GATRA Nomor 28/IV, 30 Mei 1998

B.J. Habibie

Oleh : Hermawan Kartajaya

SAAT B.J. Habibie mengucapkan sumpah sebagai presiden ketiga Republik Indonesia, 21 Mei lalu, seorang teman sempat menyatakan: Inilah yang disebut PBA. Apa itu? President by accident. Saya pikir, itu benar. Mengapa? Saya percaya bahwa Pak Habibie sendiri tidak pernah membayangkan akan jadi presiden secepat itu. Bahkan bukan rahasia lagi dukungan sebagai wakil presiden pun sempat "digoyang" oleh pakar ekonomi Emil Salim.

Tapi itulah kenyataan yang sudah terjadi. Terlepas dari pro dan kontra tentang konstitusionalnya proses pengangkatan itu sendiri, yang jelas kita sudah punya Presiden RI yang ketiga. Harus diakui, sangat tidak mudah bagi Presiden Habibie untuk memulai tugasnya. Di dalam negeri masih banyak kaum reformis yang kurang sreg dia jadi presiden karena dianggap merupakan "hasil binaan" presiden sebelumnya.

Para teknokrat, terutama ekonom banyak yang "kecewa" dengan proyek-proyek penguasaan teknologi yang dianggap inefisien dan tidak berdampak langsung bagi rakyat kecil. Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa dia disebut-sebut kurang punya "akar" yang kuat ke bawah. Di luar negeri, figurnya kabarnya kurang positif di mata Amerika Serikat, yang sekarang pegang "kendali" di Dana Moneter Internasional (IMF). Selain itu, sikapnya yang lebih bias ke Eropa dan Jepang kabarnya juga tidak terlalu disukai Amerika Serikat.

Tapi saya sendiri berpendapat, kalau Habibie bisa bermain cantik pada saat-saat sulit seperti ini, dia punya peluang menjadi presiden hingga tahun 2003, bahkan untuk dipilih lagi sampai tahun 2008. Teorinya gampang.

Menurut teori customer satisfaction, justru kalau pelanggan punya harapan yang rendah atau bahkan negatif, maka lebih terdapat peluang untuk memuaskannya. Karena situasi Indonesia sudah mencapai titik nadir, maka sulit untuk menjadi lebih jelek lagi. Berangkat dari keyakinan seperti itu, menurut ilmu pemasaran, disiplin ilmu saya, Habibie lantas harus memposisikan dirinya secara jelas supaya dia dipersepsi berbeda dengan Soeharto, presiden sebelumnya. Bahkan Goh Chok Tong pun, yang nyata-nyata dibina Lee Kuan Yew, pada saat ini sudah dianggap punya pendirian sendiri.

Tanpa perlu "mengkhianati" Soeharto, tidak ada pilihan lain, Habibie harus berani melakukan reformasi mulai dari dirinya lebih dahulu. Perusahaan-perusahaan yang dulu didirikannya, yang ternyata tidak efisien, haruslah yang pertama kali direformasi. Lantas? Tindakan KKN (kolusi, korupsi, dan nepotisme) pada diri dan keluarganya, kalau memang ada, harus diklarifikasi dan bila perlu direformasi secara transparan.

Ini kunci. Kenapa? Sebab, pada saat krisis ini, kredibilitas pribadi Habibie sebagai seorang pemimpin sedang dipertaruhkan. Usahakan supaya legal power berubah menjadi legitimate power. Setelah itu, barulah melakukan reformasi terhadap inefisiensi yang disebabkan KKN di tubuh pemerintah. Sebab, kredibilitas para pemimpin lain harus ditegakkan kembali secara kolektif. Baru setelah itu, pada tahap ketiga, reformasi bisa dilangsungkan di segala lapisan masyarakat.

Saya tahu ini berat. Sebab, hal tersebut memerlukan perubahan paradigma yang selama ini secara umum berlaku, bahwa inefisiensi yang disebabkan KKN itu "nggak apa-apa". Asal dilakukan secara "halus" dan "tidak mencolok". Tidak ada jalan lain bagi Habibie. Dia harus jadi pemasar, bukan politikus. Mengapa? Banyak orang berkata: Politicians always overpromise but underdeliver. But marketers must deliver what they have promised.

Komitmen untuk memberantas KKN sudah diucapkan. Tinggal pelaksanaannya. Kalau bisa, maka brand image Presiden Habibie akan berubah total. Dan kalau orang suprise akan perubahan yang terjadi, maka tidak mustahil B.J. Habibie akan terus menjadi presiden sampai dengan tahun 2003. Bahkan mungkin saja sampai dengan tahun 2008. Maka, istilah PBA akan berarti president by achievement.

Kembali ke Index