Adnan Buyung Nasution, Sosok dan Kiprahnya
Banyak Salah Paham tentang Saya

Si Abang telah kembali. Mengapa? Karena advokat senior dan salah seorang pendiri YLBHI yang dikenal gigih memperjuangkan demokrasi dan HAM ini lama jadi gunjingan kalau sudah terkooptasi. Hal itu dikaitkan pilihan si Abang, panggilan akrab Adnan Buyung Nasution, untuk menjadi pasehat hukum industri-industri strategis di bawah BPPT sejak tiga tahun silam. Sejak itu mantan jaksa ini suaranya dinilai tak ‘’nyaring‘’ lagi. Benarkah? Ternyata tidak. Itu dibuktikan oleh advokasinya yang keras terhadap penembakan yang menewaskan enam mahasiswa Universitas Trisakti 12 Mei lalu. Bahkan dia memimpin delegasi praktisi hukum menemui pimpinan DPR dan mendesaknya agar segera menemui Presiden Soeharto untuk mempercepat reformasi. Benarkah si Abang sudah kembali lagi? Bagaimana dia menilai berbagai komentar mengenai dirinya selama ini? Kepada wartawan Jawa Pos Ramadhan Pohan dia menuturkan.

Jakarta sudah dinyatakan tenang. Apakah gaung reformasi akan redup?

Tidak. Tidak. Perjuangan reformasi tidak harus dengan cara-cara demonstrasi-demonstrasi. Apalagi kalau kita sadar bahwa demonstrasi-demonstrasi itu telah begitu jauh, sehingga mengakibatkan timbulnya kekerasan berupa penjarahan, pembakaran dsb. Itu aib juga bagi kita. Seakan-akan bangsa Indonesia nggak bisa berjuang menegakkan demokrasi, tidak bisa menyelesaikan masalah internalnya dengan cara berbudaya. Kita mesti hilangkan kesan begitu. Bahwa kini keadaan agak lebih tenang, menurut saya, ini baik. Tapi itu tak berarti, gerakan reformasi berhenti. Proses itu akan terus berjalan. Menurut saya ini tak akan bisa dibendung lagi, dan akan berjalan terus. Cuma bentuknya bisa beragam-ragam. Sekarang yang terjadi, misalnya dalam proses perundingan-perundingan, lobi-lobi dan negosiasi yang harus dilakukan selekas mungkin. Itu juga bergantung pada penyelenggara kekuasaan negara. Kalau mereka cueq, tidak mau tahu pada tuntutan aspirasi rakyat akan timbul gelombang demonstrasi berikutnya. Bahkan akan lebih keras daripada yang sekarang.

Tapi kampus-kampus sudah tak ada lagi mimbar bebas.

Betul, tapi ketenangan itu sifatnya sementara. Memberi kesempatan adanya pikiran-pikiran yang lebih sehat untuk melakukan penyelesaian.

Ada yang mengataksn, tuntutan reformasi melahirkan kerusuhan. Tapi ada pula mengatakan, kerusuhan terjadi justru karena reformasi tidak dijalankan.

Betul. Jadi memang jangan dibalik. Jadi, jangan karena adanya tuntutan reformasi maka jadi kekacauan. Tidak. Reformasi tidak dijawab atau direspon dengan baik. Tempo hari jawabannya ditolak sama sekali, disuruh tunggu sampai tahun 2003. Kemudian masyarakat tidak mau terima. Tuntutan makin keras. Lalu baru mundur selangkah-- boleh bikin sekarang, tapi berlaku untuk 2003. Itu tidak diterima mahasiswa. Mahasiswa terus saja bergerak dan berdemonstrasi. Akhirnya dipicu dengan penembakan terhadap para mahasiswa, yang mengakibatkan enam mahasiswa Trisakti. Itu semua memicu keadaan menjadi ledakan yang hebat pada dua-tiga hari lalu itu. Jadi harus jelas "sebab dan akibat". Jangan salahkan tuntutan reformasinya. Reformasinya adalah amat wajar dan memang benar diakui semua pihak, baik dari tokoh-tokoh masyarakat maupun juga dari pemerintah. Bahkan Agum Gumelar (saat masih Pangdam Wirabuana) mengatakan, tuntutan mahasiswa murni mencerminkan aspirasi seluruh rakyat Indonesia. Jadi semua orang sudah mengakui. Karena itu merupakan kenyataan.

Keadaan di sekitar rumah Abang bagaimana sekarang?

Sekarang memang lebih tenang. Di kiri-kanan dekat tempat tinggal saya, nggak ada lagi asap mengepul. Di kota juga lebih tenang. Di kampus-kampus juga. Tapi semua ini ada elannya. Ada ritmenya. Dan kita juga memberi tempo kesempatan untuk munculnya pikiran jernih. Ambil keputusan dalam suasana yang tenang. Yang penting lagi, prosesnya sudah berjalan.

Bagaimana kondisi fisik Abang sebagai salah satu lokomotif reformasi?

Nggak usah disebut-sebut sebagai lokomotif-lah, nanti ada orang yang tersinggung. Saya hanyalah bagian dalam perjuangan ini. Saya membaktikan seluruh hidup dan perjuangan saya untuk membangun kembali demokrasi, negara hukum dan HAM di tanah air. Karena itu prasyarat yang tidak bisa ditawar-tawar untuk mewujudkan masyarakat yang berkeadilan. Itu harus kita bangun bersama. Saya juga ingin reformasi total ini, termasuk pergantian pemerintahan ini, berjalan dengan cara-cara yang baik, adil, beradab dan berbudaya. Supaya kita jangan menjadi bahan tertawaan dunia, seolah-olah bangsa Indonesia ini nggak bisa menyelesaikan masalahnya dengan jalan yang lebih beradab.

Saya tidak ingin terjadi tindakan-tindakan kekerasan sehingga Presiden Soeharto harus disuksesi dengan cara tak terhormat. Saya tak ingin begitu. Kalau itu terjadi lagi, maka betul orang luar yang mengatakan, bangsa Indonesia kurang beradab. Nama baik kita, harkat dan martabat bangsa kita jatuh di mata dunia. Betapa pun juga, ada kekurangan dan kelemahan Presiden Soeharto, kita tidak boleh tutup mata, bahkan harus jujur mengakui, beliau juga banyak jasanya. Banyak yang beliau telah lakukan untuk bangsa dan negara ini.

Di sinilah kita harus bersikap jernih, tenang, adil. Yang penting bagi kita sekarang melanjutkan pembangunan bangsa dan negara ini di segala bidang. Yang baik dan sudah berhasil, itu kita jaga dan pertahankan. Sedangkan segala kesalahan dan kekurangan, kita perbaiki kita tata kembali. Supaya bangsa dan negara ini bisa lebih maju lagi.

Dalam agenda reformasi, kesibukan Abang apa saja?

Sepenuhnya buat ini sementara. Kantor saya sementara tidak jalan. Buat perjuangan ini. Ini memang niat saya. Saya tempo hari agak mengurangi intensitas dalam kegiatan aksi-aksi, karena saya juga harus membangun garis belakang dan harus hidup. Saya nggak bisa berjuang saja tanpa mengepulnya asap dapur. Tapi, banyak orang yang salah paham juga. Dikira Abang sudah meninggalkan perjuangan. Tidak.

Waktu muncul di DPR, retorika Abang ternyata tetap menyengat.

Kalau kita berjuang dan merasa bertanggung-jawab, melihat keadaan sudah begitu, Abang nggak bisa tinggal diam. Saya harus memberikan sumbangsih. Apa pun yang bisa saya lakukan, pasti akan saya lakukan. Meskipun memang mengandung resiko semua itu. Tapi, tak ada perjuangan tanpa resiko. Itu sudah saya jalankan dalam hidup saya ini, selama 35 tahun ini.

Abang bilang kantornya sementara tak jalan. Apakah pegawainya juga diliburkan?

Sudah tiga hari ini (sejak Rabu lalu, red) semua diliburkan. Kapan mereka mulai masuk kantor lagi, belum tahu saya. Kita lihat-lihat keadaan. Sekarang memang tenang, tapi jangan lupa, keadaan akan berkembang terus. Apa lagi dari luar negeri sekarang sudah ada pukulan. Pemerintah Washington sudah memutuskan mengevakuasi semua orang Amerika dari Indonesia.

Apa prediksi Abang tentang 20 Mei ini?

Itu ada suatu acara besar yang kita lakukan bersama. Tapi kita tunggulah persiapannya. Jangan sampai terjadi seperti MAR (Majelis Amanat Rakyat, red) itu. Diproklamirkan, padahal persiapan tidak matang. Sehingga sekarang banyak orang yang tersinggung, nggak tahu-menahu namanya dicantumkan. Jangan bekerja terlalu tergesa-gesa.

Ada yang menilai MAR ingin menyelesaikan masalah lewat rapat-rapat saja, tidak terjun ke medan langsung. Komentar Anda?

Itu jangan dipersoalkan. Tiap-tiap orang punya jakan perjuangan sendiri-sendiri. Iktikad Amien Rais dan kawan-kawan itu kan baik. Hanya saja karena kurang persiapan, jadi terkesan tergesa-gesa. Tapi Abang nilai bukan berarti ada perpecahan dan pertentangan.

Kalau Abang, selain terjun ke lapangan dan ke jalan bersama mahasiswa, bicara di Trisakti, Atmajaya, dan UI, juga ikut terjun langsung di pusat-pusat kekuasaan.

Akibat kerusuhan itu, bagaimana suasana keluarga Abang?

Keluarga Abang sudah 35 tahun-- sejak tahun 1964 Abang sudah mengalami jatuh-bangun untuk perjuangan. Kakak (Ny Buyung, red) dan anak-anak semua juga sudah terbiasa mengikuti derap langkah perjuangan Abang. Kalau pada saatnya kita harus ambil resiko, kita semua terima resiko itu dengan ikhlas. Dipecat atau diberhentikan dari pekerjaan, Abang sudah pernah mengalaminya di zaman Orla. Ditangkap, direbut dan dirampas kemerdekaan, sudah. Dicekal berpuluh tahun juga sudah. Bahkan life line itu, hidup Abang dicabut, sehingga nggak bisa bekerja, nggak bisa buka kantornya, terpaksa ditutup, hancur semua. Tapi Abang ikhlaskan kok semua itu. Itu semua untuk perjuangan. Kita berjuang untuk cita-cita. Selama cita-cita itu belum kita wujudkan untuk kepentingan bersama bagi seluruh rakyat Indonesia, berarti Abang harus terus berjuang. Apa pun juga resikonya. Sekarang kita hadapi lagi resiko itu. Kita tidak boleh mundur. Perjuangan itu ibarat air yang mengalir, tidak pernah berhenti sampai ke muara. Sekalipun tembok yang dihadapi, ia akan mencari jalan melingkar bilamana perlu, dan jika tak bisa juga ia akan melimpah. Jadi Abang menggunakan filsafat air.

Abang masih sempat main-main dengan cucu?

Cucu Abang delapan orang. Seminggu ini belum. Biasanya Sabtu dan Minggu sudah kumpul semua cucu saya. Tapi kali ini nggak bisa. Cucu Abang selain di Jakarta juga ada yang di Bandung. Jadi belum bisa berkumpullah.

Bagaimana komentar cucu-cucu Abang melihat gambar kakek mereka di teve atau media cetak saat berdemo?

Mereka sudah tahu kalau kakeknya aktif dalam perjuangan. Saya kira mereka mengikuti dan ikut mendoakan. Ketika tahu dan melihat Abang di tempat keramaian massa, mereka harap-harap cemas. Cucu-cucu Abang selalu menelepon dan menanyakan pada nenek (Ny Buyung, red) mereka tentang keadaan kakeknya (Buyung, red). Jadi mereka memonitor terus.

Ujung perjuangan reformasi sekarang apakah akan mengakibatkan turunnya pemerintah yang sekarang?

Harapan dan pendirian Abang, pemerintah sekarang mengundurkan diri secara baik-baik dan dengan cara terhormat. Kita pun jangan hancurkan harkat dan martabatnya. Mari kita tunjukkan kita sebagai bangsa berbudaya. Setelah itu kita bentuk suatu pemerintahan sementara transisi. Yang terdiri dari orang-orang yang betul-betul dipercaya oleh rakyat. Yang mempunyai integritas tinggi. Yang tidak ada celanya dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara selama 30 tahun terakhir ini. Jujur, bersih dan dapat diandalkan. Yang berjuang untuk cita-cita, bukan yang mengejar jabatan, kedudukan. Bukan orang yang hanya mengejar kekuasaan, apalagi mengejar kekayaan dan memanipulasi kedudukan dan kekuasaannya untuk kepentingan dirinya, keluarganya, jadi korupsi, kolusi, nepotisme semua. Orang-orang begitu tentu harus menyingkir. Jadi, orang-orang yang benar-benar bersihlah, dan beriman. Orang yang beriman yang betul-betul tampil membawa bangsa ini kembali ke arah demokrasi. Tugas pemerintah transisi itu hanya satu: Menyiapkan segala sarana dan prasarana, baik berupa peraturan hukum dan perundang-undangan yang diperlukan.

Siapa yang nanti akan memilih orang-orang itu?

Ini yang harus kita cari modusnya. Dicarikan solusinya, formulasinya, dan juga prosedur-prosedurnya supaya terbentuk pemerintahan sementara itu. Pemerintahan sementara ini nggak boleh punya vested interest. Jangan terjadi atau berulang seperti 1966. Kita percayakan pada satu orang atau beberapa orang, kemudian timbul nafsu untuk berkuasa terus. Sehingga proses pembaruan dibelokkan menjadi sesuatu konsolidasi kekuasaan yang otoritarian. Akhirnya cita-cita itu mati di tengah jalan. Itu juga doa Abang kepada Tuhan, biasanya pada saat tahajud di malam hari.

Kembali ke Index