|
Rubrik: Cermin
Interviu dengan Kuda
Oleh Kuntowijoyo
Seperti diketahui, di jajaran Polda Metro Jaya ada beberapa kompi Pasukan Berkuda. Tetapi selama para mahasiswa mengadakan gerakan reformasi dan meletupnya kerusuhan-kerusuhan di Jakarta tidak seekor pun tampak batang hidungnya. Ini mengherankan. Nah, majalah Anda menerjunkan seorang wartawan dan seorang fotografer menemui kuda-kuda itu di kandangnya untuk interviu. Di bawah ini adalah hasil interviu dengan seekor kuda yang jadi kendaraan Komandan.
Kabarnya Anda dari Australia. Apa yang ada di benak pada waktu mendengar bahwa Anda akan dikirim ke Indonesia?
Iekhekheh, brr.. brr. Tentu saja aku sangat senang. Indonesia terkenal di mana-mana. Subur makmur, semua yang ditanam tumbuh, semua yang dibeli murah. Aman sentosa, sejahtera. Bukit-bukit mengandung bahan tambang. Hutannya luas; untuk konservasi, wisata, dan tanaman industri. Sawahnya menguning bagai permadani. Lautnya kaya ikan, tambak-tambak udang di pantai.
Ngejek, ni.. ye. Kuda Australia kok mirip dalang wayang.
Ya, ini terusannya. Tambang-tambang disewakan ke perusahaan asing, hutan sudah dikapling-kapling. (Tiba-tiba kuda itu meninggikan suaranya) Serakah, serakah! Rakus, rakus! Rampok, rampok! Pencuri, pencuri!
Sabar, sabar, Mas. Seharusnya Anda konservatif. Sebelum sampai di sini Anda dididik di ranch Bogor, milik keluarga Cendana. Mestinya dikatakan bahwa betul bukit disewakan, tapi uang sewanya untuk pembangunan. Betul, hutan dikapling, tapi pabrik plywood, toh, menyerap tenaga kerja rakyat. Ngomong-ngomong, tiba di sini hasil kolusi, ya?
Sumpah, tho! Tidak ada kolusi-kolusian di ABRI.
Para mahasiswa menuntut supaya KKN dihapuskan. Tahu KKN?
Wah, jangan meremehkan begitu. Jelek-jelek, aku ini kualitas impor, lho.
Ya, sudah. Bagaimana pendapatmu tentang perubahan akhir-akhir ini?
Itu perubahan menuju pemerintahan rasional.
Soal lain. Sebagai kuda Australia, Anda ini makan rumput atau makan roti?
Lho, pertanyaan yang aneh! Setiap kuda pasti makan rumput.
Pertanyaan itu tidak aneh. Di sini orang makan tanker, makan emas, makan gedung, makan stiker. Di mana merumput?
Di lapangan. Di situlah aku jatuh cinta pada Indonesia.
Terus?
Di situ pula, murid-murid sebuah SMU berolahraga.
Terus?
Hi.. hik, malu aku mengatakannya.
Malu bagaimana?
Aku jatuh cinta. Ada seorang siswi yang kolokan, suka mengelus-elus aku. Katanya, sayang aku suka lari-lari telanjang, kalau tidak pasti aku sudah jadi pacarnya.
Tahu nggak? Itu rayuan gombal. Teruskan.
Katanya, namaku menunjukkan wujudku. "Kuda" itu dalam bahasa Jawa artinya mlaku wuda, berjalan telanjang. Kira-kira dia sekarang mahasiswi tahun kedua. Kalau saja saya tidak mogok, pasti harus berhadapan dengan dia.
Apa? Mogok?
Ya. Ada rencana kami akan diikut-sertakan pasukan Dalmas (Pengendalian Massa) pada 20 Mei di sekitar Monas.
Ini menarik! Apa yang terjadi kemudian?
Ada komando dari atasan supaya kami siaga. Keadaan Jakarta gawat. Ada kerusuhan, pengrusakan, pembakaran, dan penjarahan di mana-mana. Kami, para kuda, berunding.
"Di Monas kita berhadapan dengan mahasiswa."
"Bukan. Perusuh."
"Tapi, demonstran."
Tentu saja, aku ingat si dia. Kalau-kalau ketemu dia, di mana muka ini akan ditaruh? Walhasil, kami memutuskan untuk mogok. Tapi, pagi hari tanggal 20 Mei, kami digiring ke lapangan rumput, tidak ke Monas. Belakangan, kami tahu bahwa tidak ada apa-apa di Monas, demonstrasi itu urung diadakan. Kabarnya, hanya barikade-barikade kawat berduri telanjur dipasang.
Terima kasih, Anda masih punya kemanusiaan, eh.. perkudaan. Tidak ada hukuman bagi pemogok?
Tidak seorang pun tahu bahwa kami akan mogok.
Kalau sekarang diperintahkan, bagaimana?
Harus dibedakan, demonstrasi dulu dan sekarang. Sekarang tidak murni lagi. Tapi ditunggangi, memaksakan kehendak, tidak peduli penderitaan rakyat. Rakyat lapar. Mereka tidak rasional.
Ada agenda politik di balik manuver-manuver atas nama reformasi total.
Sebagai kuda, Anda terlalu pandai.
Apa bedanya kuda dengan manusia?
Bagaimana kalau Anda tiba-tiba diangkat jadi profesor ilmu politik?
Iekhekheh, brr.. brr.
Kalau sebagian orang sangat kaya dan yang lainnya sangat papa, hasilnya ialah demokrasi yang ekstrem atau oligarki yang mutlak, atau despotisme akan datang menggantikan kedua ekses itu (Aristoteles, 384-322 SM, filsuf Yunani).