Dari Pertemuan Presiden Habibie dengan Pimpinan Media Massa

Sudah Bisa Tidur 4 Jam Sehari

MASYARAKAT pers menikmati dua kemerdekaan Sabtu kemarin, ketika sejumlah pimpinan media massa diundang untuk bertemu Presiden B.J. Habibie di Wisma Negara, di kompleks Istana.

Saat acara belum dimulai, mereka bersalaman dan membicarakan dengan nada riang dicabutnya Permenpen No 1/84. Mereka gembira karena tidak ada lagi ancaman pembredelan surat kabar dan tidak lagi diharuskan menjadi anggota PWI. Para pimpinan media massa juga banyak tertawa, seolah-olah sedang merayakan hari pertama kemerdekaan pers. Mereka juga menertawakan kejadian-kejadian di masa lalu, bagaimana rasa ketakutan selalu menghantui setiap hari.

Saat acara dialog dengan presiden dimulai, mereka menikmati kebebasan yang lain: mengajukan pertanyaan apa saja dalam suasana sangat bebas. Didukung pula oleh tatanan tempat duduk yang disiapkan Mensesneg Akbar Tanjung yang amat berbeda dengan kebiasaan acara di istana. Kali ini dialog dilangsungkan di ruang makan dengan format makan siang sehingga tidak lagi seperti suasana temu wicara.

Dalam acara kemarin, praktis tidak ada jarak antara presiden dengan masyarakat pers. Presiden sendiri tidak ’’membungkus" diri dengan formalitas kepresidenan yang lama sehingga ’’sosok Habibie"-nya tidak hilang. Tidak dibedakan setting meja makan presiden dengan meja makan yang lain. Di meja ini duduk melingkar delapan orang: Presiden Habibie, Mensesneg Akbar Tanjung, Menpen Yunus Yosfiah, pimpinan grup Kompas Jakob Oetama, saya (pimpinan grup Jawa Pos), direktur TPI Yarman, Pimred Media Indonesia Djafar Assegaf, dan ketua PWI Pusat Sofyan Lubis.

Sebagaimana juga yang lain, presiden mengambil sendiri makanannya di meja prasmanan: nasi putih, ikan goreng, cumi goreng, sayur asam, dan lalapan. Juga, es krim rasa vanili. Dari susunan makanan yang dia ambil, tampak tidak ada jenis makanan tertentu yang dia jauhi. Ini menunjukkan bahwa kesehatannya sangat prima untuk orang berumur (akhir bulan ini) 62 tahun.

Padahal, tekanan pekerjaan dan tanggung jawabnya luar biasa sehingga kehilangan waktu berolahraga. ’’Saya tidak sempat renang dalam 10 hari ini," kata presiden. ’’Padahal, biasanya, setiap hari saya renang sejauh 2.200 meter selama satu jam," tambahnya. Dia tampak sangat merindukan olahraga kegemarannya itu. ’’Nanti malam mungkin sudah bisa mulai renang lagi," katanya.

Apakah itu pertanda bahwa keadaan sudah mulai normal? Apakah pertanda semuanya sudah terkendali? Kelihatannya begitu. Dari kata-kata yang dia sampaikan kepada pers kemarin, tidak ada yang sifatnya permintaan untuk mengatasi sesuatu yang masih gawat. Bahkan, dia mengatakan sudah bisa istirahat malam. ’’Saya sudah bisa tidur empat jam sehari," katanya. Padahal, dalam sepuluh hari pertama masa jabatannya sebagai presiden, ia hanya bisa tidur dua jam sehari.

Masih banyak lagi kisah ’’manusiawi" seperti itu yang terlontar dalam pertemuan selama tiga jam lebih tersebut. Demikian juga adegan-adegan yang natural, yang jauh dari formalitas kepresidenan. Saat presiden akan mulai bicara dan mikrofonnya belum on, misalnya, terjadilah seperti juga apa yang terjadi pada manusia biasa ketika menghadapi hal yang sama. Dia mengetuk-ngetukkan jarinya ke mikrofon dan bertanya ’’bagaimana ini caranya". Tidak ada nada menyalahkan petugas, misalnya.

Habibie sebagai pribadi juga tidak hilang ketika presiden yang menguasai lima bahasa asing ini –sangat manusiawi– terlupa pada apa bahasa Inggrisnya ’’tokoh" atau ’’jaksa agung" pada saat menjawab pertanyaan perwakilan wartawan kantor berita asing dalam bahasa Inggris yang amat cepat. Ia menengok ke Akbar Tanjung. Yang ditengok segera mengucapkan kata Inggris yang dimaksud, bersamaan dengan presiden sendiri ingat apa yang dia lupakan itu.

Maka, suasana yang tercipta di kalbu pimpinan media massa pun suasana ’’merdeka".

Dan, itu tecermin dalam pertanyaan-pertanyaan yang kemudian banyak sekali dilontarkan tokoh-tokoh masyarakat informasi –presiden berkali-kali menyebutkannya dengan information society– itu. Semua pertanyaan dia catat sendiri di kertas yang tiba-tiba dia minta kepada seorang petugas istana dan dia jawab semuanya.

Mulai dari yang berat, yang pribadi, sampai ke yang sangat sepele. Yang sepele misalnya, presiden ditanya soal apakah bisa membantu kertas bagi pers dan apakah mungkin menarik kembali sebagian WNI yang ke luar negeri bersama uang mereka itu dengan cara memberi keasyikan dalam bentuk pembukaan tempat-tempat perjudian di tempat-tempat tertentu.

Pertanyaan yang serius banyak sekali: mulai dari mengapa pasar (mata uang) masih belum merespons positif biar pun sudah banyak langkah yang dilakukan kabinet baru, bagaimana memprogramkan perampingan birokrasi, bagaimana dengan IMF, bagaimana dengan demo ke konsulat AS, bagaimana hukum bisa tegak dan pengadilan bisa mandiri, bagaimana soal beberapa menteri yang disorot tajam di masyarakat, bagaimana dengan korupsi, bagaimana dengan nonpri, dan sebagainya. Semuanya dijawab dan tidak dinyatakan off the record. (Mengenai jawaban-jawaban tersebut, ikuti Jawa Pos edisi Senin besok).

Jawaban yang terbuka juga diberikan untuk pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pribadi. Seperti apakah pernah punya firasat bahwa kelak jadi presiden, apakah ada tanda-tanda ke arah itu di masa kecilnya, bagaimana dengan tuduhan bahwa dia tidak lebih dari boneka Soeharto, bagaimana dia menciptakan suasana tidak feodal seperti yang sedang ’’dinikmati" masyarakat pers kemarin, sampai ke soal apakah pers boleh menuliskan namanya dengan nama depan yang lebih akrab dan manis: Presiden Rudy Habibie atau Bung Rudy saja. Termasuk juga pertanyaan soal anak-anaknya.

Tidak ada yang menyangka pertemuan akan berjalan seperti itu. Tiba-tiba saja jam sudah menunjukkan pukul 16.00. ’’Saya masih ada rapat lagi di Bina Graha," katanya. ’’Kita adakan lagi acara seperti ini kapan Anda semua memerlukannya. Atur saja dengan menteri penerangan," katanya sambil berdiri dan menyalami tamunya.

Para petugas sudah gelisah karena acara presiden berikutnya sudah menunggu. Para pimpinan media massa, yang sejak lama mendambakan kemerdekaan pers, tidak perlu lagi menunggu. (Dahlan Iskan)

Kembali ke Index