Yang Kami Lihat Hanya Sekat-Sekat

Lagi, Tiga Mahasiswa Korban Penculikan Beri Kesaksian

Giliran tiga aktivis Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) memberikan kesaksian mengenai penculikan mereka. Mereka ialah Nesar Patria (mahasiswa Fakultas Filsafat UGM), Aan Rudiyanto (mhs Fakultas Sastra Undip), dan Mugiyanto (mhs Fakultas Sastra Inggris UGM).

Meski masing-masing disekap di ruangan berbeda saat diculik, ketiganya memberikan kesaksian dalam satu paket di LBH, Jalan Diponegoro, Jakarta, didampingi Ketua Kontras Munir SH. Berikut pengakuan mereka:

Kami bertiga adalah anggota Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID). Kami termasuk dalam daftar orang hilang pada 13 Maret 1998. Proses hilangnya kami ini terjadi saat kami ditangkap oleh orang yang tidak kami kenal di rumah susun Klender, pada 13 Maret itu.

Kemudian dibawa ke suatu tempat, yang kami tidak bisa kenali karena mata kami ditutup. Selama dalam proses penculikan, kami sempat pindah di beberapa institusi formal, sampai kami terdampar di Polda Metro Jaya. Kami baru saja mendapatkan penangguhan penahanan pada 5 Juni 1998. Jadi, kami baru saja menghirup udara reformasi.

Kami ditangkap di tempat yang sama secara berurutan. Yang lebih dulu adalah Nesar, lantas Aan, dan kemudian Mugiyanto.

Kami belum bisa menyampaikan secara detil karena ada situasi psikologis yang cukup menekan kami. Sehinga, kami belum siap untuk mengutarakan semuanya. Meski, kami sudah diminta oleh Puspom ABRI pada waktu ditahan di Polda Metro Jaya untuk menceritakan proses penangkapan ini.

Di situ kami sudah menceritakan semuanya kepada Puspom ABRI. Kami di Kodam sejak tanggal 15 Maret. Sampai saat ini, setelah dua hari dibebaskan, kami masih berada dalam kondisi psikologis yang tertekan.

Jika apa yang kami alami kami ungkapkan, mungkin keselamatan kami terancam. Tapi, yang jelas, kami berada di tempat yang tidak kami kenal itu selama dua hari. Lantas, dua hari di Kodim Jakarta Timur. Kemudian dipindah ke Polda Metro Jaya selama 83 hari.

Sebetulnya, selama di polda, kami sempat dimintai keterangan sebagai saksi dan juga mengungkapkan kepada Puspom ABRI pada waktu itu. Kami berjanji akan mengungkapkan tanpa menutup-nutupi dan tanpa menyembunyikan kelompok yang melakukan penculikan kepada kami.

Tetapi, pengungkapan detil itu setelah secara psikologis siap dan tampak jelas ada pengumuman dari pemerintah yang akan menjamin keselamatan kami. Selain itu, ada maksud baik dari pemerintah untuk menyelesaikan kasus penculikan dan penghilangan ini.

Pada saat berada di kodim itu ada petugas kepolisian menjemput kami, yang lantas dibawa ke Polda Metro Jaya. Pertanyaan pertama dari petugas polda adalah alasan mengapa kami ditahan. Kami menjadi bingung karena kami merasa tak melakukan kegiatan politik ketika ditangkap. Kami juga tidak melanggar UU. Kami hanya tinggal di rumah susun Klender.

Mereka bertanya lagi. Apa yang kami lakukan di sana. Kami jawab, kami berdiskusi tentang berita-berita yang ada di koran.

Kami sangat bingung. Maka ketika Polda Metro Jaya mengeluarkan surat penahanan kami, maka kami baca di situ bahwa kami melakukan tindak pidana subversif. Dan melanggar pasal keterlibatan dengan organisasi terlarang.

Kami dua hari dua malam di tempat dikenal itu, yakni 13 sampai 15 Maret. Kami tidak disiksa. Kami mendiami sel yang terisolir. Kami di polda bertemu Andi Arief. Peristiwa di tempat tak dikenal itu sangat menekan. Harus ada perhitungan-perhitungan dan keberanian untuk menceritakannya. Kami hanya disiksa sewaktu di tempat tak dikenal. Yang belum bisa kami ceritakan. Penangguhan hukuman kami juga datang tiba-tiba hingga kami merasa kaget.

Tempat tak dikenal itu ada sekat-sekatnya. Dan lainnya tak tahulah. Kami di tempat itu merasa berada di batas antara hidup dan mati. Cukup menekan. Perasaan kami bingung karena kami tak tahu siapa yang merampas kemerdekaan kami. Dan juga yang kami lihat itu adalah sekat-sekat saja. Kami pasrah total.

Pada 13 Mei ada 3 perwira melakukan pemeriksaan pada Andi Arief di polda dan mereka juga memeriksa kami. Mereka minta diungkapkan tanpa kami takut. Dan kami dijamin. Bahkan, kami akan dijamin oleh Pangab. Kami ini masih belum selesai dari pengawasan mereka.

Mata kami ditutup, dengan kain hitam. Lalu ditutup dengan topi hitam dari wol. Jalan menuju ke sana halus. Tidak ada undak-undakan. Pengambilannya pukul 19.00 di rumah susun Klender. Waktu itu saya dan Aan berada di sana, membuat minuman di dapur. Tiba-tiba pintu diketuk seseorang. Aan yang membukakan pintu. Di hadapan kami empat orang bertubuh kekar. Salah satunya memakai jaket berwarna hitam. Topi wol warna hitam. Langsung saja mereka mencengkeram kami. Kami tidak sempat menanyakan apa mau mereka dan tujuan mereka. Langsung saja kedua tangan kami diapit kiri kanan, dan dibawa turun tangga menuju ke mobil jip.

Kami tak sempat melihat wajahnya. Hanya sekilas saja, langsung saja mereka memegang kepala kami hingga kami tak sempat melihat. Proses itu hanya satu menit. Dari lantai dua sampai ke mobil dalam jarak kira-kira 80 meter. (gie)

Kembali ke Index