Habibie Tidak Pernah Bertemu Soeharto Sejak 21 Mei

     JAKARTA (Waspada): Presiden BJ Habibie mengatakan dia tidak pernah
     bertemu Soeharto setelah presiden kedua mengundurkan diri 21 Mei lalu.

     Dia menyatakan hal itu  sehubungan dengan adanya kritikan yang
     ditujukan pada dirinya bahwa dia adalah boneka pendahulunya itu.

     Dalam satu wawancara yang disiarkan dalam suratkabar New York Times,
     Habibie mengatakan Soeharto 'seperti saudara tua, dan kadang-kadang
     sebagai seorang bapak, tetapi yang pasti adalah seorang sahabat yang
     baik.'

     Namun Soeharto menolak untuk berbicara dengan Habibie pada pagi hari
     saat mengundurkan diri. Setelah itu keduanya tidak saling berhubungan,
     kata suratkabar tersebut.

     Habibie mengatakan bahwa terakhir kali dia berbicara dengan Soeharto
     adalah malam sebelum pengunduran dirinya, pada saat mantan presiden itu
     masih merencanakan untuk tetap menduduki jabatannya.

     "Namun pada pkl. 11:00 saya diberitahu sekretaris presiden bahwa dia
     [Soeharto] telah mengubah pikirannya," kata Habibie, yang menjabat
     wakil presiden sampai Soeharto berhenti dari jabatannya.

     "Dia akan mengundurkan diri besok pagi dan menyerahkan kepada wakil
     presiden untuk mengambil alih kepemimpinan nasional. Pagi harinya saya
     memohon untuk menemuinya di rumah, tetapi mereka mengatakan: 'Jangan,
     dia tidak akan menerima anda."

     Habibie mengatakan Soeharto tidak mengatakan apa pun kepadanya pada
     upacara menandai pengambilalihan jabatan presiden.

     "Dia melihat pada saya, dia menjabat tangan saya --tetapi tidak berkata
     apa pun, hanya senyum. Cuma itu."

     Kekuatan Soeharto terlihat sebagai kekuatan sentral bagi kesuksesan
     Habibie dalam peta ranking tokoh utama meski dia tidak memiliki dasar
     kekuatan politiknya sendiri.

     Namun Habibie membantah bahwa dia merupakan hasil rekayasa Soeharto.

     "Orang mengatakan 'Habibie tidak lebih daripada boneka dari mantan
     tuannya.' Jika itu masalahnya, mengapa pada hari pertama saya
     menyinggung tentang hak azasi manusia? Dalam 25 jam 30 menit setelah
     saya mengambil alih [kepemimpinan], saya mengumumkan kabinet. Dua jam
     kemudian saya merundingkan masalah HAM," kata suratkabar itu mengutip
     keterangan Habibie.

     Namun dia mengatakan masa dua dasawarsa dia menduduki jabatan dalam
     kabinet Soeharto telah menjadikannya siap untuk memegang jabatan
     presiden. "Saya belajar di tangan sang pemimpin."

     Habibie, 61, mengatakan Soeharto, 76, telah kehilangan sentuhan dengan
     masyarakat ketika dia semakin tua.

     "Itu adalah suatu proses alami, dia makin tua. Saya tidak ingin anda
     menghujatnya karena dia telah banyak berbuat untuk negeri ini. Namun
     dia tidak lagi orang muda. Mahasiswa adalah anak-anak saya dan
     mahasiswa adalah cucu-cucunya."

     Suratkabar itu juga mengutip keterangan Habibie yang mengatakan seorang
     menantu mantan presiden Soeharto, telah menyerbu rumahnya dengan
     ditemani sejumlah anggota pasukan setelah dia dipindahkan dari pimpinan
     satu komando.

     New York Times mengatakan Habibie memberitahu sang menantu agar
     mematuhi perintah komandannya. Habibie kemudian pindah ke satu rumah
     yang aman bersama keluarganya malam itu juga sebagai langkah
     kewaspadaan.(m18)

Kembali ke Index