|
Dari Pertemuan Presiden Habibie dengan Pimpinan Media Massa (2)
Widjojo pun Dimintai Masukan
Apa yang terjadi di balik pembentukan kabinet yang dibentuk Presiden Habibie sehingga dinilai tidak memuaskan? Mengapa nama-nama tertentu dimasukkan kabinet yang akhirnya banyak disorot di masyarakat? Mengapa presiden hanya menyisihkan waktu satu hari untuk menyusun kabinet sehingga dinilai terlalu terburu-buru?
Dari pertemuan antara presiden dan pimpinan media massa di Wisma Negara, Sabtu lalu, semua itu terungkap. Lepas dari setuju atau tidak setuju terhadap cara yang dilakukan presiden, kini masyarakat jadi tahu jalan pikiran presiden ketika menyusun kabinet.
Presiden terus terang mengatakan bahwa kabinetnya pasti punya kelemahan. Seperti juga semua orang punya kelemahan. Secara pribadi, presiden juga mengakui punya kelemahan; kurang kenal latar belakang sejumlah nama. Itu disebabkan waktu dan perhatiannya selama ini dia kuras untuk pekerjaan di bidangnya. Saya tidak tahu whos who-nya," katanya.
Dengan gayanya yang hiperaktif dan kalimatnya yang membuat orang tertawa, Presiden Habibie sampai memberikan contoh betapa dia benar-benar tidak banyak tahu latar belakang sejumlah menteri yang kini dipersoalkan. Daerah Glodok saja, saya ini tidak tahu," katanya. Waktu saya mengunjungi daerah yang jadi korban kerusuhan di Glodok, itulah untuk kali pertama saya tahu Glodok, tambahnya. Jadi, lanjutnya, Kalau saja saya ini diturunkan di suatu daerah di Jakarta ini, barangkali, saya harus minta bantuan taksi untuk bisa pulang.
Karena itulah, begitu tiba-tiba harus menyusun kabinet, yang dia pikirkan adalah siapa yang bisa membantunya untuk memfilter. Logika pertama yang dia tempuh adalah mengajak keempat Menko yang memang sudah dia kenal kerjanya lebih dari 20 tahun.
Agar tidak hanya mempertimbangkan pendapat empat orang Menko itu, dia juga minta Akbar Tandjung akan bisa memberikan pendapat imbangan. Mengapa Akbar? Dia kan sekretaris Dewan Pembina Golkar. Saya adalah koordinator Dewan Pembina," katanya.
Lantas, Habibie masih memerlukan orang lain lagi untuk dimintai pertimbangan bagaimana susunan kabinet baru itu. Saya telepon Prof Dr Widjojo Nitisastro. Saya tanya apakah beliau bersedia membantu saya menyusun kabinet. Beliau bilang, oh pasti. Beliau pun langsung datang," ujar presiden.
Jadi, jelaslah bahwa enam orang tersebut yang membantu presiden menyusun kabinet yang begitu cepat. Tapi, semuanya saya yang menentukan. Beliau-beliau membantu, saya yang mengambil keputusan. Saya tulis sendiri susunan kabinet itu, tulisan tangan saya," katanya.
Jadi, menurut presiden, malam itu juga susunan kabinet sudah tersusun. Sudah pukul satu lebih. Sudah dini hari," katanya. Dengan penegasan itu, presiden tampaknya ingin membantah bahwa sampai pagi hari menjelang pengumuman kabinet dia masih belum berhasil menyelesaikannya. Atau, seperti yang banyak dirumorkan, masih terus terjadi tawar-menawar dan bahkan masih menerima tekanan-tekanan agar yang ini" masuk dan yang itu" keluar.
Desas-desus seperti itu beredar kuat lantaran pengumuman kabinetnya molor dari jadwal yang ditetapkan. Saya memang terlambat 1,5 jam. Tapi, bukan karena susunan kabinetnya belum selesai," katanya. "Saya terlambat karena harus menerima Pangab," tambahnya.
Pertemuan dengan Pangab itu, menurut presiden, amat penting. Maksudnya, tidak mungkin diperpendek hanya karena waktu pengumuman kabinet sudah tiba. Presiden harus mendengarkan seluruh laporan yang terjadi dan harus memberikan petunjuk untuk mengatasi masalah yang ada, baik untuk kesatuan di dalam ABRI atau kesatuan bangsa. Bukankah saya ini panglima tertinggi?" katanya. Ini bisa dimaklumi, mengingat keadaan waktu itu memang amat genting. Dalam bahasa Dr Nurcholish Madjid, perkembangan terjadi detik per detik.
Pertimbangan cepatnya perkembangan saat itu pula yang menyebabkan presiden bertekad harus sudah mengumumkan kabinetnya keesokan harinya. Presiden mendengar bahwa itu terlalu terburu-buru dan kurang bijaksana. Tapi, saya harus lari cepat," katanya.
Tapi, mengapa nama-nama yang kemudian menjadi sorotan masyarakat itu masuk? Presiden Habibie menjelaskan bahwa dalam menyusun kabinet, dia memilih mengakomodasikan semua fraksi yang ada di MPR. Saya ini presiden mandataris MPR. Bukan presiden mandataris Golkar. Jadi, kabinet ini juga harus mencerminkan fraksi yang ada," katanya. Tentu saja, maksudnya, termasuk fraksi PDI dan Utusan Daerah.
Untuk anggota kabinet yang dari fraksi PDI, PPP, dan UD, tampaknya, Habibie memilih menyerahkannya kepada pimpinan fraksi masing-masing. Maka, dari FPP masuk nama A.M. Saefuddin dan Hamzah Has. Pertimbangan PPP memasukkan dua nama itu, tampaknya, dimaksudkan sekaligus untuk mewakili dua sayap besar dalam PPP: A.M. Saefuddin dari sayap Muslimin Indonesia (MI) dan Hamzah Has dari sayap NU. Soal kemudian NU merasa tidak diikutkan dalam kabinet, rupanya, dalam intern NU nama Hamzah Has tidak mencerminkan representasi NU yang diinginkan.
Logika itu pulalah yang kelihatannya terjadi sehingga nama Hasan Basri Durin dan Ida Bagus Oka masuk dalam kabinet yang kemudian menjadi sorotan tajam itu. Keduanya memang pimpinan FUD. Soal apakah mereka menunjuk dirinya sendiri atau rundingan dulu dengan seluruh anggota FUD, tampaknya, itu lebih menyangkut mekanisme intern di fraksi tersebut.
Setuju atau tidak setuju dengan susunan kabinet yang ada, kini kita menjadi tahu logika yang dipergunakan untuk menyusunnya. Tinggal apakah orang bisa memahami logika seperti itu atau tidak. (Dahlan Iskan/Bersambung)