|
| INFID Publication Page | |
| Edi Cahyono's Page | |
| Catatan untuk buku: "Menggadaikan Bumi"1 oleh Arimbi Heroepoetri (DebtWATCH Indonesia)2 | ||
| Bruce Rich: Judul asli: Mortgaging the Earth: The World Bank, Environmental Impoverishment and the Crisis of Development. Penerbit: Beacon Press Boston, Massachusetts, USA Tahun: 1994 Tebal: 376 + ix Edisi Indonesia diterbitkan oleh INFID Cetakan 1, 1999
Untuk Paul John Rich, Jr. dan Doris Miller Rich
| Tulisan Bruce Rich yang berjudul "Mortaging the Earth" memberikan gambaran yang utuh dan mendetil tentang peranan Bank Dunia dalam perekonomian dunia, dominasi negara maju ke negara-negara berkembang dan terbelakang, juga mampu menggambarkan gerakan ornop dan rakyat yang mulai mengkiritisi peranan Bank Dunia dalam kehidupan mereka yang mulai muncul di berbagai belahan dunia. Termasuk beberapa kasus di Indonesia. Ini menunjukkan pemahaman yang mendalam dari penulis, termasuk jaringan yang luas baik di tingkat pejabat Bank Dunia maupun di tingkat ornop dunia. Sebagai salah satu aktivis lingkungan yang dengan sendirinya secara pribadi banyak terlibat dalam gerakan mengkritisi Bank Dunia, Bruce Rich berhasil 'menjaga jarak' untuk tidak selalu menghujat Bank Dunia, tetapi memberikan penjelasan rinci soal inisiatif terbentuknya Bank Dunia dan reaksi-reaksi yang terjadi sesudah itu. Tentang Isi Buku Usaha INFID untuk menterjemahkan buku karya Bruce Rich ini patut diacungi jempol. Karena memberi wacana literatur soal lika-liku pengadaan keuangan internasional, yang antara lain diemban oleh Bank Dunia, yang memang masih minim di Indonesia ini. Buku yang aslinya berhalaman 376 dan ketika diterjemahkan menjadi 100 halaman lebih panjang. Bisa mencerminkan usaha yang sungguh-sungguh dan teliti dari tim penterjemah dan penyunting bahasa untuk tidak saja menterjemahkan bahasa secara an sich tetapi juga menerjemahkan nuansa gaya bahasa Bruce Rich yang sinis namun bernada lembut dan romantik. Lihat saja bagaimana Bruce Rich menandai judul-judul bab per bab dari buku itu. Seperti di Bab I "Istana Para Malaikat" (The Dwelling Place of the Angels), Bab 6: "Sang Kaisar yang tak Berbaju" (The Emperor's New Clothes) dan Bab 7: "Kastil kontradiksi" (The Castle of Contradictions). Tentu saja judul bab-bab di atas bukanlah judul dari dongeng nina bobo anak kecil, tetapi bagaimana Bruce Rich menggambarkan kedudukan Bank Dunia terhadap rakyat. Bank Dunia --seperti layaknya malaikat, ataupun kaisar memiliki segalanya untuk memutuskan segala sesuatu atas nama rakyat, namun tidak pernah merasa penting untuk mendiskusikannya terlebih dahulu dengan rakyat tersebut. Mereka memandang cukup bernegosiasi dengan pemerintah dari negara termaksud sudahlah cukup. Maka terjadilah konspirasi sempurna dengan pemerintahan negara - negara berkembang yang berkuasa (termasuk para pengusaha swasta dan kelompok konsultan), agar pemerintahan tersebut terus-menerus meminjam uang dari Bank Dunia, dengan menisbikan apakah memang pinjaman itu berguna untuk negara dan rakyatnya. Bab I, dengan jelas dan runtut menggambarkan suasana ironi tersebut. Ketika bagaimana Thailand --terutama sang Ibukotanya Bangkok--- berdandan dan mau berepot-repot untuk menjadi tuan rumah pertemuan Bank Dunia di tahun 1991. Betapa untuk itu, Bangkok harus berdandan mempercantik diri, ini artinya dengan menggusur kaum miskin kota di Bangkok, karena mereka tak elok dipandang mata, suatu aib yang harus disingkirkan dari mata para tamu-tamu asingnya. Padahal, merekalah salah satu obyek yang dibicarakan dalam perjanjian pinjaman Bank Dunia, namun opini kaum miskin kota itu tidak pernah didengar. Membaca buku ini harus benar-benar meluangkan waktu, artinya buku ini tidak ditujukan sebagai buku selingan, yang sesekali dapat dibaca di sembarang bab-nya, isi buku ini, yang memang dari bahasa aslinya sudah panjang, jadi terasa berat, karena panjang dan kadang berlarat-larat. Di mana menurut hemat saya, sebenarnya banyak bagian yang dapat diringkas tanpa perlu mengaburkan pesan yang ingin disampaikan penulis. Seperti sejarah lahirnya Bank Dunia -dan saudara kembarnya; IMF--,di Bab 3 tidak perlu sampai menghabiskan 30 halaman. Toh ketimbang secara rinci menggambarkan siapa saja tokoh-tokoh di balik lahirnya Bank Dunia, lebih baik dijabarkan by-Law (aturan dasar) Bank Dunia, yang saya coba cari sampai akhir tulisan, namun tidak pernah didapat. Aturan dasar ini diperlukan untuk mengetahui fungsi dan kewenangan Bank Dunia. Tambahan lagi, Buku ini tidak juga menerangkan struktur Bank Dunia dan bagaimana mesin Bank Dunia ini bekerja. Sehingga mengindikasikan bahwa memang buku ini tidak ditujukan kepada kaum pemula yang mencoba mengetahui seluk-beluk Bank Dunia. Tetapi lebih ditujukan kepada mereka yang sudah mempunyai pemahaman dasar bukan hanya mengenai Bank Dunia tetapi juga aliran-aliran gerakan rakyat, termasuk pula gerakan lingkungan. Bagi saya pribadi, yang mengenal Bruce Rich, yang memahami visi ideologi EDF (Environmental Defense Funds) --tempat di mana ia bekerja, dan yang terlibat dalam gerakan mengkritisi Bank Dunia, buku ini menjadi menarik karena --bagaikan merangkai mosaik-- melengkapi informasi sepotong-sepotong yang selama ini terekam dalam ingatan saya. Namun, saya tidak yakin apakah buku ini seketika menarik bagi kalangan pemula. Kecuali memang mereka mempunyai niat yang kuat untuk mempelajari isi buku ini. Jika ya, maka mereka akan menemukan informasi yang berharga.3 Kondisi di Indonesia Di Indonesia pemahaman masyarakat (termasuk kaum birokrat dan aktivis) mengenai peran Bank Dunia sangatlah minim. Umumnya orang masih berpendapat bahwa Bank Dunia adalah penyelamat hidup mereka, karena suka rela mengucurkan uang berapapun besarnya yang diminta oleh pemerintah Indonesia. Belum lagi memang ada kesengajaan di kalangan birokrat untuk memalsukan informasi, bahwa dana yang didapat dari Bank Dunia, dikategorikan sebagai dana pembangunan. Padahal yang sebenarnya adalah hutang negara, yang pada akhirnya dibebankan ke seluruh rakyat untuk pembayaran hutang itu kembali. Baik lewat mekanisme penarikan pajak, ataupun eksploitasi buruh dan sumber daya alam Indonesia. Gerakan ornop Indonesia untuk mengkritisi Bank Dunia baru saja tumbuh dua tahun belakangan ini, itupun belum ada satu ornop-pun yang khusus mengkritisi peri laku Bank Dunia. Bruce Rich secara rinci mendokumentasikan geliat ornop Indonesia yang mulai mengkritisi keterlibatan Bank Dunia dalam proyek Transmigrasi di Indonesia (semisal di halaman 45 dan 176), dengan hanya dipelopori oleh segelintir Ornop saja, seperti WALHI dan SKEPHI. Sampai terjadinya cikal-bakal gerakan yang agak meluas dalam kasus pembangunan dam Kedungombo (halaman 203), yang tidak lagi dipelopori oleh segelintir Ornop, tetapi oleh sekelompok Ornop yang tergabung dalam INGI (sekarang menjadi INFID), YLBHI dan kolaborisi mereka dengan kelompok-kelompok mahasiswa. Catatan rinci yang dilakukan Bruce Rich ini, menjadi sumbangan penting dalam pendokumentasian gerakan lingkungan yang dikomandoi Ornop-ornop di atas. Karena saya yakin bahwa informasi yang terdokumentasi itu, sudah tidak dipunyai oleh para ornop maupun kelompok mahasiswa di atas.4 Sementara gerakan Ornop dunia telah lebih dahulu dimulai ketimbang Ornop di Indonesia, itupun baru sekitar tahun 1980an, yang memuncak di tahun 1992 dalam KTT Bumi di Brasil. Sehingga, selama 40 tahun lebih Bank Dunia praktis dapat melakukan apa saja tanpa intervensi berarti dari masyarakat, termasuk Ornop. Ini menjadi catatan yang tersirat dari buku "menggadaikan Bumi" ini, bahwa Bank Dunia Buku yang ditulis di tahun 1994 ini mungkin tidak dapat menjawab pertanyaan tentang krisis ekonomi yang melanda Asia, terutama Indonesia di tahun 1997, ini tidak juga menjawab peranan IMF dalam usaha untuk 'mencoba' mengatasi krisis itu. Namun, karena pola kucuran uang yang dilakukan Bank Dunia dan IMF tetap sama sejak lahirnya mereka dalam Konferensi Bretton Wood 1944, maka buku ini tetap relevan untuk dikritisi sehingga kita --sang pembaca-- mempunyai pemahaman yang komprehensif tentang peran Bank Dunia. Penutup Perlu ada usaha agar isi buku ini tersosialisasi secara popular di kalangan aktivis, termasuk di aras akar rumput. Karena itu menerjemahanan dan pemaknaan materi dan informasi yang temuat dalam buku ini menjadi krusial. Terus terang, walaupun buku ini telah diterbitkan lima tahun yang lalu, dan secara pribadi saya lihat menjadi koleksi buku dari beberapa aktivis lingkungan di Indonesia. --dan dengan malu diakui bahwa saya temasuk yang mempunyai koleksi buku ini -- Namun, gaung buku ini tidaklah pernah terdengar. Maka dari itu saya berharap usaha INFID dalam menerjemahkan salah satu buku Bruce Rich ini, hanyalah merupakan langkah awal, di mana langkah selanjutnya adalah melakukan sosialisasi dan mendorong adanya diskusi tentang materi yang termuat dalam buku "Menggadaikan Bumi" ini, seperti apa yang kita lakukan hari ini.
| |
| | Top | Analisis Sejarah Indonesia Page | Anti-Imperialisme Page | Inside Factory | Snapshots | Essays | Selected-Works Page | Library | Art of Liberation | Histomat Page | Child in Time | 1965 Coup in Indonesia | Tempo-Doeloe Page | | ||