|
Amien: Itu Trik Politik Murahan
Jika SI MPR untuk Calonkan Edy Sudradjat
Ketua PP Muhammadiyah Dr H M.Amien Rais tampaknya waspada betul dengan keinginan beberapa kelompok untuk segera digelar sidang istimewa (SI) MPR. Dia menegaskan, pihaknya tidak setuju dengan kelompok yang ngotot diadakan SI tersebut untuk mengganti Presiden B.J. Habibie.
Saya tidak mendukung Presiden Habibie. Namun, saya tidak setuju adanya desakan sidang istimewa MPR untuk mengganti Habibie. Itu trik-trik politik murahan, ujar Amien Rais dalam ceramah pengajiannya di Kantor PP Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya, Jakarta, kemarin.
Trik politik murahan? Ya. Menurutnya, dari perbincangan dengan tokoh-tokoh penentang Habibie, ia mendapat penjelasan bahwa mereka akan mengajukan calonnya untuk dipilih menjadi presiden dalam SI MPR tersebut.
Lantas siapa calon yang dielus-elus untuk menggantikan Habibie? Menurut Amien, mereka mengajukan mantan Menhankam Jenderal (pur) Edi Sudradjat. Selama ini, nama ini memang disebut-sebut sebagai jagonya kelompok-kelompok nasionalis dan para purnawirawan.
Mereka akan mengganti Habibie dengan Pak Edi Sudradjat. Itu sami mawon. Apakah Pak Edi Sudradjat akan mampu membuat dolar menjadi 5 atau 6 ribu rupiah. Saya kira tidak akan bisa. Mari taruhan dengan saya. Kita taruhan potong kuku atau gunting rambut, ujar Amien yang spontan disambut tawa ribuan jamaah pengajian.
Ditegaskannya, anggota MPR sekarang ini adalah stok pemerintahan Soeharto. Karena itu, sangat tidak sejalan dengan reformasi, jika ada yang berharap bahwa dengan SI MPR, akan terpilih pimpinan nasional yang betul-betul sesuai aspirasi rakyat.
Karena itu, Amien yang baru saja difitnah mendapat bantuan dana dari Presiden Clinton ini menegaskan, yang dibutuhkan sekarang bukan SI MPR untuk mengganti Pak Habibie, namun SI MPR untuk segera menetapkan jadwal pemilu.
Hanya dengan pemilu, kontroversi pimpinan nasional akan dituntaskan. Dan, lewat pemilu juga, akan tecermin, siapa sebenarnya yang diinginkan rakyat. Jangan lantas mendesak-desakkan SI MPR, tapi punya niat udang di balik batu. Yakni, menjagokan calonnya. Itu trik-trik politik murahan. Alias sami mawon, ungkapnya.
Karena pentingnya pemilu tersebut, Amien mendesak agar pemerintahan Pak Habibie dalam waktu dua bulan bisa menyusun undang-undang pemilu. Saya pikir tidak terlalu cepat. Sebab, studi tentang pemilu secara mendalam telah dikaji oleh LIPI, katanya.
Pemilu, lanjut tokoh reformasi ini, bukan untuk menjadikan rakyat pilu, namun untuk mengukur dan memperlihatkan itikad rakyat yang sejati. Kesejatian rakyat itu akan tecermin dalam pemilu yang jurdil, tambahnya.
Ditegaskannya juga, pemilu yang demokratis dan jurdil akan memiliki implikasi positif ganda. Sebagai bangsa yang beradab, Indonesia bisa membuktikan baik kepada masyarakat domestik maupun ke luar negeri bahwa kita memiliki itikad sejati untuk bernegara.
Hanya lewat pemilu, akan terbentuk DPR/MPR dan eksekutif yang sejati. Dan, lewat pemilu juga, pro dan kontra pemerintahan Habibie akan selesai. Kalau SI MPR, tetap akan runyam, sebutnya.
Dalam pengajian yang dielu-elukan warga Muhammadiyah, Amien kembali menyatakan sikap politiknya terhadap kursi kepresidenan. Menurutnya, belum tentu dia akan memutuskan terjun ke dunia politik.
Sebab, begitu masuk parpol, dia menyadari akan banyak yang tidak menyukainya. Bahkan, tak mustahil dia dimusuhi banyak orang. Sekarang saja sudah banyak yang yang memfitnah. Saya dikatakan agen CIA, dibiayai Amerika Serikat, dan tuduhan macam-macam. Nanti, jangan-jangan dikatakan saya dapat dana dari Brunei atau barangkali Cendana, kilahnya.
Ditandaskannya, dia sama sekali tidak berambisi menjadi presiden. Yang dilakukannya selama ini hanyalah memberikan pendidikan politik bahwa jabatan presiden itu tidak sakral dan angker, tapi merupakan jabatan keduniawian yang sama dengan jabatan ketua RT, lurah, camat, bupati, atau gubernur.
Beberapa contoh dikemukakan. Di Amerika, petani kacang Jimmy Carter menjadi presiden. Di Filipina yang tidak ada Pancasila, seorang bintang film Eric Estrada juga bisa jadi presiden. Di Polandia lain lagi. Seorang tukang listrik tamatan STM dipilih jadi presiden. Kemudan, penari Evita Peron di Argentina juga bisa jadi presiden. Masak Amien Rais tidak bisa jadi presiden, ucapnya.
Jabatan tersebut, lanjutnya, bisa dijabat siapa pun, termasuk, misalnya, Harmoko, Tutut, Megawati, atau Abdul Gafur. Saat menyebut nama yang terakhir, Amien menyebutnya Doel Gafur, bukan Abdul Gafur. Kontan, hadirin pun tertawa lepas. Jabatan presiden itu kacang goreng, ungkapnya. (adb)