Menjelang Akhir Kekuasaannya:
Soeharto Perintahkan Tangkap Amien Rais
JAKARTA (Waspada): Mantan Presiden Soeharto delapan hari sebelum menyatakan turun dari
kursi kepresidenan memerintahkan Jaksa Agung Soejono Atmonegoro untuk menangkap Dr Amien
Rais. Namun perintah ini secara halus ditolak oleh Soejono dengan mengatakan agar jangan
dirinya yang melaksanakan perintah tersebut. Kemudian perinta ini dialihkan kepada seorang
anggota ABRI yang berpangkat Mayjen dan yang bersangkutan menyatakan sanggup.
Begitupun, sebelum perintah ini dilaksanakan tugas 'besar' itu perwira tinggi yang
mendapat perintah tersebut terlebih dahulu cari akal dengan menjumpai Prof A. Malik
Fajar,MSc yang juga pengurus PP Muhammadiyah dan saat itu menjabat Dirbinbaga Islam dan
Urusan Haji Departemen Agama,
sekarang menjadi Menteri Agama Kabinet Reformasi Pembangunan.
Secara tegas Malik Fajar menyampaikan kepada Perwira Tinggi tersebut. "Kalau Anda
bego' silahkan lakukan, tetapi akibatnya akan tambah ruwet, sebab Amien Rais bukanlah Sri
Bintang Pamungkas atau Muchtar Pakpahan. Amien adalah pemimpin Muhammadiyah yang mempunyai
anggota 28 juta. Jadi kalau Anda mau nekad, silahkan dan saya hanya mau melihat
akibatnya," kata Malik Fajar.
Perwira Tinggi tersebut kemudian melaporkan hal itu kepada Soeharto yang ternyata menarik
kembali perintah tersebut dan menyimpannya sampai dia turun dari kepresidenan.
Episode ini secara terbuka diungkapkan Amien Rais dalam ceramahnya di depan jajaran
Direksi, serta jajaran Redaksi Harian Kedaulatan Rakyat di Yogyakarta Rabu (3/6).
"Saya berterima kasih kepada Jaksa Agung yang tetap mempunyai hati nurani "kata
Amien Rais seraya menyebut sekarang dia dalam keadaan aman. "Kalau Pak Habibie,
rasanya tidak akan menangkap saya karena kami berteman," kata Amien Rais lagi.
Hari-hari Terakhir
Mengungkapkan hari-hari terakhir Soeharto sebelum menyatakan berhenti dari jabatannya
sebagai Presiden RI, Amien Rais juga mengungkapkan, sampai tanggal 19 Mei ternyata
Soeharto masih tetap ngotot ingin bertahan sehingga justru Amien Rais yang terpaksa
mengalah. Ini dilakukannya dengan terpaksa menarik ajakannya kepada massa di Jakarta untuk
melakukan people power di
lapangan Monas 20 Mei 1998. Penarikan ajakan itu dilakukan melalui dengan mengundang TVRI,
RCTI, AN-Teve dan RRI paginya.
Pertimbangan penarikan imbauan itu, kata Amien, dia memperkirakan, kalau massa sampai 1
juta orang nekad ke Monas, sementara aparat keamanan telah siap di Monas, jelas akan
mengakibatkan banyak korban jatuh. "Saya tidak rela hal ini terjadi. Bahkan satu
orang pun korban, bagi saya terlalu mahal hanya sekadar menggeser Soeharto yang sudah
sepuh itu dari kedudukannya. Maka, saya mengalah sehingga membatalkan pertemuan di Monas
tersebut,"
ujarnya pula.
Habibie Marahi Soeharto
Selanjutnya Amien Rais juga mengemukakan, untuk pertama kalinya dalam sejarah, BJ Habibie
pada tanggal 19 Mei malam berani memarahi Pak Harto. Pasalnya gara-gara Pak Harto
mengatakan di depan wartawan seusai bertemu dengan sembilan tokoh masyarakat di Istana
Negara. Pada saat akan menyatakan akan tetap memimpin reformasi, Soeharto mengatakan,
bukan soal dia mundur atau tidaknya yang dia persoalkan.
Kalau dia mundur, secara konstitusi (UUD 1945), maka Wakil Presidenlah yakni Habibie yang
akan melanjutkan tugas Kepresidenan hingga akhir periode. Apakah Wapres Habibie diterima.
Kalau tidak, tentu ganti lagi. Demikian seterusnya, pidato Soeharto yang ujung-ujungnya
dapat disimpulkan bahwa dia meragukan kemampuan Habibie.
Rupanya Watak Bugis Habibie mulai keluar. Sore harinya Habibie minta bertemu dengan Pak
Harto.
Dalam pertemuan itu Habibie menyatakan, Pak Harto, tadi siang saya merasa dilecehkan. Saya
adalah Wapres yang juga dipilih oleh MPR. "Dan Bapak mengatakan apa Wapres mampu
memimpin Indonesia?. Saya mampu Pak, tegas Habibie.
Amien Rais mengakui cerita ini diterimanya dari Akbar Tanjung. Pada saat itu juga Pak
Harto minta maaf kepada Habibie. "Kalau begitu saya minta maaf karena saya tidak
menyangka saudara Habibie berani. Habibie mengatakan, saya berani sekali Pak mengapa tidak
berani. Habibie pun mengatakan, nanti kalau orang menyerangnya tidak akan segawat serangan
kepada Pak Harto. "Bapak harus tahu itu," kata Habibie.
Ternyata yang selama ini Habibie dikenal sebagai murid Pak Harto yang taat, entah kenapa
menjadi berani dan makin berani, ujar Amien.
Malam Terakhir Bingung
Mengenai suasana di kediaman Jalan Cendana pada malam terakhir sebelum Soeharto
mengundurkan diri, menurut Amien Rais diperoleh keterangan seorang dokter kepresidenan
bahwa Soeharto bingung. Sebentar-sebentar (5 menit) keluar dari kamar. Disebut mau tidur,
kenapa sebentar-sebentar keluar kamar.
Satu-satunya menteri yang setia menemani Soeharto malam itu adalah Saadillah Mursyid.
Melihat Soeharto bingung, Saadillah malah mengatakan, "Pak Harto, rupa-rupanya
tinggal kita berdua. Semuanya sudah meninggalkan kita..."
Informasi dari pihak lain mengemukakan, peristiwa ini disebut-sebut sebagai akibat
bersatunya 14 menteri yang diketuai oleh Akbar Tanjung dengan tegas menyatakan
mengundurkan diri dari Kabinet. Pernyataan tertulis itu disampaikan kepada Saadilah
Mursid. (j01/KR/R-m17)
Kembali ke Index