|
Kelompok Konglomerat Jimbaran dan Sikap Politiknya Pasca-Soeharto (3-Habis)
Liem Bilang, Soeharto Sudah Tak Suka Sofyan
Kelompok Jimbaran, sebenarnya, dibentuk untuk tujuan yang baik: membantu pengusaha kecil. Namun, kenyataannya, jangankan membantu, mengatasi soal sendiri saja mereka sulit. Apalagi ketika kerusuhan pecah. Mereka pun kocar-kacir ke segala penjuru untuk menyelamatkan diri. Kelompok ini pun cerai-berai.
TANDA-TANDA Kelompok Jimbaran pecah sebenarnya sudah terasa sejak awal tahun ini. Bahkan, satu dengan yang lain sudah tak lagi sering berkumpul. Ini terjadi, paling tidak, sejak krisis ekonomi menimpa negeri ini sekitar Juli tahun lalu.
Bagaimana bisa kumpul, wong memikirkan kelangsungan bisnis masing-masing saja mereka sudah pusing tujuh keliling. Karena itu, lantas ada yang nyeletuk, mau menyumbang pakai apa lagi? Perusahaan sudah remuk. Keselamatan pun seakan-akan dirasakan tak terjamin lagi.
Memang, Kelompok Jimbaran dibentuk agar bisa menggalang kemitraan dengan masyarakat kelas bawah. Program ini, diproyeksikan bisa mengangkat derajat hidup masyarakat bawah itu. Tapi, kerusuhan yang terjadi di mana-mana membuat para konglomerat memikirkan SDM (selamatkan diri masing-masing). Pikiran yang muncul dari para konglomerat, barangkali, lebih baik cari selamat dulu. Soal perusahaan urusan belakangan. Toh perusahaan sudah di ambang kebangkrutan.
Soal Kelompok Jimbaran menunjukkan tanda keretakan itu, kian nyata ketika Sofyan Wanandi diminta oleh Liem Sioe Liong mundur dari jabatan ketua pelaksana harian Prasetya Mulya dan wakil ketua Kelompok Jimbaran. Ini terjadi Januari lalu.
Sofyan Wanandi yang bos Grup Gemala, juga eksponen 66 itu mengatakan, Liem Sioe Liong minta dia mundur dengan alasan Pak Harto tak suka lagi. Tapi, owe sendiri masih suka kamu, kata Sofyan menirukan ucapan Liem Sioe Liong. Bisa jadi, Soeharto minta Sofyan mundur karena dia mulai suka bicara kritis.
Bahkan, salah seorang pengusaha yang ingin namanya dirahasiakan mengatakan, anggota Kelompok Jimbaran itu terbagi menjadi tiga kategori di mata mantan Presiden Soeharto.
Pertama, konglomerat yang baik hati. Misalnya, jika dimintai sumbangan Rp 1 miliar, mereka akan menyumbang jauh lebih besar dari itu. Kedua, konglomerat yang pelit. Mereka ini adalah yang menyumbang sesuai permintaan. Ketiga, Konglomerat yang pelit dan suka mengkritik. Maksudnya, menyumbangnya sesuai permintaan, tapi masih dibumbui kritik.
Ketika terjadi kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan toko-toko serta kantor-kantor milik warga keturunan Cina, ketakutan konglomerat mencapai puncaknya. Sejak itulah, para konglomerat tak banyak lagi yang masih berani tinggal di negeri ini. Mereka memilih ngungsi ke luar negeri.
Liem Sioe Liong, misalnya, seperti kata anaknya, Anthony Salim, sudah beberapa minggu sebelum kerusuhan berada di Los Angeles. Alasannya, mengobati matanya yang sakit.
Lantas, Eka Tjipta Widjaja, yang dikenal sebagai penguasa kerajaan Sinar Mas, konon juga sudah berada di Singapura sejak beberapa waktu lalu. Tapi, bagi Eka tak ada masalah meski berada di luar negeri. Sebab, semua bisnisnya sudah ditangani oleh anak-anaknya, kata seorang pengamat ekonomi yang selama ini dikenal sangat dekat dengan para konglomerat. Memang, perusahaan milik Eka, Bank Internasional Indonesia umpamanya, tetap beroperasi.
Eka, alias Oei Ek Tjiong, yang merupakan pencetus berdirinya Kelompok Jimbaran itu memang pernah mengatakan bahwa tidak akan ada pelarian dana ke luar negeri meski kerusuhan marak di mana-mana.
Lantas, ke mana Prajogo Pangestu bos Barito Pacific Timber dan Johannes Kotjo bos Van der Host yang selama ini menjadi rekan bisnis putra-putri mantan Presiden Soeharto? Orang-orang dekat mereka pun sulit bertemu. Tapi, mereka berdua memang sering berada di Singapura.
Ke mana pula Henry Pribadi bos Amcol? Sebuah sumber menyebutkan, kalau toh Henry sampai pergi ke luar negeri, itu bukan berarti kabur. Rasa nasionalis Henry cukup tinggi. Bukankah dia pernah menjadi pebasket andalan Indonesia? kata sumber itu.
Namun, ini bukan berarti semua konglomerat hengkang ke luar negeri. Buktinya, Mochtar Riady, orang pertama di Kelompok Lippo, dan putranya, James Riady, tetap berada di Indonesia. Anda lihat sendiri, saya masih di sini, kata James ketika tiga hari lalu bertemu Jawa Pos dalam suatu acara. Namun sayangnya, saat itu James tak mau banyak bicara. Bahkan, beberapa ucapan yang dia lontarkan selalu dibumbui kalimat off the record. Nampaknya, meski sudah zaman reformasi, James masih ingin tetap melanggengkan kalimat off the record itu.
Menurut sumber itu, para konglomerat yang hengkang ke luar negeri jangan dulu dianggap meninggalkan Indonesia selama-lamanya. Atau, sengaja melarikan modal ke luar negeri.
Mereka itu, seperti kata Sofyan Wanandi, sedang wait and see. Menunggu dan melihat perkembangan yang terjadi di negeri ini. Kalau keamanan sudah benar-benar bisa dijamin dan ekonomi sudah kembali dijalankan dengan baik, mereka akan pulang kandang. Konglomerat-konglomerat itu masih merasakan bahwa mereka berhasil karena berdagang di Indonesia, kata sebuah sumber.
Karena itu, jika ditanya apa yang akan mereka lakukan pasca-Soeharto? Tentu, jawabnya adalah akan kembali berniaga seperti semula. Tapi dengan catatan, jika kondisinya benar-benar pulih. Ya keamanannya, ya roda ekonominya. (yud/asa/alf)