Dari Pertemuan Habibie dengan Pimpinan Media Massa (3)

Boleh Tulis Bung Rudy?

BANYAK sekali komentar terhadap penampilan fisik Presiden B.J. Habibie yang hiperaktif itu. Terutama ketika presiden bertemu dengan para pimpinan media massa di Wisma Negara, Sabtu lalu, serta jalannya pertemuan disiarkan tv-pool pada malam harinya secara penuh, apa adanya, tanpa ada pertanyaan atau jawaban yang dipotong, dan berlangsung tiga jam.

Banyak yang senang karena publik bisa menikmati penampilan presidennya apa adanya. Tidak terkungkung formalitas kepresidenan yang kaku. Bahkan, banyak yang tidak keberatan kalau sekalian ada reformasi dalam pemakaian kopiah.

Tapi, banyak juga yang berkomentar, presiden kok seperti pemain teater. Komentar seperti ini terutama muncul karena kita sudah 32 tahun hanya menyaksikan sosok penampilan presiden yang dingin, formal, pendiam, dan hampir selalu berpidato dengan teks dalam bahasa Indonesia. Kita belum terbiasa melihat banyak presiden dengan banyak gaya. Kita belum tahu gaya seperti apa lagi presiden kita yang keempat kelak.

Apa pun komentar orang, yang jelas, presiden baru ini memang seperti gerak pendulum yang berlawanan dari presiden sebelumnya. Pada hari-hari pertama, memang, terlihat penampilan yang ’’lebih presiden", tapi rupanya banyak protes datang kepadanya agar dia tetap saja dengan Habibie apa adanya. Keinginan untuk ’’tetap jadi Habibie" itu termasuk datang dari anak-anaknya sendiri.

Para pimpinan media massa yang hadir Sabtu lalu umumnya lebih senang dengan suasana yang lebih cair seperti itu. Bahkan, ada yang memuji gaya yang ditampilkannya tersebut telah menjauhkan gaya feodal yang terjadi selama ini. ’’Kini, tangan kita tidak perlu lagi begini," celetuk Jakob Oetama, pimpinan Grup Kompas, seusai pertemuan sambil memeragakan kedua telapak tangannya yang disatukan di bawah pusarnya.

Celakanya, ada yang meminta lebih. ’’Bapak Presiden kan punya nama panggilan yang amat manis. Rudy. Rudy Habibie. Boleh nggak kita menuliskan nama Bapak dengan nama yang manis itu? Misalnya, Bung Rudy," tanya seorang wartawan.

Presiden ternyata tidak keberatan. ’’What is a name. Apalah artinya nama," katanya. ’’Boleh. Boleh. Tulis apa saja. Boleh Rudy. Boleh Rudy Habibie. Boleh pula Bacharuddin. What is a name," tambahnya.

Saya buru-buru mendekatkan mulut ke telinga Jakob Oetama. ’’Tapi kita harus ingat bahwa di Amerika Serikat pun pers menyebut presidennya dengan Mr President," bisik saya. Jakob setuju dengan apa yang saya bisikkan.

Soal kopiah, presiden tampaknya akan tetap mempertahankan sebagai lambang kebanggaan dan identitas nasional. ’’Apalagi bisa untuk menutupi kepala saya yang botak," guraunya.

Sebenarnya tidak ada wartawan yang mempertanyakan soal kopiah. Yang bertanya justru perdana menteri Papua Nugini (PNG) yang baru kemarinnya jadi tamu negara. Yang menceritakan soal ini presiden sendiri dengan humor tingginya dan dengan bahasa Inggris yang tidak dia terjemahkan.

Waktu itu sedang diadakan jamuan makan malam kenegaraan. PM PNG iseng bertanya soal kopiah tersebut. ’’Sebagai presiden, mengapa Anda pakai kopiah? Kok sama dengan pelayan-pelayan itu?" tanya sang tamu. Dengan sangat cerdas, presiden menjawab, ’’Saya juga pelayan, pelayan rakyat Indonesia."

Masih ada pertanyaan lain yang dijawab presiden dengan humor yang sangat tinggi. ’’Tapi, tamu yang lain (maksudnya para menteri dan pejabat tinggi Indonesia) kok tidak menggunakan kopiah," tanya sang tamu. Dengan tangkas dan cepat, presiden menjawab. ’’Oh, mereka itu intelektual."

Presiden tampaknya juga sudah menetapkan pilihan untuk gaya yang lain dari pendahulunya. ’’Apa yang berubah dari saya dibandingkan dengan beberapa belas hari yang lalu?" ujar Habibie yang baru jadi presiden 14 hari itu. ’’Saya ini sudah berumur 62 tahun. Sudah tidak bisa berubah," guraunya.

Soal KKN yang juga mengarah kepadanya pun, dalam cerita presiden ada lucunya. ’’Anak saya yang satu, biarpun dalam setiap jenjang lulus cum laude dan yang satunya lagi lulus cum laude yang masih ditambah dengan pujian, tidak bisa bekerja di IPTN dan mengajar di ITB," ujarnya. Itu berarti, selama ayahnya jadi presiden, anaknya tidak bisa bekerja di Indonesia. Tapi, presiden mengomentarinya dengan kalem. Bahkan, presiden menceritakan permintaan anaknya dengan nada humor. ’’Anak-anak saya bilang, ’Pa, jangan lama-lama jadi presiden. Saya mau hidup," katanya.

Penampilan presiden yang apa adanya itu ternyata juga tidak disangka-sangka oleh wartawan CNN yang baru saja melakukan wawancara khusus. Ini diceritakan presiden (saat saya berada dalam satu meja makan dengannya dan karena itu di luar liputan tv) dengan humor yang cair.

Ketika CNN mengajukan permohonan untuk melakukan wawancara khusus, ternyata Presiden Habibie mengajukan satu syarat. Yakni, agar tidak mengajukan pertanyaan soal komentarnya terhadap Soeharto. Selebihnya bebas. CNN setuju.

Dalam pelaksanaannya, kata presiden, ternyata wartawan CNN yang salah tingkah. Sebentar-sebentar pewawancara minta cut sampai tiga kali. ’’Biasanya kan yang diwawancarai yang grogi," katanya.

Menurut cerita presiden, wartawan CNN merasa sangat surprise permohonan wawancaranya dikabulkan begitu cepat dan presiden bersikap sangat manusiawi. Sampai-sampai, wartawan CNN bertanya apakah benar yang sedang dia hadapi adalah presiden. Rupanya, sebelum itu, sang wartawan banyak mendapat informasi mengenai kekakuan birokrasi di Indonesia, termasuk banyaknya syarat untuk bisa wawancara dengan presiden. Juga bagaimana angkernya sosok seorang presiden.

Sebagai wujud keheranannya itu, sampai-sampai sang wartawan ingin mendapat izin bisa memegang badan presiden. ’’Dia bertanya apakah boleh menyentuh tubuh saya," ujar presiden. ’’Tentu saja saya jawab, mengapa tidak," tambah presiden.

Maka, tiba-tiba sang wartawan memegang tubuh presiden. ’’Benarkah Anda presiden itu?" tanya sang wartawan, seperti yang ditirukan presiden. ’’Rasanya, saya tidak percaya dengan yang saya lihat," tambah wartawan tersebut.

Wartawan The New York Times yang juga mendapat kesempatan wawancara khusus punya kesan yang mirip. Menurut koran itu, Habibie melayani wawancara dengan gaya seperti umumnya kepala pemerintahan negara Barat. (dahlan iskan/bersambung)

Kembali ke Index