|
Soeharto pun Minta Maaf kepada Habibie
Laporan dua media AS, Washington Post dan New York Times, memang cukup detail memaparkan saat-saat terakhir kekuasaan Soeharto. Kedua media itu sama-sama melihat betapa pentingnya peran Dr Nurcholish Madjid pada saat-saat genting tersebut. Apa peran sentral Nurcholish sebenarnya? Berikut lanjutan laporan wartawan Jawa Pos Irawan Nugroho dari Washington DC.
Sehari sebelum mundur, Rabu, 20 Mei, posisi Soeharto makin tersudut. Hampir semua tamu yang diundang ke kediamannya di Jalan Cendana memintanya mundur. Di antara para tamu itu juga termasuk dua mantan wakil presiden, Sudharmono dan Try Sutrisno. Malam itu juga, Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita datang bersama sekitar 10 menteri Kabinet Pembangunan VII. Mereka menyatakan mengundurkan diri.
Selain itu, Ketua PB NU Abdurrahman Wahid sempat berbicara dengan Mbak Tutut. Dia menanyakan siapa sebenarnya yang akhirnya bisa meyakinkan Pak Harto untuk mundur. Semuanya, kata Gus Dur, menirukan kata-kata Mbak Tutut. Memang, pengunduran diri Pak Harto adalah hasil sejumlah pertemuan malam itu. Masing-masing tamu menyampaikan pesan mereka. Intinya, tanpa dukungan dari parlemen, Pak Harto tidak akan bisa melanjutkan pemerintahannya. Mengundurkan diri adalah cara yang lebih terhormat.
Rabu itu, Pangab Jenderal Wiranto menyiapkan pasukan yang cukup kuat di Jakarta untuk menguasai keadaan. Namun, Wiranto tidak mempunyai banyak pilihan jika dia ingin menyaksikan sebuah suksesi yang mendapat dukungan dan kredibilitas internasional. Sebab itu, menurut berbagai sumber, Wiranto setuju mendukung Habibie, namun dengan syarat, Wiranto tetap sebagai Pangab dan Menhankam.
Ternyata, Wiranto memang tetap memegang jabatannya. Sehari setelah Habibie diambil sumpahnya, Wiranto mengirimkan pasukannya ke gedung DPR/MPR untuk mengusir para mahasiswa yang masih bertahan di sana. Langkah-langkah konsolidasi pemerintahan baru telah dimulai.
Senada dengan laporan Washington Post yang ditulis Richburg, harian New York Times juga menurunkan laporan hari-hari terakhir Soeharto yang ditulis Seth Mydans. Mydans melihat saat-saat terakhir Soeharto diwarnai serangkaian tindakan pengkhianatan (series of betrayals) dari orang-orang di sekelilingnya. Satu per satu, mereka yang selama ini telah diangkat dan dimanipulasi untuk mendukung kekuasaannya mengutarakan kebenaran yang ada bahwa Pak Harto memang tidak mampu lagi memimpin. Menurut mereka, presiden sudah saatnya beranjak.
Pak Harto kehilangan perasaannya terhadap denyut nadi bangsanya. Dia mencoba melakukan manuver-manuver lama, sementara politik Indonesia sudah mulai guncang. Ketua DPR/MPR, para jenderalnya, wakil presidennya, dan hampir separuh dari kabinetnya memintanya mundur.
Titik balik pemerintahan Pak Harto berawal dari serangkaian demonstrasi selama beberapa minggu yang akhirnya tidak mampu dibendung oleh pemerintah. Puncaknya terjadi pada 12 Mei, saat terjadi insiden penembakan di Universitas Trisakti. Aksi ini dilanjutkan dengan pembakaran dan penjarahan selama tiga hari.
Senin, 18 Mei, dalam sebuah langkah taktis, pemerintah membiarkan para mahasiswa memasuki gedung DPR/MPR untuk menuntut DPR agar menjatuhkan presiden. Namun, setelah mencium gelagat politik yang baik, Harmoko mengambil langkah tegas, menentang Pak Harto dan memintanya mundur.
Menurut Mydans, saat-saat mundurnya Pak Harto adalah saat yang menegangkan. DPR yang selama ini patuh kepada Soeharto dan memberikan legitimasi terhadap pemerintahan one-man rule, kali ini berbalik menentangnya. Dengan langkah yang selalu berdasarkan undang-undang, Harmoko dan pimpinan DPR lainnya menyatakan bahwa mereka tidak lagi mendukung presiden. Padahal, dua bulan sebelumnya, DPR memberikan dukungan sepenuhnya kepada Soeharto dengan memilihnya kembali sebagai presiden untuk kali yang ketujuh.
Menurut seorang diplomat Barat yang dikutip New York Times, Soeharto memang telah terjerat perangkap. Mereka telah memasang perangkap untuknya. Semua yang dilakukan Soeharto dilaksanakan berdasarkan konstitusi. Dia selalu menyebut kata konstitusi dalam setiap pidatonya. Kali ini, pilihan satu-satunya untuk menyelamatkan dirinya adalah keluar dari konstitusi, kata diplomat tadi.
Namun, pernyataan diplomat itu terlalu dini. Langkah Harmoko untuk menjatuhkan Soeharto dicegat Wiranto, yang langsung bertindak dengan mengatakan bahwa apa yang dikatakan Harmoko tidak sah karena DPR belum mengadakan pertemuan. Selasa, 19 Mei, Pak Harto berupaya dengan taktik lain, membentuk dewan reformasi dengan mengundang para tokoh intelektual dan muslim untuk mempersiapkan pemilu pada masa mendatang. Namun, lagi-lagi Soeharto kehilangan kepercayaan. Tidak satu pun orang yang mempercayainya.
Dr Nurcholish Madjid dengan terang-terangan menolak ajakan Pak Harto untuk mengetuai dewan reformasi ini. Saya dengan terus terang menolak untuk bergabung. Saya ditelepon berkali-kali oleh beberapa orang, namun dengan banyak alasan, saya katakan tidak, kata Cak Nur. Namun, ketika pesan penolakan terakhir Cak Nur disampaikan kepada Pak Harto, Cak Nur mendengar bahwa Pak Harto kemudian mengatakan, Kalau begitu, saya tidak lagi bisa dipercaya. Jika orang yang moderat seperti Cak Nur tidak lagi mempercayai saya, maka sudah saatnya bagi saya untuk mundur, kata Soeharto.
Sejak itu, lanjut Cak Nur, semuanya berlangsung dalam waktu beberapa detik saja, bukan menit. Para pimpinan DPR sudah memberontak. Para intelektual yang moderat telah berani menolak permintaannya. Dan, menurut beberapa tokoh yang bertemu dengan Pak Harto, termasuk Habibie, Pak Harto mengaku sudah kapok menjadi presiden.
Dalam pertemuan dengan Cak Nur dan tokoh muslim lainnya, Pak Harto sempat bertanya, Apakah Anda-Anda semua menginginkan wakil presiden yang tidak populer dan tidak berpengalaman ini memimpin bangsa ini?
Menurut Cak Nur, Soeharto memang mengakui bahwa dia tidak mempunyai masalah dengan mengundurkan diri. Saya tidak punya masalah untuk mundur. Namun, yang menjadi masalah adalah apakah jika saya mundur, adakah jaminan bahwa semua kerusuhan ini akan berakhir? kata Pak Harto, yang kemudian melanjutkan dengan mengatakan, Anda tahu bahwa jika saya mundur sekarang ini, Habibie akan menjadi presiden dan dalam perhitungan saya, kekacauan ini akan semakin buruk.
Mendengar kata-kata Pak Harto ini, menurut beberapa sumber, Habibie sangat tersinggung. Sebab, hubungan Pak Harto dan Habibie lebih daripada sekadar dua sahabat politik. Saya kira Habibie langsung bertemu dengan Pak Harto dan membicarakan kekecewaannya pada kata-kata Pak Harto. Bagaimanapun, Habibie adalah orang yang setia selama ini dan sikap presiden yang menjatuhkannya di depan publik sangat menyakitkan. Habibie datang Selasa malam itu dengan sikap marah dan Pak Harto akhirnya meminta maaf.
Namun, hubungan akrab itu telah retak. Pada Rabu malam, 20 Mei, saat Pak Harto terakhir menjabat, Habibielah yang membawa surat pengunduran diri para anggota kabinetnya. Ini dilakukan dengan sopan, dan seorang teman mengatakan, Seolah-olah ini adalah sebuah kudeta yang halus (soft coup).
Malam itu juga, Wiranto mengunjungi Soeharto dan meminta Soeharto mengundurkan diri dan memastikan bahwa Soeharto tidak mempunyai pilihan lagi. Menjelang tengah malam, Rabu itu, Pak Harto akhirnya tidak bisa berbuat lain. Saat-saat itulah dia harus melewati malam itu dengan satu keyakinan, mundur keesokan harinya, Kamis, 21 Mei, pukul 09.00 WIB. (bersambung)