|
Kabar Pak Harto Sesudah Lengser
| Senin, 8 Juni 1998. Pak Harto tepat berusia 77 tahun. Usai waktu zhuhur, Siti Hardiyanti Rukmana, putri sulung Pak Harto, berjalan menuju halaman belakang rumahnya. Kediaman Tutut itu, di Jalan Waringin, memang terletak persis di belakang rumah Pak Harto, Jalan Cendana. Kedua rumah tersebut, yang dibatasi pagar tembok setinggi kurang lebih 2,5 meter, dihubungkan dengan sebuah tangga besi. |
| Melihat pemandangan dari
posisi tersebut, orang mungkin tidak percaya bahwa itu adalah kompleks kediaman keluarga
mantan Presiden Soeharto, yang begitu berkuasa di Indonesia selama lebih dari 30 tahun.
Soalnya, kondisi bagian belakang rumah tersebut tampak kurang terawat. Kusen-kusen jendela
belakang rumah Tutut pun terlihat kusam. Bahkan, langit-langit rumahnya menampakkan bekas
bocoran hujan di sana sini. Beberapa eternitnya pun ada yang sudah jebol dimakan hujan.
Begitu pula keadaan rumah belakang Pak Harto. Begitu melintasi tangga tersebut, langsung terlihat beberapa kamar pembantu, berikut kamar mandi dan dapurnya. Seorang pegawai terlihat sedang menyeterika baju. Suatu panorama yang sangat kontras dengan kesan umum selama ini tentang kediaman Pak Harto. Bahkan, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, yang pernah menginap di salah satu kamar di bagian belakang rumah Pak Harto tersebut, sempat menyatakan, "Sangat tidak pantas seorang presiden tinggal di situ." Saat itu, Yusril memang sempat menginap setelah ia kecapekan menyusun draft "Pernyataan Berhenti" Pak Harto pada Rabu 20 Mei 1998. Di ujung tangga, seorang pria berbaju batik langsung berdiri sigap. "Permisi ya Pak," kata Tutut. Pria tersebut lalu duduk kembali setelah Tutut masuk ke bagian dalam. "Ini rumah konglomerat Soeharto," kata Tutut kepada FORUM sambil tertawa. Setelah berjalan melalui lorong sepanjang kurang lebih 20 meter, sampailah kita di sebuah ruangan cukup luas yang sebagian berdinding kaca. Di luar tampak halaman yang cukup asri. Dan di suatu sudut seekor burung perkutut bergerak-gerak di dalam sangkar. Kabarnya, itulah burung kesayangan Pak Harto. "Ini ruang tamu, itu kamar Bapak," kata Tutut sambil menunjuk sebuah kamar, persis di samping ruangan kaca. Tutut lalu masuk ke kamar tersebut. Beberapa saat kemudian, ia muncul lagi dan mempersilakan FORUM untuk masuk. "Tapi, sebentar saja ya, Bapak mau terima tamu...," katanya. Di dalam ruangan tersebut, Pak Harto tampak sedang duduk di kursi. Pria yang tengah berulang tahun itu tampak mengenakan baju koko (baju salat) berwarna putih, bersarung kotak-kotak biru putih, dan ditemani salah seorang cucunya yang berusia sekitar 7 tahun. Di pintu masuk, Tutut berhenti dan mempersilakan FORUM masuk duluan. Pak Harto langsung beranjak dari tempat duduknya. Ia tersenyum lebar. Setelah saling mengucap salam, Pak Harto kemudian bertanya. "Siapa ini? Ayo silakan masuk," katanya. "Pak, ini Tony, dari majalah FORUM" kata Tutut. Lalu, "Tony, ini kenalkan Bapak saya yang miliuner itu," kata Tutut sambil tertawa. Mendengar lelucon ironis itu, Pak Harto pun ikut menimpali. "O, iya, sekarang ini saya jadi miliuner," katanya. Lalu, ia tertawa terkekeh-kekeh. "Apa kabar, Pak?" kata FORUM sambil menyalami Pak Harto. "Baik baik saja...," jawabnya. Lalu, FORUM mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Pak Harto langsung menjawab, "O, iya, terima kasih, terima kasih," katanya. Dilihat dari dekat, fisik Pak Harto memang kelihatan sudah termakan usia. Bahkan, ia tampak lebih berumur dibanding penampilan terakhirnya di televisi, saat ia membacakan pidato "Pernyataan Berhenti Sebagai Presiden RI," di Istana pada 21 Mei lalu. Tapi, Pak Harto terlihat santai sekali dan berada dalam kondisi fisik yang fit. Kulit wajahnya pun putih bersih, sementara sorot matanya masih cukup tajam. Lalu, Pak Harto mempersilakan duduk. Ruang tamu sederhana berukuran kurang lebih 6X6 meter itu, menurut Tutut, adalah ruangan paling "istimewa" di kompleks Cendana. Sebab, di ruang itulah biasanya seluruh keluarga kumpul-kumpul sejak dulu. Dan, sejak mereka menempati rumah itu, ruangan tersebut tidak pernah diubah. Di dalamnya ada furniture model lama, sebuah meja bundar dari kayu jati yang dikelilingi kursi santai. Di depannya ada televisi berukuran 20 inci. Tampaknya, di ruang itulah Pak Harto biasa beristirahat. Sedang di samping ruang itu ada meja makan yang dibatasi sekat, sementara di sebelahnya ada tangga untuk naik ke ruangan atas. Di dekat tangga itu tampak foto Ibu Tien dan foto-foto keluarga. "Ini ruang keluarga, jarang orang bisa masuk ke sini," kata Tutut lagi. Sepanjang pertemuan itu, raut wajah Pak Harto terus terlihat berseri-seri. Dan, seperti biasa, setiap kalimat yang diucapkannya pun selalu diiringi uraian senyumnya yang khas. Pemberitaan dan hujatan di media massa tentang diri dan keluarganya belakangan ini seolah tidak menggoreskan luka barang setitik. Padahal, melihat pesawat televisi dan tumpukan koran di ruangan tersebut, jelas ia mengikuti semua pemberitaan itu. Setelah mengobrol tidak lebih dari 10 menit, Tutut lalu berkata, "Sudah puas kan bisa ketemu Bapak...?" Sambil mengiyakan, FORUM lalu menanyakan kesediaan Pak Harto untuk diwawancarai. Pak Harto langsung menjawab, "O, silakan saja, tapi sekarang saya mau terima tamu. Nanti kita atur saja waktunya... Dan, sampaikan salam saya kepada teman-teman di FORUM, ya," katanya mengakhiri pertemuan. Menurut Tutut, hari itu FORUM adalah pihak luar yang pertama kali memberi ucapan selamat ulang tahun kepada Pak Harto. Sebab, rencananya, selamatan memperingati hari ulang tahun Pak Harto baru akan dilaksanakan malam harinya. Itu pun tidak mengundang orang luar, hanya keluarga terdekat saja. Tapi, menurut seorang sumber, pada malam harinya, "orang luar" yang turut menghadiri acara potong tumpeng itu adalah beberapa petinggi ABRI. Sedang menurut Probosutedjo, sebenarnya Presiden Habibie juga mau datang. Tapi, Pak Harto minta supaya Habibie tidak usah datang, agar "tidak merepotkan Habibie," ujar saudara tiri Pak Harto tersebut. Melihat kenyataan tersebut, meski tidak punya "kekuasaan" lagi, Pak Harto tampaknya memang masih punya pengaruh besar di kalangan ABRI. Menurut sumber FORUM, sejak lengser hingga hari ini, beberapa petinggi ABRI masih sering menjenguknya. Pernyataan Menhankam/Pangab Jenderal TNI Wiranto, pada 21 Mei lalu, bahwa "ABRI akan melindungi keselamatan para mantan Presiden dan keluarganya," itu tampaknya betul-betul dilaksanakan. Dan, sampai sekarang, kompleks kediaman keluarga Pak Harto itu masih dikawal petugas dari satuan Pasukan Pengamanan Kepresidenan (Paspampres). Sedang pada malam hari, pengamanan lebih ketat lagi. Bahkan, di setiap ujung jalan menuju ke Cendana terlihat beberapa panser dari Kodam Jaya. Apa yang dikerjakan Pak Harto sepanjang hari saat ini, menurut Tutut, hanya bersantai. Jika tidak ada tamu, ia membaca koran atau menonton televisi bersama cucu-cucunya. Tapi, yang menarik, sejak lengser, setiap hari Pak Harto banyak menerima surat pernyataan simpati dan dukungan dari berbagai kalangan di tanah air. Dan, setiap menjelang tidur, Pak Harto menyusun surat-surat tersebut berdasarkan abjad nama pengirim. Menurut Tutut, saat membaca surat-surat tersebut, timbul niat Pak Harto untuk menulis buku. Menurut Tutut lagi, banyak juga surat dari kalangan pengacara. Umumnya mereka menawarkan batuan hukum kepada Pak Harto untuk menghadapi "Kasus Harta Kakayaan Keluarga Cendana" yang muncul belakangan ini. Anak-anak Pak Harto sendiri sebenarnya sudah menyiapkan beberapa pengacara top untuk menghadapi gugatan tersebut. Tapi, ternyata Pak Harto justru memilih seorang pengacara yang tidak terkenal: Dr. Yohanes Yacob Ph.D. Ia adalah Ketua Lembaga Perlindungan Budaya Hukum Keadilan Sosial Indonesia, yang berkantor di Tebet, Jakarta Selatan. Dalam surat kuasa yang diteken Pak Harto, Yohanes diberi tugas khusus, yakni memberi bantuan, mendampingi, membela, dan mengurus segala kepentingan hukum Pak Harto dan seluruh keluarganya. Yohanes sendiri mengaku terkejut ketika ia diberi kekuasaan seperti itu. Hingga, waktu itu, ia sempat bertanya, "Mengapa saya yang Bapak pilih?" katanya. Dan, Pak Harto hanya menjawab, "Ini tangan Tuhan." Maka, sejak itulah, Yohanes bersama dua asistennya langsung berkantor di kediaman Pak Harto. Tempatnya persis di bekas ruang pers semasa Pak Harto masih menjabat Presiden. Tony Hasyim |