Megawati Menulis soal Bung Karno di Asiaweek

Materi tanpa Kebebasan Adalah Kekalahan

Abad 20 yang tinggal dua tahun ini disebut sebagai A Century of Asian Liberation. Banyak peristiwa ’’pembebasan" besar yang terjadi sepanjang abad ini, termasuk perubahan mendasar di Asia yang meledak belakangan ini. Kelahiran era reformasi total di Indonesia adalah salah satunya. Setidaknya, tercatat sembilan tokoh ’’pembebasan Asia" yang nama mereka pasti terukir dalam sejarah Asia. Salah satu di antara mereka adalah proklamator RI Soekarno. Berikut kesan Megawati Soekarnoputri mengenai Bung Karno yang ditulisnya sendiri di Asiaweek.

Setiap usaha melenyapkan perannya (Bung Karno, Red) dalam pergerakan sejarah Indonesia selalu berakhir dengan kegagalan. Sekarang bangsa dan rakyat sudah kehilangan semuanya dan hidup dalam penderitaan baik lahir maupun batin. Ini sebagai akibat sebuah pemerintahan yang represif, tidak demokratis, dan yang memisahkan Bung Karno dari rakyat yang dicintainya.

Hubungan saya dengan Bung Karno tidak hanya terbatas sebagai bapak dan anak. Ia juga teman sekaligus guru bagi saya. Meski sudah tiada lagi, ia terasa masih tetap ada sampai sekarang.

Hal ini juga dirasakan seluruh rakyat Indonesia. Di tengah-tengah krisis yang berkepanjangan saat ini, saya ingat salah satu kata-kata yang pernah diucapkannya,’’Meski rakyat hidup berkecukupan materi, tapi kalau tidak ada kebebasan –yang merupakan hak hakiki manusia–, mereka hidup dalam kekalahan yang amat mendasar.’’

Ia membuat saya paham, mengapa ia menekankan bahwa bangsa Indonesia harus cinta damai. Tetapi, ia juga mengingatkan agar mereka lebih cinta kebebasan.

Sebagai manusia yang romantis, Bung Karno mengingatkan kita bahwa eksploitasi atas rakyat atau bangsa adalah musuh. Kehendak untuk membebaskan rakyat dari segala bentuk kolonialisasi telah menjadi pekerjaan dan impian politik di sepanjang hidupnya.

Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955 yang melahirkan ide nonblok adalah realisasi cintanya terhadap perikemanusiaan (humanity) dan kebebasan (freedom). Bagi rakyat Asia dan Afrika, Soekarno yang begitu dekat dengan gerakan nonblok akan selalu dikenang.

Idenya meletakkan dasar bagi tatanan baru bagi dunia. Menciptakan sebuah keseimbangan kekuasaan antara negara-negara Utara dan Selatan –yang di dalamnya masalah perikemanusiaan sangat dijunjung tinggi– telah menjadi isu sentral dari kebijaksanaan luar negeri Indonesia di bawah kepemimpinannya.

Kunjungan resminya, baik ke negara-negara blok Barat maupun ke blok Timur, menunjukkan sikap netralnya. Keterbukaannya memperkukuh pijakannya sebagai seorang pemimpin gerakan nonblok dan dia dihormati baik oleh kawan maupun lawan.

Globalisasi, sebuah konsep yang populer di zaman sekarang, sudah menjadi bagian pemikirannya pada masa-masa yang lampau. Perbedaannya adalah visinya yang melibatkan penciptaan sebuah keseimbangan kekuatan dan tidak menempatkan kapitalisme sebagai kekuatan dominan dalam menggerakkan roda globalisasi.

Mengonsentrasikan diri terhadap kekuatan modal tanpa memberikan peran penting pada perikemanusiaan hanya akan mengakibatkan keruntuhan total. Situasi di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, adalah contoh yang paling jelas dari konsep yang salah tentang globalisasi. Tak mengherankan, rakyat Indonesia yang menderita kini kembali lagi pada pemikiran Bung Karno.

Bila Bung Karno dapat menyaksikan ketidakpastian bangsa saya sekarang, ia pasti akan merasa malu. Ia pernah berkata,’’Sebuah pemerintah yang membuat rakyatnya tergantung pada belas kasihan bangsa lain sama artinya dengan melakukan sebuah kejahatan yang tidak dapat ditoleransi.’’

Tapi, inilah yang dialami negara saya. Indonesia memiliki kedaulatan penuh sejak 17 Agustus 1945. Setelah setengah abad, kami telah menjadi sebuah negara yang tidak dapat menikmati kebebasan. Bung Karno tidak pernah berkeberatan soal menerima bantuan asing. Tapi, bagi dia, bantuan yang menciptakan ketergantungan adalah bagian dari neo-kolonialisme.

Didasarkan atas sikapnya terhadap kolonialisme itulah, ia yakin saat si kuat dan si lemah duduk satu meja, istilah ’’kebebasan" tidak lagi bisa diterapkan. Teristimewa lagi bila si lemah terhalang karena kedunguannya. Mereka tidak tahu bagaimana memperkuat diri sendiri, terutama karena mereka tidak pernah diberi kesempatan untuk berpikir dan berdiri di atas kaki mereka sendiri.

Ayah selalu mengatakan, belajarlah dari Mahatma Gandhi dan Sun Yat-sen. Ia secara konsisten mengingatkan kami untuk mengikuti semangat juang Nabi Muhammad SAW dalam membela kebenaran dan keadilan.

Ayah saya menghargai dan menghormati sejarah. Ia belajar dari sejarah, bahkan sampai kematiannya –setelah berhenti sebagai presiden demi keutuhan bangsa. Ia mengatakan kepada saya,’’Satu-satunya kekuasaan tak terbatas hanyalah milik Tuhan.’’

Bila seorang pemimpin mencoba memotong secuil potongan sejarah, penderitaan akan terjadi. Inilah yang sedang terjadi terhadap bangsa saya sekarang. Saat mereka dibutakan dan dibengkokkan dari jalan sejarah mereka, rakyat tidak dapat mencapai cita-cita kemerdekaan.

Rakyat membiarkan kedaulatan mereka diambil oleh kekuasaan dan mereka menjadi buta atas kenyataan bahwa kebebasan adalah perhiasan paling berharga milik umat manusia. Sementara itu, mereka yang memerintah menjadi tidak mampu memahami bahwa peradaban tanpa perikemanusiaan akan menuju pada kegelapan.

Bung Karno bukan seorang politikus yang serba tahu. Ia ingin mengorbankan kepentingan-kepentingan politiknya demi kesatuan dan perikemanusiaan. Bung Karno sangat mencintai ’’anak-anak"-nya –seluruh rakyat Indonesia– dan ’’ibu"-nya –bumi di mana dia dilahirkan dan dibesarkan. Cintanya terhadap mereka melebihi cintanya kepada keluarga dan dirinya sendiri.

Sebagai seorang ayah, dia sangat mengagumkan. Sebagai seorang teman, dia peramah. Sebagai seorang laki-laki, dia pria sejati. Sebagai seorang guru, dia sedalam lautan.

Bung Karno akan selalu hidup di hati rakyat Indonesia. Bung Karno tetap dikenang karena dia adalah proklamator kemerdekaan RI sekaligus menyandang predikat Bapak Bangsa. Dia memberikan kepada bangsa Indonesia sebuah kebanggaan menjadi orang Indonesia.

Kembali ke Index