|
Sang tiran tewas di tangan orang tepercayanya. Sang pahlawan yang semula dielu-elukan rakyatnya, tewas oleh orang yang dinilai sebagai penghianat. Kekuasaan Caesar seolah hanya berlangsung untuk memenuhi ramalan para sahabatnya sendiri. Bunyi ramalan itu, Caesar akan berkuasa, dengan tangan besi, menimbulkan kesengsaraan rakyat, namun pejabat makmur. Benarkah demikian? Malam sebelum penobatan Caesar di depan Senat, sang istri Calpurnia bermimpi melihat Julius berlumuran darah. Mendapat firasat lewat mimpi ini, Calpurnia melarang suaminya pergi mengikuti upacara penobatannya dalam rapat senat.
Tapi Caesar tidak peduli dengan anjuran istrinya. Dirinya bukanlah seorang pria yang terlalu terbawa rasa takut. Caesar adalah pemberani bahkan dengan ketakutannya sendiri. Jadikanlah rasa takut saya sebagai alasannya, bukan rasa takut Caesar, bujuk istrinya.
Namun takdir adalah takdir. Brutus, sang sahabat sejati, dengan segenap cinta dan kemuliaan menikam Caesar. Siapakah yang dilenyapkan Brutus dengan pedangnya itu? Apakah tindakan Brutus ini hanya sekadar mengembalikan Caesar pada pelukan tanah? Lenyapkah ide sang tiran dengan terbenamnya raga Caesar ke dalam tanah?
Tak ada cara yang paling mulia di dunia selain membunuh Caesar demi menyelamatkan negeri dari kekuasaan tiran, ujar Brutus sesaat sebelum menyudahi nasib sang bos.
Brutus memang tak sendirian. Ada Cassius serta sahabat yang lain bersatu dalam semangat perjuangan untuk menumbangkan sang tiran dari kemungkinan kehancuran negeri.
Namun, Brutus pad akhirnya sendirian juga. Setelah sang Kaisar tewas, para sahabat pun mulai meninggalkannya. Bahkan Brutus kemudian menjadi lambang penghianatan. Kekuasaan adalah sesuatu yang melebihi persahabatan. Sang tiran memang telah gugur, tapi peperangan dan kehancuran aalah gantinya. Brutus akhirnya juga memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Lalu, siapa tiran dan siapa sang penghianat dalam lakon Willian Shakespeare ini? Masih tersisakah ajaran moral dari lakon abadi ini? Bukankah sebenarnya Julius Caesar hanya mengajarkan kepada kita bahwa dalam setiap bentuk poltik moral selalu absen? Bukankah, seperti kata Machiavelli kemudian, setiap penguasa yang membunuh Brutus tidak akan lama berkuasa... Dan politik adalah soal kekuasaan, bukan semua yang lain...
Kata seorang penulis, dengan Julius Caesar, Shakespeare sebenarnya sedang mengajarkan--dengan dibalut sastra tinggi--bagaiamana seorang penguasa bisa melanggengkan kekuasaannya. Namun, yang juga sering dilupakan sang penguasa, bahwa di sisi lain tangan kekuasaan itu ada tragedi tak terperi. Tertib politik adalah sesuatu yang diinginkan setiap kekuasaan--begitu juga ketika Brutus membunuh Caesar--tetapi kerusuhan adalah sesuatu yang tak teramalkan yang juga menyertainya.
Memang, karya Shakespeare yang diciptakan 16 abad setelah Caesar terbunuh itu bukanlah kisah sesungguhnya dari sang Julius Caesar. Shakespeare sebenarnya hendak menciptakan sebuah tragedi tentang Brutus. Sang penulis hanya ingin menyampaikan bahwa kemenangan yang dicapai dengan membunuh hanya akan berujung pada kerusuhan dan perang.
Namun, yang tak pernah disebut-sebut Shakespeare adalah, tragedi Julius Caesar ini juga bisa dilihat dengan cara yang lain sama sekali. Paling tidak seperti yang dilihat Machiavelli. Shakespeare akan mengatakan, meskipun Brutus telah membunuh Caesar, Caesarlah sebenarnya yang keluar sebagai pemenang, Sementara Machiavelli selalu akan bersikukuh bawah tanpa membunuh Brutus, kekuasaan tak akan lama...
Karena itu, tak heran bila Shakespeare mengatakan bahwa bagian terpenting dari Julius Caesar ada dalam babak ke V ketika Antonius, mendapati Brutus telah mati dan berkata : Inilah orang Romawi paling mulia di antara semua orang Romawi. Di antara semua konspirator, hanya dia yang berbuat tidak oleh kecemburuan kepada Caesar yang besar. Hanya dia saja yang bisa berpikir jujur demikebaikan bersama. Alam akan bangkit dengan penuh hormat untuk mengatakan kepada dunia, inilah seorang manusia sejati.
Thus is a man! Ini akan mangingatkan kita pada kata-kata Pontius Pilatus mengenai Kristus Ecco Homo atau kata-kata Napoleon Bonaparte mengenai Goethe Voilaun homme.
Caesar dibunuh, bukan oleh karena ia telah gagal, bahkan ia selalu suskses dengan kemenangan-kemenangan, sampai ia tidak pernah mengenal kegagalan. Bukan pula karena ia jahat, bahkan ia luar biasa baik hatinya sengan sikapnya yang mengampuni semua pimpinan bekas musuhnya, dan hanya segelintir perwira militernya yang dieksekusi.
Namun Brutus mengambil keputusan untuk membunuhnya. Sebab, orang yang telah diangkatnya sebagai gubernur di salah satu provinsi barat itu ingin menghentikan nafsu serakahnya yang hendak diterus-teruskan. Pembunuhan itu berlangsung tanpa kebencian, justru dengan kecintaan.
Di sinilah letak kharismatik tergedi Caesar. Dia membunuh orang yang baik dan sangat dicintainya.
Keyakinan Caesar, bahwa dia akan terbunuh menyebabkan ia tetap pergi ke Senat tanpa mempedulikan permintaan istrinya. Caesar juga tak mempertimbangkan peringatan seorang nujum bahwa ia akan mati terbunuh pada hari naas itu. Toh, ini sesuai dengan kata-katanya sendiri bahwa kematian yang terbaik adalah kematian tiba-tiba.
Lalu, adakah seorang Brutus dalam politik kita? Tentu saja tidak! Sebab kita juga tak mempunyai seorang Caesar! (darmanto)
Kembali ke Index