Memecah Umat Lewat "Reformasi"

Amien Rais dicekal di Pasuruan. Lewat "aksi reformasi", mitos permusuhan NU-Muhammadiyah dicoba-hidupkan.

Entah disebar dari mana, Amien Rais tiba-tiba mendapat predikat biang kerusuhan. Sekelompok warga Pasuruan dan Bangkalan (Madura) punya contoh sama untuk Ketua PP Muhammadiyah itu. Yakni, kerusuhan di Lamongan, Jawa Timur. Sebuah desa di Lamongan memang rusuh beberapa pekan setelah Amien berceramah di kota itu (bukan desa yang bersangkutan).

Berbekal kesimpulan tadi, H Achmad Jam'an (47) menyatakan keberatan atas kehadiran Amien di Pasuruan. "Kami khawatir kehadiran Amien Rais bisa menimbulkan hal yang sama seperti di Lamongan," tandas Jam'an, Direktur PT Mula Pelita, perusahan jasa angkutan.

Keberatan Jam'an diwujudkan dalam aksi "berbendera" Garda Arepas (Gabungan Reformasi Damai Arek Pasuruan). Amien dihadang. Dan, acara Milad (ulang tahun) ke-88 Muhammadiyah di Stadion Untung Suropati, Pasuruan, 14 Juni silam, akhirnya berlangsung tanpa ceramah Amien.

Unjuk Kekuatan. Dua hari sebelum hari "H", personel Garda Arepas mulai beraksi dengan memasang spanduk di jalan-jalan. Isi tulisannya antara lain: "Amien Rais Makelar Politik"; "Reformasi Yes, Amien Rais dan Kerusuhan No/"; "Amien Rais Pengkhianat Bangsa"; dan "Amien Rais Ular".

Esoknya, iringan pengendara sepeda motor berkeliling kota Pasuruan. Sabil membawa spanduk, mereka meneriakkan kata-kata hujatan terhadap Amien Rais. Hari itu juga, ratusan demonstran Garda Arepas mendatangi Gedung DPRD II Kodya Pasuruan. Mereka mendesak pimpinan Dewan agar membuat pernyataan menolak kehadiran Amien.

Ketua DPRD Pasuruan, Kolonel (Purn) H Fathor Rasyid SH (56) mengakui, Dewan terpaksa memenuhi permintaan Garda Arepas karena khawatir jatuh korban. "Di Pasuruan ada dua kekuatan yang saling unjuk kekuatan," tuturnya. Keputusan itu lalu disampaikan ke pihak keamanan Dati I, untuk dipertimbangkan. Sabtu malam itu juga, ungkap Fathor, Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Djaja Suparman mengundang segenap Muspida Kodya/Kabupaten Pasuruan dan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim serta Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Pasuruan.

Pada hari "H", ratusan demonstran Garda Arepas menghadang kedatangan Amien di gerbang tol Gempol, sekitar 40 kilometer dari Stadion Untung Suropati. Sebagian lain beraksi di stadion. Amien pun batal berceramah. Rencana ceramah serupa di Bangil juga diurungkan. Namun malamnya, Amien secara diam-diam, tanpa pengawalan petugas keamanan, menemui sekitar seratus warga Muhammadiyah di Mesjid Al-Arqam, Pasuruan. Malam itu juga Amien meninggalkan Pasuruan dan bertolak ke Pamekasan (Madura) untuk bersilaturahmi dengan sejumlah kiai.

Sumber UMMAT di PWM Jatim, yang menyertai Amien dalam pertemuan dengan para kiai di Pulau Garam itu, menuturkan: sekelompok santri bersarung dan mengenakan peci warna putih tampak bergerombol di sekitar dermaga Kamal, Bangkalan, Senin pagi. Mereka mencurigai setiap mobil yang masuk ke Madura. "Sedang menunggu kedatangan Pak Amien Rais," kata salah satu dari mereka yang ditanya sumber UMMAT tersebut. Di kawasan gerbang pulau Madura itu terpasang spanduk berbunyi: "Amien Rais bukan milik umat Islam, tapi milik Muhammadiyah".

H M. Nilam, salah satu tokoh Madura, mengaku setuju dengan aksi Garda Arepas. "Kehadiran Amien di daerah-daerah dikhawatirkan menimbulkan kerusuhan, seperti di Lamongan," katanya. Bukan tidak setuju dengan reformasi yang dilontarkan Amien, kata Nilam, melainkan, "Saat ini sebaiknya Amien tak perlu ngomong soal politik, tapi soal nasib rakyat, agar bisa menjangkau harga kebutuhan."

Para penghadang rupanya kecele, karena Amien sudah "menyelinap" malam hari. Para Ulama dari berbagai daerah di Madura --sebagian besar tokoh Nahdhatul Ulama (NU)-- menyambut hangat kedatangan Amien di Pamekasan. Namun, menjelang dimulai "Dialog Reformasi", pihak panitia mendapat imbauan dari Polres Pamekasan agar acara dibatalkan. Para ulama yang sudah berkumpul pun memprotes dan akhirnya acara itu berjalan lancar pada 15 Juni 1998.

Mentang-mentang. Bagi banyak tokoh NU, kejadian di Pasuruan dan Madura tampaknya tak mengenakkan. Ketua PBNU KH Abdurrahman Wahid bahkan mencela aksi "anak-anak NU di Jawa Timur" itu sebagai bentuk sektarianisme baru. "Mentang-mentang merasa besar kemudian melakukan tindakan seperti itu," ujar cucu pendiri NU yang akrab disapa Gus Dur, seraya menambahkan, "Biarkanlah Muhammadiyah juga menjadi lebih besar. NU menentang sektarianisme."

Betulkah itu digerakkan warga NU? KH Hamzah Achmad, pengasuh Pondok Pesantren Besuk, Pasuruan, menegaskan, Garda Arepas tidak mendapat restu kalangan ulama karena memang ulama tidak tahu keberadaannya. Dalam pengajian Ahad pagi, sebelum acara Milad Muhammadiyah, KH Ahmad Arsyad bin Imron, pengasuh Pondok Pesantren Hafizhil Quran, Pasuruan, mengkritik Garda Arepas. "Orang, kok, ribut soal kehadiran Amien Rais. Biarkan saja," katanya, seraya memberi tahu dirinya berniat hadir ke acara Milad Muhammadiyah ke-88.

Ketua Umum GP Anshor Jatim Choirul Anam membantah keras isu bahwa Bantuan Serbaguna (Banser) GP Ansor Jatim terlibat penghadangan Amien Rais. "Baik di Pasuruan maupun Madura adalah murni orang setempat, tak ada petugas Banser," tandas Anam, seperti dikutip harian Media Indonesia.

Menurut catatan yang dihimpun Sekretariat DPRD Kodya Pasuruan, sejumlah nama tokoh GP Anshor ikut menggerakkan Garda Arepas, antara lain Jam'an (mantan Ketua Anshor 1974) dan Soleh SH (Ketua Anshor Kodya Pasuruan). Ada pula dari kalangan lain, seperti H Yunus (Katibum Pemda Kabupaten Pasuruan) dan Roem Latif (aktivis FKPPI). Garda Arepas sendiri, seperti diakui Jam'an, bukan kelompok berpengurus. "Kami hanya spontanitas," ujarnya.

Seperti Amien Rais, kalangan ulama Madura agaknya lebih suka masalah penghadangan tak dibesar-besarkan. KH Tijani Jauhari MA (53) Pengasuh Pesantren Al Amien Preduan, Sumenep, memandang bahwa yang terpenting bagi umat Islam adalah menggalang persatuan. "Kita harus waspada terhadap usaha-usaha pemecah-belah," kata Tijani, yang hadir dalam silaturahmi dengan Amien di Pamekasan.

Tijani --alumnus Pesantren Gontor, Ponorogo, yang meraih gelar MA di King Abdul Aziz University, Mekah (1974)-- bahkan mendambakan bersatunya Amien dengan Gus Dur. "Mereka berdua dulu berteman di Mesir," katanya.

Yanto Mushtofa, Maifil Eka Putra, Imam Bukhori (Pasuruan)

Kembali ke Index