Bahkan Para Peramal pun Meninggalkannya

Sebagian besar media Amerika menyaksikan transisi politik di Indonesia berjalan begitu cepat. Begitu cepatnya sehingga pemerintah AS harus meminta bantuan pejabat di Australia dan Singapura untuk membantu memantau Indonesia. Dan, jatuhnya Pak Harto dianggap sebagai contoh klasik people power. Berikut lanjutan laporan Irawan Nugroho dari Washington.

Hari-hari terakhir Pak Harto dan rangkaian peristiwa yang mewarnai perjalanan terakhir kepemimpinannya memang tergambar begitu dramatis di sejumlah media massa Amerika. Majalah mingguan US News & World Report menggambarkan suasana itu sebagai Leaving Dangerously, mengambil judul yang mirip dengan film Year of Living Dangerously. Sebagai salah satu majalah terkemuka AS, US News juga mengirim wartawannya, Erica Goode, untuk menyaksikan saat-saat menegangkan itu.

‘’Selama satu minggu semuanya berjalan begitu cepat. Setiap kejadian seolah menjadi sebuah kaleidoskop, dengan gambar yang lebih mengejutkan, atau bahkan mengerikan daripada sebelumnya. Pengunduran diri Soeharto tampaknya menjadi tujuan setiap warga Indonesia, mulai pedagang kaki lima hingga pengusaha di Jakarta Selatan. Namun, banyak orang yang tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kamis itu, beberapa menit setelah pukul 09.00, perubahan itu tidak lagi diragukan,’’ tulis Goode.

‘’Selama beberapa hari terakhir, Pak Harto lebih banyak menghabiskan waktunya di Istana. Pak Harto yang telah uzur ini berdiri dengan tenang di depan mikrofon di bawah lampu kristal. Di luar istana, ayam piaraan di dalam kandangnya berkotek-kotek. Seorang tentara bersandar pada mobil jipnya. Di dalam istana, Pak Harto membetulkan letak kaca matanya, tersenyum sebentar, siap menyampaikan kata-kata terakhirnya setelah memerintah selama tiga dekade di bawah Orde Baru,’’ lanjut Goode.

Pengunduran diri Pak Harto ini memang berjalan begitu cepat daripada yang diharapkan oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Itu menunjukkan sebuah gambaran luar biasa yang bisa dimasukkan dalam waktu dua minggu terakhir ini: kerusuhan, aksi mahasiswa di atas gedung DPR dengan jaket warna-warninya, mayat-mayat korban pembakaran, juga tank-tank dan kawat berduri di jalan-jalan Jakarta. ‘’Sebagai orang Jawa yang telah mendominasi politik Indonesia, Pak Harto dihadapkan pada suatu etika politik ekstrem (ethics of extreme politesse). Semua seolah menganggap bahwa segalanya berjalan normal di sebuah kota yang normal,’’ tulis Goode lagi.

Laporan Newsweek tentang Indonesia lebih dramatis dengan judul A Bloodless Coup, liputan beberapa wartawannya, seperti Ron Moreau dan Maggie Ford dari Jakarta. Liputan itu juga didukung para wartawannya di AS, seperti Melinda Liu, Rod Nordland, dan Dorinda Elliot.

Pesaing Newsweek, TIME, juga mengirim wartawan-wartawannya, seperti Terry McCarthy, John Colmey, dan David Liebhold ke Jakarta, yang dibantu oleh Jay Branegan dan Douglas Waller dari Washington.

Newsweek juga menggambarkan hari-hari terakhir Pak Harto dengan cukup dramatis. ‘’Dia mencoba menyusun kabinet baru, namun tidak satu pun yang ingin bergabung. Dia mencoba menyusun dewan independen para pakar, namun mereka justru berjanji akan mundur. Dia mencoba menerapkan undang-undang darurat, namun para jenderal tidak menyukainya. Pada akhirnya, bahkan para peramal (soothsayers) telah meninggalkan Pak Harto. Ketika dia berusaha memasukkan para tokoh mistik Jawa ke dalam stafnya belakangan ini, sebagian besar menolak. Akhirnya, penguasa negara terpadat keempat di dunia ini muncul di televisi, tangannya gemetar namun wajahnya yang khas penuh senyum masih tampak, dan mundur segera setelah pidato pengunduran dirinya ini selesai,’’ tulis Noreau dan Nordland.

Seperti yang ditulis sebagian besar media AS, peristiwa menjelang jatuhnya Pak Harto berjalan begitu cepatnya. Newsweek melihat bahwa akhir pemerintahan Soeharto berjalan mulus. Namun, transisi ini hanyalah sebuah permulaan. Dan, mungkin saja masa depan justru akan semakin memburuk. ‘’Bagi orang luar, termasuk para staf Gedung Putih, jatuhnya Soeharto merupakan contoh klasik people power yang berhasil dengan baik. Begitu pentingnya peristiwa ini, para staf Gedung Putih pun harus meminta bantuan para pejabat di Australia dan Singapura untuk memantau perkembangan yang begitu cepat itu,’’ tulis Newsweek.

Di Jakarta, lanjut majalah terkemuka AS ini, people power tetap milik sebagian besar mereka yang berbaju seragam. Menurut beberapa sumber orang dalam yang dikutip Newsweek, para jenderal berusaha melakukan manuver untuk menjatuhkan Pak Harto dengan tujuan menghindari tindak kekerasan dan ancaman kudeta yang bisa menggoyahkan pemerintah. Ketika polisi antihuru-hara menembak empat mahasiswa Trisakti, 12 Mei lalu, sebagian besar menuntut Pak Harto mundur.

Segera setelah kembali dari Kairo tiga hari kemudian, Pak Harto akhirnya harus kalah. ‘’Angkatan bersenjata memiliki dua strategi. Mereka memutuskan membiarkan mahasiswa berdemonstrasi untuk terus menekan Soeharto dalam protes secara terbuka, serta mengaktifkan proses konstitusional dan legislatif yang bisa menyingkirkan dia dari jabatannya,’’ kata Marzuki Darusman, mantan anggota DPR, kepada Newsweek.

Yang tidak banyak diketahui adalah bagaimana manuver-manuver yang dilancarkan oleh para jenderal yang moderat, misalnya Pangab Jenderal Wiranto melawan Letjen Prabowo Subianto dan Pak Harto sendiri. ‘’Diam-diam, para jenderal mendesak Fraksi ABRI di DPR agar mendesak mereka yang setia kepada Pak Harto untuk menentangnya. Pagi hari 18 Mei, mereka mengirim para mahasiswa dengan sejumlah bus untuk bertemu pimpinan DPR dan membiarkan mereka berkumpul di kawasan gedung ini,’’ tulis Newsweek lagi.

Secara mengejutkan, sore hari 18 Mei, Ketua DPR/MPR Harmoko, yang selama ini menjadi pendukung setia Pak Harto, mendesak Pak Harto mundur demi persatuan dan kesatuan bangsa. Malam itu, Wiranto didampingi Prabowo langsung menyanggah pernyataan Harmoko dengan mengatakan bahwa desakan itu tidak konstitusional.

‘’Strategi Wiranto memberi waktu kepada pimpinan militer dan mencegah Soeharto agar tidak memecat atau mengganti mereka dengan Prabowo dan menyatakan akan menggunakan undang-undang darurat,’’ tulis Newsweek.

‘’Wiranto hanya belum bisa memberi tahu Pak Harto bahwa ada upaya menjatuhkannya. Dia harus tetap menjaga jarak dari tokoh utamanya (prime mover) agar tetap tampak independen,’’ ujar Marzuki seperti dikutip Newsweek.

Lagi-lagi, Nurcholish Madjid menjadi narasumber yang penting di saat-saat menjelang jatuhnya Soeharto. Cak Nur mengaku dirinya ditelepon Kassospol Bambang Yudhoyono dan diminta membeberkan usulan reformasinya kepada Pak Harto. Di hari lainnya, Harmoko terus menekan Pak Harto dengan ancaman: mundur hari Jumat atau harus menghadapi sidang istimewa MPR.

Dalam pertemuan dengan Wiranto di Cendana, Rabu 20 Mei, Pak Harto akhirnya menyerah setelah mendapat jaminan dari ABRI bahwa keluarga dan harta bendanya akan dilindungi. Sebab itu, pada acara pidato pengunduran diri, Wiranto berdiri tegap di belakang Pak Harto yang kemudian mengatakan bahwa pergantian pemerintahan ini berjalan secara konstitusional. ‘’ABRI akan melanjutkan perannya secara aktif,’’ kata Wiranto. ***

kembali ke Index