|
Di Mana-Mana Harta Soeharto, CIA pun Menghitung
Jaringan bisnis keluarga Soeharto membuat siapa saja yang hendak berbisnis di Indonesia sulit menghindar untuk berhubungan dengannya. Setiap langkah yang dilakukan selalu terbentur dengan bisnis keluarga ini. Semua media massa mencoba menaksir timbunan kekayaan itu. Bahkan, CIA ikut-ikutan menghitung dengan caranya sendiri. Berikut lanjutan laporan Irawan Nugroho dari Washington.
Beberapa wartawan asing yang datang ke Jakarta selalu mengisahkan cerita-cerita klasik soal monopoli bisnis keluarga Soeharto. Jika Anda tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan kemudian naik taksi ke jantung kota, mungkin salah satu taksi itu adalah milik bisnis keluarga ini. Atau mungkin mobil taksi itu buatan dari pabrik milik keluarga ini. Dari bandara ke jantung kota Jakarta, Anda mau tidak mau harus melewati jalan tol yang juga milik mereka.
Jika sang sopir taksi kemudian menawarkan sebatang rokok kretek sebagai ungkapan keramah-tamahan orang Indonesia, mungkin rokok itu adalah buatan pabrik yang dimiliki juga oleh keluarga Soeharto. Setibanya Anda di jantung kota, mungkin Anda akan menginap di salah satu hotel mewah yang juga dimiliki oleh keluarga ini. Begitu Anda menghidupkan pesawat televisi di kamar, lagi-lagi Anda tidak bisa menghindar dari siaran sebuah stasiun TV yang juga dimiliki keluarga ini. Bahkan, air kran yang Anda gunakan untuk segala macam keperluan itu juga masih berbau bisnis keluarga ini. Begitu bangun pagi dan ingin membaca koran Indonesia, mungkin saja koran itu milik keluarga besar ini.
Jika merasa sumpek di kamar dan ingin mencari udara segar di luar dengan berbelanja atau makan di restoran mewah, Anda tidak akan bisa menghindar dari bisnis mereka ini. Bahkan, kalau Anda harus menukarkan mata uang asing Anda, maka bank itu mungkin juga dimiliki keluarga ini. Tidak mustahil, pesawat yang Anda gunakan untuk sampai di Jakarta pun milik keluarga ini. Menurut Keith B. Richburg, wartawan Washington Post di Jakarta, setiap langkah yang dilakukan selama di Jakarta akan memperkaya bisnis keluarga Soeharto.
Dengan kata lain, ke mana pun Anda pergi, Anda akan terbentur-bentur dengan bisnis keluarga ini. Mulai putri tertua Siti Hardiyanti Rukmana hingga Siti Hutami Endang Adiningsih. Bahkan, termasuk juga rekan bisnis mereka seperti Liem Sioe Liong, Sudwikatmono, Probostuejo, Bob Hassan, atau yang lain. Bahkan, sang cucu, Ary Sigit, juga tidak ingin ketinggalan. Kabarnya, Ary menguasai juga monopoli ekspor sarang burung walet ke negara-negara Asia Tenggara.
Sepak terjang bisnis keluarga Soeharto telah merambah ke mana-mana dengan nilai kekayaan mencapai sekitar USD 3040 miliar, seperti yang dilaporkan oleh sejumlah media massa asing. Padahal, Richburg menggambarkan Pak Harto sendiri sebagai orang yang hidup sederhana, yang banyak menghabiskan waktunya di Istana Merdeka, atau di kediamannya yang nyaman di Jalan Cendana. Pak Harto tidak pernah mengenakan pakaian atau perhiasan yang mahal-mahal. Namun, dia masih disebut-sebut sebagai salah satu orang terkaya di dunia, dengan perhitungan yang dilakukan oleh majalah Forbes, yang memiliki kekayaan senilai USD 16 miliar. Keluarga Soeharto tercatat memiliki kekayaan sebesar USD 30 miliar, tulis Washington Post.
Karena itu, tidak mengherankan jika berbagai tulisan media Barat selalu menyebut-nyebut bisnis keluarga ini dengan sebutan ''Suharto Incorporated.'' Mbak Tutut menguasai berbagai sektor bisnis dengan bendera Citra Lamtoro Gung Group. Sigit Harjojudanto dengan Hanurata Group, Bambang dengan Bimantara, Hutomo Mandala Putra dengan Humpuss Group, Mamiek dengan Citra Group-nya yang dimiliki bersama dengan Tutut serta grup-grup lain.
Menurut Pacific Asia Resource Center di Tokyo, pada 16 Februari 1996, Pak Harto dan B.J. Habibie mendirikan perusahaan PT Dua Satu Tiga Puluh (DSTP) untuk mencari dana pembuatan pesawat IPTN. Pak Harto sebagai Preskom dengan saham sebesar 44,95 persen atau sama nilainya sebesar Rp 103,3 miliar. Para pemegang saham lain adalah Liem dan anaknya (Anthony), Sudwikatmono, dan Bob Hassan. Modal awal perusahaan ini Rp 920 miliar, namun usaha ini tidak efisien sehingga membutuhkan lagi dana tambahan sebesar Rp 3,5 triliun. Soeharto mengatakan, dana tambahan ini harus dipikul oleh rakyat Indonesia dengan membeli saham senilai Rp 5.000 per lembar.
Menurut laporan Salil Tripathi dari Far Eastern Economic Review (FEER), hanya beberapa perusahaan keluarga Pak Harto ini yang telah go public, sehingga menyulitkan beberapa analis untuk mengalkulasi secara tepat jumlah kekayaan seluruhnya.
Tahun 1996, SocGen-Crosby Securities memperkirakan, seluruh aset bisnis keluarga ini di Indonesia mencapai sekitar Rp 11 triliun. Namun, perkiraan Badan Intelijen Pusat AS CIA jauh lebih besar lagi, mencapai USD 30 miliar. Pada 7 Februari 1997, kantor berita Reuters menyebutkan bahwa keluarga Pak Harto sekarang ini tergolong terkaya ke sembilan di Asia, naik dari peringkat 93 pada tahun 1996.
Para bankir yakin bahwa sebagian besar harta kekayaan keluarga ini ditransfer ke luar negeri untuk membeli tanah pertanian yang luas (ranch), properti di Singapura, dan beberapa instrumen yang dinegosiasikan dengan bank-bank swasta. ''Meskipun Probosutedjo mengatakan bahwa seluruh anak-anak berada di Indonesia, namun sumber-sumber yang dipercaya menyebutkan bahwa Tommy berada di Singapura saat bapaknya mengundurkan diri dan Sigit berada di London,'' tulis FEER.
''Sebagian besar bisnis Pak Harto adalah kegiatan bisnis klasik penyewaan (rent-seeking activities): Anak-anak ini hanya bertindak sebagai perantara, mengumpulkan uang tanpa banyak menyumbangkan hasil. Mereka menyuntikkan sedikit keahlian manajemen dan modal, namun menikmati akses bebas ke koridor kekuasaan, yang memudahkan mereka untuk memenangkan kontrak dan izin dari pemerintah,'' lanjut FEER.
Fasilitas bisnis dari sang ayah kepada anak-anaknya ini pernah mencapai puncaknya pada kasus mobil nasional pada tahun 1996 dengan berdirinya PT Timor Putra Nasional (TPN) yang dimotori oleh Tommy. Bukan hanya laporan media massa dalam negeri yang begitu semarak, media asing mengecam keras berdirinya perusahaan ini karena dianggap menimbulkan konflik dengan beberapa perusahaan pembuat luar negeri, seperti Toyota, Ford, dan General Motors. Yang menarik, muncul desas-desus bahwa mobil nasional ini juga menimbulkan konflik di antara anak-anak Pak Harto, antara Bambang dan Tommy, antara Timor dan Cakra.
Selain bisnis komersial, kekayaan Pak Harto juga banyak dihimpun melalui sejumlah yayasan yang diketuainya. Laporan dari Pacific Asia Resource Center di Tokyo tahun 1997 lalu menyebutkan, Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (YDSM) didirikan pada 15 Januari 1996 dengan Pak Harto sebagai ketuanya, Bambang Trihatmojo bendahara, dan Anthony Salim sebagai asistennya. Para wakil ketua, antara lain, Sudwikatmono dan Liem Sioe Liong. YDSM ini bertujuan untuk memungut iuran 2 persen dari keuntungan bersih perusahaan yang mencapai lebih dari Rp 100 juta. Hasilnya, disalurkan kepada mereka yang miskin.
Pada bulan September 1996, yayasan ini berhasil menghimpun dana sebesar Rp. 150 miliar, atau jauh lebih kecil daripada yang ditargetkan Rp 250 miliar. Pada 4 Desember 1996, Pak Harto mengeluarkan Keppres no. 92/1996 yang menetapkan bahwa semua konglomerat wajib memberikan sumbangan sebesar 2 persen dari keuntungan bersih mereka. ''Target Rp 250 miliar tampaknya terlalu tinggi, namun menurut Sofyan Wanandi dari CSIS, YSDM telah mengumpulkan dana sebesar Rp 1 triliun, empat kali lebih besar daripada yang ditargetkan. Ke manakah sisa Rp 750 miliar? Masalahnya dengan YDSM ini adalah tidak ada aturan yang menjamin transparansi neracanya,'' tulis laporan Pacific Asia Resource Center.
YSDM bukan satu-satunya yayasan yang dimiliki keluarga ini. Masih ada lagi Yayasan Karya Abdi Abadi Dakab, Yayasan Harapan Kita, Yayasan Dharmais, dan Yayasan Seroja yang dikenal sebagai mesin pencetak uang (money machine) keluarga. (bersambung)