Tue, 26 May 1998 03:00:05 GMT

Forum Khusus

Detik-Detik Menjelang Pak Harto Berhenti


Keputusan Presiden Soeharto untuk berhenti, bagaimanapun, terasa mengejutkan. Tak sedikit yang mencoba menerka-nerka apa pertimbangan utama Pak Harto untuk memilih sikap itu. Berikut ini adalah rekaman peristiwa yang terjadi menjelang ia memutuskan mundur dari jabatannya selama 32 tahun itu.
Selasa, 12 Mei 1998. Empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas ditembak aparat keamanan saat berlangsungnya unjuk rasa proreformasi. Sampai tulisan ini diturunkan, ABRI belum mengumumkan siapa pelaku penembakan.

Rabu, 13 Mei. Masyarakat berduyun-duyun melayat ke pemakaman keempat jenazah mahasiswa Trisakti itu. Hari perkabungan itu belakangan berubah menjadi prahara. Ribuan massa yang berkumpul di kawasan sekitar Kampus Trisakti mengamuk. Mereka meneriakkan yel-yel anti ABRI dan anti Soeharto. "Pembunuh," seru massa.

Kerusuhan menjalar di sekitar kawasan Grogol sampai menjelang subuh. Warga keturunan Cina dijarah para perusuh.

Kamis, 14 Mei. Kerusuhan meluas ke seluruh wilayah Ibu Kota.

Anggota ABRI sibuk berjaga. Tapi, situasi sulit dikendalikan.

Di beberapa lokasi, penjarah sudah tidak pandang bulu lagi.

Mereka mulai merampok pula kaum pribumi. Warga membentuk pengamanan sendiri. Isu tersebar: keluarga Pak Harto melarikan diri ke luar negeri.

Jumat, 15 Mei. Presiden tiba dari lawatannya ke Kairo, Mesir.

Kedatangan pada subuh itu membuat aparat ABRI bersemangat.

Kendaraan tempur ditempatkan di beberapa kawasan strategis.

Pasukan ABRI menyebar ke seluruh pelosok Jakarta.

Sabtu, 16 Mei. Pukul 09.00 WIB, Soeharto menerima rektor dan dosen Universitas Indonesia di kediamannya, Jalan Cendana Nomor 8, Jakarta Pusat. Pak Harto mengatakan, "Menjadi presiden bukan keinginan saya, melainkan wujud tanggung jawab sebagai mandataris MPR. Karena itu, bila dikehendaki, saya siap lengser keprabon sejauh dilakukan secara konstitusional dan damai."

Pukul 11.00 WIB, Pak Harto menerima pimpinan MPR/DPR. Ketua MPR/DPR Harmoko menyampaikan aspirasi masyarakat yang masuk ke DPR berserta beberapa dokumen. Intinya, menuntut reformasi di segala bidang, termasuk me-reshuffle kabinet, Sidang Istimewa MPR, dan meminta agar Pak Harto mengundurkan diri sebagai presiden.

Minggu, 17 Mei. Jakarta mulai hidup kembali. Masyarakat antre membeli makanan di supermarket. Tentara berseragam loreng terus berjaga-jaga.

Senin, 18 Mei. Pukul 09.00 WIB, ratusan mahasiswa mendatangi Gedung MPR/DPR, Senayan. Mereka menemui para anggota fraksi di DPR.

Pukul 14.00 WIB, pimpinan MPR/DPR mengadakan rapat pleno.

Selanjutnya mereka memanggil satu per satu pimpinan fraksi DPR untuk melaporkan apsirasi mahasiswa dan kelompok-kelompok masyarakat yang mengadu kepada mereka. Menurut sumber FORUM, semua fraksi waktu itu melaporkan bahwa aspirasi yang masuk semuanya menuntut Pak Harto mundur.

Pukul 15.30 WIB, pimpinan MPR/DPR memberikan pernyataan pers: "Pimpinan Dewan baik ketua maupun wakil-wakil Ketua mengharapkan demi persatuan dan kesatuan bangsa agar Presiden secara arif dan bijaksana sebaiknya mengundurkan diri." Kemudian mereka melayangkan surat resmi kepada Pak Harto untuk melakukan konsultasi.

Pukul 18.00 WIB, pertemuan Pak Harto dengan beberapa menteri, termasuk Menteri Pertahanan Keamanan/Panglima ABRI Jenderal Wiranto.

Pukul 19.00 WIB, di Mabes ABRI, Jalan Merdeka Barat, Wiranto memimpin rapat mendadak dengan semua Kepala Staf Angkatan/Polri, serta para Panglima Komando Utama yang berkedudukan di Jakarta. Wajah para petinggi ABRI saat itu tampak tegang.

Pukul 20.10 WIB, Panglima ABRI memberikan konferensi pers, "Pernyataan Pimpinan DPR agar Presiden Soeharto mengundurkan diri merupakan sikap dan pendapat individual meskipun pernyataan itu disampaikan secara kolektif." Saat itu, Wiranto tidak memberikan kesempatan wartawan bertanya. Ia langsung beranjak lewat pintu belakang, seluruh petinggi ABRI mengikutinya. Di halaman parkir, Wiranto memberikan briefing singkat: "Selamat bertugas." Mereka langsung bubar.

Di gedung MPR/DPR, sekitar 100 mahasiswa memutuskan untuk menginap. Wakil Ketua MPR/DPR Syarwan Hamid memberikan jaminan keamanan. "Silakan saja. Kalau perlu bawa gitar ke sini," katanya. Sejak malam itu, rombongan mahasiswa terus-menerus mengalir ke DPR. Mereka memutuskan tidak akan pulang sebelum Pak Harto mundur.

Pukul 21.00 WIB, di kantor DPP Golkar berlangsung rapat pleno. Tapi, Siti Hardijanti Rukmana dan Bambang Trihatmodjo, dua putra Pak Harto yang menjadi anggota DPP, tidak hadir.

Menurut sumber FORUM, dalam rapat itu Harmoko dan Abdul Gafur diadili dan dikecam habis-habisan. Antara lain, "Dulu Anda menjilat-jilat, sekarang Anda mencampakkan Pak Harto begitu saja." Tapi, Harmoko dan Gafur membela diri: "Itu adalah aspirasi rakyat, Golkar harus menyampaikan aspirasi rakyat." Menurut sumber tadi, Harmoko dan Gafur sempat menangis tersedu- sedu.

Selasa, 19 Mei. Pukul 09.00 WIB, di Istana Negara, Pak Harto berkonsultasi dengan sembilan tokoh ulama dan cendekiawan.

Dalam pertemuan selama dua setengah jam itu, para tokoh menyampaikan bahwa arti tuntutan reformasi itu sama dengan minta Pak Harto mundur. Usai pertemuan, Soeharto menyampaikan keterangan pers. "Bagi saya, sebenarnya mundur atau tidaknya itu tidak menjadi masalah. Yang perlu kita perhatikan apakah dengan mundurnya saya keadaan bisa segera diatasi."

Dari hasil pertemuan itu, Pak Harto memutuskan untuk membentuk Komite Reformasi, me-reshuffle kabinet; dan melakukan pemilu secepat-cepatnya berdasarkan UU Pemilu yang baru. Ia juga menegaskan tidak bersedia lagi dicalonkan sebagai presiden.

Pada saat yang bersamaan, di gedung MPR/DPR, pimpinan MPR/DPR mengadakan rapat dengan pimpinan Fraksi DPR, selama 5 jam.

Hasilnya, masyarakat menghendaki agar Pak Harto mundur sebagai presiden.

Pukul 19.00 WIB, pimpinan MPR/DPR menyurati Pak Harto perihal hasil pertemuan itu. Mereka meminta waktu untuk berkonsultasi.

Sementara, malam hari itu juga, Pak Harto bertemu dengan Mensesneg Saadillah Mursyid dan Yusril Ihza Mahendra, staf khusus Sekretaris Kabinet. Mereka menyusun daftar nama calon anggota Komite Reformasi. Rencananya, keanggotaan Komite Reformasi tersebut akan diumumkan bersamaan dengan pengumuman kabinet baru hasil reshuffle, pada Kamis, 21 Mei.

Dalam Komite Reformasi yang sedianya beranggotakan 45 orang, Pak Harto mengusulkan sekitar 20 nama. Saadillah dan Yusril mengusulkan sekitar 25 orang. Mereka tak hanya terdiri dari pejabat negara, para rektor, agamawan dan cendekiawan, tapi juga kalangan kritis, seperti Gus Dur, Ali Sadikin, Megawati, Amien Rais, Arbi Sanit, dan Adnan Buyung Nasution. Pak Harto menyetujui semuanya. Bahkan, ia tersenyum-senyum saat nama tokoh-tokoh vokal itu disebutkan. Menurut Yusril, ketika terucap nama Arbi Sanit, sambil terkekeh-kekeh Pak Harto berkomentar, "Nah, ini kan orang yang dari dulu mengkritik saya."

Pak Harto malam itu tampak ceria. Ia sempat bertanya, "Apa sih yang dikehendaki mahasiswa-mahasiswa itu?" Yusril menjawab bahwa mereka menghendaki Sidang Istimewa dan Pak Harto mundur.

Dengan kalem, Soeharto berujar, "Mereka tidak mengerti. Kalau Sidang Istimewa bisa berlarut-larut sehingga keadaan tambah kacau. Kalau sudah begitu, ABRI akan mengambil kendali, toh?"

Rabu, 20 Mei. Pukul 15.00 WIB, di Gedung MPR/DPR, seluruh perwakilan senat mahasiswa menemui pimpinan DPR meminta kepastian kapan Presiden mundur. Harmoko menjawab, "kalau sampai Jumat tidak ada tanggapan dari Presiden, maka pimpinan Majelis akan mengundang fraksi-fraksi untuk membahas kemungkinan Sidang Istimewa MPR." Tapi, mahasiswa tidak puas dan terus mendesak. Akhirnya disepakati, jika sampai Jumat Pak Harto tak mundur, MPR akan melakukan rapat dengan fraksi pada hari Senin mendatang. Para mahasiswa setuju.

Pukul 19.00 WIB, pimpinan DPR menyurati Pak Harto perihal kesepakatan antara Pimpinan DPR dan mahasiswa tadi.

Pukul 18.00 WIB, di Jalan Cendana No. 8 berlangsung rapat yang dipimpin Saadillah Mursyid. Pesertanya adalah Wakil Sekretaris Kabinet Bambang Kesowo, Staf Khusus Sekab Yusril Izha Mahendra, Sekretaris Militer Presiden, Mayor Jenderal Jasril Yakob, staf khusus Mensesneg Sunarto Sudarno, dan seorang dokter kepresidenan. Materi yang dibahas adalah persiapan pembentukan Komite Reformasi yang akan dilaporkan kepada presiden malam hari itu juga. Sehari sebelumnya, Saadillah dan Yusril sudah mengumumkan bahwa Komite Reformasi akan diumumkan pada Kamis, 21 Mei.

Rapat yang berlangsung di salah satu ruangan rumah Pak Harto itu berlangsung tegang. Sebab, dari 45 orang yang dihubungi, hanya 3 orang bersedia menjadi anggota. Yusril mengusulkan pengumuman anggota Komite Reformasi ditunda. Jadi, diumumkan setelah Kabinet Reformasi terbentuk. Lalu, ia bertanya kepada Saadillah, apakah calon-calon menteri yang disusun Pak Harto sudah dikontak semua? Saadillah bilang, "Belum semua." Yusril mengatakan, "Wah, keadaan bisa jadi gawat."

Menurut Yusril, kalau pengumuman Komite Reformasi ditunda karena tak ada yang bersedia, masih okelah. Tapi, kalau Kabinet Reformasi diumumkan tapi ternyata sebagian besar orang yang ditunjuk tidak bersedia, Pak Harto bisa kehilangan muka.

Saadillah langsung bertanya: "Kenapa you bilang begitu?" Yusril menyodorkan surat tanpa kop berisi pernyataan bersama yang ditandatangani 14 menteri Kabinet Pembangunan VII. Intinya, mereka menolak ikut dalam kabinet baru hasil reshuffle.

Saadillah panik. Ia belum tahu perihal pernyataan itu.

Menurut Yusril, ia mendapatkan salinan surat itu dari Akbar Tandjung, menjelang magrib. Waktu itu, Akbar bilang, "Saya titip ini buat Pak Harto. Barangkali beliau belum sempat membaca. Tapi, saya juga sudah masukkan lewat ajudan."

Saat membaca surat itu, Saadillah tampak gemetar. "Sebagian orang ini masih akan menjadi menteri lagi," katanya. Lalu, ia berniat masuk ke kamar Pak Harto untuk melaporkan surat itu. Ia menduga Pak Harto belum membacanya karena, bisa jadi, masih tertahan dalam tumpukan surat yang masuk melalui ajudan. Tapi, tiba-tiba Wapres B.J. Habibie datang dan langsung menemui Pak Harto.

Sementara Soeharto dan Habibie bertemu, Saadillah dan kawan- kawan mendiskusikan surat penyataan ke-14 menteri itu. Mereka mulai cemas dan mendiskusikan alternatif penyelamatan muka Pak Harto.

Pukul 21.30 WIB, Habibie keluar dari kamar Pak Harto dan langsung pulang. Saadillah masuk dan melaporkan bahwa tim reformasi belum bisa terbentuk. Lalu, ia menyodorkan surat pernyataan itu. Pak Harto langsung menjawab, "Kalau begitu, saya berhenti."

Saat itu juga, ia memerintahkan Saadillah untuk mempersiapkan agar pengunduran diri sebagai presiden sesuai dengan konstitusi. Ia juga memerintahkan agar acaranya dilangsungkan di Istana Merdeka, besok.

Saadillah lalu menemui Yusril dan empat orang lainnya tadi.

Kemudian, mereka mempersiapkan pelaksanaan Pasal 8 UUD 1945.

Selanjutnya, mereka menjelaskan soal itu kepada Pak Harto. Ia setuju saja dan memerintahkan Saadillah dkk. menyusun pidato presiden yang akan dibacakan esok hari di Istana Merdeka.

Yusril yang selama ini bertugas sebagai speech writer (penulis pidato) Pak Harto mulai menyusun draft-nya disaksikan Saadillah dan yang lain.

Pukul 23.00 WIB, Ajudan Presiden menelepon para undangan untuk acara itu. Termasuk Harmoko yang diminta meneruskannya kepada wakil-wakil ketua MPR/DPR. Konon, saat itu Harmoko hanya diberi tahu bahwa besok akan diterima Pak Harto untuk berkonsultasi. Ketua MA Sarwata juga hanya tahu diundang, tanpa tahu apa acaranya. Belakangan, setelah mengecek ke sana kemari, mereka baru tahu bahwa Pak Harto akan mengundurkan diri.

Pukul 24.00 WIB, Yusril menelepon Sarwata, meminta jaminan legalitas dari MA bahwa pelaksanaan pengunduran diri itu tidak melanggar konstitusi. Ia menyebutkan pasal-pasal dalam Ketetapan MPR yang mendukung Pasal 8 UUD 1945. Sarwata menyatakan, "Tidak ada masalah..."

Kamis, 21 Mei. Pukul 01.30 WIB, rencana Pak Harto mau mundur tersebar. FORUM menelepon Tutut untuk mengkonfirmasikannya.

Dijawab, "Iya, itu keputusan Bapak. Lebih baik mundur kan dari pada terus-menerus dimaki-maki." Menurut Tutut, dari dulu bapaknya sudah tidak mau jadi presiden. Tapi karena didesak dan dicalonkan terus oleh seluruh fraksi MPR, Pak Harto bersedia lagi dipilih dalam SU MPR 1998. "Tapi sekarang Bapak malah dimaki-maki. Ya, lebih baik Bapak mundur toh."

Ketika ditanyakan rencana Soeharto selanjutnya, Tutut menjawab, "Ya, sudah, Bapak jadi warga negara biasa." Sedangkan dia sendiri? "Saya belum tahu mau ngapain. Lebih baik diam aja, deh. Biar suasananya tenang dulu," katanya. Bagaimana dengan karir politiknya di Golkar? "Saya enggak mau omong politik dulu. Saya mau tenang dulu," katanya.

Pukul 04.00 WIB, teks pidato presiden selesai disusun.

Judulnya, "Pernyataan Berhenti Sebagai Presiden RI". Waktu membacanya, menurut Yusril, wajah Pak Harto tampak tenang.

Pukul 07.00 WIB, seluruh pimpinan MPR/DPR berkumpul di kediaman Harmoko untuk sebuah rapat singkat. Lalu, mereka bersama-sama menuju Istana Merdeka.

Pukul 08.30 WIB, para pimpinan DPR tiba di Istana Merdeka lalu dipersilakan menunggu. Presiden Soeharto saat itu sedang bertemu dengan Ketua MA di Ruang Jepara. Tak lama, giliran Pimpinan DPR dipanggil masuk.

Pukul 08.45 WIB, berlangsung konsultasi antara Pimpinan MPR/DPR dan Presiden. Saat itu, Harmoko menyampaikan surat dan beberapa dokumen. Tapi, Pak Harto mengatakan sudah membacanya dan berujar, "Karena semua fraksi di DPR menghendaki saya mundur, maka saya akan berhenti." Harmoko menyela, "Lo, kan MPR yang mengangkat Bapak." Soeharto menyela, "Ah, enggak usah. DPR itu dengan 500 orang kan sudah cukup." Lalu, ia berkata, "Saya akan memenuhi permintaan DPR dan pimpinan fraksi-fraksi DPR.

Saya akan melaksanakan Pasal 8 UUD 1945."

Pukul 09.00 WIB, Pak Harto beranjak dari ruangan Jepara.

Sambil berdiri, ia meminta agar kelima pimpinan DPR itu tetap berada di ruangan. "Saudara-saudara di sini saja. Biar saya yang mengumumkan kepada masyarakat," katanya.

Pukul 09.05 WIB, Pak Harto membacakan pidato "Pernyataan Berhenti Sebagai Presiden Republik Indonesia". Setelah itu, ia kembali ke Ruang Jepara dan berkata, "Saya sudah bukan Presiden lagi. Tadi Wapres sudah diangkat menjadi Presiden." Sebelum meninggalkan ruangan dan pulang bersama Tutut, ia berpesan, "Saya berharap DPR melaksanakan fungsi sebaik-baiknya."

Jumat, 22 Mei. Kawasan sekitar Jalan Cendana masih dikawal aparat keamanan. Tentara berseragam loreng tampak berjaga-jaga di sudut-sudut jalan masuk ke kompleks kediaman mantan Presiden Kedua RI itu. Malam harinya, beberapa tentara di sana tampak berjalan kaki berpatroli. Beberapa tank terlihat parkir di ujung-ujung jalur menuju Jalan Cendana. Konon, menurut sumber FORUM, ketika "konflik" antara Wiranto dan Prabowo mencuat hari itu, beberapa orang mendatangi Pak Harto agar menengahinya.

Tapi, Jenderal Besar Purnawirawan itu lepas tangan. "Kalian semua yang menghedaki ini, toh," ujarnya seraya meninggalkan para tetamu itu. Soeharto tampaknya betul-betul sudah kapok menjadi presiden.

Tony Hasyim, Zuhri Mahrus, dan Victoria Sidjabat


Kembali Ke Index