Dr Ir. Sri-Bintang Pamungkas; Sosok & Kiprahnya:

Bintang Sosok yang Konsisten

BARANGKALI DR Ir. Sri-Bintang Pamungkas patut dikedepankan sebagai seorang pelopor reformasi. Jauh sebelum orang berani bicara seperti sekarang, Bintang telah melakukannya sejak 5 tahun lalu. Kini Bintang, setelah keluar dari penjara Cipinang, tetap vokal meneriakkan reformasi di pelbagai bidang. Namun ada sedikit yang berbeda dari Bintang yang dulu. Bintang yang sekarang adalah sosok yang konsisten, tapi juga jauh lebih tenang dan arif. Berikut perbincangan Sri-Bintang dengan wartawan Jawa Pos Ramadhan Pohan, di Jl. Abdul Majid 16, Jakarta Selatan

Apa artinya penjara politik bagi Anda?

Penjara politik, ada baiknya juga. Artinya kalau orang mau bersikap mempertahankan prinsip dan yakin terhadap prinsip yang dipegangnya maka berbagai macam resiko untuk mempertahankan prinsip tersebut termasuk resiko di penjara atau bahkan sangat mungkin dibunuh, itu juga harus disadari. Jadi kalau perlu masuk penjara, siap saja. Enggak usah kuatir dan tak usah cemas. Itu kalau kita memang yakin terhadap prinsip kita. Itu juga suatu semangat atau bekal yang luar biasa beratnya. Karena dengan semangat itu maka penjara itu menjadi tidak terasa berat bagi kita.

Banyak manfaat atau pelajaran yang bisa kita peroleh dari dalam penjara. Antara lain kita jadi lebih mengerti mengenai kemanusiaan. Bahwa sebetulnya manusia itu dilahirkan sama. Apakah namanya anggota DPR, mantan anggota DPR, mantan staf pengajar, bertitel atau tidak, pencoleng, perampok, mereka adalah manusia yang sama dasarnya. Tidak ada perbedaan.

Jadi, ketika di penjara itu, saya mempelajari keadaan tersebut. Saya bisa bergaul baik dengan mereka. Saya tidak menganggap mereka sebagai seakan-akan orang yang harus dijauhi. Bangun tidur, saya buka pintu, pergi ke kamar kecil melewati mereka dan menyapa ‘’Selamat pagi’’ atau ‘’Hai apa khabar?’’ Saya selalu menyapa mereka, dan mereka pun pada akhirnya juga begitu kepada saya. Mereka tidak segan-segan mengatakan bahwa ‘’Pak Bintang, celana saya tinggal ini satu-satunya.’’ Di penjara itu ada Oki, yang kelihatannya berada dan selalu tampil rapi. Juga ada pencetak uang palsu, jual beli obat narkotika, peminum, tabrak lari, pembunuh. Ada satu yang mengaku membunuh empat orang. Preman, tukang peras, tungkar bongkar mobil, dan pokoknya mereka beragam sekali.

Di penjara itu juga banyak tapol-tapol. Apakah Anda ada membuat komitmen politik dengan mereka?

Ada, misalnya ketika membuat pernyataan tentang jatuhnya Soeharto. Saya dan teman-teman PRD termasuk Xanana Gusmao, kita minta tanda-tangannya. Sepakat dan kita edarkan. Lalu pernyataan politik kita terhadap Habibie, kita juga tulis.

Apakah ada komitmen politik bagi Anda dan tapol lainnya, misalkan Muchtar Pakpahan, setelah masa pembebasan?

Oh, enggak ada. Saya cuma pernah bilang ke Muchtar waktu ketemu di Pengadilan Jakarta Selatan-- kami kan sama-sama kena kasus subversif-- kebetulan waktu itu kita harinya sama. Waktu itu saya minta pada dia bahwa sekarang saatnya bagia dia untuk membuat partai buruh. Benar dan suatu ketika dia bermaksud membuat partai buruh. Surat yang disampaikannya kepada saya kurang-lebih berbunyi,’’Pada hari ini nanti akan berkumpul tokoh-tokoh tertentu yang menyatakan setia menjadi anggota Partai Buruh. Saya menunggu kesediaan Anda.’’ Lalu saya bilang pada dia bahwa saya sudah mempunyai PUDI (Partai Uni Demokrasi Indonesia). Tapi saya mendukung proklamasi Partai Buruh. Saya tidak bisa meninggalkan PUDI karena PUDI sendiri masih membutuhkan saya. Saya dengar kemudian bahwa pertemuan itu batal. Saya juga menulis kepada Ridwan Saidi bahwa ‘’Sekarang saatnya Anda membikin Partai Masyumi.’’ Juga kepada Supeni tentang PNI barunya.

Anda sudah bebas. Ada perasaan dendam nggak kepada Soeharto?

Mungkin ada perasaan semacam itu. Tetapi perasaan saya itu bukan perasaan pribadi. Perasaan saya itu bahwa Soeharto telah melupakan rakyatnya sendiri. Ia bukan menzalimi saya, tapi dia telah menzalimi rakyatnya sendiri. Itulah sebabnya upaya saya pun waktu itu adalah membikin partai. Dengan partai itu saya mengharapkan perubahan politik. Jadi bukan karena pribadi saya. Kalau saya dendam, mungkin saya akan cari cara untuk membunuh dia dan bukan dengan cara-cara politik.

Apakah ada latar belakang keluarga dulu, misalkan ayah atau ibu, yang membuat Anda sekarang seperti ini?

Secara langsung mungkin enggak. Sebab, bapak saya justru seorang hakim dan ibu saya hanya lulusan SD. Tetapi kita dididik dan kita hidup dalam kondisi yang sangat pas-pasan. Sehingga perasaan keadilan, kebenaran itu muncul dan sudah hidup dalam diri kita. Ini mungkin banyak dipengaruhi oleh ibu saya. Bapak saya meninggal dunia ketika usia saya masih tiga tahun. Ibu yang merawat dan mendidik kita. Penghayatan terhadap keadilan dan kebenaran. Itulah yang harus kita perjuangkan.

Nah, dalam hal ini mungkin ada banyak orang yang mempengaruhi saya secara fisik. Kalau secara ideologis, Bung Hatta dan Bung Karno. Mereka bisa dibilang idola-lah. Tidak seluruhnya, tetapi sebagian besar ide-ide mereka. Ada lagi orang-orang tertentulah, antara lain Imadudin Abdurahim-- tokoh muslim yang ketemu dengan saya di Amerika yang ceramah-ceramahnya selalu menggugah hati saya. Bahwa orang itu tidak bisa melepaskan diri dari Tuhannya. Saya yakin bahwa segala gerak-gerik setiap manusia itu diawasi. Itu membikin saya yakin bahwa Tuhan itu Maha Kuasa. Maka siapapun yang berbuat zalim, pasti akan dihukum Tuhan. Itulah yang membuat saya tidak takut kepada apapun, kecuali kepada Tuhan.

Waktu kecil dulu, cita-cita Anda apa?

Cita-cita saya mengajar: jadi guru atau dosen dan menjadi ahli pesawat terbang. Cita-cita itu kesampaian. Tapi kemudian saya tak berhenti sampai di situ saja. Ilmu pengetahuan yang saya miliki itu harus bermanfaat bagi manusia dan kemanusiaan. Dan saya melihat bahwa jika ilmu itu saya implementasikan sebagai mana adanya, mungkin dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mewujudkan cita-cita negara Indonesia yang demokratis, adil, benar dan mensejahterakan rakyatnya. Dengan hanya sebagai orang yang bekerja di universitas dan perusahaan, harapan itu hampir nggak mungkin terwujud.

Di situlah saya menghayati bahwa politik bisa berperan lebih besar. Karena itu saya pergunakan ilmu ini untuk berpolitik.

Anda tergolong urakan nggak ketika masih bocah?

Enggal, tapi saya orang yang bebas. Saya menikmati kemerdekaan yang sungguh dan juga menikmati pendidikan yang baik di rumah dan di sekolah. Yang juga saya petik dari hobi saya ialah membaca, mengumpulkan cerita komik koboi zaman dulu, Roy Rogers, Tarzan, cerita silat. Itu zaman saya masih SD dan SMP.

Status Anda di FT-UI bagaimana sekarang?

Sekarang saya nggak tahu. Yang jelas saya sudah dipecat. Ceritanya saya ditangkap 5 Maret 1997 dua bulan kemudian 5 Mei saya baru ditransfer ke LP Cipinang. Antara 5 Maret - 5 Mei saya masih mengirimkan materi kuliah dan soal-soal ujian ke UI. Soal pemecatan itu, sya sudah PTUN-kan, tapi kalah. Ya sudah. Saya hanya mau, kalau saya banyak menggugat dan mem-PTUN kan beberapa pejabat-- saya hanya mau lihat bagaimana pelaksanaan hukum di Indonesia. Dan akhirnya saya berkesimpulan bahwa hakim-hakim kita memang tidak lepas dari pengaruh kekuasaan. Mereka ngeri terhadap kekuasaan, sehingga dalam membuat keputusan-keputusannya mereka cenderung membela penguasa.

Ketika dipenjara maupun aktif berpolitik, bagaimana dapur keluarga?

Itu yang agak susah. Tapi saya dan isteri saya rela. Semua ini sudah dipersiapkan sejak lama. Saya masih ingat. Dulu kalau anak-anak saya ribut dan mengganggu saya yang lagi kerja atau menulis, saya sering ngomong, ‘’Janganlah ganggu Ayah. Nanti kalu buku Ayah nggak selesai, mungkin nanti kalau Ayah dipenjara, ini semua akan selesai.’’ Sekali lagi, kita itu sudah siap mental. Anak-anak pun juga tahu bahwa resiko yang saya perbuat adalah penjara. Jadi ketika akhirnya saya ditangkap, anak-anak saya nggak kelihatan sedih, tapi malah bangga.

Karena mereka harus sekolah, dua minggu sekali, biasanya pada hari Minggu, mereka menengok saya di penjara. Sedangkan isteri saya, nggak pernah absen. Pernah absen sekali karena ia terpaksa harus lebih suka tinggal di MPR daripada menengok saya. Tapi dia sudah bilang bahwa besok berat sekali. Lalu saya bilang jika jam 1 siang kamu masih di MPR, nggak usahlah datang. Sebab waktu besuk pada hari Rabu hanya sampai jam 15.00. Itulah sekali-kalinya dia tak nengok saya.

Anak-anak Anda ada enam. Bagaimana menghidupi mereka ketika Anda di penjara?

Kebetulan kita mempunyai simpanan. Dari simpanan itulah, terutama, kita hidup. Berprihatinlah. Banyak anggaran yang harus dikurangi. Ada saja barang datang dan bisa kita jual kembali. Tiba-tiba saudara atau kakak, baik dari pihak saya maupun istri, bawa duit. Mereka ngertilah. Jadi sumber ada saja. Memang... suatu ketika saya pernah menangis tersedu-sedu. Sungguh-sungguh saat itu saya menangis. Yaitu ketika di musala (penjara) dibacakan suatu ayat, Surat At Thalaq, yang salah satu ayatnya mengatakan bahwa kalau Tuhan menghendaki Dia akan berikan rezeki kepadamu yang dari mana saja asalnya yang kamu tidak bakal mengira. Kurang-lebih, begitu. Saya mendengarnya di sel nomor enam yang dipakai untuk musala. Sel saya nomor tujuh. Ayat tadi, kalau tidak salah, dikatakan Saudara Joko yang jadi muadzin. Itu dibacakan saat kultum, seusai salat. Dalam kondisi biasa, ayat itu sudah sering saya dengar. Tapi pada ketika itu, saya betul-betul merasakan bahwa itu seperti petunjuk bahwa ‘’Kamu nggak usah kuatir.’’ Sebab ada kekuatiran juga di dalam hati saya, misalnya ‘’Gimana ya mereka (isteri dan anak-anak Bintang).Setiap kali saya memang dikirimi makanan. Ada lauk, gorengan pindang atau acar atau apa saja. Saya nyaris nggak pernah masak. Kalaupun masak sendiri, saya bikin sop saja. Selebihnya seperti telur, supermi, daging ada aja dikirimkan dari rumah atau teman-teman.

Pernakah Anda merasa frustrasi?

Pernah yakni kalau saya harus mengeluarkan surat, tapi nggak ada yang ngirimkan. Itu frustrasi sekali. Hanya penjaga-penjaga tertentu yang bisa dimintai tolong ‘’ngefax,’’. Lalu juga, misalnya, kalau Sabtu dan isteri saya bakal menengok Minggu besok, nah pada Sabtu itu saya membutuhkan sekali obat. Obat saya itu cuma dua: Aspirin dan Neozep. Kalau sudah mulai agak batuk dan masuk angin, cukup dengan obat itu. Kalau saya harus tunda sehari, repot itu dan saya pasti bakal sakit betulan. Jadi saya berusaha keras untuk ngirim surat ke rumah agar dibawakan obat. Nah, orang yang mau menyampaikan surat itu, nggak ada dan nggak saya dapatkan.

Setelah keluar dari penjara, Anda tetap sangat sibuk. Berapa jam sehari untuk istirahat?

Sejak keluar dari penjara, istirahatnya cuma empat jam. Habis gimana, tidur jam 01.00 dan jam 05.00 sudah subuh. Bahkan kadang sudah ada menunggu. Telepon terus berdering dan banyak yang mendatangi saya. Mereka sayang kepada saya kok. Karena itu saya harus menjawabnya dengan baik pula. Sebagian adalah pers, baik dari pers asing maupun dalam negeri. Saya juga percaya kepada kekuatan pers. Maka itu saya mengusulkan bahwa pers itu harus bertanggung jawab kepada masyarakat dan bukan kepada penguasa.Kemerdekaan dan demokrasi pers seperti itu yang bisa mencerdaskan bangsa. Kalau pers dikontrol oleh penguasa, rakyat akan bodoh terus. Itulah sebabnya saya melayani pers dengan senang hati.

Soal PUDI, Anda ingin seperti partai apa?

Yang ingin saya cakup sebetulnya banyak lapisan. Saya percaya, intelektualitas itu penting sekali. Intelektualitas itu tidak hanya mampu membawa harum nama partai, tapi juga dimaksudkan memecahkan pelbagai persoalan negara. Tujuan akhirnya adalah kesejahteraan masyarakat. Saya kan dari kelompok universitas sehingga saya selalu berusaha memecahkan persoalan dengan pikiran-pikiran profesional. Menurut saya banyak persoalan di republik ini yang harus dipecahkan, mau atau tidak mau, secara ilmiah dan iptek.

Pernakah membayangkan suatu saat Anda menjadi Presiden RI?

Kalau saya dihadapkan pada situasi dimana masalah kepemimpinan nasional dipertanyakan, seperti sekarang, misalnya, yang mempertanyakan Habibie dan orang mempertanyakan kenapa kita mempunyai Presiden seperti Soeharto-- saya pun merasa ditantang. Ditantang untuk mengatakan bahwa saya pun mampu menjadi presiden yang lebih baik dari mereka. Jadi, saya siap untuk itu (menjadi presiden, red). Kadang-kadang saya suka bingung kok. Banyak kejadian dan keadaan pada masa lalu, beberapa kali orang memperkirakan dan mengasosiasikan bahwa saya suatu ketika akan menduduki jabatan itu. Bahkan ada anak kecil pernah mengatakan begitu. Ada seorang teman saya insinyur elektro dari ITS yang studi ke AS bersama istri dan anak-anaknya. Nah, ketika saya lagi bicara, si anak yang masih kelas 2 SD itiu bisa bilang kepada bapak dan ibunya, ‘’Om Bintang itu kayak Presiden ya.’’ Itu sekitar 1981-1982.

Bagaimana Anda memandang Amien Rais, Megawati dan Emil Salim?

Saya kira di dalam suatu negara yang demokratis, tokoh-tokoh berkelas pemimpin nasional seperti itu memang harus muncul dalam situasi seperti ini. Begitu juga dalam situasi normal orang-orang sekaliber mereka harus tetap ada.

Tapi mereka belum pernah mau beresiko di penjara?

Mereka mempunyai potensi politik. Soal di penjara, Bill Clinton juga belum pernah di penjara. Nggak musti harus di penjaralah. Kalau negara kita demokratis, tak perlu seseorang harus masuk penjara dulu. Di negara-negara di mana banyak represif dan penjajahan, itu memang terjadi. Seperti Afsel, Indonesia dan negeri-negeri bekas jajahan. Mereka yang tidak dipenjara bukan berarti tidak berkualitas. Mereka juga berkualitas cukup kok. Bahkan selain Mega dan Amien masih banyak tokoh lain yang andal menjadi presiden.

Anda dan Sri-Edi Swasono (kaka Sri-Bintang, red) suatu saat bisa bersama-sama duduk di pemerintahan. Kuatirkah Anda dengan isu nepotisme?

Salah satu caranya harus salah satu, ha-ha-ha. Ini agar tidak dikira nepotisme. Ini memang lagi santer-santernya. Tetapi Anda patut lihat juga bahwa di clan Kenneddy, JF Kenneddy menjadi Presiden dan Robert Kenneddy menjadi Jaksa Agung. Orang tidak mempersoalkan itu sebagai nepotisme. Memang tidak semua kasus nepotisme negatif.

Sri-Edi, dulu dia itu dua minggu sekali menengok saya di penjara. Sejak keluar pun dia sudah tiga kali telepon. Sekali ketika dia ada di Yogya dan saya sedang di Bandung, dan kedua ketika saya sudah di Jakarta dan dia masih di Yogya, dan terakhir tadi pagi (Jumat) ia menelepon saya. Saya sendiri belum menengok ke rumahnya. Belum ada saudara saya yang saya tengok. Kayaknya saya perlu waktulah untuk weekend, untuk menengok-nengok mereka.