1

ISTANA PARA MALAIKAT

PADA suatu saat di tahun 1991, ketika lembab musim hujan mengguyur Bangkok, ribuan pekerja bekerja keras siang malam menyelesaikan bangunan termahal dalam sejarah Thailand, negeri berpenduduk 54 juta jiwa itu. Menteri Keuangan kelihatan cemas menunggu hasilnya, karena pemerintah telah menghabiskan $100 juta. Setelah sembilan bulan dikerjakan, istana beton dan kaca yang gemerlap itu belum juga selesai, padahal hanya tinggal beberapa minggu saja hari-hari tersisa menjelang sebuah "pertemuan" yang mempertaruhkan harga diri bangsa Thailand.

Walau pemerintah telah menambah suntikan dana segar sebesar $17 juta, menteri tersebut mempunyai alasan lain untuk khawatir, karena dalam beberapa minggu itu masih ada satu masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan uang. Gedung Pusat Konferensi Queen Sirikit harus dibangun di daerah Sukumvit Road, daerah baru yang tumbuh dengan cepat dan menjadi bagian dari kota -- karena memang tidak ada tempat lain yang lebih sesuai untuk membangun gedung sebesar itu. Luas kawasan Sukumvit meliputi lebih dari setengah juta kaki persegi. Sebagai kota dengan angka kemacetan lalu lintas terburuk di dunia, Sukumvit merupakan salah satu daerah paling ramai di Thailand. Bila suatu pagi kita menumpang taksi dari sebuah hotel mewah, butuh waktu dua jam untuk bisa sampai ke tempat tujuan. Dan sebaliknya, kita juga butuh waktu dua jam lagi untuk kembali pada sore harinya. Populasi kota Bangkok telah membengkak empat kali lipat dalam jangka waktu kurang dari satu generasi. Jumlah kendaraan juga telah meningkat lebih dari sepuluh kali lipat. Dengan begitu, kota tersebut mengalami "sesak nafas" dalam pertumbuhannya, karena kekurangan zat asam. Lalu lintas kota tersebut akan menjadi semakin buruk selama tiga hari pertemuan, karena ia akan dipenuhi lagi dengan ribuan delegasi yang berkeliling kota dengan mobil-mobil limosin pribadi. Bayangan, para delegasi akan tercekik kabut asap dan kelihatan panik dalam mobil limosin mereka. Lalu apa yang harus dilakukan?

Pemerintah, yang mana eksistensi mereka didukung kudeta Angkatan Bersenjata pada tahun 1991, menghargai "sisi baik" sifat-sifat pengambilan keputusan yang dilakukan pihak militer (military-like decisiveness). Keputusan itu adalah penghentian lalu lintas dan cekikkan kabut asap dengan cara menutup sebagian besar kota. Maka, Perdana Menteri mengumumkan bahwa pada tanggal 14 oktober 1991 adalah hari libur nasional, tapi khusus di Bangkok saja, di mana lebih dari 50% aktivitas ekonomi Thailand berlangsung. Semua bank, kantor, sekolah-sekolah, dan badan-badan pemerintahan akan ditutup.

Hal itu hanya merupakan babak awal saja. Pemerintah kemudian membuat sistem medis khusus yang terdiri dari armada helikopter, dua ambulan, dan 830 tenaga dokter, perawat, dan para teknisi yang siap dipanggil selama dua puluh empat jam penuh untuk memberikan pelayanan medis gratis pada para delegasi dan anggota keluarga mereka. Delapan rumah sakit terkemuka di Bangkok disiagakan dengan kategori emergensi, dan setiap hotel mewah yang menjadi tempat penginapan para delegasi dihubungkan dengan rumah-rumah sakit tersebut. Direktur rumah sakit umum Bangkok menegaskan, risiko kesehatan yang muncul dalam pertemuan raksasa semacam itu akan menggambarkan apakah kita telah sunguh-sungguh mempersiapkan pertemuan tersebut... sehingga pelayanan kesehatan jantung perlu dipersiapkan ekstra hati-hati. Semua pertemuan yang membahas persoalan keuangan dapat menimbulkan kecemasan di antara delegasi yang sebagian besar berusia lanjut.1

Tampaknya, pemecahan masalah dengan cara seperti itu hanya membuka lebih banyak masalah baru, karena banyak di antaranya berkaitan dengan kesuksesan Thailand yang mengagumkan dalam dua puluh tahun terakhir sebagai model dinamika pertumbuhan ekonomi berorientasi ekspor. Transformasi ekonomi negara itu telah membetot jutaan orang dari daerah pinggiran Thailand. Banyak orang-orang pinggiran kota yang kemudian datang ke Bangkok. Kota itu diperkirakan mempunyai setengah juta prostitut, di mana sepertiga dari mereka positif mengidap virus HIV.

Ribuan nightclub dan panti pijat di Bangkok menawarkan suatu pemandangan yang paling mengerikan di planet ini. Wisata seks internasional adalah bisnis besar di Thailand, dan merupakan sumber devisa penting bagi negara. Dua pertiga dari lima ribu wisatawan yang datang ke Thailand setiap tahunnya adalah kaum pria, dan kebanyakan dari mereka datang dengan motif seks. Banyak dari mereka berasal dari Jerman, Jepang, dan Australia. Dalam sebuah tatanan global yang benar-benar baru -- ekonomi global, lingkungan global, dan keunggulan kompetitif global -- Bangkok telah menjadi sarang prostitusi global.2

Tetapi, akankah para delegasi tersebut menaruh perhatian pada semua itu, atau paling tidak kelihatan menaruh perhatian walau di permukaan saja? Gosip yang beredar adalah bahwa sebuah mingguan dari Jerman, Stern, telah mengirim seorang wartawan foto untuk meliput club-club dan rumah prostitusi yang paling kondang, dengan harapan bahwa mereka dapat mengambil gambar para anggota delegasi dari berbagai negara yang tengah asyik bersuka-ria menggunakan uang rakyat. Dan, stasiun Televisi NBC mengirim sebuah tim untuk memfilmkan pertemuan itu. Tidak hanya citra para delegasi itu yang diliput, tapi citra negara yang bersangkutan juga ditampilkan. Pemerintah menginstruksikan pihak kepolisian untuk meyakinkan para muda-mudi yang biasa menari di nightclub betul-betul mengenakan pakaian selama pertemuan berlangsung. Menteri kesehatan, atau seseorang yang lebih populer dengan sebutan "Mr. Condom",3 akan mengatur pusat konferensi dengan cara memberikan plastik transparan pada delegasi peserta sebagai peringatan bahwa negara tersebut sedang menghadapi wabah AIDS.a) Kemudian, di Bangkok muncul puluhan ribu penjaja keliling, penjual makanan, serta kelompok-kelompok penghibur yang menimbulkan keributan. Beberapa orang di pemerintahan dan militer benar-benar merasa kewalahan mengurus orang-orang di jalanan tersebut -- yang bagaimanapun kelihatan sangat miskin bila dibandingkan dengan tempat yang sangat mewah yang menjadi tempat konferensi. Dengan demikian, pemerintah melarang aktivitas penjual keliling dan semacamnya yang ada disekitar tempat pertemuan.

Menjelang pertemuan besar berlangung, masih tersisa persoalan-persoalan yang membuat pemerintah Thailand merasa malu. Di dekat pusat gedung konferensi itu masih banyak "para tetangga" (baca: gelandangan) yang berumah kardus dan kayu dengan atap seng berkarat. Mereka, memang, tidak seburuk "rekan-rekannya" dari negara delegasi seperti Philipina dan India, misalnya. Namun, bagaimanapun juga, para gelandangan tersebut tetap merupakan pemandangan yang tidak sedap dipandang mata. Pemerintah akhirnya menempatkan gelandangan-gelandangan itu dalam sebuah tempat penampungan yang agak jauh dari tempat konferensi. Seperti para prostitut dan penjaja keliling, orang-orang itu kebanyakan berasal dari daerah pedesaan dan daerah-daerah miskin di bagian timur laut Thailand. Lima belas ribu orang yang berpengaruh besar terbang ke Bangkok untuk mengambil bagian dalam pertemuan yang membahas masalah keuangan itu. Setiap hari mereka menutup jendela hotelnya agar tidak melihat perkampungan orang-orang kumuh yang berumah kardus dengan seng berkarat sebagai atapnya.

Menteri keuangan memutuskan, penanganan para gelandangan itu adalah pekerjaan militer. Akhirnya, lebih dari satu juta penghuni perkampungan kumuh digusur demi pembuatan gedung pertemuan. Akhir Juni, seorang pejabat di kementerian keuangan mengusulkan pada kabinet Thailand agar para gelandangan tersebut dipindah sebelum Agustus. Divisi Perumahan Nasional Thailand akhirnya akan menyediakan rumah-rumah baru di suatu wilayah yang sangat jauh dari gedung pertemuan, sehingga para gelandangan tersebut akan sirna dari pandangan mata.

Namun, para penghuni rumah kumuh tidak setuju. Mereka, yang menemukan kerja sebagai penjaja keliling dan buruh di pasar dekat pusat konferensi tersebut akan kehilangan mata pencaharian jika dipindah ke daerah yang jauh dari pusat kota. Mereka memohon kepada Perdana Menteri, yang akhirnya bersedia berkompromi. Sekitar 647 KK di dua daerah kumuh, Duang Pitak dan Klong Paisingto, akan direlokasikan "secara sukarela", menurut istilah Perdana Menteri. Tetapi, ratusan gelandangan lainnya diizinkan untuk tetap tinggal di tiga daerah kumuh sekitar tempat konferensi. Mereka yang tetap tinggal di situ akan didaftar dalam program biutifikasi (semacam program mempercantik diri), yaitu dengan cara menanam rumput dan pepohonan bersama para tentara, sehingga dapat meningkatkan penampilan tempat tinggal mereka demi kepuasan estetis tamu-tamu asing.4

Untuk pertama kalinya, di awal Agustus, Perdana Menteri mengunjungi tempat konferensi. Dia kelihatan sangat bangga, dan memang tidak ada yang bisa memungkiri bahwa desain ruangan konferensi itu benar-benar mengagumkan, apalagi dirancang dan dibuat oleh putra-putri Thailand. Di luar pintu masuk, sebuah patung emas senilai seperempat juta dolar terpasang. Sebuah pahatan bagus berbentuk semak-semak terbakar siap menyambut para delegasi konferensi. Menurut para karyawan di sana, pahatan tersebut menyimbolkan doa. Tetapi, yang membuat Perdana Menteri kelihatan begitu terpesona adalah adanya sebuah bar dan kafetaria yang sangat mewah, di mana segala urusan bisnis akan dilangsungkan. Dia berbicara pada para wartawan bahwa pemandangan dari sudut bar dan kafetaria itu sangat indah -- padahal masih banyak daerah kumuh yang masih jelas terlihat dari sudut itu. Harus diakui, Thailand adalah negara miskin. Mengapa penguasanya harus malu dengan nasib rakyatnya? Daerah yang terletak di seberang jalan dibuldozer, dan tempat itu tidak terlihat dari dalam gedung konferensi. Dan, sambil mengunyah hors d'oeuvres dan menyeruput Singapore Slings, para delegasi dengan santainya memperbincangkan persoalan kemiskinan, ekonomi, dan keuangan. Perdana Menteri mengatakan kepada pers Thailand, "Kursi-kursi (bar) itu terlalu kecil. Orang asing yang berpostur besar tentu akan merasa tidak nyaman duduk di sana. Saya sendiri merasa kesulitan bila harus duduk di kursi-kursi itu."5

Beberapa hari kemudian, kurang dari seminggu setelah maklumat (disuruh pindahnya orang-orang dari Duang Pitak) dikeluarkan, militer digerakkan untuk menggusur orang-orang yang bermukim di Duang Pitak. Daerah tersebut akan direnovasi menjadi jalan khusus yang menghubungkan jalan raya dengan pusat gedung konferensi, sehingga lalu-lintas dapat semakin lancar. Mendekati September, untuk memaksa orang-orang yang masih bertahan di Duang Pitak agar segera angkat kaki, aliran listrik dan air dimatikan. Empat 43 KK berlindung di gedung-gedung sekolah setelah rumah mereka dibuldozer. Bulan Oktober, Duang Pitak berhasil "dibersihkan", dan para stragglers (gelandangan tak berumah) berhasil direlokasi.

Orang-orang asing mulai berdatangan. Pertama-tama hanya kelihatan segelintir saja, tapi pada minggu kedua bulan Oktober jumlahnya menjadi ribuan. Pemerintah mengerahkan 6,365 polisi dan penjaga untuk meyakinkan kondisi di tempat itu benar-benar aman. Anggaran yang dikhususkan untuk keamanan mencapai $3 juta. Polisi-polisi Bangkok menyebut konferensi itu sebagai "ibu dari segala pertemuan". Minggu, 13 Oktober, hampir 15 ribu ofisial, orang-orang terkemuka, dan para bankir dari 156 negara akan berkumpul di Bangkok.

Sementara itu, beberapa ratus yard dari pusat konferensi dilangsungkan, 70 KK ditempatkan dalam tenda-tenda tentara, tepatnya di bawah jalan tol. Dalam salah satu tenda itu, Kusuma Wongsrisuk mengasuh Ploy, saudara perempuannya yang berumur dua bulan, yang menderita batuk-batuk dan terus menangis tiada henti. Ploy jatuh sakit setelah Kusuma dan keluarganya dipindah dari daerah kumuh Duang Pitak. Saudara Ploy yang lebih tua, Tha, juga jatuh sakit dan mempunyai problem pernafasan. Kusuma mengatakan pada wartawan, apa yang dialami saudara-saudaranya bukanlah hal yang mengherankan. Daerah di bawah jalan tol itu sangat suram dan jorok, dan udaranya sungguh tidak sehat karena dipenuhi debu dan asap dari cerobong-cerobong pabrik. Dalam tenda-tenda tentara yang menjadi tempat penampungan, mereka tidur tanpa alas. Pada malam hari, kehidupan di sana hanya diterangi cahaya lilin, karena aliran listrik (juga air) dimatikan pemerintah. Setiap keluarga menerima $240 sebagai uang kompensasi penggusuran, suatu jumlah yang sangat tidak memadai untuk membuat rumah baru, juga untuk membantu warga lain manakala mereka butuh membangun rumah. Banyak kaum pria yang kehilangan pekerjaan sebagai buruh harian dan penjaja keliling sejak mereka digusur ke daerah baru itu. Beberapa keluarga tidak cukup mampu pindah dari daerah itu, sehingga dapat diramalkan bahwa tenda tentara yang tidak sehat tersebut tetap menjadi rumahnya di masa datang. Kusuma merasa sangat keberatan bila pemerintah menghambur-hamburkan uang demi konferensi tiga hari bersama orang-orang asing. Dia mengatakan pada para wartawan, uang kompensasi yang diberikan pada mereka terlalu kecil, bahkan bila dibandingkan dengan biaya penginapan para delegasi selama satu malam di hotel mewah sekalipun.6

Sementara itu, di kota lain tengah berlangsung pertemuan yang sangat berbeda dengan pertemuan yang berlangsung di Gedung Pusat Konferensi Queen Sirikit. Di Universitas Chulalongkorn, lebih dari seribu orang warga Thailand -- dan beberapa warga asing yang bersimpati -- berkumpul bersama dalam sebuah forum yang bernama Forum Rakyat. Tanggal 8 Oktober menjadi awal bagi pertemuan alternatif yang berlangsung selama sepuluh hari tersebut. Lebih dari 200 LSM yang menaruh perhatian pada persoalan-persoalan lingkungan, keadilan sosial, dan pengembangan ekonomi alternatif menjadi panitia pengarah dan koordinator Forum Rakyat.

Pada tahun 1980-an, banyak LSM tumbuh menjamur di Thailand sebagai respons terhadap permasalahan-permasalahan ekologi dan sosial yang mengiringi kebijakan negara, yaitu pertumbuhan ekonomi berorientasi ekspor. Biasanya, kelompok-kelompok itu bertipikal kecil dan hanya memfokuskan diri pada permasalahan khusus, seperti misalnya penanganan kesehatan, pembangunan pedesaan, dan hak-hak asasi manusia. Jumlah stafnya kurang dari sepuluh orang, yang mana kebanyakan dari mereka adalah sukarelawan dan mahasiswa. Anggaran tahunan mereka yang hanya berjumlah beberapa ribu dolar hampir tidak mencukupi untuk menutup biaya perjalanan singkat seorang ofisial dari lembaga internasional. Beberapa kelompok mempunyai fokus nasional, seperti misalnya Project for Ecological Recovery yang mempunyai peran penting dalam mendokumentasi kerusakan-kerusakan ekologis sebagai akibat dari pembangunan yang didukung pemerintah.7

Tiga ratus lima puluh penduduk desa dari seluruh Thailand datang ke Forum Rakyat tersebut, dan mereka bergabung dengan para wakil penjaja keliling, gelandangan, bermacam-macam mahasiswa, dan juru bicara para prostitut yang ada di Bangkok. Salah satu yang berbicara adalah wanita setengah baya bernama Roy Srihaphong. Dia dikenal sebagai "vokalis" oganisasi semacam itu, dan biasa dipanggil dengan sebutan "Tante Roy". Roy tinggal di Klong Toey, salah satu wilayah kumuh dekat tempat konferensi.8

Dalam pertemuan itu, Tante Roy menceritakan bahwa ia berasal dari daerah miskin, dan selama 28 tahun telah berusaha menggapai hidup yang lebih layak. Namun, sampai sekarang kondisinya tidak kunjung membaik, bahkan tempat di mana dia tinggal terancam digusur. Nada suara Tante Roy sontak meninggi manakala menggambarkan apa yang dia rasakan beberapa bulan terakhir sejak Gedung Pusat Konferensi tersebut dibangun. 

Setiap hari saya melewatinya, dan dapat melihatnya dari jendela reot tempat saya tinggal. Bangunan itu tampak seperti Istana Para Malaikat. Kami hanya dapat membayangkan ribuan malaikat tiba dengan kapal-kapal bersayap -- maksudnya pesawat terbang. Kami, orang-orang miskin, hanya dapat berangan-angan kapan kami dapat duduk dalam pertemuan tersebut.9

 Bank Dunia dan International Monetary Fund (IMF) datang ke kota.

Pengembara Kaya dan Miskin

Jacques Attali, penasihat kawakan Francois Mitterrand juga Presiden The European Bank for Reconstruction and Development (EBRD) yang baru saja dibentuk, sesaat tiba di Bangkok. Baru-baru ini, Attali memublikasikan buku Millenium: Winners and Losers in the Coming World Order, yang mana di dalamnya dia banyak mengupas persoalan perjalanan pasar bebas ekonomi global, baik sisi-sisi yang mempesona atau yang sebaliknya. Setelah kematian Kekaisaran Soviet, sekarang ini dunia dipersatukan oleh kekuatan ekonomi multinasional. Produksi barang komoditas yang berorientasi pasar dan kekuatan-kekuatan konsumsi lainnya telah membuncah melebihi perkembangan dahsyat politik dan agama yang pernah ada dalam sejarah planet kita. Tatanan dunia baru yang dideskripsikan oleh Attali adalah sebuah tatanan politik yang berbasiskan pluralisme dan demokrasi, sebuah titik kulminasi perkembangan sejarah Barat sejak dua atau tiga ratus tahun silam.10

Tetapi, seorang pengamat ekonomi dari Perancis melihat sisi negatif kemegahan komodifikasi global itu, yaitu sebagai sesuatu yang mengancam dan hanya mencari keuntungan dari kantong konsumen global:

Berdasarkan kemudahan-kemudahan teknologis yang didapat, mereka memimpin seluruh dunia yang sudah kadung menganut ideologi konsumerisme. Tetapi, dunia tetap terbagi dalam kasta kaya dan miskin. Dunia terancam atmosfer panas yang berpolusi. Keberadaannya disangga oleh suatu jaringan kerja airport metropolis yang sangat luas, serta jaringan komunikasi serba canggih yang tersebar di seluruh dunia. Uang, informasi, barang-barang, dan orang-orang bergerak ke seluruh penjuru dunia dengan kecepatan luar biasa... Nasionalisme dan hubungan kekeluargaan diikat oleh perkakas micro-chip... Warga negara konsumtif yang berasal dari daerah makmur tersebut menjadi "pengembara kaya" (rich nomads)... Para pengembara kaya yang tersebar itu akan berbenturan dengan para "pengembara miskin" (poor nomads): "manusia perahu" dalam skala global yang ingin melepaskan diri dari posisi pinggiran, di mana sebagian besar populasi manusia di bumi itu akan melanjutkan hidupnya...

Dan mereka (poor nomads) memahami bahwa kemakmuran para rich nomad tercipta dengan cara mengorbankan kemakmuran poor noamds, serta masih harus dibayar dengan munculnya degradasi lingkungan.11

Di puncak tata ekonomi global, terdapat institusi finansial yang unik, yang diperuntukkan bagi masyarakat internasional. Institusi-institusi finansial terpenting adalah Bank Dunia dan International Monetary Fund (IMF).b) Keduanya didirikan pada saat Konferensi Keuangan Internasional PBB yang baru saja berdiri itu diselenggarakan, yaitu pada tahun 1944 di Bretton Woods, sebuah kota peristirahatan di New Hampshire. Didukung oleh tata ekonomi internasional pasca-Perang Dunia II -- yang menghasilkan pertumbuhan global dan tidak pantas untuk diteladani -- Bank Dunia dan IMF telah menjadi institusi masyarakat terpenting yang mempengaruhi perkembangan ekonomi global. IMF memprioritaskan pemberian pinjaman pada negara-negara dalam jangka waktu pendek untuk menyeimbangkan neraca defisit pembayaran. Dan sebagai gantinya, ia meminta kebijakan ekonomi makro yang sangat kaku, yang diukur berdasarkan kebijakan negara pengutang agar memotong pengeluaran anggaran belanja internal dan meningkatkan ekspornya. Pada tahun 1980-an, IMF mengambil peran penting dalam pengaturan dan pembuatan ulang jadwal utang internasional antara negara-negara berkembang dan bank-bank swasta internasional.

Bank Dunia memberikan pinjaman sekitar $24 milyar per tahun pada lebih dari seratus negara-negara berkembang untuk mendukung program dan proyek pembangunan-pembangunan ekonomi yang kesemuanya itu membutuhkan lebih dari $70 milyar per tahun.c) Bank Dunia mengatur peminjaman utama dengan jumlah total $140 milyar untuk membiayai pembangunan yang total biayanya lebih dari $3 triliun. Bila dibandingkan dengan institusi keuangan internasional lainnya, Bank Dunia beroperasi dalam skala yang lebih luas. Lebih dari entitas lain di bumi, Bank Dunia membentuk pandangan dunia yang dibangun oleh para pendukung pembangunan internasional yang besar itu. Dan, Bank Dunia menjadi pemberi dana paling besar.

Pertemuan tahunan dua institusi keuangan raksasa (IMF dan Bank Dunia) pasti menarik perhatian elite keuangan di seluruh dunia, yaitu para menteri keuangan dan presiden bank sentral dari 176 negara -- seperti yang terjadi pada tahun 1993 -- yang menjadi anggota Bank Dunia dan IMF, ditambah perwakilan dari bank swasta komersial terkemuka dan dari investment bank firm. Para delegasi pertemuan itu membicarakan persoalan ekonomi global dan keuangan internasional, teristimewa pada persoalan bangsa-bangsa berkembang. Semua pertemuan tersebut adalah kesempatan besar bagi para bankir dunia, bankir umum, dan swasta. Semuanya ditujukan untuk membuat perjanjian di antara mereka atau dengan pemerintah-pemerintah yang terkait.

Tema utama yang menjadi bahan pemikiran dalam pertemuan tahunan di tahun 1980-an adalah krisis utang di Negara Dunia Ketiga. Tanggapan yang diberikan negara-negara industri -- dipimpin Amerika Serikat -- adalah, Bank Dunia dan IMF hendaknya meminjamkan uang lebih banyak lagi pada negara-negara pengutang terbesar, seperti Brazil dan Mexico. Sementara itu, secara simultan, Bank Dunia dan IMF harus menaikkan pinjaman uang secara objektif. Juga, mereka harus menekan negara-negara yang berutang itu agar senantiasa mengurangi anggaran belanja domestik dan meningkatkan ekspornya. Dampak dari kebijakan tersebut adalah, orang-orang miskin di banyak negara menjadi semakin merana: gajinya turun, serta pelayanan pemerintah terhadap persoalan kesehatan dan pendidikan sangat menyedihkan.d) Di negara-negara seperti Filipina dan Brazil, orang-orang miskin terpaksa menjelma menjadi pasukan penjarah dan perusak hutan, yang dengan menyedihkan mengais-ais tanah hutan untuk sekadar bertahan hidup. Tujuan utama negara-negara kreditor adalah menghindari pengampunan utang-utang penting (besar) atau pinjaman-pinjaman yang telah ditetapkan, yaitu dengan cara menekan negara-negara miskin agar menyetor devisanya demi melayani utang-utang itu. Semua kejadian tersebut menciptakan dampak sosial yang pelik: para ofisial berkelit dengan istilah "urusan struktural", "reformasi kebijakan", dan "stabilisasi". Pada tahun 1991, di Bangkok, inkorporasi negara-negara Eropa Timur dan bekas Uni Soviet ke dalam Bank Dunia dan IMF sukses terlaksana.

Dua dari tiga pertemuan tahunan mengambil tempat di Washington. Setiap tahun ketiga, kota-kota di luar negeri ditunjuk sebagai penyelenggara pertemuan. Pada tahun 1988, kota yang ditunjuk adalah Berlin. Beberapa ofisial bank dan lembaga pendonor masih ingat pengalaman pahit di Berlin. Di luar hotel mewah tempat para delegasi menginap, "bandit-bandit muda" Jerman sepanjang malam memukul-mukul drum, kaleng, pot bunga, atau apa saja yang bisa dipukul untuk mengganggu istirahat para delegasi pertemuan. Di Berlin Timur, saat itu, orang-orang justru lebih bisa istirahat dengan tenang dan bisa pergi kemana-mana dengan leluasa. Ucapan terima kasih tentunya layak diberikan kepada polisi-polisi Jerman Timur yang bekerja dengan tertib. Para demonstran duduk-duduk di jalan dan memblokade konvoi limosin peserta delegasi. Dan, para sopir taksi di Berlin Barat pun melakukan mogok kerja sebagai tanda solidaritas. Saat itu, terdapat pertemuan alternatif yang melibatkan sekitar sepuluh ribu partisipan, termasuk rapat di sebuah "Mimbar Permanen Rakyat" (Permanent People's Tribunal) untuk memaksa Bank Dunia dan IMF agar memerangi segera kejahatan kemanusiaan.

Tujuh belas ribu polisi di seluruh Jerman disiagakan -- jumlah itu mungkin yang terbesar setelah Perang Dunia II -- untuk mengantisipasi kebrutalan para demonstran dan kemungkinan munculnya terorisme. Penduduk Berlin tentu saja sangat berang, dan mereka mengecam pemerintah sebagai biang keladi pembentukkan Berlin sebagai "ibukota polisi" Eropa. Pada hari pembukaan pertemuan, delapan puluh ribu demonstran melakukan pawai protes mengecam kebijakan keuangan Bank Dunia dan IMF. Mereka membawa spanduk yang mengecam kerja Bank Dunia dan IMF, yang dituduh sebagai pembawa bencana ekologis dengan kebijakan-kebijakan jangka pendek (tanpa berpikir panjang terhadap dampak-dampak negatif yang ditimbulkannya). Bank Dunia dan IMF juga dituduh sebagai institusi yang telah "mengorganisasi kemiskinan penduduk dunia". Di Berlin, dan sekarang di Bangkok, "manusia-manusia perahu" di planet ini (dan pengembara marjinal perkotaan) mendapat tekanan berat. Bagaimanapun, bagi Bank Dunia dan IMF, keberadaan mereka sangat menganggu bila selalu dihubung-hubungkan dengan kehancuran hutan dan pemanasan global. Sebenarnya, kedua kenyataan itu tidak berhubungan secara langsung. Tapi, manakala muncul gagasan yang menghubungkan antara kehancuran hutan, pemanasan global dengan keberadaan manusia-manusia perahu dan kaum marjinal perkotaan, serta merta Bank Dunia dan IMF dibuat repot olehnya. Namun demikian, terdapat letupan kesenjangan mengenai hal itu. Ternyata tidak semua masyarakat merasa terancam Bank Dunia dan IMF. Hal itu terjadi karena masyarakat kurang memahami isu-isu yang dilontarkan ke permukaan. Kita tidak bisa meramalkan kenyataan ini dalam "istana para malaikat". Dua kenyataan tengah berbenturan.

Apa yang tengah terjadi pada bumi?

Pembangunan atau Penghancuran?

Setelah Tante Roy merampungkan pidato singkat di depan Forum Rakyat tanggal 8 Oktober pagi, para "vokalis" lainnya menyusul untuk menyampaikan pidato. Seorang mantan pegawai artileri menceritakan kisah hidupnya yang hancur akibat proyek bendungan hidroelektrik pertama di Thailand, Bhumibol, yang dibiayai Bank Dunia pada tahun 1964. Lebih dari 3,000 orang digusur. Badan pemerintah, yaitu Electrical Generating Authority of Thailand (EGAT), menjajikan bahwa orang-orang yang digusur itu akan mendapat ganti rugi tanah yang layak ditanami beserta rumah yang dilengkapi fasilitas air, listrik, serta jalan. Pegawai itu, Lert Techa-in, telah mengabdi pada negara selama 30 tahun. Namun, EGAT tidak memberi apa-apa padanya (juga pada pegawai yang lain). Dua puluh tujuh tahun kemudian, Lert Techa-in menuduh EGAT telah menghancurkan basis ekonomi banyak orang. "Kami tetap tidak memiliki fasilitas listrik dan air walau pada kenyataannya tempat kediaman kami hanya berjarak 1 kilometer dari bendungan, dan 36 kilometer dari pembangkit listrik Bhumibol".13 Bhumibol hanyalah salah satu dari proyek bendungan dan pembangkit listrik berskala besar yang mendapat bantuan Bank Dunia. Enam belas proyek lain yang berjumlah sekitar $700 juta disepakati pada tahun 1991.14 Bendungan yang lain adalah Bendungan Sirindhorn, Sirikit, Sri Nakharin, dan Khao Laem. Pembuatan bendungan Sirindhorn juga menggusur ribuan penduduk, dan mereka ditempatkan di tanah yang tidak subur. Orang-orang itu semakin didera kemiskinan. Pada tahun 1967, para pengungsi akibat pembuatan bendungan Sirindhorm meminta rehabilitasi yang lebih memadai, tapi gagal.

Dalam hubungannya dengan penggusuran penduduk itu, EGAT telah mewariskan suasana ketidakjelasan dan melecehkan kritik masyarakat, serta meninggalkan ketidakpercayaan di antara orang yang didera proyek itu. Sebagian besar proyek-proyek EGAT diciptakan Bank Dunia. Bila kita telusuri sejak awalnya, pada tahun 1950-an Bank Dunia menekan pemerintah Thailand untuk membentuk badan "independen" (yang kemudian menjadi EGAT) sebagai pengondisian pemberian pinjaman di masa depan. Bank Dunia tidak hanya secara langsung bertanggung jawab terhadap kelahiran EGAT, namun ia juga menjadi sumber utama keuangan eksternal EGAT. Dengan demikian, ia cukup bertanggung jawab terhadap persoalan lingkungan hidup dan berbagai masalah sosial lainnya.

Pada tahun 1980-an, Bank Dunia secara resmi mengumumkan kebijakan rehabilitasi orang-orang yang terkena proyek besar, seperti misalnya korban proyek bendungan (walau Bank Dunia tetap bersikeras bahwa kebijakan tersebut tidak berlaku ke belakang. Dengan demikian, Bank Dunia tidak bertanggung jawab terhadap pemiskinan ribuan orang pedesaan akibat pembuatan proyek-proyek sebelum kebijakan rehabilitasi itu diberlakukan, seperti di Bhumibol dan Sirindhorn). Kebijakan tersebut menuntut pihak peminjam untuk mempersiapkan terlebih dahulu perumahan dan rencana rehabilitasi yang sudah dibicarakan dan disetujui orang-orang yang akan dipindahkan. Sehingga, pemerintah dapat membuat orang-orang yang terkena proyek mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Kita ambil contoh proyek bendungan Pak Mun, proyek terakhir Thailand yang dibiayai Bank Dunia. Tahun 1991, Forum Rakyat -- yang saat itu melibatkan penduduk pedesaan dan aktivis di sekitar bendungan Pak Mun -- mengolok-olok proyek rehabilitasi Bank Dunia. Ternyata, Bank Dunia masih mengabaikan pemukiman orang-orang yang terkena proyek, dan mengabaikan kriteria dasar perlindungan lingkungan. Proyek kecil Bank Dunia (bendungan Pak Mun) menjadi tangisan berkepanjangan orang Thailand yang melawan keteledoran para pakar teknokrat. Bendungan tersebut akan dibangun di sebelah timur laut Thailand, di dekat mulut sungai Mun, sebuah anak sungai Mekong yang terbesar (panjangnya 4,000 kilometer). Diramalkan, bendungan Pak Mun akan mempunyai kapasitas sebesar 135 mega watt run of the river. Artinya, bendungan itu akan mampu menciptakan waduk yang mempunyai kapasitas cukup untuk menahan kekuatan banjir maksimum sungai itu. Bank Dunia dan EGAT menyatakan, proyek itu memerlukan bidang tanah milik tidak kurang dari 5,000 orang, dan menuntut pemukiman kembali bagi sekitar 2,000 orang. Bendungan akan dibangun di tengah Taman Nasional Kaeng Tana, karena daerah itu mempunyai arus air bawah dan atas yang deras. Bank Dunia dan EGAT menyatakan, bendungan yang akan dibangun itu tidak akan mempengaruhi kecepatan deras air.

Namun, sejarah EGAT yang sering merahasiakan informasi dan ditambah perlakuan keras terhadap penduduk yang terkena proyek, menimbulkan perlawanan. Pada bulan Maret 1991, penduduk di sekitar bendungan dan waduk mengirim petisi yang ditandatangani 12 ribu orang pada perwakilan Bank Dunia di Thailand. Mereka menyatakan, EGAT mengancam akan melakukan pembalasan bila para penduduk terus menyatakan keberatannya terhadap proyek itu.

Pada awal Mei 1991, EGAT mulai membangun bendungan. Dan pada tanggal 21 Mei, lebih dari 800 penduduk desa melakukan protes menentang penggusuran sebuah tempat suci (kuil) di daerah sekitar bendungan itu. Maka, beberapa penahanan segera terjadi, dan pemerintah menyatakan bahwa kumpulan massa dalam jumlah besar tidak diizinkan berdasarkan hukum perang. Pada akhir bulan itu juga terjadi penembakan terhadap penentang pembangunan bendungan Pak Mun yang melakukan protes. Sampai sekarang, hal ikhwal penembak-penembak itu masih misterius.16 Walaupun perlindungan terhadap lingkungan sudah dibuat sejak tahun 1980-an, EGAT tetap menolak akses masyarakat untuk mempelajarinya, kendati berbagai LSM telah melakukan protes pada Bank Dunia dan EGAT.

Akhirnya, EGAT menyetujui memberi kesempatan kepada salah satu LSM yang mengurus masalah lingkungan (The Project for Ecological Recovery) untuk melihat dokumen perlindungan lingkungan (dalam bahasa Inggris) di perpustakaan EGAT sejauh 500 kilometer dari lokasi proyek. Tetapi, apa yang diizinkan EGAT di satu saat tidak dapat dijamin diizinkan lagi di lain waktu. Hal itu terbukti ketika EGAT tidak mengizinkan perwakilan penduduk desa yang terkena proyek datang ke kantor pusat EGAT untuk melihat dokumen perlindungan lingkungan mereka.17

Ketika Bank Dunia menyetujui usulan peminjaman proyek bendungan Pak Mun, para ilmuwan dan akademisi Thailand serta ilmuwan dari luar negeri menyatakan, perlindungan lingkungan dalam proyek tersebut tidak memenuhi syarat. Tetapi, pejabat Bank Dunia menyatakan bahwa rencana perlindungan lingkungan dalam proyek tersebut cukup bagus dan memadai. Ahli biologi dari California University, Walt Rainboth, salah seorang pakar ikan yang ada di lembah Sungai Mekong dapat memperoleh salinan laporan mengenai perlindungan lingkungan proyek tersebut. Salinan itu sengaja dibocorkan oleh US Treasury Department ke kelompok lingkungan di Amerika Serikat. Rainboth mengatakan, laporan tersebut lebih merupakan parodi atau lelucon saja. Berdasarkan tingkat kepentingan proyek dan kemungkinan kerusakan lingkungan yang tak dapat diperbarui, kerusakan lingkungan tersebut adalah sebuah kejahatan. Jika hal semacam itu diberikan kepada sidang kongres Amerika Serikat untuk mendapatkan dana, maka kecurangan yang dilakukan sangat pantas untuk mendapat dakwaan kriminal.18

Rainboth, yang sudah bertahun-tahun mempelajari ekosistem Sungai Mekong, menemukan kenyataan bahwa populasi ikan di sana adalah yang terkaya di dunia. Dan, proyek pembangunan bendungan Pak Mun akan menghancurkan berbagai spesies yang belum ditemukan dan diidentifikasi. Dia mengatakan, mereka yang mempersiapkan penilaian tak hanya melakukan studi kasar yang tak memadai tentang ikan di Sungai Mun, tetapi juga telah melakukan kekeliruan identifikasi terhadap beberapa spesies ikan yang dijadikan sampel.19 Organisasi Kesehatan Masyarakat beserta dokter dari dalam dan luar Thailand menyesalkan penilaian terhadap lingkungan yang dilakukan, karena sangat meremehkan risiko yang sangat mungkin muncul, seperti penyakit parasitis, khusunya penyakit schistosomiasis yang mungkin menyebar akibat pembuatan bendungan.20 (Schistosomiasis disebabkan oleh sejenis cacing pita yang hidup di hati (liver fluke) yang telah melukai dan membunuh ribuan orang di negara Dunia Ketiga selama tiga dekade silam. Cacing itu disebarkan oleh semacam siput yang berkembang biak di bendungan-bendungan daerah tropis). Bank Dunia dengan keyakinannya menegaskan, risiko yang mucul tidak akan besar, dan proyek tersebut justru akan meningkatkan pencegahan terhadap penyakit. Tapi, EGAT dan Bank Dunia mempunyai masalah berat untuk menjelaskannya. Menurut hasil studi The Project for Ecological Recovery, dua puluh enam irigasi besar dan bendungan hidroelektrik telah dibangun di Thailand sejak tahun 1957, dan sebagian besar dananya didukung oleh Bank Dunia serta pendonor internasional lainnya. Dalam studi yang sama terungkap, sembilan bendungan irigasi utama di Thailand ternyata hanya mampu menyuplai air sebanyak 42,13 persen ke daerah-daerah yang menjadi sasaran. Tidak satupun bendungan yang mencapai target dan kapasitas irigasi seperti yang diproyeksikan semula. Hasil terbaik yang dicapai hanya mencapai 69 persen daerah sasaran. Hanya satu bendungan hidroelektrik utama di Thailand yang mencapai hasil seperti yang ditargetkan (untuk tenaga listrik) selama sekade sebelumnya. Dua proyek bendungan yang dibiayai Bank Dunia, Bhumibol dan Sirindhorn, hanya mencapai 6,47 persen dan 48,61 persen dari target kapasitas listrik mereka.21

Lagipula, ada berbagai alternatif untuk mengganti proyek semacam itu. Dalam Forum Rakyat, perwakilan dari The Washington and Bangkok Based on the International Institute for Energy Conservation (IIEC) mengungkapkan hasil studi yang dilakukan baru-baru ini, yang disponsori oleh United State Enviromental Protection Agency. Investasi energi dan end-used efficiencye) dapat menghasilkan energi listrik berkekuatan 2,000 mega watt, atau sama dengan lima belas kali lipat jumlah energi yang bisa dihasilkan bendungan Pak Mun.22

Agustus 1991, The US Agency for International Development mengirim penelitinya, Mark Rentschler, ke Thailand untuk mengadakan investigasi mengenai kontroversi bendungan Pak Mun. Dia menemukan di dalam dokumen proyek Bank Dunia tentang Pak Mun, dan memperkirakan bahwa jumlah tenaga yang dihasilkan oleh bendungan alternatif dapat disediakan dengan metode ifisiensi energi dan konservasi. Biayanya pun seperempat kali lebih murah dari bendungan Pak Mun. Pada kenyatannya, tahun 1989 badan nasional di Thailand yang mengurus masalah energi mempersiapkan rencana tiga tahunan, yang membutuhkan dana sebesar $8 juta untuk menghasilkan 100 mega watt (atau 26 mega watt lebih besar dari bendungan Pak Mun) sampai dengan bulan Januari 1993, atau hampir dua tahun sebelum jadwal penyelesaian bendungan Pak Mun dilaksanakan. Namun, rencana itu tidak mendapat bantuan dana yang diperlukan, sementara Bank Dunia dan EGAT justru mempersiapkan pinjaman dana sebesar $55 juta untuk mendanai bendungan Pak Mun dan perluasan pembangkit listrik yang lain, yang banyak menimbulkan polusi di Thailand Utara.23 Melihat penanganan secara teknokratis yang kaku dan tertutup dalam proyek Pak Mun, maka dapat dipahami jika kemunculannya malah melahirkan banyak protes dari masyarakat bawah. Akibatnya, empat proyek bendungan yang telah dibuat sebelumnya mengalami penundaan (bendungan Nam Choan, Kaeng Krung, Kaeng Sua Ten, dan Haew Narok). Pada tahun 1991, para aktivis di Forum Rakyat menyatakan, EGAT hanyalah salah satu dari lembaga bentukan Bank Dunia -- diakui Bank Dunia dengan sebutan "anak manis" -- yang ada di negara Dunia Ketiga. Di Thailand, Bank Dunia dengan total pinjaman $4,374 milyar telah memaksa pemerintah Thailand untuk membuat lembaga semi otonom sejenis seperti The Industrial Finance Corporation of Thailand (IFCT), The Thai Board of Investment (BOI), dan The National Economical and Social Development Board (NESDB).24 IFCT dan BOI adalah dua lembaga utama pendukung dan penyubsidi pembangunan industri serta perencana alokasi bantuan investasi NESDB. LSM-LSM di Thailand menyatakan, Bank Dunia telah merusak institusi perwakilan negara yang sudah lemah itu dengan membuat sebuah lembaga yang bertindak sebagai wakil pemerintah,f) sehingga tercipta sebuah otokrasi teknokratis yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dalam hubungannya dengan pembembentukan sebuah hubungan politis yang demokratis.25

Forum Rakyat Thailand terus berlangsung. Dan pada hari kedua dan ketiga, fokus pembicaraan beralih pada peran destruktif Bank Dunia terhadap kebijakan agrikultural. Selama tiga puluh tahun terakhir, menurut para aktivis tersebut, Bank Dunia telah mendukung program-program agrikultural, dan telah mengubah berhektar-hektar hutan menjadi ladang tanaman perkebunan seperti minyak kelapa sawit, gula aren, karet, kasava, dan tentu saja, sebagai pemroduksi bubur kayu.g) Contoh yang tepat untuk hal itu adalah pinjaman Bank Dunia untuk meningkatkan dana penanaman tanaman karet. Ia mulai memberikan pinjaman sebesar $50 juta pada tahun 1976, disusul $142 juta pada tahun 1982, dan $60 juta di tahun 1986. Dengan dana itu, pemerintah Thailand memberikan subsidi pada para petani untuk mengubah tanah pertanian, hutan, dan kawasan karet tradisional yang kecil menjadi industri perkebunan berskala luas. Sejak tahun 1970-an, dalam jangka waktu dua belas tahun, tanah untuk tanaman karet berlipat tiga kali hingga mencapai 1,7 juta hektar -- lebih dari 5 persen dari seluruh areal tanah pertanian. Sembilan puluh lima persen karet hasil perkebunan itu digunakan demi kepentingan ekspor, dan sebagian besar diekspor ke Jepang.26 Para petani muslim dari Thailand Selatan menggambarkan dampak kebijakan Bank Dunia di depan Forum Rakyat:

Saya sangat marah dengan para pendonor itu. Mereka telah menghancurkan semua jenis tanaman.... Memang, mereka telah meningkatkan produkasi tanaman karet. Namun, sejak tahun 1985 pemerintah melarang jenis tanaman lain ditanam di tanah-tanah yang mendapat subsidi. Jika mereka menemukan tanaman mangga atau nangka di tanah-tanah itu, maka mereka mengenakan denda kepada petani yang menanamnya sebesar 250 baht ($10) untuk tiap pohonnya.27

Para petani kecil dan nelayan menggambarkan, kondisi ekosistem pantai yang menjadi tempat gantungan hidup mereka semakin diperparah dengan kebijakan pemerintah untuk menggalakkan tambak udang demi tujuan ekspor. Antara tahun 1985 sampai dengan 1990, ekspansi dari pabrik tambak udang besar telah menghancurkan hampir separoh hutan tanaman bakau di pantai-pantai negara tersebut. Mereka telah menghancurkan habitat ikan, juga menyebabkan terjadinya perembesan air asin ke dalam air tawar yang sehari-harinya digunakan untuk pengairan sawah.28

Sampai dengan tahun 1988, 15 juta hektar tanah, hampir separoh dari tanah di Thailand (atau sekitar 31,7 juta hektar) telah dibagikan kepada perusahaan kayu swasta, dan 10 persen lainnya -- 3,2 juta hektar hutan dan tanah pertanian -- diubah menjadi tanah untuk produksi tanaman ekspor.29 Hutan yang meliputi wilayah Thailand berkurang secara drastis, yaitu dari 53 persen dari seluruh wilayah yang ada menjadi hanya sekitar 28 persen di akhir tahun 1980-an. Dengan demikian, ia menyebabkan erosi di berbagai tempat.30 Pada bulan November 1988, hujan lebat membanjiri Thailand Selatan dan menghancurkan banyak hutan. Ratusan orang tak berdosa menemui ajal. Akhirnya, setelah bencana nasional itu terjadi (tepatnya tahun 1989), pemerintah Thailand memaklumatkan pelarangan penebangan kayu.h)

Pemagaran Besar-besaran di Thailand

Forum Rakyat tahun 1991 memperlihatkan, perubahan ekologis, sosial, dan ekonomi yang sangat besar dan membuat sumber tanah subur di Thailand jatuh dalam eksploitasi besar-besaran demi tujuan ekspor. Pendudukan tanah-tanah negara untuk kepentingan "pembangunan" skala besar selama dua dekade terakhir, telah menciptakan jutaan petani menjadi petani tak bertanah. Akhirnya, banyak di antara mereka berurbanisasi ke Bangkok. Diperkirakan, sekitar 10 juta petani tak bertanah mencari nafkah dengan menggarap tanah yang ada di bawah kekuasaan The Royal Forest Department. Kebanyakan, petani itu telah terusir dari tanah-tanah mereka akibat pembuatan proyek bendungan, pemberian konsesi pengusahaan hutan, dan proyek-proyek industri pertanian berskala besar, juga oleh program pemukiman strategis yang diatur oleh militer beberapa tahun lalu untuk melawan gerakan komunis.

Apa yang disebutkan di atas merupakan proses yang sangat tidak demokratis, tidak sehat secara ekologis, dan merupakan langkah mundur secara politis. Ada banyak pengamat yang membandingkan kondisi transformasi di Thailand dengan pemagaran tanah-tanah layak tanam di Inggris di awal Abad Pertengahan.i)

Tidak ada contoh yang lebih baik dari pemagaran tanah pedesaan di Thailand seperti yang dilakukan oleh The Thai Royal Forest Department dan penguasa militer, di mana sebelumnya digembar-gemborkan sebagai proyek reboisasi yang menguntungkan bagi lingkungan. Tujuan dari Program Khor Chor Kor (semacam proyek peremajaan tanah dan pembuatan kembali hutan agrikultural cadangan) adalah membebaskan bidang tanah yang luas untuk reboisasi, dan semuanya diatur oleh The Royal Forest Department. Tahap pertama difokuskan pada tanah-tanah kering dan gersang di sebelah timur laut Thailand, di mana lebih dari 1,52 juta orang dipindahkan dalam periode lima tahunan sejak tahun 1991. Mereka akan dengan paksa diusir dari sekitar 1,5 juta hektar tanah, dan akan dipindahkan ke daerah yang luasnya hanya setengah dari luas daerah sebelumnya. Padahal, tanah baru itu sudah didiami oleh lebih dari dua juta orang Thailand miskin lainnya. Kemudian, pemerintah akan mengalihkan penguasaan 1,5 juta hektar tanah itu pada pengusaha swasta besar yang siap menanami dengan tanaman eucalyptus untuk menghasilkan bubur kayu (paper pulp) demi tujuan ekspor. Perusahaan kerja sama Jepang-Thailand dan Royal Dutch Shell adalah beberapa calon investor yang sudah siap.31

Para penduduk desa -- didukung oleh para imuwan Thailand serta aktivis pecinta lingkungan hidup -- menegaskan, dengan biaya dan pengorbanan manusia yang lebih sedikit, reboisasi dapat dilakukan dengan Program Perhutanan Masyarakat (Community Forestry Program). Program itu diatur dan dilakukan oleh petani dengan menggunakan jenis tanaman lokal. Mereka menyatakan, penanaman eucalyptus secara besar-besaran akan menyebabkan bencana ekologis, karena tumbuhan yang sangat cepat tumbuh itu akan menghancurkan kesuburan tanah dan menghabiskan kandungan air permukaan di daerah semikering seperti di timur laut Thailand. Lagipula, penanaman tunggal eucalyptus tampak monoton dan justru menjadikan padang hijau beracun bermunculan, serta tidak mendukung keragaman biologis. Daun-daunnya sangat beracun bagi sebagian besar binatang. Batangnya yang keras dan cepat tumbuh akan mematikan tanaman lokal yang lebih mempunyai nilai gizi dan bisa menjadi tempat menyimpan air. Yang lebih buruk lagi adalah, ternyata hutan alami di timur laut Thailand ditebangi dengan liar, sehingga ada alasan untuk menanami dengan tanaman eucalyptus yang dipandang lebih menguntungkan.32

Tahun 1990 dan 1991, penolakan terhadap Khor Chor Kor merebak di daerah Pa Kham, propinsi Buri Ram. Dua belas desa dengan penduduk lebih dari 2,000 keluarga dikepung oleh ratusan tentara yang mengancam akan membakar rumah mereka bila tetap menolak meninggalkan rumah. Para penduduk desa menyatakan, The Royal Forest Department sesungguhnya melindungi penebangan ilegal 12,000 akre hutan alami yang tersisa di daerah tersebut agar seluruh daerah itu dapat ditanami tanaman yang diinginkan pemerintah. Seorang pendeta Buddha di sana, Phra Prajak Khuttajitto, memimpin para penduduk desa melakukan protes. Para penduduk secara damai (tanpa kekerasan) menentang para penebang ilegal tersebut. Dan, di bawah kepemimpinan Phra Prajak, mereka melakukan gerakan pentakbisan pohon-pohon tua dengan tali kuning jingga Buddha. Tujuannya adalah, bila orang akan menebang pohon-pohon itu, ia akan merasa segan karena telah merusak tempat-tempat keramat. Pada musim gugur 1991, Phra Prajak memimpin upacara khusus yang berlangsung berbulan-bulan, di mana ratusan penduduk desa membuat lingkaran besar di hutan Dong Yai dengan senar suci Buddha yang telah diberkati. Sepanjang musim gugur dan musim panas 1991, ada berbagai bentrokan kecil-kecilan dengan tentara, sehingga beberapa kali Phra Prajak ditahan.33

Pada bulan September, untuk kesekian kalinya Phra Prajak ditahan karena memimpin sekitar 400 orang memprotes serangan militer terhadap penduduk desa yang menentang program Khor Chor Kor. Dalam peristiwa terahir itu, ratusan penduduk dihajar tentara. Mendekati pertemuan Bank Dunia di Bangkok, Phra Prajak dikabarkan hilang.

Dalam program Khor Chor Kor pula, Bank Dunia bersama lembaga bantuan multilateral yang lain seperti FAO (organisasi PBB yang mengurus masalah pangan dan pertanian) dan UNDP (United Nation Development Program) secara tak langsung memainkan peran, namun bagaimanapun peran-peran mereka tetap destruktif (mephistopelean roles). Tahun 1980-an, tiga badan tersebut menelorkan usaha internasional yang ambisius, yang dikenal sebagai Tropical Forestry Action Plan (TFAP). Pada awalnya, TFAP digembor-gemborkan sebagai usaha untuk menyelamatkan hutan tropis dunia. TFAP, yang menjadi acuan bagi master plan perhutanan Thailand, menjadi sebuah rancangan yang benar-benar baru, dan selanjutnya menjadi model pengembangan di seluruh negara berkembang. Perusahaan bubur kertas (pulp) dan konsultan kehutanan raksasa Finlandia, Jaakko Poyry, ditugaskan membuat master plan bagi Thailand. Jaakko Poyry sangat terkenal di seluruh dunia. Ia telah berpengalaman dalam penebangan Hutan Amazon di Brasilia, Malaysia, Burma, Indonesia, dan berbagai negara berkembang lainnya. Di samping itu, ia juga sangat berpengalaman dalam penanaman eucalyptus dan pengusahaan pulp. Tujuan utama kehadiran perusahaan itu terfokus pada peningkatkan hasil produksi hutan dan ekspor hasil hutan Thailand lewat penanaman eucalyptus. Sesungguhnya, menurut salah seorang pengamat yang sangat memahami permasalahan, rencana itulah yang menjadi penyebab utama munculnya larangan penebangan di tahun 1989.34

Ekonomi Rumah Prostitusi Global

Forum Rakyat yang gegap gempita itu menegaskan apa yang sudah diketahui oleh para delegasi Bank Dunia: eucalyptus dan prostitusi, yang pada gilirannya dipastikan akan bermuara pada pertumbuhan (growth). Pada tahun 1990-an, perekonomian Thailand tumbuh lebih cepat dibanding negara-negara berkembang lainnya. Negara itu juga menjadi tempat pertumbuhan prostitusi yang pesat. Nong Yao Naowarat, seorang profesor pendidikan dari Thailand Utara ketika berbicara di depan Forum Rakyat mengatakan, kebijakan perekonomian yang diterapkan telah mengubah Bangkok menjadi rumah prostitusi terbesar di planet ini.

Nong Yao melihat, model pembangunan yang dilaksanakan pemerintah (dan didukung oleh lembaga internasional semacam Bank Dunia) telah meningkatkan kesenjangan sosial dan menghancurkan akses kaum miskin terhadap sumber-sumber alam tempat mereka bergantung. Nong Yao juga mencatat, sebagian besar prostitut di Bangkok berasal dari daerah miskin pedesaan di sebelah utara dan timur laut Thailand. Di daerah utara, hampir 30 persen petani tidak mempunyai tanah, dan 20 persen yang lain hanya mempunyai tanah kurang dari 1 rai (2/5 akre). Para wanitanya bekerja sebagai buruh harian di perusahan besar pengekspor hasil tanaman perkebunan. Mereka dibayar sekitar $1,2 sampai $1,6 per hari, dan di pabrik-pabrik dengan bayaran $0,8 sampai $2 per hari. Puluhan lapangan golf dan kondominium untuk berlibur dibangun di daerah utara. Banyak pengusaha Jepang melihat, ternyata lebih murah terbang ke Thailand dan bermain golf sepanjang minggu di sana ketimbang membayar iuran keanggotaan golf club di Jepang. Para wanita yang bekerja sebagai perawat lapangan rumput (tending grass), waitress, atau caddy di golf club mendapat bayaran antara $32 sampai $60 per bulan. Para prostitut rata-rata mendapat bayaran antara $400 sampai $800 per bulan, dan yang masih muda dan cantik dapat mempunyai pendapatan tahunan sebesar $20,000. "Inilah pekerjaan-pekerjaan yang ditawarkan di daerah utara. Mereka tidak mempunyai pilihan," kata Nong Yao.

Jika Saja Pembangunan Menempatkan Manusia sebagai Tujuan

Pada suatu minggu di Bangkok tahun 1991, cerita yang beredar bukan hanya mengenai dua kota, namun mengenai dua "planet " yang sangat berbeda. Pada pertemuan resmi di Gedung Pusat Konferensi Queen Sirikit, 156 pejabat yang hadir dalam pertemuan Bank Dunia dan IMF -- sebagian besar menteri keuangan dan presiden bank sentral -- menyampaikan pernyataan klise dan membosankan tentang perlunya ekspansi kebijakan ekonomi internasional, serta mengenai runtuhnya komunis di dunia. Dunia di dalam Gedung Pusat Konferensi Queen Sirikit tampak seragam dan homogen, di mana kekuatan-kekuatan yang tak kasat mata seperti utang, penyesuaian atau penataan, kemiskinan dan lingkungan hidup diperbincangkan dalam skala global. Ketika suatu persoalan yang buruk muncul dalam konferensi, satu-satunya kata yang terdengar adalah "jual" (trade-off). Satu-satunya aktor yang dapat diidentifikasi adalah negara (state). Menurut para pembicara dalam pertemuan itu, penyelesaian mendasar terhadap setiap masalah yang muncul adalah dengan mendukung setiap pertumbuhan (growth). Di "planet" (planet) aneh para birokrat keuangan itu, sulit untuk mendeteksi individu atau kelompok yang membuat keputusan atau bertanggung jawab terhadap berbagai asumsi yang muncul. Kita juga akan kesulitan mendeteksi bentuk-bentuk kehidupan yang tak manusiawi, yang anehnya tidak terlihat dengan jelas walau yang mendominasi planet itu adalah makhluk manusia.

"Bumi Forum Rakyat" (The Earth of People's Forum) tampak sebagai dunia yang samasekali berbeda. Sebagian besar tanah-tanahnya dihuni oleh manusia-manusia yang kehidupan sehari-harinya dekat dengan keberadaan berbagai spesies binatang dan tanaman. Seringkali, kehidupan mereka bergantung pada hutan, aliran air, lembah sungai, dan tanah yang basah -- yang keberadaanya di seluruh dunia semakin terancam. Dengan demikian, cukup logis bila mereka mengembangkan nilai-nilai yang memberikan keuntungan ekonomi pada skala sedang dan lokal, namun tetap menjaga keseimbangan dan keamanan lingkungan mereka. Dan, mereka akan berjuang untuk keseimbangan dan keamanan lingkungan tersebut.

Di Thailand misalnya, gerakan untuk "mentakbiskan" pepohonan hutan menyebar ke seluruh negeri. Pohon-pohon tua yang dilingkari tali kuning jingga Buddha yang sudah diberkati pendeta makin marak. Desa-desa banyak bergantung pada hutan-hutan tradisional yang menyediakan beragam makanan dan tanaman obat-obatan, serta melindungi kandungan air permukaan tanah. Suatu studi kasus menarik telah dilakukan oleh sebuah organisasi non-pemerintah The Project for Ecological Recovery mengenai sistem irigasi tradisional Muang Phai (secara harafiah, Muang Phai berarti saluran atau bendungan).36

Di daerah perbukitan sebelah utara Thailand, hampir 80 persen sawah masih mengunakan sistem pengairan tradisional Muang Phai. Teknologi itu sangat sederhana dan berskala kecil. Tanggulnya dibuat dari lumpur, balok kayu, dan bambu serta tongkat-tongkat untuk merintangi, namun tidak menutup arus sungai-sungai kecil. Sebuah sistem saluran sengaja dibuat untuk mengalirkan air ke sawah-sawah. Tanggul itu sengaja dibangun untuk membiarkan air mengalir terus-menerus, dan dengan begitu menimbulkan adanya endapan lumpur dan endapan-endapan lainnya. Kekhususan itu merupakan ciri yang penting dari Muang Phai, karena bendungan beton buatan pemerintah telah mempercepat pengendapan lumpur dalam tandon air. Dan, saluran air di belakangnya atau sebelumnya karena ia tidak membiarkan endapan-endapan lumpur melewatinya. Hal tersebutlah yang membuat para petani dengan sengaja menjebol bendungan tersebut.

Secara teknologis, Muang Phai hanya sedikit yang mempunyai ciri khusua. Namun, ia lebih banyak bermakna demi organisasi sosial dan manajemen lingkungannya. Setiap sistem irigasi Muang Phai mempunyai panitia pengguna lokal dengan anggota-anggota yang mempunyai tanggung jawab terhadap perawatan sistem itu. Panitia mengatur pembagian air dan pembagian kerja secara adil dalam perawatan bendungan yang biasanya dipertanggungjawabkan secara terbuka setiap tahun. Suatu ciri penting dari kaca mata ekologis adalah bahwa panitia juga mewajibkan anggotanya untuk melindungi dan bertanggung jawab terhadap hutan-hutan sekitar. Berbagai gerakan yang menentang keberadaan penebangan ilegal pada tahun 1980-an dipelopori oleh organisasi irigasi Muang Phai.

Dalam kontek semacam itulah proyek besar bendungan multifungsi yang didukung oleh Bank Dunia seperti Bhumibol dan Sirikit mempunyai dampak yang merugikan terhadap sistem yang integratif dan berkelanjutan yang sudah tercipta sebelumnya (baca: Muang Phai). Dalam proyek-proyek bendungan besar, kontrol penggunaan air dan konservasi hutan di berikan kepada badan-badan pemerintah (Thai Royal Forest Departmant dan Thai Royal Irigation) dan pengusaha-pengusaha besar swasta. Badan-badan yang berbuat sewenang-wenang tersebut, dengan mendapat saran dari organisasi internasional semacam Bank Dunia, mencoba untuk mendapatkan partisipasi penduduk setempat. Namun, pendekatan top-down itu hanya dipandang sebelah mata, karena sistem yang ditawarkan badan-badan itu hanya upaya menghilangkan mekanisme kontrol dari penduduk setempat.

Biaya yang dikeluarkan badan-badan pemerintah untuk melakukan pendekatan yang sebenarnya destruktif itu sangat besar. Setiap tahun, Thai Royal Irigation meningkatkan anggaran biaya perawatan. Hal itu, secara otomatis, hanya akan menambah utang luar negeri yang hanya dapat dibayar dengan cara memacu pendapatan ekspor atau melakukan utang lagi. Ironisnya, dalam sistem Muang Phai biaya itu tidak ada, karena para petani yang menjadi anggota Muang Phai secara sukarela menyumbangkan sumbangan materi maupun tenaganya untuk perawatan bendungan. Sayangnya, dalam ekonomi pasar mekanisme tersebut tidak dikenal.

Forum Rakyat Bangkok berakhir Kamis, 10 Oktober 1991. Forum itu menghasilkan tuntutan untuk menghentikan penghancuran stabilitas ekologis dan melakukan perbaikan sistem ekonomi, serta menuntut menghindari proses marjinalisasi jutaan rakyat Thailand. Pemimpin Forum tersebut, Profesor Saneh Chamarik mengutuk Bank Dunia dan IMF, "Badan-badan keuangan ini harus berhenti memikirkan pertumbuhan ekonomi semata, karena hal itu telah menghancurkan kehidupan rakyat kecil dan lingkungan hidup." Dia mengecam sifat tertutup kedua badan tersebut, dan menuntut agar mengakui hak asasi rakyat untuk mendapatkan akses informasi mengenai proyek yang akan memengaruhi hidup mereka. Organisasi Swadaya Masyarakat di Thailand meminta agar pemerintah mengambil kebijakan pembangunan yang menempatkan manusia sebagai tujuan. Dan sebagai langkah praktisnya, diupayakan untuk menerapkan desentralisasi kebijakan pemberian kesempatan pada penduduk lokal untuk melaksanakan pengaturan lingkungannya.37

Minggu berikutnya, ribuan perwakilan LSM yang berasal dari lebih 40 negara menghadiri pertemuan lanjutan lembaga-lembaga swadaya masyarakat, yaitu Forum Internasional. Pembicara dari India, Malaysia, Bangladesh, Philipina, Indonesia, Brazil, dan negara berkembang lainnya memberikan lebih banyak studi kasus mengenai penolakan penduduk lokal. Juga dibeberkan berbagai tindakan alternatif yang perlu diupayakan terhadap proyek berskala besar yang didanai lembaga internasional. Forum itu berhasil membuat proyek-proyek besar menjadi serba salah, tapi nekad meneruskan tindakan-tindakannya.

Bola Kaum Pengembara

Selama pertemuan di Bangkok itu, bank-bank terkemuka di dunia dan badan-badan investor mengadakan acara resepsi mewah di hotel-hotel terkenal di Bangkok, persis seperti yang kerap mereka lakukan sebelumnya di Washington, Berlin, dan kota-kota besar lainnya. Bank-bank atau lembaga donor dari Jepang dan Amerika menaruh perhatian pada hal-hal serupa pada tahun ini, misalnya mempermasalahkan sejumlah skandal dan kecurangan-kecurangan yang melibatkan kedua institusi keuangan Internasional itu. Sebagai contoh, terdapat kecurangan yang menggemprkan dunia perbankan yang dilakukan oleh Michael Walken. Kecurangan lainnya dilakukan Nuo Onoue, seorang spiritualis yang juga pemilik restoran terkenal di Osaka. Ia telah memalsukan sertifikat deposito untuk memperoleh pinjaman sebesar $1,8 milyar dari The Industrial Bank of Japan (IBJ), sebuah institusi keuangan terkemuka di Jepang. Onoue, seorang wanita berusia sekitar 60-an tahun yang percaya pada tahayul, bersama dengan para pedagang saham (stockbrokers) telah mengadakan semacam ritus pertemuan dengan roh orang mati di belakang restorannya agar mendapat bantuan dalam permodalan. Sekarang dia dijebloskan ke dalam penjara.38

Salah seorang yang berbahagia dengan adanya pertemuan di Bangkok adalah Yoh Kurosawa, pimpinan IBJ. Selama dua minggu di bulan September, dia menyembunyikan diri di salah satu hotel mewah di Tokyo untuk menghindari kejaran nyamuk pers Jepang yang ingin mengetahui mengenai kekalahan IBJ.39 Sebelumnya, dia telah mengirim istri dan anak-anaknya ke Eropa dalam kasus serupa. Sementara itu, di Bangkok dia terlibat aktif dalam setiap acara perjamuan IBJ di Hotel Hilton Internasional yang mewah dan elegan. Tidak hanya karena terdapat sajian sampanye dan caviar, namun juga sajian khusus musik-musik Mozart atau Handel.

Sebuah skandal besar secara tidak sengaja telah melibatkan sebagian besar institusi-institusi yang datang ke Bangkok (termasuk Bank Dunia). Tiga bulan sebelumnya, para pembuat kebijakan perbankan dan badan-badan penyita (Bank Regulators and Bailiffs) dari lebih 30-an negara telah melarang beroperasinya Bank of Commerce and Credit Inernational (BCCI) di negara mereka. Bank yang bermarkas di Luxemburg dan Kepulauan Caymen itu telah melakukan kecurangan terbesar dalam sejarah perbankan. BCCI didirikan oleh Agha Hasan Abedi, seorang Pakistan yang sesungguhnya telah dikenal sebagai penjahat perbankan. Bank yang didirikannya telah menjadi bank yang mengalami pertumbuhan paling pest dalam dua dekade terakhir ini. Pertumbuhannya yang ajaib itu dimungkinkan oleh adanya praktek-praktek kotor yang dilakukannya. Bank tersebut telah menipu nasabah dengan menyertakan modal fiktif sebesar $20 milyar dalam permodalan banknya. Mereka juga melakukan praktek pemutihan uang yang berasal dari bisnis-bisnis kotor. Kartel Medelin, Jenderal Manuel Noriega, Cia, dan Teroris Abu Nidal adalah beberapa langganannya. Untuk menghindari kebangkrutan, BCCI mencari nasabah dari berbagai sumber dengan menghalalkan segala cara. Salah satu strategi yang dilakukannya adalah dengan menyuap menteri-menteri keuangan atau pejabat Bank Sentral di negara berkembang agar mendepositokan cadangan anggaran keuangan negara-negara tersebut di BCCI. Cara kotor lainnya yang mereka lakukan adalah dengan cara menyediakan diri sebagai tempat penyimpanan uang tak halal para pejabat tinggi negara-negara berkembang, dan tentu saja menjamin segala kerahasiaanya. Sebelum BCCI ambruk, Bangladesh, Barbados, Belize, Kamerun, Guatemala, Mauritania, Nigeria, Saints Kites, Nevis, Pakistan, Togo, dan Trinidad telah mempercayakan devisanya kepada bank busuk itu. Demikian pula halnya dengan jutaan pekerja asing yang telah meninggalkan kewarganegaraannya di Timur Tengah dan Eropa, mereka telah kehilangan uangnya.40 Di Swaziland, negara kecil di bagian selatan Afrika, BCCI bahkan menjadi bank sentral.41

Hubungan baik dan kepercayaan yang telah diberikan Bank Dunia menjadi elemen strategis dari BCCI. Sehingga salah satu fungsi utama kantor BCCI di Washington adalah menjalin "hubungan baik" dengan Bank dunia yang ternyata sukses mereka lakukan. BCCI mempunyai apa yang oleh reporter Wallstreet Journal Report, Peter Truell, dan seorang jurnalis Washington, Larry Gulwin sebagai "sejumlah koneksi yang mengejutkan" (a startling number of connections). Moeen Qureshi, vice-president senior bagian operasi BCCI adalah pejabat yang menjalankan Bank Dunia dari tahun 1988 sampai 1991. BCCI telah menjadikan Qureshi sebagai kepala dari Fisrt of American Bankshares (bank saham), sebuah institusi keuangan ilegal dan tertutup yang dikendalikan BCCI dari Washington. Hanya sebulan sebelum pertemuan di Bangkok, saudara Qureshi telah mengajukan permohonan untuk mendirikan cabang BCCI di Pakistan. Menurut Peter Truell dan Larry Gulwin, vice-president Bank Dunia untuk Amerika Latin, Shahid Husain, mempunyai hubungan dekat dengan Abedi. Kelompoknya telah membicarakan kemungkinan bekerja bagi BCCI, dan secara langsung BCCI mempekerjakan beberapa mantan pejabat teras Bank Dunia.42 Melihat eratnya hubungan itu, maka dapat dimaklumi bila di beberapa negara Afrika, Bank Dunia telah menunjuk BCCI sebagai agen pembayaran mereka.43k)

Tentu saja, beberapa orang yang hadir dalam pertemuan di Bangkok merasa sangat kehilangan dengan ambruknya BCCI. Dalam pertemuan tahunan Bank Dunia dan IMF yang dilaksanakan secara besar-besaran di negara berkembang -- di Seoul Korea pada tahun 1985 -- orang-orang BCCI secara sembrono melakukan penyuapan terhadap pejabat Bank Sentral Nigeria ketika mereka melaksanakan pertemuan.44

Selasa 15 Oktober 1991, pimpinan baru Bank Dunia, Lewis Preston, menyampaikan pidato pembukaan di Gedung Pusat Konferensi Queen Sirikit di hadapan dua ribu delegasi. Inilah saat-saat di mana semua daya upaya dicurahkan selama dua puluh dua bulan terakhir: pembangunan Pusat Konferensi seharga $100 juta dalam waktu singkat, pengusiran hampir 2,000 orang gelandangan atau penghuni rumah-rumah kumuh, mobilisasi tim medis dan polisi keamanan untuk waspada selama 24 jam. Mendengarkan pidato Preston, kita seolah-olah mendapat gambaran bahwa kita bisa hidup lebih baik bila tercipta keadaan yang demikian: negara-negara industri mengejar pertumbuhan yang lebih tinggi, dunia menjadi pasar global yang terintegrasi, dan kemajuan yang dicapai dengan cara meregulasi utang di negara-negara miskin, serta runtuhnya komunisme di Soviet yang telah mengarahkan pada kesatuan pikiran mengenai pembangunan yang menggantikan konflik ideologi. Dia menegaskan bahwa konsensus global -- mengenai kebutuhan pasar bebas, pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, dan keseimbangan yang memadai antara peran pemerintah dan sektor swasta -- akan menyelimuti dunia.45

Tentu saja banyak tantangan yang muncul. Kompleksitas dan tahap-tahap perubahan telah terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Persaingan modal dan pasar meningkat. Negara-negara di dunia telah menjadi saling tergantung. Dia menunjukkan sebuah paradoks dalam dunia yang seragam, di mana jaringan kerja komunikasi dan perdagangan yang mengatasi ruang dan waktu telah menarik semua orang. Tempat pun menjadi semakin dekat: tatanan yang baru itu telah menimbulkan munculnya kekuatan sentrifugal yang kuat dalam negara-negara, dan menjadikan permasalahan lingkungan menjadi masalah yang harus segera ditangani.46

Tapi untuk apa? Dan mengapa? Untuk apa semua orang-orang penting itu bertindak sedemikian jauh dengan korban yang sedemikian besar? Untuk apa pesta-pesta, resepsi, pidato-pidato yang membosankan dari pengatur keuangan dunia dilakukan? Untuk apa Thailand menghabiskan puluhan juta dolar untuk melaksanakan peristiwa yang hanya berlangsung selama tiga hari tersebut? Untuk apa pertemuan besar-besaran para bankir itu selalu terjadi saban tahun? Tidakkah itu merupakan ritus antropologis yang aneh, pertemuan dari kaum pengembara-pengembara global yang kaya raya? Mungkin itu bisa dibandingkan dengan pameran onta yang besar di Pushkar, Rajastan, di mana ribuan saudagar ternak dari berbagai kasta di seluruh India berkumpul setiap tahun dalam upacara ritual yang besar yang lebih dari sekadar pasar atau pertemuan. Dan apakah tujuan dari dunia yang jungkir balik (roller coster world) yang disampaikan oleh presiden Bank Dunia tentang pertumbuhan, kompetisi pasar dan modal, kekuatan-kekuatan integrasi dan sentrifugal? Untuk apa pada kenyataannya 2,000 penghuni rumah kumuh tergusur dari Duang Pitak dan Klong Paisingto dalam waktu dua setengah bulan? Dan mengapa tujuh puluhan keluarga yang terusir masih tinggal di tenda-tenda yang hanya berjarak 400 yard dari Pusat Konferensi di mana Lewis Preston berpidato?

Sementara Presiden Bank Dunia berkata di depan para anggota delegasi? "Pagi ini saya ingin kita berdiskusi bagaimana kita dapat memperoleh keuntungan dari kesempatan yang ada, dan berhadapan dengan tantangan-tantangan yang ada di depan kita, sehingga kita dapat membuat langkah maju untuk tujuan utama kita -- pengurangan kemiskinan." Dia menyatakan lagi, "Pengurangan kemiskinan yang menjadi keprihatinan utama saya akan tetap menjadi perhatian utama Bank Dunia."47

"Dan bagaimana kita dapat merencanakan untuk mewujudkan apa yang menjadi tujuan utama kita (pengurangan kemiskinan)?" kata Preston. Pertama-tama, dan terutama, Bank Dunia harus menjadi pemimpin usaha-usaha pembangunan di seluruh dunia. Bank Dunia akan menjadi artikulator negara-negara berkembang dalam negosiasi dan pertemuan-pertemuan internasional, dan membantu untuk mengoordinasikan segala usaha badan-badan pemerintah dan nonpemerintah (LSM) di seluruh dunia. Dan, hal tersebut semuanya tetap memperhatikan kepentingan kaum miskin. Dengan begitu, pemerataan bisa terwujud; tetap memperhatikan aspek lingkungan, sehingga pembangunan bisa berkelanjutan... dan memperhitungkan peran wanita yang sangat vital dalam pembangunan. Lebih konkret lagi, Preston menyatakan Bank Dunia lebih membutuhkan banyak dana untuk itu. Dan, untuk mendistribusikan lebih banyak uang, kita harus lebih mempercepat pembuatan keputusan dan meningkatkan sifat responsif kita. Visi tersebut -- watak-watak birokratis dan institusional Bank Dunia yang diartikulasikan oleh panitia speech writer -- nampak memusingkan. Lewis Preston, Jacques Attali, Yoh Kurosawa, dan 15 ribu bankir dan pejabat perbankan datang ke Bangkok untuk membantu Tante Roy, Kusuma Wong Srisuk, dan dua milyar orang-orang miskin lainnya di seluruh dunia. Dan sekarang, Lewis Preston mengatakan pada perwakilan delegasi 156 negara, Bank Dunia membutuhkan lebih dari itu. Pimpinan IMF, Michael Camdessus pun menegaskan dalam kesimpulan pidatonya mengenai perlunya negara-negara industri utama untuk memberikan dukungan dana sebesar $180 milyar pada Bank Dunia.

Beberapa jam kemudian, di luar kota, 20 ribu penduduk Thailand dengan damai berbaris memprotes kediktatoran dan menuntut demokrasi.

"Andai Saja Rakyat yang Diutamakan..."

Hari berikutnya, Rabu 16 Oktober 1991, delegasi-delegasi berpisah. Pemerintah Thailand merasa puas, karena "pertemuan" itu berlangsung tanpa banyak gangguan, dan kesan dunia internasional terhadap Thailand semakin meningkat. Lebih dari seribu anggota delegasi memanfaatkan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh panitia. Hanya seorang yang meninggal dunia, yaitu seorang bankir Turki. Dia kelebihan dosis heroin.

Forum lembaga-lembaga nonpemerintah pun berakhir. Para aktivis dari 43 negara menandatangani deklarasi yang mendesak negara-negara kaya untuk mengurangi bantuan pada Bank Dunia dan IMF. Deklarasi itu mengecam model pembangunan yang dibuat dan didukung oleh Bank Dunia dan IMF, karena telah menimbulkan kerusakan lingkungan, kesenjangan sosial yang tajam, dan secara ekonomis tidak berkesinambungan. Mereka menyuarakan kembali tuntutan yang dibuat dalam Forum Rakyat Thailand seminggu sebelumnya mengenai demokrasi, pembangunan yang mengutamakan kepentingan mayarakat setempat (mengutamakan rakyat).

_______________

  1. Pada bulan Mei 1991, hampir 3 persen militer Thailand dan 1 persen dari semua wanita yang dites di klinik prenatal positif mengidap virus HIV. Di akhir dekade ini, Menteri Kesehatan memperkirakan, dua sampai empat juta orang Thailand akan terinfeksi.
  2. Yang termasuk institusi keuangan internasional terpenting lainnya adalah The Regional Multilateral Development Banks (MDBs), The Inter-American Development Bank, The Asian Development Bank, The African Development Bank, dan juga European Bank for Reconstruction and Development (EBRD) yang baru terbentuk pada tahun 1990. MDBs didirikan pada tahun 1960-an dengan tujuan memberikan pinjaman uang kepada negara-negara berkembang untuk proyek pembangunan ekonomi berskala besar di daerahnya masing-masing. Sebagian besar struktur dan operasinya meniru model Bank Dunia. EBRD didirikan atas inisiatif pemerintah Perancis dan Jacques Attali untuk memberikan pinjaman pada pembangunan pasar baru ekonomi di Eropa Timur dan bekas Uni Soviet. Badan tersebut juga merupakan institusi keuangan internasional yang didirikan dengan latar belakang sama seperti halnya Bank Dunia dan MDBs. Bab 3 akan membahas secara lebih detail asal-usul Bank Dunia, IMF, dan sistem ekonomi internasional pasca-Perang Dunia II.
  3. Total biaya proyek yang dibiayai Bank Dunia biasanya dua atau tiga kali lebih besar dari pinjaman Bank Dunia. Hal itu terjadi karena ada bantuan pendanaan dari pemerintah lokal, bank swasta, dan MDBs, The American Development Bank, dan The Foreign Aid Agencies of Japan and The Western European Nation. Pengeluaran pembayaran Bank Dunia untuk dana pinjaman baru meningkat dalam beberapa tahun. Dengan begitu, jumlah uang Bank Dunia yang dipinjamkan per tahun kurang dari jumlah peminjaman berdasarkan komitmen baru. Pada tahun 1992, Bank Dunia mengeluarkan uang sejumlah $16,43 milyar.
  4. Untuk melihat lebih detail peranan Bank dalam pengaturan tetek-bengek, lihat Bab 5 dan 7.
  5. "End-use efficiency" mengacu pada usaha penghematan dalam menggunakan dan mengonsumsi energi yang digunakan, dan mengurangi kebutuhan total tenaga listrik dengan hasil yang sama (dengan bendungan Bank Dunia) untuk kebutuhan pencahayaan, pemanasan, dan produksi industri. Tenaga listrik yang dihasilkan dapat disuplai untuk pelanggan baru, dan oleh karena itu dapat mengganti tenaga yang seharusnya dihasilkan lewat penyimpanan energi dalam fasilitas generator baru semacam bendungan hidroelektrik dan pembangkit listrik tenaga batu bara (coal-fired plant). Di negara industri baru seperti Thailand, hanya sepertiga atau seperempat dari total energi yang ditawarkan (supply-side) yang laku "terjual" (demand-side). Sikap mengabaikan dari Bank Dunia terhadap end-use efficiency dan konservasi energi akan dibahas lebih detail di Bab 6.
  6. Badan-badan bentukan pemerintah Thailand adalah kepanjangan tangan mekanisme Bank Dunia untuk memengaruhi kebijakan ekonomi negara-negara berkembang serta menekan institusi demokratis. Kita akan kembali membahas persoalan ini dalam Bab 2 dan 3.
  7. Salah seorang ahli masalah hutan Thailand, Larry Lohman, menulis,"Kebijakan ekonomi yang didukung Bank Dunia telah gagal menghindari pembabatan hutan (deforestation), bagaimanapun baiknya mereka melakukan usaha pencegahan" (Lohman, "Trees Don't Grow on Money" (lihat end note 34), 1). Pembabatan hutan menimbulkan kesenjangan sosial. Selain itu, hutan-hutan di Thailand dan negara-negara Asia Tenggara dikuasai demi kepentingan ekonomi segelintir orang. Lihat Gopal B. Thapa dan Karl E. Weber, "Actors and Factors of Deforestation in 'Tropical Asia'", Environmental Conservation, Vol. 17, No.1 (Spring, 1990), h. 19-26.
  8. Namun, larangan itu sulit untuk diterapkan, dan beberapa perusahaan penebangan ilegal masih tetap beroperasi. Perusahaan penebangan Thailand dan militer juga mencari hak penguasaan hutan di negara tetangga semacam Laos dan Burma.
  9. Para Tuan Tanah ingin mendapat penghasilan kontan dengan cara memagari tanah-tanah padang rumput. Dulu, tanah-tanah itu menjadi tempat bertahan hidup para yeoman (kaum pengembara). Proses pemagaran berlangsung selama ratusan tahun. Proses itu juga menciptakan kemiskinan, ketercerabutan, dan penderitaan bagi banyak orang. Hal tersebut memaksa penduduk melakukan urbanisasi besar-besaran pada Abad Pertengahan di Inggris, yang berujung pada pembentukan kelas pekerja modern di Inggris.
  10. Michael Milken, adalah contoh dari "go-go eighties" di Wallstreet; dia memproleh $500 juta dalam satu tahun dan menjalankan firmanya, yakni Drexel Burnham Lambert, untuk mendapatkan keuntungan tersembunyi dengan menemukan, memonopoli, dan mendominasi badan usaha yang bergerak di bidang penjualan surat obligasi kacangan (junk bonds) yang bernilai dan berisiko tinggi. Milken menjalani hukuman di penjara federal mulai 3 Maret 1991 untuk selama 10 tahun setelah dinyatakan bersalah melakukan enam tindak kejahatan, termasuk perdagangan dalam perdagangan (insider trading), melakukan kecurangan-kecurangan dan penyuapan.
  11. Asosiasi Bank Dunia itu tampak semata-mata tidak langsung. Banyak dari asosiasi Bank Dunia yang diperdaya BCCI, termasuk Jimmy Carter dan Andrew Young, dan yang lainnya dituduh berbuat kriminal bank gelap seperti Clark Clifford. Mungkin, banyak yang bisa disingkap dari hubungan Bank Dunia dan BCCI dalam dokumen yang dirampas dari Bank BCCI di Washington dan sekarang berada di Departemen Kehakiman Amerika Serikat, Kantor Kejaksaan Wilayah New York, dan Federal Reserve.

Catatan:

  1. "Special Health Unit on Alert", Bangkok Post, 15 Oktober 1991, h. 28; Dr. Pongsak Bidayakorn, Direktur Bangkok General Hospital, dikutip dari artikel yang sama.
  2. Untuk melihat lebih jelas kehidupan malam dan situasi AIDS di Bangkok, baca Richard Rhodes, "Death in the Candy Store", Rolling Stone 618, 28 November 1991, h. 62.
  3. Laura Tyson, "Mr. Condom Hands Out Bangkok Survival Kit", Annual Meeting News (diterbitkan oleh International Media Partners, New York, N.Y dan The Nation, Bangkok, Thailand), 13 Oktober 1991, h. 63; Mechai Viravaidhaya (Menteri Kesehatan), "AIDS in the 1990s: Meeting and Chalenge", Bangkok, Thailand, 12 Oktober 1991 (tak diterbitkan).
  4. "Slums Near World Bank Veneu to Be Relocated", Nation, 18 Juni 1991; "Slum Scenery to Be Improved", Bangkok Post, 22 Juni 1991, h. 2; "Slum Dwellers Pressured to Move before WB-IMF Meet", Bangkok Post, 22 Agustus 1991; "Squaters Wait in Confusion as WB Conference Nears", Nation, 29 Juli 1991, A2; "NHA Tackles 'Eye-Sore' by Relocating Slum Dwellers", Bangkok Post, 4 Agustus 1991. The Nation adalah suratkabar Bangkok berbahasa Inggris.
  5. Nopporn Wong-Anan dan Piyanart Srivalo, "PM Inspects WB Conference Hall", The Nation, 2 Agustus 1991, A3.
  6. "Life Under the Expressway", Bangkok Post, 15 Oktober 1991, h. 15.
  7. Untuk LSM-LSM Thailand, lihat Ernst W. Gohlert, Power and Culture: The Struggle Against Poverty in Thailand )Bangkok, Thailand, dan Cheney, Washington, USA: White Lotus Co., Ltd., 1991).
  8. Pembukaan Forum Rakyat dideskripsikan dalam "Poor Reveal Their Fears, Misery at People's Forum", Bangkok Post, 9 Oktober 1991, h. 3.
  9. "Watching 'Angels' from the Edge of the Slum", Nation, 9 Oktober 1991, h. 2.
  10. Lihat Jacques Attali, Millennium: Winners and Losers in the Coming World Order (New York: Times Books, 1991).
  11. Ibid., h. 4-5, 14.
  12. LSM-LSM Jerman menerbitkan sebuah ilustrasi ekstensif tentang peristiwa yang tejadi pada pertemuan di tahun 1988, juga tentang ulah para aktivis alternatif Jerman dan internasional: Buero fuer ungewoehnliche Massnahmen und Bundesconfrenz entwicklungspolitisscher Actions-Gruppen (BUKO), Wit, Witz, Widerstand: Die IWF/Weltbank-Kampagne in Bild und Wort (Berlin: Schmetterling Verlag, 1989).
  13. "Poor Reveal Their Fears, Misery at People's Forum", Bangkok Post, 9 Oktober 1991, h. 3; Ann Danaiya Usher, "Villagers Still Stranded from First WB Hydro Dam", Nation, 9 Oktober 1991, A4.
  14. Sumber uang pinjaman Bank Dunia pada EGAT meliputi: International Bank for Reconstruction and Development, Statement of Loans, 31 Agustus 1991, vol. 1 (Wilayah Afrika dan Asia); International Development Association, Statement of Development Credits, July 31, 1991.
  15. Lihat Edward S. Mason dan Robert E. Asher, The World Bank Since Bretton Woods (Washington, DC: Brooking Institutions, 1973), h. 689.
  16. "Gunmen Fire on Villagers Protesting Dam Project", Bangkok Post, 2 Juni 1991.
  17. Kronologi peristiwa ini dapat ditemukan dalam studi Project for Ecological Recovery, "Critical Analysis of World Bank Responses to Issues Raised by Thay NGOs Concerning the Pak Mun Hydroelectric Project", 31 Oktober (tak diterbitkan).
  18. Walt Rainboth, seorang profesor biologi, Universitas California di Long Angeles, surat kepada Dr. George Davis, Departemen Malakologi, Akademi Ilmu Alam Philadelpia, 4 Desember 1991, 6.
  19. Ibid., 4.
  20. Lihat, misalnya, Mark Rentschler, "Affirmative Investigation of the Pak Mun Dam", US Agency for International Development memorandum, 29 Agustus 1991 (tak diterbitkan), 8; "Rural Doctors' Group Oppose Pak Mool Dam", Nation, 22 Agustus 1991, A2.
  21. Porntib Boonkrob et al., "Local Water Resource Management, Thailand", dalam 1991 People's Forum International Case Study, Topic: Water (volume bendelan bisa dilihat di Project for Ecological Recovery, Bangkok, Thailand). Di awal tahun 1970-an, sudah terdapat bukti bahwa Bhumibol adalah sebuah kesalahan ekonomis karena keterbatasannya dalam mengantisipasi faedah irigasi dan tenaga yang diperlukan (lihat Mason dan Asher, Since Bretton Woods, 687).
  22. Eric D. Larson, ed., "Report on the 1989 Thailand Workshop on End-Used-Energy Oriented Analysis", Internationl Institute for Energy Conservation, Washington and Bangkok, April 1990; lihat Sonny Inbaraj, "Plan Offers to Save '15 Pak Mools", Nation, 15 Oktober 1991, A2.
  23. See Rentschler, "Affirmative Investigation of the Pak Mun Dam", 2-3.
  24. Oranuch Anusaksathien and Vatchara Charoonsantikul, "A Landing Lagacy", Nation, 6 Oktober 1991, B1.
  25. Lihat Art Van de Laar, The World Bank and the Poor (Boston, The Hague, and London: Martinus Nijhoff Publishing, 1980), 35; J. Howard et al., The Impact of International Organizations on Legal and Institusional Change in the Developing Countries (New York: International Legal Center, 1977). Untuk Thailand, lihat Mason dan Asher, Since Bretton Woods, 687-89.
  26. Sanitsuda Ekachai, "Is It Growth or Decline?" Bangkok Post, 3 Oktober 1991, 27.
  27. Ann Danaiya Usher, "Forum Raps 'Green Revolution'", Nation, 10 Oktober 1991, A2.
  28. Suda Kanjanawanawan, "Shrimp Farms Spoiling Ecosystems", Nation, 10 Oktober, A1.
  29. Ini adalah gambaran Kementrian Agrikultural Thailand, dikutip dari Ekachai, "Is It Growth or Decline?" Bangkok Post, 3 Oktober 1991, 27.
  30. Statistik Thai Royal Forest Department, dalam Thai Development Newsletter (diterbitkan oleh Thai Development Support Committtee, Bangkok), No. 18 (1990), 10.
  31. Paul Hanley, "The Land Wars", Far Eastern Economic Review, 31 Oktober 1991, 15-16; Larry Lohman, " Commercial Tree Plantations in Thailand: A Continuation of Deforestation by Other Means", Thai Development Newsletter, no. 18 (1990), 20-21.
  32. Lohman, ibid.
  33. "Soldiers Set to Move on Pa Khan Villager", Nation, 28 Februari 1991.
  34. Larry Lohman, "Trees Don't Grow on Money: Thai Forest and the World Bank", Bangkok Post, 10 Oktober 1991, bagian 3, 1; lihat juga Larry Lohman, "The Scourge of Eucalyptus in Thailand", Ecologist, volume 20, no. 1 (Januari/Februari 1990), 14. Menurut Lohman, Jaakko Poyry telah mencadangkan sedikitnya 40 proyek industri hutan di Brazil, termasuk kompleks Jari; operasi penebangan kayu di Amazon; pembuatan Bubur kayu; perkebunan yang dijalankan oleh Shell dan perusahaan lainnya; dan rencana untuk menggunakan hutan-hutan tropis sebagai bahan bakar pembuatan aluminium dan proyek wood gasifying ... Semua itu telah dikerjakan dengan PICOP (sebuah proyek yang didanai Bank Dunia) di Philipina; PT Indorayon and transmigrasi [Transmigaration] di Indonesia... operasi penebangan kayu milik pemerintah Malaysia; dan perusahaan eucalyptus dan bubur kayu di Burma, Thailand, Vietnam, Chile, dan Amerika Serikat serta lusinan perusahaan-perusahaan semacam dinegara-negara lainnya. (Lohman, "The Scourge of Eucalyptus", 17, no. 57.)
  35. "People's Forum Discuss Irony of Prostitution", Bangkok Post, 12 Oktober 1991.
  36. Diskusi mengenai irigasi muang phai didasarkan pada sumber-sumber berikut: Porntip Boonkrop et. al., "Local Water Resource Thailand", dalam Project for Ecological Recovery, 1991 People's Forum International Case Study, Topic: Water (1991); Larry Lohman, "Who Defends Biological Diversity?" Ecologist, vol. 21, no. 1 (Januari/Februari 1991, C1-C3; Kitti Thungsuro et. al., "The People and Forests of Thailand", dalam Project for Ecological Recovery, 1991 People's Forum International Case Study, Topic: Forests (1991). Lihat Chatchawan Tongdeelert dan Larry Lohman,"The Muang Faai Irigation System og Northern Thailand", Ecologist, vol. 21, no. 2 (Maret/April 1991).
  37. "Forum Urges Shift from Economic Growth Focus", Nation, 11 Oktober 1991; "Forum Urges Bigger Role for People in Development", Bangkok Post, 11 Oktober 1991, 3.
  38. Kevin Rafferty, "Kurosawa", Annual Meeting News, 15 Oktober 1991, 18. Kevin Rafferty, "The Rotten Core of Japan Inc." Annual Meeting News, 14 Oktober 1991, 49.
  39. Kevin Rafferty,"Kurosawa," Annual Meeting News, 15 Oktober 1991, 18.
  40. Peter Truell and Larry Gurwin, False Profits; The Inside Story of BCCI, the World's Most Corrupt Financial Empire (Boston and New York: Houghton Mifflin Co., 1992), 165-66.
  41. John Ring Adams and Douglas Frantz, A full service Bank: How BCCI Stole around the World (New York: Pocket Books, 1992), 92.
  42. Truell and Gurwin, False Profits, 97-98.
  43. Wawancara dengan Jack Blum, mantan kepala pengawas BCCI urusan Badan Eksekutif Hubungan Luar Negeri urusan Narkotika dan Terorisme, 31 Desember 1992. Badan ini, dipimpin oleh Senator John Kerry, seorang Demokrat dari Massachusetts, melaksanakan investigasi terhadap BCCI di tahun 1988-1989.
  44. Truell and Gurwin, False Profits, 166.
  45. "Address by Lewis Peston to the Board of Governor of the World Bank Group", siaran pers Bank Dunia, 15 Oktober 1991
  46. Ibid.
  47. Ibid.
  48. Ibid.