|
Berlalu Bersama Turunnya The Old Man
Bisnis keluarga Soeharto yang mulai dirintis pada dekade 1970-an, kini menghadapi masa-masa sulit. Partner asing mereka kini sedang meninjau ulang semua proyek mereka. Dengan mundurnya Soeharto, bisnis keluarga ini diramalkan juga akan berlalu secara alami. Berikut lanjutan laporan Irawan Nugroho dari Washington DC.
Bisnis keluarga Pak Harto sangat legendaris. Namun, tak bisa dipungkiri, selalu ada kekhawatiran dari pengusaha bahwa ia tak akan berlangsung langgeng. Demikian, tulis majalah The Economist.
Alasan-alasan tersebut, lanjut The Economist, adalah bahwa praktik-praktik bisnis keluarga Soeharto ini akan membawa dampak negatif bagi pengambilan kebijaksanaan ekonomi dan citra yang buruk bagi Indonesia di luar negeri. Dan, suksesi yang sudah mulai tampak telah menimbulkan tanda tanya mengenai nasib seluruh bisnis ini pada saat the old man telah pergi, ungkap The Economist.
Pada awal 1980-an, bisnis keluarga Soeharto adalah tipikal bisnis yang beroperasi di negara-negara berkembang lainnya. Menurut majalah ini, beberapa sektor yang menjadi daya tarik para investor pada awalnya adalah petrokimia, tenaga listrik, perikanan, jalan tol, telekomunikasi, pemrosesan makanan, elektronik, perkebunan, perkapalan, dan lainnya. Pada tahun-tahun itu, kontraktor asing yang ikut dalam tender dan menang harus merangkul mitra lokal, yang sering mempunyai hubungan dengan pengusaha besar lokal, terutama etnis Cina, seperti Liem Sioe Liong atau Bob Hasan.
Mereka akan meminta jasa dari keluarga presiden yang mempunyai akses pada Pak Harto. Jika kontrak telah diberikan, mereka harus membayar jasa yang telah diberikan tadi, tulis The Economist. Hampir semua media Barat menggambarkan praktik bisnis keluarga Soeharto sebagai suatu praktik pemberian jasa atau agen yang bertindak sebagai perantara, bukan bisnis secara murni. Mereka hanyalah bertindak sebagai perantara, bukan sebagai pemain atau prinsipal.
Namun, menurut The Economist, bisnis keluarga Soeharto ini mulai berubah atau bergerak dari sebagai agen menjadi prinsipal, dari perantara menjadi investor. Mereka mulai menguasai sejumlah monopoli yang menguntungkan dalam sektor distribusi beberapa komoditi dan mulai melakukan diversifikasi.
Pada 1982, Bambang Trihatmodjo mendirikan Bimantara Group, yang kini menjadi suatu konglomerat dengan sejumlah bidang usaha. Pada 1983, Mbak Tutut mengikuti jejak adiknya dengan mendirikan Citra Lamtoro Gung Group dengan bisnis jalan tol. Pada 1984, adik mereka Hutomo Mandala Putra mendirikan Humpuss Group. Setelah itu, satu per satu anggota keluarga Soeharto lainnya mulai tergerak mengikuti jejak kakak dan saudara-saudara mereka.
Bagaimana pandangan Soeharto terhadap bisnis anak-anaknya? Tidak ada tanda-tanda bahwa Soeharto sendiri menganggap semua ini sebagai sesuatu yang korup. Tetapi, dia memandang anak-anaknya sebagai pengusaha yang berbakat, yang akan membantu menciptakan sebuah kelas pengusaha pribumi yang baru, tulis The Economist.
Argumen lainnya yang bisa membela Soeharto adalah bahwa investasi yang dilakukan keluarga ini mengalir ke bisnis di dalam negeri, bukan ke proyek-proyek terselubung di luar negeri. Namun, argumen ini hanyalah untuk menghibur, bukanlah pembenaran atas apa yang mereka lakukan.
Konsentrasi dan penimbunan kekayaan yang begitu besar telah menjadi pemicu munculnya kebencian terhadap praktik bisnis yang tidak benar ini. Penumpukan kekayaan keluarga ini telah menjadi sebuah agenda politik yang menjadi bahan perdebatan yang sengit, termasuk pembahasan soal undang-undang persaingan domestik.
Semua orang tidak bisa berharap banyak dari peraturan semacam itu jika Soeharto belum turun. Selama itu pula, praktik monopoli bisnis keluarga ini tidak akan bisa dihentikan. Namun, bahaya yang paling serius menyangkut bisnis keluarga ini adalah bahwa kepentingan bisnis ini akan menghalang-halangi keputusan Pak Harto mengenai bagaimana dan kapan dia akan mundur, tulis The Economist, Juli 1997.
Kini, the old man telah mundur. Apa yang diperkirakan para analis bahwa bisnis keluarga ini akan terpengaruh telah mulai terlihat. Steven M. Taran, pengamat dari Singapura, memperkirakan bahwa keluarga Soeharto akan berusaha mencari jalan untuk menyembunyikan kekayaan mereka dan menghindari tuntutan di pengadilan. Saya kira kita akan melihat perombakan di dalam kepentingan bisnis anak-anaknya. Mereka mungkin akan menjualnya kepada teman-teman dan mereka sendiri akan bersikap low profile, kata Taran, seperti dikutip New York Times, 25 Mei lalu.
Para investor asing mungkin juga akan meninggalkan anak-anak Soeharto ini dan mencari mitra baru di era yang baru ini. Para investor asing mungkin tidak lagi merasa perlu bergabung dengan anak-anak Soeharto dalam melanjutkan bisnis mereka, dan mungkin mereka akan menarik diri dari hubungan yang ada sekarang ini, tulis Far Eastern Economic Review (FEER) 1 Juni lalu. Menurut Bruce Gale dari Political and Economic Risk Consultacy di Singapura, perusahaan multinasional akan berusaha memutuskan hubungan dengan anak-anak Soeharto.
Namun, seperti yang dikatakan Probosutedjo, semua (enam) anak Pak Harto berencana melanjutkan bisnis mereka tanpa adanya fasilitas dan kemudahan lainnya. Mereka akan menjadi pengusaha biasa, tanpa hak istimewa. Semuanya sadar akan hal itu, kata Probo. Dan, memang, keluarga ini tidak akan lagi mendapatkan kontrak-kontrak yang menggiurkan dari pemerintah. Semuanya mungkin akan mati perlahan-lahan satu per satu secara alami seperti yang dikatakan Taran dari Singapura tadi.
Meskipun pemerintah berencana menyelidiki dan memburu harta Pak Harto dan anak-anaknya, saya kira harta kekayaan itu akan lenyap secara alami, kata Taran.
Menurut FEER, seperti halnya perusahaan-perusahaan lainnya di Indonesia, bisnis keluarga Soeharto juga akan ambruk akibat tekanan utang yang begitu berat. Tanpa ada pengayoman dari pohon beringin yang melindungi mereka, anak-anaknya sekarang ini mulai terekspos secara unik. Peluang bisnis di masa mendatang bagi anak-anak ini segera hilang, tulis FEER.
Dengan jatuhnya Soeharto, bisnis asing di Indonesia mulai merasakan dampaknya. Sejumlah perusahaan Amerika, Eropa, dan Asia yang memiliki koneksi dengan bisnis keluarga mulai berjaga-jaga. Semuanya mulai khawatir, koneksi mereka dengan Soeharto hanya akan tinggal kenangan. Terutama jika tokoh-tokoh reformasi mulai menunjukkan langkahnya. Saya kira sikap oposisi akan sangat jelas. Mereka tidak ingin mengirimkan pesan balasan itu secara membabi buta. Mereka akan memilih secara selektif perusahaan-perusahaan asing yang tidak mempunyai hubungan dengan keluarga Soeharto. Yang punya koneksi pasti akan gugup, kata Jeffrey Winters, profesor dari Universitas Northwestern, seperti dikutip New York Times. ***