|
Tak Percaya Lagi Mitos Bulan Maret
Banyaknya desakan agar Soeharto turun ternyata membuat dia goyah. Habibie dan Harmoko juga sudah berada di seberang. Bahkan, konon, Harmoko sudah minta bantuan Prabowo untuk mendukung aksinya meminta Soeharto mundur. Bimbang membaca keadaan, Soeharto justru mengundang Nurcholish Madjid dan meminta sarannya. Berikut lanjutan laporan Washington Post tentang hari-hari terakhir sang presiden.
Senin, 18 Mei itu, berbagai peristiwa berjalan begitu cepat. Pukul 15.00, Cak Nur mengadakan pertemuan dengan Mensesneg Saadillah Mursjid, pejabat yang tidak begitu dikenal namun memiliki akses ke Pak Harto. Cak Nur menyerahkan kopi usul reformasi yang telah diperhalus bahasanya. Isinya, antara lain, perlunya mengadakan pemilu secepatnya dan pernyataan dari Pak Harto bahwa dia akan mengundurkan diri. Saadillah membaca usul Cak Nur tersebut, membahasnya, dan kemudian mengatakan, Doakan saya agar mempunyai kekuatan untuk mengatakannya kepada presiden.
Pukul 19.00, Cak Nur sudah sampai di rumahnya kembali. Namun, saat itu pula Saadillah menelepon dan memintanya untuk kembali mengadakan pertemuan di kediaman Pak Harto di Cendana. Sebelum berangkat, Cak Nur sempat teringat bahwa Pak Harto adalah orang yang sangat percaya pada kebatinan Jawa.
Itulah yang membuat Cak Nur, dalam pertemuan itu, mengatakan kepada Pak Harto, Apakah Bapak masih tetap percaya pada mitos bulan Maret? Maksud Cak Nur, Pak Harto selalu percaya dengan berbagai peristiwa penting yang terjadi pada Maret. Karena itu, dia menyarankan agar Pak Harto mengundurkan diri pada Maret 1999. Namun, secara mengejutkan, Pak Harto mengatakan, Tidak, tidak. Bulan apa saja boleh.
Dalam pembicaraan dengan Pak Harto, Cak Nur juga menyarankan agar dilakukan peralihan kekuasaan selama enam bulan. Menanggapi permintaan itu, Soeharto hanya diam. Dia tidak menyatakan janji apa-apa (non-committal) karena harus berkonsultasi dulu dengan yang lain.
Namun, peristiwa di luar ternyata berjalan lebih cepat. Usul reformasi yang diajukan oleh Cak Nur secara bertahap tadi diterjang habis-habisan di jalan-jalan oleh aksi demonstrasi yang semakin menghebat. Semuanya menuntut perubahan secara radikal dan secepat-cepatnya. Pada saat Saadillah dan Cak Nur bertemu, beberapa ribu mahasiswa telah berkerumun di depan pintu gerbang gedung DPR, mendesak untuk masuk. Akhirnya, jumlah tentara yang terbatas itu tidak mampu membendung arus desakan mahasiswa yang semakin membengkak. Gerbang terbuka dan para mahasiswa langsung menuju ruang kerja Ketua DPR/MPR Harmoko di lantai tiga.
Harmoko akhirnya muncul, dikerumuni oleh para ketua fraksi dan membacakan surat yang tidak jadi diserahkan kepada Pak Harto dua hari lalu. Dalam menanggapi situasi sekarang ini, para pemimpin DPR berharap bahwa presiden akan mengambil tindakan yang bijaksana dan mengundurkan diri demi persatuan dan kesatuan bangsa, ujar Harmoko yang mendapat tepukan meriah dari para hadirin.
Jika Pak Harto mundur, maka secara konstitusional Wapres Habibie yang akan menggantikannya. Melihat konsekuensi seperti ini, Habibie kemudian melakukan lobi dengan Harmoko dan yang lain untuk mendukung langkah ini. Meskipun Habibie selama ini tetap bungkam, hari Senin itu, para stafnya membocorkan sebuah cerita kepada media massa bahwa mereka telah menyusun beberapa persyaratan bagi Pak Harto untuk mengundurkan diri. Bahkan, para staf Habibie tadi mengatakan bahwa pengumuman Pak Harto soal pengunduran diri akan dilakukan pada hari Selasa 19 Mei, keesokan harinya.
Namun, rencana ini bisa membawa konsekuensi penting lain. Pilihan Pak Harto untuk mengundurkan diri akan membuat Pangab Jenderal Wiranto berada pada posisi sulit. Dia mengakui adanya kekuatan yang menginginkan perubahan di negeri ini, mulai para mahasiswa, kaum intelektual, dan Dr Amien Rais, yang mengancam akan menurunkan massanya ke jalan-jalan. Namun, Wiranto sendiri mempunyai alasan untuk kurang sepakat dengan Habibie. Wapres Habibie bukan militer, atau paling tidak, tak mempunyai latar belakang militer. Dan, di mata ABRI, Habibie saat menjadi Menristek dianggap ikut campur dalam soal pengadaan perlengkapan ABRI. Dia memaksa ABRI untuk membeli produk militer dari perusahaannya.
Bagi Wiranto, rencangan kompromi (compromise plan) yang telah beredar, yaitu Pak Harto mengundurkan diri setelah pemilu, adalah lebih baik daripada Pak Harto tiba-tiba mengundurkan diri. Rencana yang disetujui Wiranto adalah agar Pak Harto mundur secara perlahan-lahan atau bertahap dan kemudian menyerahkan jabatan itu kepada Habibie.
Namun, Wiranto akhirnya harus mengikuti manuver yang dilancarkan oleh Harmoko dan Habibie. Beberapa pengamat mengatakan, Harmoko dan Habibie secara diam-diam berusaha melancarkan rencananya itu dan mengharapkan dukungan dari Pangkostrad Letjen Prabowo Subianto. Rencana ini jelas akan mengganggu posisi Wiranto di masa mendatang. Karena itu, Wiranto mengambil tindakan cepat dengan melakukan langkah tandingan.
Wiranto langsung menemui Pak Harto dan meminta dukungannya atas reformasi secara bertahap. Malam itu juga Wiranto mengadakan jumpa pers yang mengatakan bahwa seruan Harmoko kepada Pak Harto untuk mundur tidak mempunyai landasan hukum. Menurut Wiranto, cara terbaik menuju reformasi adalah membiarkan Pak Harto melakukan perubahan susunan kabinet. Saat Wiranto mengadakan jumpa pers tersebut, beberapa sumber menyebutkan pasukan Wiranto telah bergerak menuju pusat kota Jakarta.
Selasa 19 Mei, Pak Harto muncul di televisi, bersama-sama dengan Habibie, yang diharapkan akan mengumumkan pengunduran dirinya. Namun, ternyata Pak Harto mengumumkan langkah reformasi secara bertahap, termasuk pemilu yang akan berlangsung dalam beberapa bulan mendatang. Pak Harto mengatakan, seandainya dirinya mengundurkan diri tiba-tiba, Habibie akan mengambil alih. Apakah dia akan menyelesaikan masalah?
Akan semakin banyak protes yang meminta Habibie untuk mundur dan ini akan terus terjadi, kata Pak Harto.
Para staf dan penasihat Habibie merasa jengkel dan dikhianati. Menurut sumber-sumber yang layak dipercaya, Habibie kemudian menemui Pak Harto, memintanya untuk memberikan kesempatan kepadanya untuk memerintah. Habibie menegaskan kepada Pak Harto bahwa hanya dialah yang masih setia. Yang lain, seperti Harmoko, telah meninggalkan Pak Harto.
Berbagai pihak terus melancarkan aksi yang banyak menguntungkan Habibie.
Rencana Pak Harto untuk melakukan perombakan kabinet dan langkah kompromi lain dianggap langkah yang hanya akan mempertahankan posisinya. Mahasiswa menolak langkah itu dan Amien Rais berencana untuk melancarkan demo hingga Pak Harto mundur.
Di DPR, Harmoko menggalang kekuatan untuk menjatuhkan pemerintahan Pak Harto. Setelah mendapat dukungan yang cukup besar, Harmoko dengan berani menyatakan bahwa dia akan mengambil langkah resmi untuk mengakhiri pemerintahan Pak Harto. Bahkan, Harmoko mengeluarkan ultimatum kepada Pak Harto: mundur hari Jumat atau dipecat secara tidak hormat (impeachment).
Di tempat lain, Pak Harto juga menghadapi tantangan yang berat. Sebelum membacakan pidato pengunduran diri, Pak Harto mengumpulkan para tokoh muslim, meminta mereka untuk mendukung Dewan Reformasi yang dibentuknya untuk melaksanakan perubahan politik. Namun, semua menolak tawaran itu. (irawan nugroho/bersambung)