Raharjo Waluyo Jati Beri Kesaksian Kasus Penculikannya

’’Saya Dengar Senam Komando dan Azan’’

Raharjo Waluyo Jati yang telah bebas dari penyekapan penculik akhir April lalu, kemarin menyampaikan testimony (kesaksian) di kantor YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia). Saat itu, aktivis KNPD (Komite Nasional Penegak Demokrasi) ini didampingi Koordinator Kontras (Komisi Orang Hilang dan Anti-Kekerasan) Munir SH dan kakak kandungnya, Muryanto.

Raharjo yang diculik sejak 12 Maret sampai 25 April lalu adalah orang ketiga yang menyampaikan testimony, setelah Pius Lustrilanang dan Desmon J. Mahesa. Dia mengakui, selain dia menemukan data yang hampir sama dengan Pius dan Desmon, juga mendapatkan data yang menurutnya kemungkinan besar bisa mempertegas lokasi penyekapan mereka.

Pada saat dia disekap bersama keempat aktivis lain (Haryanto Taslam, Pius Lustrilanang, Desmon J. Mahesa, dan Faisal Reza), dia mendengar suara senam komando militer yang cukup jelas. Dia juga mendengar suara azan yang sepertinya dekat dari tempatnya disekap.

Selain itu, lokasi penyekapan tersebut terletak di pinggir sungai yang curam dan ketika akan menuju lokasi penyekapan mobil yang membawanya melalui tiga buah polisi tidur.

‘’Saya harap data yang saya sumbangkan tersebut bisa menambah data-data yang sudah diungkapkan oleh Pius dan Desmon untuk lebih mengungkapkan kasus ini lebih terbuka lagi,’’ papar Raharjo di hadapan wartawan.

Inilah penuturan lengkap Raharjo:

Sehari sebelum benar-benar diculik, sekitar tanggal 11 Maret, saya sudah mengalami percobaan penculikan. Pada hari itu, saya dua kali datang ke kantor YLBHI untuk bertemu kawan merancang rencana aksi unjuk rasa di gedung MPR/DPR.

Pada saat itu saya belum menemukan kejanggalan. Baru sekitar sore, ketika saya akan pulang bersama seorang teman dan berjalan ke arah stasiun Cikini, saya melihat seorang berambut gondrong dan berbadan tegap memperhatikan kami dari halte bioskop Megaria. Orang itu membawa handphone. Saat itu saya mulai curiga dan takut mengalami kejadian seperti Pius dan Desmon.

Ketika saya dan teman saya sampai pelataran parkir bioskop Megaria, saya diikuti oleh dua orang berambut gondrong dan berbadan tegap itu. Kecurigaan saya berubah menjadi keyakinan, kalau dua orang tersebut ingin menculik saya. Kemudian saya dan teman saya berbalik arah dan menuju telepon umum. Hal serupa juga diikuti kedua orang tersebut. Melihat gelagat tersebut saya langsung naik taksi.

Keesokan harinya, sekitar pukul 12.00 saya kembali ke YLBHI untuk mengadakan konferensi pers tentang penolakan pidato pertanggungjawaban presiden bersama KNPD. Melihat kejadian kemarin, saya terus waspada. Dan, benar juga, di pojok RSCM di pinggir sungai ada dua orang pria yang potongannya sama dengan orang yang mengikuti saya sehari sebelumnya.

Kemudian, pukul 14.00 selesai konferensi pers bersama Faisal Reza, saya mau makan siang di RSCM. Saat keluar dari kantor LBH, dua orang itu masih berada di sana. Waktu itu saya ragu, tetapi Faisal meyakinkan tidak ada apa-apa. Saya Ketika sampai di pom bensin Diponegoro, dua orang itu bereaksi dan ingin menghampiri kami saat menyeberang, sedangkan yang lainnya langsung mengeluarkan mobil jip merah dengan atap putih. Saya dan Reza langsung menyeberang dan masuk ke UGD RSCM.

Tetapi lantaran tak tahu medan tersebut, kita lari ke lantai dua dan ternyata buntu. Kemudian kita balik arah dan pada saat itu Faisal Reza ditangkap dan ditonjok ulu hatinya, sedangkan saya bersembunyi di WC sampai mereka menggedor WC tersebut. Ketika saya keluar, ternyata mendapat perlakuakn yang sama, ulu hati saya dipukul.

Pada saat itu saya dan Faisal dibawa ke pelataran parkir dan saya sempat berteiak-teriak minta didampingi pengacara. Perbedaannya dengan korban penculikan lain yang tidak ada saksi kejadian penculikan, kami banyak disaksikan oleh orang-orang di RSCM.

Selanjutnya kami dimasukkan ke mobil. Mata saya ditutup dan kemudian dibawa berputar-putar sekitar 30 menit. Yang saya ingat, jarak antara mobil berhenti dengan bangunan sekitar 7 meter.

Proses interograsi paling intensif yang saya alami selama 3 hari dengan posisi duduk dan tangan diikat. Selama tiga hari tersebut saya duduk dan tidak bisa tidur dan disetrum di ujung jempol.

Lalu ditanya tentang aktivitas politik saya selama ini dan rencana ke depan KNPD. Pertanyaan utama adalah tentang keberadaan Andi Arief. Karena mendapat siksaan fisik yang berat, akhirnya saya mengatakan bahwa mereka bisa tanya teman-temanya di Lampung. Waktu itu saya juga memberi tahu nomor pager Nizar Patria.

Yang menarik salah satu dari penculik itu mengaku bahwa dia juga yang menangkap Suyat di Solo dan dia tahu dengan detail kegiatan saya di kawasan Cilincing gang Salon.

Selama 3 hari pertama saya 3 kali dibuka tutup mata dan difoto dengan kamera polaroid, dua kali yang lain untuk menuliskan biodata. Dia juga menunjukkan foto Herman Hendrawan.

Tiga hari posisi duduk kemudian dipindahkan ke satu kamar dengan kasur busa dan kipas angin selama itu 2 hari tanggal ruangan tersebut kedap suara.

Ketika di kamar tekanan fisik agak berkurang. Paling-paling saya hanya diajak ngobrol. Orang tersebut bilang kalau mau bergerak jangan menambah penderiataan rakyat, lebih baik kau bakar saja toko-toko Cina. Saya juga ditanya siapa orang di belakangan saya apakah itu L.B. Moerdani. Kita tidak perduli kalau perlu sikat. Waktu itu saya jawab tidak karena memang itu yang terjadi kita merupakan gerakan moral. Ditanya juga tentang Sofyan Wanandi dan berapa banyak dana yang diberikan untuk pergerakan saya.

Tanggal 16 pukul 10.00 saya dibawa ke suatu ruangan seperti kantin karena kedengaran ramai. Di situ ditanya Andi Arief dan aktivitas saya. Kalau dilihat dari materi pertanyaan, dia itu orang pejabat tinggi. Siapa saja tokoh yang sudah ditemui untuk merealisasikan kegiatan KNPD.

Iinterogasi itu berjalan dua jam. Kemudian dibawa ke suatu tempat dan mendapat bonus hukuman tiduran terngkurap di atas balok es tanpa baju sekitar 10 menit. Hal itu juga dialami Reza.

Kemudian dibawa ke ruangan bawah tanah kira-kira jam satu. Keterangan waktu ini saya dapat dari teman-teman di sana seperti Pius. Begitu masuk eks satu sel, ada yang tanya "baru, baru ya?"

Saya kurang jelas, ‘’Siapa?’’ Saya jawab, ‘’Saya Jati dari KNPD" kemudian dia teriak pada Reza, ‘’Rez... Temanmu masuk.’’

Itu dilakukan setelah radio mati, sekitar pukul 12.00 disel tersebut ada beberapa orang, saya diletakkan di sel nomor lima dan tidak pernah dipindah-pindah sampai terakhir kali

Pada 17 April, Soni, dan Rian dilepas jadi tidak di ruang bawah tanah lagi. Selain Rian dan Soni ada yang pernah tinggal di situ, seorang dosen asal Tim-tim. Namanya Lukas

Dua minggu di sana, saya masih sering dibawa ke atas kurang lebih 5 kali dan diintegrogasi denga pertanyaan yang sama fasilitas di ruangan, saya dapat 2 selimut, sarung, 2 stel kaos oblong, dan celana pendek, dipan, ac, wc, kamar mandi, radio yang menyala dari pagi sampai pukul 2 malam.

Selama dibawa ke atas, saya mencoba-coba mengingat jumlah anak tangga. Jumlahnya kurang lebih 11, 7 anak tangga kemudian datar lalu ada 4 anak tangga lagi. Dalam ruang bawah tanah, itu saya mencoba menerka saya ada di mana dan hal ini juga menjadi bahan diskusi teman-teman yang lain.

Di situ ada kamar mandi, saya pikir lokasinya di sisi sungai yang lerengnya cukup dalam. Sehingga walau pun mereka memiliki kontur yang cukup tajam, mereka memiliki pembuangan yang cukup baik dan tidak jauh dari sungai.

Tanggal 31 Maret, mendapat kunjungan dari salah seorang petinggi dan saya rasa pangkatnya cukup tinggi atau perwira tinggi. Saya mencium dari parfumnya yang cukup mahal, berbadan tinggi, memakai safari.

Dua petinggi didampingi 7 pengawal, memakai topeng dan tidak berbicara sedikitpun. Sehari setelah itu, 1 April, saya, Reza, Desmon dan Harjanto Taslam dibawa ke atas, dan diminta untuk menulis aktivitas politik setelah peristiwa 27 Juli 1996. Orang itu ngomong kalau mau cepat keluar tulis sejujurnya, untuk pertimbangan kami.

Pada 2 April, sekitar pukul 08.00, Pius dibebaskan. Harjanto Taslam diproses.

3 April, sekitar pukul 8.00, Desmon dibebaskan.

6 Arpil, Andi Arief masuk, mengalami hal yang sama, berupa siksaan fisik.

15 April, setelah Magrib, Harjanto Taslam dibawa keluar dan tidak kembali.

Kemudian, Andi Arief di bawa ke atas, sampai pukul 12.00 dan mendapat tekanan fisik.

16 April, Andi Arief dibawa ke atas dan tidak kembali lagi. Dan tinggal Dia berdua bersama Reza Patria.

20 April, saya dan Reza diproses dan diberikan skenario untuk ngumpet dan tidak mengadakan konferensi pers. Kalau melanggar, saya dan keluarga akan menerima akibatnya. Skenarionya, kalau saya diambil oleh mafia atau gangster diskotek Menteng.

Saya diambil karena salah melihat orang, karena saya dikiranya ikut tawuran kemarin. Kemudian dia juga minta agar saya berbakti para orang tua dan bekerja umumnya orang-orang, dan berumah tangga.

Setelah itu dibawa turun ke bawah. Lalu difoto, pada saat itu saya tahu denah ruangan bawah tanah itu. Pakai foto polaroid dan kamera biasa. Pada waktu difoto, orangnya yang motret pakai topeng.

Saya difoto beberapa kali. Demikian pula dengan Reza mengalami hal yang sama.

Pada 24 April, saya dibawa ke atas untuk menghafal skanario, setting-setting apa. Mereka pada hari itu menawarkan, kamu kalau pulang naik apa. Saya bilang, saya biasa naik kereta ekonomi, mereka menawarkan naik kereta senja utama. Dari stasiun mana, dari stasiun Jatinegara. Kemudian saya diminta menandatangani surat perjanjian, yang isinya sama dengan surat yang dibicarakan sehari sebelumnya. Isinya saya dengan sukarela tanpa tekanan berjanji tidak akan menjelaskan pada siapa pun akan apa pun yang saya alami selama berada di dalam, juga tidak akan melakukan aktivitas politik setelah keluar. Bila saya melanggar poin pernyataan tersebut, saya rela, walau saya dan keluarga saya satu set, menerima resiko terburuknya. Surat pernyataan itu lalu dicap jempol.

Lalu saya diberi kaos krah baru, celana, sepatu, kemudian cukur jenggot dan kumis.

Kemudian malam harinya, saya dibawa ke atas, lalu bertemu dengan orang yang mengaku pimpinan di situ. Dalam kesan saya, orang ini memiliki suara agak berat. Berumur, agak tua. Kemudian dia bilang, bersumpah demi Allah, untuk mencari saya ke mana pun, kalau saya akan menceritakan kasus ini ke orang lain.

Pada 25 April sekitar pukul 06.00, saya dibawa naik ke atas, diperiksa kesehatan. Jadi kalau ada keluhan, sakit langsung dikasih obat. Waktu itu yang mendapat obat dan suntikan.

Saya dibelikan sepatu baru, celana panjang baru, kemudian kaos singlet, celana dalam. Setelah ganti pakaian dibawa ke ruangan lain, di sebuah ruangan yang saya lihat ada dua pintu. Pada saat itu mata saya dibuka. Lalu saya difoto dengan kamera manual dan polaroid.

Setelah difoto dibawa ke ruangan lain, di situ saya diwanti-wanti satu orang lagi. Dia bilang, kalau selama perjalanan jangan macam-macam, karena orang-orang kami cukup banyak di situ. Dari yang mulai pakai seragam orange, biru, sopir bijaj, dan segala macam. Jadi kamu jangan macam-macam. Sesuai kesepakatan, kamu diturunkan dari mobil, jangan pernah menoleh ke belakang, kalau kamu noleh, lain lagi ceritanya. Selama dalam perjalanan, kamu diam saja, cuek kayak orang Jakarta, elu-elu gue-gue. Nggak usah omong-omong, karena di samping kamu, ada bapak-bapak pakai kacamata, dan ibu-ibu yang akan mengantarkan kamu sampai ke Semarang. Dan, di belakang ada anak muda yang akan mengawasi kamu. Jadi kalau nanti di jalan ada apa-apa, itu urusan kamu.

Setelah dia ngomong seperti itu, dia bilang lagi, kalau kamu melanggar kesepakatan itu, siapapun yang memberikan jaminan, atau orang yang menjaga kamu, tidak ada halangan bagi mereka. Karena suatu saat, pasti kamu lengah. Kalau tiba-tiba kamu ditusuk preman merupakan suatu hal yang sangat mungkin.

Mereka juga mengingatkan saya, agar terus ingat akan keselamatan keluarga. Sebagaimana saya telah menulis dalam surat perjanjian. Kemudian dia bilang, percuma kamu bersembunyi dimana saja. Dalam rumah besi sekalipun, itu percuma. Karena kami juga ahli bom. Kemudian, saya dibawa dari tempat dengan kendaraan Kijang dengan mata ditutup.

Begitu keluar dari tempat itu, saya merasa melalui tiga polisi tidur. Dan, kayaknya jalan kampung. Kemudian saya diturunkan di palang kereta ke arah Cipinang. Saya diminta jangan menoleh. Saya pun tidak menoleh. Kepala saya ditutup koran agar tidak bisa melihat mereka. Pada saat itu saya duduk di bawah.

Betul saja ketika saya di kereta, sebelumnya saya mendapat amplop berisi uang Rp 150 ribu dan tiket kereta api Fajar Utama, kelas bisnis ke Semarang. Jadi, begitu kereta datang, dan saya naik, benar di sebelah saya, duduk bapak-bapak dan ibu-ibu yang sudah agak tua, berkaca mata. Kalau sebelumnya saya tidak diberitahu, saya tidak menyangka kalau mereka menjadi bagian orang yang menculik saya.

Saya tidak mengira, karena dari penampilan mereka, seperti seorang pensiunan yang akan pulang kampung. Jadi mereka bawa keranjang plastik merah berisi rantang dan termos air panas. Kesannya dia akan pulang kampung bersama anak-anaknya, yang duduk di bangku belakang saya. Kadang-kadang dia juga duduk di samping. juga di lantai. Terus terang saya tidak berani menoleh. Agak sulit mengidentifikasi, karena waktu itu saya sangat takut.

Saya tidak berani bicara, tidak berani menoleh terlalu lama. Kemudian sampai di Stasiun Tawang, sekitar pukul 15.00. Saya tidak memperhatikan orang-orang itu. Tujuan saya langsung pulang ke rumah. Lalu saya naik bus ke jurusan terminal dan menuju ke Jepara. Sampai di rumah sekitar pukul 16.15. Orang yang pertama kali temui bapak saya.

Saya butuh waktu untuk bisa menyampaikan pada pers tentang saya. Terus terang sampai sekarang saya masih diliputi kekhawatiran tentang keselamatan saya dan kesemalatan keluarga saya. Karena saya tahu karena mereka cukup profesional dalam menjalankan tugas-tugas mereka. Dan, belum ada jaminan bahwa demokrasi di Indonesia betul-betul ditegakkan. (mik)

Kembali ke Index