunia enggan meninggalkan dukungan bagi para klien tradisionalnya di Departemen Pertanian, yang tidak mampu memberikan pelatihan IPM dan bimbingan kepada para petani yang seharusnya mereka layani.
  11. Meskipun menyalahkan manajemen Bank Dunia pada proyek itu, dia mendukung dilanjutkannya pendanaan proyek tersebut, karena menurutnya pemerintah India yang terpilih baru-baru ini seharusnya diberi kesempatan sekali lagi. Nasib dari hampir seperempat juta orang yang akan dipindahkan karena bendungan dan sistem kanal itu tampaknya tidak masuk dalam pertimbangannya.
  12. Frase ini pertama kali digunakan dalam konteks ini oleh Lory Udall dari Environmental Defense Fund.
  13. Bank Dunia berpendapat bahwa dia butuh portofolio obligasi besar "untuk memastikan fleksibilitas dalam keputusan-keputusan peminjamannya (IBRD) seandainya peminjaman itu merugikan karena dipengaruhi kondisi-kondisi sesaat dalam pasar modal" (Bank Dunia, Annual Report 1993 [lihat catatan akhir 69], 67.) Tetapi setengah atau sepertiga dari 18,5 miliar dolar AS yang dimaksudkan untuk tujuan-tujuan ini akan lebih dari cukup.
  14. Bank Dunia mengeluarkan kertas kerja kebijakan efisiensi energi baru pada awal tahun 1993, di dalamnya dinyatakan bahwa Bank Dunia akan "lebih selektif dalam peminjaman bagi proyek-proyek pembangkit listrik" dan bahwa "pendekatan-pendekatan untuk memenuhi demand-side management (DSM) dan persoalan-persoalan intermediasi energi pengguna-akhir akan diidentifikasi, didukung, dan diberi derajat yang tinggi dalam pandangan negara (Bank Dunia, Energy Effisiency and Conservation in the Developing World [Washington, D.C.: Bank Dunia, Januari 1993], 12). Tetapi kertas kerja itu tidak memiliki komitmen khusus terhadap pinjaman bagi efisiensi pengguna akhir yang meningkat -- yang menurut tinjauan sektor energi Bank Dunia pada tahun 1991, akan berjumlah hanya 1 persen dari pinjaman energi Bank Dunia untuk periode tahun 1992 hingga 1995. Pada pertengahan tahun 1993, Bank Dunia menyetujui pinjaman 400 juta dolar AS untuk memulai pengembangan produksi listrik tenaga batu bara sebesar 3.750 megawatt di wilayah Singrauli India (lihat bahasan pada Bab 2) -- tanpa ada pertimbangan mengenai efisiensi pengguna akhir dan alternatif "demand side manajemen". Jerman, Amerika Serikat, dan Belgia menolak menyetujui pinjaman itu karena alasan lingkungan.
  15. Pada bulan Mei 1993, wakil-wakil dari lebih dari 60 negara yang berpartisipasi bertemu di Beijing dan mendiskusikan sumbangan sebesar lebih lebih dari 5 miliar dolar AS untuk melengkapi GEF. Wakil Cina semula mengusulkan peringatan empat tahun pembantaian di Lapangan Tianamen sebagai agenda pertemuan, tetapi ini terlalu berlebihan untuk diterima oleh beberapa negara donor Barat, dan agenda itu pun diubah. Usulan Amerika Serikat bagi partisipasi publik yang lebih besar dan akses terhadap informasi kurang diterima dengan baik oleh negara-negara lain, termasuk beberapa negara Eropa dan Jepang. Tampaknya GEF akan meneruskan hubungannya dengan Bank Dunia, meskipun mungkin sebagai sebuah badan yang lebih otonom akan diidentifikasi, didukung, dan diberi derajat yang tinggi dalam pandangan negara" (Bank Dunia, Energy Effisiency and Conservation in the Developing World [Washington, D.C.: Bank Dunia, Januari 1993], 12.) Tetapi kertas kerja itu tidak memiliki komitmen-komitmen khusus terhadap pinjaman bagi end-use efficiency -- yang menurut tinjauan sektor energi Bank Dunia pada tahun 1991 akan berjumlah hanya 1 persen dari pinjaman energi untuk periode 1992-1995. Pada pertengahan tahun 1993, pinjaman terbesar Bank Dunia yang sedang dalam persiapan adalah kredit IDA sebesar $400 juta untuk memulai pengembangan peluasan produksi pembangkit listrik tenaga batu bara hingga 3.750 megawatt diwilayah Singrauli India (lihat diskusi pada Bab 2)-- tanpa ada pertimbangan mengenai end-use efficiency dan alternatif-alternatif demand-side management".
  16. Kita mungkin ingat pengamatan ahli biologi Universitas Harvard, E.O. Wilson, bahwa "manusia telah menjadi seratus kali lebih banyak daripada binatang darat lain yang mana saja, yang ukurannya sebanding di dalam sejarah kehidupan. Dengan semua ukuran yang dapat dipikirkan, pertumbuhan penduduk secara ekologis adalah abnormal. Spesies manusia mengambil antara 20 dan 40 persen energi matahari yang ditahan dalam bahan-bahan organik oleh tumbuh-tumbuhan darat. Tidak ada jalan agar kita dapat sedikit banyak mempergunakan sumber-sumber planet ini tanpa secara drastis menurunkan keadaan sebagian besar spesies lain (E.O. Wilson, The Diversity of Life [Cambridge, Mass.: Belknap Press of Harvad University Press, 1992], 272.)

Catatan:

  1. Peter F. Drucker, The New Realities (New York: Harper & Row, 1989), 13.
  2. Jean Chesneaux, Brave Modern World: The Prospects for Survival (New York: Thames dan Hudson, 1992), 176.
  3. Gambaran yang paling mencolok tentang kondisi postmodern yaitu pluralisme yang terlembaga, keberagaman, bertumpuknya pelbagai kemungkinan, dan kemenduaan, semuanya telah dialihkan oleh masyarakat modern. Namun, semua itu hanya dilihat sebagai tanda-tanda kegagalan, bukan keberhasilan, atau sebagai bukti adanya ketidakmampuan untuk mencapai cita-cita sebenarnya, manakala lembaga-lembaga modern dengan semangat mentalitas modernnya berjuang untuk mewujudkan universalitas, homogonitas, rutinitas yang monoton, dan kejernihan sikap. Kondisi postmodern, oleh karena itu -- di satu sisi -- bisa dipandang sebagai sebuah ikhtiar emansipasi masyarakat modern dari segala bentuk kesadaran palsu. Sedangkan di sisi yang lain, postmodern bisa dianggap sebagai sebuah kondisi sosial yang baru yang ditandai dengan pelembagaan budaya yang dalam masyarakat modern selalu berusaha dikikis (tetapi selalu gagal) atau disembunyikan. (Zygmun Bauman, Inimations of Postmodernity [London dan New York: Routledge, 1992], 187-188).
  4. Drucker, New Realities, 10.
  5. David C. Korten, Getting to the 21st Centruy: Voluntary Action and Global Agenda (West Hartford, Conn.: Kumarian Press, 1990), 156-162.
  6. Lihat, misalnya, Doug Brown, "An Institutionalist Look at Postmodernism" Journal of Economic Issues, vol. 25, no. 4 (Desember 199), 1089-1101; Development and Change, vol. 23, no. 3 (Juli 1992), edisi khusus, "Emancipation, Modern, and Postmodern", editor tamu, Jan Nederveen Pieterse.
  7. Julio Barbosa, Presiden Dewan Nasional Penyadap Karet Brasil, pada saat dengar pendapat untuk pertama kalinya mendebat rencana pembukaan hutan di Amazon (Rio Blanco, Acre, 11 Mei 1990), dikutip dari Juan de Onis, The Green Cathedral: Sustainable Development of the Amazon (New York dan Oxford: Oxford University Press, 1992), 203.
  8. Aliansi Iklim Masyarakat Eropa dan Penduduk Amazon "Working Paper for The Meeting on 4 August 1990" Forum Umwelt Frankfurt, hal. 2-4.
  9. Alan Durning, "People Power and Development" Foreign Policy, no. 76, (musim gugur 1989), 66.
  10. Robin Broad, bersama John Cavanagh, Plundering Paradise : The Struggle for the Environment in the Philippines (Berkeley: University of California Press, 1993), 135; lihat, umumnya, 132-157.
  11. Lihat, umumnya, Ramachandra Guha, The Unquiet Woods: Ecological Change and Peasant Resistance in the Himalaya (Berkeley: University of California Press, 1990).
  12. Ibid., 173.
  13. Denise Stanley, "Demystifying the Tragedy of the Commons: the Resin Tappers of Honduras", Grass Root Development, vol. 15, No. 3 (1991), 27-35.
  14. David Barton Bray, "The Struggle for the Forrest: Conservation and Development in the Sierra Juarez", ibid., 12-25.
  15. Broad, Plundering Paradise, 56-72.
  16. Lihat, misalnya, Stanley, "Demystifying the Tragedy of the Commons; Rita Brara, "Are Grazing Lands 'Wastelands'?", Economic and Political Weekly (Bombay, India), 22 Februari 1992, 411-418, "Regaining the Commons", Ecologist, vol. 22, no. 4 (Juli/Agustus 1992), edisi khusus, Whose Common Future? hal. 195-204.
  17. Fikret Berkes dan Carl Folke, "A System Perspective on the Interrelations between Natural, Human-Made and Cultural Capital", Ecological Economics, vol. 5, no. 1 (Maret 1992), 5. Lihat juga E. Ostrom, Governing the Commons: the Evolution of Institutions for Collective Action (Cambridge, England: Cambridge University Press, 1990).
  18. Eduardo Viveiros de Castro, "Prefacio", dalam Ricardo Azambuja Arnt dan Stephen Schwartzman, Um Artificio Organico: Transicao na Amazonia e Ambientalismo (Rio de Janeiro, Brasil: Editora Rocca, 1992), 19.
  19. Marianne Schmink dan Charles H. Wood, Contested Frontiers in Amazonia (New York: Columbia University Press, 1992), 8.
  20. Arnt dan Schwartzman, Um Artificio Organico, 115-117.
  21. Lihat Arnt dan Schwartzman, Um Artificio Organico.
  22. Schmink dan Wood, Contested Frontiers, 8.
  23. Eduardo Viveiros de Castro, "Prefacio", 10.
  24. Untuk penjelasan tentang penyebaran teknologi informasi dan pemberdayaan kelompok masyarakat akar-rumput di Amerika Latin, lihat Sheldon Annis, "Giving Voice to the Poor", Foreign Policy, no. 84 (Musim Gugur 1991), 93-106.
  25. Pasal 2, Resolusi 001 (23 Januari 1986) Dewan Nasional Lingkungan Hidup Brasil.
  26. Juan de Onis, The Green Cathedral , 203-204; Henri Acselrad, Environment and Democracy (Rio de Janeiro: Lembaga Analisa Ekonomi dan Sosial Brasil [IBASE], 1992), 46-51.
  27. Gumercindo Rodriguis (tetapi sering salah kaprah disebut Gumercindo Garcia), dikutip dari Juan de Onis, The Green Cathedral, 203.
  28. Ibid., 204-205; Henri Acselrad, Environment and Democracy, 46-51.
  29. Juan de Onis, The Green Cathedral, 222.
  30. Ibid.
  31. "Klima-Buendnis der europaeischen Staedte mit indigenen Voelkern der Regenwaelder zum Erhalt der Erdatmosphaere" Forum Umwelt Frankfurt, Stadt Frankfurt am Main (pamflet, Agustus 1992); Gerda Stuchilk dan Roland Schaeffer, "The Preservation of the Environment and the Alliance Between European Cities and the Indigenous People of the Amazon" Forum Umwelt Frankfurt, Stadt Frankfurt am Main (makalah, Desember 1991); Aliansi Iklim "Working Paper for The Meeting on 4 August 1990".
  32. Gerda Stuchilk dan Roland Schaeffer, "The Preservation of the Environment and the Alliance Between European Cities and the Indigenous People of the Amazon", 7-8 (terjemahan bahasa Inggrisnya telah diperhalus).
  33. David C. Korten, Getting to the 21st Centruy, 106.
  34. Thomas Hines, Facing Tomorrow: What the Future Has Been, What the Future Can Be (New York: Alfred A. Knopf, 1991), 198.
  35. M. Mitchell Waldrop, Complexity: The Emerging Science at the Edge of Order and Chaos (New York: Simon & Schuster, 1992), 293-294.
  36. Sheldon Annis, "Can Small-Scale Development Can Be a Large-Scale Policy? The Case of Latin America", World Development, vol 15, sisipan (1987), 129-134; Sheldon Annis, "The Next World Bank; Financing Development from the Bottom Up"¸Grassroots Development, vol. 11, no. 1 (1987), 24-29.
  37. Sheldon Annis, "The Next World Bank", 28-29.
  38. Lihat lima bagian halaman muka Washington Post, tulisan John Ward Anderson, Molly Moore, Caryle Murphy, mengenai pelecehan kaum perempuan di negara berkembang. "Third World, Second Class", Washington Post, 14-18 Februari 1993, A1.
  39. Waldrop, Complexity, 332.
  40. Ibid., 333.
  41. Ibid.
  42. Ibid., 333-334.
  43. Albert Borgman, Crossing the Postmodern Divide (Chicago dan London: University of Chicago Press, 1992), 61.
  44. John Sculley, wawancara oleh Rich Karlgaard, Forbes ASAP, sisipan laporan teknologi pada Forbes Magazine, 7 Desember 1992, 95.
  45. David Harvey, The Condition of Postmodernity (Cambridge, Mass. Dan Oxford, Inggris: Blackwell, 1990), 141-172; 177-179.
  46. Borgman, Crossing the Postmodern Divide, 72-75. Borgman mendasarkan banyak analisisnya pada Michael J. Piore dan Charles F. Sabel, The Second Industrial DivideL Possibilities for Prosperity (New York: Basic Books, 1984), 165-220 (Borgman, no. 47, hal. 157).
  47. Borgman, Crossing the Postmodern Divide, 72-75; Drucker, The New Realities, 115; Harvey, The Condition of Postmodernity, 147.
  48. Borgman, Crossing the Postmodern Divide, 61.
  49. Sculley, wawancara oleh Karlgaard, Forbes ASAP, 96.
  50. Michael Rothchild, "How to be a High IQ Company", Forbes ASAP, 7 Desember 1992, 18.
  51. Ibid.
  52. Drucker, The New Realities, 173.
  53. Borgman, Crossing the Postmodern Divide, 78.
  54. Dewan Riset Nasioal, Dewan Pertanian, Komisi tentang Peranan Metode Pertanian Alternatif dalam Produksi Pertanian Modern, Alternative Agriculture (Washington, D.C.: National Academy Press, 1989), 9.
  55. Stephen B. Cox "Citizen Participation and the Reform of Development Assistance in Central America", dalam Sheldon Annis, ed., Poverty, Natural Resources, and Public Policy in Central America (New Brunswick, N.J. dan Oxford, Inggris: Transaction Publisher, 1992), 66-67.
  56. Surat Morse dikutip dari Gautam Appa, "Narmada Projects without World Bank Backing?" Economic and Political Weekly (Bombay), vol. 27, no. 48 (28 November 1992), 2577-2580.
  57. Pernyataan dan pendirian Dewan Pertanian dikutip dari Appa, "Narmada Projects", 2577-2580.
  58. Lihat Milton D. Esman dan Norman T. Uphof, Local Organization: Intermediaries in Rural Development (Ithaca dan London: Cornell University Press, 1984).
  59. Oxfam (Inggris), "Africa Make or Break: Action for Recovery", laporan tercetak 38 halaman (Oxford: Oxfam, 1993), 5.
  60. Lihat Drucker, The New Realities, 80-81.
  61. Lihat Korten, Getting to the 21st Century, 159-160.
  62. The Universal Declaration of Human Right of the United Nations, Pasal 21, Ayat 3, lihat ibid., 161-162, no. 5.
  63. Lihat David Sarokin dan Jay Schulkin, "Environmentalism and the Rights-To: Expanding the Practice of Democracy", Ecological Economics, vol. 4, no. 3 (Desember 1961), 175-189.
  64. Dikutip dari Ibid., 177.
  65. "Pernyataan E. Patrick Coady, Direktur Eksekutif Bank Dunia untuk Amerika Serikat, untuk Seminar Dewan Eksekutif, 4 Mei 1993" (dokumen 4 halaman, Departemen Keuangan Amerika Serikat, )
  66. "H-Street Blues", Economist, 1 Mei 1993, 87.
  67. United Nations Development Program, Human Development Report 1992 (New York dan Oxford: Oxford University Press, 1992), 66-67.
  68. Oxfam, "Africa Make or Break", 15.
  69. Bank Dunia, Annual Report 1993 (Washington, D.C.: Bank Dunia, 1993), 67.
  70. Oxfam, "Africa Make or Break", 15.
  71. Jerome I. Levinson, "Multilateral Financing Institutions: What Form of Accountability?", makalah dipresentasikan pada Konferensi Hak Asasi Manusia, Keuangan Publik, Proses Pembangunan yang diselenggarakan pada American University, Washington Colege of Law, 24 Januari 1992, 20.
  72. Komisi Senat tentang Hubungan Luar Negeri, Subkomisi Kebijakan Ekonomi Internasional, Perdagangan, Lingkungan, dan Kelautan, dengar pendapat pada Authorrization of the Tenth Replenishment of the International Development Association, statemen oleh Korrina Horta, staf ekonomi EDF, dalam "Statement of Lori Udall on Behalf of Environtmental Devense Fubd", Lampiran 1, Catatan Sidang Kongres ke-103, sesi ke-1, 27 Mei 1993.
  73. Levinson, "Multilateral Financing Institutions", 41.
  74. Agreement Establishing the European Bank for Reconstruction and Development", pembukaan, dikutip dari "Multilateral Financing Institutions", 41; ibid., Pasal 2, "Functions", Ayat (vii).
  75. Judy Dempsey, Robert Peston, dan Andrew Hill, "Attali Is Told EBRD Must Be Operated More Openly", Financial Times (London), 21 April 1993, 1.
  76. Pada pertengahan April 1993, Financial Times (London) memaparkan serangkaian artikel mengenai pengeluaran IBRD. Lihat Charles Leadbeater, Robert Peston, dan Anderw Hill, "Britain Will Call For Curbs on EBRD Spending", 15 April 1993, 1; Robert Peston dan Kevin Brown, "EBRD Is Told to Provide Spending Details", 18 April 1993, 1.
  77. Claude Levi-Strauss, wawancara oleh Andre Akoun, "A Sort of Pope", Psycology Today, Mei 1972, 80.
  78. Wolfgang Sachs, "One World against Many World", New Internationalist, no. 232 (Juni 1992), 23.
  79. Edward O. Wilson, The Diversity of Live (Cambridge, Mass.: Belknap Press of Harvard University Press, 1992), 278.
  80. Carilitio de Oliveira, "seorang pemimpin Guaran di daerah cagar alam Dourados", dikutip dari Julia Preston, "Despair of Brazilian Tribe Reflected in Suicides: As Development Erodes Traditional Life, Youth Turn to Alcohol, Vuolence, and Death", Washington Post, 20 April 1991, A12. Lihat juga James Brooke, "For Brazil's Indians, a Final Way Out", New York Times, 1 Juni 1991, 4; Conselho Indigenista Missionario, "Vinte Indios Guarani Kaiova No Brasil Suicidaram-Se Em 1992", e-mail dari Conselho Indigenista Missionario (the Indigenist Missionary Council), Sao Paulo, Brasil, 21 Desember 1992.
  81. Dikutip dari United Nations Development Program, Human Development Report 1992, 13.
  82. H.W. Arndt, Economic Development: The History of an Idea (Chicago dan London: University of Chicago Press, 1987), 177.
  83. Martin Heidegger, Being and Time, terjemahan John Macquarrie dan Edward Robinson (New York Harper-Collins, 1962), 492, no. 5. Heidegger menggunakan cerita fabel dan mengaitkannya dengan Faust, dalam K. Burdach, "Faust un die Sorge", Deutsche Vierteljahrschrift fuer Literaturwissenschaft un Geistesgeschicte, vol. 1, 1923, hal. 1.
  84. Heidegger, Being and Time, 242, terjemahan dari puisi Latin Hyginus.