Biaya Pendudukan Itu Rp 2 Miliar

Gedung DPR/MPR kemarin mulai tampak bersih. Yang datang ke gedung itu juga sudah lain. Pakaian mereka rapi-rapi, mobil mereka mobil mewah. Tidak lagi seperti para mahasiswa yang rata-rata berkaos oblong itu. Mereka adalah anggota dewan yang ingin melihat ruangannya setelah ’’diduduki’’ mahasiswa. Apa yang mereka temui?

Penjagaan di seputar gedung masih juga ketat. Baik di pintu utama yang berada di Jalan Gatot Subroto maupun di pintu belakang di Jalan Lapangan Tembak, Senayan, tampak petugas keamanan dari PM (Polisi Militer), provos, Brimob, Marinir, dan polisi berjaga ekstra ketat.

Semua yang akan masuk, baik karyawan DPR, anggota dewan, wartawan, ataupun tamu-tamu DPR, diperiksa satu per satu oleh petugas gabungan tersebut. Mereka harus menunjukkan kartu identitas secara jelas. Kalau seorang tamu, dia harus menjelaskan dirinya akan menjumpai siapa dan apa tujuannya. Kalau tidak, mereka diharuskan meninggalkan gedung yang sebenarnya rumah rakyat itu.

Tank dan panser juga masih terlihat di samping pintu masuk belakang gedung tersebut. Di pelataran parkir belakang gedung itu, terdapat puluhan mobil militer. Beberapa petugas keamanan juga terlihat di beberapa lokasi sekitar gedung. Tetapi, mereka tampak santai dalam beberapa kelompok.

Karyawan dan anggota DPR sudah mulai kelihatan ngantor. Cuma, sampai kemarin masih belum tampak mereka melakukan kerja. Kebanyakan yang datang cuma melihat-lihat.

‘’Ya, kami baru akan melakukan langkah-langkah inventarisasi masalah. Sekarang, kami kan baru masuk kerja setelah sekian lama tidak bisa masuk secara normal sejak gedung ini dikuasai para demonstran. Kami tentu akan langsung bekerja. Hanya, untuk ini kan perlu sistematis dan terencana,’’ ujar Mahadi Sinambela, anggota FKP yang kemarin juga mulai ngantor.

Sementara itu, pelataran gedung DPR yang beberapa hari lalu penuh mahasiswa kini senyap. Lapangan parkir utama yang sebelumnya jadi ajang aksi mahasiswa kini berfungsi seperti sediakala, sebagai lapangan parkir mobil-mobil pimpinan DPR serta para anggota dan para tamunya.

Beberapa orang berseragam ABRI masih berjaga-jaga di berbagai sudut. Biasanya, mereka memilih tempat-tempat yang teduh untuk bergerombol dengan teman-temannya. Mereka terlihat tenang. Beberapa di antaranya berjaga-jaga di lobi utama, sudut-sudut ruangan, dan sekitar lift gedung lama, tempat para pimpinan DPR berkantor.

Pada saat yang sama, beberapa pasukan berseragam loreng duduk-duduk tenang di parkir bawah gedung baru. Senjata mereka ditata rapi dengan membentuk segitiga ke atas.

Rutinitas di kantor para wakil rakyat itu sudah mulai tampak berjalan seperti sediakala. Lift-lift dipenuhi orang-orang membawa kertas-kertas atau map-map untuk urusan-urusan kantor.

Ruang protokoler, ruang wartawan, serta humas dan pemberitaan, yang sebelumnya ditutup rapat-rapat, mulai dibuka kembali. Seperti cerita Dian, seorang karyawati gedung DPR, dirinya hanya bisa diam di dalam ketika mahasiswa menduduki gedung tersebut selama sepekan.

Hampir lima hari Dian dan teman-temannya sengaja mengurung diri di dalam kantor. Baru setelah pukul 17.00, saat pulang, mereka pun meninggalkan kantor. ‘’Habis, mau keluar ruangan takut, kami keluar kalau mau ke toilet saja,’’ katanya.

Di pintu gerbang utama, sekitar sepuluh polisi berjaga-jaga. Beberapa anggota Polisi Militer dengan wajah tegang tetap bersiap dengan senjatanya. Tidak semua orang boleh masuk, jika tidak jelas identitas dan tujuannya ke gedung wakil rakyat itu.

Wartawan pun dibatasi. Hanya mereka yang memiliki id card DPR. Yang tak punya id card dari DPR dipersilakan balik kanan dan meninggalkan gedung tersebut.

Lobi utama gedung DPR itu sudah bersih meskipun masih tercium bau anyir. Sebuah kacanya pecah dengan meninggalkan lubang sebesar bola voli. Biasanya, di lobi utama itulah wartawan-wartawan ngumpul dan leyeh-leyeh di lantai keramiknya yang licin mengilat. Tapi kali ini, para kuli disket lebih memilih berdiri daripada duduk di lantai yang masih ditempeli sisa-sisa lumpur itu.

Sebagian besar anggota DPR sudah mulai datang dengan pakaian safari dan lencana di dada kirinya. Bahkan, beberapa fraksi telah mulai berapat dan menerima pengaduan. Contohnya kemarin, Fraksi Karya Pembangunan sempat menerima rombongan tamu dari Presidium Gerakan Reformasi Nasional yang dipimpin Prof Soebroto dan laskar Ampera yang datang dengan seratus anggotanya dipimpin Djusril Djusan.

Lalu-lalang itu tak mempedulikan beberapa cleaning service yang terus-menerus membersihkan lantai yang penuh lumpur. Truk sampah juga masih hilir mudik mengumpulkan ratusan kubik sampah yang tadinya bertebaran di mana-mana.

Kantin DPR Risanti, lantai II gedung lama, kemarin masih berantakan. Peralatan dapur, seperti alat-alat masak, tembok-tembok, dicoret-coret dengan kata-kata kotor. Wakil Ketua DPR/MPR RI Abdul Gafur menyatakan tidak percaya kerusakan-kerusakan ini perbuatan para mahasiswa yang menduduki gedung tersebut.

‘’Mahasiswa tidak mungkin menulis kata-kata kotor di tembok-tembok ini. Ini sudah pasti orang-orang liar yang sengaja ingin merusak citra mahasiswa dan anggota DPR. Masak tulisan begini ditulis di sini. Ini kan ulah orang-orang brengsek yang tidak bermoral,’’ ujar Gafur saat meninjau kantin itu, kemarin.

Keadaan sama masih terlihat di lantai 10 gedung lama. Lantai tempat menyimpan arsip-arsip DPR/MPR ini sempat dibakar orang-orang liar yang menentang gerakan mahasiswa untuk menuntut reformasi total. Sampai kemarin, lantai ini masih tertutup untuk umum.

Atas semua kerusakan tersebut, Gafur memperkirakan bahwa jumlah kerugian yang diderita DPR sekitar Rp 2 miliar. ‘’Yang jelas, kerusakan-kerusakan itu bukan ulah para mahasiswa,’’ tegasnya kemudian.

Kembali ke Index